A Lot Like Love (7)

>> Saturday, February 18, 2012

New Place, New Friends


“NEELA… Neela... Neela!
Neela tersentak. Langsung memalingkan wajahnya ke samping, dari mana Malini sedang memandangnya dengan tercengang. “Y-ya…, Malini?” jawabnya kikuk.
What’s wrong with you?” tanya Malini heran. “Ini sudah… entah keberapa kalinya aku harus berteriak untuk memanggilmu.” Dia bersedekap.
“Sori, aku…” Neela menyingkirkan helai rambut yang menghalangi matanya, “aku sedang memikirkan… hal lain.” Dia sebenarnya ingin menyebut ‘Kenneth’, tapi khawatir kalau nantinya malah banyak mengundang pertanyaan yang tak diinginkannya dari Malini.

Malini memandanginya selama beberapa waktu, sampai akhirnya dia mengedikkan pundaknya, berbalik, dan menghadap Neela lagi. “Jadi bagaimana?” tanyanya. “Kau suka apartemen ini?”
Neela memutar kakinya membelakangi jendela besar ruang tengah, dan  memandang sekelilling ruangan. “Sangat,’ jawabnya. “Tapi…,” dia meringis muram, “apa tidak apa aku menempati apartemen ini begitu saja? Aku tidak enak pada Lea…”
“Lea sendiri yang menelponku dan mengatakan agar aku menunjukkan apartemen ini padamu,” Malini menyela. “Jadi kau tidak usah cemas.”
“Tapi setidaknya aku lebih baik membayar—”
“Kau malah akan membuat Lea tersinggung kalau begitu,” Malini kembali memotong. “Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Yang penting sekarang kau punya tempat tinggal.”
“Aku janji hanya untuk sementara.”
Mata Malini menyipit pada Neela. “Aku bilang tidak usah—”
“Dipikirkan,” sambung Neela. Nyengir.

Malini melangkah ke arah sofa yang masih tertutup linen putih, menyingkirkannya ke tepi, kemudian duduk di atasnya. Neela mengikuti, mengenyakkan tubuhnya di salah satu sofa tunggal berlengan. Memandang langit-langit di atas.

“Mereka pasti sering duduk-duduk di sini,” gumam Neela, mengusap permukaan sofa. “Chef Juna dan Lea,” katanya ketika Malini mengernyit tak mengerti.
Malini mendengus. “Juna jarang sekali ke sini sebelum menikah dengan Lea,” timpal Malini. “Shinji yang lebih sering kemari,”—mata Neela segera saja membundar—“juga aku. Masa pacaran Juna dan Lea terbilang singkat; tidak sempat untuk saling berkunjung ke tempat tinggal masing-masing. But it’s good, though.”
“Kenapa mereka memutuskan untuk menikah begitu cepat?” Neela mengedikkan bahu. “Karir Chef Juna dan Lea saat itu sedang bagus-bagusnya. Biasanya orang-orang seperti mereka lebih memilih menunggu beberapa waktu sebelum akhirnya melangsungkan pernikahan.”
“Cinta,” senyum Malini. “Cinta yang membuat mereka memutuskan menikah secepatnya. Murni karena cinta.” Malini menyandarkan punggungnya ke belakang. Tersenyum menerawang. “Perjalanan cinta mereka cukup panjang dan rumit, sehingga, mereka tak ingin menunda lebih lama lagi. Banyak yang terjadi; hal-hal yang… cukup tak enak, sebelum mereka berdua menyadari kalau mereka sangat mencintai satu sama lain.”
“ ‘Tak enak’ bagaimana?”
Malini mengembuskan napas seiring berkata, “Aku tidak bisa mengatakannya padamu,” sambil melengkungkan bibirnya lagi. “Lagipula hal itu sudah tidak jadi masalah lagi sekarang.”
Neela penasaran, namun dia tak berani mencecar Malini. Meringis untuk menutupi ekspresi ingin tahunya.
“Ngomong-ngomong, Neela,” Malini memiringkan kepalanya sedikit pada Neela, “Apa yang terjadi sebenarnya? Antara kau dan Kenneth?”
Mulut Neela langsung membentuk huruf ‘a’. Pertanyaan yang paling ditakutinya, akhirnya terlontar dari bibir Malini, dan dia bingung bagaimana menjawabnya.
“Mm… Kami…” Neela memandang Maini dengan takut-takut. “Kami bertengkar kemarin,” akunya.
Malini mengerutkan dahi, tampak heran.
“Aku emosi sekali padanya,” lanjut Neela lagi, memandang Malini. “Dan tanpa kusadari aku mengucapkan sesuatu yang menyinggungnya. Amat menyinggungnya. Bisa dibilang aku meneriakinya. Dan dia marah. Memintaku pergi dari rumah. Dan…” Dia diam sejenak, bertanya-tanya dalam hati apakah dia juga harus mengatakan pada Malini kalau Kenneth telah mencium paksa dirinya. Dan kata ‘sayang’ itu? “Dan…, dia memintamu untuk menggantikannya sebagai manajerku.”
“Apa yang membuatmu begitu emosi?” tanya Malini lagi, setelah menyimak cerita Neela barusan.
“Aku kesal, karena dia terus-terusan membawa-bawa Shinji atas semua hal yang menurutnya tak semestinya aku lakukan. Dia bilang, semua tingkah ganjilku karena pikiranku yang tak bisa lepas dari Shinji. Moodku berubah seratus delapan puluh derajat, kapan pun Shinji hadir dalam ingatan. Dia… dia…”
“Dia peduli padamu,” sambung Malini, menatap Neela serius. “Dia sangat peduli. Oh,” Malini mengeluarkan suara tawa yang kedengaran seperti cegukan. “Aku tak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi, kalau saja kau tidak bercerita padaku.” Dia menggelengkan kepalanya.
“Maksudmu…?” Neela keheranan. “Tapi…, Kenneth cerita kan padamu?”
Malini menggeleng lagi. “Tidak. Dia tidak bilang apa pun, kecuali kalau kau lebih membutuhkan manajer perempuan untuk menangani semua pekerjaanmu. Dan sudah saatnya kau tinggal sendiri. Menurutnya lebih baik begitu.”
Neela terpana. Berarti Kenneth tak mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Malini?
“Tapi tentu saja aku tidak percaya, kalau alasannya seklise itu.” Malini memandang Neela dengan sorot mata yang menenangkan. “Bukan prinsip Kenneth untuk membiarkan orang lain menggantikan dirinya menjadi manajer artis yang dibinanya dari nol. Kecuali memang si artis sendiri yang memintanya mundur. Tapi kau tidak memintanya kan?”
Neela langsung mengibaskan kepala dengan panik. “Tidak. Aku tidak mungkin melakukan itu,” sanggahnya. “Tidak akan pernah. Betapa tak tahu dirinya aku kalau aku sampai berbuat begitu.”
“Aku percaya,” senyum Malini. “Dan kau tidak perlu takut aku marah padamu karena pertengkaranmu dengan Kenneth, karena bagaimana pun itu urusan kalian. Urusanku denganmu adalah urusan kerja. Oke?”
Neela mengejapkan mata. Tersenyum penuh terima kasih pada Malini. “Aku beruntung kau mau menjadi manajerku,” katanya. “Aku tidak tahu kalau yang menggantikan Kenneth bukan dirimu. Thanks, Malini.”
You’re welcome, Neela,” balas Malini. “Tapi…” dia kembali berkata, “akan lebih baik kalau kau minta maaf pada Kenneth.”
Neela mengembuskan napas. Muram.
“Aku tahu aku bilang aku tidak akan ikut campur,” kata Malini buru-buru saat Neela menatap sayu dirinya. “tapi Kenneth sahabatku. Yah… dia memang kadang egois, cerewet; persis perempuan, apa pun yang terlontar dari mulutnya memang seringkali tidak enak didengar, namun… dia sangat peduli. Dan dari semua artis yang dimanajerinya, menurutku kau lah yang paling menyita perhatiannya. Dia sayang sekali padamu.”

Aku sayang padamu…” Suara Kenneth tadi pagi bergaung di kepala Neela. “Tidakkah kau sadari itu?

“Aku tahu…” Tak sadar Neela bergumam sendiri. Termangu-mangu menatap kosong meja di depannya.
“Aku pergi dulu,” kata Malini mendadak. Neela tersentak, spontan mendongak. “Aku harus menjemput semua berkas kontrak yang disiapkan Kenneth.”
“Kau mau ke rumah?” Neela bertanya dengan mata membundar. Sudut bibirnya membentuk senyum samar.
“Ya,” sahutnya. “Kau istirahatlah di sini. Dan rapikan barang-barangmu. Sisanya akan menyusul besok pagi. Dan besok… kita akan mulai berbisnis.” Malini menyeringai, kemudian berdiri. Meraih tas jinjingnya, dan melangkah pergi. Menghilang di balik dinding koridor yang membawanya ke pintu depan. Tak lama kemudian terdengar pintu membuka dan menutup. Dia pergi.

Menjadi perempuan bukan hal yang membuat Malini melonggarkan banyak aturan dalam bekerja. Dia bahkan lebih ketat dari Kenneth. Dua kali lebih giat dan luar biasa galak. Neela seringkali disemprotnya kapan pun dia melakukan kesalahan, seperti tak menepati skedul, atau datang terlambat ke lokasi. Dia juga menuntut Neela untuk lebih mandiri. Pergi kemana pun sendiri, tanpa harus dijemput atau semacamnya. Neela tentu tak keberatan, karena dengan begitu, dia bisa mengunjungi tempat-tempat yang diinginkannya tanpa harus cemas ditunggui atau apa pun. Lagi pula sejauh ini, dia aman-aman saja. Tak ada yang terjadi. Tapi, tetap saja…, dia merindukan Kenneth.

Neela, aku harus jemput Tara di sekolah,” Malini memberitahunya lewat telpon suatu siang. “Jadi kita bertemu nanti sore saja, setelah aku mengantar Tara pulang. Kau di mana sekarang?
“Aku di jalan. Baru pulang dari latihan vokal,” jawab Neela. Memandang keluar jendela mobil yang membawanya. “Mau menuju kantormu.”
Oke. Just hang-out somewhere, okay?” kata Malini lagi. “Aku akan ketemu kau di kantor jam enam. Katakan saja pada Beni kemana kau mau pergi.” Beni adalah supir yang dipekerjakan Malini untuk mengantar-jemput Neela.
“Tapi Malini, kalau kau sibuk, kita bisa ketemu besok pagi.”
Oh, tidak bisa.” Malini menolak. “Ini penting. Sangat. Aku harus memberitahumu hari ini juga.
Neela menautkan alis. “Oh, oke,” katanya. “Jam enam kalau begitu.”
Oke. Bye.” Malini menutup telpon.

Neela memasukkan ponselnya ke dalam tas. Membenamkan punggungnya ke jok mobil yang membawanya. Berpikir, kemana dia akan pergi menghabiskan waktu sampai waktunya bertemu Malini. Di luar langit mendung mulai menitikkan air. Gerimis turun. Dan orang-orang yang berjalan di trotoar mulai berlarian mencari tempat berteduh.
Mau kemana aku hujan-hujan begini? Neela berpikir.
Beni membelokkan mobil ke kiri, masuk ke sebuah gang besar yang diapit di antara dua gedung. Neela tak tahu tempat ini, tapi dia membiarkannya saja. Malas bertanya.
Gang besar ini dipenuhi banyak Ruko. Dan tidak banyak kendaraan yang lewat sini, bisa dibilang sepi. Sepertinya orang-orang lebih memilih untuk berjalan kaki.

Neela mendadak mencondongkan badannya ke depan. Matanya membuka lebar. Dia mengamati dua orang yang sedang berjalan bersisian di trotoar sebelah kanan; laki-laki dan perempuan. Tangan si perempuan melingkar mesra di lengan si laki-laki, dan mereka tertawa-tawa. Tampak gembira.

Neela tahu perempuan berambut coklat itu. Perempuan yang dua minggu lalu mengantar Kenneth pulang. Ella. Dan laki-laki di sebelahnya—hati Neela serasa tertusuk-tusuk, adalah Kenneth.

Tubuh Neela terasa tak enak sekarang. Seperti semutan. Gamang. Dia kembali mengenyakkan tubuhnya ke jok. Menarik napas dan mengembuskannya berulang-ulang. Berusaha keras tidak menjatuhkan air mata yang sepertinya sudah menggenang di bagian bawah matanya. Tapi air mata itu entah kenapa jatuh. Dan entah kenapa dia membiarkannya saja.

Mobil melewati mereka, dan Neela menoleh ke belakang. Melihat keduanya masuk ke dalam salah satu Ruko, dengan papan nama besar bertulisan ‘PARADISE’ bertengger di atasnya. Papan nama yang lain dari yang lain, karena penuh pernak-pernik dan lampu-lampu kecil, serta terawat dengan baik dibandingkan papan nama Ruko lainnya. Dua orang pria berbadan besar duduk-duduk di depannya. Mungkin mereka penjaganya.

Tempat apa itu? Tanya Neela pada dirinya sendiri. Dia ingin sekali cari tahu, tapi, untuk apa? Dia tergoda menelpon Kenneth, tapi sudah dua minggu ini mereka tidak saling berhubungan. Dan dia, tidak mau jadi orang pertama yang menghubunginya. Bukan karena ego, tapi karena dia takut mendengar suara Kenneth yang dingin saat menjawab telponnya. Itu akan sakit sekali. Sama sakitnya ketika dia menarik tubuhnya menjauh seperti waktu itu. Sampai sekarang Neela tak mengerti, kenapa hatinya begitu kosong saat Kenneth melakukan itu.
Biarkan saja, suara kecil di kepalanya berkata. Tegarlah. Dan Neela mengangguk, meyakinkan dirinya sendiri, untuk tidak memikirkannya.

Pintu menjeblak terbuka, membuat cahaya dari luar masuk ke ruangan yang redup. Beberapa orang menyipitkan mata ke arah pintu yang perlahan kembali menutup. Memandang seseorang yang berdiri di depannya dengan ekspresi penuh tanya dan jengkel.

“Kami baru buka jam sebelas malam.” Seorang perempuan berteriak dari salah satu meja di sisi kiri yang tersembunyi oleh sinar lampu. Dia mendekati orang yang baru datang, menampilkan sosoknya yang jangkung dan sintal. “Anda harus kembali—” Suaranya tercekat. Matanya membulat, dan bibirnya yang sedikit lebar menyebutkan nama, “Neela?” pelan. “Sedang apa kau di sini?” tanyanya kemudian, setelah dia telah mengatasi keterkejutannya.
“Mana Kenneth?” Neela bertanya tak sabar, memandang sekitarnya.
“Kenneth?” Ella kedengaran bingung. “Kenneth tidak ada di sini. Sudah dua minggu ini dia tidak datang kemari.”
Please,” Neela menatap Ella sungguh-sungguh. “aku hanya ingin bicara sedikit dengannya.”
“Tapi Kenneth tidak di sini, Neela,” tegas Ella.
“Aku melihat kalian jalan berdua tadi.”
Alis Ella berjingkat. Kedua bola matanya bergerak ke satu sisi, berpikir. “Tapi… aku tidak bersama Kenneth.” Dia keheranan.
“Aku hanya ingin ketemu sebentar. Ingin…”
“Ada apa, Ella?” Suara seorang laki-laki terdengar dari belakang Ella. Membuat Neela menghentikan bicaranya, dan Ella menengok ke belakang.

Itu bukan suara Kenneth, Neela membatin. Dan sosok yang kemudian muncul setelahnya: Juga bukan dia, gumamnya lagi. Tapi—Neela mengamati laki-laki yang sekarang berdiri di sebelah Ella, dia mirip Kenneth. Rambut hitam yang sama, mata abu-abu yang sama, dan tubuh jangkung serta postur yang sama. Dia bagai duplikat Kenneth tapi jelas bukan Kenneth. Dagu laki-laki ini lebih lonjong.

“Kau… Neela, kan?” Laki-laki itu menatapnya dengan alis bertaut. “Sedang apa di sini?”
Ella bersedekap. Seringainya muncul di wajah cantiknya. Dia mengangguk-angguk. “Kau pasti salah mengira Bas dengan Kenneth,” katanya pada Neela.
“Ada apa memangnya,” tanya laki-laki itu.
Ella menoleh padanya. “Dia mencari Kenneth. Berkata kalau dia melihatku berjalan bersama Kenneth.” Ella kembali menghadapkan wajahnya pada Neela. “Atau orang yang mirip Kenneth.”
Laki-laki mendengus tertawa. “Oh. Itu memang sering terjadi,” katanya. “Kami memang sangat mirip kalau dilihat dari jauh. Kenalkan,” dia menjulurkan tangannya pada Neela, “aku Bastian. Saudara kembar Kenneth.” Dia menjabat tangan Neela erat.
Neela membeliak. Kenneth punya saudara kembar? Apa ini sungguhan?
“Tidak bisa dipercaya ya?” kekeh Bas, begitu melihat ekspresi Neela yang sepertinya baru diterpa angin kencang. “Tapi inilah kenyataannya. Kenneth tak pernah mengatakannya tentu.”
“Ti-tidak pernah,” geleng Neela. Tersenyum kikuk. “Tapi…” dia meletakkan satu tangannya lagi di atas tangan Bas. Tersenyum lembut dan lega. “aku senang bisa tahu. Banyak hal yang tak kutahu tentangnya,” katanya lagi. “Aku… ingin tahu lebih banyak.”
Then… you come to the right place.” Bas membalas menggenggam tangan Neela.
“Oh, Tuhan.” Ella memutar matanya ke atas. Berpaling, beranjak pergi meninggalkan keduanya. 

(bersambung)
Ditulis oleh: Putu Indar Meilita 
...
gambar ambil dari Google
Welcoming Bas & Ella.
Saya selalu suka Kristen Steward, dan karakter Ella pas buat dia. 
Tapi, jujur, waktu ngereka karakter 'Ella', saya sama sekali gak bayangin dia. Dan nama 'Ella' juga muncul begitu aja di kepala. Gak ada sangkut pautnya sama 'Bella' (^_^) 
Anyway, keep reading, Guys.

13 comments:

-------------- February 18, 2012 at 10:43 AM  

kembaaar? :O
wow ! aku mau bastian nya aja *padahal gay*
ella ella ella, mukanya, ok lah kalau kristen, tapi kurang bitchy sdikit mbaak

Lita February 18, 2012 at 10:59 AM  

@Gita: Iya kayanya ya, Git? Aku udah coba cari fotonya yang rada seksi gitu, tapi kagak nemu.
Iya. Kenneth dan bastian kembar, tapi Bastian yang kakaknya. Makanya aku sengaja cari yang mirip Chris, dan Siwon-lah yang menang. wkwkwkw

Gloria Putri February 18, 2012 at 3:49 PM  

komenku nyangkut di sanctuary mbaaaa......yg ini mending komn soal sanctuary...whatever it is...keep writing mba....jstru kasian sama org itu yg ga ngerti seni

Rusyda Fauzana February 18, 2012 at 8:48 PM  

New place new new friends? Wah...siapa tuh mba teman2 barunya Neela? Sepertinya cerita ini akan semakin berkembang dan lebih hidup lagi nih.

Btw, apa kabar Dai? Is he really really big rival for Kenneth besides Shinji? :D (Aku masih pendukungnya Dai, yeaay!)

Kalau dilihat2 sifatnya Ken mirip Shinji ya waktu di cerita Lea dulu. Gampang cemburu, sinis, emosional dan suka ngambek hehehe...

Feby Oktarista Andriawan February 19, 2012 at 12:14 AM  

Hmm, rada2 bingung sama sikap Kenneth ke Neela ini. Kenneth terlalu cmburu aja tuh sm shinji..

Rona Nauli February 19, 2012 at 1:11 PM  

aku nunggu drama apa ya kira2 yg bakalan ngelibatin Dai n Kenneth? :p

shafarani February 20, 2012 at 1:24 AM  

mba rusyda,
sepertinya mba very curious soal sosok Dai bagi Neela di cerita ini yak?
hanya nebak2 kok mba,, hehe! :D

mba Lit,
ini neela lewat "gang ehem" itu naek taksi atau naek mobilnya Beni yang sopir taksi mba?
(ga sengaja kebaca dg teliti ini, kalau ada koreksi ya mba)
semangat mba Lita!

Lita February 20, 2012 at 9:59 AM  

@Glo: Iya Dek. Nanti aku pajang poto Dai gede2, biar kamu puas mandanginnya *ngakak* Dasar Poni. sampe komen bisa nyangkut di tempat lain. Hahahah

@Rusyda: Temen baru Neela, Bastian dan Ella salah satunya. Kalau kebanyakan nanti malah kaya sinetron. Wkwkwkwk. Btw, Ken emang sinis. Di nyanyian sendu udah dideskrip begitu. Makanya dia sama Shinji gak cocok, sama2 nyolot. Hihiihi.

@Feby: Eh, ada Adek. Udah sikat gigi, Feb? Wkwkwk. Well, sebenernya sih, Ken gak cemburu sama Shinji (awalnya), dia cuma kesel Neela terus2an sedih karena Shinji, kaya gak ada cowok lain aja, gitu lho.

@Rona: Madam. Terus baca ya? Aku suka kau berkunjung kemari membaca. Kangeeeennn

@Rani: Kamu jeli ya. Seneng aku. Biasanya si Glo yang paling sering ngritik aku soal kealpaanku nulis. Thanks ya, Ran. One pf my weakness, tidak teliti. Heheheh.

Rusyda Fauzana February 20, 2012 at 7:24 PM  

@Shafarani: Actually, I'm obsessed by Dennis Joseph O'neil hehehe...

-------------- February 20, 2012 at 9:20 PM  

agree ! he's really damn hot ! ahay !

xoxo,
gitasyalala.blogspot.com

-------------- February 20, 2012 at 9:28 PM  

aku malah byangn ella tuh kayak Scralet Johannson atau Jessica Alba
mreka itu sexy nya natural mbak
diem aja ok ~ (づ ̄ ³ ̄)づ~~~


xoxo,
gitasyalala.blogspot.com

shafarani February 20, 2012 at 10:18 PM  

Mba Rusyda :
Dennis Oh memang menggiurkan mba Rus.. Lee Min Ho wasalam :p
(bahasaku loh)

Ulfah April 16, 2012 at 5:24 PM  

Kris Stew? Well... Aku sih sebenernya ga terlalu suka. Bu that's okay ☺

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP