A Lot Like Love (10)

>> Saturday, February 25, 2012



The Arrival


BANDARA Internasional Narita, Narita, Prefektur Chiba, Jepang.
Gerbang kedatangan.

SENYUM Neela mengembang riang. Langkahnya yang sebelumnya lambat semakin cepat. Travel bagnya terseret-seret tak beraturan di belakangnya. Dan ketika jarak Eiji dengannya hanya tinggal beberapa senti, dia melepas pegangannya, merentangkan tangannya membuka. Meraih leher Eiji; mengalungkannya erat di sekelilingnya, dan membenamkan sebagian wajahnya di pundaknya. Memejamkan matanya, dan mengembuskan napas amat lega. Tak memedulikan orang lain di sekelilingnya yang kini memancangkan mata masing-masing ke arahnya dan Eiji.

Eiji memeluknya. Mengusap rambutnya dengan lembut. Dan selama beberapa waktu, dia bergeming. Membiarkan Neela bersembunyi di dalam dekapan hangatnya. Bernapas perlahan di dadanya; melepas rindu serta kegundahan yang telah beberapa lama disimpannya dalam hati dan juga pikirannya.

Are you okay?” tanya Eiji, setelah Neela menarik tubuhnya menjauh. “Tidak jet lag?”
Neela menggeleng. “I’m fine,” katanya, mengedikkan bahu. Kemudian dia diam. Matanya bergerak dari atas ke bawah, mengamati Eiji. Menjelajahi mantel wol abu-abu yang dikenakannya, sarung tangan kulit hitam yang membalut kedua tangannya, serta scarf berwarna senada yang melingkari lehernya. Secara keseluruhan, penampilan Eiji, benar-benar sempurna.
“Kenapa?” Eiji berjengit. Tampak bingung dengan cara Neela memandangnya.
Neela meringis. “Kau… tidak pernah kelihatan setampan ini,” ujarnya. “Kau ganteng sekali.”
Eiji memutar bola matanya ke atas. Menggeleng, sambil mengulum senyum. “Sejak kapan kau jadi centil begini?”
Neela terkekeh. “Aku hanya mau bilang begitu,” katanya geli. “Apa salah kalau aku memujimu?”
“Aku bukan pria yang pantas mendapatkan pujian itu darimu,” balas Eiji.
Neela memberengut. “Maksudmu?”
“Yah…” Tangan Eiji meraih tudung jaket Neela yang merosot. Menaikkannya ke atas untuk menutupi kepalanya. “Lebih baik kalau pujianmu itu kau berikan pada laki-laki yang jadi pacarmu kan?” Eiji memamerkan deretan giginya yang rata.
Bibir Neela mengerucut. “Kau merusak moodku,” ujarnya kesal,  sementara Eiji cekikikan. Tapi setelah itu dia ikut terkekeh.
“Hanya itu,” Eiji mengangguk ke travel bag besar ungu gelap berlogo ‘Polo’ yang teronggok di belakang Neela. “barangmu?”
“Dan tas… Juga—” Neela mengangkat bahunya dimana tali violin case-nya tersandang. Menepuk-nepuknya pelan. “—biola ini.”
Eiji mengangguk. “Oke. Kita berangkat sekarang… ke Tokyo.” Eiji menggapai gagang travel bag Neela, dan memutar tubuhnya. Siap berangkat.
Neela tersenyum. Mengeratkan tali tas besarnya, menurunkan violin case-nya dari bahu satunya, dan menentengnya, sambil berjalan merendengi Eiji menuju ujung lobi terminal.

Sebuah mobil Mercedez Bens hitam telah menunggu. Pintu belakangnya telah dibuka, begitu pun bagasinya. Seorang laki-laki berstelan hitam rapi—sepertinya supir mobil tersebut, yang sebelumnya berdiri di belakang mobil, di sebelah bagasi, segera mendekat, mangambil alih gagang travel bag dari Eiji. Mendorongnya masuk, dan menjinjingnya sampai ke mobil, menempatkannya di bagasi.

“Tas biolamu, mau diletakkan di bagasi juga?” tanya Eiji pada Neela, sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Neela menggeleng mantap, berkata, “Aku bawa sendiri saja,” dengan manis. Eiji mengangguk paham, kemudian mempersilakan Neela masuk ke mobil lebih dulu. Menyusulnya sejenak kemudian, dan duduk di sebelahnya. Si supir segera menutup pintu belakang, dan secepatnya berjalan memutari mobil, masuk ke dalamnya.

Tak lama kemudian, mobil melaju. Neela menyandarkan punggungnya ke belakang dengan nyaman. Kepalanya berpaling ke arah jendela yang bening dan bersih tanpa debu, mengamati kendaraan; bus dan mobil yang berpapasan masuk ke areal bandara. Udara dingin membuat semuanya tampak redup dan abu-abu; menandakan betapa rendahnya suhu di luar sana. Tadi saat masih berada di lobi Neela sempat merasa kedinginan. Jaket yang dikenakannya sepertinya tidak cukup menghalau angin dingin yang menusuk. Tapi sekarang hangat. Pemanas di dalam mobil, telah dinyalakan.

“Kau harus selalu mengenakan jaket dan mantel tebal kapan pun kau ada di luar, Neela,” Eiji memberitahu. “Kalau tidak kau akan terkena hipotermia.”
Neela menoleh. Memandang Eiji yang sedang membaca kertas-kertas bertulisan entah apa di permukaannya—semuanya ditulis dengan huruf Kanji—dengan tampang serius.
“Cuaca di Jepang sangat jauh berbeda dengan cuaca di Indonesia,” katanya lagi, masih tak memandang Neela. “Aku tidak mau kondisimu drop selama berada di sini. Malini bisa ngamuk nanti.”

Dengus geli Neela membuat Eiji menoleh. “Kenapa?” tanyanya heran. “Benar kan?”
“Malini memang membuat takut semua orang,” kekeh Neela. “Bahkan kau saja takut.”
“Bukan takut,” sangkal Eiji. “Malas…., dengar omelannya. Beberapa kali dia menelpon, mengirimiku pesan teks, baik sms mau pun bbm,”—Neela tergelak—“menyerangku dengan email yang berisi ancaman kalau dia akan menghajarku bila aku terlambat menjemputmu di Bandara. Walaupun aku tahu dia tak mungkin melakukan itu…, membacanya membuatku pusing sendiri. Dan suaranya…oh,” Eiji mengibaskan kepala, “tidak bisa diterima baik oleh telingaku. Membuat migrainku kambuh.”

Bahu Neela berguncang-guncang mendengar cerita Eiji. Untuk pertama kalinya setelah pertengkarannya dengan Kenneth, yang sepertinya sudah lama sekali, dia bisa tertawa lepas.

Eiji memandangi Neela dengan senyum yang penuh arti. Menggeleng, kemudian kembali menekuni kertas-kertas di pangkuannya. “Sudah lama aku tidak melihatmu begitu riang,” ujarnya. Menyisipkan senyum samar di ujung bibirnya. “Sepertinya lepas dari Kenneth membuatmu lebih bebas.”

Neela hanya bisa nyengir muram. Menarik napas dan mengembuskannya amat perlahan. Menghadapkan wajahnya ke depan selama beberapa saat, dan berpaling ke arah jendela di sampingnya. Memandang kosong suasana di luar yang masih sama redupnya seperti sebelumnya.

Lepas dari Kenneth membuatmu lebih bebas…”
Tidak juga, Neela membatin. Tanpa Kenneth, dia malah merasa resah. Resah, yang tak mungkin ditunjukkannya pada orang lain. Terutama Eiji.

Neela menyandarkan kepalanya di puncak jok. Membiarkan dirinya rileks. Musik klasik lembut yang tadi terdengar sayup-sayup, kini semakin jelas, mengantarkan suasana tenang nan semu di pikirannya yang mengawang. Dia memejamkan mata, dan melihat wajah Shinji yang tersenyum menenangkan di depannya. Dan setelah beberapa saat, sosoknya semakin jelas, seolah saja dia benar-benar bersamanya. Meminjamkan pundaknya pada Neela untuk bersandar. “Tidurlah, Neela,” dia berbisik lembut. “Aku di sini.”
Dan Neela terlelap. Bermimpi indah dan menenangkan seperti biasa.

The Prince Restaurant, Tokyo. VIP room.


Dai-san, pesawat Nona Neela telah mendarat sore tadi. Eiji Kodame yang menjemputnya.”
“Di mana dia menginap?”
Shangrila Hotel.”
“Seperti yang sudah kuduga.”
Arata Noh… ditugaskan untuk menemaninya selama di Tokyo, Dai-san.”
“Lalu kenapa? Kau takut?”
Bukan begitu…”
“Lalu? Kenapa kau kedengaran cemas?”
Saya akan bekerja sebaik yang saya bisa.”
“Bekerjalah kalau begitu. Bukankah untuk itu aku membayarmu?”

Pintu ruangan digeser dengan amat hati-hati. Seorang perempuan muda dengan sanggul sasak ala Jepang dan kimono motif bunga merah muda cerah, bersimpuh dengan wajah yang tertunduk. Ekspresinya lembut dan penuh senyum, menunjukkan kefemininan sejati seorang perempuan Jepang. Dia menunggu di balik pintu geser, mengangguk sopan pada seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan ambang pintu tersebut, dan mempersilakannya masuk ke dalam ruangan.

“Ibuku datang,” Dai memberitahu anak buahnya. “Kau lakukan tugasmu.”

Dai segera mematikan ponselnya. Meletakkannya di atas meja, dan buru-buru berdiri. Mempersiapkan senyum semanis mungkin untuk menyambut ibunya, Wina Tanaka. Seorang wanita Indonesia asli, yang selalu terlihat anggun di setiap kesempatan. Memiliki kharisma unik, yang membuatnya kelihatan menarik di mata orang lain. Dan tampaknya itu menurun pada putra sulungnya, Dai.

Hey, Mom,” sapa Dai. Kedua tangannya dalam posisi siap memeluk ibunya, namun perempuan cantik itu tidak menggubrisnya. Langsung duduk bersimpuh di atas bantal duduk yang telah disiapkan di depan meja; diam seribu bahasa.

Dai mendesah. Menempati bantal duduknya lagi. Tidak bicara apa pun selama sejenak, sampai pintu ruangan bergeser menutup.

“Oke,” Dai mengembuskan napas perlahan. “Apa lagi masalahnya sekarang?” Dia memandang wajah ibunya lekat-lekat. Menemukan banyak gurat halus di bawah mata dan bibirnya.

Wina tidak segera menjawab. Berlama-lama memandang Dai dengan mata hitamnya yang berkilat. Mata hitam yang sama dengan mata anak laki-lakinya itu. “Ibu ingin kau pulang ke Indonesia,” katanya dalam suara tegas dan dalam. “Segera. Jangan ditunda lagi.”
“Ibu jauh-jauh ke Jepang hanya untuk mengatakan itu padaku?”

Untuk beberapa saat ibu dan anak itu saling bertukar pandang. Wina, kelihatan amat putus asa, sedangkan Dai tampaknya berusaha menantang ibunya untuk bicara lagi.

“Kami khawatir tentang keadaanmu di sini,” kata Wina, meletakkan tas kecil di pangkuannya di atas tatami. Pandangannya sekilas teralih dari Dai, yang masih menunggunya bicara. “Sudah hampir satu bulan kau berada Tokyo, dan itu berbahaya,” lanjutnya kemudian, menatap Dai.
“Aku baik-baik saja Ibu. Apa sebenarnya yang Ibu dan ayah cemaskan? Ini Jepang. Tempat leluhur kita. Kita punya rumah dan bisnis di sini. Dan aku…, aku hanya ingin menelusuri… silsilah keluarga.”
“Ibu tidak percaya kalau itu yang sedang kau lakukan, Dai.” Mata Wina menatap sayu. “Kau sedang membangun sesuatu di sini, dan itu… tidak seharusnya kau lakukan. Berbahaya untukmu… mengingat insiden empat tahun lalu yang melibatkan adikmu.”
“Ibu kira aku sedang mengumpulkan pengikut?”
Wina menelan ludah, kemudian berkata, “Bukankah memang begitu?”
Dai mendengus sinis. “Apa salah kalau aku melakukan itu?”
“Salah.” Wina sama sekali tidak berbasa-basi. “Kau membuat dirimu dalam keadaan riskan.””
“Riskan? Oleh siapa?”
“Kau tahu siapa.”

Dan selama beberapa saat mereka diam lagi. Cuma mata mereka yang bicara, mengungkapkan isi hati masing-masing.

“Keluarga Kodame… telah terusik dengan ulah adikmu,” Wina berkata dengan wajah yang menghadap ke pangkuannya. “Shinji Kodame meninggal…, dan Kyouta,” Wina mendongak, matanya berkaca-kaca. Namun, dia berusaha keras mengendalikan dirinya, “terbunuh karena itu. Ibu tidak mau… kalau mereka juga menyentuhmu… dan mengambilmu dari Ibu. Sungguh Ibu tidak sanggup menerima itu, Dai.”

Dai memejamkan mata. Wajahnya masam, karena berusaha memfokuskan kepalanya untuk tetap dingin.

“Sekali lagi…, Ibu mohon, pulanglah. Atau kembali ke Amerika. Kau lebih aman di sana. Ayahmu telah setuju untuk mundur dari O ushi. Dengan begitu… kau tidak akan terikat lagi dengan—”
“Aku…” Dai menyela. Menatap ibunya dengan tajam. “tidak akan mundur dari O ushi. Apa pun situasinya. Tidak sekarang. Tidak! Sebelum aku bisa membalaskan kematian Kyouta pada Kodame sialan itu!” Suaranya menggeram bagai pecahan batu karang yang luruh dari tebing tinggi yang curam.

Wina mengempaskan bahunya dengan pasrah. Wajahnya murung, dan kesedihannya tergurat jelas di wajahnya sekarang. “Sampai kapan ini akan berlangsung?” Dia meratap. “Semua hal tentang kekerasan ini…, bunuh-membunuh ini… Aku tidak pernah menginginkannya terjadi pada keluargaku. Ini semua… terlalu sulit dan mustahil untuk kuhadapi. Demi Tuhan,” Wina memandang Dai dengan tatapan memelas, ”kau… anak yang baik, Dai. Kau bukan orang yang seperti itu. Kau… tidak seperti itu.”

Mata Dai mengejap beberapa kali, sementara ibunya terisak di hadapannya. Tangannya yang berada di sini tubuhnya gemetar, dan dia mengepalnya keras-keras.
“Tidak, Ibu…” katanya kemudian, dengan ujung-ujung bibir yang bergetar. “Kau salah… Aku orang yang seperti itu.” Ujung-ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum yang tak mengenakkan. “Sudah banyak… yang kuperbuat. Sudah banyak yang menderita karenaku… karena itu…, tak ada gunanya aku mundur sekarang atau kapan pun itu. Jadi kau tak perlu pikirkan aku lagi. Tak perlu cemaskan aku. Aku sudah siap mati dengan cara apa pun. Neraka… bukan sesuatu yang menakutkan untukku.”

Tak ada kata yang terucap dari bibir Wina, selain isak dan suara cegukan. Wajahnya sudah dibanjiri air mata yang tak henti-hentinya mengalir dan menetes-netes dari ujung dagunya. Dan dia sama sekali tak berusaha menyekanya.

“Tak ada lagi yang bisa Ibu katakan kalau begitu,” kata Wina, menyedot hidungnya beberapa kali. “Kau… sudah dewasa. Sangat dewasa. Dan Ibu… tidak berhak lagi menasihatimu.”
Setelah itu Wina bangkit, berdiri dan berbalik tanpa memandang Dai lagi. Dia berjalan ke pintu, menggesernya perlahan, dan keluar dari ruangan. Menggeser pintu tersebut menutup lagi.

Dai mengembuskan napas. Melempar pandang kosong dinding di seberangnya. Hatinya hancur, karena telah berkata lancang pada ibunya, namun pikirannya sudah tak bisa digoyahkan lagi. Bagaimana pun dia telah memutuskan, dan dia tak bisa berhenti di tengah jalan hanya karena alasan tersebut.
Bagaimana pun dia harus membalaskan kematian Kyouta. Harus. 

(bersambung)
...
gambar dari sini
Happy Return, Eiji.
I miss you so much.

10 comments:

Rusyda Fauzana February 26, 2012 at 7:45 AM  

Pagi ini aku membuka laptop, waahh...senangnya sudah ada chap 10 :)

Chapter ini berkesan sekali bagiku Mba, lebih teratur dan seperti biasa deskripsi detail tentang ruang, suasana, mimik muka, dan gerak tubuh tergambar indah di benakku hehe... selain itu karena ada variasi setting tempat yg berbeda, ini yang bikin imajinasi pembaca masuk ke nuansa baru ala Jepang yg tampak khas sekali di sini. (Aku jadi berpikir sptnya Mba Lita sampai menelusuri konsep ruang di Jepang jg ketika menulis cerita ini). Keren deh persiapan nulisnya! Sama terkesannya aku ketika membaca chapter ttg tempat latihan beladiri ala Jepang-nya Kenneth dg deskripsi istilah2 Jepang, hidup sekali ceritanya.

Yeay! syukurlah ternyata Dai itu anak baik-baik ya aslinya.
Mba, bikin Dai jadi anak baik lagi yaaa...tampaknya dia sayang sekali sama Ibunya (so sweet...)

I'll keep reading :)

-------------- February 26, 2012 at 8:50 AM  

baca cerita ini, liat dai, he's so tetsuya mbak
membuatku jadi kangen bau ocha, atau satsuki di bulan mei..
duh, jadi gak sabar pengen tau kelanjutannya

Rona Nauli February 26, 2012 at 3:06 PM  

aku kok jadi naksir eiji ya, Lit? :D

Gloria Putri February 26, 2012 at 3:44 PM  

si dai tu klo ga salah tmnnya juna kan? yg tlp2 melibtkan dai sgala itu di nyanyian sendu....

wah wah....eiji benar2 tampan...tp knp smpe skrng yg ada di benakku eiji itu kyak emon di catatan si boy ya? gendut jelek......mungkin krn dia kan dl kyak 'penjaganya' si shinji x ya? kaya emon yg ngasistenin boy?

Lita February 26, 2012 at 5:56 PM  

@Rusyda: Ya, Rus... aku agak panik sih survey 'Jepang' untuk chap ini dan chap2 selanjutnya. tapi gak terlalu ngoyo abis sih... hehehe *tetep*. Tapi emang, aku selalu survey apa pun kok yang mau aku tampilin di cerbungku, khawatir, nanti diprotes sama orang-orang yang lebih tahu dari aku. Malu kan?
Btw, Dai... yah seperti itulah dia. Tahu, deh aku, bisa gak ngerubah dia jadi lebih baik nanti wkwkwkwk.

@Gita: Yang mirip Tatsuya, Eiji apa Dai, Git? Jangan ketuker ya... foto di atas itu, foto Eiji lho aka Kwon sang woo... Kamu pernah ke Jepang ya? Aku iriiiii. Hiks!

@Rona: Eiji kan juga ganteng, Madam. Dewasa lagi. Baik lagi. Ganteng lagi. Protektif lagi. Apa pun yang baik2, ke Eiji dah. Wkwkwkwk.

@Glo: Iya, Glo. Dai itu temen baeknya Juna, waktu di Amerika. Dia juga yang nyelametin Lea dan Shinji, waktu pertama kali disekap Kyouta. Tapi waktu itu, dia nongol sebentar aja.

Btw, aku gak terima kau menyamakan Eiji dengan Emoooonnnn. Masa Eiji bilang, "eh, Mas Boy," dgn gaya lebay-nya Didi Petet, sih, Glo... *membayangkan dengan muram*

-------------- February 26, 2012 at 6:14 PM  

bukan mbk, yang mirip Dai
Tetsuya itu anak Jepang bapaknya itu klan2 an mcem yakuza bgtu ..
aku pernah ke Jepang sama dia, aku diculik (baca:diajak) waktu dia ke Indo

hua hua, can't wait can't wait xD

-silpe- February 27, 2012 at 10:26 AM  

Selamat datang kembali Eiji,,,tambah ganteng kok :)
terobati rasa kengen q #eeaa

yuli she,  February 27, 2012 at 12:25 PM  

Tau gak mba??
aku itu membayangkan seorang eiji kaya Alfred pennywoth nya Batman, sudah sedikit sepuh dan agak beruban tapi tetep gagah mengingat dia juga yakuza..
dan ternyata OMG Eijiiiiiiiiiiii...

Lenny February 27, 2012 at 8:21 PM  

baru pertama kali kesini ada novel online.bagus ni ceritanya dan penggambaran karakternya jg jelas :)

Lita February 27, 2012 at 10:03 PM  

@Silpe: Eiji kan emang gantenggggg... *slurppp!*

@Yuli: Yeee. Kenapa pada meleset sih memperkirakan Eiji... Tapi, yah... begitulah Eiji. sangat tampan dan dewasa. hihihihi...

@Leny: Ma kasih, ya Jeng Lenny. Udah mampir, dan komen. Meaningful banget buat aku. *kedip*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP