A Lot Like Love (16)

>> Saturday, March 17, 2012


A Silent... Silent Night

INI kali pertama Neela naik motor besar. Memeluk pinggang Dai erat-erat dari belakang. Menunduk sedalam-dalamnya, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Dai demi menghindari angin yang berembus kencang ke arah mereka.

Hawa begitu dingin. Menusuk kulit dan menembus tulang. Meskipun Dai telah meminjamkan mantel kulitnya pada Neela, tetap saja itu tidak cukup menghalau udara dingin yang membuat badan Neela menggigil. Apalagi dia sedang flu, sehingga setiap hempasannya terasa bagai ribuan duri yang menusuknya.

“Neela!” Dai berteriak setelah sebelumnya membuka tutup helmnya. Melambatkan laju motornya sedikit. Mereka telah sampai di pusat kota sekarang. Di mana banyak pusat perbelanjaan di kanan-kiri mereka. “Kau gemetaran! Kau tidak apa-apa?!”
Meskipun bibirnya sudah terasa beku dan seolah terekat erat Neela berusaha menjawab, “Tidak! Aku tidak apa-apa!” dengan suara selantang mungkin.
“Aku akan berhenti di butik untuk membelikanmu pakaian!” teriak Dai lagi.
Neela membeliak. Dai mau membelikannya pakaian? “Ti-tidak usah, Dai! Aku tidak apa-apa!”
“Kau mungkin tidak apa-apa, tapi aku yang apa-apa!” balas Dai. “Bagaimana bisa kau berjalan bersamaku dengan pakaian seperti itu dan tak memakai sepatu!”
Iya juga ya, Neela berpikir. Tapi… apa pantas dia menerima pemberian laki-laki yang sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengannya? Dai memang teman, tapi jelas bukan teman sebaik dia dengan Eiji atau Kenneth. Apalagi ini pertama kalinya mereka benar-benar pergi bersama.

Motor Dai berhenti tepat di depan salah satu butik dengan papan nama besar yang amat dikenali Neela. Nama merek pakaian yang amat ngetop dan populer, yang harganya juga melangit. Tapi, masa sih, Dai mau membelikannya pakaian di butik tersebut? Yang benar saja. Tapi Dai sepertinya memang bermaksud begitu, karena dengan cuek, dia turun dari motornya. Membiarkannya terparkir di pinggir jalan, menarik Neela turun, dan menggandengnya menuju butik tersebut.
Saat petugas keamanan menghampirinya, hanya dengan tersenyum simpul, petugas itu langsung mengangguk, dan membungkuk hormat, membuat Neela terkesima. Terseret-seret berjalan di belakangnya, dengan kepala terus berputar melawan arah karena memandang heran petugas keamanan tersebut.

Welcome, Mr. Tanaka,” seorang wanita muda amat cantik menyapa dengan sikap yang sangat anggun dan sopan. “You’re back again.”
Pada Neela perempuan itu hanya mengerling curiga, meskipun tak kentara.

Dai hanya tersenyum untuk membalas keramah-tamahannya. Senyum yang terkesan amat ‘superior’ menurut Neela. Atau memang dia ‘superior’ sehingga orang-orang bersikap begitu hormat padanya.

Will you please, help my girlfriend to pick something nice and also fit for the weather outside. I’ve kidnapped her from her guardians, so she didn’t have time to wear something proper.”
Neela melebarkan mata, mendongak memandang Dai. Ngapain dia ngomong seperti itu?

Wanita cantik di depan Neela tampak takjub—sama takjubnya dengan Neela, tapi buru-buru menyembunyikannya dengan membungkuk hormat,  sekaligus menjelajahi kaki Neela yang telanjang. “How lucky I am, to meet Mr. Tanaka’s girlfriend. It’s a pleasure to meet you, Miss…?” Dia menelengkan kepalanya.
“Neela.” Dai yang menyahut. Tersenyum yang lebih mirip seringai. “Neela Aketara.”

Bagaimana dia tahu nama belakangku? Neela bertanya-tanya. Tidak banyak yang tahu nama belakangnya.

You’re not a Japanese,” kata si wanita dengan nada seolah menuduh.
Neela menggeleng. “No, I’m not,” timpalnya, tersenyum kikuk. “I’m Indonesian.
I see.” Senyuman wanita itu adalah senyum tipis yang tak mengenakkan. “So, Mr. Tanaka doesn’t like Japanese woman?” Wanita itu menghadapkan kepala cantiknya ke arah Dai, dan mendapatkan senyum masam yang sama dengan senyumnya.

Japanese woman,” Dai berkata, “is very easy to sleep with, Kimi Chan.”—(Mata Neela tak sadar membundar, begitu pun si wanita cantik, yang ternyata bernama Kimi itu)—“For me, that’s… not challenging enough.

Kalimat itu jelas sangat menyinggung, setidaknya untuk Kimi, karena dia dengan amat keras berusaha menyembunyikan tampang kesalnya, dengan menarik napas tajam dan mengembuskannya amat perlahan.

Okay. Let me show you, Miss Neela, our collection.” Kimi mempersilakan Neela mengikutinya.
Just let her try winter collection,” sambar Dai cepat. “It will fit for her.”
Dia kemudian duduk di salah satu sofa bean bag kecil yang ada di sana, mengeluarkan ponsel dari saku jinsnya dan menekan keypadnya. Tak peduli lagi pada Kimi atau pun Neela.

“Follow me, please,” kata Kimi kemudian pada Neela, dan berjalan lebih dulu ke bagian dalam ruangan. Mukanya getir.

Ada sesuatu tentang Dai. Sesuatu yang entah kenapa membuat Neela mendadak jadi ragu untuk pergi bersamanya. Cara dia berkata dan pilihan kalimat yang diucapkannya pada Kimi saat di butik tadi, amat sangat menyinggung dan tak pantas diucapkan oleh pria sebaik dirinya.

Neela, kau tidak kenal baik dirinya, suara kecil di kepalanya mengingatkan. Kau tidak bisa begitu saja menilainya ‘baik’.

Tapi, selama ini Dai memang sangat baik padanya. Tidak sekali pun menunjukkan gelagat kalau dia akan mencelakainya atau apa pun. Jadi dia tidak bisa juga menganggapnya ‘tak baik’ hanya karena perkataannya pada seseorang yang tidak ada hubungannya dengannya.

“Hap!” Suara Dai terdengar dari belakang Neela, bersamaan dengan rasa hangat yang hinggap di kedua telinganya. Neela spontan menyentuh telinganya, dan merasakan bulu-bulu lembut di permukaan jarinya. Dia mendongak. “Ini pelindung telinga,” katanya pada Dai.

“Ya,” Dai mengangguk. “Warnanya sama dengan warna jaketmu. Aku melihatnya di butik tadi. Jadi kubelikan saja sekalian.”

Neela tak tahu bagaimana lagi mengucapkan terima kasih padanya. Dai telah membelikannya satu set pakaian; sweater wol asli, celana jins, jaket Abercrombie and fitch abu-abu, dan juga sepatu bot yang membuat kakinya tak lagi beku. Semuanya adalah keluaran asli merek pakaian ngetop tersebut, dan Neela sama sekali tak ingin tahu harganya. Mahal, itu sudah pasti.

“Jadi,” Dai memasukkan kedua tangannya di masing-masing saku mantelnya, “kau siap, jalan-jalan bersamaku?”
Meskipun masih bimbang, Neela mengangguk. “Oke,” katanya. “Tentu.” Entah bagaimana kata tersebut meluncur begitu tenang dari bibirnya.
“Baiklah, kalau begitu,” kata Dai, tersenyum puas. “Kita ke Tokyo Dome. Melihat pohon Natal raksasa.”
“Apa tidak terlalu kekanak-kanakkan untuk orang seumuran kita?” Neela meringis.
“Memang umurmu berapa?” Dai mengangkat dagunya.
“Dua puluh tujuh.”
“Aku…” Dai menggaruk-garuk rambutnya. Dia kelihatannya bingung. “agak lebih tua sedikit darimu.”
Neela mendengus geli. “Berapa?”
“Tiga puluh tiga.” Muka Dai merah. “Aku pedofil karena berkencan dengan perempuan yang jauh lebih muda dariku.”
Neela terbahak. “Benar. Dan aku bodoh karena mau pergi dengan laki-laki yang jauh lebih tua dariku.”

Mereka tertawa bersama. Dan Neela, perasaan ragunya pada Dai, telah menguap seketika bersama gelak tawa yang membubung ke udara.

So let’s go, then.” Dai merapatkan syal wol tebal yang melingkari lehernya. Mengguncang lengannya, sehingga lengan mantelnya merosot memperlihatkan arloji perak di pergelangannya. “Sudah hampir jam setengah sebelas. Kita harus cepat.” Dia kembali memandang Neela. “agar tidak berdesak-desakkan dengan orang-orang lainnya.”

Neela mengangguk. “Okay,” timpalnya. “Let’s go.”
“Dan Neela.” Dai melangkahkan kakinya mendekat. “Jangan sekali pun memasang tampang gundah selama bersamaku,” ingatnya. “Kau bersamaku malam ini, dan aku tak ingin kau merasa sedih sendiri. Kau harus happy, oke?” Dia menatap Neela lekat-lekat.

Mata hitam itu menyorot telak tepat ke hati Neela. Mendesaknya untuk mengangguk dengan tatapan seolah tercenung. Sekali lagi pandangan Dai yang menghujamnya menghipnotis pikiran dan tubuhnya. Membuatnya dagunya mengangguk dengan sendirinya tanpa disuruh, dan benaknya kosong. Kenapa ada laki-laki seperti ini? Neela membatin. Begitu tampan, begitu mapan dan… anehnya, begitu perhatian padanya. Dunia benar-benar sudah terbalik sepertinya.

Dai melangkah menuju motornya, yang masih terparkir di pinggir jalan, dalam penjaagan ketat petugas keamanan. Laki-laki berjas hitam dan bertubuh tegap itu, kembali membungkuk penuh hormat padanya, juga pada Neela yang berjalan di belakang, menunggu keduanya sampai menaiki motor kembali.

Arigato.” Dai mengangguk petugas keamanan tersebut, sebelum memasang kembali helmnya, yang segera dibalas dengan angguk sopan oleh laki-laki tersebut.

Neela naik ke atas motor, dengan rasa percaya diri yang lebih daripada sebelumnya. Mengenakan helm yang diberikan Dai padanya, dan kembali memeluk pinggang Dai dari belakang. Rasa canggungnya masih ada, tapi tidak sebanyak waktu pertama kali dia memeluknya.

Ready, Neela?” tanya Dai, setelah dia menstarter motor besarnya, dan memainkan gasnya beberapa kali.
Ready,” sahut Neela, bersemangat.
Let’s go, then,” kata Dai setelahnya. Menginjak gigi, dan menggas motornya.

Suara pilot berkumandang melalui pengeras suara di seluruh kabin, memberitahukan kalau pesawat telah memasuki wilayah Jepang, dan dua setengah jam lagi akan mendarat di Bandara Internasional Narita. Dan sebelum mengakhirinya, si Pilot juga mengucapkan selamat hari raya Natal untuk semua penumpang, baru setelah itu, suaranya berganti dengan lagu-lagu khas Natal yang sudah sejak awal keberangkatan menemani semua penumpang.

Kenneth tersenyum terkulum. Merasa lega, karena sebentar lagi dia akan menjejakkan kakinya kembali ke darat. Dan juga, merasa senang, karena sebentar lagi, yang mungkin akan kelihatan begitu kaku, dia akan bertemu Neela lagi. Memandang wajahnya secara langsung, yang sepertinya sudah lama sekali tidak dilihatnya.

Aku sangat merindukanmu, Neela, Kenneth menggumam dalam hatinya. Bagaimana denganmu?

Sejak pertemuan terakhir mereka yang berakhir dengan amat tak menyenangkan, Kenneth merasa Neela tak akan begitu merindukannya. Atau mungkin tak merindukannya sama sekali.

Kenneth mengenyakkan punggungnya ke belakang. Menoleh ke sebelah kanan, dan melihat Marin masih tertidur di kursi di sebelahnya. Kepalanya menghadap jendela, dan dia terbungkus oleh jaket tebal warna pinknya yang setia menemaninya mulai dari Jakarta sampai ke Seoul. Dengkur pelan terdengar seiring dia mengempaskan napasnya.

Pandangan Kenneth naik ke arah jendela yang tirainya terbuka. Memandang langit gelap di baliknya yang begitu pekat, tanpa cahaya. Malam Natal, dan seperti biasanya, udara akan begitu dingin untuk menyambutnya.

Excuse me, Sir.” Suara lembut yang ringan menyapa dari sampingnya. Kenneth berpaling dan bertukar pandang dengan pramugari cantik yang tersenyum ramah padanya. “I’d like to give you these,” dia memberikan sepasang topi merah runcing khas Santa Clause pada Kenneth. “It’s almost Christmas, we would like you and your friend to celebrate it with us here.”
Of course.” Kenneth tersenyum manis, dan menerima dua topi tersebut dari si Pramugari, yang mengangguk sopan sebagai ungkapan terima kasih, dan berlalu, menuju kursi di depan Kenneth. Mengucapkan hal yang sama pada penumpang di kursi tersebut.
“Oh!” Suara Marin membuat Kenneth hampir loncat dari kursinya. “Mereka membagikan topi?” Marin cepat-cepat menarik satu topi dari tangan Kenneth, dan memakainya. Topi itu melekat sempurna di kepalanya yang cantik.
“Aku tidak tahu kau sudah bangun?” Kenneth masih belum bisa mengatasi keterkejutannya. Alisnya bertaut dan napasnya terengah.
“Untuk apa kau tahu aku sudah bangun?” timpal Marin cuek. Sisa-sisa tidur nyenyaknya terlihat di matanya yang masih agak menyipit. “Bagaimana? Aku cantik?”

Tak menjawab, hanya menggeleng heran, Kenneth memalingkan kepalanya ke arah lain. Mengamati  satu per satu penumpang mengenakan topi Santa Clause tersebut sambil tertawa-tawa riang.

“Kau juga pakai topimu,” pinta Marin dengan suara manjanya. “Ini topi yang bagus.” Dia menarik topi yang masih ada dalam genggaman Kenneth, dan memakaikannya ke kepala Kenneth.
“Aku tidak mau.” Kenneth merenggut topi tersebut, dan menjejalkannya ke dalam ransel di pangkuannya.
“Ayolah, Kenneth,” rengek Marin. “Aku yakin kau akan sangat tampan mengenakannya.”
“Bisakah kau bertindak tidak seperti ABG untuk sekali ini saja?” tukas Kenneth, dengan tampang masam. “Please.
“Aku bukan ABG.”
“Kadang-kadang… atau mungkin seringkali…, kelakuanmu persis ABG,” Kenneth meluruskan. “Kau kelihatan dewasa hanya kalau kau diam.”

Selama sepersekian detik Marin hanya bengong memandang Kenneth. Kemudian dia mengempaskan pundaknya. Kembali duduk dengan normal di kursinya, dan berkata, “Kau pasti sangat tegang karena sebentar lagi akan bertemu Neela,” sambil memandang ke arah jendela di sebelahnya. “Bukankah seharusnya kau gembira?” Dia memalingkan wajahnya pada Kenneth.
“Aku sudah bilang padamu, jangan menyimpulkan yang tidak-tidak,” sahut Kenneth.
“Apa dia begitu sempurna? Neela itu? Aku tidak sabar bertemu dengannya secara langsung.” Marin menatap kosong punggung kursi yang menjulang di depannya.
Kenneth membelalakan mata, pelan-pelan menoleh. “Apa tidak ada topik lain selain itu?”
“Aku rasa saat ini…, topik itu yang menarik. Mengingat kau tidak terlalu antusias merayakan malam Natal, dan juga, kau tidak antusias dengan performaku selama di Korea. ”
Dahi Kenneth berkerut-kerut. “Siapa bilang aku tidak antusias?”
“Kau tidak bilang apa-apa padaku.” Marin menoleh tajam, membulatkan matanya yang sudah bulat. “Kata ‘selamat’ pun tidak. Padahal semua orang memuji permainan piano dan juga suaraku, kalau kau tidak ingat.” Dia bersedekap, dan kembali menoleh ke arah jendela. “Tapi sepertinya kau juga lupa mengenai itu.”
“Permainan piano dan suaramu bagus,” desah Kenneth, sembari tersenyum. “Pertunjukanmu selalu baik…, dan aku rasa, dengan segala pujian yang datang padamu, kau tidak perlu pujianku lagi.”
Marin menatap Kenneth dengan tampang tak percaya. “Pujianmu yang terpenting, Kenneth.” Marin kelihatan amat terpukul. “Dan kalau kau memang menganggap pertunjukkanku bagus, akan lebih baik kalau kau menyampaikannya secara langsung.”
“Bukan kebiasaanku.” Kenneth memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya ke belakang.
“Berarti kau tidak sungguh-sungguh memuji permainanku.”
Mata Kenneth tersingkap lagi, dan dia mendesah putus asa. “Permainanmu bagus,” dia berkata pada Marin, dengan tatapan mata tajam, yang menandakan keseriusannya. “Sangat bagus. Aku sudah bilang kan?”
Setelah itu dia kembali menyandarkan kepalanya ke belakang. Menutup matanya lagi.
Kiss me, then.”
Lagi, Kenneth membuka matanya. Wajahnya seakan membeku. Dia memalingkan wajahnya pada Marin, yang sekarang menatapnya dengan ekspresi wajah yang muram. “Apa aku tidak salah dengar?”
“Aku minta kau menciumku,” Marin mengulang permintaannya barusan untuk meyakinkan Kenneth kalau tak ada masalah dengan telinganya. “It’s Christmas anyway,” tambahnya lagi.
“Jangan bercanda.” Kenneth memejamkan matanya lagi.
“Aku tidak bercanda,” protes Marin, tampak tersinggung. “Aku sungguh-sungguh. Aku sudah bilang, aku suka padamu. Dan… tidak apa kalau kau ingin menciumku.”
“Masalahnya…” Kenneth amat-sangat kelihatan putus asa, “aku tidak ingin menciummu.” Dia memandang Marin lekat-lekat. “Jadi… jangan macam-macam.”
“Kau sangat menyukai Neela kalau begitu?”

Habis kesabaran, Kenneth memutar badannya sedikit menghadap Marin. Memandangnya lurus, dengan tatapan yang menusuk. “Aku… memang menyukai Neela.” Dia berkata dalam suara tegas yang rendah. “Aku mencintainya. Dan kau sudah tahu itu. Jadi jangan berharap padaku. Aku… sekali pun tidak akan pernah menyentuhmu. Kau… tidak lebih dari artis yang kumanajeri. Selain itu, aku juga tidak ingin berurusan dengan ayahmu atau pun juga guru privatmu yang menyebalkan itu; yang memilihku untuk menjadi manajermu hanya karena aku ini Gay. Yang berarti,” dia menekankan kalimatnya, “mereka tak ingin kau disentuh oleh laki-laki mana pun, termasuk aku. So, cut it out!
Setelah itu Kenneth menggeser duduknya lagi, menghadap ke arah depan. Memejamkan matanya.

“Tapi kau bukan gay… Kau bohong pada mereka.”
Oh, Tuhan. Kenneth dengan amat gusar membuka matanya, dan menengok pada Marin yang memberengut. “Aku tidak bohong. Aku tidak bilang aku ini gay. Mereka yang mengansumsikan. Dan… aku tidak sekali pun menyentuhmu secara cabul. Jadi jangan coba-coba mengancamku.”
“Hanya satu ciuman kecil.” Marin pantang menyerah. “Apa ruginya untukmu?”
“Aku tidak sembarangan mencium orang.”
“Kau menyebalkan.”
“Terserah.”

Keduanya terdiam. Kenneth kembali bersandar nyaman di kursinya dengan mata terpejam, sedangkan Marin, masih bengong memandangi Kenneth. Tampak sedih.

Kemudian, suara pilot terdengar lagi melalui pengeras suara di sudut-sudut kabin, mengucapkan, “Merry Christmas, for all the passengers whom celebrate Christmas this year. Thank you for flying with us,” dengan suara berat yang hangat, diiringi oleh lagu “A Merry Little Christmas” yang dibawakan oleh grup musik Relient K.

Mata Kenneth membuka serentak begitu mendengarnya. Pikirannya seketika dipenuhi Neela. Neela sangat suka lagu-lagu Natal yang dinyanyikan Relient K, dan sekarang, dia tak menyangka akan mendengarnya di sini. Sendirian.

Semua orang di dalam pesawat nampak bergembira. Saling bertukar peluk dan ciuman sebagai rasa bahagia menyambut Natal, walaupun ada juga beberapa penumpang yang memilih tetap terlelap di kursinya. Para Pramugari kembali bekerja; berjalan dengan mendorong troli berisi beberapa gelas minuman dan coklat untuk dibagikan pada para penumpang.

“Merry Christmas, Kenneth.” Suara Marin terdengar lirih dari sebelahnya.
Kenneth tersenyum, dan membalas ucapannya sambil menoleh. “Merry Christm—”
Sisa kalimat Kenneth tertelan oleh sebuah ciuman yang tiba-tiba. Ciuman yang terasa panas, dan mengalir sampai ke dalam tubuhnya, mengatasi hawa dingin yang menyelubungi selama berjam-jam di atas pesawat.

Tak ada yang Kenneth bisa lakukan selain menerima ciuman tersebut. Wajahnya terkunci, oleh tangan Marin yang melingkar ketat di lehernya. Membuatnya tak bisa lagi menarik diri atau menjauh.

Di sekeliling mereka, orang-orang mulai bernyanyi dan tertawa keras-keras. Lampu-lampu diredupkan untuk menghangatkan suasana. Dan tak satu pun dari mereka menyadari, apa yang sedang berlangsung di antara keduanya.

(Bersambung)
...

"Love is a fire. But whether it is going to warm your heart or burn down your house, you can never tell."
-Joan Crawford

9 comments:

Nonanovnov March 17, 2012 at 7:41 PM  

Untuk ukuran penculik, Dai terlalu sweet, Mbak :D
Cewe-cewe bisa teriak, "Culik aku, culik aku!", trus ga mau dibalikin lagi, hahaha..
Sibuk bgt belakangan ini ya, Mbak??

Rusyda Fauzana March 17, 2012 at 9:19 PM  

wah..wah.. gara-gara aku bilang karakter Dai kurang kuat, Dai langsung dipamerin bitchy gitu sama Mba lita. Tapi memang Dai lebih keliatan berwatak dg sifat bitchy gitu ya, atau jadi penjahat sekalian hahaha...
Kalo jadi cowok baik2 khawatir Mba, nanti banyak korbannya meleleh, mimisan, jereng...
Eh, kita lagi ngomongin Dai apa Dennis O'neil ya? wkwkwkwk...*salah arah -.-"

After all, it's cool!
Ternyata Mba Lita punya teknik baru dan bakat terpendam dlm bikin cerita, agak2 mengarah jadi sutradara gitu... Amiin. Dengan menggambarkan sosok tokoh cerita berupa ilustrasi para selebriti ini. Aku nggak kebayang gimana sulitnya sutradara memilih pemain-pemain biar kuat ceritanya. Jadi ingat Meryl Streep dan Johnny Depp yang sangat kuat dan all out karakternya. Ayo Mba, mulai diseriusi bakat ini ya...

Aku merasa, nggak mudah juga membuat alur cerita seperti ini dengan segala macam embel-embel setting tempat,pendalaman tokoh-tokoh dengan masing2 latar belakangnya, termasuk menyusun silih bergantinya setting cerita hingga menuju puncak konflik.

Mba Lita, I admit that you are the real writer! I appreciate that.Keep writing yaaa :)

Lita March 18, 2012 at 1:24 AM  

@Novi: Yoi, Nov. Aku kan baru pindah kerja. Jabatan baru, dan nanganin banyak hal baru. Jadi kudu konsen di kerjaan dulu. Klo nggak keteteran. Untungnya otak masih konek buat nulis ALLL ini. Mungkin karena aku sendiri penasaran kali, gimana endingnya. Hahaha. Bingung kan?

Tapi... emang iya sih. kalau penculiknya kaya Dai, cewek mana oun pasti dengan senang hati minta diculik... Wkwkwkwk...

@Rusyda: Waduh. Komennya... panjang banget. Dan seperti biasa, bikin aku tambah semangat. Thank you, ya. But... jadi sutradara? Aduh, no way deh, Rus. Aku cukup jadi penulis aja dah... lebih asik. Hihihi...

Masalah Dai..., itu mah emang karakternya dia yang emang sulit ketebak. Di 'Lea' udah dijelasin, kayanya sama temennya Juna waktu itu, kalau Dai tampangnya manis dan sikapnya luar biasa sopan, tapi sebenernya kaya monster. Dan untuk AL3, dia pasti akan jadi nyebelin banget, tapi nyebelin yg adorable. Tapi, tergantung yang baca juga sih, nganggap Dai bagaimana, kalau hal yang udah aku rencanain itu kejadian.

So just wait, ya Rus. And keep reading. I do need you and other bloggers to comment on my stories.

sekali lagi tq.

------
Btw... aku penasaran, kok gak ada yang ngomentarin Kenneth ma Marin ya? *garuk2 jidat*

Rusyda Fauzana March 18, 2012 at 5:56 AM  

haha...iya nih mba, aku lagi semangat komentar. hihhi...aku sudah menduga Mba Lita pasti akan bilang begitu ketika aku saranin jd sutradara. Paling nggak nanti bisa jadi script writer film atau serial ya mba... *winks

Hmm...Ken? Dia terlalu posesif dan gampang depresi. klo kata aku sih cocok sama Marin yg agresif dan sok dewasa, paling nggak mengalihkan tekanan hidup Ken karena repot mengurusi kemanjaan dan kekanak-kanakannya :D

Gloria Putri March 18, 2012 at 12:26 PM  

Huaaaaa.....Marinnnnn...dasarr selaiiiiiiiiiii..........

hiiiii....sebelllllll deh sama Marinnnnn

-------------- March 18, 2012 at 10:49 PM  

aku yang mau kmentarin kenneth sama marin xD
*dadahdadah lambailambai pamerketek*

aku sukaaa bgyan marin sama kenneth dicerita ini! suka pake banget! pake h pake d pake s pake z! gak tau ya, aku deg2an banget bgt waktu bacanya, lbh menarik dibaca mbak. sumpah! meski cuma sdikit doang part nya

shafarani March 18, 2012 at 11:27 PM  

loh mba lita pindah kemana kerjanya?
*maapgasambungmaceritatapipenasaranlihatkomen2*

Feby Oktarista Andriawan March 19, 2012 at 11:29 AM  

Adegan Dai dan Neela naik motor ttep sweet. Kimi? pasti terinspirasi dari iklan nih.. :D

Istighfarin.com March 19, 2012 at 11:48 AM  

hmmm,,, mbak ini udah biasa nulis untuk dua perfileman mungkin yah?? Kok indah sekali ceritanya...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP