A Lot Like Love (12)

>> Sunday, March 4, 2012



The (Co)incident?


SUNTORY Hall, Tokyo. Satu minggu kemudian.

No… No… No….” Sekali lagi, setelah entah keberapa kalinya, Kotaro Fukuma menghentikan permainan biola Neela. Neela menjauhkan busur biola dari senarnya, dan menghela napas panjang untuk meredam kekesalannya.
Please… Neela-san, play with heart.” Dan sudah kesekian kalinya Kotaro menekankan ‘with heart’ tersebut dengan suaranya yang seperti suara orang sedang kumur-kumur. Menekan dada kirinya penuh perasaan dengan tangan kanannya.

Neela sudah tak tahu lagi, harus bagaimana lagi memainkan biolanya. Dia tak mengerti, apa yang dimaksudkan Kotaro dengan bermain dengan hati, karena dia merasa dia sudah lebih dari tulus hati memainkannya.

Kotaro tampaknya tahu kebingungannya, sehingga dia bangkit dari kursi, dan berjalan mendekati Neela, yang berdiri tak beberapa jauh dari depan piano besarnya di tengah panggung.

Kotaro mendesah sebelum bicara. “Neela-san,” dia mulai, memasukkan satu tangan ke saku celana warna khakhi-nya. “music is a very beautiful thing that man ever create,”  katanya. Its a language—languange of love. Of heart.” Dia kembali menyentuh dadanya. “It’s a tool…, to represent our emotion; our feeling, simply and deeply. And… what we’ll we gonna do now, is to rehearse, to prepare that kind of music. Music of love… Of sadness… Of happinesss.

Neela membiarkan biolanya menggantung di sisi badannya. Menunduk, tampak menyesal. Bukan menyesal atas kalimat Kotaro, melainkan menyesal, karena dia sekali lagi gagal menunjukkan kemampuannya di depan pianis kelas dunia itu. Seseorang yang begitu rendah hati dan selalu membuatnya sungkan dengan keramahan dan dukungannya.

Maybe, you are tired.” Bibir Kotaro yang mungil dan tipis membentuk lengkungan kecil. Matanya menyipit. “We’re finish for today.”
Gomennasai,”—Maafkan aku, ucap Neela. “You, again, wasting your time with me.”
Kotaro menggeleng. Kembali menyunggingkan senyum kecil. “You’re so talented. You’re just… not ‘here’ yet. You… have a doubt to yourself. Let it go. Accept yourself, whatever it is. Then, when you’re ready… you’ll ready.” 
I’ll try my best…, Fukuma San.” Neela membungkuk penuh hormat dan terima kasih.
I know you will… Neela-san.
Setelah itu Kotaro Fukuma kembali ke pianonya di tengah panggung. Duduk kembali di kursi di depannya.

Why don’t you sit play the piano with me, Neela-san?” ajaknya. Tersenyum. “We can play some happy music.” Senyumnya berubah menjadi seringai jenaka.

Neela mendengus geli. Dan setelah dia mengembuskan napasnya pelan, dia berkata dengan penuh ketulusan, “I love that,” pada Kotaro Fukuma. Meletakkan biolanya di atas kursi di dekatnya, dan berjalan mendekati Kotaro Fukuma dengan riang.

Shinji tak lagi muncul di depannya, itu yang Neela risaukan. Sosoknya tak lagi ada sekarang. Biasanya, begitu dia memejamkan matanya, menarik busur biolanya, wajah tampannya muncul, memberikan senyum menenangkan. Tapi sudah satu minggu ini dia hilang. Membuat Neela kehilangan rasa. Merasakan hampa yang amat sangat di hatinya yang sudah kosong.

Kau baik-baik saja?” Malini bertanya dengan nada cemas khasnya dari ujung telpon. “Badanmu tidak drop kan?
“Aku baik-baik saja, Malini,” jawab Neela. “Aku minum banyak vitamin dan juga banyak air putih selama di sini.”
Baju hangat harus tetap kau pergunakan, oke?” Malini mulai dengan kalimat penuh perhatiannya yang menurut Neela tak perlu. “Kalau memang semua jaket atau mantel yang kau bawa dari Jakarta kurang hangat, kau beli saja di sana. Jangan sampai kau jatuh sakit.
Neela terkekeh. “Jangan terlalu cemas begitu,” katanya. “Aku bukan anak kecil.”
Kau ini…” Malini kedengaran kesal. Dan untuk beberapa detik, dia diam.
Apa Eiji bersamamu sekarang?” tanyanya lagi.
“Tidak.” Neela menggeleng. “Dia luar biasa sibuk. Biasanya malam dia baru datang ke hotel untuk menengokku. Siang…, dia pasti bekerja. Aku bersama Arata sekarang.”

Neela menengok ke belakang, ke arah Arata yang sedang memesan Ebi Dango[1] di salah satu kedai siap saji di pinggir jalan. Laki-laki itu sedang memunggunginya. Di belakangnya, perempuan-perempuan cantik antri, berkasak-kusuk dengan teman di sebelahnya, sambil sesekali terkikik genit. Jelas, ingin memancing perhatian Arata, yang memang amat menarik dengan jaket kulit pastel dan celana jins gelap yang menunjukkan postur jangkung dan atletisnya.

Aku jadi sangat penasaran seperti apa tampang si Arata itu,” kata Malini. “Dia baik padamu kan?

Neela kembali menghadapkan wajahnya ke depan. Memerhatikan ratusan orang yang berjalan lalu lalang di depannya. Sebagian besar dari mereka membawa bungkusan berwarna hijau-merah, berisi hiasan natal atau bingkisan-bingkisan untuk persiapan Natal yang akan datang seminggu lagi.

“Dia sangat baik,” Neela menjawab. “Saking baiknya aku jadi amat sungkan.”
Tentu saja dia harus baik padamu…,” balas Malini. “Kalau tidak dia akan dipecat oleh Eiji.
Neela tertawa. “Adik Eiji juga sangat baik,” dia memberitahu. “Dia selalu membantuku di sini.”
Syukurlah, kalau begitu,” timpal Malini. “Setidaknya aku tidak perlu khawatir dengan siapa kau bergaul di sana.”

Neela nyengir. Tapi tentu saja Malini tak bisa melihatnya.

Latihanmu…, bagaimana?
Cengiran Neela langsung hilang. Dia teringat latihannya tadi siang dengan Kotaro Fukuma, yang sekali lagi tak memuaskan. “Fine.” Itu saja kata yang keluar dari mulutnya.
Aku ingin ke sana, sebenarnya…” kata Malini, kedengaran menyesal. “tapi… kau tahu kondisiku sekarang kan?
“Jangan begitu. Kau tidak perlu merasa bersalah,” balas Neela buru-buru.

Malini sedang hamil anak kedua, dan dia tidak boleh bepergian jauh-jauh untuk menjaga janin di perutnya. Umurnya yang tak lagi muda, membuat dokter melarangnya untuk berlelah-lelah, dan dia harus istirahat total di rumah. Tapi Malini tentu saja tak bisa ‘tak berlelah-lelah’, dia tetap bekerja meskipun hanya dari rumah.

Tapi aku sudah minta tolong Kenneth, untuk hadir di konsermu nanti.
Mata Neela segera saja melebar. “Kenneth?”
Ya. Dia berangkat ke Korea  kira-kira tiga hari lagi, untuk menemani artis barunya. Jadi…, aku memintanya untuk sekalian ke Jepang untuk menengokmu.”
“Dia mau?” Neela bertanya takut-takut.
Tentu saja,” sahut Malini. “Mungkin dia juga akan mengajak Marin ke sana.

Marin, Neela menggumamkan nama itu di benaknya. Siapa?

Marin itu artis yang sedang dimanajeri Kenneth sekarang,” jelas Malini, seolah dia membaca isi kepala Neela. “Masih sangat muda dan amat cantik. Sepertimu, bisa memainkan alat musik dengan baik. Suaranya juga bagus.

Kepala Neela serasa menggelegak tiba-tiba. Tangannya gemetar, dan dia merasa wajahnya panas. Darah di seluruh tubuhnya seolah naik ke ubun-ubun, dan sedang dididihkan di dalam ketel di atas kompor api yang menyembur keras.

“Malini…,” panggilnya lemah, sementara Malini masih nyerocos mengenai Marin. “Aku harus pergi.”
Eh?” kata Malini heran. “Kau mau kemana?”
“Pulang,” jawab Neela singkat. “Aku sedang di luar sekarang. Sampai besok.”

Neela menekan tombol off. Tidak menyempatkan Malini bersuara lagi. Entah kenapa dia merasa kesal padanya. Sangat. Tidak seharusnya dia memuji-muji perempuan bernama Marin itu. Perempuan yang sekarang dimanajeri Kenneth. Perempuan… yang bukan dirinya.

“Ini…” Sebuah bungkusan beraroma lezat hinggap di depan hidung Neela. “Makan cepat, selagi masih hangat,” lanjut Arata.

Neela menerima bungkusan berisi Ebi Dango itu, namun tidak langsung memakannya. Hanya menggenggamnya dengan kedua tangan, membawanya ke pangkuan. Arata duduk di sebelahnya. Di bangku hijau yang menghadap ke jalan raya yang sarat pejalan kaki, melahap Ebi Dango-nya.

“Anda sakit, Nona Neela?” Dia bertanya tak lama kemudian.
Neela menggeleng lemah. “Tidak.”
“Anda muram.”
“Aku hanya ingin muram.”
“Mau kembali ke hotel sekarang?”

Neela menggeleng lagi. Mendekatkan bungkusan Ebi Dango ke mulutnya. Menggigitnya sedikit, dan tak merasakan apa pun sama sekali. Ebi Dango yang biasanya selalu enak di lidahnya, malam ini terasa hambar dan kecut. Sekecut hati dan pikirannya.

Sumimasen.”—Permisi. Mendadak seorang gadis—banyak gadis, muncul di hadapan Neela dan Arata. Mereka semua mendekap pena dan buku notes kecil di dada masing-masing. Sebagian mengarahkan kamera ponselnya ke arah Arata, memotretnya bertubi-tubi.
Watashi wa shomei no tame ni nani o motomerubekidesu ka?”—Apakah boleh saya minta tanda tangan Anda? Gadis cantik itu bicara pada Arata. Matanya berbinar-binar ke arahnya. Begitu pun berpasang-pasang mata yang ada di sebelahnya. Semuanya memandang penuh damba pada Arata.

Meskipun begitu, Neela sama sekali tak mengerti apa yang dia katakan.

I?”—Saya? kata Arata, bingung. “Nan’ notameni?”—Untuk apa?
Anatawa Kim Bum desuka?”—Anda Kimbum kan?
“Hah?” Tampang Arata separo-ngeri, separo-kaget. “Shinai.”—Bukan. “Watashi wa Kim Bum naidesu.”—Saya bukan Kimbum.

Sebenarnya mereka mau apa, pikir Neela, terheran-heran. Matanya bergerak dari wajah Arata ke wajah gadis itu yang sekarang mulai membuka mulutnya lagi. “Anata wa uso o tsuita,”—Anda bohong. “Sore ni shomei shite kudasai.”—Tolong tandatangani saja. Gadis itu membungkuk sejadi-jadinya sambil menyorongkan buku notes ke arah Arata yang terbengong-bengong. “O-tesuu kakete sumimasen.”—Maaf merepotkan.

Neela tak tahu bagaimana dia akhirnya bisa tersingkir dari samping Arata. Entah karena gadis-gadis itu yang amat beringas, atau memang dia yang berusaha menjauh dari kepungan gadis-gadis itu. Dia bahkan tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya, Arata itu orang terkenal, dan gadis-gadis itu memintanya menandatangani buku-buku notes mereka yang berwarna-warni. Tapi, masa sih? Lagipula kalau Arata memang artis ngetop, kenapa dia mau bekerja pada Eiji dan melakukan perintahnya tanpa membantah sedikit pun? Sepertinya tak mungkin. Apalagi, dia, Arata, sekarang tetap berusaha keras menolak permintaan gadis-gadis itu. Mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berteriak dalam bahasa Jepang pada mereka. Melihat ke arah Neela berkali-kali dengan tampang cemas.

“Nona Neela! Diam di situ!” serunya, sambil berusaha keluar dari kepungan gadis-gadis yang tampaknya sudah gelap mata itu.

Neela menjulurkan kepala. Berusaha memandang Arata yang sosoknya semakin lama semakin hilang karena tertutup kerumunan yang kian bertambah. “Ada apa sebenarnya?” gumamnya panik.

Tepat saat itu, seorang perempuan yang berlari dari arah belakangnya, tak sengaja membenturkan sikunya ke mulut Neela dengan keras saat mengangkat tangannya. Sakitnya luar biasa, membuat Neela terhuyung ke belakang, dan merosot ke permukaan trotoar. Tangannya menutupi bibirnya.

“Neela!” Seseorang memanggil namanya dengan lantang dari tengah keramaian.
Neela mendongak, mencari-cari. Tapi dia tak bisa menemukan siapa pun.
“Neela!” Suara itu terdengar lagi, bersamaan dengan sentuhan di pundaknya. Neela memutar kepalanya sedikit ke belakang, dan kaget, mengetahui siapa yang memanggilnya.
“Dai?” Dia bicara dengan suara teredam. Tangannya masih menutupi bibirnya yang nyeri.
Dai berjongkok di sebelah Neela. “Kau tidak apa-apa?” Dia meraih tangan Neela. Menariknya menjauh. “Bibirmu berdarah.” Dai mengusapkan ibu jarinya ke bibir Neela.
“Aku terantuk sesuatu,” kata Neela, tak berniat memberitahu yang sebenarnya. “Temanku…”
“Ayo, kita pergi dari sini.” Dai menarik Neela berdiri. “Bahaya untukmu sendirian di sini.”
Neela menoleh ke belakang, mencari-cari Arata. “Tapi temanku—”
Dai terus menarik tangan Neela, membawanya menjauhi keramaian. Tidak memedulikan kalimat Neela. Sebuah mobil sedan hitam menunggu di pinggir trotoar, bersama supir, yang telah membukakan pintu belakangnya. Dai mempersilakan Neela naik lebih dulu, baru kemudian dia menyusul.

“Dai… kita mau kemana?” tanya Neela cemas. Berulang-ulang memandang ke arah jendela belakang mobil. “Apa tidak bisa kita menunggu temanku dulu?”
“Dia akan baik-baik saja,” jawab Dai datar. “Kau tidak perlu mencemaskan dia.” Mata hitamnya berkilat menatap Neela. “Sekarang…, lebih baik aku mengantarmu pulang.”

Neela ingin protes—benar-benar ingin protes. Dia mengkhawatirkan Arata. Namun wajah tampan Dai menghipnotisnya, membuat lidahnya kelu, dan tak mampu berkata-kata. Jadi, saat akhirnya mobil yang membawanya dan Dai melaju, dia cuma bisa diam. Memandang keluar jendela mobil dengan perasaan campur-aduk.

(Bersambung)

[1] Bakso Udang
...
I've forgot the link. Please claim, ya...

14 comments:

-------------- March 4, 2012 at 2:24 AM  

oh.. jadi cowok itu gambaran bakso udah? O.o
wkwkwkwk
jadi penasaran dai bkalan ngapain neela ya?
uu uu uu

-------------- March 4, 2012 at 2:25 AM  

*bakso udang maksudku
-____-

Rusyda Fauzana March 4, 2012 at 4:46 AM  

Semakin seru...
Jadi pengen dengerin Neela memainkan biola. I luv violin strings!
Mba Lita suka bikin penasaran nih, kemunculan Dai selalu berupa cuplikan2 gitu hehe... Aku suka gaya Mba Lita bikin orang penasaran, salah satu gaya menulis yang membuat pembaca terikat dan tentunya membuat mereka menjadi pembaca setia secara nggak langsung.

Please welcome Dai Tanaka ladies and gents! ^_^

sarie March 4, 2012 at 7:51 AM  

makin penasaran deh mba'. benarnya sih aku nggak ngerti samasekali mengenai tulisan. aku hanya baca apapun yang menurutku menarik. dan aku suka cerita mu mba' ..... lanjuutkan mba'. tapi Dai manis gituh koq jadi antagonis .. yaaaah antara suka dan kesel dunk

Lita March 4, 2012 at 8:16 AM  

@Gita: Dasar Gita, masa Ebi dango disamain ma cowok? wkwkwwk. Kalo emang gitu, gw lumat semua Ebi Dango. Hihihi...

Keep reading ya, Gita. Kita liat, Dai mu ngapain Neela ya? *mikir*

@Rusyda: Dai cakeup ya, Rus. Kemaren aku nonton dia di Sweet Spy via yutub. Manisnya gak ketulungan si Dennis Oh, tuh. Lumer, ngeliatnya. *beneran lumer sekarang*

@Sarie: Sarie. Sekarang udh gak jaman lagi, pemeran antagonis brewokan sama serem kaya Toro Margen... hag hag hag... Gak papa Dai dpt peran Antagonis, korbannya kan jadi pasrah dan tak merasakan sakit *apa2an sih* Hahahahahha...

Tx ya Sarie.

Gloria Putri March 4, 2012 at 10:15 AM  

kayak apa sih si marin itu? aku koq malah penasaran sama dia
dan cewe2 yg minta tandatangan kimbum pasti suruhannya Dai kan.....huhhh....sebelll akuu sama Neela

Nonanovnov March 4, 2012 at 12:23 PM  

kenneth..kenneth,, dmn ken mbak??? keluarkan jagoanku *apaaa sih iniii?* :D

Rakyan Widhowati Tanjung March 4, 2012 at 1:37 PM  

waaaa bagus ini mbak ceritanya, dilanjutin aja mb :)

Susu Segar March 4, 2012 at 10:23 PM  

wah pria idaman yak. . . .

kunjungan malem ahhhh. . . da orangnya ndak ya. . .

putri ria,  March 4, 2012 at 10:34 PM  

mba lita ini ya ,sukanya bikin orang penasaran gmna cerita selanjutnya :)
dai ,jgn bawa neela ..bawa aku aja ..
haha
#digetokmbalita :p

-------------- March 5, 2012 at 12:40 AM  

my lovely rusydaaa,, *hugs <3

Rusyda Fauzana March 5, 2012 at 9:04 AM  

@Mba Lita: Tuhan memang luar biasa telah menciptakan makhluk secakep Dennis Oh, mba :D

@Gitaaaaa..... Hugs to you too dear ^^

Lita March 5, 2012 at 4:42 PM  

@Glo: Marin udah nongol tuh, GLo... (^^)

@Novi: Kenneth juga udah nongol lagi. Cekidot, Vi.

@Rakyan: Makasih ya. Lam kenal.

@susu segar: makasih ya, udah kunjung. Orangnya ada kok, cuma lagi sibuk aja. hheheeh.

@Putri Ria: Tuh udah ada lanjutannya, Put. baca ye...

@Gita & Rusyda: kalian berdua sering banget peluk2an di sini... Perlu dicurigaikah? Wkwkwkwwk. Peace ya Guys. *peluk dua2nya*

yuli she,  March 5, 2012 at 5:29 PM  

Mau dong diculik sama Dai trus dicari2 sama Arata n nanti kayaknya diselametinsama Kenneth hehe...*mimpi.com*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP