A Lot Like Love (6)

>> Tuesday, February 14, 2012

Good Bye


“KENNETH?” Bas kelihatan kaget melihat Kenneth yang duduk di bar kelabnya. Minum. Dan sepertinya banyak, melihat botol Absinthe yang isinya tinggal setengah.
“Hai, Bas,” jawab Kenneth lemah. Matanya mengejap pelan. “Minum?” Dia mengangkat gelas slokinya, dan meneguk isinya sampai habis.
“Sejak kapan dia di sini?” Bas mengangguk pada bartendernya yang sedang memoles gelas yang baru dicucinya. Seorang pria berompi hitam dengan topi bowler, yang model rambut dan wajahnya seperti Iggy Pop.
“Hampir satu jam lalu,” jawab si Bartender datar. “Datang begitu saja, dan minta Absinthe. Terus minum. Sepertinya dia memang ingin mabuk.”
Shut up,” sengat Bas. Si Bartender langsung diam.

Bas menggelengkan kepala, dan memanjat naik kursi di sebelah Kenneth yang kosong. “Cukup, Ken.” Bas menarik gelas sloki yang baru saja diisinya dan hendak ditempelkan Kenneth ke bibirnya lagi. “Jangan minum lagi.”
“Diamlah!” Kenneth berusaha menggapai gelas sloki di cengkeraman Bas, tapi gagal, karena Bas terus menjauhkan gelas tersebut darinya. Dia juga mengambil botol Absinthe di depan Kenneth. “Kenapa kau tidak biarkan aku sendiri, Bas?!” kata Kenneth keras, mengernyitkan wajahnya. “Aku benar-benar butuh minum.”
“Kau tidak butuh minum,” Bas menyanggah. Meletakkan gelas yang dipegangnya di atas meja konter di samping kanannya. Jauh dari jangakauan Kenneth. “Kau butuh teman bicara.”
“Aku tidak ingin bicara.”
“Kau harus bicara. Selama ini, kau menyimpan semua masalahmu sendirian. Memilih tidur, untuk meringankan kepalamu. You need to talk, Ken. Kau bisa cerita padaku. Apa pun itu.”

Kenneth memandang Bas lama, sebelum dia akhirnya menghadapkan wajahnya ke depan. Ke arah rak-rak kaca berisi ratusan botol minuman berbagai jenis dan merk.
“Demi Tuhan, kau itu gay…” gumamnya kemudian, membuat Bas berjengit. “Itu katanya,” dengus Kenneth. Menyeringai sinis. “Dia bilang aku tak selaki-laki Shinji…, untuk melakukan kebaikan yang telah dia berikan untuknya.”

Mata Bas bergerak ke kiri dan ke kanan. Wajahnya berkerut-kerut, sepertinya sedang berpikir. “Dia yang kau maksud ini siapa?” tanyanya bingung. “Shinji…? Shinji…, bukannya telah meninggal?”
“Dia telah meninggal tapi tetap hidup di pikirannya.” Mendadak suara Kenneth meninggi, dan dia memukul-mukul bagian samping kepalanya. “Shinji… tetap ada di hatinya. Tak sekali pun pergi…” Kata-katanya memudar seiring matanya menutup lemah. “Aku pusing sekali sekarang.”

Kenneth melipat kedua sikunya di atas meja bar, dan meletakkan kepalanya menyamping di atasnya. “Aku mau tidur.”

Bas mendengus. “Kenapa tak kau katakan pada Neela perasaanmu padanya? Empat tahun kalian tinggal bersama, dan kau tetap tak memberitahunya kalau kau sebenarnya normal. Katakan saja terus terang… Siapa tahu itu bisa merubah—”
“Kau mau dia tahu kalau aku punya kakak seorang Homoseksual?” sela Kenneth, menyingkap matanya tiba-tiba.
“Memang” (Bas menelan ludah) “ada masalah dengan itu?” Dia kelihatan tersinggung, tapi sama sekali tidak ingin memperlihatkannya. “Kau malu?”
“Menurutmu?” Kenneth balas bertanya.

Selama beberapa saat tak ada yang bicara. Kedua kakak-beradik itu hanya bertukar pandang dengan pose ganjil yang akan kelihatan sangat lucu di mata orang lain yang melihatnya. Kenneth dengan kepala masih di meja, dan Bas yang duduk menyamping menghadapnya.

“Kau harus pulang sekarang.” Bas memutar kursinya menghadap ke meja di depannya. Meraih gelas berisi Absinthe di sebelahnya, dan menenggaknya sampai habis. “Malam ini, pintuku tak terbuka untukmu.”

Kenneth terkekeh.

“Aku tidak bercanda,” kata Bas, tegas. “Kau harus pulang sekarang, atau aku terpaksa menyuruh security untuk melemparmu keluar. Dan jangan lupa bayar bill minummu.”

Bas turun dari kursi, dan beranjak pergi. Tak memedulikan suara kikik yang keluar dari bibir Kenneth.

“Kau masih akan ada di jalan, kalau aku tak memberimu modal untuk kelab ini, Bastian!” teriak Kenneth keras ke punggung Bas yang hampir saja menghilang di tengah keramaian yang berdansa di belakangnya. “Tak tahu diri.” Kenneth berdecak, berusaha menggapai botol Absinthe yang berada di luar jangkauan tangannya.
“Kau harus bayar bill-mu sekarang, Kenneth.” Si Bartender menyambar botol Absinthe tersebut, beserta gelas sloki kosong di atas meja.
“Ayolah, Toni,” Kenneth merajuk. “Jangan kejam padaku.”
“Aku hanya menuruti perintah atasanku,” kilah Toni.
“Dia tak memerintah apa pun padamu.”
“Bayar, Kenneth. Atau aku akan memanggil security.” Toni bertolak pinggang, memiringkan kepalanya, menatap Kenneth.

Kenneth menggeleng tak percaya. Mendengus-dengus karena tak lagi bisa bicara. Dia mengeluarkan dompet dari saku celananya. Menarik keluar kartu kreditnya dan memberikannya pada Toni, yang segera membawanya pergi, dan kembali dengan buku bill bersampul kulit. Membukanya, dan memberikan pulpen pada Kenneth. “Aku harap kau masih bisa mengingat tanda tanganmu sendiri,” ujarnya, saat Kenneth bengong memandang kertas bill di dalam buku bill tersebut.
Shut up,” tukas Kenneth. Membubuhkan tanda tangannya cepat-cepat. “Fuck you.” Dia memaki Toni sambil turun dari kursinya.
Anytime, Kenneth. Aku akan menunggu.” Toni menyeringai, melambai pada Kenneth, yang berjalan pergi dengan terseok-seok, bergabung dengan kerumunan orang di lantai dansa.

“Kenneth!” Seseorang memanggilnya. Tapi Kenneth yang sudah setengah mabuk sepertinya menyangka kalau suara itu berasal dari kepalanya yang tak waras. “KENNETH!”

Seseorang menarik lengannya, membuatnya memalingkan wajah dengan gusar. Saat dia melihat Ella, tampang marahnya melunak. Meskipun kelihatan lemah, senyumnya mengembang. “Hey.”
“Aku antar kau pulang.” Ella segera menarik lengannya. Terus menariknya meskipun Kenneth berusaha keras melepasnya. “Jangan menolak,” kata Ella, sambil terus berjalan menyeruak ratusan orang yanh memenuhi kelab. “Kau mabuk, tak akan bisa berkendara sendiri.”
Kenneth tak bisa membantah. Kepalanya terlalu pusing, dan tubuhnya terlalu penat untuk berargumen dengan Ella. Memutuskan untuk menurutinya saja, dan berjalan kemana pun gadis itu membawanya.

Neela memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper. Tidak semuanya, karena tidak akan muat di satu koper yang akan dibawanya. Dia berpikir untuk membawa sebagian barangnya dulu, dan akan kembali lagi untuk mengambilnya setelah dia menemukan tempat tinggal untuknya besok. Dia sudah menelpon Malini, yang berjanji akan mencarikannya apartemen untuknya sementara. Dan berharap Malini akan menemukannya secepatnya.

Dahi Neela berkerut, ketika telinganya mendengar suara mobil memasuki halaman rumah. Dia langsung mendongak ke arah jam dinding di dinding sebelahnya. Jam dua pagi. Apa Kenneth yang datang?

Buru-buru, Neela melangkah keluar kamar. Berlari menyeberangi ruang tengah, dan sampai di depan pintu ruang depan, tepat ketika suara ketukan terdengar. Dia membukanya segera, dan langsung terperanjat melihat Kenneth merangkul erat seorang perempuan berambut coklat sebahu yang tidak dia kenal. Kepala Neela, entah kenapa, mendadak panas.

Kenneth melepaskan rangkulannya, menarik tubuhnya menjauh dari si perempuan, yang tampak kaget dengan reaksinya yang mendadak. Kenneth menoleh, bertemu mata dengan Neela yang memandangnya; campuran bingung dan syok. “Kau masih di sini?” dia mendengus sinis.  Matanya tak fokus. Dia mabuk. Dan tanpa menunggu Neela menjawab, Kenneth melangkah masuk ke dalam rumah. Meninggalkan perempuan berambut coklat itu sendiri di teras.
Dia cukup cantik. Dan seksi, dengan kaus hitam tanpa lengan dan rok jins pendek yang dipadu boot ber-hak tinggi.

Neela menunggunya berkata sesuatu.

“Aku mengantar Kenneth pulang. Dia terlalu mabuk, jadi tak dapat berkendara sendiri,” katanya, kikuk. “Aku Ella. Temannya.”
“Dari mana dia tadi?” Neela tak menggubris penjelasannya barusan.
“Dari… kelab.” Ella tersenyum grogi. “Dia selalu datang, kapan pun dia stres atau butuh…” Ella tak melanjutkan kalimatnya, mendengus, dan menundukkan wajahnya. “We’re just friends, Neela,” katanya lagi, saat dia mengangkat wajahnya lagi.
“Aku tahu.” Neela mengangguk. “Siapa lagi kalau begitu? Dia tak mungkin suka padamu kan?”

Mulut Ella segera saja menganga. “Kenapa tidak? Dia bisa saja menyukai siapa pun kan?”
Neela membulatkan mata, tak menduga Ella akan membalas kalimatnya dengan kalimat yang menurutnya absurd dan mustahil.
“Kalau tak ada yang menyukainya, aku bersedia menerimanya. Aku yakin dia akan lebih bahagia bersama diriku yang bukan apa-apa ini daripada dengan perempuan-perempuan sekelasmu yang hanya memikirkan materi dan popularitas.”

Neela berjengit. Dia tak bisa menebak kemana arah pembicaraan ini selanjutnya dengan kata-kata pedas yang dilontarkan Ella kepadanya sekarang.

“Maaf,” kata Neela buru-buru. “Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Maaf. Aku harus ke dalam.”
“Tapi—”
“Selamat pagi.”
BLAM!
Pintu menutup, melenyapkan sosok Ella. Neela berdiri di balik pintu, bersandar. Menajamkan telinganya, berharap Ella segera pergi. Dan dia pergi. Suara hak sepatu bootnya berkeletak-keletak menjauh, disusul suara mobil kemudian; taksi yang rodanya berderak meninggalkan halaman.

Setelah Neela yakin dia benar-benar sudah pergi, dia bergegas menuju ruang tengah. Kenneth pasti sudah masuk ke kamarnya sekarang.

Aku bilang aku tidak mau melihatmu lagi di sini.
Neela terlonjak mendengar suara Kenneth yang bergaung di ruang tengah. Dia sedang duduk di sofa tunggal paling ujung, menghadap ke arahnya.

“Aku akan pergi besok pagi,” kata Neela dengan suara agak bergetar. Campuran kesal dan juga sedih. Dia mengelus-elus dadanya, untuk mengatasi keterkejutannya. “Kau tidak usah khawatir.” Dia mengangkat wajahnya, agar terlihat tegar di depan Kenneth.

Kenneth mendengus sinis. Mengejapkan matanya lemah. “Kau… dan semua orang itu… tak tahu diri…”
Neela berdecak pelan. Menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan. “Ken, kau sebaiknya tidur. Kau mabuk—”
“Kenapa memangnya? Apa aku tidak berhak bicara di dalam rumahku sendiri?” Kenneth berdiri, melangkahkan kakinya satu per satu di lantai keramik yang dingin. “Kau sekarang berada di rumahku, kau ingat itu.”
“Aku ingat.” Neela membelalak padanya.
“Rumah yang selama empat lima tahun ini menjadi tempat tinggal gratis untukmu.” Kenneth tak mengindahkan perkataan Neela barusan. “Lebih lama menampungmu dari pada rumah Shinji.”
Neela melengos. Kelihatan sekali kesal. “Oh. Tak ada gunanya aku bicara denganmu sekarang.” Dia memutar kakinya, pergi. Tapi tangan Kenneth dengan cepat menarik lengannya. Mencengkeramnya erat.
“Kenneth! Lepaskan! Sakit tahu!”
Tapi Kenneth tidak peduli. Dia mendorong Neela ke belakang, membuat punggungnya membentur tembok dengan keras. Dia mengaduh kesakitan, tapi Kenneth tetap tak peduli.
“Coba kau katakan sekali lagi… kalau aku gay,” dia berbisik di telinga Neela.
“Kenneth…” Neela merintih. Kuku Kenneth menjepit daging lengannya. “Please…”
“Katakan padaku… kalau aku tak selaki-laki dia; tak sejantan dia.”
Neela menatap Kenneth dengan marah. “Apa yang kau lakukan sekarang padaku, benar-benar menunjukkan betapa tak laki-lakinya dirimu!”

Neela sama sekali tak percaya, bagaimana Kenneth bisa melakukan apa yang dia lakukan padanya setelah dia berteriak ke mukanya. Namun, dia memang melakukannya, dengan beringas menekan bibirnya ke bibirnya. Memaksakan ciuman brutal kepadanya.

Neela mengerang. Menutup mata dan bibirnya rapat-rapat, berusaha keras melepaskan diri. Tapi Kenneth sangat kuat, membuatnya akhirnya terpaksa membuka bibirnya, dan menggigit bibir Kenneth sekeras yang dia bisa.
Kenneth tersentak, menarik tubuhnya menjauh. Menutup bibir bawahnya yang berdarah dengan tangannya. Matanya membulat marah pada Neela yang terengah-engah di depannya.

“Kau BRENGSEK!!!” Neela berteriak sejadi-jadinya, dengan air mata membanjiri wajahnya. “KAU BAJINGAN!!!”
Tapi sepertinya Kenneth sudah hilang akal. Dia maju lagi, dan meraih pinggang Neela, menariknya merapat.
“Kenneth!” Neela meronta di dekapannya. Tapi lagi-lagi, Kenneth lebih kuat darinya. Dia tak bisa kemana pun selain pasrah. Namun anehnya, Kenneth pun diam. Dia hanya memeluknya. Tak melakukan apa-apa.
“Aku tidak mau menyakitimu, Neela,” Kenneth berkata kemudian. Suaranya teredam. “Aku tak akan pernah bisa.”

Neela tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia terlalu murka pada Kenneth sekarang. Merasa telah direndahkan olehnya.  Tangannya tetap berusaha mendorong Kenneth dari badannya.

“Aku sakit melihatmu mengharapkan seseorang yang tak akan lagi bisa hadir dalam hidupmu,” lanjut Kenneth lagi. Dia kemudian menarik wajahnya. Menatap Neela yang masih dalam dekapannya dengan mata merah. “Aku… menungguimu sampai kau tertidur setiap malam, agar aku bisa menyingkirkan gitar peninggalannya yang selalu kau peluk, agar benda itu tak mengganggu tidurmu. Aku tersiksa, setiap hari kematiannya datang, karena aku akan mendengar suara ratapanmu. Aku sebal melihatmu tersenyum dan memejamkan matamu, ketika kau berada di atas panggung, karena aku tahu kau sedang membayangkan dirinya menonton pertunjukanmu.”

Neela memandang Kenneth dengan tatapan heran. Dia sama sekali tak mengerti apa maksud kata-katanya itu.

Satu tangan Kenneth naik ke belakang kepala Neela. Meremas rambutnya yang terjurai berantakan. “Aku sayang padamu,” ucapnya kemudian, menatap Neela lekat-lekat. “Tidak kah kau sadari itu?”
“Ken…?” Hanya itu kata yang bisa keluar dari bibir Neela sekarang. Dia sangat bingung dan takjub mendengar kalimat barusan dari bibir Kenneth. Apa Kenneth sedang menyatakan cinta padanya? Tidak mungkin. Tapi… kedengarannya begitu.

Kenneth melepaskan satu tangannya dari tubuh Neela, meraih tangan Neela, dan membawanya ke dadanya. “Rasakan…” dia tersenyum muram, “detak jantungku. Dia selalu berdetak seperti ini, kapan pun dia tahu kau berada di dekatku.”

Neela membuka tutup bibirnya, tak mampu bersuara. Dia memandang ke dada Kenneth sekarang, merasakan degupan cepat jantungnya.

“Kau bilang… aku tidak selaki-laki Shinji. Apa kau pernah merasakan sentuhannya? Apa kau pernah merasakan dia menyentuhmu seperti aku menyentuhmu sekarang?”

Kenneth mengusap pipi Neela dengan jari-jarinya, memandangnya dengan amat lembut, sehingga membuat Neela tak mampu merasakan lagi kakinya. Dan saat Kenneth mengecup keningnya, dia diam, memejamkan mata. Sesuatu bergejolak di perutnya; sesuatu yang perlahan naik dan membuat seluruh badannya kebas. Jantungnya,  berdegup luar biasa kencang, namun bukan lagi merasa terancam, melainkan karena merasa nyaman.
Bibir Kenneth sekarang menyentuh hidungnya, kemudian matanya, lalu pipinya, lalu…

Dia mundur. Kenneth mendadak mundur. Melepaskan Neela begitu saja, setelah Neela sudah siap merasakan sentuhan bibirnya kembali di bibirnya. Dia benar-benar menunggu. Tapi… mendadak saja dia membuyarkannya. Begitu saja. Menjauh sejauh yang dia bisa, dengan ekspresi yang tak bisa dimengerti. Entah menyesal, ketakutan, atau jijik—Neela tak tahu.

“Aku… Maafkan aku,” kata Kenneth, menatap Neela dengan tampang bingung. “Aku mabuk… dan…” Dia menekan kedua matanya, sambil terhuyung mundur. “Kau…” (dia bersandar di ujung sofa) Neela…, kau tak lagi bisa bersamaku. Benar-benar tak bisa.”

Neela ingin sekali menghardik Kenneth, karena berkata begitu. Tapi tak tahu, kalimat apa yang harus dipilihnya untuk menghardiknya, sehingga dia hanya bisa terpaku, bersandar lemas di dinding di belakangnya.
Dalam hitungan menit, hatinya hancur, melambung, kemudian hancur lagi dengan begitu cepatnya.

“Pergilah besok pagi,” kata Kenneth lagi. “Aku akan bilang pada Malini, agar dia menggantikanku sebagai manajermu.”

Neela tak membalas. Menundukkan kepala, dan mengatupkan mulutnya erat. Bibirnya serasa beku dan lidahnya kelu. Lagi pula, Kenneth sudah memutuskan, dan tak ada hak baginya untuk menolak. Tak ada hak untuknya bertanya apa yang mesti ia tanyakan padanya.
Tak ada.
...

(bersambung)
Ditulis oleh: Putu Indar Meilita

11 comments:

Gloria Putri February 14, 2012 at 8:38 PM  

mbaas...yg nomer 7 buruan ga pake lama yaaaa....

bedewe neela ngeselin habisss....mending aq aja ygmerasakan kelaki lakian ken...hahaahaha #udakebeletkawin

wkwkwkwkwk

Rusyda Fauzana February 14, 2012 at 9:11 PM  

*Sigh...Kenneth you're so pathetic here...

Di antara semua koleksi Mba Lita, ternyata Juna paling juara kharismanya, paling coool! Shinji, Kenneth dan Dai lewaaaattt... :D

Ayo Mba Lita, lanjutkan!
#pembaca udah nggak sabaran

Nonanovnov February 14, 2012 at 11:02 PM  

Wow!!!
haduh, makin kesini makin speechless, cuma bisa kedip-kedipin mata, bengong..
Makin..makin..makin seru ini, mbak :))

Feby Oktarista Andriawan February 15, 2012 at 3:37 AM  

Tuh kan, mbak sih kenapa di matiin Shinjinya, jadinya kan Neela kpikiran terus.. Ngomong2 itu adegan ciuman brutalnya gw kirain bakal menjurus gitu.. :D

yuli she,  February 15, 2012 at 12:09 PM  

Yaelah Neela,,,
Kenapa ga lari ke arah Ken dan langsung peluk dia aja sih????

Sim salabim,,yang ke 7 besok udah langsung ada,,,*ngarep banget*

Rona Nauli February 15, 2012 at 9:33 PM  

kamu tuh ya, Lit...kalo dah nulis roromantisan, bikin aye gemessss dweh :D

cubit Lita, ahhhhh...:p

Lita February 15, 2012 at 11:41 PM  

@Glo: Ada Poni kebelet kawiiiiinnnn! Wkwkwkwkwkwkwkwkw. dasar kamu, Dek. (^.^)
Nanti kalau chap 7 di pos aku kabarin yah...

@Rusyda: Juna emang... aduh! Slurrrp, dehhh *histeris*

Kenneth emang ngenesin banget di sini ya? gak tega juga. Tapi harus begini, biar asik *stuck ide*

@Novi: Keep reading, Vi. Mudah2an lanjutannya juga bisa dibilang seru ya? Tq, darl'.

@Feby: Aduh si Adek. dasar laki-laki. Begitu baca 'ciuman brutal' imajinasinya langsung lanjut. Gawat tahu, kalau bablas, Neelanya nanti tekdung dong. wkwkwkwkw. Kamu kenapa sih, cinta amat sama Shinji...? Sampe segitu meweknya. :P

@Yuli She: Pengennya sih langsung nyeruduk, tapi takutnya Ken-nya malah kabur. Hihihi. Amin. mudah2an moodku baik terus, biar bisa cepet di post. Tx Yuliiii>

@Rona: Awww! Sakit Madam. *elus2 pipi* Kemana ajaaaaa? Aku rindu... *melo*

rezKY p-RA-tama February 16, 2012 at 8:43 PM  

saya ninggalin jejak aja ya mbak lita,,heheh

-------------- February 17, 2012 at 8:17 PM  

there are so much thngs that i have to share here.
first, kenapa bang febri ngebet sama shinji -__-
second, kenapa bastian lbh keliatan 'laki' ya menurutku. dia lbh ok inner kelaki-lakiannya.
third, kapan lanjutannya keluar?!


xoxo,
gitasyalala.blogspot.com
sekotakmalam.blogspot.com

Ulfah April 16, 2012 at 11:12 AM  

Kalau seandainya aku ada disamping Neela sekarang, aku bakalan teriak sekencang-kencangnya: NEELAAA! Wake up! Stop being stupid and just move on already ☹
Buat Kenneth-oppa juga, udah deh oppa, Neela ga suka sama oppa. Mending oppa sama aku aja *wink-wink* Dengan senang hati, daku akan menerimamu :* *giggles*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP