A Lot Like Love (13)

>> Monday, March 5, 2012

A Lot Like Love (12)




GADIS di depan Kenneth sekarang ini amat cantik. Cantik yang anggun. Dari sisi mana pun, dia terlihat begitu menarik, dan tak bosan berapa kali pun memandangnya. Rambutnya yang coklat melambai lembut tertiup angin sepoi-sepoi. Kulitnya yang pualam membuatnya seolah bersinar, menarik berpasang-pasang mata melihat ke arahnya.

Dia tersenyum. Senyuman yang membuat laki-laki mana pun akan langsung jatuh cinta padanya. Matanya yang bulat besar, mengejap manja, membuat hati serasa terpanah oleh dewa asmara yang tampaknya selalu menyertainya kemana pun. Dia begitu memesona, dan tak satu pun yang bisa menghindari pesonanya.

“Jadi,” Marin bicara lagi, setelah beberapa waktu hening yang canggung, “berapa lama kita akan berada di Korea?”
Kenneth menarik napas. Kembali meraih gagang cangkir kopinya lagi, menyeretnya mendekat. “Tiga atau empat hari,” jawabnya kemudian, mendekatkan cangkirnya ke mulut. Menyesap kopinya sedikit. “Kenapa?”
“Aku agak… grogi,” kata Marin. Tertunduk. Bibirnya yang mungil membentuk lengkungan manis. “Ini pertama kali aku berdua saja denganmu kan?”

Kenneth tak tahu bagaimana harus menanggapinya. Dia hanya mendengus untuk menutupi kekikukannya. Kembali menyeruput kopinya, dan memandang sekitar Kafe Sore, di mana dia dan Marin sekarang berada.

“Boleh…, aku tanya sesuatu?”
Kenneth kembali menghadapkan wajahnya pada Marin. “Ya.” Dia meletakkan cangkirnya.
“Kenapa kau harus mampir ke Tokyo untuk menonton konser Neela? Bukannya kau sudah tidak menjadi manajernya lagi?”
“Malini minta tolong padaku,” jawab Kenneth cepat. “Dia tidak bisa terbang ke Jepang karena kehamilannya. Lagipula,” Kenneth memutar-mutar cangkirnya, tidak memandang Marin, “aku yang mengatur pertemuan Neela dengan Kotaro Fukuma, setidaknya aku harus ke sana untuk sekadar melihat, juga mengucapkan terima kasih pada Kotaro Fukuma kan?” Dia tersenyum. Hambar.
“Kotaro Fukuma pianis kelas dunia,” komentar Marin. Menatap Kenneth yang masih tertarik pada cangkir kopinya. “Pasti… kau benar-benar berusaha untuk mengusahakan kolaborasi Neela dengannya.”
Kenneth mendengus. “Kebetulan aku punya teman yang dekat dengannya…” katanya, meletakkan kedua sikunya di meja. “Dia yang membuat semuanya terwujud.”
“Meskipun begitu,” sela Marin, “kau sangat perhatian dengan karir Neela.”
“Aku manajernya… sudah seharusnya…”
“Kau sudah tak jadi manajernya.”
“Aku telah mengaturnya sebelum aku berhenti jadi manajernya.”
“Kau bisa saja membatalkannya.”
“Aku bukan orang yang seperti itu.”
“Kau sayang sekali padanya.”

Mulut Kenneth yang sudah terbuka, langsung menutup. Mata abu-abunya berkilat menatap Marin, yang kini menyesap tehnya dengan anggun dari cangkirnya. Setelah selesai, dia kembali meletakkan cangkirnya. Mengangkat wajahnya dengan gerakan pelan, dan menatap Kenneth, yang masih kelihatan terguncang.

“Kau bukan gay, kan, Kenneth?” Marin kembali bicara. “Karena kalau kau benar-benar seorang gay, kau tidak akan memperlakukan seorang perempuan selayaknya perempuan. Kau akan memperlakukanku atau wanita lainnya seperti kami ini temanmu… Dan mungkin lebih buruk dari itu. Tapi… kau sangat perhatian. Sangat melindungi. Kau juga tidak pernah… kelihatan tertarik pada laki-laki.” Marin mendengus geli. “sementara banyak laki-laki tampan dan macho bersliweran di sekelilingmu.”
“Aku tidak bisa berkomentar.” Kenneth menyambar cangkirnya lagi, dan meneguknya.
“Aku mendengarmu bicara di telpon dengan seseorang beberapa kali,” Marin kembali bicara. “Kau menanyakan keadaan Neela. Kau cemas akan kondisinya di Jepang. Kau cemas… kalau dia akan tersesat. Kau menanyakan apa Neela makan teratur. Kau ingin tahu bagaimana latihannya. Semua itu cukup untuk membuatku sadar, betapa sayangnya kau padanya.”
“Kau tidak bisa menyimpulkannya begitu saja hanya karena kau sering menguping pembicaraanku,” kata Kenneth disertai sindiran.
Why don’t you tell her?” Marin mengedikkan bahu. Heran.
Tell her what?” Kenneth pura-pura tak mengerti.
Marin mengabaikannya. “Bisa saja Neela juga punya perasaan yang sama denganmu kan?” Dia bersandar di punggung kursi. "Kalau aku… aku pasti sudah memberitahu perasaanku. Karena sulit untuk menyimpan perasaan begitu lama. Tersiksa rasanya.”

Kenneth memilih untuk diam. Tak membalas kata-kata Marin. Malas menyangkal, karena memang begitu kebenarannya. Tapi dia juga tidak mau mengiyakannya, karena menurutnya, sangat tak pantas menceritakan perasaannya pada gadis belasan tahun yang dianggapnya belum mengerti apa pun mengenai cinta. Walaupun dia mengakui kalau Marin jauh lebih dewasa dari pada umurnya, dan lebih luas pengetahuannya tentang cinta dari pada dirinya.

“Andaikan…” Marin kembali berujar, “Neela ternyata menolakmu…, setidaknya kau bisa mempertimbangkanku.”
Kenneth berjengit.
“Aku akan senang sekali… bisa jadi pacarmu. Kau baik, pintar…, dan sangat perhatian. Semua kriteria pria yang kumau ada padamu. Tak usah pikirkan perbedaan usia, karena kau terlalu tampan untuk mengkhawatirkan itu.” Marin tersenyum lembut. Dan itu saja cukup bagi Kenneth untuk meyakinkan kalau dia serius atas kata-katanya. “Pikirkan, oke?” katanya lagi.

Kenneth hanya menggeleng tak percaya. Menyembunyikan dengusnya dengan menundukkan kepala.

Mobil sedan hitam mewah yang membawa Dai dan Neela memasuki kawasan hotel Shangri La. Melaju perlahan, sampai akhirnya sampai di depan lobi hotel. Seorang pria berseragam segera menghampiri, membukakan pintu belakang, dan mempersilakan Dai dan Neela keluar. Di puncak teras, Eiji dan Chiyo telah menunggu.

“Chiyo, ajak Neela ke kamar,” suruh Eiji dingin, ketika Dai dan Neela sampai. Matanya sama sekali tak memandang Neela.
Chiyo mengangguk. Segera menjulurkan tangannya, menggamit lengan Neela. “Ayo, Neela,” ajaknya.
Neela menoleh pada Dai, menyunggingkan senyum muram. “Bye, Dai. Thanks.”
Bye.” Dai membalas senyumnya. Melepas Neela pergi bersama Chiyo memasuki lobi hotel, dan menghilang dari pandangan.
Setelah itu dia menghadapkan wajahnya pada Eiji. Eiji Kodame. Orang, yang belakangan ini sangat ingin dia buat menderita. Orang yang sangat dibencinya.

Eiji membungkuk sopan. “Kita bertemu lagi…, Dai San.”
Dai balas membungkuk, meskipun tampangnya jelas menunjukkan keengganannya. “Kita bertemu lagi, Eiji San,” dia menirukan kalimat Eiji. “Terima kasih, telah mengantarkan Neela dengan selamat kemari,” lanjut Eiji sejenak kemudian. “Saya benar-benar menghargainya.”
Dai tersenyum simpul. Agak sinis. “Kami berteman. Jadi sepertinya itu bukan suatu hal yang besar…, mengantar seorang teman pulang. Ya kan?”
“Tentu saja,” timpal Eiji. “Hal itu tentu tidak akan membuat saya risau, kalau Anda benar-benar ‘teman’-nya seperti yang Anda sebutkan barusan.”
Dahi dai berkerut.
“Tapi Anda… jelas tidak berniat menjadi ‘teman’ yang sebenarnya untuk Neela.”
“Apa maksud Anda?” Dai menyipitkan mata.
“Anda tahu pasti maksud saya,” jawab Eiji, tersenyum. “Kalau boleh saya katakan, Dai San. Neela…, pastinya bukan perempuan yang pantas untuk Anda jadikan teman kan? Tipe perempuan yang Anda sukai, jauh berbeda dengannya. Anda… membutuhkan perempuan yang setidaknya bisa mengimbangi Anda. Perempuan yang luar biasa dari penampilan maupun sikap. Neela cantik, tentu, tapi menurut saya, dia tidak masuk kriteria Anda. Jadi tolong… jangan berikan dia harapan terlalu tinggi. Saya khawatir akan membuat masalah bagi Anda nantinya.”

Eiji Kodame, pintar dalam bertutur, Dai sudah diberitahu soal itu. Dan barusan, dia menyampaikan pesan, untuk tidak lagi mendekati Neela, tanpa mengucapkan kata yang menyinggungnya sedikit pun.

Dai mendengus. Tersenyum amat manis. “Saya berteman dengan siapa pun, Eiji San. Tanpa melihat siapa, bagaimana dan darimana seseorang itu. Saya tulus berteman dengan Neela. Jadi Anda, tidak perlu cemas. Lagipula, saya tidak ada niat apa pun pada Neela.”
“Setidaknya saya sudah mengatakan apa yang mesti saya katakan pada Anda, Dai San.” Eiji mengangguk. “Sampai jumpa kalau begitu.” Dia membungkuk hormat.
“Sampai jumpa,” balas Dai, turut membungkuk.
Setelah itu dia berbalik, berjalan menuruni undakan, menuju mobil sedannya yang masih menunggu. Sempat membungkuk sekali lagi pada Eiji untuk pamit, baru kemudian masuk ke dalam mobil.

“Brengsek,” umpatnya pelan, setelah mobil bergerak meninggalkan hotel. “Kita lihat apa kau bisa tersenyum lagi nanti, Eiji Kodame,” katanya geram. “Kau lihat nanti.”

(Bersambung)
...
gambar dari sini
Welcome, Marin. Be nice, ya.

6 comments:

Rusyda Fauzana March 5, 2012 at 4:58 PM  

Wow... speechless. What're u gonna do next, Dai?

Ken, why dont u just accept Marin's love confession?

Mba Lita, did u forget the title for this chap?

Gloria Putri March 5, 2012 at 6:26 PM  

si Marin makan kalender ya? belasan tahun tp muka tua...hiiii..mending neela aja kennnnn

Nonanovnov March 6, 2012 at 5:20 AM  

"Tak usah pikirkan perbedaan usia, karena kau terlalu tampan untuk mengkhawatirkan itu."
ini artinya, mau tuir kyk apa jg ga masalah kalo tetep tampan ya, mbak?? ahahaha, iya juga kadang-kadang :D

yuli she,  March 6, 2012 at 10:44 AM  

Halo Marin,,
Chiyo nya mana mba???
Kenneth kamu harus konsisten sekali Neela tetap Neela,,*kaya lagi kampanye aja*

Bener mba Rus, kok yang ini ga ada judulnya yah, mba Lita lupa?

-------------- March 6, 2012 at 1:20 PM  

yah, kupikir marin itu mcam go ha ra gt mukanya. kan pas tuh, genit2 manja -3-

judulnya 'forget' hmm

Mine and Me March 6, 2012 at 10:40 PM  

aduh dai... seandainya aku bisa membaca apa yang akan kau lakukan nanti... ^_^

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP