A Lot Like Love (9)

>> Thursday, February 23, 2012



Farewell


KENNETH melipat kakinya. Membalik halaman buku yang sedang ditekuninya. Ekspresinya serius, matanya menyipit, bibirnya mengatup rapat. Kelihatannya dia benar-benar menyimak isi buku tersebut.

Beberapa pengunjung kafe, kebanyakan pengunjung perempuan, memandang penasaran ke arahnya. Saling berbisik pada teman semejanya—sebenarnya sih tidak berbisik, karena mereka sama sekali tidak repot memelankan suara mereka saat berbicara, tentang Kenneth. 
“Ganteng baget ternyata aslinya…”
“Sayangnya, gak suka perempuan…”
“Kira-kira, dia ‘cowok’-nya apa ‘cewek’-nya…”
“Lihat cara duduknya…, persis perempuan…”
“Rambutnya. Hitam banget dan tebal. Kaya rambut bintang iklan shampoo…”
“Kok, gak sama… Neela?”

Konsentrasi Kenneth buyar sudah. Nama itu pemicunya. Penyebab utama kegelisahannya; membuatnya sulit sekali fokus pada sesuatu kapan pun nama itu terdengar oleh telinganya. Dia bisa saja tidak menggubris kalimat-kalimat lainnya, tapi yang satu itu…

Mata Kenneth mendelik naik, dan perempuan-perempuan yang sedang sibuk berkasak-kusuk dan terkikik genit di depannya itu langsung bungkam. Mengembalikan kepala masing-masing ke posisi yang sebenarnya, setelah sebelumnya berputar 90 derajat, bahkan 180 derajat, hanya untuk mengamatinya.

“Dasar cewek,” gerutu Kenneth pelan, sehingga cuma dia sendiri yang mendengar. Menutup bukunya dengan kesal, sehingga menimbulkan suara ‘plak’ keras. Tak ada hasrat lagi untuknya membaca. ‘Neela’ telah mengkontaminasi benaknya. Dan butuh waktu baginya, untuk mengusir sosoknya dari kepalanya.

Jam berapa….? Kenneth mengguncang lengannya, mengerling arloji logam di pergelangan tangannya. Sudah jam lima, dan orang yang dinantinya sejak sejam lalu, belum menampakkan diri sama sekali.
Jam karet. Dia cemberut. “Bad habit.”

Bel di atas pintu kafe, mendentangkan nada lembut sebagai tanda datangnya pengunjung baru. Salah seorang pramusaji segera menghampiri pelanggan tersebut, mengucapkan ‘selamat datang’ dengan riang, dan ‘ada yang bisa saya bantu?’ dengan nada suara yang sudah sangat familier di telinga siapa pun yang ada di kafe ini.

“Kenneth Altis?”—Kenneth segera menoleh, mendengar namanya disebut oleh si pramusaji—“Mari saya antar. Sebelah sini.”

Kenneth mendesah. Dia jengkel, namun tak berdaya untuk menunjukkan kejengkelannya. Orang yang akan ditemuinya ini calon kliennya, dan dia membutuhkannya—membutuhkan uangnya, tentunya. Jadi, dia tak bisa bersikap sekenanya. Meskipun begitu dia tak bersusah payah mengenakan jasnya yang tersampir di lengan sofa. Atau mengencangkan dasinya yang sebelumnya telah dilonggarkan dari kerahnya. Apa adanya saja, pikir Kenneth. Berdiri, untuk menyambut orang tersebut.

Si pramusaji mengantarkan seorang pria tambun berusia kira-kira 50 tahunan, yang ditemani dua orang—laki-laki dan perempuan, yang berpenampilan amat rapi. Saking rapinya, sampai-sampai Kenneth jadi malu dengan penampilannya, tapi teratasi melihat pria tambun tersebut, yang hanya mengenakan kaus di bawah jas hitamnya yang kelihatan kekecilan untuk badan besarnya.

“Tuan Kenneth?” Pria tambun itu menyapanya. Bibirnya sedikit mengerucut saat dia bersuara.
“Tuan Harlan?” Kenneth menjulurkan tangan kanannya, yang segera disambut erat pria itu.
Kenneth mempersilakan Harlan dan dua orang lainnya duduk. Sempat menawarkan minum atau makan, tapi segera ditolak dengan gelengan kepala yang mantap dari Harlan.
“Saya sibuk sekali,” katanya dengan suara sedikit parau. “Saya cepat-cepat.”
Kenneth mengangguk. Paham. “Kalau begitu, bisa Anda mengatakan pada saya, alasan Anda ingin bertemu saya?”
“Saya punya anak gadis. Anak bungsu.” Harlan tidak berbasa-basi sama sekali. Mungkin bukan sifatnya. “Dia ingin jadi penyanyi. Pemusik terkenal. Dan saat ini… Anda yang terbaik… sebagai manajer. Anda juga homoseksual—saya tidak bermaksud menyinggung tentunya,” kata Harlan buru-buru, tak enak hati. “saya hanya merasa, putri saya akan aman bila Anda yang menjadi manajernya.”

Kenneth tak tahu harus berkata apa.

“Berapa pun bayaran Anda, saya akan bayar. Permintaan Anda, akan saya penuhi,” lanjut Harlan. Matanya yang agak merah karena lelah, mengejap. Ekspresinya tak main-main. “Yang penting, Anda bisa mengorbitkan putri saya menjadi penyanyi yang baik. Dan seperti keinginannya: terkenal. Seperti Neela,” dia menambahkan.
“Dengan segala hormat, Tuan Harlan,” Kenneth berusaha sopan, “Neela… memiliki talenta musik yang luar biasa. Dan tidak diragukan lagi. Tapi… putri Anda…”
“Nona Marin mampu memainkan biola dengan baik.” Perempuan berkacamata, yang duduk di sebelah kanan Harlan menyela. “Dia juga bisa main piano dan beberapa alat musik lainnya. Sama seperti Nona Neela.”

Kenneth menoleh dengan perlahan pada perempuan tersebut. Mengamatinya selama sejenak, sebelum berkata, “Bukan hanya bisa atau dapat memainkan alat musik saja, tapi juga harus menguasai teknik permainannya dengan cermat. Serta… melakukannya dengan hati. Neela juga memiliki wajah yang… komersil,”—Kenneth sebenarnya membenci kata ‘komersil’ itu—“dia juga fotogenik. Penampilannya pun menarik.”
“Nona Marin…, punya semua itu,” balas perempuan berkaca mata itu, dengan dagu terangkat. “Dia cantik, dan fotogenik. Tubuhnya… lebih tinggi dari pada Nona Neela.”
“Anda begitu yakin.” Kenneth memiringkan kepalanya, memandangnya dengan mata disipitkan. Kesal, karena perempuan itu berkata menyebalkan. “Anda pasti dekat dengan Nona Marin?” Kenneth tersenyum. Sinis.
“Nona Ambar ini guru home schooling-nya,” Harlan memberitahu. “Dan dia tahu banyak tentang Marin. Karenanya, dia sedikit over-protective.” Harlan terbahak.
“Anda bisa mengujinya sendiri, kalau Anda tidak percaya,” Ambar berkata lagi. Serius. “Saya tahu, Anda tidak akan sembarangan memilih orang yang akan Anda manajeri. Karena itu, berikan Nona Marin kesempatan untuk membuktikan, kalau dia bisa seperti Nona Neela.”
“Berapa usianya… Nona Marin?” kata Kenneth, setelah dia memutuskan kontak mata dari Ambar.
“Dia sembilan belas tahun tahun ini,” jawab Harlan. “Masih muda… dan sangat ambisius.”
“Kapan saya bisa bertemu?”
“Besok,” Ambar menjawab, dan sekali lagi, Kenneth bertemu pandang dengannya. “Di studio musik milik Tuan Harlan.”
“Baiklah kalau begitu.” Kenneth mengangguk. “Besok. Tapi,” dia memandang Harlan lagi, “saya mohon maaf, bila saya tidak akan menerima tawaran Anda nanti, apabila, apa yang dikatakan Nona Ambar mengenai kemampuan Nona Marin tidak sesuai dengan harapan saya.”

Wajah Harlan menegang. Dia jelas tidak menyukai pemilihan kalimat Kenneth. Namun, dengan anggukan berat dia bicara dengan suara paraunya yang meninggi, “Baik. Tapi saya yakin, putri saya mampu menunjukkan yang terbaik pada Anda.”

Kenneth mendengus tersenyum. Balas mengangguk, dan berkata, “Kita lihat besok.”

Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Dua minggu kemudian.

“Ingat. Segera keluar begitu kau mendapatkan semua barangmu. Jangan kemana-mana.” Malini menatap tegas Neela, yang cuma bisa nyengir lemah mendengarnya. Dia merasa seperti anak kecil yang baru pertama pergi sekolah. “Eiji akan menjemputmu. Kalau dia belum datang—yang pastinya itu tidak akan terjadi, karena aku akan membunuhnya kalau dia berani terlambat menjemputmu,”—mata Malini melotot dan menyipit pada Neela saat mengatakannya—“kau tunggu. Jangan coba-coba naik taksi. Orang Jepang jarang yang bisa bahasa Inggris. Jadi, jangan berkeliaran sendiri, atau kau akan tersesat, dan baru ditemukan satu tahun lagi entah dimana.”
Neela dan Lea mendengus bersamaan, sedangkan Malini mengempaskan bahunya. Menunjukkan tampang jengkel. “Ya, ya… Tertawa saja kalian berdua. Aku senang bisa menghibur kalian.”
“Ayolah, Malini. Ini kali pertama Neela ke luar negeri, jangan menakut-nakutinya,” kekeh Lea. “Lagipula, aku percaya Eiji tidak akan terlambat.” Dia menghadapkan wajah cantiknya pada Neela. “Kau tidak usah cemas, ya,” katanya.
“Oke.” Neela tersenyum riang. “Tapi… aku tetap saja tegang.”
“Pertama kali memang begitu,” Juna nimbrung. Suaranya terdengar aneh, hilang dan timbul bersamaan. “Tapi lama-lama juga terbiasa.” Dia mengedipkan satu matanya dari belakang Lea.
“Oh, kau bisa bersuara,” Malini menyindirnya. “Aku lupa kau dari tadi berdiri di sana. Habis kau diam saja.”
“Aku sedang batuk, Malini,” Juna memandang Malini putus asa. “ Suaraku… hilang.”

Dan suara Juna memang hilang. Lea tampaknya menganggap itu lucu, tapi tidak mau Juna tahu, sehingga dia berusaha keras menyembunyikan kegeliannya dengan meringis seperti orang yang kesakitan. Tapi Neela tak bisa, dia mengikik, dan hampir saja tercekik karena berusaha keras menghentikannya. Lucu sekali mendengar suara Juna yang biasanya berat dan tegas menjadi suara semacam cicit tupai.

Juna memandang sekeliling, sambil menggeleng. Bibirnya mengatup erat, menunjukkan kekesalannya.

“Maaf, Chef Juna,”—Neela masih belum terbiasa memanggil Juna, dengan ‘Juna’ saja—“tapi… suaramu benar-benar lucu.”
“Membuat ke’cool’-anmu turun sebanyak 80 persen,” tambah Malini. Tergelak. “Bagaimana kalau fans-fans abg-mu itu tahu?”
“Fan page fesbuknya pasti akan penuh ucapan simpati.” Lea mengikik. “Mereka akan—”
Juna menekap bibir Lea cepat-cepat, mencegahnya bersuara. “Neela. Semoga pertemuanmu dengan Kotaro Fukuma berjalan lancar,” katanya kemudian, sepenuh hati. Suaranya agak stabil sekarang, dan bisa didengar Neela dengan jelas. “Dan konser kolaborasi kalian nanti berlangsung dengan sangat baik.”
“Terima kasih, Chef Juna.” Neela tersenyum. Terharu.
Lea menarik tangan Juna turun dari mulutnya, dan membiarkannya melingkari pundaknya. “Ya, Neela. Aku doakan konsermu nanti sukses.”

Neela mengucapkan terima kasih tanpa suara untuk merespon ucapan Lea. Matanya berkaca-kaca. “Aku berharap kalian berdua bisa datang,” katanya, gemetaran.

“Jangan menangis. Ingat umurmu.” Malini sewot.
“Aku akan pergi ke Jepang, Malini,” ujar Neela, mengejap-ngejapkan matanya, untuk mencegah air matanya jatuh. “Itu sesuatu untukku. Dan aku juga meninggalkan Indonesia untuk pertama kali.”
“Hanya satu bulan. Tidak lama,” sahut Malini. “Waktu berjalan amat cepat. Dan tanpa kau sadari kau akan berada di Indonesia lagi.”
“Bagaimana kalau pesawatku nanti jatuh?”
“Jangan ngaco!” hardik Malini, Lea dan Juna—yang suaranya melengking aneh—bersamaan. “Pesawatmu tidak akan jatuh. Jangan berpikir yang tidak-tidak.” Malini membeliak pada Neela.

Keempatnya melanjutkan berbincang selama beberapa waktu sampai waktu keberangkatan Neela tiba. Saat akhirnya berpisah, bergantian, Malini, Lea dan Juna memeluk hangat Neela untuk memberikannya suntikan semangat dan ketenangan, sekaligus menyisipkan kata ‘hati-hati’ dan ‘jaga dirimu’ di telinganya.

Tak ada rasa sedih di wajah masing-masing saat melihat Neela berjalan pergi dengan menyeret travel bag yang meluncur di belakangnya. Tak ada firasat buruk sama sekali yang melintasi pikiran mereka, kala mengikuti punggung Neela yang semakin menjauh. Tak satupun dari ketiganya, yang iseng berpikir kalau hari itu mungkin adalah hari terakhir mereka melihat Neela. 

(Bersambung)
Ditulis oleh: Putu Indar Meilita
...
gambar dari sini
Saya selalu pengen ke Tokyo--gak tahu deh kapan bisa kesampaian ke sana. Nah, karena gak tahu kapan terwujudnya, jadi saya utus Neela, Dai, Eiji dan Kenneth ke sana duluan. Mau bagaimana ceritanya di sana, saya juga belum tahu. Yang pasti, romantisnya kota Tokyo akan sangat mendukung cerita selanjutnya. So, stay tune, Guys.

14 comments:

-------------- February 23, 2012 at 1:03 AM  

neela mati mbak? D:
dibunuh? kenneth gmana?
yang baru si selai Marin itu? D:
mana si bastian? >3<

tokyo is beautiful mbak
surely, i do really love it. my world was spreading around inside that city's atmosphere

Lita February 23, 2012 at 11:15 AM  

@Gita: Just keep reading, ya, Dek.
And I do love Japan. I love Tokyo. Karena itu aku boyong semua ke sana. hihihi...

Anyway, Neela's fine.

putri ria,  February 23, 2012 at 11:28 AM  

mbak litaaaaa ,pliiiiis jgn bkin dai jadi antagonis ..hiks hiks ..
*tariktarikbaju
tapi aku kan reader ,jadi terserah authornya aja deh .. hehe
piiss mba ^^v

yuli she,  February 23, 2012 at 11:33 AM  

Emh mba Lita,,
Udah muncul karekter baru nich.
Karakter baru, cerita baru,,,

Waiting for next story...*banget*

Rusyda Fauzana February 23, 2012 at 11:56 AM  

Mba, tau ga sih?
Aku berhasrat banget cerita ini rampung seketika menjadi sebuah novel yang segera bisa kutemukan di toku buku dan bisa langsung kulahap.

#obsesi tingkat tinggi -.-"

Lita February 23, 2012 at 3:04 PM  

@All: Bukan kalian aja yang gak sabar nunggu cerita selanjutnya. Aku juga gitu... tapi masih stuck ide. Maklum, gak pake plot. Hihihi... Maaf ya... Dan sabar, pasti berlanjut dengan seru *kepedean*

Mine and Me February 23, 2012 at 4:12 PM  

semakin seru jalan ceritax mbak...
btw, jgn cmn mereka aja yg mbak lita boyong ke tokyo...
bawa aku jg dong mbak... ^_^
aku janji tidak akan nakal...

Nonanovnov February 23, 2012 at 10:14 PM  

Selalu suka gaya bicara Malini, 'mematikan' tapi unyu mbak, hahaha..
Dan fp Chef emang begitu ya mbak :DD

Lita February 24, 2012 at 11:10 AM  

@Suci: Wkakakakaka. Nakal. Tak cubit ya...

@Novi: Malini emang galak, Vi. Tapi dia baik. Dari cerbung 'Lea' dia emang gitu. Tapi dia sayang sama semua orang yang dia handle, makanya over gitu. Hehehhe...

Gloria Putri February 24, 2012 at 6:42 PM  

Marin...namanya aja kaya selai...pasti juga cm modal duit bapaknya aja tuh...cihhh #sinis

kennethhh...kembalilah pada Neelaaa...hikssss

Rusyda Fauzana February 24, 2012 at 6:53 PM  

Aku jadi bingung, Marin untuk Kenneth atau Neela utk Kenneth. Lalu Dai gimanaaaa...???

Aku mau Dai sama Neela, but so sad he's not a good man :(

-------------- February 25, 2012 at 8:55 AM  

nah kan, mbk glo aja bilangnya sama kek aku
dasar selai >3<

Lita February 26, 2012 at 12:07 AM  

@Glo: Ada ya, nama selai 'marin'? Wkwkwkwkw... aku gak tahu, Glo... jarang makan roti #gagapselai. kamu kemana aja, Dek?

@Rusyda: Mari kita tunggu cerita selanjutnya. Baca terus loh, Rus. Awas! *menyipit mengancam*

@GIta: Eh, si Gita balik lagi... mempertegas, kalau 'marin' itu nama selai. Wkwkwkwkwk...

Rusyda Fauzana February 26, 2012 at 9:28 AM  

Ok mba, aku akan baca terus(merasa terancam tapi suka)

Eh, yang aku tahu adanya selai Morin bukan Marin hahaha...
Itu selai kesukaanku apalagi yang rasa nanas :D

Kayaknya pada cemburu ada yg mau deket sama Ken. Syukurlah aku suka sama Dai hakhakhak...
Hanya saja si perempuan Geisha Jepang di apartemen Dai itu merusak kebahagiaanku.

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP