A Lot Like Love (2)

>> Wednesday, February 1, 2012

Here The Story Goes


“Rumah ini tidak berubah,” kata Neela, seraya memandang ke pantai di depannya dari beranda atas rumah Shinji. “Pantainya, suasananya—semuanya..., masih penuh Shinji.” Dia memejamkan mata, menikmati angin pantai yang berembus menerpa wajahnya.
Eiji mendengus tersenyum. Mengejapkan mata, memandang berkeliling. “Ya. Tidak berubah. Kadang aku juga merasa dia masih ada di sini... Meskipun dia tidak meninggal di sini.”
“Ini rumah masa kecilnya kan?” Neela menatap Eiji. “Tentu saja rumah ini lebih berarti dibandingkan tempat lain.”
“Ya,” angguk Eiji. “Sepertinya begitu.”

Keduanya terdiam beberapa saat. Memandang ombak yang berlarian ke pesisir pantai.

“Apa kau sudah punya pacar sekarang, Neela?” Mendadak Eiji bertanya, seraya menarik cangkir berisi kopinya mendekat.
Neela memandang Eiji dengan tatapan heran diiringi dengus geli. “Pacar? Untuk apa?”
“Untukmu.” Eiji balas menatap heran. Mengangkat cangkirnya dan mendekatkan mulutnya. “Kau seharusnya punya pacar sekarang.” Dia menyesap kopinya sedikit.
Neela mengeluarkan suara keluh. Menyandarkan punggungnya ke belakang. “Aku tidak memerlukannya.”
“Kau tidak boleh bicara begitu,” tegur Eiji. setelah meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja beranda. “You have to move on. Menjalankan hidupmu sebagaimana mestinya.”
“Aku hidup,” timpal Neela enggan.
“Kau hidup di atas panggung,” balas Eiji, menatapnya dengan senyum simpul tersungging di bibirnya. “Saat kau konser, menyanyi atau memainkan alat musik, kau sangat hidup. Tapi… begitu kau turun dari panggung, dan tidak sedang memainkan alat musik, kau seperti mayat hidup.”
Neela memberikan Eiji tatapan ‘yang benar saja’ dengan bahu terempas ke bawah. Kelihatan tampak putus asa. “Kenneth yang mengatakannya padamu?” tanyanya muram.
Eiji terkekeh. “Dia khawatir, Neela. Dan bukan dia saja yang berpikiran begitu. Malini, Lea dan Juna juga mengatakan hal yang sama. Dan aku juga… Sekarang.”
Neela hanya mengangkat bahu. Malas berkomentar. Tak ada gunanya berdebat, karena dia sendiri, dari lubuk hatinya yang paling dalam, membenarkan kata-kata Eiji.

“Aku hanya ingin kau hidup bahagia,” Eiji kembali berkata. “Kami semua… ingin kau bahagia. Tidak terus-terusan bersedih karena Shinji.”
Neela memandang Eiji, mendengarkannya bicara tanpa menimpali sedikit pun.
“Usiamu sudah bertambah tiga tahun sejak Shinji meninggal,” sambung Eiji lagi. “Kau sudah berusia dua puluh tujuh tahun sekarang…, tidak lagi muda. Kau harus mulai memikirkan pasangan hidup.”
“Tak ada yang seperti Shinji,” gumam Neela lirih. Mengembuskan napas perlahan.
Eiji tersenyum lembut. “Tentu saja takkan ada yang seperti dia,” ujarnya. “Tapi pasti ada laki-laki yang menyayangimu sama seperti dia menyayangimu.”
Neela menggeleng. Menaikkan kedua bahunya lagi. “Aku… tak tahu.”
Eiji mengangkat satu tangannya, dan menyentuhkannya ke rambut Neela. “Just… be happy, okay? Hanya itu yang Shinji inginkan untukmu.”

Air mata Neela menetes dari kedua matanya yang coklat. Dia menggeser kursinya mendekat, dan melingkarkan kedua tangannya di leher Eiji. Eiji menarik napas, mengempaskannya perlahan, dan balas merangkul Neela erat. Tangannya mengusap rambutnya perlahan.

“Aku merindukannya Eiji,” kata Neela, dalam suara berbisik. “Aku sangat merindukannya.”
“Aku juga,” balas Eiji, kemudian mengecup pucuk kepala Neela. “Aku juga,” ulangnya lagi, lebih pelan dari sebelumnya.

Mereka berdua saling berpelukan menatap pantai. Menyaksikan langit yang semakin memerah tanda senja akan datang. Matahari kian merunduk, hendak bersembunyi ke peraduannya. Malam akan tiba, dan hari kematian Shinji akan berakhir.
Di dalam, lampu-lampu telah dinyalakan. Kenneth dengan muram, berkeliling ke semua ruangan untuk menyalakan lampu yang memang harus dinyalakan. Di pikirannya sekarang hanya satu, melewati malam ini, dan kembali ke Jakarta besok pagi secepatnya. Rumah ini membuatnya selalu merasa tak nyaman. Terlalu dipenuhi… Shinji.

Jakarta. Populasi: entah, yang pasti trilyunan jiwa. Ciri khas: Macet dan padat (semua orang tentunya sudah tahu itu). Dan sekarang, musim hujan. Bukan musim hujan yang biasa, karena angin kencang terus-terusan menerpa bumi Jakarta beberapa bulan belakangan ini. Menyebabkan banyak pohon tumbang, banjir, dan munculnya berbagai macam penyakit, mulai dari demam, pilek dan batuk berbagai level. Neela bersyukur kondisinya tetap sehat di tengah cuaca seperti ini.

Aku sedang di Dojo,” kata Kenneth, sewaktu Neela menelpon untuk memberitahu kalau dia sudah selesai latihan vokal. “Baru selesai satu jam lagi,” lanjutnya. “Kalau kau lelah, kau bisa pulang sendiri naik taksi. Atau kau bisa menungguku sampai satu jam lagi di studio.”
“Aku ke Dojo saja ya?” kata Neela, sambil berjalan menuju pintu keluar. “Dojomu kan tidak jauh dari sini.” Dia melewati ambang pintu gedung, dan langsung berhadapan dengan hujan yang mengamuk di depannya.
Hujan,” balas Kenneth. “Kau bisa sakit.”
“Tidak.” Neela merogoh tas besarnya. Menarik keluar sebuah payung kecil, dan membukanya. “Aku sudah pakai Upper-coat dan sweater. Aku juga bawa payung.” Dia berjalan menuruni undakan gedung. “Lagi pula, sudah sejak lama aku ingin melihatmu latihan pedang kayu itu.”
Kenneth langsung terbahak. “Kendo,” ralatnya. “Dan pedang itu dari bambu, bukan kayu.”
“Yah. Pokoknya itu deh,” timpal Neela, nyengir.
Oke. See you latter, then,” kata Kenneth. “Hati-hati.”
“Oke. Bye.”
Neela menekan tombol off, dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dengan santai, dia kemudian berlari kecil menyeberangi areal parkir gedung studio di mana dia biasa berlatih vokal, berjalan menuju pintu masuk, dan melangkah ke trotoar. Menyusurinya dengan langkah ringan.

Gedung Dojo Kendo Kenneth, berada tak beberapa jauh dari gedung studio tempat Neela berlatih vokal, sehingga dia lebih memilih berjalan ke sana dari pada naik taksi. Jalan raya toh juga sedang macet-macetnya. Lagi pula dengan berjalan kaki, Neela bisa sedikit menyegarkan pikirannya; melihat-lihat pemandangan di sekitarnya dengan bebas, bergabung dengan banyak orang yang lalu lalang. Hal yang sudah beberapa tahun belakangan ini sangat sulit didapatkannya. Neela tidak berani membayangkan reaksi Kenneth, kalau tahu dia berjalan kaki ke Dojonya sekarang.

“Maaf,” Neela berbicara dengan seorang perempuan muda berkimono coklat di boks resepsionis, “saya mau bertemu Kenneth Altis.”
Perempuan muda itu ternganga melihat Neela. Dia kelihatan kaget, juga tampak senang melihat Neela di hadapannya. “Oh.” Itu kata pertama yang terucap dari bibirnya, setelah beberapa detik hanya bisa mengejapkan mata dan membuka tutup mulutnya. “Tuan Kenneth masih latihan. Tapi,” dia buru-buru berkata penuh semangat, ketika Neela tersenyum muram, “ saya bisa tunjukkan tempat latihannya.”
“Saya boleh melihatnya?” Neela tersenyum.
Perempuan muda itu mengangguk antusias. “Tentu. Ayo. Saya antar.” Dia keluar dari boksnya, dan mempersilakan Neela berjalan mengikutinya. “Nama saya, Ria,” perempuan itu memperkenalkan diri sambil berjalan.
“Saya Neela.”
Ria mengangguk. “Tentu,” ujarnya riang. “Semua orang tahu siapa Anda.”
Neela hanya bisa meringis tersenyum, dan terus melangkah mengikuti Ria yang berjalan cepat di depannya. Membawanya menyusur koridor agak luas, dan tak lama kemudian berhenti di depan sebuah pintu geser ala Jepang yang lumayan lebar. Menggesernya membuka dengan perlahan, dan mempersilakan Neela masuk. Neela melangkah ke dalam, dan langsung melihat sekumpulan orang duduk bersimpuh membentuk lingkaran yang rapi, mengelilinggi lima orang pria yang sedang berlatih pedang bambu. Mereka semua mengenakan pakaian kendo berupa atasan longgar biru gelap dan celana lebar berwarna hitam, serta pelindung dada—sepertinya. Hanya saja tidak mengenakan pelindung kepala warna gelap, seperti lima pria di tengah.

“Itu Tuan Kenneth yang di tengah,” Ria berbisik pada Neela. Neela terperanjat, dia hampir saja lupa kalau Ria masih bersamanya.
Neela melempar pandang ke arah seorang pria yang berada paling tengah, dan tampaknya sedang dikeroyok oleh empat orang lainnya. “Bagaimana kau tahu?” tanya Neela.
“Postur tubuhnya tak ada bandingannya.” Ria mengikik. “Tinggi dan atletis—pokoknya tahu saja,” kata Ria nyengir. “Melihatnya setiap latihan dengan dengan Kendo gi[1] dan Hakama[2], pastinya akan membuat mata terbiasa,” tambahnya.
“Kenapa dia dikeroyok?” Neela kelihatan cemas. “Mereka sedang latihan kan?”
Ria mengangguk. “Ya. Mereka memang sedang latihan. Hanya saja, kebetulan hari ini Tuan Kenneth ditantang oleh empat orang Sempai, Senior maksudku,” katanya buru-buru, saat Neela mengernyit bingung. “Tidak serius, hanya sekadar lucu-lucuan, dan Tuan Kenneth menyanggupi, sekaligus latihan bertarung, dan… itulah mereka.” Ria menunjuk ke arah lima orang laki-laki itu. “Kemampuan Tuan Kenneth sudah di tingkat Sensei sebenarnya,” tambah Ria. “Tapi entah kenapa para Sensei masih belum mengangkatnya sebagai Sensei. Mungkin karena dia terlalu bengal.” Ria mengikik lagi. "Sering sekali dia melanggar aturan yang ditetapkan di Dojo ini."

Kenneth? Bengal? Neela melempar pandang ke laki-laki di tengah yang dikatakan Ria adalah Kenneth. Sepertinya Kenneth tak pernah menunjukkan sikap bengal, nyeleneh atau apa pun selama Neela tinggal bersamanya—selain orientasi seksualnya tentu. Tapi Ria tidak mungkin mengatakan itu, kalau dia tak melihatnya sendiri kan?

Brak!
Ujung pedang bambu milik salah satu pekendo mengenai punggung laki-laki di tengah dengan amat keras. Neela tersentak, wajahnya ngeri. Laki-laki itu terdorong ke depan, namun dengan cepat berbalik untuk menangkis tebasan pekendo lain ke arahnya sehingga pekendo tersebut terhuyung mundur ke belakang, hampir hilang keseimbangan. Laki-laki di tengah berdiri tegak, mengcengkeram pedangnya dengan sikap yang sangat tenang dan elegan, menunggu serangan lain yang bisa saja datang sewaktu-waktu ke arahnya. Dan ketika akhirnya pedang bambu dari empat orang sekaligus mengayun ke arahnya, dengan sigap ia mengangkat pedang bambunya ke atas untuk menahan, dan dengan sekali entak, mendorong empat orang pekendo tersebut terhuyung mundur ke belakang.

Mendadak laki-laki itu melepas pelindung kepalanya. Melemparnya ke salah satu orang yang bersimpuh mengitari mereka. Menampakkan wajahnya yang terlihat garang, dan dibanjiri keringat yang menetes-netes dari rambut hitamnya yang kuyup. Neela terkesima; kagum, melihat wajah Kenneth saat ini. Dia kelihatan… beda. Kenneth memang  selalu terlihat galak selama ini, tapi sekarang, sosoknya benar-benar mengesankan.

Kenneth berteriak, seolah menantang empat orang pekendo tadi untuk kembali menyerangnya. Dan mereka pun melakukannya. Mengayunkan pedang bambu mereka sekali lagi ke arahnya dengan bersama-sama. Kenneth yang sudah siap, balas mengayunkan pedangnya, ke arah salah satu dari mereka. Menghantamkan pedang ke perutnya dengan keras, sehingga membuat pekendo itu langsung terjatuh ke lantai. Pedang yang barusan dipegangnya terguling di sisinya.
Kenneth kemudian berbalik, menghadapi tiga orang sekaligus, dengan ayunan pedang yang membabi buta, dan tampaknya membuat para pekendo itu kewalahan, sehingga tak sampai lima detik, mereka sudah merosot ke lantai. Terduduk di lantai dengan napas tersengal dan pedang yang bergelimpangan di dekat mereka; menyerah, sedangkan Kenneth berdiri tegak, dengan tangan masih mencengkeram kuat pedang bambunya, dan sikap tubuh yang siaga.

Tepuk tangan membahana, salah satunya berasal dari Ria yang bertepuk dengan amat keras sambil melonjak-lonjak kegirangan. Neela hanya bisa tersenyum lebar, masih dipenuhi kekaguman atas penampilan Kenneth barusan.

Kenneth menurunkan pedang bambunya, menggenggamnya erat di sisi tubuhnya dengan tubuh tegap dan kokoh. Empat pekendo lain, yang telah bangkit, melakukan hal yang sama, berdiri tegap di hadapannya, kemudian membungkukkan badannya penuh hormat pada Kenneth, yang juga membungkuk tanpa ragu di depan mereka.
Setelah itu dia tertawa. Tawa lepas yang jarang sekali dimunculkan oleh wajahnya. Rekan-rekannya juga ikut tertawa. Bergantian menyalami Kenneth dengan sangat akrab.
Dia memandang berkeliling. Sempat bertemu mata dengan Neela sekilas, sampai akhirnya benar-benar melihatnya. Senyumnya mengembang lebar, dan tangannya terangkat, melambai pada Neela yang cuma bisa nyengir.
“Kalau Tuan Kenneth bukan gay, saya pasti akan mengejarnya sampai dapat,” bisik Ria dari sebelah Neela. “Dia ganteng sekali.” Dia mengikik. Sementara Neela, lagi-lagi cuma bisa mendengus geli melihat tingkah Ria.
“Bagaimana bisa kau membuang Men[3]-mu seperti itu!” hardik salah seorang laki-laki bertubuh pendek secara mendadak pada Kenneth, yang segera menundukkan kepalanya penuh hormat. “Kau tak ingat apa yang pernah kukatakan mengenai Bogu[4]-mu?!”
“Itu Sensei Adi. Dia guru tertinggi di sini,” Ria memberitahu Neela. “Men itu pelindung kepala. Di Kendo, Men itu sangat penting, karena dikenakan di kepala. Menurut Sensei Adi, tiap Bogu, harus dihormati, baik oleh pekendo yang mengenakannya, maupun yang bukan. Tadi Tuan Kenneth membuangnya begitu saja, jadi Sensei Adi marah.”
“Oh,” desah Neela. Memandang ke arah Kenneth dan Senseinya dengan muram. Melihat Kenneth dimarahi dengan keras di depan semua orang, membuatnya jadi merasa gundah. Mungkin Neela tak terbiasa, karena biasanya Kenneth-lah yang mengomeli banyak orang.
“Sekali lagi kau ulangi lagi, aku akan mengeluarkanmu dari Dojo,” ancam Sensei Adi dengan dahi yang berkerut-kerut, sementara Kenneth hanya bisa mengangguk, pasrah menerima semua amarah Sensei Adi tanpa berani membalas satu kata pun, bahkan mengangkat wajahnya.
Sensei Adi berpaling, dan berjalan pergi meninggalkan Kenneth di tengah ruang latihan. Semua orang mengikuti. Bubar, berpencar, berjalan keluar ruangan, melewati Ria dan Neela yang berdiri di samping pintu geser.
Sebagian besar dari mereka menolehkan wajah untuk melihat Neela yang cuma bisa tersenyum kikuk dan menunduk, sedang sebagian lagi, berlalu begitu saja, tanpa melirik sedikit pun. Lebih baik begitu, pikir Neela.
“Saya kembali ke depan dulu, Nona Neela,” ujar Ria buru-buru, saat Kenneth berjalan mendekat, sambil menyandang pedang bambunya di salah satu bahu dan menenteng Men-nya. Isi ruangan besar itu sudah semakin menipis, hanya ada beberapa orang saja yang masih berada di dalam.
Neela mengangguk kecil, tak lupa mengucapkan terima kasih pada Ria, yang setelah itu segera melesat keluar ruangan.

“Hei,” sapa Kenneth dalam suara lemah. Meskipun begitu bibirnya melengkung tersenyum. Mata abu-abunya menatap ramah. Ekspresi yang tak biasa.
“Hei.” Neela bersedekap, membalas senyumnya. “Maaf, ya.”
Alis Kenneth seketika bertaut. “ ‘Maaf’ kenapa?”
“Aku melihatmu dimarahi oleh Senseimu.”
Kenneth mengeluarkan suara tawa yang kedengaran seperti cegukan. “Sudah biasa,” ujarnya. “No big deal.” Dia tersenyum simpul.
Neela tercenung. Kenapa wajah Kenneth mendadak kelihatan amat… ‘laki-laki’? Dia membatin keheranan.
“Kau baik-baik saja, Neela?” tanya Kenneth, memandangnya dengan kepala dimiringkan.
“Oh—Ya.” Neela mengangguk. Kelewat antusias sebenarnya, sehingga membuat Kenneth mengernyit curiga. “Aku… hanya... Wow!” Neela benar-benar jadi salah tingkah sekarang. “mengagumi ruangan latihanmu,” tambahnya buru-buru, seraya memandang sekeliling. “Besar sekali dan… wow!”
Kenneth tertawa suram, begitu pun Neela yang merasa luar biasa idiot atas pemilihan kata dan sikap tubuhnya barusan.
“Aku kira…” Kenneth berhenti sejenak, “kau akan memuji penampilanku tadi.”
Kenneth bercanda. Jelas. Tapi Neela segera melebarkan mata, dan menimpali kalimatnya dengan hamburan kalimat lain yang kemudian semakin membuatnya membodohi diri sendiri. “Oh, ya! Kau… keren. Sangat keren. Seperti Brad Pitt di film The Last Samurai.”
Kenneth tergelak. “Setahuku, Tom Cruise yang main di film itu,” katanya di sela tawanya.
Sok tahu kau, Neela, kata suara kecil di kepala Neela dengan nada mengejek. “Aku lupa.” Neela meringis. “Tapi sungguh,” dia mengangguk penuh semangat, “kau persis seperti Tom Cruise. Bahkan lebih keren dari dia. Aku tidak suka Tom Cruise.” Neela tampak bingung sendiri.
Kenneth menunduk untuk menyembunyikan dengusnya. “Thanks,” ucapnya kemudian sambil menaikkan bahu sekilas.
You’re welcome,” balas Neela. Tersipu.
“Sekarang…, aku mandi dulu,” kata Kenneth setelah hening beberapa saat. “Aku juga harus… meletakkan semua peralatan ini” (dia mengguncang pedang bambu yang masih disangga pundaknya) “di ruangan sebelah.”
“Oh, tentu,” timpal Neela. “Aku akan menunggu di lobi, kalau begitu.”
“Kau sudah akrab dengan Ria, kan?” tanya  Kenneth.
Neela mengangkat sebelah bahunya. “Sepertinya.” Dia menyeringai.
Okay, then. See you soon.”
Neela mengangguk, yang dibalas Kenneth dengan dengus geli lagi. Setelah itu dia berjalan melewati pintu, meninggalkan Neela sendirian, yang diam-diam memandangi punggungnya dari belakang.

(Bersambung)
Ditulis oleh: Putu Indar Meilita


[1] Baju yang dikenakan para Pekendo sebelum Bogu—pelindung badan
[2] Celana longgar yang biasa dikenakan para Pekendo saat berlatih
[3] Pelindung kepala dalam olah raga Kendo
[4] Pelindung badan yang dikenakan para pekendo. Terdiri dari 4, dan salah satunya adalah Men—pelindung kepala 

9 comments:

Inggit Inggit Semut February 1, 2012 at 8:52 PM  

Jadi kenneth itu gay? Gosh!
Btw aku mau selalu ngikutin cerbung yg ini loh, gamau ketinggalan hehehe :D

-silpe- February 1, 2012 at 10:19 PM  

gak sengaja buka inet malam malam, daaannnn sudah ada sambungan cerita Neela yg salah tingkah, semacam jatuh cinta pada Kenneth

Lita February 2, 2012 at 9:43 AM  

@Inggit: Iya. Kenneth itu Gay. Di Nyanyian Sendu sempet di mention sama Shinji. Syukurlah, AL3 punya pengikut. Tx yah...

@Silpe: Hahahaha... baru salting... baru merasa... entah kenapa.

-------------- February 2, 2012 at 10:48 AM  

loh, neela suka kenneth, ntar kejadian kek tmenku lho -___-
sayang2an sama gay, trus dihamilin, eh hbs gt si gay nya gak mau nikahin, bgung deh, knapa bisa gt, jadi penasaran wkt gtuan si gay nya byangn sapa coba?

btw, thank buat commentnya mbakyouu <3

-G-

Nonanovnov February 2, 2012 at 10:57 AM  

mbak lita ini kenneth bneran gay atau pura-pura aja kali ya.. biar ga dikejar2 cewe , soalnya aku juga suka kalo bgini haha

Feby Oktarista Andriawan February 2, 2012 at 11:46 AM  

Songong tuh si Neela, haha.. Skrg gue pegang Eiji deh. Awal lho mbak kalo dimatiin lagi..

Lita February 2, 2012 at 2:32 PM  

@Gita: 'sayang2an sama gay'??? Walah... kok gitu? Serem ih. Tunggu dulu, Kenneth gitu gak ya? *pikir2*

@Novi: Kita tunggu aja cerita selanjutnya. Mau gimana sebenernya si Kenneth dan si Neela... *nyengir menggoda*

@Feby: Kamu pegang Eiji??? wkwkwkwk. *diam seribu bahasa*

Gloria Putri February 5, 2012 at 1:19 PM  

waktu itu gambaran kenneth kayak sapa ya mba? aq lupa....hihihihi....jd penasaran deh..
tp emang koq, beberapa gay yang aku kenal tuh cenderung ganteng-ganteng malah....hihihihii
jadi berpikir, klo mereka ganteng dan dg mudah bs dpt cewe kenapa musti punya kelainan gt ya?

Ulfah April 16, 2012 at 9:30 AM  

Baca chap ini mataku jadi berkaca² Mbak. Kangeeen banget sama Shinji.
Btw, aku broken heart deh gara² Kenneth-oppa gay ☹

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP