A Lot Like Love (5)

>> Sunday, February 12, 2012

Hurt

“PLANETARIUM?” Neela memandang Dai dengan tampang seolah terguncang. Mereka berdua sekarang sedang berada di Taman Ismail Marzuki, di depan gedung Planetarium.
“Kenapa?” tanya Dai dalam suara beratnya. “Afraid?” Kedua matanya menyipit.
Dahi Neela berkerut. “Takut kenapa? Aku… hanya heran kau memintaku menemanimu ke Planetarium.”
“Karena aku takut kalau masuk sendiri,” kata Dai. “Tapi aku benar-benar ingin menonton pertunjukannya. Jadi, mumpung kau bersamaku, kuajak kau kemari untuk menemaniku nonton. Lagipula cuma satu jam pertunjukkan. Gelap, sehingga takkan ada orang yang mengenalimu. Kita bisa menghabiskan waktu sampai jam enam di sini. Kenneth bisa menjemputmu di sini nanti.”
Neela memiringkan kepalanya. “Kau takut?” dengusnya. “Yang benar saja? Di dalam cukup menyenangkan, kok. Bagaimana bisa kau takut menonton luar angkasa dan segala atributnya? Bagus sekali, kau tahu?”
I’m just afraid,” kata Dai, menunduk sekilas, menyembunyikan raut malunya. “Outer space… adalah kelemahan terbesarku.”
Neela masih memandang Dai dengan tatapan tak percaya. “Kau tidak kelihatan seperti laki-laki penakut,” komentar Neela.
“Apa sekarang aku kelihatan seperti laki-laki penakut?”
Senyum Neela mengembang ceria. Dia menggeleng. “Tidak,” jawabnya.
“Syukurlah.” Dai membalas senyumnya. “Kalau begitu, ayo masuk,” dia mengajak. Tangan kirinya direntangkan ke arah Neela; mengisyaratkan agar Neela menggapainya.

Mulut Neela segera saja membentuk huruf ‘a’. Dia bingung harus bagaimana. Dia tidak mengenal Dai, dan akan sangat tolol kalau dia mengakrabkan diri begitu saja pada laki-laki yang sama sekali asing baginya. Namun, hatinya berkata lebih keras mengatasi suara di kepalanya, sehingga tak lama kemudian, diiringi senyum kecil, dia meraih tangan Dai. Berjalan bersisian dengannya memasuki gedung planetarium.


Sepanjang pertunjukkan Dai tak melepas tangan Neela sedikit pun. Dia tegang, itu jelas, karena jari-jemarinya yang mencengkeram tangan Neela berkeringat. Namun, dia tetap menengadahkan kepalanya ke atas. Menatap luar angkasa tiruan yang dipenuhi bintang, meteor, matahari, planet-planet dan sebagainya, yang muncul bergantian, diiringi suara berat seorang Narator, yang menjelaskan satu per satu mengenai benda-benda langit tersebut. Matanya berkilatan, oleh pantulan cahaya, dan bibirnya membuka, entah karena takjub atau takut. Tapi dia tetap diam, tak satu pun kata terlontar dari bibirnya untuk mengomentari apa yang sedang berlangsung di depan matanya. Dan dia tetap diam kala mereka telah berjalan melewati exhibition room, selepas pertunjukkan.

“Kau baik-baik saja?” Neela akhirnya menanyai Dai. Cemas, melihat betapa pucat wajahnya.
Dai mengedikkan bahu. Kedua matanya mengejap-ngejap, menatap kosong ke depan. “Entahlah,” jawabnya. “Kenapa?” Dia menoleh pada Neela.
“Kau… pucat.”
Dai menaikkan kedua bahunya sesaat. “Aku hanya merasa,” (mereka sudah hampir mencapai pintu keluar) “kebas.” Dai mendorong pintu kaca, membiarkan Neela keluar lebih dulu.
“Kebas? Kenapa? Aku kira kau malah sangat tertarik dengan pertunjukkan tadi. Matamu tak mengedip sedikit pun.”
Itu karena… aku takjub.” Dia menghentikan kakinya di puncak undakan teras. Mendongak memandang langit sore yang kelabu. “Tapi aku juga merasa takut.”
Neela turut melihat ke atas. Menemui bintang-bintang kecil yang mulai muncul di angkasa luas. “Apa yang membuatmu sampai begitu takut dengan luar angkasa?”
Keduanya saling memandang.
“Suatu hari dunia akan berakhir, kau tahu?” ujar Dai. Neela melebarkan mata, tak menduga kalimat itu akan dipilih Dai sebagai pembuka. “Dan di mimpiku langit di atas itu akan membuka bagai tirai, memperlihatkan ruang angkasa yang luas, tak berujung. Kemudian semua berputar, matahari, bulan, bintang, planet dan lain sebagainya akan berpusar. Kita semua…, berputar. Begitu kencang, dan akhirnya terlempar keluar dari Bumi.”
Neela meringis. “Itu mimpi yang menakutkan,” komentarnya. “Karena itu kau begitu takut dengan tempat ini?”
“Bisa dibilang begitu.” Dai terdiam sejenak. “Waktu SD, aku pernah kemari bersama teman-teman sekolahku untuk menonton pertunjukkan. Dan aku hanya bertahan lima menit di dalam. Begitu pesawat berputar, dan atap di atas menghitam, aku mulai gemetaran. Dan saat ribuan bintang muncul, aku langsung menjerit-jerit. Membuat pertunjukkan dihentikan untuk beberapa saat, sampai guruku mengevakuasiku keluar ruangan. Sejak itu aku tidak pernah ke Planetarium lagi. Namun entah, beberapa tahun belakangan, sejak adikku meninggal, aku mendadak ingin ke sini.” Dia menunduk, mendengus tersenyum, meskipun terlihat muram.
“Adikmu meninggal?” Neela kelihatan kaget.
“Ya,” angguk Dai. “Empat tahun lalu.”
“Perempuan atau…”
“Laki-laki.”
“Kau pasti dekat dengannya?”
Dai menggeleng, memasukkan kedua tangan ke saku jaket. “Aku bahkan tidak mengenalnya.”
Neela mengernyit. “Maksudmu?”
“Aku di Amerika sejak kuliah, sedangkan adikku tinggal di sini. Sejak itu kami tak pernah bertemu—yah, mungkin bertemu, namun jarang, kecuali bila kami menghadiri acara tertentu. Aku dan dia…, jadi seperti orang asing.” Dai menghela napas, memandang Neela di sampingnya. “Tak satu pun yang kutahu tentang dirinya. Aku bahkan tak merasa punya asik selama itu, namun…, setelah dia meninggal…, semuanya berubah untukku.” Dai kembali menengadah ke langit, yang sekarang berangsur gelap. “Hubungan darah takkan bisa dibantah, berapa ratus tahun pun waktu yang dibutuhkan untuk melupakannya.”
“Meninggal kenapa…, adikmu itu?” tanya Neela, hati-hati.
“Dia meninggal karena kebodohannya sendiri,” sahut Dai. “Dan aku tak bisa bilang padamu, kebodohan apa itu.” Dia tersenyum.
It’s okay.” Neela membalas senyumnya. “Kau berhak untuk tidak bercerita.”

Untuk beberapa saat, mereka bertatapan. Saling mengembangkan senyum yang ditujukan untuk meringankan hati masing-masing. Kemudian Dai menggerakkan kakinya pelan, maju, dan berkata, “Ayo” pada Neela yang masih terpaku di tempat, berpaling, memamerkan punggungnya yang lurus dan kokoh, menuruni undakan. Neela segera menyusul. Menapakkan kakinya satu per satu di atas anak tangga yang membawanya ke dasar.

“Kau tidak menelpon Kenneth untuk menjemputmu di sini?” tanya Dai ketika mereka berdua berjalan kaki menyusur jalan besar menuju pintu keluar area TIM.
Neela menggeleng. “Lebih baik aku naik taksi saja. Kalau dia menjemputku, aku malah akan kena semprot habis-habisan karena nekat pergi sendirian. Aku sedang malas mendengar omelannya.”
Dai tertawa. “Galak berarti, manajermu?”
“Galak sih tidak,” sahut Neela. “hanya saja dia terlalu cerewet. Persis perempuan.”
Lagi-lagi Dai meresponnya dengan tawa. Matanya menyempit, dan kedua pipinya menunjukkan bolongan kecil yang menggemaskan. Dia tampan sekali, Neela membatin seraya memandangnya. Tidak bosan melihatnya. Dan dia juga menyenangkan.

“Baiklah,” kata Dai kemudian, setelah tawanya reda. “Aku akan membantumu mencarikan taksi.”
“Kau sendiri…, mau kemana setelah ini?” Neela bertanya.
Dai tidak langsung menjawab, menarik napas dan mengembuskannya perlahan. “Ke suatu tempat…”
“Ke?”
“Mau ikut?” Dai mendadak menghentikan kakinya. Memandang Neela dengan senyum simpul menggoda di wajahnya. Angin bertiup kencang tiba-tiba, meniup rambutnya yang hitam pekat bagai malam. Membuat sosok kokohnya terlihat begitu mengesankan di mata Neela, yang tak bisa mengedipkan mata memandangnya. “I’ll protect you. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Kenapa Dai mengatakan kalimat seperti itu, Neela sama sekali tak mengerti. Namun, perkataannya itu membuatnya melambung seketika. Dadanya menjadi begitu sesak, dan jantungnya berdegup amat sangat kencang sekarang. Dan dia tak mampu memutuskan; mengiyakan ajakannya atau menolaknya.

Just go, hatinya berkata. Dia berjanji akan melindungimu. Dan dia baik.
Jangan, suara kecil di kepalanya membalas. Kau tidak tahu siapa dia. Jangan membuat Kenneth lebih marah padamu.

“Neela…” Dai membuat Neela mengangkat kepalanya yang tertunduk. “Come with me?
Neela memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas, dan kemudian berkata, “Maaf, Dai, aku tidak bisa. Terima kasih. Selamat malam.”
Setelah itu dia berpaling, dan berlari pergi.

Kenneth membanting ponselnya ke atas sofa. Kesal, setelah entah berapa puluh, ratusan atau ribuan kali mencoba menghubungi Neela. Ponselnya tidak aktif. Dan dia juga tak mengirimkan pesan teks atau apa pun yang menginformasikan keberadaannya sama sekali. Membuat Kenneth putus asa dan ingin sekali memukul sesuatu untuk mengatasi kecemasannya.
Lelah, dan didera sakit kepala, Kenneth mengenyakkan tubuhnya di sofa. Bengong memandang buffet panjang di seberangnya, dengan pikiran campur-aduk. Kemana kau, Neela? Dia bertanya-tanya cemas. Terus-terusan berharap kalau dia tak apa-apa. Benar-benar tak apa-apa.

Kenneth mengangkat punggungnya dari sandaran. Membungkuk, dengan kedua siku menopang di kedua lututnya. Tangannya menutup sebagian wajahnya, dan matanya menatap jam dinding yang telah menunjuk ke angka sembilan.
Perut Kenneth serasa anjlok. Resah akan keselamatan Neela di luar sana. Menyalahkan diri sendiri karena meninggalkan Neela sendirian di kantor Malini setelah mereka kembali dari sebuah perusahaan yang mempekerjakan Neela sebagi spoke person produknya. Seharusnya aku antar dulu dia ke rumah, gerutu Kenneth pada dirinya sendiri. Bodoh kau, Kenneth!

Terdengar suara derak di halaman. Disusul suara mesin kendaraan memasuki pekarangan. Kenneth bangkit, setengah berlari menuju ruang depan. Berharap penuh, kalau kendaraan itu mengantar Neela pulang. Dia menarik pintu depan membuka, keluar ke teras dan melihat mobil biru muda metalik berhenti di depannya. Tak lama kemudian pintu belakang dibuka, dan Neela keluar dari dalamnya.

Kenneth mengembuskan napas lega. Menelan ludah.

“Darimana saja kau?” sembur Kenneth begitu Neela berada di depannya, dan taksi yang mengantarnya beranjak meninggalkan halaman.
“Jalan-jalan,” jawab Neela lemah. Berlalu begitu saja melewati Kenneth. Masuk ke dalam rumah.
Kenneth mengikuti. Kelihatan jengkel. “Kau tahu sudah jam berapa ini?” Mereka berdua telah berada di ruang tengah sekarang. “Kau sendirian di luar sana. Aku sangat cemas,” lanjutnya lagi.
Neela melempar tasnya ke atas sofa, mengempaskan tubuhnya kemudian. “Aku sudah besar, Ken,” katanya, mendongak pada Kenneth. “Aku sudah dewasa, bukan ABG lagi. Kau tidak perlu mencemaskanku begitu.”
“Neela.” Kenneth duduk di sofa lain di sebelahnya. “Kalau kau bukan siapa-siapa, hanya perempuan biasa yang ada di pinggir jalan, aku tentu tak peduli,” kata Kenneth. “Tapi kau—”
“Ken… tolong…,” Neela menyela. “Aku lelah. Sangat. Aku minta maaf, kalau aku melakukan kesalahan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tadi…, aku hanya perlu sendirian…, jadi aku pergi ke tempat yang aku sukai. Tak ada seorang pun tahu aku ada di sana. Jadi kau tidak usah khawatir.”
“Tentu saja aku khawatir,” tukas Kenneth. “Setiap kau mendengar sesuatu yang berhubungan dengan Shinji—apa pun itu, moodmu seketika berubah. Kau mendadak galau berlebihan. Kau—”
“Jangan bawa-bawa Shinji,” Neela memotong buru-buru. Menegakkan tubuhnya. “Tak ada hubungannya dengan Shinji.”
“Malini menelponku, mengatakan kalau dia mengatakan sesuatu padamu yang berkaitan dengan Shinji, dan mendadak saja kau ingin pulang. Kau pergi begitu saja. Apa yang tidak berhubungan?”
Neela membenamkan wajahnya ke tangannya.
“Kenapa kau jadi begitu sedihnya hanya karena seseorang yang sudah tak ada lagi untuk memberimu kasih sayang, yang bahkan tidak sekali pun pernah ditunjukkannya padamu? Sampai-sampai kau rela membahayakan dirimu sendiri—”
“Kenapa… nadamu… selalu sinis pada apa pun… yang berkaitan dengan Shinji?” tanya Neela terbata-bata. Memandang tajam Kenneth yang langsung bungkam. “Kenapa kau begitu tidak menyukainya?”
Kenneth berjengit. Tampak syok. “Aku tidak bilang aku tidak menyukainya?”
“Kau selalu menunggu di mobil kapan pun kau mengantarku ke makamnya,” kata Neela dengan suara setengah memekik.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Neela. Ini tak ada kaitannya dengan itu.”
“Oh, ada saja,” kilah Neela. Melebarkan matanya. “Kau tidak pernah antusias kapan pun aku bercerita tentang Shinji. Siapa pun yang membahasnya.”
“Itu karena aku bosan! Dia sudah—”
“Kau begitu tidak suka padanya, padahal kau tahu, karena dialah kau bisa jadi manajerku!”
“Hei! Hati-hati bica—”
“Kau mendapatkan banyak uang dari hasil jerih payahku!”—(Mata Kenneth langsung membeliak)—“Dan itu karena Shinji! Shinji yang merencanakan semua dari pertama! Dia yang begitu baik menolongku!”
“Oh, begitu?” Kenneth bertolak pinggang. Melotot pada Neela yang terus berbicara. “Hebat sekali dia,” cetusnya sinis.
“Dia memang hebat! Tak bisa dibandingkan dengan dirimu yang bahkan tidak jelas jati dirinya. Demi Tuhan, kau itu GAY, Kenneth! Kau tak selaki-laki dirinya untuk melakukan apa yang dia telah lakukan untukku!”

Seperti petir yang menyambar, kalimat Neela itu. Menghancurkan hati dan melumerkan otak Kenneth seketika. Membuat seluruh darah di tubuhnya sekarang naik ke ubun-ubun kepalanya, dan menggelegak siap meledak. Tangannya mengepal, dan bibirnya gemetar demi menahan emosi.

“Pergi dari sini,” kata Kenneth, dengan napas berat, setelah dia berhasil menguasai amarahnya.
Neela mengerutkan dahi. “A-apa?”
“Tinggalkan rumah ini,” kata Kenneth lagi, menunduk, menghindari mata Neela yang membulat ke arahnya. “Aku merasa… kau tidak membutuhkanku lagi. Jadi mulai sekarang, kau bisa pergi, dan tinggal di tempat lain…, melakukan apa pun yang kau suka.”

Air mata Neela meluncur ke pipi tanpa ia menyadarinya.

“Mulai hari ini… aku tidak akan peduli padamu lagi,” sambung Kenneth. “kau bisa cari orang lain untuk menjadi manajermu. Aku pergi. Saat aku kembali nanti, aku harap kau sudah tak ada lagi di sini.”
Setelah itu Kenneth berbalik, berjalan meninggalkan ruang tengah menuju ruang depan. Membiarkan Neela berdiri terpaku dengan muka datar seperti patung.

Just let her be, Kenneth membatin, menyambar salah satu kunci yang menggantung di gantungan kunci di dinding belakang pintu. Don’t care about her anymore. Jangan pedulikan lagi.

Dia meraih gagang pintu dengan pandangan yang nanar. Air matanya menetes, tak mampu ditahannya lagi. Dengan gontai dia melintasi teras, turun ke halaman dan berjalan ke arah motor besar yang terparkir di sebelah mobilnya. Menaikinya, menyalakannya, dan langsung melarikannya. Keluar dari pekarangan rumah.
(Bersambung)

Ditulis oleh: Putu Indar Meilita
...

12 comments:

Rusyda Fauzana February 12, 2012 at 8:18 PM  

Why I'm so speechless reading this chapter...
What're u going to do with them Mba Lita?

Banyak hal2 di luar dugaan terjadi di A lot like love ini.
Ternyata Kyouta meninggal dan Ken terlalu protektif dan posesif. Dan Dai phobi dengan cyber space. Di sini karakter tokoh2nya keluar denga kuat. I like the way u characterize them :)

Rusyda Fauzana February 12, 2012 at 8:25 PM  

Lho, kok aku nulisnya cyber space heheh...maksudnya outer space :D

Lita February 12, 2012 at 8:48 PM  

@Rusyda: Makasih komentarnya, seperti biasa..., berkesan sekali. Thanks ya udah baca begitu dalam, sampai2 kamu tahu apa yang sebenarnya tersirat di chap ini. Sekali lagi, trim, Rus.

Feby Oktarista Andriawan February 12, 2012 at 11:30 PM  

Emang Kenneth beneran gay ya? kok gak pernah ke ekspose kegayannya, hehe.. Ah gw jd benci Kenneth soalnya dia kayak gak sk sm Shinji gt. Udah mati ttep diungkit2 aja tuh si shinji. Kyaknya emang harus diidupin lagi tuh si shinji,. :D

Gloria Putri February 12, 2012 at 11:49 PM  

kyuota mningal mba? 4th yg lalu brarti deket2 sama shinji meninggalna? knp?tar diceritain ga?

ah aq baca ini gemes sama neela mba..ken sgitu care sama dia tp dianya begitu.....

btw..ni ada miss type lg mba..cb cek yg bagian neela ngobrol ma dai soal kyuota...saranku..jgn buru2 klik publish post mba..mending km review baca ulang dl...jd biar ga ada miss type lg...kcuali klo km pakenya blogger droid kyak aq yg ga ada previewnya...eheewhehe

Lita February 13, 2012 at 8:15 AM  

@Feby: Kamu kok ngefans amat sama Shinji, Dek? Iya nih. Kayanya aku mesti ngidupin Shinji lagi deh. Shinji biarin kembar gitu yah? Kenapa jadi skrip sinetron? Wkwkkwkw. jangan benci Kenneth ya? Ken baik kok...

@Glo: Iya, Glo. Nanti dijelasin kok kenapa Kyouta mati. Ada hubnya sama waktu Juna disekap itu.

Btw, itulah kelemahanku: tidak teliti. Tapi teliti kan emang bukan tugas penulis, editor tuh yang punya tanggung jawab, kaya kamu. *ngeles mode on* Iya, nanti aku pasti lebih teliti lagi. Tq ya...

Nonanovnov February 13, 2012 at 11:42 AM  

Speechless baca chapter ini, mbak -.-
Ga nyangka Neela ngomong gitu, ga nyangka juga reaksi Ken begitu, emmmm..

Lita February 13, 2012 at 12:25 PM  

@Novi: Sama Nov. Aku juga gak nyangka, kenapa jadi begitu. #tepukjidat

Nonanovnov February 13, 2012 at 9:19 PM  

chapter selanjutnya kpn dipost mbak? *pembaca tidak sabaran* wkwkwkwk..
ditunggu kisah selanjutnya, skalian keluarin simpenan handsome man list di daftar, mbak :))
*serius, mbak hihihi, penasaran sih..semua caaaakeeep parahhh :D
walaupun smua kalah sama pesona cj, iya toh mbak? woot woot..

Mine and Me February 13, 2012 at 10:02 PM  

aduh ken, knp kamu posesif bgitu?
tapi aku suka kok cowok posesif #loh

-------------- February 17, 2012 at 8:03 PM  

HOW COULD YOU DO THAT NEE! ken kan baik! wuwuwuwu -3-
tapi Dai lbh menarik. well, at least he had the same phobia with me. you know what? the dark thing, wide space, or something too narrow and dark at the same time are soo creepy! so much!


xoxo,
gitasyalala.blogspot.com
sekotakmalam.blogspot.com

Ulfah April 16, 2012 at 10:51 AM  

Neelaaaa.. Jahat sekali kau ☹ Poor Kenneth-oppa..
Dear Kenneth-oppa, kalo Neela jahat ke oppa lagi, oppa bisa datang ke aku ☺ My shoulder and my heart are available for you ♥

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP