A Lot Like Love (8)

>> Tuesday, February 21, 2012

A Lot Like Love (7)


It's Getting Hot


NEELA memandangi sebuah foto dengan dua anak laki-laki kembar beserta seorang pria asing dan wanita pribumi berdiri di belakangnya. Wajah mereka ceria. Tampak bahagia.
Pria asing ini, Neela mengamati, ayah Kenneth dan Bas?

“Itu ayah dan ibu kami.” Suara Bas menyentak, membuat Neela buru-buru menegakkan tubuh dan berpaling ke belakang. Bastian baru saja meletakkan dua kaleng minuman ringan di atas meja di depan tempat tidur besar yang terselubung bed cover perak mengkilap. “Aku hanya punya soft drink biasa,” katanya, pada Neela yang berjalan menghampirinya. “Kau tidak ‘minum’ kan?”
“Kadang-kadang saja,” jawab Neela, duduk di salah satu kursi di dekat meja. “Saat acara-acara tertentu.”
“Kenneth bilang padaku,” ujar Bas lagi. “kalau kau tidak ‘minum’. It’s better that way. Aku…? Tiap malam.” Bas terkekeh, turut duduk di kursi di seberang Neela.
“Ayahmu…, orang asing?” tanya Neela beberapa saat setelah Bas selesai bicara. Melempar pandang kosong sekilas ke arah foto tadi.
Bas tidak langsung menjawab, menyesap soft drinknya sedikit. “Yap,” jawabnya. “Orang Swedia.”
“Dimana mereka sekarang…, orang tuamu?”
Ujung-ujung bibir Bas tertarik, membuat senyum simpul. “Ayahku di Swedia, ibuku…,” dia mengedikkan bahu, “di suatu tempat di Kalimantan. Bersama keluarganya.”
Bibir Neela membuka sedikit. Tampak bingung. “Dia menikah lagi? Mereka bercerai?”
“Orang tua kami menikah atas dasar kontrak, Neela,” jelas Bas kemudian. “Hanya berlangsung sepuluh tahun saja, sampai akhirnya ayahku kembali ke negara asalnya. Setahun setelah dia pergi, ibuku menikah lagi.”
“Kau dan Kenneth?”
“Nasib Kenneth lebih beruntung.” Bas kembali meneguk soft drinknya. “Dia diambil oleh kerabat ayahku yang tinggal di Jakarta. Sedangkan aku, tetap di Kalimantan bersama ibuku. Kami kembar, tapi beda jalan hidup.”
Wajah Bas berubah suram. Dia diam selama beberapa detik, termenung. “Kenneth, tinggal di keluarga yang baik,” katanya lagi, memutar-mutar kaleng sof drinknya. “Di lingkungan yang baik, dan mendapatkan pendidikan yang baik. Sedangkan aku…, untuk makan saja sulit, apalagi untuk sekolah dan kuliah. Belum lagi… aku punya… ‘kelainan’. Kau tahu kan?”
Neela mengernyit, meraih kaleng soft drinknya di atas meja. “ ‘Kelainan’ apa?” Dia meneguknya.
Bas meletakkan kaleng soft drinknya di atas meja, kemudian menatap Neela lekat-lekat, mencondongkan badannya sedikit ke depan. “Apa kau tidak melihat ada yang lain dariku? Perhatikan baik-baik.”
Neela menelengkan kepala. Mengamati wajah Bas dari atas ke bawah. “Tidak ada,” dia menggeleng, masih mencermatinya. “Kau… biasa saja—maksudku,” dia buru-buru meralat, “kau tampan sekali.”
Rona cerah menghiasi wajah Bas. “Kau menyanjungku.” Dia menunduk malu. “Kenneth lebih menarik menurutku.”
Entah kenapa Neela merasa sikap Bas aneh. Dia menyeringai suram, sebelum akhirnya berkata, “Kalian berdua tampan.”
Bas tersenyum muram, separo-malu, separo-tak enak. “Kau yakin, kau tidak bisa menemukan kelainanku?” dia mengulang pertanyaannya lagi.
Neela mengibaskan kepalanya. Menaruh kaleng soft drinknya di atas meja.
Bas mengembuskan napas. Tampak sekali putus asa. “Well…, I’m gay,” katanya.
Neela kelihatan syok. Matanya mengejap lemah. “Bagaimana bisa orang-orang setampan kau dan Kenneth bisa menjadi gay?” katanya sedih setelah beberapa waktu. “Apa yang tersisa untuk perempuan-perempuan sepertiku?” Itu berlebihan tentu saja, tapi dia sangat bersungguh-sungguh mengatakannya.
Bas tergelak. “Aku gay, tapi Kenneth tidak—Ups!” Bas menekap mulutnya. Matanya membeliak menatap Neela yang wajahnya langsung kosong.
“Kenneth bukan gay? Dia bukan gay?” tanya Neela, dengan tampang ngeri.
“Aku…” Bas menggaruk-garuk dagunya, “aku seharusnya tak mengatakan itu. Tapi…”
“Dia bukan gay?” Neela mengulang pertanyaannya, lebih cepat dan lebih keras dari sebelumnya. “Bas, please, jawab ‘ya’ atau ‘tidak’.”
“Oh, Neela.” Bas menatap Neela dengan sorot mata yang dipenuhi rasa bersalah. “Oh, Tuhan. Maaf, kau harus tahu dariku, tapi… ya. Kenneth…. normal.”

Neela segera menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Menelungkup di atas kedua tangannya yang melipat di permukannya. meja. Kepalanya mendadak pusing. Matanya panas, dan perutnya bergolak.

“Neela… kau baik-baik saja?” Bas menyentuh pundak Neela hati-hati. “Hei… Kau—”
Neela mengangkat kepalanya dengan mendadak. Memperlihatkan matanya yang basah oleh air mata, membuat Bas berjengit. “Teganya dia berbohong padaku…” semburnya kesal. “Keterlaluan sekali dia.”
“Kenapa memangnya?—Oh, Tuhan, apa kalian sudah tidur bersama?” Bas kembali menekap mulutnya.
“Jangan ngaco!” hardik Neela cepat. “Bukan begitu.”
“Lalu apa? Dia tidak pernah menyentuhmu kan?”

Neela ingin mengatakan pada Bas kalau Kenneth telah menyentuhnya. Mencium bibirnya, pipinya, keningnya, matanya, semuanya. Tangannya telah mendekapnya; erat dan hangat. Dan dia masih bisa merasakannya sampai sekarang. Dan bodohnya, merindukan sentuhannya lagi.

“Sudah dua minggu ini dia tidak kemari,” Bas memberitahu. “Apa ada kaitannya denganmu?”

Menatap mata Bas, sama seperti menatap mata Kenneth. Mata yang sama abu-abunya, sama berkilapnya, dan sama tajamnya saat memandang. Neela mengempaskan punggungnya ke belakang, bertukar pandang diam dengan Bas. “Kami bertengkar… dua minggu lalu,” kata Neela pelan. “cukup… hebat. Dan sekarang…, dia tidak lagi jadi manajerku.”
“Aku tahu itu.” Bas melempar cengiran muram. “Dia datang ke kelab malam itu… untuk mabuk.”
Neela mendesah, menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Dia tidak pernah begitu sebelumnya…” lanjut Bas. “Kalau dia ada masalah, biasanya dia tidur. Di kamar ini; di tempat tidur itu.” Bas mengangguk ke arah tempat tidur dengan bed cover perak metalik tersebut. “Tapi malam itu… dia benar-benar minum. Ngoceh sekenanya, dan membuatku terpaksa harus mengusirnya dari kelab,” katanya lagi. “Tampaknya dia benar-benar terpukul atas apa yang telah kau katakan padanya.”
Neela menatap Bas sayu. “Aku tidak bermaksud—”
“Aku tahu,” potong Bas, tersenyum menenangkan. “Kau tidak mungkin serius mengatakan hal itu pada Kenneth. Tapi…” Bas menaikkan bahu, “bagi Kenneth, itu mungkin sangat menyakitkan.”

Pastinya, Neela membatin. Semua kata-katanya waktu itu, memang sangat menyakitkan. Dia telah mengatakan Kenneth tak tahu diri, menghujatnya sebagai orang tak tahu terima kasih, dan juga… “Demi Tuhan, kau itu GAY, Kenneth! Kau tak selaki-laki dirinya untuk melakukan apa yang dia telah lakukan untukku!
Kalau bisa, Neela ingin sekali kembali ke hari itu. Kalau bisa dia akan memarahi dirinya sendiri karena telah melontarkan kata-kata seperti itu. Kau benar-benar tak tahu diri, Neela.

He loves you, you know?
Neela mendongak. Bertukar pandang dengan Bas yang tersenyum samar padanya. “He loves you so much.”
“Da-darimana kau tahu?”
Bas mendengus. “Kalau Kenneth, mudah sekali menebaknya,” katanya, nyengir. “Selama ini, Kenneth tak pernah peduli pada siapa pun… kecuali keluarganya. Itu pun, kalau dekat sekali; seperti aku dan keluarga angkatnya, contohnya. Sedangkan untuk lawan jenis…, bisa dibilang…, Kenneth agak malas berhubungan dengan perempuan. Apalagi lingkup pergaulannya selama ini hanya berkisar dunia showbiz yang glamor dan borju, membuatnya ragu untuk menjalin hubungan dengan siapa pun. Jadi gampang sekali menebaknya kalau sedang naksir seseorang.” Bas tertawa geli.
“Apa karena itu dia mengaku gay?”
“Kalau itu, lebih karena aku…” Bas menyeringai. “Dia tak pernah mengatakan kalau dia itu gay—dia bahkan tak pernah bicara sama sekali mengenai dirinya pada siapa pun. Kau tahu itu.” Bas mengangguk pada Neela. “Wartawan yang menyebarluaskan, atas dasar omongan beberapa orang yang pernah bertemu Kenneth di kelab ini beberapa kali. Rumor pun berkembang, sampai akhirnya, semua menganggapnya gay. Aku sudah menyuruhnya meluruskan gosip itu, tapi dia tak peduli. Dia bilang lebih baik mereka berpikir dia gay, daripada nantinya wartawan atau siapa pun itu malah mengusikku. Menggangguku. Jadi… aku diam. Bagaimana pun, dia yang memutuskan. Lagipula… Kenneth sulit ditentang.”
“Ya,” timpal Neela, tersenyum lemah, “dia sulit ditentang.”
“Tapi dia sangat baik,” kata Bas lagi. “Adikku keras, namun dia tulus atas perasaannya. Karena itu… aku tahu betapa dia sangat menyayangimu. Senyumnya berbeda, kapan pun dia menyebut namamu. Tatapannya melunak, kapan pun dia melihatmu di layar televisi. Dan dia amat cemas, ketika kau terserang sakit atau terluka. Menurutku, dia sudah takluk padamu. Kaulah satu-satunya perempuan yang bisa membuat Kenneth begitu, Neela.”

Neela tak tahu harus merasa apa mendengar kata-kata Bas. Apa dia mesti senang, girang, atau sedih? Dia sungguh tak tahu. Yang pasti sekarang, pikirannya dipenuhi Kenneth. Semua kenangan bersama Kenneth berkelebatan di depan matanya bagai film yang diputar cepat. Lalu suaranya kembali—“Aku sayang padamu. Apa kau tak menyadari itu?”—terngiang-ngiang di telinganya. Menimbulkan rasa rindu yang besar di dirinya. Lebih besar dari sebelumnya.



3593,14 mil jauhnya dari Jakarta. Tokyo, Jepang.


Whose picture is that? Very pretty. Kawaii.”
“Neela.”
Is she one of your girlfriends, Tanaka-kun?
No. She’s someone whom I want to get rid of.”
Why? What has she done?
Laki-laki bernama belakang Tanaka itu menoleh pada perempuan cantik yang duduk di sebelahnya. Menatapnya tajam, dan berkata, “None of your business,” dengan nada dingin dan kelam.
Si perempuan menelan ludah. Menunduk buru-buru. Tangannya yang mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya yang setengah telanjang, gemetaran. “Gomennasai, Tanaka-kun.”
You can go now,” kata laki-laki itu. Meletakkan foto yang dipegangnya di atas meja di samping tempat tidurnya, dan bangkit dari tempat tidur, setelah sebelumnya menyingkirkan selimut dari badannya.

Perempuan cantik itu bergeming, memandang punggung si laki-laki yang dipenuhi tato naga dan harimau hitam yang sedang bergulat, dengan ekspresi yang kentara sekali kecewa.

 “I have brunch with my parents in an hour,” kata laki-laki itu santai, mengenakan celana treningnya yang tadi disampirkannya di punggung kursi. “You know the door.” Dia mengedikkan kepalanya ke arah pintu kamar yang sedikit membuka, kemudian, tanpa menoleh lagi, berjalan pergi, menuju jendela besar, darimana matahari menjatuhkan sinarnya ke dalam kamar luas tersebut. Menyambar ponselnya dari atas rak televisi, dan menghidupkannya.

Satu pesan di terimanya. Pesan penting, dari anak buah kepercayaannya di Jakarta.

Neela akan berada di Tokyo dua minggu lagi, Dai-san, bacanya. Dia sendirian, tidak akan didampingi manajernya. Kemungkinan, Eiji Kodame yang akan bersamanya. Saya sudah memastikan dan berita itu benar.

Dai menurunkan tangannya. Mencengkeram erat ponselnya. Satu tangannya di saku, dan matanya memandang nyalang keluar jendela kamar apartemennya yang berada jauh di atas permukaan tanah. Senyumnya merekah. Langit tampak begitu biru pagi ini.

Kau akan berada di Tokyo dua minggu lagi, Dai membatin. Dan seperti biasa, Eiji akan melindungimu. Dai mendengus.

Akan sangat menyenangkan, kalau dapat menyakiti orang yang sangat disayangi Eiji di depan hidungnya sendiri, pikir Dai. Melihatnya terbenam dalam rasa penyesalan yang amat sangat setelahnya, sama seperti apa yang aku rasakan saat kehilangan Kyouta.

“Neela…” Dai bergumam pelan. “Apa yang sebaiknya kulakukan padamu nanti?” Dia tertawa. Sinis. 


(Bersambung)
Ditulis oleh: Putu Indar Meilita
...
gambar dari sini
Welcome back, Dai. Next is your turn.

12 comments:

-------------- February 22, 2012 at 12:25 AM  

ya ampun, aku jatoh cinta sama bastian T.T
don't you have any feel about girl? woman?
my dearest bastian.. *head desk

-silpe- February 22, 2012 at 10:19 AM  

Neela dalam bahaya :(
Semoga Eiji bisa menjaga nya :)

Nonanovnov February 22, 2012 at 11:31 AM  

Yeaaa, makin seru ni, mbak..
Buat Dai: jgn benci2 bgt sama Neela, ntar jadi sukaaa, ahaha..

Rusyda Fauzana February 22, 2012 at 11:54 AM  

Daaaaiiiii....
Kok kamu begitu?
Aku kira kamu cowok manis gitu ternyata bitchy juga.
Tapi aku yakin kamu tidak akan pernah sanggup menyakiti Neela.
#Berharap Dai baca hihihi...

Mba Lita, ur story is so unpredictable. Banyak hal2 di luar dugaanku muncul tiba2 menghancurkan perkiraaanku sebelumnya. Makin salut sama Mba Lita, makin jago bikin cerita dan bikin penasaran pembacanya.

Go Mba Lita, keep writing!

Lita February 22, 2012 at 3:43 PM  

@Gita: Kamu lain dari yang lain, ya? Semua pada histeris sama Dai, kamu malah pilih Bastian. Wkwkwkwk. Gita... gita... *geleng2*

@Silpe: Semoga Eiji bisa ya... *mengejap lemah*

@Novi: Tau nih, Dai. Sangar amat sih. Ilang cakeupnya nanti. *melet*

@Rusyda: Makasih Rusyda. Keep reading, ya. Kita lihat mau kemana cerita ini selanjutnya. *penulis yang masih bingung*

yuli she,  February 22, 2012 at 3:56 PM  

Ah Dai san, penampilanmu menipuku *kecewa 100%*

Kalo gitu hidup Kenneth,,n_n

sarie February 22, 2012 at 4:23 PM  

Ternyata Dai gitu yah mba' ... waaaah g' nyangka beneran .... he.he.he.he.he ... Tapi Dai nya tetap manis koq ^_^

Ulfah February 22, 2012 at 5:06 PM  

Yahhhhh.... Dai :( Kamu kok gitu? *nangis di pojokan*
Neela, watch out :)
Mbak Lita, keep writing ya. Daku setia menunggumu Mbak *kedip-kedip ganjen*

-------------- February 22, 2012 at 5:44 PM  

makasi mbk komen nya xD
huhu, aku terharu <3

hah, kenapa yaa, gatau si, bastian itu so man gt loh mbaak,, daya tariknya gde buat aku
hasya syah xD
lgyan Dai mcam yakuza gt >3<
aku dulu punya kenalan tuan muda yakuza gt, ampe datang lho mbk ke indo, pengawalnya bnyaaak, riweuuuuuh, mau makan aja susaah, mencolok >3<

Rusyda Fauzana February 22, 2012 at 10:24 PM  

Apa pun itu, Aku tetap menunggu aksi2nya Dai, biar kenal lebih dekat sama Dai(wkwkwk...udah kecantol dari awal sih)

Hehe...Mba Lita habis lempar batu harus tanggung jawab ya jangan kabur. Nggak apa-apa lah penulis pusing dikit dg alur cerita berikutnya gara-gara mengacaukan bayangan indah pembaca yang udah berharap-harap sama Dai. Harapan2 kami dihancurkan dg perilaku Dai yang di luar dugaan di chapter ini. Bener2 deh, Mba Lita jago banget menghancurkan harapan pembaca yang udah berbunga-bunga (masih nggak terima dengan sikap Dai yang jadi brengsek begini hiks... #terbawa arus cerita :P)

-------------- February 22, 2012 at 10:34 PM  

mbak, mbok aku muncul nyembuhn bastian gt lho >3<
*sak karepe dwe*

Gloria Putri February 24, 2012 at 4:14 PM  

arggggghhhhh......knapaaaaa? kenapa Dai hrs jd tokoh antagonisnaaaa? sedangkan wajahnya begitu cute menggoda...hiksssss #nangisbombay

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP