A Lot Like Love (11)

>> Monday, February 27, 2012



Protectors


KEHILANGAN orang tua, kehilangan tempat tinggal. Menumpang di banyak tempat, rotepas-pasan di kamar kecil sempit yang pengap. Menjadi seseorang yang tak menarik, tak punya uang, tak dianggap, tak berguna, semua hal yang tak mengenakkan semua itu pernah dirasakan dan dialami oleh Neela lama sebelum dia bertemu Shinji.

Sejak itu, bisa dibilang roda keberuntungan berputar 180 derajat. Membuat Neela menjadi seseorang yang memiliki segala  hal yang tak pernah dia miliki sebelumnya; nama, wajah cantik, uang, benda, dan kasih sayang. Tapi kasih sayang…, baginya yang terpenting. Kasih sayang adalah awal semua kebaikan itu terjadi. Kasih sayang, yang membuat semua pintu yang tadinya tertutup, kini terbuka lebar untuknya. Membawanya ke tempat yang lebih baik dari tempat-tempat yang pernah disinggahinya sebelumnya. Dan yang paling utama, membuatnya bertemu dengan banyak orang baik yang menganggapnya sebagai sahabat dan keluarga. Kasih sayang itu, kasih sayang tulus  tanpa pamrih dari seorang Shinji Tsubaki, selebriti ternama, yang tak sekali pun pernah diharapkannya untuk bertemu, dan tak pernah disangkanya akan begitu mengasihinya. Merubah hidupnya secara total, hingga menjadi seperti sekarang.

Sampai kapan pun Neela akan tetap mengingatnya. Berterima kasih padanya, dan berutang budi padanya. Tak ada satu pun yang bisa menggoyahkan pendiriannya tentang itu.

Shangri-La Hotel, Chiyoda, Tokyo: Presidential Suit


“Aku akan tinggal di sini?” Neela tercengang. Matanya menjelajah seisi ruang tamu luas yang dipenuhi furniture dan perabot mewah di mana dia sekarang berada.

“Ya,” Eiji berseru, sementara Neela berlarian memasuki tiap kamar dan ruang yang ada di Presidential Suit dengan riang. Sepatu ketsnya berdecit-decit di lantai. “Kau akan tinggal di sini selama satu bulan ini.” Eiji melepaskan mantelnya, melipatnya menjadi dua bagian, dan menyampirkannya di punggung sofa. Berdiri bersedekap, menyaksikan kehebohan sikap Neela. “I can tell you like it.” Eiji mengulum senyum.

Neela yang baru keluar dari areal dapur yang berada di sisi sebelah kanan ruang tamu, berjalan menghampiri Eiji dengan tergesa. Mukanya separo-panik, separo antusias. “Ini…,” suaranya kedengaran tercekat, “mahal sekali kan?” tanyanya entah kenapa berbisik.
So?
“Kau sudah bilang Malini? Kalau aku… akan tinggal di ruangan semahal ini?”
Eiji mengikik tertahan. “Kenapa aku harus bilang padanya?”
“Karena dia yang mengurus keuanganku, Eiji,” kata Neela tak sabar. “Kalau Kenneth… dia pasti tak akan mengijinkanku tinggal di hotel semahal ini. Aku bahkan tak mau tahu sama sekali harganya.” Dia melempar pandang ke langit-langit berbentuk kubah di atas yang berwarna merah dengan pinggiran emas.
“Tidak usah dipikirkan masalah biayanya,” kata Eiji, beberapa saat setelah Neela bicara. Neela segera menurunkan wajahnya, membulatkan matanya pada Eiji. “Aku sudah mengurusnya.”
“Tapi—”
“Neela.” Eiji menatap Neela lekat-lekat, memotong kalimatnya. “Aku sudah mengurusnya.” Nada suaranya terdengar amat serius.
Neela meringis. Ingin kembali bicara, namun tatapan Eiji membuat mulutnya seolah lengket, sulit membuka. Jadi dia hanya mengedikkan bahu, dan berkata, “Terima kasih,” dengan penuh ketulusan.
“Kau tidak usah cemas, oke?” Eiji kembali bicara. “Yang perlu kau cemaskan adalah kolaborasimu dengan Kotaro Fukuma empat minggu lagi. Berlatihlah dengan giat. Tunjukkan yang terbaik. Karena bagaimana pun kau mewakili negaramu.”
“Aku hanya main musik, Eiji, bukan ikut serta dalam olimpiade dunia,” timpal Neela, memberengut. Eiji tergelak. “Lagipula ini konser… bukan kontes.”
“Oke… oke. Sori,” kata Eiji di sela kekehnya. “Mungkin aku sedikit berlebihan. Terbawa suasana.”
Ganti Neela yang terkekeh, dan tepat saat itu, suara ketukan terdengar dari pintu ruang tamu. Baik Neela maupun Eiji melempar pandang ke arah pintu tersebut.

Bell boy, yang tadi masuk bersama keduanya ke dalam ruangan untuk membawakan barang-barang Neela, keluar dari kamar di mana Neela nanti akan tidur—Neela sempat lupa kalau laki-laki itu belum meninggalkan ruangan. Berjalan tenang menghampiri pintu, dan menariknya membuka. Dua orang; satu perempuan dan satu lagi laki-laki, masuk ke dalam, dan melangkah mendekat. Yang perempuan—Neela suka rambut lurusnya yang hitam kelam, cantik dan imut. Imut yang khas perempuan-perempuan Jepang pada umumnya, dengan kulit berkilap seperti porselen, dan pipi bersemu, yang membuatnya persis boneka. Dia tampak begitu elegan, dengan mantel wol krem cerah di atas sweater putihnya, dipadukan dengan celana jins biru gelap dan bot coklat yang memanjang sampai betis. 

Sedangkan yang laki-laki, Neela tak bisa memikirkan kata yang tepat untuknya selain: cute. Bertubuh tinggi—beberapa senti lebih tinggi dari perempuan di sebelahnya, atletis, rambut kecoklatan sepanjang tengkuk, yang sebagian diikat di belakang kepalanya. Penampilannya lebih santai, hanya mengenakan kaus putih dengan tulisan-tulisan kecil bertinta hitam memenuhi permukaannya, serta celana longgar gelap dan sepatu kets putih. Senyumnya adalah senyum yang akan membuat siapa pun yang memalingkan wajah, akan kembali memandang lagi. Tak akan bosan melihatnya. Satu tangannya menjinjing sebuah tas hitam besar, dimana dia menjejalkan jaket tebalnya. Berayun-ayun seiring langkahnya.

“Neela.” Eiji menegakkan tubuh. Memasukkan satu tangannya ke saku celana jins hitamnya. “Ini adikku, Chiyo.” Eiji mengangguk pada perempuan berambut hitam lurus itu. Neela tampak kaget. Eiji punya adik perempuan? “Dan ini,” dia mengarahkan tangannya yang bebas ke arah laki-laki itu, “Arata. Stafku… yang akan menemanimu selama di Tokyo.”

Neela memalingkan wajahnya buru-buru pada Eiji. “Mmm… Menemani?”
“Saya yang akan mengantar Nona Neela, kemana pun Nona Neela ingin pergi selama berada di sini,” kata Arata sopan, dalam bahasa Indonesia yang amat lancar.

Neela terpana. Sama sekali tak menyangka Arata bisa bicara dalam bahasa Indonesia. Begitu sopan dan tertata. Tidak sepadan dengan penampilan santainya.

“Aku sibuk sekali di sini,” ujar Eiji, kembali bersedekap. “Takkan bisa menemanimu sering-sering. Dan kau… sama sekali tak boleh bepergian sendiri, jadi aku menugaskan Arata untuk menemanimu. Dan Chiyo,” dia melirik sekilas adiknya, yang tersenyum manis—dia berbeda sekali dengan Eiji dilihat dari sudut mana pun, “aku pikir… akan lebih menyenangkan bagimu, bila memiliki teman sebaya yang bisa kau ajak bicara,” katanya.
“Kau dan aku seumur, Neela,” tambah Chiyo. Lagi-lagi Neela tercengang, mendengar dia berbahasa Indonesia (aksennya kedengaran lucu). “Kapan pun kau perlu teman bicara, atau membutuhkan bantuanku, kau bisa menghubungiku. Dengan senang hati, aku akan menemanimu.”
Neela mengangguk penuh antusias, memandang Chiyo dengan mata yang berbinar. “Ya… ya. Tentu. Aku juga… senang sekali. Oh… Aku sama sekali tak tahu, Eiji punya adik.” Neela mengarahkan matanya bergantian, dari Chiyo kemudian Eiji, dan ke Chiyo lagi. “Bahasa Indonesiamu sangat fasih.”
“Itu karena aku sudah lama tinggal di Indonesia,” kata Chiyo. “Baru sekitar enam tahun lalu aku pindah ke Jepang. Dan sampai sekarang, aku masih merindukannya. Ingin kembali ke sana…, kalau saja sempat.” Dia tampak murung. “Aku sibuk sekali, membantu kakakku.” Dia memandang Eiji dengan tampang seolah menuduh, yang langsung dibalas Eiji dengan menyipitkan mata mengejek.
“Kau tahu Shinji, kalau begitu?” tanya Neela, penuh minat.
Chiyo memandang Neela lagi. Mengangguk tersenyum. “Ya, aku tahu Shinji,” jawabnya. Tanpa ada tambahan kata-kata lagi setelahnya.
“Oke,” cetus Eiji setelah hening beberapa saat, “aku pergi dulu, Neela.”
“Kemana?”
“Ada acara yang harus aku dan Chiyo hadiri.”
“Boleh aku ikut?”
Eiji dan Chiyo menggeleng panik bersamaan. Tampang mereka ngeri. “Bukan acara yang cocok untukmu,” kata Eiji buru-buru. Tampak tak enak hati. “Kau akan mati bosan. Kami akan bertemu para orang tua yang menyebalkan.”
“Kau lebih baik istirahat,” Chiyo turut bicara. “Besok… sepulang dari bertemu Kotaro, kita bisa jalan-jalan.” Nada bicara Chiyo seolah membujuk.

Kedua kakak-beradik itu nyengir. Cengiran yang serupa. Dan mencurigakan. Tapi Neela tak mau berpikir keras mengenai itu. Lagipula dia memang lebih baik beristirahat malam ini, karena besok dia akan bertemu Kotaro Fukuma.  

“Kalian… apa akan kembali kemari nanti?” tanya Neela setelahnya.
Eiji menggeleng. Mengambil mantelnya dari puncak sofa. “Tidak. Arata yang akan menemanimu di sini.”
“Ha?” Neela tercengang. Menoleh pada Arata yang tersenyum sopan. Apa maksud Eiji, dia akan berdua saja bersama Arata?
“Arata akan tidur di kamar lain.” Eiji melempar pandang melewati pucuk kepala Neela. Ke arah kamar kosong di sebelah kirinya. “Aku percaya padanya. Jadi kau tidak usah cemas dia akan macam-macam,” katanya lagi, seolah saja itu akan menyelesaikan masalah.
“Bu-bukan begitu,” sambar Neela, memerah. “Maksudku…” Tak ada kata-kata lagi yang bisa dipikirkan Neela untuk melanjutkan kalimatnya. Dia menunduk, tak berani mendongak. Tak mau membayangkan ekspresi Arata mendengar kata-kata Eiji barusan.
“Kami pergi dulu,” pamit Eiji, setelah dia selesai mengenakan mantelnya. “Besok, kita bertemu lagi saat makan siang.”

Eiji menarik Neela mendekat, dan memberikan ciuman kecil di keningnya. Neela tersenyum lemah, kemudian membalas anggukan Chiyo yang telah bersiap pergi. “Ja, mata, Neela,” ucap Chiyo riang. “Artinya, sampai jumpa,” jelasnya kemudian, ketika Neela memberikan pandangan kosong padanya
“Oh,” Neela meringis, “sampai jumpa.”

Eiji dan Chiyo berbalik. Melangkah santai menuju pintu. Arata mengikuti di belakang keduanya, mengantar mereka pergi.

Excuse me, Miss Neela.”
Neela terperanjat. Serentak menoleh ke arah sebelahnya. Laki-laki berompi warna pastel, berdiri dengan senyum ramah. “Your suitcase have already unpacked,” dia memberitahu. “And I have tidy all the room. And its ready for you now.
“Oh… okay.” Neela tersenyum kikuk.
I take my leave.”
“O-okay,” balas Neela lagi, masih sama gugupnya. “A… arigato.”
Dou-itashimashite, Neela san,”—Terima kasih kembali, Nona Neela, balas Bell Boy tersebut, masih dengan senyumnya yang ramah.
Setelah itu dia pergi, berpapasan dengan Arata yang telah kembali dari pintu.

Setelah Bell Boy itu menghilang sepenuhnya dari ruangan, Arata mulai bicara—(“Nona Neela—”)—tapi Neela segera menyelanya, dan bertanya, “Berapa umurmu…, Tuan Arata?” Dia mengangkat kepalanya sedikit untuk menatapnya.
Arata mengernyit. “Dua puluh tujuh…?” Dia sepertinya bingung diajukan pertanyaan seperti itu.
“Seumuran denganku juga, kalau begitu,” kata Neela cepat, menyilangkan kedua tangannya. “Jadi, Arata…, jangan panggil aku dengan ‘Nona’,” pintanya. “Kalau kau akan menemaniku… jangan bersikap formal. Aku bukan Eiji, atasanmu. Aku hanya orang biasa. Bukan siapa-siapa.”
“Saya hanya berusaha sopan,” sahut Arata. “Semua teman Tuan Eiji, patut saya hormati.”
“Tapi…” Neela jadi salah tingkah. “Tidak usah berlebihan. Aku… tak nyaman.”
“Kalau memang kemauan Nona Neela begitu, saya akan berusaha menuruti,” senyum Arata, diiringi anggukan yang amat sopan.
“Aku tidak memintamu untuk menurutiku.” Neela muram. “Aku hanya… ingin kau… bersikap biasa saja padaku.”
“Saya akan coba.” Sikap Arata masih sama lembut dan sopannya seperti sebelumnya. Tidak goyah sama sekali.

Ujung-ujung bibir Neela berkedut. Dan tak lama kemudian, setelah beberapa detik bertatap muka dengan Arata, dia menyerah. Berpaling, dan bergegas menuju kamar. Masuk dan menutup pintu di belakangnya.

(Bersambung)
...
gambar dari sini
Arata sudah di mention namanya sejak di cerbung 'Lea'. Baru menampakkan diri di 'Nyanyian Sendu', dan sekarang muncul lagi, untuk menjaga Neela selama di Tokyo. 
Sejak pertama, muka Kim Bum yang memang terbayang untuk karakter Arata ini. Mukanya imut, tapi sebenarnya gak 'imut'.
Keep reading, ya, Guys. And welcome, Arata.

Ps. Untuk Chiyo, masih cari 'wajah' yang pas nih. Ada masukan?

14 comments:

Nonanovnov February 27, 2012 at 10:10 PM  

Ariel Lin kaya'nya mirip sama Chiyo, mbak..
Nanggung ni mbak ceritanya, yg berikutnya segera kan ya??!! hehehe *pembaca maksa*

-------------- February 27, 2012 at 10:51 PM  

ah, mbak lita bikin penasaran xO
aku usul keiko kitagawa deh xD

-------------- February 27, 2012 at 10:52 PM  

ah, mbak lita bikin penasaran xO
aku usul keiko kitagawa deh, atau park min yong xD

Rusyda Fauzana February 27, 2012 at 11:09 PM  

Yeayy! Udah ada lagi chap yang baru. Mba nulisnya panjangan dikit dong, jadi penasaran bentar aja bacanya hehehe...

benar-benar deh, cerita ini full orang cakep. Setelah muncul foto Dai, Eiji, Arata, kemudian sapa lagi nih?

Aku setuju sama Gita, untuk Chiyo ngambil wajahnya Keiko Kitagawa aja mba soalnya dia cute, imut dan cantik :)

Semangat menulis Mba Lita! we're always waiting for ur next amazing story :)

Gloria Putri February 28, 2012 at 7:34 AM  

arrgggghhhh....bayangannku arata tuh serem mbaaaaa.......ternyataaaaaaa.......kimbumm.....muka cute yg 'nakal' ituuuu....hiiiiii.....gemessssssss dehhhhhhh

Feby Oktarista Andriawan February 28, 2012 at 11:01 AM  

Chiyo, udah lama gak kemari eh ada karakter baru lagi, bnyak bgt karakternya makin luas ceritanya, huaaa.. Chiyo, mungkin wajah narji bisa jadi pertimbangan.. :D

-------------- February 28, 2012 at 12:26 PM  

terharu ada yang setuju sama aku T_______T

yuli she,  February 28, 2012 at 2:47 PM  

Ya ampun Arata,,,,*ga bisa nafas*

Gimana kalo untuk chiyo "Im Yoon Ah" nya SNSD,,dia cute banget,,hoho *sarannya ngasal aja*
atau alm.Xu Wei Lun tuh mba,,,*kira2 cocok gak yah??*

Lita February 28, 2012 at 8:16 PM  

@Novi: Ariel Lin... terlalu 'chubby'... Tapi patut diperhitungkan *opo seh*

@Gita: Keiko Cakeuppp... Park Min Young... terlalu imut... Tapi aku lagi berpikir dan menimbang-nimbang nih... Air pam mati soalnya, jadi mesti nimbang sumur... Wwkwkwk. Peace, ya Git...

@Rusyda: Kok samaan sih ma Gita? Ngefans ma Keiko ya, kalian berdua?

Untuk semuanya: aku akan berusaha melanjutkan ceritanya secepat mungkin... karena aku sendiri gak sabaran... mau tahu ceritanya *loh?* beneran lho.

Anyway, thanx ya, Rus... *peluk erat*

@Glo: Arata emang cakeupppp Glo. waktu di Nyanyian Sendu dia masih amat imut, kaya KimBum. Sekarang, udah beberapa tahun, dia jadi kaya gitu... *waaaaaaa* Panik sendiri dah gw... Kikikikik...

@Feby: Kamu ngefans ma Narji??? Aduh, Feb. Kembalilah ke jalan yang benar... Pantesan kamu galaw terus, ternyata selera kamu 'Narji' toh... wkwkwkwkwkkw... Makasih ya, Adddeekkk... *nyebut ala pembokat Feby*

@Gita: welehhh, kamu balik lagi komen, untuk terharu... Bener2 dah *geleng2*

@Yuli: Boleh juga, tuh si Yoona. Sedih aku tadi liat si Xu Wei Lun. Tragis amat matinya...

@Rusyda: Weleh... Rus... kamu cuma mau peluk Gita aja toh... Hag hag hag

yuli she,  February 29, 2012 at 11:34 AM  

Sik asik sik asik,,Yoona dipertimbangkan hoho *kegirangan*

Iya mba, Xu Wei Lun meninggalnya emang tragis, mobilnya aja mpe ringsek gitu, trus ada juga yang nampilin foto baju2nya dia yang udah berlumuran darah dalem kresek benig,,eukh,,aku mpe miris liatnya.

The 7Bloggers March 1, 2012 at 4:42 AM  

Assalamualaikum Bismillah Alhamdulillah | Hehehehe tmen2 lw koment bnyak2 ya......? | Alhamdulillah Wassalamaualaikum.

yuli she,  March 1, 2012 at 8:10 AM  

Mba Lita,,
Coba liat Yoona di video klip SNSD yang judulnya The Boy..keren..*promosiabis*

shafarani March 3, 2012 at 5:14 AM  

hmmm... usul deh, untuk chiyo..
Ga In tuh bisa, mba Lita :) Han Ga In nama lengkapna..

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP