A Lot Like Love (17)

>> Wednesday, March 21, 2012



Remind Me

TOKYO Dome City, Bunkyo, Tokyo, Jepang. 24 Desember, Christmas Eve

“Wow,” desah Neela, seraya menjelajahi areal Tokyo Dome City yang baru saja dimasukinya bersama Dai dengan pandangan takjub. “Tempat ini luar biasa.” Dia mendahului berjalan, mendongakkan kepalanya, memandang jauh ke arah kincir angin raksasa berkerlap-kerlip yang berputar pelan di atas. Di samping wahana tersebut, terdapat lintasan roller coaster yang tak kalah megah dan sama semaraknya, dengan lampu-lampu yang mengedap-ngedip mencuri perhatian. Sebuah kereta panjang menyerupai ulat bulu, menempel ketat di relnya, dan bergerak dengan kecepatan tinggi, membuat orang-orang yang ada di atasnya berteriak-teriak, campuran antara histeris dan euphoria.

“Jadi ingat Dufan,” kata Neela lagi, menoleh pada Dai yang melangkah ringan di belakangnya. “Hanya saja… ini lebih…” Neela berhenti, memberikan dirinya kesempatan memandang berkeliling dengan tampang seolah tak percaya. “lebih…” (dia mengedikkan bahu) “wow.” Neela kembali menghadapkan wajahnya ke arah Dai yang berdiri di sebelahnya. Melihat bibir Dai melengkungkan senyum kecil yang amat menyenangkan untuk dilihat. Senyum yang tak sekali pun bosan untuk dilihatnya.
It’s beautiful.” Dai turut menengadahkan wajahnya, dan menggerakkan kepalanya memutar mengitari area Tokyo Dome City. “Aku belum pernah kemari selama berada di Tokyo,” akunya. Nyengir pada Neela yang matanya melebar tak percaya.
“Kenapa?”
Dai menatap mata Neela lekat-lekat. “Kau belum datang.”
Selama beberapa saat, Neela cuma bengong. Belum bisa menangkap, apa maksud jawaban ‘kau belum datang’ yang diucapkan Dai. Namun, setelah dia mengerti, dia hanya mendengus tersenyum dan menggelengkan kepala. “Itu bukan alasan,” katanya, dan mulai berjalan lagi. “Kau kan bisa pergi dengan siapa pun ke sini.” Neela tersenyum lepas.
“Lebih baik pergi dengan orang yang kusuka.”

Senyum Neela raib seketika. Dia tampak terkejut. Dengan kikuk dan malu-malu dia memandang Dai yang balas memandangnya dengan senyum yang kecil yang amat menawan, dan mempercepat langkahnya begitu dirasakannya wajahnya memanas.

Dai tidak mungkin suka padanya. Neela menepis dugaan yang melintas begitu saja di benaknya. Laki-laki setampan dan seelegan itu…

Tak berapa jauh di depan, terdapat sebuah pohon sejenis cemara yang berbatang tipis dan runcing yang diterangi oleh lampu kuning terang. Tak ada daun tumbuh di rantingnya, sehingga pohon itu kelihatan gersang, tapi, entah kenapa, banyak orang yang mengerumuni pohon tersebut.

Neela mendekat karena penasaran.

“Mereka menuliskan nama mereka dan pasangan masing-masing di sehelai daun.” Dai berbisik dari sebelah Neela, saat Neela kelihatan bingung melihat orang-orang yang berdiri dekat pohon tersebut menuliskan huruf Kanji di atas sehelai daun kering yang mereka pungut dari bawah pohon itu, dan setelah itu menggantungnya di ranting-ranting pohon tersebut. “Pohon itu disebut pohon cinta. Hanya dibuka saat malam Natal,” jelas Dai lagi. “Besok, saat hari Natal, mereka akan kembali kemari, untuk melihat apakah… daun yang mereka pakai masih berada di ranting tersebut, atau diterbangkan angin.”
“Kalau diterbangkan angin?” Neela bertanya penuh minat. Lupa akan kekikukannya sebelumnya.
“Berarti mereka tidak jodoh.”
Neela membeliak. “Berarti…, kalau daun yang mereka pasang masih ada saat Natal besok…, mereka jodoh?”
“Kira-kira begitu,” kekeh Dai. “Tapi itu hanya mitos. Belum ada buktinya.”

Neela memandang pohon tersebut, yang rantingnya sekarang telah dipenuhi banyak daun yang ditempelkan, dipasangkan, atau digantungkan di rantingnya. Beberapa daun terbang tanpa menunggu Natal akibat tertiup angin kencang yang mendadak berembus dari barat.

“Mau coba?” Dai menelengkan sedikit kepalanya ke arah Neela, dengan mata terpancang ke pohon tersebut. Neela mengernyit, memalingkan wajah ke arahnya. “Kenapa?” Dai balas mengernyit. “Bukankah biasanya perempuan selalu ingin mencoba hal-hal seperti itu?”

Neela tertawa kecil. Bersedekap dan menghadapkan kepalanya lagi ke arah keramaian yang mengepung pohon cinta itu.

So?” Dai mencecarnya.
Neela tidak langsung menjawab. Untuk beberapa saat kelihatan berpikir-pikir, sampai akhirnya menoleh lagi pada Dai yang meringis menunggu responnya. “We’re not couple,” kata Neela, juga meringis.
Dai menarik wajahnya sedikit ke belakang. “Malam ini… kenapa kita tidak pura-pura pacaran saja?” Senyum menawannya muncul lagi.
“Ha?” Neela merasa dirinya telah mengalami gangguan telinga.
“Kita pacaran saja… untuk malam ini.” Dai menegaskan. “Dan kita akan menulis nama kita masing-masing di satu daun kering itu.”
“Tapi… kalau begitu…,” Neela kelihatan ragu, “kita harus datang kembali kemari untuk melihat apakah daun yang kita gantung di ranting pohon itu masih ada atau tidak besok…”
Dai memasukkan kedua tangannya di saku celana, seraya mengedikkan bahu. “Ya,” dia mengangguk, “tentu saja.”
Neela mendesis tertawa. “Kau serius?”
“Tentu saja aku serius.” Dai menatap Neela dengan tampang seolah terguncang. “Jadi…” dia kembali bertanya, “kau mau?”
Neela tersenyum geli. Kemudian mengangguk penuh semangat. “Aku mau.”
“Tunggu di sini,” kata Dai, sambil berjalan mundur. “Aku akan pilih daunnya.” Dia mengedipkan sebelah matanya, kemudian berbalik pergi, berlari dan menghilang di sela kerumunan orang. Tak lama setelah itu, dia kembali, dengan sehelai daun kering lebar di sela jemarinya. “Mudah-mudahan ini kuat.” Dia mengacungkan daun coklat tersebut pada Neela dengan riang.

Neela menerima daun tersebut, dan menyentuh permukaannya yang bergelombang. Mengamatinya saksama, dan berpikir kalau apa yang akan dilakukannya—menuliskan namanya dan Dai di daun tersebut, adalah sesuatu yang tak seharusnya dilakukannya, namun kemudian, dia berpikir kalau itu hanya sekadar main-main, dan bukan hal yang perlu ia cemaskan. Lagipula Dai, sepertinya juga tidak menganggap hal itu serius;  hanya iseng belaka.



“Dimana kau mau menggantungnya?” tanya Dai, saat mereka berdua sudah berada di depan pohon cinta tersebut (dengan amat susah payah karena harus berdesakkan dengan orang-orang yang semakin padat mengerumuninya). “Pilih satu ranting, dan aku akan menggantungnya.”

Neela menengadahkan wajahnya. Matanya merayap mencari-cari; menelusuri ranting demi ranting pohon tersebut. Bingung sendiri, karena sepertinya tak ada tempat satu pun di pohon itu, yang aman dari terjangan angin yang semakin membesar.

“Di sana.” Neela menunjuk ke salah satu ranting yang amat dekat dengan batang utama pohon tersebut.
Dai mengerutkan kening. “Kenapa di sana?”
Neela menaikkan bahu sekilas. “Entahlah. Aku pikir… cukup aman,” katanya, lalu melempar cengiran.
Dai mengedikkan bahu, kemudian berkata, “Baiklah,” diiringi dengus geli. Setelah itu dia mendekati pohon, dan berjinjit (karena dia jangkung, jadi dia tak kesulitan) menggantungkan daun mereka di ranting yang telah dipilih Neela, setelah sebelumnya, menusukkan jarum pentul di permukaan ranting pohon cinta itu.
“Oke.” Dai kembali ke sebelah Neela. Bertolak pinggang memerhatikan daun yang baru saja digantungnya, bergoyang-goyang riang di rantingnya. “Happy?” Dia menengok pada Neela.
Neela tersenyum lebar. “Tentu.”
“Kalau begitu, sekarang kita ke Tokyo Dome. Melihat pohon Natal raksasa.”
“Oke.”
Dai memberikan tangannya yang terselubung sarung tangan hitam kulit pada Neela. “Hold my hand, Honey.”
Neela terkekeh.
Don’t you let go,” sambung Dai. “Kita pacaran malam ini, jadi harus kelihatan seperti pasangan sungguhan. Oke?” Dia memiringkan wajahnya, menatap Neela seolah meminta kepastian.
“Oke.” Neela menyambut tangan Dai dan menggenggamnya erat. “Dengan senang hati.”
Dan setelah Neela mengatakan itu, Dai segera menariknya pergi, membuatnya berlari mengikutinya menuju Tokyo Dome, gedung stadion besar yang menjulang beberapa meter di depan mereka, sambil tertawa-tawa.
Persis remaja jatuh cinta.

Sake. Jelas memabukkan untuk orang yang baru pertama merasakannya. Terutama bagi orang yang jarang sekali minum minuman beralkohol. Seperti Neela.
Tepat setelah dia dan Dai merayakan datangnya Natal kira-kira sejam lalu di Tokyo Dome, Dai mengajaknya ke sebuah restoran yang masih berada di areal Tokyo Dome City yang dipadati banyak pengunjung. Makan Sushi dengan ditemani minuman khas Jepang; sake, yang baru dua teguk langsung membuat kepalanya serasa berputar.

“Kau tidak apa-apa, Neela?” tanya Dai ketika Neela dengan amat tersiksa memijat-mijat dahinya yang terasa berdenyut.
“Aku… pusing,” jawabnya, sekarang menyentuh pelipisnya yang nyeri. “Semua kelihatan berputar.”
Dai mendengus, menggelengkan kepala. “Kau mabuk. Wajahmu merah.”
“Aku… biasa minum, kok.” Neela menyangkal kata-kata Dai. Merasa tersinggung, tanpa tahu kenapa dia merasa begitu.
“Kalau kau biasa minum, kau tidak akan sakit kepala dengan satu-dua teguk Sake,” tukas Dai.

Neela tidak peduli. Tetap menekan-nekan kepalanya yang berdenyut, yang ditopang oleh sikunya yang berada di atas meja.

“Kau mau pulang sekarang?” Dai memandangnya dengan wajah cemas.
Neela mengikik. Tersadar kalau itu tidak sopan, dan buru-buru menghentikannya. “Ti-tidak,” tolaknya. “Daun yang tadi… aku mau melihatnya.”
“Tidak usah dipikirkan soal itu,” Dai menukas. “Itu hanya… sekadar mitos.”
“Tapi aku ingin melihat daun itu besok pagi,” balas Neela, memandangnya dengan memelas. “Kalau kau pulangkan aku sekarang…, Eiji pasti tidak mengijinkanku keluar lagi. Aku yakin dia marah sekali padaku karena pergi bersamamu. Bahkan sekarang,” Neela menyeringai tanpa sadar, “aku bisa pastikan kalau dia amat murka, karena aku tak ada di kamar hotel.” Neela meletakkan kepalanya di atas meja. “Aku ngantuk,” keluhnya, memejamkan mata.

Dai memandang Neela dengan tatapan yang tak biasa. Wajahnya seketika menegang. Dia mencondongkan badannya ke depan, mengamati Neela yang matanya telah tertutup sepenuhnya.

Dai mengangkat satu tangannya ke atas, dan seorang pelayan perempuan dengan kimono hitam dan obi putih tergopoh-gopoh menghampiri meja. Membungkuk dan bertanya apakah ada yang bisa dibantunya dalam bahasa Jepang yang kedengaran halus dan sopan. Tak lama kemudian pelayan tersebut, berbalik dan pergi dengan kartu kredit yang diberikan Dai kepadanya. Saat dia kembali, dia menyerahkan kartu kredit tersebut pada pemiliknya. Mengucapkan terima kasih sambil membungkuk dengan amat hormat pada Dai, kemudian mundur selangkah dan memalingkan tubuhnya. Meninggalkan Dai bersama Neela yang sudah tak bergerak di meja di depannya.

Dai berdiri dari kursi. Menggesernya tak sabar ke belakang dan melangkah sedikit ke arah Neela. Tangannya menyentuh rambut panjangnya yang terjurai menutupi sebagian wajahnya, mengusapnya lembut, seperti seorang kekasih yang membelai rambut pasangannya. Setelah itu, dengan gerakan cepat dia mengangkat tubuh Neela dari kursi. Menggendongnya dengan kedua tangannya tanpa kesulitan sama sekali, dan berjalan menyusuri ruang antar meja dengan banyak pasang mata memandang ke arahnya. Dai jelas sama sekali tak peduli.

Kepala Neela miring di pundaknya, dan napasnya terdengar begitu lirih dan terasa hangat menyentuh bagian samping lehernya. Sama sekali tak bergerak, kendati dia tak sepenuhnya tertidur. Pasrah dalam rengkuhan hangat Dai. Merasa nyaman dalam naungan tangan besarnya yang melingkar ketat di punggung dan kakinya.

“Kita mau kemana?” Neela bertanya, ketika Dai hampir setengah jalan menuju hotel yang berada tak jauh dari restoran tempat mereka minum sake.
“Hotel.” Suara Dai kedengaran dingin, sama dengan ekspresi wajahnya.
“Oke,” jawab Neela.

Neela kembali memejamkan matanya rapat-rapat, dan meletakkan pelipisnya di pundak Dai. Harum tubuh pria itu memberikannya ketenangan, dan hangat tubuhnya seolah memberikan perlindungan terhadapnya. Menepiskan keraguan terhadapnya.

“Kau… sangat baik, Dai,” ujar Neela pelan, sehingga hanya Dai yang bisa mendengarnya.  “dan amat tampan,” sambungnya. “Kau… mengingatkanku pada… Shinji.”

(Bersambung)
...
gambar dari sini

Oh, you're so cute.

8 comments:

Gloria Putri March 21, 2012 at 6:46 AM  

awwww.....aq mau juga digendong ala drama korea gt....jd pengen ke Tokyo sama Sasha :) xiixixixi

btw, mba km bikin novel aja...ceritamu dewasa bgt cocok buat pembaca yg sudah tak ababil lg sptku...hahahahaha

febby,  March 21, 2012 at 9:43 AM  

Haduuhh..dai mu ngapain nela yah..^_^

sarie March 21, 2012 at 11:40 AM  

mengingatkan pada Shinji !!!! wuidiiiih Dai marah nggak tuh mba' disamain ama Shinji ????

yuli she,  March 21, 2012 at 12:13 PM  

Wah kayanya bentar lagi Eiji dateng tuh bareng sama Arata,,

Nunggu lagi chapter selanjutnya ^^

Rusyda Fauzana March 21, 2012 at 9:32 PM  

wow...ini chapter spesial Dai dan Neela ya Mba :)

Neela, kau bermain api dengan Dai. Kesalahan pertama, menolak tawaran Dai utk kembali ke hotel; kedua, mengucapkan nama Shinji yg mengingatkan Dai pada dendamnya.

You rolled the dice, just take the risk.... Semoga ada keajaiban kamu akan baik2 saja Neela... *sigh...

Nonanovnov March 21, 2012 at 10:11 PM  

Dai: penculik romantis yg rupawan xD

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP