A Lot Like Love (4)

>> Friday, February 10, 2012

Open Your Heart 

NEELA memejamkan mata. Menghela napas panjang dan mengembuskannya seiring dia menggerakkan busur biolanya di atas senar biola yang dipegangnya, bersama dengan puluhan violis yang serentak memainkan biolanya di belakangnya Melodi merdu segera terdengar, mendayu, menyayat hati. Menghipnotis semua orang yang mendengarnya.

Satu per satu instrumen lain dimainkan kemudian. Berharmoni dengan suara biola, menciptakan melodi yang manis dan sendu. Denting piano, petikan gitar, harpa, dentam perkusi, dan suara berat selo, menyempurnakan lantunan musik dari lagu “For You”, yang liriknya juga disadur dari puisi milik Shinji. Lagu terbaru Neela yang sedang booming saat ini.

Lalu dia muncul. Shinji. Wajahnya, sosoknya—seluruhnya, berdiri di depan Neela, menyunggingkan senyum ceria pada Neela yang balas tersenyum sambil terus memainkan biolanya dengan penuh perasaan. Neela memejamkan mata kembali, fokus pada musik, tanpa menepis bayangan Shinji dari pikirannya. It’s a ritual, Neela membatin. I saw you in my mind, and everything will be alright.  Dan dunia hening, hanya ada Neela dan suara biolanya, serta Shinji yang menatap lembut di depannya. Waktu seolah berhenti.

Tepuk tangan membahana. Neela membuka mata. Biola di dekapannya. Senyumnya merekah, memandang para penonton di depannya, yang satu per satu bangkit dari kursinya sambil bertepuk tangan, sebagai wujud penghargaan atas musik terakhir yang Neela bawakan di konser tunggalnya tahun ini.  

Neela membungkuk penuh terima kasih dan rasa hormat pada semua penonton. Saat dia menegakkan tubuhnya kembali, rasa haru terlihat pada matanya yang berkaca-kaca dan bibirnya yang bergetar. Menggumamkan ‘terima kasih’ tanpa suara pada semuanya. Dan terakhir, melempar ciuman jauh pada orang-orang yang berdiri di barisan paling depan yang adalah sahabat; orang-orang yang beberapa tahun ini telah dianggapnya sebagai keluarganya: Kenneth, Lea, Juna, Malini, Jose dan Eiji—yang baru kali ini menyempatkan hadir di konsernya. Setelah itu dia memejamkan mata kembali, melihat wajah Shinji. Dan bergumam, “Terima kasih, Shin.”

Konser tunggal Neela menuai sukses dan banjir pujian. Sekali lagi, di tahun yang berbeda, dia mampu menunjukkan kebesaran dan kemurnian talentanya dalam bermusik. Membuat semua pihak, yang (tentu saja) mendapatkan keuntungan atas keberhasilan pertunjukkan musiknya puas dan lega, karena tak salah untuk mensponsori konser-konsernya yang telah berjalan selama empat tahun ini.  Neela sekali lagi, menjadi tajuk utama di tabloid, koran dan majalah elit dan bergengsi, yang memuji musik, terutama lirik lagu-lagu yang dibawakannya. Penuh arti, komentar mereka. Tanpa ada yang tahu, siapa penulis aslinya. Karena baik Neela mau pun Kenneth tak pernah mau memberitahu siapa pencipta semua kata-kata manis tersebut.

“Andai mereka tahu Shinji yang menulisnya,” gumam Neela dengan nada melamun, sambil membaca kertas-kertas musik di tangannya bergantian.

Malini tersenyum, memerhatikannya dari belakang meja kerjanya. “Itu amanat darinya. Dan kau tidak bisa menolaknya,” ujarnya.
Neela mendesah. Merapikan kertas-kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam map. “Aku heran. Ada orang seperti dia, yang berbuat baik, tanpa ingin memberitahu kalau dia telah berbuat baik.”
“Itulah Shinji.” Malini menunduk. Menghela napas perlahan, memejamkan matanya saat mengembuskannya. Dia, sampai sekarang masih terlihat sedih kapan pun nama Shinji tersebut oleh bibirnya. Masih menyalahkan diri karena tak mendampinginya di hari kepergiannya.
“Kau sangat sayang padanya, ya?” Neela berkata dalam nada prihatin.
“Dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri,” jawab Malini. “Dia dan Lea…”
“Apa benar…, Shinji sangat mencintai Lea?”
Malini mengangguk membenarkan. “Sangat.” Tak sedikit pun dia berusaha menyembunyikannya dari Neela.
“Aku tidak bisa… dibandingkan dengan Lea, tentu saja.” Neela mendengus.
“Tentu saja tidak,” sahut Malini. “Karena Lea adalah Lea. Dan kau adalah kau; orang yang sangat berbeda. Shinji mencintai Lea karena memang sudah takdirnya untuk mencintainya, dan kau juga begitu. Tapi…, please, Neela,” Malini meraih tangan Neela, “move on. Shinji akan sedih kalau kau terus meratapinya dan membuang sisa hidupmu hanya untuk mengharapkannya kembali dan menyesali cinta yang tak akan pernah kau dapatkan darinya.”

Kalimat Malini menyembur lebih lugas daripada kalimat Eiji beberapa waktu lalu. Tapi Neela tentu tak bisa marah, karena dia benar. Semua orang benar. Tak seharusnya dia terus terkungkung dalam cinta sebelah pihak ini. Apa lagi, Shinji sudah tak ada.

Neela menarik tangannya dari Malini. Dia tidak bermaksud begitu, tentunya, namun sesuatu yang panas kembali membuncah naik, dan dia tidak mau berurai air mata di depan Malini. Tidak ingin perempuan cantik itu tahu kalau dalam hati kecilnya dia menyetujui semua kata-katanya.
“Aku pergi dulu,” pamit Neela. Berdiri dari kursi yang didudukinya.
“Kemana? Bukankah baru satu jam lagi Kenneth menjemputmu?” Malini turut berdiri.
“Aku… bisa pulang sendiri.” Tidak seharusnya aku terdengar begitu menyedihkan, gumam Neela dalam hati.
Malini mendesah, berjalan memutari meja. “Neela. Aku minta maaf atas kalimatku. Aku hanya—”
Neela memeluk Malini erat tiba-tiba. “I know. Aku hanya ingin pulang sekarang.” Dia melepas pelukannya. Tersenyum manis. “Cuma ingin sendirian sebentar.” Neela mundur, memutar badannya.
“Tapi Neela—oh, biarkan aku mengantar.” Malini berpaling, berjalan ke arah kursinya.
“Tidak!” kata Neela keras, membuat Malini berhenti dan kembali menghadapnya. “Tidak usah, Malini,” ucapnya lagi, melunak. “Aku naik taksi. Limousine. Aku akan baik-baik saja.”
Setelah itu dia membalikkan badan, berjalan menuju pintu ruang kerja Malini yang sedikit membuka, dan keluar tanpa menoleh ke belakang lagi.
Berlari secepat mungkin menyusuri koridor, begitu dia yakin sudah berada di luar jangkau pandang Malini.

Busway. Neela tidak pernah menyangka kalau dia akhirnya berhasil naik dan berada di dalamnya. Cukup nyaman, pikirnya. Mungkin karena sekarang dia duduk dengan nyaman di sisi kiri busway yang sekarang dia tumpangi ini.
Lengang sekarang, hanya ada beberapa penumpang saja, sehingga dia tidak perlu khawatir akan ada yang mengenalinya. Lagi pula, dia sudah mengenakan topi, jaket, dan berpenampilan seadanya demi menyamarkan diri, kendati tetap saja terbilang nekat bagi dirinya, memutuskan naik busway daripada taksi—limousine, seperti apa yang dikatakannya pada Malini beberapa saat lalu di kantornya.
Oh, Kenneth pasti sangat murka. Neela mendengus geli.

“Maaf, Mbak.” Seseorang mendadak mencekal pundak Neela dengan keras, membuatnya tersentak dan menengadahkan wajahnya. “Saya mau duduk di sebelah Mbak.” Laki-laki dengan tampang sayu, sepertinya tak fokus berkata padanya. Penampilannya membuat Neela merasa terancam.

Untuk sepersekian detik dia hanya bisa melongo, tak tahu harus berkata apa, dan baru saja hendak menolak permintaan laki-laki tersebut, ketika seseorang mendadak muncul di belakang laki-laki itu, mencengkeram pundaknya, dan berkata, “Dia bersama saya,” dalam suara tegas dan aksen yang unik. “Kau bisa kembali ke tempat dudukmu di belakang.”

Baik Neela dan laki-laki kusam itu melihat padanya. Jantung Neela berdegup luar biasa kencang, begitu mengenali wajah orang tersebut. Dai. Dia Dai Tanaka! Neela takkan pernah bisa melupakan wajah tampannya. Tapi… bajunya…?

“Oke… oke.” Pria kusam itu mengangkat tangannya. Mundur ke belakang. “Maaf.” Dia segera pergi. Berjalan terseok-seok ke belakang.

Neela memerhatikan penampilan Dai di depannya. Dia…, kelihatan kasual. Flat cap hitam, jaket fleece abu-abu dengan kerah tinggi yang melapisi kaus berkerah rendah di bawahnya. Dan Neela, suka dia yang seperti ini.

“Hai…, Nona Neela.” Dai menyapanya lebih dulu, sementara Neela masih terbengong-bengong mengamatinya.
“K-kau… kenapa bisa ada di sini?”
“Kau sendiri bagaimana bisa naik busway?” Dai terkekeh. Badannya sedikit membungkuk. Satu tangannya mencengkeram pegangan yang menggantung di atas. “Manajermu sepertinya sama sekali tidak peduli dengan keselamatanmu,” ujarnya lagi.
“Kenneth tidak tahu,” sahut Neela buru-buru. “Dia tidak tahu aku naik bus.”
Dai mengernyit. “Kau membahayakan dirimu sendiri.”
Neela tersenyum lemah. “Aku hanya… ingin sendiri.”
“Boleh aku duduk?” tanya Dai. Kedua alisnya berjingkat. Matanya mengarah ke bangku sebelah Neela yang kosong.
Neela mengangguk. “Tentu.” Dia tersenyum.
Dai duduk. Bahu mereka beradu. Jantung Neela lagi-lagi berulah. Mendesak-desak dadanya yang seketika kosong.
“Kau… belum jawab pertanyaanku,” kata Neela setelah hening beberapa saat. “Kenapa kau naik busway?”
Mata hitam Dai menatapnya, dan Neela langsung merona. Buru-buru berdeham, mengalihkan wajahnya ke jendela di sampingnya untuk menyembunyikannya.
“Aku… suka city tour,” kata Dai kemudian. Neela memberanikan diri untuk memandangnya lagi. “Kapan pun aku di Jakarta, aku berkeliling,” ujarnya. Nyengir. “seperti sekarang.”
“Sendirian? Naik bus?”
“Ya.”
“Tidak bersama orang-orang yang bersamamu waktu itu?”
Dai mendengus. “Aku kan sudah bilang, mereka hanya teman. Aku sekarang hanya sendirian.”
Neela ber-hm paham, meskipun dia tidak sepenuhnya paham.
“Kau mau kemana?” tanya Dai lagi.
“Pulang,” jawab Neela singkat.
“Mau aku antar?” Tampang Dai kelihatan serius, dan Neela pastinya tak merasa keberatan. Tapi, mengingat Kenneth yang tidak menyukai Dai, dia harus berpikir dua kali untuk menerima tawarannya.
“Tidak perlu,” kata Neela. Tersenyum.
“Kau takut Kenneth marah padamu?” Dai tergelak.
“Bu-bukan itu.”
“Oke. Aku tidak akan mengantarmu pulang…” Dai menghadapkan wajahnya ke depan. “Temani aku jalan-jalan saja hari ini.”
“Eh?”
Dai kembali menoleh pada Neela. “Ini masih siang, Nona Neela,” ujarnya. “Baru jam empat.”
“Sudah sore. Dan Kenneth akan selesai latihan Kendo jam 6. Aku hanya perlu berada…”
“Di suatu tempat, sampai dia menjemputmu,” sambar Dai. Alis Neela bertaut. “Dan masih dua jam lagi sampai jam enam. Aku berjanji,” Dai buru-buru bicara, ketika Neela hendak mengucapkan kata penolakannya lagi, “Kenneth akan menemuimu tepat waktu. Takkan ada masalah.”
Neela membeku. Mata Dai yang lekat menatapnya, membuatnya serasa kebas.
Come on.” Dai membujuk.
Neela memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya selama beberapa detik untuk berpikir, sampai akhirnya dia kembali memandang Dai dan berkata, “Baiklah.”
Seringai Dai begitu menyenangkan untuk dipandang. Namun tetap saja Neela merasa tak nyaman, karena bersamaan dengan itu, wajah Kenneth terus muncul di benaknya. Tapi—“Please, Neela, move on.” Suara Malini terngiang di telinganya tiba-tiba. “Kau hanya perlu membuka hati.” Itu kalimat Eiji. “Jalankan hidupmu, sebagaimana mestinya.”

“Nona Neela.” Suara Dai terdengar di sela-sela lamunannya. “Nona Nee—“
Neela dengan mendadak memalingkan wajahnya. Menatap Dai dengan tatapan tajam. “Jangan panggil aku dengan Nona lagi. Neela saja cukup,” tegasnya.
Dai tersenyum. Mendengus, dan mengejapkan mata sekali. “Oke…, Neela,” katanya kemudian.

“APA?!” Kenneth berteriak pada ponselnya. Mengatasi keriuhan di ruang latihannya. “Bagaimana bisa kau membiarkannya pulang sendiri?!”
Dia pergi begitu saja,” tukas Malini yang menelponnya. “Aku tidak tahu harus apa. Dia sedih, dan…”
“Dia sedih? Kenapa?” Kenneth berjalan keluar ruangan, berbelok ke kiri menuju ruang ganti. Shinai[1]nya masih tercengkeram kuat di tangannya.  
Aku mengatakan sesuatu padanya, dan dia jadi sedih. Mendadak pamit pulangMelarangku untuk mengantarnya—”
“Kau mengatakan apa?” tanya Kenneth tak sabar, mendorong gusar pintu ganda ruang ganti.
Ada kaitannya dengan Shinji.”—(Kenneth mendengus kesal, memutar matanya ke atas)—“Aku… memintanya untuk melupakannya sedikit.”
“Kau tidak bisa mengatakan itu padanya,” balas Kenneth. “Tidak sekarang, saat hatinya masih rapuh. Dan aku sendiri tidak tahu sampai kapan,” kata Kenneth muram, memasukkan Shinai-nya ke dalam salah satu lubang rak Shinai yang berada di depan dinding seberang locker. Kemudian dia duduk membungkuk di bangku panjang di tengah ruangan, menyapu rambutnya ke belakang.
“Maaf, Kenneth,” kata Malini penuh rasa bersalah. “Aku—”
It’s okay. Kau tidak salah,” sela Kenneth. “Aku hanya perlu menelponnya sekarang. Atau berharap dia sudah sampai di rumah. Sampai nanti Malini.”
Bye, Ken.”
Keduanya mengakhiri telpon bersamaan.

Kenneth menunduk memandang kakinya yang telanjang di balik hakamanya. Terdiam sejenak, sampai akhirnya bergumam, “Sialan kau, Shinji.”

(Bersambung)
Ditulis oleh: Putu Indar Meilita

[1] Pedang bambu yang dipergunakan oleh para Pekendo

...

Extra: New Comer.

Ladies. Kenalkan saudara laki-laki Kenneth, Bastian. 
Tapi jangan diharapkan ya, karena Bastian ini, 100 persen gay.
Tapi dia sangat baik, dan sayang sama Kenneth. Juga Neela. 
Just stay tune ya

14 comments:

-------------- February 10, 2012 at 2:59 PM  

kenapa harus siwon ? dia laki lho, aku udah penah coba #eh

Lita February 10, 2012 at 3:15 PM  

@Gita: abis dia mirip Chris. Heheheh. Cup2. Jangan ngambeg ya... Tapi serius? Kamu udah pernah cobain? #semakinkeluarjalur

putri ria,  February 10, 2012 at 5:16 PM  

jadi cengar cengir sendiri bcanya mba ..kalo jadi Neela ,gantian Dai yg aku culik aku simpen buat pajangan di kamar .. lhoo ??
hahaha ..piss mba lita :D

Nonanovnov February 10, 2012 at 5:56 PM  

Hah, siwon mbak, siwon????
aiaahhh, aku naksir siwon juga sebenernya :( *kenapa yang kutaksir banyak banget ya??*

tapi cocok sih, mukanya siwon cantik soalnya, mbak wkwkwk

Rusyda Fauzana February 10, 2012 at 6:19 PM  

Horeeeee.... ada Dai :)

Mba Lita, klo Dai itu aslinya siapa?

Wah, bener2 deh koleksinya mba Lita cakep2 semua hahaha...
Ga akan bosan deh baca ceritanya #sindrom liat orang cakep

Jadi penasaran apa yang dirahasiakan Kenneth dan Bas tentang kehidupan mereka ya?
Ayo, Mba Lita semangat menulis yaaaaa...
Luv ya! ;)

-------------- February 10, 2012 at 8:09 PM  

ommo~
aku gak suka siwon si sebenernya, aku sukanya sama kyuhyun #kebas jidat
wkwkwkwk
anak suju aku uda cobain semua, ahaha
#lho #eh

Mine and Me February 10, 2012 at 9:20 PM  

itu bastian kok mirip sama mantan aku ya... hehehe

pengen bisa main biola kayak neela *mupeng*

Gloria Putri February 11, 2012 at 1:46 PM  

mbaaaa.....kenapa bukan gambany dai yg dipajanggg? #goyang2pundakmbalita

aq maunya fotonya dai....penasaran apakah dai kayak lee min ho...wkwkwkw

Lita February 12, 2012 at 6:04 PM  

@Putri Ria: Iya. Kalau aku yang jadi Neela aku pasti langsung nyosor. Wkwkwkw... Oh,centilnya akyu... :P

@Novi: Hihii... aku pilih Siwon karena dia agak mirip ma Chris. Aku gak tahu, kalau dia ngetop juga ya. Heheheh

@Rusyda: Namanya Dennis Joseph O'Neil/Dennis Oh. Ganteng banget ya?
Aku soalnya pengagum cowo cakeuuupp. Sekalian aja jadinya.
Iya Rus, aku pasti semangat. Thanks yah.

@Gita: ah Gita. Aku jadi speechless. :P

@Suci: Aku juga pengen bisa main biola *menunduk penuh harap*

@Glo: Waduh... Dennis Oh tuh gak bisa disamain ma Lee Min Ho. Dennis cakep, Lee Min Ho ganteng. Sama aja ya...? Pokoknya gitu deh... hehehe...

Rusyda Fauzana February 12, 2012 at 7:41 PM  

Whaaaa.... Dennis Joseph O'Neil parah amat cakepnya hihihi...
Kok aku nggak ngeh ya klo dia juga ikut main di East of Eden, mungkin mataku cuman mantengin Song Seung Heon aja kali ya... :p

Aku kira dia Japanese actor, ternyata South Korea, kok jarang main K-drama ya dia?

putri ria,  February 13, 2012 at 1:01 PM  

mba lita ,bastian kan digambarin kaya siwon ya ..aku bner" ga kebayang kalo siwon dandan kaya dragqueen trus pegang kecrekan nyanyi lagu st12 dipinggir jalan kaya yg dia bilang di chapter 3 ..
buahahahahaha ..
*menghayal*
#ketawagulinguling :D

Lita February 13, 2012 at 1:54 PM  

@Putri: Bas banyak ngalamin banyak hal sebelum kaya di chap 3 itu. Nanti pelan2 dijelasin ya. Tapi emang sih, gak nahan banget, kalau Siwon bener2 pake apa yang aku deskrip di chap 3 itu. Wkwkwkwkw.

putri ria,  February 13, 2012 at 2:23 PM  

oh bgitu .. oke deh i'll wait for that ..
:)
kiss deh buat mba lita :*

Ulfah April 16, 2012 at 10:32 AM  

Itu si Bastian, Siwon-oppa bukan? Gapapa deh gay, kan Siwon-oppa milik Kibum-oppa seorang *sibumShipper* :D
Tenang aja Mbak, aku tetep ngarepin Kenneth aja kok *wink-wink*
Neela, yang cepet ya move on-nya. Sedih juga ngeliat si cantik broken heart gitu :)
Mbak Litaaa.. I love you :* Thank you for writing this won-der-ful story :3

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP