A Lot Like Love (15)

>> Monday, March 12, 2012




Fire Alarm

24 DESEMBER, Malam Natal, Presidential Suite, Shangri La Hotel

Neela bersin. Lagi. Hidungnya panas, dan kepalanya terasa berat. Seharian ini, tak ada yang dilakukannya selain meringkuk di bawah selimut, berkubang di atas kasur di kamarnya. Memejamkan matanya kuat-kuat, meskipun sama sekali tidak terlelap.

Dan saat Neela baru saja berhasil menembus alam mimpi, Eiji masuk ke kamar. Membuatnya kembali terjaga, memaksa matanya kembali membuka.

“Badanmu hangat,” Eiji berkata, setelah mengangkat tangannya dari dahi Neela. “Flumu… sejak kapan?”
“Mungkin kemarin,” jawab Neela, menggeser badannya sedikit ke dalam. “atau dua hari lalu. Aku lupa.” Suaranya kedengaran lemah dan sedikit serak. “Tapi… aku hanya perlu istirahat.”
Eiji memandangnya dengan tatapan prihatin. “Sebenarnya aku mau mengajakmu pergi malam ini,” katanya, dengan nada menyesal. Matanya mengerling sekilas jas yang tersampir di antara pahanya; warnanya senada dengan sweater wol hijau tua yang dikenakannya. “Malam Natal, dan biasanya aku, Chiyo dan beberapa teman pergi ke suatu tempat untuk merayakannya.”
“Aku… tidak apa-apa kok.” Neela buru-buru mengangkat punggungnya. Tampak bersemangat. “Aku bisa ikut.”.
“Lebih baik jangan,” tolak Eiji segera, melunturkan semangat Neela. “Udara sangat dingin di luar. Kondisi tubuhmu sedang tidak baik.”
“Aku akan pakai baju hangat.”
“Walau pun begitu,” Eiji menukas, “aku tidak ingin flumu bertambah parah. Cuaca di sini berbeda, Neela. Jadi jangan coba-coba.”

Neela kentara sekali kecewa, namun selain cemberut dia tidak bisa protes lagi pada Eiji, toh jawabannya tetap akan sama: tidak.

“Mungkin besok, saat Natal,” Eiji berkata lagi, tersenyum, mungkin tidak mau melihat Neela terlalu kecewa. “Kalau kondisimu sudah membaik, aku akan mengajakmu mengunjungi kuil Sens√≥ji.”
“Benarkah?” Senyum Neela kembali. Dia tidak tahu kuil apa yang dimaksud Eiji, namun, dia memang belum pernah berkunjung ke kuil mana pun selama berada di Jepang.
“Ya,” sahut Eiji. Senyumnya menenangkan. “Jadi, malam ini istirahatlah.”
Neela membalasnya dengan cengiran riang. “Oke,” katanya, meskipun kedengaran lemah.
“Oke.” Eiji mengangkat badannya dari kasur. Memakai jasnya di atas sweaternya. Dan tak sengaja, tato di badannya terlihat jelas oleh Neela. “Aku pergi—”
“Shinji juga punya tato seperti tatomu itu kan?” sambar Neela tiba-tiba saja. Menelengkan kepalanya. Tato itu sudah tenggelam lagi di balik rajutan benang-benang sweater Eiji lagi. “Aku baru ingat.”

Eiji menunduk, tidak membalas. Sibuk menautkan kancing jasnya, yang sepertinya sulit sekali dipasangnya.

“Eiji…” panggil Neela.
“Ya?” Eiji menoleh dengan tampang yang kelihatan ganjil.
“Benar kan kataku…? Shinji punya tato yang sama denganmu?” Neela mengulang pertanyaannya.

Cuma senyuman yang Neela dapatkan sebagai jawabannya. “Aku pergi dulu. Harus jemput Chiyo.”
Neela tersenyum muram, mengembuskan napasnya pelan.
“Pulang makan malam, kami akan kemari. Menemanimu.” Eiji membungkuk. Mencium kening Neela sambil menyentuh rambutnya dengan sayang. “Oke?” Dia kembali menyunggingkan senyum. Menatap mata Neela lekat-lekat, seolah saja dia sedang meyakinkan kalau kata-katanya bisa dipercaya.
Neela mendengus. “Oke,” senyumnya. Kelihatan lebih manis daripada sebelumnya.

Setelah itu, Eiji menegakkan badannya, memutar kakinya, dan melangkah ringan menuju pintu kamar. “Arata merayakan Natal di tempat lain,” Eiji memberitahu, memutar badannya lagi menghadap Neela. “Tapi aku sudah menugaskan orang untuk menjaga kamarmu, jadi, kalau kau butuh apa-apa, katakan saja pada mereka.”

Neela mengangguk, dan Eiji berpaling, menarik gagang pintu membuka, dan keluar dari kamar. Meninggalkan Neela sendirian.

Sebenarnya dia tidak perlu menyuruh siapa pun untuk menjagaku, gumam Neela dalam hati. Eiji, menurutnya terlalu berlebihan dalam melindunginya, seakan saja dia, Neela, adalah semacam target yang bisa diserang orang sewaktu-waktu.

Neela tidak tahu berapa lama dia tertidur, yang pasti ketika ia terbangun, air menyemburnya dari atas, dan suara ‘kring’ nyaring menjerit menulikan telinganya. Dan tak sampai beberapa detik, pintu kamarnya menjeblak terbuka, dan dua orang laki-laki masuk dengan tergesa.

Miss Neela, we have to go,” salah satu dari laki-laki tersebut berkata pada Neela, yang baru saja menegakkan badannya.
What’s happen?” Neela bertanya bingung, menurunkan kakinya dari atas tempat tidur. Bergegas mengenakan jaket tudung bulunya yang baru saja diambilkan oleh laki-laki satunya lagi.
Fire.” Laki-laki yang mengambilkan jaket, menarik Neela berdiri.
Fire?” Neela membeliak, seraya berjalan cepat menuju pintu.

Bertiga, mereka menyeberangi ruang tamu menuju pintu keluar. Namun, setelah mereka sampai di luar, salah satu laki-laki itu tinggal, sementara laki-laki lainnya, yang tubuhnya lebih kurus, tetap bersama Neela. Menemaninya menyusur koridor yang sudah penuh orang yang berlarian menyelamatkan diri sambil berteriak panik. Air dari keran darurat di atas menyembur ke arah semua yang ada dibawahnya, membuat badan semua orang itu, termasuk Neela basah kuyup.

Beberapa staf hotel berteriak-teriak, sepertinya berusaha menenangkan situasi, namun suara mereka tidak cukup keras untuk mengatasi jeritan para tamu hotel yang datang dari segala arah.

Calm down, Sir, Mam!” Seorang staf wanita berteriak dalam bahasa Inggris seraya mengangkat tangannya ke atas. “Please calm! Watch your way!

Orang-orang tidak menghiraukannya. Mereka sibuk menjerit, dan berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing. Sementara Neela, tidak bisa melakukan apa pun selain menggenggam tangan penjaganya, yang dengan tenang, namun waspada, menuntunnya berjalan ke arah pintu menuju tangga darurat, bergabung bersama yang lainnya.

Tapi tiba-tiba saja, ketika mereka hampir mencapai pintu, tidak tahu bagaimana, laki-laki di sebelah Neela terjerembab menelungkup ke depan. Tangan mereka terlepas, dan Neela, tersapu oleh beberapa orang yang datang dari belakangnya. Mendorongnya ke depan. Terpisah dengan penjaganya yang masih berusaha mengangkat tubuhnya.

Neela berusaha menghentikan kakinya, namun orang-orang di belakangnya sepertinya tak ingin dia berhenti. Terus mendorongnya, bukan membelok ke arah pintu di mana tangga darurat berada, melainkan lurus menuju lift.

Yang benar saja, Neela berpikir. Ini menyalahi aturan prosedur keselamatan kebakaran.

Salah seorang, perempuan, yang ada di belakangnya, maju, untuk menekan tombol lift—kepalanya memang tertutup tudung jaketnya, namun, dari bentuk badannya, jelas dia perempuan. Dan ketika pintu lift membuka, Neela didorong masuk ke dalam. Anehnya, orang-orang itu tidak ikut masuk, pergi begitu saja dari hadapannya dengan terburu-buru, membuat Neela panik sendiri, dan berusaha keluar lagi dari lift yang pintunya telah menggeser menutup. Tapi, seseorang menangkap pinggangnya. Menariknya menjauhi pintu. Mendesaknya ke dinding lift, dan…

Neela bengong melihat wajah orang yang sekarang berada di depannya. Laki-laki, dengan jaket bertudung dan topi pet hitam yang menyamarkan penampilannya. Tapi, itu semua tidak cukup untuk membuat Neela lupa siapa dia. Sekali lagi, Dai Tanaka, gagal menyembunyikan wajah tampannya.

“Kau?” Mata Neela bergerak-gerak di rongganya. Syok. “Jadi…, kebakaran ini…”
“Aku kan sudah bilang, aku akan menculikmu, jadi aku mengatur sedikit ‘tindakan ekstrim’ untuk bisa mendapatkanmu,” jelas Dai nyengir. Tidak kelihatan merasa bersalah sedikit pun.

Selama beberapa saat, dengan lift yang bergerak turun, keduanya bertatapan. Neela dengan tatapan terguncangnya, sementara Dai dengan tatapan nakal yang amat puas.

“Oh! Kau!” Neela mendorong Dai ke belakang dengan jengkel. “Kau membuat semua orang panik!”
Dai terbahak. Bahunya berguncang-guncang, bersandar di pintu. “It’s cool, though.”
“Oh, tidak.” Neela menggeleng-gelengkan kepala. Melotot marah. “Tidak cool sama sekali. Very uncool.”
Dai terkekeh, menggeleng. “Ayolah, Neela. Ini malam Natal. Aku hanya ingin menunjukkanmu suasana Tokyo.”

Neela bersedekap. Hidungnya kembang kempis karena berusaha keras mengatur napasnya yang sebelumnya memburu cemas. Dia memilih menatap lantai elevator daripada menatap Dai, yang sangat membuatnya sebal—tumben, membuatnya sebal.

“Neela, I’m sorry, okay?” Tawa Dai sudah reda, berganti dengan suara yang dipenuhi rasa bersalah. “Aku salah… berpikir kau akan suka dengan kejutanku.”
Neela mengangkat wajahnya. “Setidaknya kau seharusnya mengirimkan SMS padaku,” ujar Neela, cemberut.

Dai langsung mendengus.

“Aku jadi bisa memakai pakaian yang lebih baik dari ini.” Dia menyibak jaketnya, memperlihatkan kaus dan celana kain longgar yang biasa dikenakannya saat tidur. “Aku bahkan tidak pakai alas kaki.” Neela mengangkat satu kakinya yang telanjang.

Dai berusaha keras menyembunyikan ekspresi geli di wajahnya, namun gagal total, karena kemudian dia menyemburkan dengus tawa yang tertahan di kerongkongannya. “Sekali lagi…, sori,” katanya kemudian, diiringi angguk sopan.

Neela bersandar di dinding. Melihat angka ‘6’ digital berwarna merah di LCD di samping pintu lift, sementara Dai berjalan mendekat. Meniru Neela, menyandarkan punggungnya di dinding lift di belakangnya.

“Jadi,” kata Dai, setelah hening beberapa saat. “kau ikut?”
Neela menarik oksigen yang sepertinya kian menipis ke paru-parunya, mengembuskannya lagi dan menoleh pada Dai. “Apa sepadan dengan omelan Eiji nanti…? Jalan-jalannya?”
Dagu Dai terangkat. Tersenyum. Senyum yang sangat lembut. “Kalau kau memang cemas, sebaiknya tidak usah,” katanya. “Kita naik turun lift saja, sampai situasi di hotel ini lebih tenang.”

Ganti Neela yang mendengus. Menggeleng pelan, sambil mengarahkan pandangannya ke depan. Menunduk lagi, membiarkan rambutnya terjurai ke depan, menutupi wajahnya seperti tirai, lalu mengangkat wajahnya lagi.

Lift baru saja melewati lantai tiga.

“Jadi… orang-orang yang mendorongku masuk ke lift…” Neela kembali menengok ke arah Dai. “temanmu?”
Dai tersenyum simpul, balas memandang Neela dengan sorot mata yang jenaka, dan berkata, “Bisa dibilang begitu,” dengan nada ringan.
“Teman yang sangat setia kalau begitu,” komentar Neela.
Alis Dai bertaut. “Maksudmu?”
“Mereka begitu baik karena mau membantumu, meskipun tahu kalau resikonya akan sangat besar kalau ketahuan.”
“Aku sudah bilang padamu tempo hari,” timpal Dai. “I have people…, to take care all of my problems.
“Eiji juga sepertimu.” Neela mengedikkan bahu, memandang ke arah pintu lift lagi dan mengerling sekilas ke LCD yang sekarang menampilkan angka 1. Basement tak lama lagi. “Punya orang-orang, untuk menyelesaikan masalahnya kapan pun dia butuh. Bisa memimpin dunia kalian berdua,” Neela kembali memancangkan matanya pada Dai. “kau dan Eiji, dengan kemampuan memimpin seperti itu.”
“Aku pikir juga begitu,” angguk Dai, mengiyakan. Senyumnya tak terjelaskan.

Lift berdenting, disusul pintu yang menggeser membuka. Dai keluar lebih dulu. “So, Neela… last question,” dia memutar badannya menghadap Neela, yang baru satu langkah dari lift, “you wanna come?

Neela berpikir keras untuk beberapa detik; mendengar suara dan melihat wajah Eiji berenang-renang di benaknya. Wajah Arata kemudian, juga Chiyo, lalu, Dai. Dai yang berdiri tak berapa jauh di depannya. Tersenyum. Nyata.

Jangan pergi dengan orang yang tidak kau kenal dengan baik, Neela.” Di kepala Neela, Eiji kembali mengulang kalimatnya. “Aku mohon.
“Aku akan mengajakmu mengunjungi kuil,” kata Dai, sedikit keras, mengatasi suara Eiji, dan melenyapkan sosoknya, merubahnya menjadi kabut pasir yang menguap. “Kita akan melihat pohon Natal raksasa di Tokyo Dome.”

Neela terkekeh, memandang Dai yang menyeringai padanya. Dan itu saja cukup, untuk membuatnya melontarkan kata “Oke” yang mantap pada Dai.

(bersambung)
...
gambar dari sini
"Pasang namamu dan nama pacarmu di salah satu batang pohon itu."
"Kita kan tidak pacaran."
"Malam ini, kenapa kita tidak pura-pura pacaran saja? Akan sangat menyenangkan kan?"
"Sepertinya begitu."
"So Neela, write my name on that leaf, and hang it on its trunk. Stay by my side and hold my hand all night. Dont you let go."

10 comments:

Rusyda Fauzana March 12, 2012 at 8:56 PM  

Mbaaa... jadi penasaran deh.
Aku kira Dai nyuliknya ala ninja gitu, ditotok trus dibawa kabur naik genteng hahaha...

Kalau dirasa-rasa kok lama2 karakter Dai itu jadi kurang kuat ya? Apa gara2 wajah Dennis Oh yang cute kali ya, gak kebayang Dennis jadi anggota Yakuza wkwkwk...

Feby Oktarista Andriawan March 12, 2012 at 10:51 PM  

Apa yang selanjutnya terjadi dengan Neela? Dai ini baik gak sih? Hmm..

-------------- March 12, 2012 at 11:45 PM  

kukira neela bkal dikarungn mcem kado santa claus -3-
ah, dai ntar naksir sendiri loh, bnyak gaya sii.. nanti witing tresno jalaran soko mekso. wkwkwk xD

yuli she,  March 13, 2012 at 9:40 AM  

Waiting for next chapter


^^

putri ria,  March 14, 2012 at 7:26 PM  

ihiiiy ,jadi senyum" sendiri bacanya ..
hehe
daiii,culik aku juga doooonk XD
next chapter jgn lama" ya mba lita.. :D

Gloria Putri March 14, 2012 at 9:31 PM  

wkwkwk........dai....kejutannya bikin gemesss......wkwkwkwk....uda lama aq ga diculik cowokku...mau duonggg diculik Dai...hahahahaha

sarie March 15, 2012 at 9:21 PM  
This comment has been removed by the author.
sarie March 15, 2012 at 9:22 PM  

kalau pemeran antagonisnya kayak Dai pasti g' bakalan ada yang benci kali mba' .. suka ... ^_^

dinar March 16, 2012 at 2:24 PM  

mbakkk...semua cerita mbak...bikin hati berbunga-bunga....fiuhhh...kok aku yg deg2an ya.....

Lita March 16, 2012 at 4:40 PM  

@All: Maaf ya, baru bales komennya. Kerjaanku yang numpuk bikin aku cuma sempet baca doang. wkwkwk.. Sekarang dibales satu2 deh.

@Rusyda: Hei, Nona Editor. makasih banyak komennya yang selalu bikin ketar-ketir.

Anyway, karakter dai emang lumayan manis di sini. hihihi. Pengen aja tahu pendapat semua pembaca tentang itu. But still, I love dai for being bitchy. wkwkwkwk. Keep reading Rus. Tq so much.

@Feby: Baca aja terus, Feb. Ntar juga tau. Kalau aku kasih tau sekarang nanti kagak ada yang baca dunks. Apa kabar adekk??? Btw. Adekku ulang tahun lho tgl 15 kemarin. #sapayangnanya?

@Gita: Masa Neela dikarungin sih, Git. Gak asik banget. Btw, aku kemarin mampir ke blog kamu dan liat ada cowok nampang minum kopi. Pacar kamu kah #malahkepoh

@Yuli: Waiting untuk mostingnya nih, Yul... (T_T)

@Putri: Gak lama kok, Put. Mudah2an malem ini bisa posting.

@Glo:Wah, kalau ini sih komen sekalian curhat. Emang si ranger merah kemana, Glo, sampe gak sempet culik kamu lagi?

@Sarie: Iya ya. Semua udah duluan terkesima sama mukanya. Heheheh.

@Dinar: Hei dinar. Apa kabar? udah lama gak sua. Makasih ya... Mwah!

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP