A Lot Like Love (14)

>> Thursday, March 8, 2012



The Request


CHIYO duduk di depan Neela. Memandangnya dengan tatapan yang tak dapat dimengerti, seolah menuduhnya telah melakukan suatu kesalahan. Tapi, apa memang begitu? Apa memang Neela telah melakukan kesalahan? Karena tampaknya, kedatangannya bersama Dai, memunculkan rona tak suka di wajah Chiyo, terutama Eiji. Tapi kenapa? Bukankah, Dai itu teman Shinji. Jadi, sebenarnya tak masalah kalau dia datang bersama Dai. Apalagi, bisa dibilang Dai menyelamatkannya dari kejadian malam ini, meskipun sebenarnya kejadian itu lebih bisa dibilang konyol daripada mengancamnya.

“Apa Eiji marah, Chiyo?” Neela memberanikan diri bertanya.
Chiyo tidak langsung menjawab, melainkan menyunggingkan senyum yang kentara sekali dipaksakan. “Tentu tidak,” dia menggeleng. “Untuk apa dia marah?” Kalimatnya dengan air mukanya sama sekali tak sepadan.
Neela menunduk. Merasa tak enak hati. “Aku terpaksa ikut dengan Dai,” jelasnya buru-buru, ketika dia mengangkat wajahnya lagi. “Mendadak saja gadis-gadis itu datang dan menyerbu Arata…”
Chiyo mengangguk-angguk. “Aku tahu…” selanya, kembali menyunggingkan senyum muram. “Kau tidak usah cemaskan itu.”
“Apa Arata baik-baik saja?” tanya Neela lagi. Mendadak teringat Arata.
“Oh,” Chiyo terlihat grogi, “dia—”

Pintu ruangan mendadak menceklik terbuka. Dan Arata masuk, berjalan dengan napas terengah-engah seperti orang yang habis berlari jauh. Melihat Neela, dia langsung berhenti. Bertolak pinggang dan mengambil napas panjang seraya memejamkan mata. Tampak amat lega.

Chiyo berdiri dari sofa. “Arata San, anata wa daijóbudesuka?”—Arata, apa kau baik-baik saja? Chiyo menanyakan sesuatu pada Arata.

Kenapa dia harus menggunakan bahasa Jepang? Neela merasa jengkel sendiri.

Arata memutar badannya sedikit menghadap Chiyo, menegakkan badannya, masih berusaha mengatur napasnya. “Chinatsu-san…, watashi wa daijóbudayo.”—Nona Chinatsu, saya baik-baik saja, jawabnya, mengangguk hormat. “Watashi wa chódo yokatta Níra-san daijóbudayo.”—Saya lega Nona Neela baik-baik saja.

Mata Neela bergerak dari Chiyo kemudian Arata dan Chiyo lagi. Berusaha menebak-nebak apa yang mereka sedang bicarakan. Dirinya kah?

Chiyo mengangguk, melemparkan senyum pada Arata. Atau… ringisan? “Saiwai ni mo nani mo kare ni okoranakatta.”—Untungnya tak ada yang terjadi padanya. “Anata wa gádo yori shinchodenakereba narimasen.”—Seharusnya kau lebih berhati-hati menjaganya.

Entah kenapa Neela merasa Chiyo marah. Wajah cantiknya mengeras, dan nada suaranya tidak lagi lembut seperti biasanya. Apalagi setelah itu, Arata membungkuk dalam-dalam, mengucapkan, “Mooshiwake gozaimasen,”—Maafkan saya, yang menurut Neela kedengaran seperti permohonan maaf yang amat sangat.

It’s okay,” kata Chiyo, setelah berlalu beberapa waktu. “Nothing happen, though.”
“Maafkan, saya, Nona Chinatsu.” Sekali lagi Arata membungkuk.

Chinatsu. Itu nama Chiyo yang sebenarnya. Nama yang indah menurut Neela.

Eiji masuk, tepat saat Arata menegakkan tubuhnya kembali. Mantelnya tersampir di lengannya, dan dia hanya mengenakan sweater wol tebal berkerah rendah yang memperlihatkan dadanya. Neela mengernyit, baru menyadari adanya tato di badan Eiji; tersembunyi di balik sweaternya. Selama ini dia tak pernah menyadarinya. Tapi, tato seperti itu, sepertinya dia pernah melihatnya. Tapi di mana?

“Neela.” Eiji berdiri tepat di hadapan Neela. Menatap kedua matanya lekat-lekat. “Untuk keselamatanmu…, aku mohon, jangan sembarangan ikut dengan orang yang tak kau kenal.”
Apa yang dia maksud Dai? “Kalau kau yang maksud itu Dai… kau salah,” ujar Neela. “Aku… dan Dai telah beberapa kali bertemu di Jakarta. Dan dia… selalu baik.”
“Dia memang baik.” Eiji tersenyum menenangkan. “Aku mengenalnya, tapi…, lebih baik, kau selalu bersama Arata; apa pun kondisinya.”
“Tapi, tadi—”
Eiji cepat-cepat memotong. “Apa yang terjadi malam ini memang tak bisa diduga, namun… aku ingatkan padamu, kalau hal seperti tadi itu terjadi lagi, dan tak ada siapa pun bersamamu, aku minta kau segera menelponku. Jangan percaya pada siapa pun di sini.” Wajah Eiji benar-benar serius. “Kau sedang ada di negeri orang. Lengah sedikit, nasibmu akan tak tentu.”
“Eiji,” Neela mendengus, separo-geli, separo-bimbang, “jangan menakut-nakutiku,” ringisnya.
“Aku tidak menakut-nakuti,” sahut Eiji cepat. “Memang begitu faktanya. Jadi, aku mohon…, dengan amat sangat…, jangan sekali-sekali, ikut dengan orang yang tak kau kenal, atau tak begitu kenal. Kau mengerti?”
“Tapi, Eiji—”
“Kau mengerti?” Eiji tidak menggubrisnya. Mengulang pertanyaan dengan nada lebih tegas dari pada sebelumnya. Dan tak ada pilihan lain untuk Neela selain mengangguk lemah dan menjawab dengan, “Mengerti,” yang terdengar parau.
“Sekarang… tidurlah. Besok kau tak usah latihan.”—(Neela mengerutkan kening)—“Kotaro sempat menelponku, dan mengatakan kalau permainan biolamu kacau,” kata Eiji. “Jadi sebaiknya kau istirahat. Mungkin kau capek.”

Tidak ada gunanya membantah, Neela membatin. Dari tampang Eiji sekarang, jelas dia tidak akan mau mendengar kalimat lain selain ‘Ya’ dari bibirnya.

“Baiklah,” ujar Neela. “Aku tidur, kalau begitu.”
Dia berbalik. Tak menoleh sama sekali, pada Chiyo maupun Arata. Dia kesal, tapi tak bisa mengungkapkan kekesalannya. Sehingga memilih untuk bungkam dan menuruti apa yang Eiji katakan padanya. Lagipula tak ada salahnya. Badannya penat, kepalanya berat. Dan memang lebih baik kalau dia merebahkan diri di kasur hangat di dalam kamarnya. Toh, tak ada ruginya.


Neela memerhatikan layar ponselnya yang mengedip-ngedip. Sebuah nomor asing—bukan nomor Eiji, Chiyo maupun Arata, tertera di sana.

Jawab, atau tidak? Neela menanyai dirinya sendiri. Nomor itu bisa saja salah sambung, tapi, siapa tahu juga itu Eiji maupun Chiyo, yang menggunakan nomor lain, tapi…, mereka tidak mungkin tidak bilang kalau mengganti nomor ponsel mereka… Jadi?

Moshi… moshi?” Neela berkata ragu.
Moshi-moshi.” Seorang pria membalas dari ujung telpon. Suaranya kedengaran riang. “Uwá, Nira san. Nihonde wa wazuka sújitsu, nihonjin wa hijó ni yoi sa rete iru.”—Wow, Neela. Baru beberapa hari kau di Jepang, bahasa Jepangmu sudah sangat bagus.

Reaksi langsung Neela adalah bengong. Dia sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan pria tersebut. Tapi, sepertinya tadi dia menyebut namanya… Sepertinya. Kalau tak salah.

I-I’m sorry,” Neela membalas dengan gugup. “I speak no Japanese.”
Aku tahu.” Pria itu langsung tergelak.
“Eh?” Neela membeliak. Kaget mendengar pria itu berbicara dalam bahasa Indonesia. “Ini siapa?” Dia mengerucutkan bibir.
Watashi ga Daisuki.” Pria itu bicara dalam bahasa Jepang lagi. Tapi, kali ini Neela mengerti.
“Daisuki? Siapa?”
Tawa laki-laki itu pecah. “Neela, ini Dai.”
Mulut Neela menganga. Dai? Tapi dari mana dia tahu nomor ponselnya? “Bagaimana kau tahu nomor ponselku?”
Rahasia,” timpal Dai, sepertinya sedang nyengir lebar. “I have people.

Neela cuma bisa meringis tanpa tahu harus mengatakan apa untuk menanggapinya. Dia mencuri pandang ke arah Arata yang seperti biasa duduk di salah satu kursi yang melingkari panggung konser Suntory Hall; di deretan paling atas. Membaca buku di pangkuannya; hal rutin yang selalu dilakukannya kapan pun dia menemani Neela latihan.

Neela berpaling, membelakangi Arata, dan berbicara pelan; setengah berbisik. “Ada apa, Dai?”
Kenapa kau berbisik? Kau di mana sekarang?” Dai balas berbisik, membuat Neela mendengus geli.
“Aku sedang latihan…” kata Neela, terkekeh.
Oh, ya. Pasti untuk konsermu bersama Kotaro Fukuma itu kan?
Neela tersenyum. “Kau tahu?”
Tentu saja. Beritanya sudah ada di mana-mana. ‘Konser Kotaro Fukuma akan dihelat tanggal 31 Desember, didampingi oleh pemusik cantik dari Indonesia bernama Neela,”—(Cara Dai bicara seperti seorang pembawa berita di televisi)—“sebagai penyambutan datangnya tahun baru dan—”
“Oh, diamlah,” tukas Neela, meringis. “Tidak lucu. Dan aku harus pergi.”
Apa kau dilarang menemuiku?” Suara Dai mendadak kedengaran serius.

Neela diam. Bingung, harus menjawab apa. Eiji memang tidak melarangnya bertemu Dai, namun, dari kata-katanya dua hari lalu, sepertinya begitu.

Hei,” Dai kembali berbisik. Bisikan yang terdengar lembut dan renyah. “Kenapa kau diam?
“Ti-tidak,” Neela buru-buru bicara. “Tidak ada yang melarangku menemuimu.”
Kalau begitu, mau jalan-jalan bersamaku malam Natal nanti?
Mata Neela membundar. Tidak menduga datangnya ajakan itu. “A-aku…”
Tokyo akan sangat indah di malam Natal,” ujar Dai, membujuk. “Akan ada salju—
“Jangan bohong,” sambar Neela, tertawa kecil. “Salju hanya turun di bulan Februari.”
Dai turut mendengus. Melontarkan suara tawa yang kedengaran seperti cegukan. “Yah, setidaknya kita bisa menikmati salju buatan, dan mengunjungi banyak tempat yang bagus nanti. Kau tidak akan menyesal.”

Tawaran Dai amat menggoda, namun, Neela ragu untuk mengiyakannya. Eiji telah memperingatkannya, lagi pula, Arata pasti akan terus mengekorinya kemana pun. Dia tidak berani.

“Maaf, Dai,” kata Neela dengan berat hati. “Aku tidak bisa.”
Katakan padaku alasannya.
“Aku… tidak mau merepotkanmu.”
Aku tidak merasa direpotkan.”
“Maaf, aku benar-benar tidak bisa.”

Untuk beberapa waktu keheningan memisahkan keduanya.

Oke,” kata Dai, mengembuskan napasnya. Suaranya kedengaran kecewa. “Tidak apa.”
Gomen,”—Maaf, ucap Neela sepenuh hati. “Pasti sangat menyenangkan bisa pergi bersamamu.”
Go with me, then,” bujuk Dai lagi. “Please.”
I cant.”
Bagaimana kalau aku menculikmu?
“Jangan ngaco,” kekeh Neela. Menoleh, mendongak memandang Arata yang sekarang memerhatikannya dari kursinya. “Sori, Dai. Aku harus pergi sekarang.”
Arata bersamamu?
Neela mengerutkan keningnya. “Kau kenal Arata?”
Dai mendengus, dan berkata, “Never mind. Have a nice practice, okay?
Okay.”
See you, then. Bye.”
Bye.”

Pembicaraan mereka berakhir. Dan anehnya, meninggalkan sesuatu yang menyejukkan di hati Neela, yang membuatnya menyunggingkan senyum amat manis tanpa dia sadari.

(bersambung)
...
gambar dari sini
Mimpi banget, bisa nyentuh cowok seganteng ini. *penuh damba*

PS.

AL3 ke-13 kemarin, saya buat dengan amat tergesa, sampai-sampai lupa kasih judul (baru sadar).
Btw, maaf ya, yang komentar kemaren gak sempet balas, bukannya gak mau, tapi karena gak sempet buka-buka blog sejak posting itu.

Apa pun komentarnya, saya tetep appreciate banget, dan berharap blogger pals yang ngikutin AL3 tetep mau baca. And keep reading, karena, ceritanya akan semakin seru dan romantis. Juga *hiks* mungkin agak sedih. Pokoknya, tetep baca ya.

Trim, ya.
I love u all so much.

Lita.

10 comments:

-------------- March 9, 2012 at 5:58 AM  

yaah, jangan cedih.. aku mikirnya nanti ada action nya :o
jotos2an gitu mbaak
tapi dai itu emang the man who can't be resist
wakakakakak

Rusyda Fauzana March 9, 2012 at 6:45 AM  

Huaaaa... Aku mau dong diculik Dai hehe....

Mba Lita, makin lama makin romantis aja nih ceritanya. Si penulis paham betul bikin pembacanya meleleh. Aku baru nyadar, ternyata penggambaran kuat sosok tokoh secara fisik dan perilaku, ngaruh banget membangun persepsi dan emosi pembaca.

Hmm...kira-kira yang jatuh cinta duluan Neela apa Dai ya? (mulai berkhayal...)

Aku jadi ikutan Mba Lita nih, nonton serial-nya Dennis Oh di youtube. Ternyata dia juga punya serial drama di China juga ya. He's so sweet. Hadeeehh... Kok ada ya cowok se-cute ini, benar-benar tak dapat ditolak -.-" *godaan laki-laki ganteng memang berbahaya

Keep writing Mba :)

febby,  March 9, 2012 at 8:52 AM  

huaaa...dai..dai..hahaha..mba lit,lupa aq tu foto dai namay sapa yah?artis kan..klo kyouta tu hyu bin kan ^_^

yuli she,  March 9, 2012 at 12:09 PM  

Ya ampun Dai,,,siasatnya hebat buanget,,udah ga jaman nyulik cewe pake kerasan apalagi nyampe palanya ditutupin pake karung,,caranya Dai udah ga bisa bikin cewe nolak bwat mendekat dengan sendirinya hahaha


Mba Lita hebaaaat,,ditunggu chapter selanjutnya...

Mine and Me March 9, 2012 at 1:15 PM  

lita-san, anatawa kirei desu... ^_^

Nonanovnov March 9, 2012 at 4:13 PM  

waaaa,, blink..blink liat Dai ;)

Gloria Putri March 9, 2012 at 5:59 PM  

klo dai cowo baik2, aq mau dong diculik Dai xixixii....

btw...mb lita bs bahasa Jepang ya? wahhhh....kerennn

Lita March 9, 2012 at 8:29 PM  

@Gita: Cup2... jangan mewek, Git... Sedihnya ya gak sedih2 amat... tetep seru dan ada actionnya. Tetep baca ya, Sayangggggg... Mwah2!

@Rusyda: Iya, Dennis Oh tuh, 'Oh' banget dah. Manisssss banget. Pengen cubit. Btw, thanks ya commentnya. Seneng bisa bikin kamu penasaran *nyengir nakal*.

@Febby: Dai tuh aku bayangkan kaya Dennis Oh. 'Oh' banget! dan Kyouta tuh Hyun Bin. 100 buat Febby. *pamer gigi*

@Yuli: Wkwkwk. Kamu deh ah. Kalo yang nyulik gantengnya kaya gitu, mau dimasukin karung juga gak papa, yang penting pas keluar karung dapet pelukan hangat *ngiler* Makasih ya, Yul! Cium.

@Suci: Suci-chan, arigato. (^^)

@Novi: Blink... blink, liat Novi.

@Glo: Kalo itu mah aku juga mau Gloooooooooo *mewek*
Bahasa Jepangku amburadul kok... heheheh...

VG,  March 10, 2012 at 6:14 PM  

You should make some novels

Lita March 10, 2012 at 9:47 PM  

@VG: Hey, Thank u for visiting. Maybe someday... I would make novels. Thanks again...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP