A Lot Like Love (19)

>> Saturday, March 31, 2012





The Angel's Visit


RASA hangat ini… Neela  perlahan membuka matanya yang menutup rapat. Sepertinya saja… ada yang memeluknya. Merengkuhnya erat dan memberikannya perlindungan. Siapa?

Sekali lagi, Neela berusaha menyingkap matanya. Mengejap-ngejapkannya, sampai akhirnya kelopak matanya terangkat sepenuhnya, menampilkan langit-langit kamar tinggi berwarna coklat kayu di atas, inding dengan wall-paper coklat pastel polos yang dihiasi beberapa lukisan minimalis, baru kemudian…. Dai.

Dai?

Neela membuka matanya lebar-lebar. Memastikan, kalau memang wajah Dai yang sekarang dilihatnya. Tertidur tenang di hadapannya, dengan dengkur halus yang menghambur dari sela bibirnya yang sedikit membuka. Rambut depannya yang biasanya tertata, sekarang menjuntai, menutupi dahi. Dan dia begitu dekat. Tubuhnya merapat dengan tubuh Neela. Dan kedua tangannya melingkar ketat di bahu dan punggung Neela, seolah memastikannya tidak jauh darinya. Tapi…, Neela mengernyit, kenapa mereka bisa jadi seperti ini?

Neela berupaya mengingat apa yang terjadi semalam. Memeras otaknya untuk memunculkan sedikit memori.
Setidaknya dia ingat mengenai Pohon Cinta—daun itu, masihkah tergantung di sana? Dia ingat masuk ke dalam Tokyo Dome, stadion baseball besar yang disulap menjadi sebuah hutan belantara yang diterangi jutaan lampu biru yang bekerlap-kerlip, dengan pohon Natal raksasa di tengahnya bersama Dai. Dia juga tidak lupa kalau mereka berdua sempat mampir ke sebuah restoran ala Jepang untuk minum sake demi menghangatkan badan, yang malah membuatnya sangat pusing setelahnya. Sampai sana, dia tak dapat mengingatnya lagi. Semuanya buram.

Wajah Eiji mendadak muncul di benaknya.

Ya, Tuhan! Eiji! Neela memekik dalam hati. Mengangkat punggungnya buru-buru. Celingukan mencari-cari sesuatu yang bisa menunjukkan waktu. Selimut yang tadi menyelubunginya merosot turun dari badannya.

“A-ada apa…, Neela…?” Suara Dai terdengar dari belakang. Parau dan enggan. Neela menoleh, melihatnya sedang berusaha keras memfokuskan pandangan. Kedua matanya masih menyipit, dan tampak sulit membuka. Dia bertopang pada salah satu sikunya. “Tidurlah kembali,” katanya lagi.

Neela berbalik, dan menggamit tangan kiri Dai dengan paksa. Melihat arloji yang melingkar di pergelangannya; bertambah panik begitu tahu jam berapa saat ini.

“Bangun, Dai,” suruhnya cemas, bergeser, dan meloncat turun dari tempat tidur. “Aku harus segera kembali ke hotel.”

Tapi Dai bergeming, dan malah mengempaskan kepalanya lagi ke atas bantal. Kelopak matanya berangsur menutup. Tidur.

“Dai!” Neela cemberut di samping tempat tidur. “Dai, please… Eiji bisa membunuhku.”

Mata Dai kembali membuka. Kepalanya miring ke arah Neela. Dia nyengir, kemudian berkata, “Apa Kenneth pernah melihat kau cemberut begitu?” Dia mengangkat badannya, kemudian bersandar di bingkai tempat tidur.
Neela mengerutkan kening, heran. Tapi itu hanya beberapa detik, karena sepertinya dia memilih mengabaikan pertanyaan Dai dan berkata dengan memelas, “Please, Dai. Bangunlah. Aku harus pulang.”
Sekali lagi, Dai mendengus. Tidak menggubris kata-kata Neela. “Apa ada laki-laki yang pernah melihatmu bangun tidur selain aku sekarang?”
“Jangan ngaco.” Neela melotot. Berbalik dan berjalan memutari tempat tidur. Memunguti sweater dan jaketnya yang ada di sofa.
“Kenneth pernah?” cecar Dai lagi. Geli. Tangannya disilangkan di dada.
Neela membelalakan mata. “Kau ini kenapa?” semprotnya gusar, sambil memakai sweater dan jaketnya satu per satu. “Menyebut-nyebut Kenneth…” dia menggerutu yang kedengaran seperti kumur-kumur.

Dai tergelak, dan Neela menatapnya bimbang. Tak lama kemudian dia turun dari tempat tidur. Menyambar jaket dan mantelnya yang tersampir di punggung sofa.

“Kau tidak curiga aku… menyentuhmu tadi malam?” Dai berkata sambil mengenakan jaketnya. “Aku bisa saja… macam-macam padamu kan… kau sangat mabuk.” Dia menyeringai.

Neela tidak menjawab. Selama beberapa saat hanya menatap Dai dengan pandangan yang tak bisa dimengerti, membuat Dai sendiri merasa kikuk. Tapi setelah itu, dengan amat ringan, senyumnya mengembang, dan dia berkata, “Aku percaya padamu,” sambil mengedikkan bahu. “Kau… laki-laki yang baik. Kau tidak akan berbuat begitu… Meskipun sebelumnya aku sempat bingung kau tidur di sampingku dan memelukku.”

Setelah mengatakan itu Neela berbalik, membungkuk sedikit untuk meraih bootnya di depan tempat tidur, lalu berjalan menjauh menuju kursi di sudut. Duduk, dan mulai memasang sepatu boot tersebut di masing-masing kakinya.

Dai tersenyum muram. Teringat semalam.

“Kenapa kau berhenti?” tanya Dai, memutar badannya kembali ke belakang, saat menyadari langkah sepatu Neela tak lagi terdengar.

Mereka sudah meninggalkan hotel, dan sekarang sedang menyusuri areal Tokyo Dome City. Langit masih redup, matahari sepertinya masih malu-malu menunjukkan diri dari balik awan. Lampu-lampu masih menyala, suasana sepi. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang hilir-mudik memunguti dan menyapu sampah yang ada di kawasan luas tersebut.

Neela memandang Pohon Cinta yang berdiri hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. Mengamati helai-helai daun—tidak sebanyak kemarin malam, yang bergoyang-goyang, masih bertahan di beberapa ranting dan dahan tempat mereka digantungkan. Sebagian besar pastinya sudah terempas oleh terpaan angin bulan Desember yang dingin dan menusuk.  Menguapkan banyak perasaan yang tercurah bersama tulisan di permukaan daun-daun kering itu.

Dengan tenang, Dai menghampiri Neela dan berdiri di sebelahnya. Menyenggol lengan Neela dengan sikunya. “Kau mau cek?” dia bertanya.
Neela nyengir, dan itu saja cukup untuk menjawab pertanyaan yang Dai lontarkan padanya.
“Ayo,” ajak Dai, berjalan lebih dulu ke arah Pohon Cinta. Neela menyusul di belakangnya. Tampak riang.

Keduanya menengadahkan wajah. Berusaha menemukan daun yang mereka pasang semalam di salah satu dahan, yang berada paling dekat dengan batang pohon itu. Dan saling melempar pandang takjub, ketika menemukan daun tersebut masih melambai pelan di dahannya.

Baik Neela maupun Dai tak bisa memercayainya.

Well,” Dai menggumam, “sepertinya kita jodoh, Neela.”

Neela mendengus tersenyum. Berpikir kalau itu adalah salah satu lelucon Dai yang biasa. Tapi Dai, sejak apa yang terjadi semalam, pastinya serius dengan apa yang diucapkannya. Dan ketika Neela masih menatap daun tersebut dengan penuh arti, Dai malah sibuk memandanginya. Menjelajahi wajah dan bibirnya yang sempat disentuhnya dengan penuh emosi saat Neela sedang dalam keadaan yang tak sepenuhnya sadar kemarin malam.

Katakan saja. Suara di kepalanya terdengar begitu nyaring. Meskipun dia mencintai orang lain, tapi orang itu tak akan bisa memberikannya kebahagiaan bukan? Jadi… katakan kalau kau suka padanya.

Tidak segampang itu, balas Dai. Entah kenapa merasa tersiksa setelahnya.

“Itu… hanya mitos, kan?” Neela memalingkan wajah. Menatap Dai yang masih termenung menatapnya. Mata coklatnya berbinar cerah, dan senyumnya terlihat begitu menyenangkan. “Tidak sungguhan?”
“Menurutmu?” Dai menyunggingkan senyum simpul.

Neela menyipitkan mata, begitu pun Dai. Tapi kemudian mereka mendengus tertawa.

It’s a myth…” komentar Neela.
“Menurutku bukan,” sanggah Dai.
“Semalam kau bilang itu mitos…”
“Sekarang… menurutku itu benar,” sahut Dai. “Daun itu masih bertahan kan? Butuh perjuangan hebat baginya untuk tetap tinggal di sana.”
Neela menggeleng, mendengus. “Terserah kau saja,” katanya, menyerah. “Sekarang ayo…, kembalikan aku ke hotel.”
“Oke…” angguk Dai. “Tapi aku ambil daun itu dulu.”

Neela tak menyangka kalau Dai serius dengan ucapannya. Dia, dengan secepat kilat, mendekati Pohon Cinta dan memanjatnya sedikit, untuk menggapai daun kering miliknya dan Neela yang tampaknya sudah sedikit lagi diterbangkan angin yang mendadak berembus kencang ke arah mereka. Saat dia kembali, dia berkata, “Kenapa?” pada Neela yang menganga, seraya mengedikkan bahunya. Berlalu santai, setelah sebelumnya memasukkan daun kering itu ke dalam saku mantelnya.

Neela menggeleng takjub, kemudian menggerakkan kaki menyusul Dai dengan setengah berlari.

Saat akhirnya, mereka telah berada di atas motor besar Dai lagi, Neela bertanya pada Dai dengan penuh minat. “Kenapa kau mengambil daun itu?”
“Hanya itu yang bisa kusimpan sebagai kenang-kenangan kan?” jawab Dai, sambil memakai helm.

Neela, tidak bisa berkata-kata mendengarnya. Tersenyum lemah, dan menatap leher belakang Dai dengan tatapan sayu. Namun, ekspresi terenyuh itu seketika berganti dengan tatapan sewot, begitu Dai melanjutkan kalimatnya dengan, “Setidaknya itu yang tersisa dari malam pertama kita,” dan tergelak setelahnya.

“Sori, Neela,” kata Dai, saat motor yang dikendarainya mulai melaju meninggalkan areal parkir Tokyo Dome. “Kau jadi bermalam bersamaku.
“Aku yang seharusnya minta maaf, Dai,” timpal Neela buru-buru, jadi merasa tak enak hati. “Aku senang…, tapi harus menyusahkanmu.”
“Sepertinya kita terlalu banyak basa-basi.”
“Aku pikir juga begitu.”

Keduanya terbahak. Terkikik di atas motor yang sekarang telah melintasi jalan raya yang masih sedikit sepi. Orang-orang pastinya masih berada di dalam rumah masing-masing untuk menyiapkan perayaan Natal bersama keluarga, atau bersiap-siap ke Gereja atau ke Kuil.

“Eiji berjanji akan mengajakku ke Kuil hari ini,” keluh Neela, teringat janji Eiji kemarin. “Mudah-mudahan dia belum tahu aku tidak berada di kamarku.”
“Dia pasti sudah tahu,” sahut Dai, agak keras. “Dia tidak mungkin tidak tahu.”
“Bagaimana kau bisa yakin begitu?”
I have people.”
Mata Neela bergerak memutar ke atas. “Sepertinya aku pernah dengar kalimat itu di suatu tempat,” katanya, menyindir.

Dai terkekeh sejenak, kemudian diam seribu bahasa. Berkonsentrasi mengendarai motornya yang semakin lama melaju semakin kencang.

Neela mengeratkan kedua tangannya di sekeliling pinggang Dai, dan menyembunyikan wajahnya di balik punggungnya untuk menghidari embusan angin yang mengempas dari arah berlawanan. Dia pasrah pada laki-laki tampan di depannya. Tak khawatir lagi, kemana dia akan membawanya. Keraguan yang sempat terbersit di benaknya, tak lagi muncul. Dia percaya kalau Dai, bagaimana pun sikapnya atau cara bicaranya pada orang lain, adalah orang yang baik. Tak ada keraguan lagi di hatinya. Tak perlu lagi berpikiran buruk terhadapnya, Neela meyakinkan dirinya.

Mendadak, sesuatu terjadi. Dan entah bagaimana, dunia terbalik seratus delapan puluh derajat. Dan Neela, merasakan tubuhnya melayang di udara melawan gravitasi. Dan ketika akhirnya semua kembali normal, nyeri yang hebat mendera kepalanya.

Rasa dingin menyelubungi sekujur badannya yang terasa kaku. Dan matanya mengedip lemah, menatap nyalang langit yang mulai membuka. Memberikan ruang untuk sinar matahari yang mulai mengintip dari celahnya.
Neela menutup mata, dan seketika, apa yang pernah dipikirkan dan dirasakannya raib. Menguap begitu saja. Dan semua bebannya, tak lagi ada.

Tapi kemudian, suara itu memanggilnya. Suara orang yang selama ini sangat dirindukannya. Menyebut namanya dengan nada lembut menenangkan, membuatnya kembali membuka mata.

Hei, Neela, kata Shinji, tersenyum manis.
Hei, Shin, balas Neela, juga tersenyum.

(Bersambung)

Read more...

A Lot Like Love (18)

>> Sunday, March 25, 2012


Belongs To Me

DAI meletakkan Neela di atas kasur tempat tidur kamar hotel yang disewanya. Gadis itu menutup matanya, namun tidak tidur. Dia mabuk—agak mabuk, menurut Dai, sehingga matanya terlalu berat untuk dibuka. Saat seluruh badannya telah berada sepenuhnya di atas kasur, dia bergeser, memiringkan kepalanya ke sebelah kiri. Sudut bibirnya melengkungkan senyum samar. Cantik.

Tapi Neela memang selalu kelihatan cantik, kapan pun Dai melihatnya. Meskipun dia hampir tak menggunakan make up. Meskipun penampilannya selalu sederhana; tak pernah berlebihan. Apa adanya. Berbeda, dengan banyak perempuan yang dikenal Dai. Padahal, dengan posisi Neela yang adalah selebriti; pemusik berbakat, dia bisa saja berpenampilan semewah apa pun. Dunia bisa berada di bawah kakinya kalau dia mau. Tapi sepertinya, Neela bukan orang seperti itu. Dia jelas bukan orang seperti itu.

Satu per satu, Dai melepas boot yang masih terpasang di kaki Neela, Dengan hati-hati, melepas jaketnya, syal, juga sweater tebalnya, dan meletakkannya di atas sofa kecil di samping tempat tidur. Setelah itu, dia menarik selimut, dan menyelubungi tubuh Neela dengan rapat. Kemudian, setelah yakin Neela dalam posisi ‘aman’, Dai menegakkan badannya pelan-pelan, hendak beranjak ke sofa yang ada di dalam kamar. Namun, saat dia baru saja berpaling, suara Neela terdengar—“Kau mau kemana?”, membuatnya berbalik.
“Kau akan meninggalkanku lagi?” Neela bertanya lagi. Ekspresinya kelihatan cemas. Matanya mengedip lemah.
Dahi Dai berkerut. Dia kembali duduk di tepi kasur. “Tidak,” jawabnya. “Aku tidak akan meninggalkanmu.” Tangan Dai menyentuh rambut Neela. “Aku hanya akan tidur di sofa.”
“Tolong jangan,” pinta Neela, memelas. “Jangan tinggalkan aku lagi.”
Mata Dai melebar, ketika sebutir air mata meluncur ke pipi Neela. “Hei… Aku tidak akan meninggalkanmu,” katanya menegaskan, mengusap air mata tersebut.
“Kau harus mengerti… kalau… aku sangat mencintai Shinji.”—(Dai berjengit)—“tapi itu karena… karena dialah yang membuatku seperti sekarang ini. Merubah diriku yang jelek—”
“Kau cantik,” tukas Dai. “Tidak jelek sama sekali.”
“Jangan… bohong,” Mata Neela mengejap-ngejap, kelihatan sulit untuk membuka. “Kau tahu bagaimana aku dulu.”
“Neela… Aku…”
“Aku jelek, miskin, tak punya apa-apa…” Neela kembali membulatkan matanya pada Dai. “Lalu, Shinji datang… dan dia… memberikan segalanya untukku. Merubahku… menjadi seperti sekarang. Cantik…, terkenal…, dan… tidak lagi memikirkan uang. Dan dia melakukan itu… karena dia sakit keras… Dia memilihku… karena dia ingin berbuat baik, sebelum dia mati… Dan dia mati… akhirnya, karena sakitnya. Jadi… seharusnya kau mengerti… kenapa aku sangat mencintainya.”

Mulut Dai membuka menutup mendengar kata-kata Neela. Cerita ini, tak pernah dia dengar sebelumnya. Dia tidak tahu Shinji sakit. Dia hanya tahu, Shinji mati, karena kepalanya terbentur benda keras yang dipukulkan Kyouta kepadanya.                       

“Shinji sakit?” Dai bertanya, untuk menegaskan kembali.
Neela mengangkat wajahnya sedikit “untuk memandang Dai. “Ya,” angguknya. “dan semua orang…, bahkan Eiji, menyembunyikannya dariku. Juga kau…” Tangis Neela pecah. Dia merampas kerah jaket Dai, dan mencengkeramnya erat. Tapi kemudian, cengkeramannya melonggar, dan tangannya bergerak naik ke wajahnya. “Kau menyakitiku… Oh… Kau tampan sekali.” Kalimat Neela berganti haluan. Jemarinya, menelusuri pipi Dai, dan bibirnya yang sedikit membuka. “Aku tersiksa melihat wajahmu. Aku ingin sekali menyentuhmu…, memelukmu…, tapi kau terasa begitu jauh.”
Dai menangkap tangan Neela, dan menekannya ke pipinya. Menatap matanya lekat-lekat. “Kau bebas menyentuhku.”
Neela tersenyum lemah. Masih terlihat menerawang, kala menatapnya. “Aku ingin kau menciumku lagi. Aku rindu padamu.”

Satu hal yang Dai sangat pasti, adalah Neela ternyata memendam perasaan terhadapnya. Dia mabuk, dan dia berkata menggunakan alam bawah sadarnya yang biasanya terkubur begitu jauh di dalam ribuan ingatan yang melapisinya. Dan meskipun Dai ragu, kalau dia juga merasakan hal yang sama dengan Neela, setidaknya dia tahu, kalau ada seorang perempuan mengharapkannya. Perempuan baik, yang menyukainya tanpa memandang status atau apa yang dimilikinya. Jadi…, dia akan menciumnya. Dan dia akan menumbuhkan perasaan yang seimbang dengan perempuan itu. Untuk pertama kali…, dalam hidupnya.

Saat bibir Dai menyentuh bibir Neela pertama kali, ada sesuatu yang hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Naik, dan berkumpul tepat di pusat otaknya, lalu meletupkan kesejukan yang dihantarkan oleh setiap sel darahnya ke seluruh penjuru. Dan saat akhirnya dia menciumnya, kepalanya mulai berputar; pusing karena hasrat dan ketegangan yang begitu besar. Perutnya serasa anjlok, dan seluruh badannya gemetar, persis seperti ciuman pertamanya, yang sepertinya sudah berabad-abad lalu. Dan ketika dia menarik wajahnya menjauh, wajah cantik di depannya menyunggingkan senyum yang amat menenangkan, yang membuatnya semakin ingin menyentuhnya. Dan dia pun… menyentuhnya. Menyentuh Neela sengan tangannya; jari-jarinya, mengusap rambut Neela yang terjurai di atas bantal yang menopang kepalanya dengan amat perlahan dan penuh kasih sayang. Menelusur tiap inci kulit wajahnya yang halus sambil menatap mata coklatnya yang menatapnya sayu. Mengecup hidungnya, pipinya dan akhirnya, membenamkan kembali bibirnya ke bibirnya yang sedikit membuka. Demi Tuhan… saat ini, Dai merasa kalau dirinya sedang berada di Surga. Dan Surga itu, adalah miliknya sepenuhnya, tak mau dia bagi dengan yang lain.

Dai melepas jaket kulitnya, menarik lepas sweaternya, kemudian, menggamit tangan Neela dan membawanya ke dadanya. “Rasakan jantungku… Berdetak untukmu.” Dia bahkan tak sadar mengatakan kata-kata seperti itu. Sepertinya saja ada yang merasukinya. Dia… bukan dia yang biasanya.

Selama sepersekian detik Neela membiarkan tangannya menempel di dada kiri Dai. Menatap mata Dai dengan sorot yang lembut, dan tersenyum… Senyum yang mengungkapkan kelegaan. Lalu, mendadak dia mengangkat punggungnya sedikit. Melingkarkan tangannya di sekeliling lehernya, dan berkata, “Aku merindukanmu… Sangat merindukanmu… Teganya kau meninggalkanku…”
I’m here…” Dai balas memeluknya. Mengusap rambut Neela untuk menenangkannya. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
“Aku sangat mencintaimu… Aku jatuh cinta padamu. Dan aku tak tahu kapan.”
Dai membeliak. Dia mencintaiku? Benarkah? Sejak kapan? “Neela…”
“Aku sangat mencintaimu… Aku mencintaimu, Kenneth.”

Kenneth? Mata Dai seketika melebar. Rasa panas itu kembali dan sekarang serasa membakar otaknya. Napasnya tak beraturan, terengah-engah seolah habis berlari jauh. Tangannya bergetar, Kepalanya bergetar, seluruh badannya bergetar, dan dia menarik tubuhnya dengan gusar, memandang Neela dengan tajam.

“Aku…” Neela menyentuh wajah Dai lagi, “Aku begitu bodoh, karena menyakitimu. Aku… minta maaf. Kau begitu sayang padaku…, dan aku menyakitimu.” Neela benar-benar mabuk, dan berhalusinasi kalau Kennethlah yang sekarang berada di depan matanya, bukan Dai.
“Aku sayang padamu, Ken,” Neela berkata lemah, sambil mengusap pipi Dai. “Aku sangat kehilangan dirimu. Aku kangen sekali.”
Dia kemudian terisak, dan wajahnya menunjukkan kesedihan yang amat dalam. Terus-menerus mengatakan ‘maafkan aku’ dengan penuh rasa bersalah.

Apa pun yang terjadi antara Neela dan Kenneth, tentunya bukan urusan Dai, namun, dia tak habis pikir kalau Neela mencintai Kenneth. Manajernya yang homoseksual itu. Bagaimana mungkin dia bisa merebut hati Neela? Dan akhirnya, membuat dia—Dai, terkecoh, menganggap semua pengakuan cinta Neela barusan ditujukan padanya. Membuatnya merasa seperti orang bodoh. Tapi, for God sake, apa yang Neela lihat dari laki-laki seperti Kenneth?

Dengan tampang meringis seolah kesakitan Dai memandangi Neela yang masih terbaring di atas kasur, mengerut-ngerutkan wajahnya, dan kelihatan ingin menangis lagi.

Dai mengepalkan tangannya. Menahan kekesalan yang meluap-luap di dalam tubuhnya. Egonya sebagai laki-laki, terlebih lagi sebagai seseorang yang menduduki posisi tertinggi di organisasinya, membuatnya naik pitam begitu cepat dan tak bisa menguasai diri. Dan dia merasa…, sangat dibodohi. Diremehkan, dan diinjak-injak harga dirinya.

Ini kali pertama dia merasa begini: dicampakkan oleh perempuan. Tidak ada satu perempuan pun yang pernah membuatnya merasa seperti ini sebelumnya; membuatnya seolah terpuruk, mencium tanah. Tak ada satu pun perempuan…, seharusnya, yang bisa membuatnya merasakan itu semua. Bahkan Neela. Sebesar apa pun dia menyukainya.

“Kenapa kau harus menyakitiku, ketika aku tidak ingin lagi menyakitimu…?” Dai mengusap rambut Neela, dan memandanginya lekat-lekat, sementara Neela menerawang ke arah langit-langit kamar. “Aku telahmengurungkan niatku untuk membalaskan dendamku pada Eiji melaluimu, asal kau tahu.”
“Dai…” Mendadak Neela menyebut nama Dai. Tersenyum, sambil mengangkat tangannya. “Selamat Natal…”
“Sekarang kau menyebut namaku…”  Dai mendengus sinis. “Tidak cukup menyebut namaku saja, Neela.”
“Hmm…” Neela mengeluarkan desah pelan sebagai  respon atas kata-kata Dai, kemudian, memejamkan matanya. “Aku ngantuk.”

Dai mengembuskan napas. Terdiam sejenak, dengan dahi yang berkerut kuat, baru setelah itu membuka matanya. Lalu, dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Neela, menekankan bibirnya kembali ke bibir Neela, dengan tangan mencengkeram wajahnya erat. Saat Neela membuka mata, dan berusaha mendorongnya menjauh, Dai sudah tak peduli lagi. Tetap memaksakan ciuman padanya. Melumat bibir Neela, hanya dengan satu helaan napas.

Neela memekik tertahan, berusaha keras melepaskan diri. Namun, Dai tentu saja terlalu kuat untuk disingkirkan begitu saja. Dia terlalu jangkung, terlalu besar, dan terlalu bertenaga dibandingkan Neela, apalagi saat ini, Neela benar-benar hilang konsentrasi akan dirinya akibat pengaruh Sake yang diminumnya, sehingga memudahkan Dai untuk menaklukkannya. Bibir Neela, tetap tak bisa menutup, karena bagaimana pun Dai akan tetap menjaganya untuk tidak menutup. Tangan Neela, tetap tak bisa mencegah tangan Dai untuk menjelajahi tiap inci tubuhnya, seberapa pun atau bagaimana pun besar upayanya untuk mempertahankan diri.

“Kau milikku, Neela,” gumam Dai, sambil mengusap pipi Neela yang basah oleh air mata. “Hanya milikku.”

Dan tepat saat itu, di tempat lain yang berada berkilo-kilo meter jauhnya, laki-laki bernama Kenneth, terjaga dari mimpi buruk yang menderanya.

“Kita sudah sampai.” Marin yang duduk di sebelah Kenneth di dalam mobil yang menjemput keduanya dari Bandara Narita, memberitahunya. “Aku membangunkanmu karena itu,” katanya lagi. Cemberut. Karena Kenneth hampir saja memukulnya karena terbangun mendadak dari tidur singkatnya.

Kenneth sama sekali tak menanggapi kalimat Marin. Dia sibuk menenangkan diri. Membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang membuka. Berusaha keras memudarkan sisa-sisa mimpi yang tadi singgah dalam lelapnya.

Wajah Neela. Rambutnya yang melambai tertiup angin. Senyumnya, suaranya yang memanggil namanya… Semua itu hadir dalam mimpi Kenneth. Tapi kemudian semua itu berubah menjadi amat mengerikan ketika mendadak, Neela berdiri di tepi jurang, dan menjatuhkan diri. Kenneth berusaha menangkapnya, namun keburu terbangun oleh sentakan Marin. Melenyapkan mimpi itu. Walaupun tak sepenuhnya.

“Kita mau turun apa tidak?” tanya Marin, memandang Kenneth dengan cemas. “Maaf…”
Kenneth menarik wajahnya, diam sejenak untuk mengendalikan napasnya, baru kemudian menolehkan wajahnya pada Marin. “Please, Marin…” dia menghela napas sejenak, “bisakah kau bersikap sedikit lebih dewasa, mengingat kau selalu berkata kau bukan ABG lagi padaku?”
“Hanya karena satu ciuman, membuat sikapmu jadi begitu tak menyenangkan padaku,” desis Marin. “Kau menganggapku seolah saja aku ini perempuan gampangan.”
Kenneth memalingkan wajahnya gusar. Menatap Marin dengan mata yang sedikit menyipit. “Kau sendiri yang berpikir seperti itu, berarti kau sendiri tahu, apa yang telah kau lakukan itu ‘tolol’!”

Tatapan Marin pada Kenneth menyiratkan kemarahan. Untuk beberapa saat dia melotot padanya, dan mengedutkan ujung-ujung bibirnya. Baru setelah itu dia mendengus kesal, membuang muka, dan turun dari mobil melalui pintu yang sebelumnya telah dibuka oleh supir.

Butuh beberapa menit untuk Kenneth keluar dari mobil, dan berhadapan dengan teras lobi hotel Shangri La yang megah dan mewah. Langsung menemukan Eiji, yang telah menunggu di puncak undakan dengan wajah yang—tak biasanya—kelihatan merasa bersalah. Setidaknya Kenneth yang berpikiran begitu. Atau mungkin, Eiji hanya lelah, mengingat jam sudah menunjukkan jam tiga pagi, dan dia seharusnya sedang berbaring di atas kasur empuk tempat tidurnya, bukan menyambutnya seperti sekarang.

“Aku bilang kau tidak usah menunggu,” kata Kenneth, setelah dia melepas rangkulannya dari Eiji.
“Kau temanku, mana mungkin aku tidak menyambutmu. Apalagi kita jarang sekali ketemu,” balas Eiji. Tersenyum.

Kedua laki-laki tampan itu bertatapan penuh senyum selama beberapa detik, sampai akhirnya Eiji, menggerakkan wajahnya sedikit ke arah Marin. “Anda pasti Nona Marin?” kata Eiji, mengangguk sopan. “Selamat datang di Shangri La Hotel, Tokyo.”
Marin mengangguk. “Anda… Manager Hotel ini?”
Eiji baru akan menjawab, namun Kenneth sudah duluan menjawab. “Dia pemilik hotel ini.”
Mulut Marin menganga. “Oh? Yang benar saja? Dan Anda menyambut kami di pagi buta begini?”
“Ada masalah dengan itu?” Kenneth tersenyum.
“Tidak.” Marin menggeleng buru-buru. “Hanya saja… Anda baik sekali. Ayahku… atau kakakku… tidak akan pernah melakukan apa yang seperti Anda lakukan sekarang—bahkan untuk keluarga sendiri. Mereka terlalu…” dia mengedikkan bahunya, “ ‘tinggi’.” Dia menunduk. Wajahnya muram.

Kenneth dan Eiji, saling bertukar pandang bingung.

Well,” Eiji berkata lagi, membuat Marin kembali memandangnya. “Sepertinya kalian capek, dan… kamar kalian sudah disiapkan. Jadi…. Kalian bisa beristirahat.”
“Dimana Neela, Eiji?” tanya Kenneth cepat, sebelum Eiji memalingkan tubuhnya. “Dia sudah tidur?”
Eiji diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Kenneth. Ekspresi wajahnya sekilas terlihat bimbang. “Neela… Dia menginap di tempat adikku, Chiyo,” katanya kemudian, tersenyum kecil. “Mereka merayakan malam Natal.”

Kenneth mengangguk. Mendengus tersenyum, walaupun tetap saja tidak bisa seluruhnya menyembunyikan rona kecewa di wajahnya. Sebelumnya Kenneth berharap Neela masih terjaga, mengingat hari ini adalah hari libur, dan turut menyambut kedatangannya dengan bagaimana pun ekspresi wajahnya saat melihatnya.

Marin mendengus kesal.

So… Shall we?” Eiji bertanya. Meminta persetujuan pada Kennneth dan Marin untuk bersedia mengikutinya. Keduanya mengangguk, dan melangkahkan kaki mengikuti Eiji. Berjalan menyeberangi teras, dan masuk ke dalam lobi hotel.

(Bersambung)
...
gambar dari sini
"You think I will stand watching and doing nothing, Dai? You're wrong. I'll make her back. No matter what. I'm not afraid of you. Even if you have to kill me. I swear... I'll get her back."

Read more...

A Lot Like Love (17)

>> Wednesday, March 21, 2012



Remind Me

TOKYO Dome City, Bunkyo, Tokyo, Jepang. 24 Desember, Christmas Eve

“Wow,” desah Neela, seraya menjelajahi areal Tokyo Dome City yang baru saja dimasukinya bersama Dai dengan pandangan takjub. “Tempat ini luar biasa.” Dia mendahului berjalan, mendongakkan kepalanya, memandang jauh ke arah kincir angin raksasa berkerlap-kerlip yang berputar pelan di atas. Di samping wahana tersebut, terdapat lintasan roller coaster yang tak kalah megah dan sama semaraknya, dengan lampu-lampu yang mengedap-ngedip mencuri perhatian. Sebuah kereta panjang menyerupai ulat bulu, menempel ketat di relnya, dan bergerak dengan kecepatan tinggi, membuat orang-orang yang ada di atasnya berteriak-teriak, campuran antara histeris dan euphoria.

“Jadi ingat Dufan,” kata Neela lagi, menoleh pada Dai yang melangkah ringan di belakangnya. “Hanya saja… ini lebih…” Neela berhenti, memberikan dirinya kesempatan memandang berkeliling dengan tampang seolah tak percaya. “lebih…” (dia mengedikkan bahu) “wow.” Neela kembali menghadapkan wajahnya ke arah Dai yang berdiri di sebelahnya. Melihat bibir Dai melengkungkan senyum kecil yang amat menyenangkan untuk dilihat. Senyum yang tak sekali pun bosan untuk dilihatnya.
It’s beautiful.” Dai turut menengadahkan wajahnya, dan menggerakkan kepalanya memutar mengitari area Tokyo Dome City. “Aku belum pernah kemari selama berada di Tokyo,” akunya. Nyengir pada Neela yang matanya melebar tak percaya.
“Kenapa?”
Dai menatap mata Neela lekat-lekat. “Kau belum datang.”
Selama beberapa saat, Neela cuma bengong. Belum bisa menangkap, apa maksud jawaban ‘kau belum datang’ yang diucapkan Dai. Namun, setelah dia mengerti, dia hanya mendengus tersenyum dan menggelengkan kepala. “Itu bukan alasan,” katanya, dan mulai berjalan lagi. “Kau kan bisa pergi dengan siapa pun ke sini.” Neela tersenyum lepas.
“Lebih baik pergi dengan orang yang kusuka.”

Senyum Neela raib seketika. Dia tampak terkejut. Dengan kikuk dan malu-malu dia memandang Dai yang balas memandangnya dengan senyum yang kecil yang amat menawan, dan mempercepat langkahnya begitu dirasakannya wajahnya memanas.

Dai tidak mungkin suka padanya. Neela menepis dugaan yang melintas begitu saja di benaknya. Laki-laki setampan dan seelegan itu…

Tak berapa jauh di depan, terdapat sebuah pohon sejenis cemara yang berbatang tipis dan runcing yang diterangi oleh lampu kuning terang. Tak ada daun tumbuh di rantingnya, sehingga pohon itu kelihatan gersang, tapi, entah kenapa, banyak orang yang mengerumuni pohon tersebut.

Neela mendekat karena penasaran.

“Mereka menuliskan nama mereka dan pasangan masing-masing di sehelai daun.” Dai berbisik dari sebelah Neela, saat Neela kelihatan bingung melihat orang-orang yang berdiri dekat pohon tersebut menuliskan huruf Kanji di atas sehelai daun kering yang mereka pungut dari bawah pohon itu, dan setelah itu menggantungnya di ranting-ranting pohon tersebut. “Pohon itu disebut pohon cinta. Hanya dibuka saat malam Natal,” jelas Dai lagi. “Besok, saat hari Natal, mereka akan kembali kemari, untuk melihat apakah… daun yang mereka pakai masih berada di ranting tersebut, atau diterbangkan angin.”
“Kalau diterbangkan angin?” Neela bertanya penuh minat. Lupa akan kekikukannya sebelumnya.
“Berarti mereka tidak jodoh.”
Neela membeliak. “Berarti…, kalau daun yang mereka pasang masih ada saat Natal besok…, mereka jodoh?”
“Kira-kira begitu,” kekeh Dai. “Tapi itu hanya mitos. Belum ada buktinya.”

Neela memandang pohon tersebut, yang rantingnya sekarang telah dipenuhi banyak daun yang ditempelkan, dipasangkan, atau digantungkan di rantingnya. Beberapa daun terbang tanpa menunggu Natal akibat tertiup angin kencang yang mendadak berembus dari barat.

“Mau coba?” Dai menelengkan sedikit kepalanya ke arah Neela, dengan mata terpancang ke pohon tersebut. Neela mengernyit, memalingkan wajah ke arahnya. “Kenapa?” Dai balas mengernyit. “Bukankah biasanya perempuan selalu ingin mencoba hal-hal seperti itu?”

Neela tertawa kecil. Bersedekap dan menghadapkan kepalanya lagi ke arah keramaian yang mengepung pohon cinta itu.

So?” Dai mencecarnya.
Neela tidak langsung menjawab. Untuk beberapa saat kelihatan berpikir-pikir, sampai akhirnya menoleh lagi pada Dai yang meringis menunggu responnya. “We’re not couple,” kata Neela, juga meringis.
Dai menarik wajahnya sedikit ke belakang. “Malam ini… kenapa kita tidak pura-pura pacaran saja?” Senyum menawannya muncul lagi.
“Ha?” Neela merasa dirinya telah mengalami gangguan telinga.
“Kita pacaran saja… untuk malam ini.” Dai menegaskan. “Dan kita akan menulis nama kita masing-masing di satu daun kering itu.”
“Tapi… kalau begitu…,” Neela kelihatan ragu, “kita harus datang kembali kemari untuk melihat apakah daun yang kita gantung di ranting pohon itu masih ada atau tidak besok…”
Dai memasukkan kedua tangannya di saku celana, seraya mengedikkan bahu. “Ya,” dia mengangguk, “tentu saja.”
Neela mendesis tertawa. “Kau serius?”
“Tentu saja aku serius.” Dai menatap Neela dengan tampang seolah terguncang. “Jadi…” dia kembali bertanya, “kau mau?”
Neela tersenyum geli. Kemudian mengangguk penuh semangat. “Aku mau.”
“Tunggu di sini,” kata Dai, sambil berjalan mundur. “Aku akan pilih daunnya.” Dia mengedipkan sebelah matanya, kemudian berbalik pergi, berlari dan menghilang di sela kerumunan orang. Tak lama setelah itu, dia kembali, dengan sehelai daun kering lebar di sela jemarinya. “Mudah-mudahan ini kuat.” Dia mengacungkan daun coklat tersebut pada Neela dengan riang.

Neela menerima daun tersebut, dan menyentuh permukaannya yang bergelombang. Mengamatinya saksama, dan berpikir kalau apa yang akan dilakukannya—menuliskan namanya dan Dai di daun tersebut, adalah sesuatu yang tak seharusnya dilakukannya, namun kemudian, dia berpikir kalau itu hanya sekadar main-main, dan bukan hal yang perlu ia cemaskan. Lagipula Dai, sepertinya juga tidak menganggap hal itu serius;  hanya iseng belaka.



“Dimana kau mau menggantungnya?” tanya Dai, saat mereka berdua sudah berada di depan pohon cinta tersebut (dengan amat susah payah karena harus berdesakkan dengan orang-orang yang semakin padat mengerumuninya). “Pilih satu ranting, dan aku akan menggantungnya.”

Neela menengadahkan wajahnya. Matanya merayap mencari-cari; menelusuri ranting demi ranting pohon tersebut. Bingung sendiri, karena sepertinya tak ada tempat satu pun di pohon itu, yang aman dari terjangan angin yang semakin membesar.

“Di sana.” Neela menunjuk ke salah satu ranting yang amat dekat dengan batang utama pohon tersebut.
Dai mengerutkan kening. “Kenapa di sana?”
Neela menaikkan bahu sekilas. “Entahlah. Aku pikir… cukup aman,” katanya, lalu melempar cengiran.
Dai mengedikkan bahu, kemudian berkata, “Baiklah,” diiringi dengus geli. Setelah itu dia mendekati pohon, dan berjinjit (karena dia jangkung, jadi dia tak kesulitan) menggantungkan daun mereka di ranting yang telah dipilih Neela, setelah sebelumnya, menusukkan jarum pentul di permukaan ranting pohon cinta itu.
“Oke.” Dai kembali ke sebelah Neela. Bertolak pinggang memerhatikan daun yang baru saja digantungnya, bergoyang-goyang riang di rantingnya. “Happy?” Dia menengok pada Neela.
Neela tersenyum lebar. “Tentu.”
“Kalau begitu, sekarang kita ke Tokyo Dome. Melihat pohon Natal raksasa.”
“Oke.”
Dai memberikan tangannya yang terselubung sarung tangan hitam kulit pada Neela. “Hold my hand, Honey.”
Neela terkekeh.
Don’t you let go,” sambung Dai. “Kita pacaran malam ini, jadi harus kelihatan seperti pasangan sungguhan. Oke?” Dia memiringkan wajahnya, menatap Neela seolah meminta kepastian.
“Oke.” Neela menyambut tangan Dai dan menggenggamnya erat. “Dengan senang hati.”
Dan setelah Neela mengatakan itu, Dai segera menariknya pergi, membuatnya berlari mengikutinya menuju Tokyo Dome, gedung stadion besar yang menjulang beberapa meter di depan mereka, sambil tertawa-tawa.
Persis remaja jatuh cinta.

Sake. Jelas memabukkan untuk orang yang baru pertama merasakannya. Terutama bagi orang yang jarang sekali minum minuman beralkohol. Seperti Neela.
Tepat setelah dia dan Dai merayakan datangnya Natal kira-kira sejam lalu di Tokyo Dome, Dai mengajaknya ke sebuah restoran yang masih berada di areal Tokyo Dome City yang dipadati banyak pengunjung. Makan Sushi dengan ditemani minuman khas Jepang; sake, yang baru dua teguk langsung membuat kepalanya serasa berputar.

“Kau tidak apa-apa, Neela?” tanya Dai ketika Neela dengan amat tersiksa memijat-mijat dahinya yang terasa berdenyut.
“Aku… pusing,” jawabnya, sekarang menyentuh pelipisnya yang nyeri. “Semua kelihatan berputar.”
Dai mendengus, menggelengkan kepala. “Kau mabuk. Wajahmu merah.”
“Aku… biasa minum, kok.” Neela menyangkal kata-kata Dai. Merasa tersinggung, tanpa tahu kenapa dia merasa begitu.
“Kalau kau biasa minum, kau tidak akan sakit kepala dengan satu-dua teguk Sake,” tukas Dai.

Neela tidak peduli. Tetap menekan-nekan kepalanya yang berdenyut, yang ditopang oleh sikunya yang berada di atas meja.

“Kau mau pulang sekarang?” Dai memandangnya dengan wajah cemas.
Neela mengikik. Tersadar kalau itu tidak sopan, dan buru-buru menghentikannya. “Ti-tidak,” tolaknya. “Daun yang tadi… aku mau melihatnya.”
“Tidak usah dipikirkan soal itu,” Dai menukas. “Itu hanya… sekadar mitos.”
“Tapi aku ingin melihat daun itu besok pagi,” balas Neela, memandangnya dengan memelas. “Kalau kau pulangkan aku sekarang…, Eiji pasti tidak mengijinkanku keluar lagi. Aku yakin dia marah sekali padaku karena pergi bersamamu. Bahkan sekarang,” Neela menyeringai tanpa sadar, “aku bisa pastikan kalau dia amat murka, karena aku tak ada di kamar hotel.” Neela meletakkan kepalanya di atas meja. “Aku ngantuk,” keluhnya, memejamkan mata.

Dai memandang Neela dengan tatapan yang tak biasa. Wajahnya seketika menegang. Dia mencondongkan badannya ke depan, mengamati Neela yang matanya telah tertutup sepenuhnya.

Dai mengangkat satu tangannya ke atas, dan seorang pelayan perempuan dengan kimono hitam dan obi putih tergopoh-gopoh menghampiri meja. Membungkuk dan bertanya apakah ada yang bisa dibantunya dalam bahasa Jepang yang kedengaran halus dan sopan. Tak lama kemudian pelayan tersebut, berbalik dan pergi dengan kartu kredit yang diberikan Dai kepadanya. Saat dia kembali, dia menyerahkan kartu kredit tersebut pada pemiliknya. Mengucapkan terima kasih sambil membungkuk dengan amat hormat pada Dai, kemudian mundur selangkah dan memalingkan tubuhnya. Meninggalkan Dai bersama Neela yang sudah tak bergerak di meja di depannya.

Dai berdiri dari kursi. Menggesernya tak sabar ke belakang dan melangkah sedikit ke arah Neela. Tangannya menyentuh rambut panjangnya yang terjurai menutupi sebagian wajahnya, mengusapnya lembut, seperti seorang kekasih yang membelai rambut pasangannya. Setelah itu, dengan gerakan cepat dia mengangkat tubuh Neela dari kursi. Menggendongnya dengan kedua tangannya tanpa kesulitan sama sekali, dan berjalan menyusuri ruang antar meja dengan banyak pasang mata memandang ke arahnya. Dai jelas sama sekali tak peduli.

Kepala Neela miring di pundaknya, dan napasnya terdengar begitu lirih dan terasa hangat menyentuh bagian samping lehernya. Sama sekali tak bergerak, kendati dia tak sepenuhnya tertidur. Pasrah dalam rengkuhan hangat Dai. Merasa nyaman dalam naungan tangan besarnya yang melingkar ketat di punggung dan kakinya.

“Kita mau kemana?” Neela bertanya, ketika Dai hampir setengah jalan menuju hotel yang berada tak jauh dari restoran tempat mereka minum sake.
“Hotel.” Suara Dai kedengaran dingin, sama dengan ekspresi wajahnya.
“Oke,” jawab Neela.

Neela kembali memejamkan matanya rapat-rapat, dan meletakkan pelipisnya di pundak Dai. Harum tubuh pria itu memberikannya ketenangan, dan hangat tubuhnya seolah memberikan perlindungan terhadapnya. Menepiskan keraguan terhadapnya.

“Kau… sangat baik, Dai,” ujar Neela pelan, sehingga hanya Dai yang bisa mendengarnya.  “dan amat tampan,” sambungnya. “Kau… mengingatkanku pada… Shinji.”

(Bersambung)
...
gambar dari sini

Oh, you're so cute.

Read more...

A Lot Like Love (16)

>> Saturday, March 17, 2012


A Silent... Silent Night

INI kali pertama Neela naik motor besar. Memeluk pinggang Dai erat-erat dari belakang. Menunduk sedalam-dalamnya, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Dai demi menghindari angin yang berembus kencang ke arah mereka.

Hawa begitu dingin. Menusuk kulit dan menembus tulang. Meskipun Dai telah meminjamkan mantel kulitnya pada Neela, tetap saja itu tidak cukup menghalau udara dingin yang membuat badan Neela menggigil. Apalagi dia sedang flu, sehingga setiap hempasannya terasa bagai ribuan duri yang menusuknya.

“Neela!” Dai berteriak setelah sebelumnya membuka tutup helmnya. Melambatkan laju motornya sedikit. Mereka telah sampai di pusat kota sekarang. Di mana banyak pusat perbelanjaan di kanan-kiri mereka. “Kau gemetaran! Kau tidak apa-apa?!”
Meskipun bibirnya sudah terasa beku dan seolah terekat erat Neela berusaha menjawab, “Tidak! Aku tidak apa-apa!” dengan suara selantang mungkin.
“Aku akan berhenti di butik untuk membelikanmu pakaian!” teriak Dai lagi.
Neela membeliak. Dai mau membelikannya pakaian? “Ti-tidak usah, Dai! Aku tidak apa-apa!”
“Kau mungkin tidak apa-apa, tapi aku yang apa-apa!” balas Dai. “Bagaimana bisa kau berjalan bersamaku dengan pakaian seperti itu dan tak memakai sepatu!”
Iya juga ya, Neela berpikir. Tapi… apa pantas dia menerima pemberian laki-laki yang sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengannya? Dai memang teman, tapi jelas bukan teman sebaik dia dengan Eiji atau Kenneth. Apalagi ini pertama kalinya mereka benar-benar pergi bersama.

Motor Dai berhenti tepat di depan salah satu butik dengan papan nama besar yang amat dikenali Neela. Nama merek pakaian yang amat ngetop dan populer, yang harganya juga melangit. Tapi, masa sih, Dai mau membelikannya pakaian di butik tersebut? Yang benar saja. Tapi Dai sepertinya memang bermaksud begitu, karena dengan cuek, dia turun dari motornya. Membiarkannya terparkir di pinggir jalan, menarik Neela turun, dan menggandengnya menuju butik tersebut.
Saat petugas keamanan menghampirinya, hanya dengan tersenyum simpul, petugas itu langsung mengangguk, dan membungkuk hormat, membuat Neela terkesima. Terseret-seret berjalan di belakangnya, dengan kepala terus berputar melawan arah karena memandang heran petugas keamanan tersebut.

Welcome, Mr. Tanaka,” seorang wanita muda amat cantik menyapa dengan sikap yang sangat anggun dan sopan. “You’re back again.”
Pada Neela perempuan itu hanya mengerling curiga, meskipun tak kentara.

Dai hanya tersenyum untuk membalas keramah-tamahannya. Senyum yang terkesan amat ‘superior’ menurut Neela. Atau memang dia ‘superior’ sehingga orang-orang bersikap begitu hormat padanya.

Will you please, help my girlfriend to pick something nice and also fit for the weather outside. I’ve kidnapped her from her guardians, so she didn’t have time to wear something proper.”
Neela melebarkan mata, mendongak memandang Dai. Ngapain dia ngomong seperti itu?

Wanita cantik di depan Neela tampak takjub—sama takjubnya dengan Neela, tapi buru-buru menyembunyikannya dengan membungkuk hormat,  sekaligus menjelajahi kaki Neela yang telanjang. “How lucky I am, to meet Mr. Tanaka’s girlfriend. It’s a pleasure to meet you, Miss…?” Dia menelengkan kepalanya.
“Neela.” Dai yang menyahut. Tersenyum yang lebih mirip seringai. “Neela Aketara.”

Bagaimana dia tahu nama belakangku? Neela bertanya-tanya. Tidak banyak yang tahu nama belakangnya.

You’re not a Japanese,” kata si wanita dengan nada seolah menuduh.
Neela menggeleng. “No, I’m not,” timpalnya, tersenyum kikuk. “I’m Indonesian.
I see.” Senyuman wanita itu adalah senyum tipis yang tak mengenakkan. “So, Mr. Tanaka doesn’t like Japanese woman?” Wanita itu menghadapkan kepala cantiknya ke arah Dai, dan mendapatkan senyum masam yang sama dengan senyumnya.

Japanese woman,” Dai berkata, “is very easy to sleep with, Kimi Chan.”—(Mata Neela tak sadar membundar, begitu pun si wanita cantik, yang ternyata bernama Kimi itu)—“For me, that’s… not challenging enough.

Kalimat itu jelas sangat menyinggung, setidaknya untuk Kimi, karena dia dengan amat keras berusaha menyembunyikan tampang kesalnya, dengan menarik napas tajam dan mengembuskannya amat perlahan.

Okay. Let me show you, Miss Neela, our collection.” Kimi mempersilakan Neela mengikutinya.
Just let her try winter collection,” sambar Dai cepat. “It will fit for her.”
Dia kemudian duduk di salah satu sofa bean bag kecil yang ada di sana, mengeluarkan ponsel dari saku jinsnya dan menekan keypadnya. Tak peduli lagi pada Kimi atau pun Neela.

“Follow me, please,” kata Kimi kemudian pada Neela, dan berjalan lebih dulu ke bagian dalam ruangan. Mukanya getir.

Ada sesuatu tentang Dai. Sesuatu yang entah kenapa membuat Neela mendadak jadi ragu untuk pergi bersamanya. Cara dia berkata dan pilihan kalimat yang diucapkannya pada Kimi saat di butik tadi, amat sangat menyinggung dan tak pantas diucapkan oleh pria sebaik dirinya.

Neela, kau tidak kenal baik dirinya, suara kecil di kepalanya mengingatkan. Kau tidak bisa begitu saja menilainya ‘baik’.

Tapi, selama ini Dai memang sangat baik padanya. Tidak sekali pun menunjukkan gelagat kalau dia akan mencelakainya atau apa pun. Jadi dia tidak bisa juga menganggapnya ‘tak baik’ hanya karena perkataannya pada seseorang yang tidak ada hubungannya dengannya.

“Hap!” Suara Dai terdengar dari belakang Neela, bersamaan dengan rasa hangat yang hinggap di kedua telinganya. Neela spontan menyentuh telinganya, dan merasakan bulu-bulu lembut di permukaan jarinya. Dia mendongak. “Ini pelindung telinga,” katanya pada Dai.

“Ya,” Dai mengangguk. “Warnanya sama dengan warna jaketmu. Aku melihatnya di butik tadi. Jadi kubelikan saja sekalian.”

Neela tak tahu bagaimana lagi mengucapkan terima kasih padanya. Dai telah membelikannya satu set pakaian; sweater wol asli, celana jins, jaket Abercrombie and fitch abu-abu, dan juga sepatu bot yang membuat kakinya tak lagi beku. Semuanya adalah keluaran asli merek pakaian ngetop tersebut, dan Neela sama sekali tak ingin tahu harganya. Mahal, itu sudah pasti.

“Jadi,” Dai memasukkan kedua tangannya di masing-masing saku mantelnya, “kau siap, jalan-jalan bersamaku?”
Meskipun masih bimbang, Neela mengangguk. “Oke,” katanya. “Tentu.” Entah bagaimana kata tersebut meluncur begitu tenang dari bibirnya.
“Baiklah, kalau begitu,” kata Dai, tersenyum puas. “Kita ke Tokyo Dome. Melihat pohon Natal raksasa.”
“Apa tidak terlalu kekanak-kanakkan untuk orang seumuran kita?” Neela meringis.
“Memang umurmu berapa?” Dai mengangkat dagunya.
“Dua puluh tujuh.”
“Aku…” Dai menggaruk-garuk rambutnya. Dia kelihatannya bingung. “agak lebih tua sedikit darimu.”
Neela mendengus geli. “Berapa?”
“Tiga puluh tiga.” Muka Dai merah. “Aku pedofil karena berkencan dengan perempuan yang jauh lebih muda dariku.”
Neela terbahak. “Benar. Dan aku bodoh karena mau pergi dengan laki-laki yang jauh lebih tua dariku.”

Mereka tertawa bersama. Dan Neela, perasaan ragunya pada Dai, telah menguap seketika bersama gelak tawa yang membubung ke udara.

So let’s go, then.” Dai merapatkan syal wol tebal yang melingkari lehernya. Mengguncang lengannya, sehingga lengan mantelnya merosot memperlihatkan arloji perak di pergelangannya. “Sudah hampir jam setengah sebelas. Kita harus cepat.” Dia kembali memandang Neela. “agar tidak berdesak-desakkan dengan orang-orang lainnya.”

Neela mengangguk. “Okay,” timpalnya. “Let’s go.”
“Dan Neela.” Dai melangkahkan kakinya mendekat. “Jangan sekali pun memasang tampang gundah selama bersamaku,” ingatnya. “Kau bersamaku malam ini, dan aku tak ingin kau merasa sedih sendiri. Kau harus happy, oke?” Dia menatap Neela lekat-lekat.

Mata hitam itu menyorot telak tepat ke hati Neela. Mendesaknya untuk mengangguk dengan tatapan seolah tercenung. Sekali lagi pandangan Dai yang menghujamnya menghipnotis pikiran dan tubuhnya. Membuatnya dagunya mengangguk dengan sendirinya tanpa disuruh, dan benaknya kosong. Kenapa ada laki-laki seperti ini? Neela membatin. Begitu tampan, begitu mapan dan… anehnya, begitu perhatian padanya. Dunia benar-benar sudah terbalik sepertinya.

Dai melangkah menuju motornya, yang masih terparkir di pinggir jalan, dalam penjaagan ketat petugas keamanan. Laki-laki berjas hitam dan bertubuh tegap itu, kembali membungkuk penuh hormat padanya, juga pada Neela yang berjalan di belakang, menunggu keduanya sampai menaiki motor kembali.

Arigato.” Dai mengangguk petugas keamanan tersebut, sebelum memasang kembali helmnya, yang segera dibalas dengan angguk sopan oleh laki-laki tersebut.

Neela naik ke atas motor, dengan rasa percaya diri yang lebih daripada sebelumnya. Mengenakan helm yang diberikan Dai padanya, dan kembali memeluk pinggang Dai dari belakang. Rasa canggungnya masih ada, tapi tidak sebanyak waktu pertama kali dia memeluknya.

Ready, Neela?” tanya Dai, setelah dia menstarter motor besarnya, dan memainkan gasnya beberapa kali.
Ready,” sahut Neela, bersemangat.
Let’s go, then,” kata Dai setelahnya. Menginjak gigi, dan menggas motornya.

Suara pilot berkumandang melalui pengeras suara di seluruh kabin, memberitahukan kalau pesawat telah memasuki wilayah Jepang, dan dua setengah jam lagi akan mendarat di Bandara Internasional Narita. Dan sebelum mengakhirinya, si Pilot juga mengucapkan selamat hari raya Natal untuk semua penumpang, baru setelah itu, suaranya berganti dengan lagu-lagu khas Natal yang sudah sejak awal keberangkatan menemani semua penumpang.

Kenneth tersenyum terkulum. Merasa lega, karena sebentar lagi dia akan menjejakkan kakinya kembali ke darat. Dan juga, merasa senang, karena sebentar lagi, yang mungkin akan kelihatan begitu kaku, dia akan bertemu Neela lagi. Memandang wajahnya secara langsung, yang sepertinya sudah lama sekali tidak dilihatnya.

Aku sangat merindukanmu, Neela, Kenneth menggumam dalam hatinya. Bagaimana denganmu?

Sejak pertemuan terakhir mereka yang berakhir dengan amat tak menyenangkan, Kenneth merasa Neela tak akan begitu merindukannya. Atau mungkin tak merindukannya sama sekali.

Kenneth mengenyakkan punggungnya ke belakang. Menoleh ke sebelah kanan, dan melihat Marin masih tertidur di kursi di sebelahnya. Kepalanya menghadap jendela, dan dia terbungkus oleh jaket tebal warna pinknya yang setia menemaninya mulai dari Jakarta sampai ke Seoul. Dengkur pelan terdengar seiring dia mengempaskan napasnya.

Pandangan Kenneth naik ke arah jendela yang tirainya terbuka. Memandang langit gelap di baliknya yang begitu pekat, tanpa cahaya. Malam Natal, dan seperti biasanya, udara akan begitu dingin untuk menyambutnya.

Excuse me, Sir.” Suara lembut yang ringan menyapa dari sampingnya. Kenneth berpaling dan bertukar pandang dengan pramugari cantik yang tersenyum ramah padanya. “I’d like to give you these,” dia memberikan sepasang topi merah runcing khas Santa Clause pada Kenneth. “It’s almost Christmas, we would like you and your friend to celebrate it with us here.”
Of course.” Kenneth tersenyum manis, dan menerima dua topi tersebut dari si Pramugari, yang mengangguk sopan sebagai ungkapan terima kasih, dan berlalu, menuju kursi di depan Kenneth. Mengucapkan hal yang sama pada penumpang di kursi tersebut.
“Oh!” Suara Marin membuat Kenneth hampir loncat dari kursinya. “Mereka membagikan topi?” Marin cepat-cepat menarik satu topi dari tangan Kenneth, dan memakainya. Topi itu melekat sempurna di kepalanya yang cantik.
“Aku tidak tahu kau sudah bangun?” Kenneth masih belum bisa mengatasi keterkejutannya. Alisnya bertaut dan napasnya terengah.
“Untuk apa kau tahu aku sudah bangun?” timpal Marin cuek. Sisa-sisa tidur nyenyaknya terlihat di matanya yang masih agak menyipit. “Bagaimana? Aku cantik?”

Tak menjawab, hanya menggeleng heran, Kenneth memalingkan kepalanya ke arah lain. Mengamati  satu per satu penumpang mengenakan topi Santa Clause tersebut sambil tertawa-tawa riang.

“Kau juga pakai topimu,” pinta Marin dengan suara manjanya. “Ini topi yang bagus.” Dia menarik topi yang masih ada dalam genggaman Kenneth, dan memakaikannya ke kepala Kenneth.
“Aku tidak mau.” Kenneth merenggut topi tersebut, dan menjejalkannya ke dalam ransel di pangkuannya.
“Ayolah, Kenneth,” rengek Marin. “Aku yakin kau akan sangat tampan mengenakannya.”
“Bisakah kau bertindak tidak seperti ABG untuk sekali ini saja?” tukas Kenneth, dengan tampang masam. “Please.
“Aku bukan ABG.”
“Kadang-kadang… atau mungkin seringkali…, kelakuanmu persis ABG,” Kenneth meluruskan. “Kau kelihatan dewasa hanya kalau kau diam.”

Selama sepersekian detik Marin hanya bengong memandang Kenneth. Kemudian dia mengempaskan pundaknya. Kembali duduk dengan normal di kursinya, dan berkata, “Kau pasti sangat tegang karena sebentar lagi akan bertemu Neela,” sambil memandang ke arah jendela di sebelahnya. “Bukankah seharusnya kau gembira?” Dia memalingkan wajahnya pada Kenneth.
“Aku sudah bilang padamu, jangan menyimpulkan yang tidak-tidak,” sahut Kenneth.
“Apa dia begitu sempurna? Neela itu? Aku tidak sabar bertemu dengannya secara langsung.” Marin menatap kosong punggung kursi yang menjulang di depannya.
Kenneth membelalakan mata, pelan-pelan menoleh. “Apa tidak ada topik lain selain itu?”
“Aku rasa saat ini…, topik itu yang menarik. Mengingat kau tidak terlalu antusias merayakan malam Natal, dan juga, kau tidak antusias dengan performaku selama di Korea. ”
Dahi Kenneth berkerut-kerut. “Siapa bilang aku tidak antusias?”
“Kau tidak bilang apa-apa padaku.” Marin menoleh tajam, membulatkan matanya yang sudah bulat. “Kata ‘selamat’ pun tidak. Padahal semua orang memuji permainan piano dan juga suaraku, kalau kau tidak ingat.” Dia bersedekap, dan kembali menoleh ke arah jendela. “Tapi sepertinya kau juga lupa mengenai itu.”
“Permainan piano dan suaramu bagus,” desah Kenneth, sembari tersenyum. “Pertunjukanmu selalu baik…, dan aku rasa, dengan segala pujian yang datang padamu, kau tidak perlu pujianku lagi.”
Marin menatap Kenneth dengan tampang tak percaya. “Pujianmu yang terpenting, Kenneth.” Marin kelihatan amat terpukul. “Dan kalau kau memang menganggap pertunjukkanku bagus, akan lebih baik kalau kau menyampaikannya secara langsung.”
“Bukan kebiasaanku.” Kenneth memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya ke belakang.
“Berarti kau tidak sungguh-sungguh memuji permainanku.”
Mata Kenneth tersingkap lagi, dan dia mendesah putus asa. “Permainanmu bagus,” dia berkata pada Marin, dengan tatapan mata tajam, yang menandakan keseriusannya. “Sangat bagus. Aku sudah bilang kan?”
Setelah itu dia kembali menyandarkan kepalanya ke belakang. Menutup matanya lagi.
Kiss me, then.”
Lagi, Kenneth membuka matanya. Wajahnya seakan membeku. Dia memalingkan wajahnya pada Marin, yang sekarang menatapnya dengan ekspresi wajah yang muram. “Apa aku tidak salah dengar?”
“Aku minta kau menciumku,” Marin mengulang permintaannya barusan untuk meyakinkan Kenneth kalau tak ada masalah dengan telinganya. “It’s Christmas anyway,” tambahnya lagi.
“Jangan bercanda.” Kenneth memejamkan matanya lagi.
“Aku tidak bercanda,” protes Marin, tampak tersinggung. “Aku sungguh-sungguh. Aku sudah bilang, aku suka padamu. Dan… tidak apa kalau kau ingin menciumku.”
“Masalahnya…” Kenneth amat-sangat kelihatan putus asa, “aku tidak ingin menciummu.” Dia memandang Marin lekat-lekat. “Jadi… jangan macam-macam.”
“Kau sangat menyukai Neela kalau begitu?”

Habis kesabaran, Kenneth memutar badannya sedikit menghadap Marin. Memandangnya lurus, dengan tatapan yang menusuk. “Aku… memang menyukai Neela.” Dia berkata dalam suara tegas yang rendah. “Aku mencintainya. Dan kau sudah tahu itu. Jadi jangan berharap padaku. Aku… sekali pun tidak akan pernah menyentuhmu. Kau… tidak lebih dari artis yang kumanajeri. Selain itu, aku juga tidak ingin berurusan dengan ayahmu atau pun juga guru privatmu yang menyebalkan itu; yang memilihku untuk menjadi manajermu hanya karena aku ini Gay. Yang berarti,” dia menekankan kalimatnya, “mereka tak ingin kau disentuh oleh laki-laki mana pun, termasuk aku. So, cut it out!
Setelah itu Kenneth menggeser duduknya lagi, menghadap ke arah depan. Memejamkan matanya.

“Tapi kau bukan gay… Kau bohong pada mereka.”
Oh, Tuhan. Kenneth dengan amat gusar membuka matanya, dan menengok pada Marin yang memberengut. “Aku tidak bohong. Aku tidak bilang aku ini gay. Mereka yang mengansumsikan. Dan… aku tidak sekali pun menyentuhmu secara cabul. Jadi jangan coba-coba mengancamku.”
“Hanya satu ciuman kecil.” Marin pantang menyerah. “Apa ruginya untukmu?”
“Aku tidak sembarangan mencium orang.”
“Kau menyebalkan.”
“Terserah.”

Keduanya terdiam. Kenneth kembali bersandar nyaman di kursinya dengan mata terpejam, sedangkan Marin, masih bengong memandangi Kenneth. Tampak sedih.

Kemudian, suara pilot terdengar lagi melalui pengeras suara di sudut-sudut kabin, mengucapkan, “Merry Christmas, for all the passengers whom celebrate Christmas this year. Thank you for flying with us,” dengan suara berat yang hangat, diiringi oleh lagu “A Merry Little Christmas” yang dibawakan oleh grup musik Relient K.

Mata Kenneth membuka serentak begitu mendengarnya. Pikirannya seketika dipenuhi Neela. Neela sangat suka lagu-lagu Natal yang dinyanyikan Relient K, dan sekarang, dia tak menyangka akan mendengarnya di sini. Sendirian.

Semua orang di dalam pesawat nampak bergembira. Saling bertukar peluk dan ciuman sebagai rasa bahagia menyambut Natal, walaupun ada juga beberapa penumpang yang memilih tetap terlelap di kursinya. Para Pramugari kembali bekerja; berjalan dengan mendorong troli berisi beberapa gelas minuman dan coklat untuk dibagikan pada para penumpang.

“Merry Christmas, Kenneth.” Suara Marin terdengar lirih dari sebelahnya.
Kenneth tersenyum, dan membalas ucapannya sambil menoleh. “Merry Christm—”
Sisa kalimat Kenneth tertelan oleh sebuah ciuman yang tiba-tiba. Ciuman yang terasa panas, dan mengalir sampai ke dalam tubuhnya, mengatasi hawa dingin yang menyelubungi selama berjam-jam di atas pesawat.

Tak ada yang Kenneth bisa lakukan selain menerima ciuman tersebut. Wajahnya terkunci, oleh tangan Marin yang melingkar ketat di lehernya. Membuatnya tak bisa lagi menarik diri atau menjauh.

Di sekeliling mereka, orang-orang mulai bernyanyi dan tertawa keras-keras. Lampu-lampu diredupkan untuk menghangatkan suasana. Dan tak satu pun dari mereka menyadari, apa yang sedang berlangsung di antara keduanya.

(Bersambung)
...

"Love is a fire. But whether it is going to warm your heart or burn down your house, you can never tell."
-Joan Crawford

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP