A Lot Like Love (3)

>> Sunday, February 5, 2012

White Lies

“KEN…”
“Hm?”
Where’s your boyfriend?
Kenneth menantap Neela dengan tampang seolah terguncang. Kemudian, sambil menyetir dia menjedot-jedotkan belakang kepalanya ke punggung kursi sebagai ungkapan rasa syoknya.
Neela langsung tertawa. “Kenapa memangnya?” tanyanya heran.
“Kau menanyakan hal yang tak seharusnya kau tanyakan,” sahut Kenneth. Menggeleng.
Dia membelokkan stirnya ke kanan, lalu ke kiri, bergabung dengan kendaraan lain yang melaju di jalan raya yang agak lengang setelah hujan.
“Kenapa? Kita sudah tinggal satu rumah selama empat tahun. Dan… sedikit sekali yang kutahu tentangmu, sementara kau… sepertinya tahu semua tentangku. It’s not fair.
“Apa yang ingin kau tahu?” tanya Kenneth.” Aku selalu di sisimu selama dua puluh empat jam setiap harinya. Aku setia padamu.”—Neela terkekeh—“Seharusnya tidak perlu kata dariku agar kau tahu bagaimana aku,” ujar Kenneth.
“Aku hanya penasaran…, kapan kau punya waktu untuk dirimu.” Neela menyandarkan punggungnya ke belakang. “Kapan kau bertemu dengan… pacarmu—Kau punya pacar kan?” Neela menggigit bibir untuk mencegah dirinya tertawa. “Boyfriend…, gitu?”
“Itu jelas—” (Kenneth menaikkan kedua alisnya saat menatap Neela) “—bukan urusanmu,” tegasnya. “Lagipula kenapa kau tanya itu?”
Well. Hanya penasaran. Melihatmu latihan tadi… membuatku sangat menyayangkan kalau kau gay.” Neela mengembuskan napasnya, memandang ke depan.
Kenneth mengernyit. “Menyayangkan? Kenapa?” Dia menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas di depannya menyala merah.
“Kau terlalu ganteng untuk menjadi seorang gay.” Neela nyengir padanya. “Ria berkata, kalau dia akan mengejarmu sampai dapat kalau saja kau bukan gay. Dan aku yakin…, perempuan lain pastinya juga begitu.”
“Apa kau juga begitu?” Mendadak Kenneth menatap Neela tajam. Sorot matanya serius, meskipun bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
Neela mengeluarkan suara yang kedengaran seperti cegukan. Ekspresinya heran. “Aku…?” Dia menaikkan bahu. “Mungkin,” katanya, tersenyum menatap Kenneth. “Perempuan mana pun akan sangat menyukaimu, Kenneth.
“Kecuali perempuan itu telah sangat mencintai pria lain, yang bahkan masih terus dicintainya walau pun pria yang dia cintai itu sudah mati.”
Senyum Neela pudar. Wajahnya sekarang masam. Dia berpandangan dengan Kenneth selama sepersekian detik, sampai akhirnya kembali menghadapkan wajahnya ke arah kaca di depannya. Mendesah kesal, dan membenamkan tubuhnya ke sandaran kursi. Sedangkan Kenneth, dia mendengus, mengulum senyum, dan kembali menekan pedal gas mobilnya lagi.
“Kau merusak mood-ku.” Neela mendesah. Satu tangannya menopang kepalanya yang dimiringkan. “Tidak seharusnya kau menyinggung hal itu.”
“Aku tidak bermaksud menyinggung,” sanggah Kenneth, memutar kemudinya ke kiri lagi. “Lagi pula itu benar kan?”
“Aku bertanya tentang dirimu, dan kau malah mengalihkan topik.” Neela memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya. Memandang keluar jendela.
“Oke.” Kenneth nyengir. “I have my ‘me-time’ of course,” katanya kemudian.
Neela kembali memandangnya. “Kapan?”
Kenneth memandangnya sesaat sebelum akhirnya menggeleng heran. “Kapan pun kau tidur di malam hari.”
Mata Neela membeliak. “Kau bertemu pacarmu saat aku tidur?”
Kenneth tidak menjawab. Hanya tersenyum simpul.
“Seperti apa dia?” tanya Neela lagi penuh minat. “Tampan?”
“Dia tinggi,” jawab Kenneth. “Tampan itu relatif. Ya kan?” Dia menyeringai.
“Kau benar-benar punya pacar kalau begitu.” Neela kelihatan tak percaya. “Kau menghancurkan banyak hati perempuan,” gelengnya.
“Termasuk dirimu?”
Neela mendengus. “Hatiku sudah hancur,” jawab Neela tanpa memandang Kenneth dalam suara melamun. Kenneth segera saja mengerutkan dahinya, tampak terganggu dengan kalimatnya. “Dan tidak ada lagi yang tersisa untuk dihancurkan oleh pria lain.” 
“Sekarang kau yang merusak mood-ku,” ujar Kenneth masam.
Neela memalingkan wajah, menatap Kenneth yang tak lagi memandangnya. Memberengut, seolah marah. Atau memang marah? Neela tak tahu.

Ponsel Kenneth mendadak berbunyi. Cepat-cepat, dia memasang ear-phone yang memang selalu melingkar di lehernya kapan pun dia mengemudikan mobil ke masing-masing telinganya, menekan salah satu tombolnya, dan berkata, ‘halo’.
“Oh. Hei, Lea,” sapanya riang, setelah si penelpon balas menyapa dari seberang. Mata Neela melebar begitu mendengar nama Lea disebut. “Ada apa?” Kenneth bertanya.
Kenneth terdiam selama beberapa saat, sementara Lea bicara. Tampang cemberutnya berganti dengan tampang ceria. Senyumnya kembali merekah. “Oh, tentu. Neela pasti mau,” katanya kemudian.
“Ada apa?” tanya Neela tak sabar. Tapi Kenneth tak menggubrisnya, terus bicara pada Lea. “Oke. Kebetulan kita searah. Kami akan mampir ke sana. Oke… Sampai ketemu kalau begitu. Bye, Lea.”

Pembicaraan singkat itu berakhir, dan Kenneth segera melepas ear-phonenya.

“Ada apa, Ken?” Neela kembali bertanya. “Lea… bilang apa?”
“Juna sudah pulang dari Amerika,” kata Kenneth. “Mereka mengundang kita makan malam di rumah mereka,” jawab Kenneth.
“Aku mau!” kata Neela antusias.
“Aku tahu. Karena itu aku menyanggupinya. Kita ke sana sekarang.”
Setelah itu Kenneth menekan pedal gas, mempercepat laju mobilnya.

Cuma Kenneth dan Neela yang bisa datang memenuhi undangan makan malam Juna dan Lea, karena yang lain berhalangan hadir. Eiji, tentunya sama sekali tidak bisa datang, karena dia masih berada di Bali, sementara Malini ada acara di luar kota. Dan Jose, tentunya tidak akan datang kalau Malini tak bersamanya. Lebih memilih menghabiskan malam minggu bersama Tara, putrinya yang sekarang berumur empat tahun. Setahun lebih muda daripada Dean.

“Dean mana?” Neela menanyai Lea, yang sedang membagikan daging asap buatan Juna ke piring-piring kosong di depan masing-masing.
“Tidur,” jawab Lea, seraya meletakkan irisan daging asap terakhir ke piring Juna, baru setelah itu duduk di kursinya. “Dia sudah mulai sekolah sekarang, dan sering kali capek. Jam tidurnya jadi lebih cepat dari pada biasanya.”
“Tidak terasa, ya?” Kenneth mendengus, meneguk air di gelasnya sedikit. “Dia sudah besar.”
“Waktu berlalu,” timpal Juna, kemudian memasukkan potongan kecil daging asap ke mulutnya. “sangat cepat tanpa kita sadari.”
“Tak merencanakan anak kedua?”
Lea melebarkan matanya pada Kenneth, sedangkan Juna terkekeh.
“Kenapa?” tanya Kenneth heran, sambil melumat makanan di mulutnya. “Itu pertanyaan yang wajar. Dean sudah besar, dan tak ada salahnya kalian menambah anak satu lagi kan?”
“Memang ada rencana,” Juna menyahut. “Tapi… kami harus bicarakan dengan matang.”
Kenneth memandang Juna dengan tampang seolah terguncang. “Buat apa lagi dibicarakan. Just… make love—” (daging yang baru saja masuk ke dalam mulut Neela langsung menyembur keluar) “—and the baby will appear right away.”
Juna tertawa, sedang Lea hanya bisa menggeleng putus asa. Neela melap bibirnya dengan lap linen yang ada di pangkuannya.
“Aku tahu sulit membesarkan seorang anak, tapi… Dean butuh teman kan? Di rumah besar ini…, dengan seorang ayah yang jarang di rumah.” Kenneth mengacungkan garpunya ke arah Juna yang langsung melengos. “Dia pastinya kesepian.”
“Diamlah, Ken,” kata Juna, yang langsung direspon oleh tawa geli oleh Kenneth.

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Menyantap makanan di piring masing-masing.

“Oh ya,” Lea angkat bicara. “Eiji bilang kalian mengunjungi makam Shinji minggu lalu?”
Neela mengangguk pelan. “Ya,” jawabnya. “Keesokan hari setelah tanggal kematiannya. Aku baru ada waktu saat itu,” jelas Neela. “Aku melihat bunga Lili-mu.”
“Aku berusaha untuk datang tepat waktu,” kata Lea, mengembuskan napas. “Bagiku penting untuk menemuinya saat itu.”
Lea sama sekali tak menyadari kalau Kenneth membeliakkan mata mendengar kalimatnya. Menyembunyikannya dengan baik, di balik gelas air putih yang diminumnya.
“Kami juga bertemu teman Shinji di sana,” kata Neela lagi, bersemangat. “Dia mengunjungi makamnya juga.”
“Teman Shinji?” Lea mengernyit. “Siapa?”
“Dai,” sebut Neela ringan. “Dai Tanaka.” Neela kembali memotong daging asap di piringnya.
Lea membeku. Mulutnya membuka tanpa suara. Sedangkan Juna, dia menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke belakang, dan mengunyah makanan yang baru disuapkan ke mulutnya. Dan cuma Kenneth yang menyadari keganjilan sikap Lea dan Juna sekarang.

“Kalian kenal dia…, Dai Tanaka itu?” tanya Kenneth, mengerutkan kening.
Lea meletakkan pisau dan garpunya di atas piringnya yang hampir kosong, dan menggeleng. “Tidak. Tidak terlalu,” jawabnya. Tersenyum muram.
“Dia sendirian?” tanya Juna.
“Tidak. Ada banyak orang bersamanya,” jawab Kenneth. “Mengawalnya; begitu kelihatannya. Tapi…, dia bilang orang-orang itu hanya teman. Teman yang menjaganya.”
Juna mengangguk. Tangannya menggapai gelas airnya, membawanya ke mulutnya. Meneguknya sedikit.
“Aku suka Dai,” kata Neela. “Dia… sopan sekali. Dan ramah.”
Lea dan Juna bertukar pandang.
“Menurutku dia menyebalkan.” Kenneth meraih serbet di pangkuannya dan menyeka mulutnya.
“Itu kan menurutmu,” timpal Neela.
“Kau suka padanya karena dia tampan. Klise.”
“Dan kau tak suka padanya, karena dia tidak menggubrismu. So gay.
“Jangan ngaco,” tegur Kenneth dengan tatapan mata tajam.
“Bisakah kalian diam?” kata Juna, dingin.
Neela yang baru akan membalas perkataan Kenneth, segera mengatupkan bibirnya buru-buru.
“Kalian… tahu dia kan?” Kenneth bertanya lagi. Mengarahkan matanya pada Lea kemudian Juna bergantian.
Lea tersenyum. “Hanya kenal biasa. Karena… dia teman Shinji.”
“Jangan dipikirkan,” tambah Juna. “Dia bukan orang penting.”
“Eiji juga berkata begitu.” Kenneth mendengus. “kalau dia bukan orang penting.” Nada suaranya sinis.
Lea dan Juna hanya diam. Tak membalas perkataannya.

Cukup lama Kenneth dan Neela menghabiskan waktu di rumah Juna dan Lea. Mengobrol mengenai banyak hal, sampai akhirnya Kenneth melihat Neela menguap, yang kemudian membuatnya memutuskan untuk segera pulang. Dan ketika mobil Kenneth memasuki halaman rumah, malam sudah sangat larut, dan jam menunjukkan pukul sebelas malam.

“Malam, Kenneth.” Neela melambai dengan mata mengantuk, sambil berjalan menuju kamarnya.
“Malam,” balas Kenneth. Meletakkan tas latihannya di sofa ruang tengah, sambil memandangi Neela yang terhuyung masuk ke kamar. Seperti biasa, lupa menutup pintu.

Salah satu hal tentang Neela yang Kenneth amat hafal, adalah dia amat sangat ceroboh kala terserang kantuk. Dan kalau dia telah terlelap, dia juga takkan menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya. Takkan terbangun, meskipun ada gempa hebat sekali pun.

Kenneth berjalan perlahan menuju kamar Neela. Menekan sakelar lampu, seraya melewati ambang pintu, mendekat ke tempat tidur, di mana Neela sedang berbaring tengkurap. Sepatunya masih di kaki, jaketnya masih melekat di badannya. Tasnya tergeletak sembarangan di sampingnya.
Kenneth mendengus. Menggelengkan kepala, dan mengembuskan napas tajam.

Kenneth meraih tas di samping Neela dan meletakkannya di atas meja di sisi tempat tidur. Kemudian dia melepas kedua sepatu Neela dari kakinya, dan meletakkannya di lantai. Mengangkat tubuh Neela dengan sangat hati-hati, memutarnya ke arahnya, dan mendudukkannya. Membuka upper-coat dan sweater yang masih melekat di badannya, baru setelah itu membaringkannya di tengah kasur. Selama itu Neela sama sekali tak terjaga. Terlelap begitu dalamnya, sampai-sampai tak tahu apa yang Kenneth lakukan padanya.

Kenneth menyelubungi tubuh Neela dengan selimut, mengusap rambutnya lembut, dan mencium keningnya, sebelum menegakkan badannya lagi. Berdiri di samping tempat tidur, dengan senyum simpul di wajahnya. “Sleep well, Neela,” bisiknya, kemudian melangkah pergi. Mematikan lampu kamar, sebelum berlalu melewati pintu, dan menutupnya rapat.

Kenneth melepas kausnya ke atas, seraya menggerakkan kakinya ke arah kamar. Melemparnya ke wadah cucian kotor di sudut, dan bergegas mendekati lemari. Membukanya, dan menarik satu kaus dari tumpukan pakaian di rak atas lemari, mengenakannya, kemudian kembali melangkahkan kaki menuju pintu. Sempat menyambar jaket kulit dari tiang gantungan, baru setelah itu keluar dan menutup pintu di belakangnya.

“Halo, Kenneth.” Seorang wanita dengan dandanan menor, menyapa Kenneth dari belakang meja resepsionis. Dia merentangkan tangannya yang buntek ke arah Kenneth yang segera menghampirinya.
“Hei, Kelly,” balas Kenneth ramah. Memeluknya hangat dan mencium kedua pipinya. “Dia ada?” tanyanya setelah menarik diri dari Kelly.
“Oh. Mau dimana lagi dia selain di sini malam-malam begini. Apalagi kelab sedang ramai. Dia tentunya tidak mau melewatkan kesempatan bertemu pria-pria tampan yang datang ke sini kan? Sepertimu.” Kelly, mencubit pipi Kenneth gemas. “Oh Tuhan, kau bertambah tampan kapan pun aku melihatmu.” Dia nyengir genit.
“Kau juga tambah seksi,” Kenneth balas memuji. “Dadamu… you’ve got boobs job, eh?” Kenneth memandang ke arah dada Kelly yang besar, yang sebagian menyembul dari balik gaun merah ketat yang dikenakannya.
Kelly mengerjapkan matanya, membuat bulu mata palsunya yang panjang itu beradu. “Ya,” jawabnya bangga. “Mau pegang?” godanya. “Ini persis seperti sungguhan.”
I pass.” Kenneth mengangkat kedua tangannya, seperti orang menyerah. “Bas bisa marah nanti.”
“Bas tidak berhak marah padamu, Cowok Ganteng.” Kelly mencolek dagu Kenneth.
Kenneth tergelak, kemudian berkata, “Sampai nanti,” pada Kelly, dan memalingkan tubuhnya, berjalan ke arah pintu ganda yang tertutup tak jauh di sebelah kirinya. Membukanya, dan masuk ke dalam ruangan di baliknya.

Dentum musik menyambut kedatangan Kenneth, mengiringi entakan kaki, tangan dan badan kerumunan orang yang sedang berdansa di depannya. Kenneth melangkah pelan, menyeruak keramaian yang sebagian besar didominasi oleh para drag queen, gay serta lesbian yang malam ini berada di kelab untuk menghabiskan malam. Kelab yang memang ditujukan bagi para pencinta sesama jenis serta trans seksual, yang sudah bertahun-tahun ini menjadi persinggahan tetap Kenneth, kapan pun pikirannya gundah.
“Halo Kenneth.” Beberapa drag queen dengan dandanan heboh menyapa kala Kenneth berjalan melewati mereka. Kenneth tersenyum ramah, dan berbicara sejenak dengan mereka, sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
Semakin ke dalam, semakin banyak orang memanggil namanya. Bergantian memeluknya, mencium pipinya atau sekadar bersalaman dan menanyakan kabar. Orang-orang itu tampak gembira melihat kemunculannya..

“Kau pasti sedang suntuk, ya, Sayang?” tanya Ella, salah seorang pramusaji—satu-satunya pramusaji yang ‘normal’ di kelab, dengan pandangan prihatin. Satu tangannya mengusap pipi Kenneth.
“Darimana kau tahu?” Kenneth nyengir padanya.
“Kapan pun kau stres, kau selalu datang kemari. Aku tahu itu.”
Kenneth menaikkan bahu. Tersenyum kecil, kemudian mengecup sebelah pipi Ella. “Aku ketemu Bas dulu,” katanya, yang segera dibalas anggukan oleh Ella.

Kenneth mendorong pintu ganda yang ada di sebelah bar, dan berjalan masuk ke koridor berpencahayaan temaram, dengan dinding merah hati yang kedap suara. Suara musik di luar segera saja teredam, hanya terdengar seperti dentum-dentum yang samar. Kenneth berjalan santai, menuju satu pintu berwarna senada dengan dinding-dinding di sebelahnya. Agak samar bila dilihat dalam keadaan redup seperti sekarang, tapi Kenneth sudah sering ke sini, jadi dia sudah sangat bisa membedakan, mana pintu dan yang mana dindingnya.

Dia mengetuk pintu.

“Oh! Kau di sini?” Seorang laki-laki muncul dari balik pintu yang dibukanya. Tampan, dan sama jangkungnya dengan Kenneth. Kenneth tidak menjawab, segera masuk ke dalam ruangan. “Kau stres lagi?”
“Menurutmu?” angguk Kenneth, membuka jaket kulitnya dan melemparnya ke sofa tunggal berlengan berwarna merah menyala di tengah ruangan.
“Kau stres.” Pria itu menatapnya tajam, seolah meyakinkan kalau dia benar. Mata abu-abunya bergerak-gerak di rongganya.
“Bas. I need to sleep,” kata Kenneth.
“Tidurlah kalau begitu,” kata Bas, menaikkan bahu. Dia mendekati Kenneth dan menyentuh pundaknya. Meremasnya. “You’re so welcome here. Ini kelabmu juga kan?” Bas tersenyum lembut.
Kenneth nyengir lemah. “Ini kelabmu. Kau yang membuatnya menjadi besar seperti sekarang. Aku tidak ikut andil.”
“Jangan merendah,” tukas Bas. Menggelengkan kepalanya dan mundur. “Kalau tidak ada kau, aku pasti masih berada di jalanan. Memakai make up dan rambut palsu. Menyanyikan lagu ST 12, mengerincingkan alat musik tak jelas itu.”
Kenneth terbahak. “Pantas kok,” candanya.
Bas diam. Menatap Kenneth penuh arti. “Dan juga…, kau adikku. Kita keluarga, dan saling melindungi. So… kalau kau memang butuh tempat sementara untuk kau anggap rumah…, di sinilah tempatnya,” katanya tulus. “Oke?”
Senyum Kenneth mengembang. Dia mengangguk pelan, dan berkata, “Oke” untuk membalas. “Thanks,” ucapnya.
“Aku memikirkanmu terus, Ken,” kata Bas, meraih jas merah muda yang disampirkannya di punggung sofa, memandang Kenneth lagi. “Bertanya-tanya sampai kapan kau akan membuat semua orang berpikir kalau kau itu gay? Kau pastinya merasa sulit memiliki kakak seperti aku.”
“Jangan bicara begitu,” sergah Kenneth. “Kau kakakku. Apa pun dirimu, kau tetap kakakku. Hubungan saudara tak kan pernah bisa putus hanya karena orientasi seksualmu berbeda.”
Bas menelengkan kepala. Matanya berkaca-kaca. “Kata-kata yang menyenangkan sekali,” katanya.
“Pergilah,” angguk Kenneth pada Bas. “Aku mau tidur.” Dia berjalan ke arah tempat tidur super besar yang didesakkan di depan dinding di tengah ruangan.
Bas terkekeh, dan berkata, “Tidurlah kalau begitu. Aku akan bangunkan kau empat jam lagi, agar kau bisa pulang sebelum Neela bangun.” Bas memakai jasnya di atas kemeja tipis yang dikenakannya sebelumnya.
Kenneth diam saja. Segera melempar tubuhnya ke atas kasur empuk yang dipenuhi banyak bantal, dan berbaring tengkurap. Terlelap begitu cepat, bahkan sebelum Bas menutup pintu.

(bersambung)
Ditulis oleh: Putu Indar Meilita

16 comments:

Rusyda Fauzana February 5, 2012 at 10:02 AM  

Thanks God... Kenneth is not gay :D

Ini jadi mengingatkan pada drama korea Personal Taste, tapi beda setting hehe...

I am always impressed by ur writing skill :)

putri ria,  February 5, 2012 at 11:17 AM  

jadi kenneth bukan gay .?
*bengong
asiiik ,,lope lope dah buat mba lita..
tapi aku tetep pengikut dai ..
kenneth mah lewaaat ..
*songooong haha :p

Gloria Putri February 5, 2012 at 1:36 PM  

kasih gambarannya kenneth sama dai dong mbaaa...biar aq bandingin....xixixixixixii

jgn2 kenneth jatuh cinta sama neela yaaaa?

thanks God dia ga gay....xxixixixixii

Rusyda Fauzana February 5, 2012 at 1:36 PM  

Sama kita Putri Ria, Aku juga suka Dai :)

Mba Lita, munculin Dai Tanaka dooooong...(Loh...??? komentator kok ikutan request jalan cerita hahaha....)

Gloria Putri February 5, 2012 at 1:39 PM  

aihhhhh......aq barusan ngubek2 file lama.....keneth tuh yg km gambarin kayak christian sugiono yaaaa..........aaaaaaaaaaaaaaaa............

*melting

Nonanovnov February 5, 2012 at 2:56 PM  

Mbaaaaaaaak, Ken ga gay? *joget-joget* :)
Positive naksir Ken kalo gitu!

Feby Oktarista Andriawan February 5, 2012 at 10:01 PM  

Dai ini siapa sih kayaknya misterius bgt.. Hidupkan Shinji kembali.... hehe

BlogS of Hariyanto February 6, 2012 at 8:47 AM  

nice post story..kisahnya mengalir lancar seakan terbayang jelas scene-nya like a movie :-)

Lita February 6, 2012 at 1:47 PM  

@Rusyda: Makasih ya, Rus. Thank you loh. Gak papa request, kadang ngebantu juga kok, buat aku buat cerita selanjutnya. Hihihi.

@Putri: Kenneth bukan gayyyy. Memang. Sudah sejak di Nyanyian Sendu aku gak pengen dia jadi gay beneran. Hihihi. sayang soalnya, Christian Sugiono. Oke, deh Put. Berarti kamu timnya Dai, ya? Samaan kaya Rusyda.

@Glo: Tuh, Dainya udah kepampang. Nilai sendiri, cakep pa nggaknya. Ada yang protes, kenapa aku nyamain Kenneth sama Christian sugiono, tapi aku memang suka Tian daripada sekian celeb cowok lain di Indonesia. Hihihi. Kamu meltingnya, melting beneran, apa melting terguncang, Glo? *wkwkwkw*

@Novi: kamu naksir Ken, Nov? Awas ya, kalau liat Dai, kamu pindah ke lain hati *menyipit mengancam*

@Feby: dai itu pimpinan tertinggi kelompok mafia O ushi. Dia muncul di 'Lea' sebentar, sementara di Nyanyian sendu, dia cuma di mention aja. Kamu nyuruh aku idupin Shinji lagi? Nanti ceritaku malah jadi cerita misteri dong...

@Hariyanto: Makasih komennya, ya. Appreciate banget. *senyum*

-------------- February 6, 2012 at 10:24 PM  

woa! mbakyou! mau dong dpeluk ken
#bitchy
woho, i do love your writing skill, it just like read my in-depth-interview assigment (again)
can't wait the next story ! <3

susu segar February 9, 2012 at 8:26 AM  

pertama berkunjung, mataku tak berkedip untuk baca tulisan ini. . . . tak terasa bengong karena keindahan kata dan alur cerita yang runtut. . .

Lita February 9, 2012 at 1:18 PM  

@Gita: Makasih ya sayang. tetep baca kelanjutannya, ya. *hug*

@Susu Segar: Aduh, kamu kemari toh Non? Makasih ya komentarnya. Meaningful banget. Semoga kamu baca ya, kelanjutannya. *nyengir*

sarie February 9, 2012 at 6:32 PM  

Aiiiihhh makin ganteng aja nih mba' i DAI dan Kenneth .... ^_^

Nurhikmah Nani February 10, 2012 at 9:35 AM  

aku tetep pengikutnya Dai...hehehehe

Ulfah April 16, 2012 at 10:05 AM  

Kenneth-oppa ga gay? *sujud syukur* *tangis bahagia*
Oia Mbak, aku suka pilihan katanya si Kenneth-oppa:
Just make love and the baby will appear right away..
*blushing* *facepalm* *giggles* *blushinglagi* *Daydreaming'BoutJuna'sAbs* *drooling* *nosebleed*
Astaga.. Bener²... Speechless bacanya :D

Lita April 16, 2012 at 6:57 PM  

@Ulfah: Aku cuma bisa mesem2 baca komenmu. *ikutan merona*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP