A Lot Like Love (11)

>> Monday, February 27, 2012



Protectors


KEHILANGAN orang tua, kehilangan tempat tinggal. Menumpang di banyak tempat, rotepas-pasan di kamar kecil sempit yang pengap. Menjadi seseorang yang tak menarik, tak punya uang, tak dianggap, tak berguna, semua hal yang tak mengenakkan semua itu pernah dirasakan dan dialami oleh Neela lama sebelum dia bertemu Shinji.

Sejak itu, bisa dibilang roda keberuntungan berputar 180 derajat. Membuat Neela menjadi seseorang yang memiliki segala  hal yang tak pernah dia miliki sebelumnya; nama, wajah cantik, uang, benda, dan kasih sayang. Tapi kasih sayang…, baginya yang terpenting. Kasih sayang adalah awal semua kebaikan itu terjadi. Kasih sayang, yang membuat semua pintu yang tadinya tertutup, kini terbuka lebar untuknya. Membawanya ke tempat yang lebih baik dari tempat-tempat yang pernah disinggahinya sebelumnya. Dan yang paling utama, membuatnya bertemu dengan banyak orang baik yang menganggapnya sebagai sahabat dan keluarga. Kasih sayang itu, kasih sayang tulus  tanpa pamrih dari seorang Shinji Tsubaki, selebriti ternama, yang tak sekali pun pernah diharapkannya untuk bertemu, dan tak pernah disangkanya akan begitu mengasihinya. Merubah hidupnya secara total, hingga menjadi seperti sekarang.

Sampai kapan pun Neela akan tetap mengingatnya. Berterima kasih padanya, dan berutang budi padanya. Tak ada satu pun yang bisa menggoyahkan pendiriannya tentang itu.

Shangri-La Hotel, Chiyoda, Tokyo: Presidential Suit


“Aku akan tinggal di sini?” Neela tercengang. Matanya menjelajah seisi ruang tamu luas yang dipenuhi furniture dan perabot mewah di mana dia sekarang berada.

“Ya,” Eiji berseru, sementara Neela berlarian memasuki tiap kamar dan ruang yang ada di Presidential Suit dengan riang. Sepatu ketsnya berdecit-decit di lantai. “Kau akan tinggal di sini selama satu bulan ini.” Eiji melepaskan mantelnya, melipatnya menjadi dua bagian, dan menyampirkannya di punggung sofa. Berdiri bersedekap, menyaksikan kehebohan sikap Neela. “I can tell you like it.” Eiji mengulum senyum.

Neela yang baru keluar dari areal dapur yang berada di sisi sebelah kanan ruang tamu, berjalan menghampiri Eiji dengan tergesa. Mukanya separo-panik, separo antusias. “Ini…,” suaranya kedengaran tercekat, “mahal sekali kan?” tanyanya entah kenapa berbisik.
So?
“Kau sudah bilang Malini? Kalau aku… akan tinggal di ruangan semahal ini?”
Eiji mengikik tertahan. “Kenapa aku harus bilang padanya?”
“Karena dia yang mengurus keuanganku, Eiji,” kata Neela tak sabar. “Kalau Kenneth… dia pasti tak akan mengijinkanku tinggal di hotel semahal ini. Aku bahkan tak mau tahu sama sekali harganya.” Dia melempar pandang ke langit-langit berbentuk kubah di atas yang berwarna merah dengan pinggiran emas.
“Tidak usah dipikirkan masalah biayanya,” kata Eiji, beberapa saat setelah Neela bicara. Neela segera menurunkan wajahnya, membulatkan matanya pada Eiji. “Aku sudah mengurusnya.”
“Tapi—”
“Neela.” Eiji menatap Neela lekat-lekat, memotong kalimatnya. “Aku sudah mengurusnya.” Nada suaranya terdengar amat serius.
Neela meringis. Ingin kembali bicara, namun tatapan Eiji membuat mulutnya seolah lengket, sulit membuka. Jadi dia hanya mengedikkan bahu, dan berkata, “Terima kasih,” dengan penuh ketulusan.
“Kau tidak usah cemas, oke?” Eiji kembali bicara. “Yang perlu kau cemaskan adalah kolaborasimu dengan Kotaro Fukuma empat minggu lagi. Berlatihlah dengan giat. Tunjukkan yang terbaik. Karena bagaimana pun kau mewakili negaramu.”
“Aku hanya main musik, Eiji, bukan ikut serta dalam olimpiade dunia,” timpal Neela, memberengut. Eiji tergelak. “Lagipula ini konser… bukan kontes.”
“Oke… oke. Sori,” kata Eiji di sela kekehnya. “Mungkin aku sedikit berlebihan. Terbawa suasana.”
Ganti Neela yang terkekeh, dan tepat saat itu, suara ketukan terdengar dari pintu ruang tamu. Baik Neela maupun Eiji melempar pandang ke arah pintu tersebut.

Bell boy, yang tadi masuk bersama keduanya ke dalam ruangan untuk membawakan barang-barang Neela, keluar dari kamar di mana Neela nanti akan tidur—Neela sempat lupa kalau laki-laki itu belum meninggalkan ruangan. Berjalan tenang menghampiri pintu, dan menariknya membuka. Dua orang; satu perempuan dan satu lagi laki-laki, masuk ke dalam, dan melangkah mendekat. Yang perempuan—Neela suka rambut lurusnya yang hitam kelam, cantik dan imut. Imut yang khas perempuan-perempuan Jepang pada umumnya, dengan kulit berkilap seperti porselen, dan pipi bersemu, yang membuatnya persis boneka. Dia tampak begitu elegan, dengan mantel wol krem cerah di atas sweater putihnya, dipadukan dengan celana jins biru gelap dan bot coklat yang memanjang sampai betis. 

Sedangkan yang laki-laki, Neela tak bisa memikirkan kata yang tepat untuknya selain: cute. Bertubuh tinggi—beberapa senti lebih tinggi dari perempuan di sebelahnya, atletis, rambut kecoklatan sepanjang tengkuk, yang sebagian diikat di belakang kepalanya. Penampilannya lebih santai, hanya mengenakan kaus putih dengan tulisan-tulisan kecil bertinta hitam memenuhi permukaannya, serta celana longgar gelap dan sepatu kets putih. Senyumnya adalah senyum yang akan membuat siapa pun yang memalingkan wajah, akan kembali memandang lagi. Tak akan bosan melihatnya. Satu tangannya menjinjing sebuah tas hitam besar, dimana dia menjejalkan jaket tebalnya. Berayun-ayun seiring langkahnya.

“Neela.” Eiji menegakkan tubuh. Memasukkan satu tangannya ke saku celana jins hitamnya. “Ini adikku, Chiyo.” Eiji mengangguk pada perempuan berambut hitam lurus itu. Neela tampak kaget. Eiji punya adik perempuan? “Dan ini,” dia mengarahkan tangannya yang bebas ke arah laki-laki itu, “Arata. Stafku… yang akan menemanimu selama di Tokyo.”

Neela memalingkan wajahnya buru-buru pada Eiji. “Mmm… Menemani?”
“Saya yang akan mengantar Nona Neela, kemana pun Nona Neela ingin pergi selama berada di sini,” kata Arata sopan, dalam bahasa Indonesia yang amat lancar.

Neela terpana. Sama sekali tak menyangka Arata bisa bicara dalam bahasa Indonesia. Begitu sopan dan tertata. Tidak sepadan dengan penampilan santainya.

“Aku sibuk sekali di sini,” ujar Eiji, kembali bersedekap. “Takkan bisa menemanimu sering-sering. Dan kau… sama sekali tak boleh bepergian sendiri, jadi aku menugaskan Arata untuk menemanimu. Dan Chiyo,” dia melirik sekilas adiknya, yang tersenyum manis—dia berbeda sekali dengan Eiji dilihat dari sudut mana pun, “aku pikir… akan lebih menyenangkan bagimu, bila memiliki teman sebaya yang bisa kau ajak bicara,” katanya.
“Kau dan aku seumur, Neela,” tambah Chiyo. Lagi-lagi Neela tercengang, mendengar dia berbahasa Indonesia (aksennya kedengaran lucu). “Kapan pun kau perlu teman bicara, atau membutuhkan bantuanku, kau bisa menghubungiku. Dengan senang hati, aku akan menemanimu.”
Neela mengangguk penuh antusias, memandang Chiyo dengan mata yang berbinar. “Ya… ya. Tentu. Aku juga… senang sekali. Oh… Aku sama sekali tak tahu, Eiji punya adik.” Neela mengarahkan matanya bergantian, dari Chiyo kemudian Eiji, dan ke Chiyo lagi. “Bahasa Indonesiamu sangat fasih.”
“Itu karena aku sudah lama tinggal di Indonesia,” kata Chiyo. “Baru sekitar enam tahun lalu aku pindah ke Jepang. Dan sampai sekarang, aku masih merindukannya. Ingin kembali ke sana…, kalau saja sempat.” Dia tampak murung. “Aku sibuk sekali, membantu kakakku.” Dia memandang Eiji dengan tampang seolah menuduh, yang langsung dibalas Eiji dengan menyipitkan mata mengejek.
“Kau tahu Shinji, kalau begitu?” tanya Neela, penuh minat.
Chiyo memandang Neela lagi. Mengangguk tersenyum. “Ya, aku tahu Shinji,” jawabnya. Tanpa ada tambahan kata-kata lagi setelahnya.
“Oke,” cetus Eiji setelah hening beberapa saat, “aku pergi dulu, Neela.”
“Kemana?”
“Ada acara yang harus aku dan Chiyo hadiri.”
“Boleh aku ikut?”
Eiji dan Chiyo menggeleng panik bersamaan. Tampang mereka ngeri. “Bukan acara yang cocok untukmu,” kata Eiji buru-buru. Tampak tak enak hati. “Kau akan mati bosan. Kami akan bertemu para orang tua yang menyebalkan.”
“Kau lebih baik istirahat,” Chiyo turut bicara. “Besok… sepulang dari bertemu Kotaro, kita bisa jalan-jalan.” Nada bicara Chiyo seolah membujuk.

Kedua kakak-beradik itu nyengir. Cengiran yang serupa. Dan mencurigakan. Tapi Neela tak mau berpikir keras mengenai itu. Lagipula dia memang lebih baik beristirahat malam ini, karena besok dia akan bertemu Kotaro Fukuma.  

“Kalian… apa akan kembali kemari nanti?” tanya Neela setelahnya.
Eiji menggeleng. Mengambil mantelnya dari puncak sofa. “Tidak. Arata yang akan menemanimu di sini.”
“Ha?” Neela tercengang. Menoleh pada Arata yang tersenyum sopan. Apa maksud Eiji, dia akan berdua saja bersama Arata?
“Arata akan tidur di kamar lain.” Eiji melempar pandang melewati pucuk kepala Neela. Ke arah kamar kosong di sebelah kirinya. “Aku percaya padanya. Jadi kau tidak usah cemas dia akan macam-macam,” katanya lagi, seolah saja itu akan menyelesaikan masalah.
“Bu-bukan begitu,” sambar Neela, memerah. “Maksudku…” Tak ada kata-kata lagi yang bisa dipikirkan Neela untuk melanjutkan kalimatnya. Dia menunduk, tak berani mendongak. Tak mau membayangkan ekspresi Arata mendengar kata-kata Eiji barusan.
“Kami pergi dulu,” pamit Eiji, setelah dia selesai mengenakan mantelnya. “Besok, kita bertemu lagi saat makan siang.”

Eiji menarik Neela mendekat, dan memberikan ciuman kecil di keningnya. Neela tersenyum lemah, kemudian membalas anggukan Chiyo yang telah bersiap pergi. “Ja, mata, Neela,” ucap Chiyo riang. “Artinya, sampai jumpa,” jelasnya kemudian, ketika Neela memberikan pandangan kosong padanya
“Oh,” Neela meringis, “sampai jumpa.”

Eiji dan Chiyo berbalik. Melangkah santai menuju pintu. Arata mengikuti di belakang keduanya, mengantar mereka pergi.

Excuse me, Miss Neela.”
Neela terperanjat. Serentak menoleh ke arah sebelahnya. Laki-laki berompi warna pastel, berdiri dengan senyum ramah. “Your suitcase have already unpacked,” dia memberitahu. “And I have tidy all the room. And its ready for you now.
“Oh… okay.” Neela tersenyum kikuk.
I take my leave.”
“O-okay,” balas Neela lagi, masih sama gugupnya. “A… arigato.”
Dou-itashimashite, Neela san,”—Terima kasih kembali, Nona Neela, balas Bell Boy tersebut, masih dengan senyumnya yang ramah.
Setelah itu dia pergi, berpapasan dengan Arata yang telah kembali dari pintu.

Setelah Bell Boy itu menghilang sepenuhnya dari ruangan, Arata mulai bicara—(“Nona Neela—”)—tapi Neela segera menyelanya, dan bertanya, “Berapa umurmu…, Tuan Arata?” Dia mengangkat kepalanya sedikit untuk menatapnya.
Arata mengernyit. “Dua puluh tujuh…?” Dia sepertinya bingung diajukan pertanyaan seperti itu.
“Seumuran denganku juga, kalau begitu,” kata Neela cepat, menyilangkan kedua tangannya. “Jadi, Arata…, jangan panggil aku dengan ‘Nona’,” pintanya. “Kalau kau akan menemaniku… jangan bersikap formal. Aku bukan Eiji, atasanmu. Aku hanya orang biasa. Bukan siapa-siapa.”
“Saya hanya berusaha sopan,” sahut Arata. “Semua teman Tuan Eiji, patut saya hormati.”
“Tapi…” Neela jadi salah tingkah. “Tidak usah berlebihan. Aku… tak nyaman.”
“Kalau memang kemauan Nona Neela begitu, saya akan berusaha menuruti,” senyum Arata, diiringi anggukan yang amat sopan.
“Aku tidak memintamu untuk menurutiku.” Neela muram. “Aku hanya… ingin kau… bersikap biasa saja padaku.”
“Saya akan coba.” Sikap Arata masih sama lembut dan sopannya seperti sebelumnya. Tidak goyah sama sekali.

Ujung-ujung bibir Neela berkedut. Dan tak lama kemudian, setelah beberapa detik bertatap muka dengan Arata, dia menyerah. Berpaling, dan bergegas menuju kamar. Masuk dan menutup pintu di belakangnya.

(Bersambung)
...
gambar dari sini
Arata sudah di mention namanya sejak di cerbung 'Lea'. Baru menampakkan diri di 'Nyanyian Sendu', dan sekarang muncul lagi, untuk menjaga Neela selama di Tokyo. 
Sejak pertama, muka Kim Bum yang memang terbayang untuk karakter Arata ini. Mukanya imut, tapi sebenarnya gak 'imut'.
Keep reading, ya, Guys. And welcome, Arata.

Ps. Untuk Chiyo, masih cari 'wajah' yang pas nih. Ada masukan?

Read more...

A Lot Like Love (10)

>> Saturday, February 25, 2012



The Arrival


BANDARA Internasional Narita, Narita, Prefektur Chiba, Jepang.
Gerbang kedatangan.

SENYUM Neela mengembang riang. Langkahnya yang sebelumnya lambat semakin cepat. Travel bagnya terseret-seret tak beraturan di belakangnya. Dan ketika jarak Eiji dengannya hanya tinggal beberapa senti, dia melepas pegangannya, merentangkan tangannya membuka. Meraih leher Eiji; mengalungkannya erat di sekelilingnya, dan membenamkan sebagian wajahnya di pundaknya. Memejamkan matanya, dan mengembuskan napas amat lega. Tak memedulikan orang lain di sekelilingnya yang kini memancangkan mata masing-masing ke arahnya dan Eiji.

Eiji memeluknya. Mengusap rambutnya dengan lembut. Dan selama beberapa waktu, dia bergeming. Membiarkan Neela bersembunyi di dalam dekapan hangatnya. Bernapas perlahan di dadanya; melepas rindu serta kegundahan yang telah beberapa lama disimpannya dalam hati dan juga pikirannya.

Are you okay?” tanya Eiji, setelah Neela menarik tubuhnya menjauh. “Tidak jet lag?”
Neela menggeleng. “I’m fine,” katanya, mengedikkan bahu. Kemudian dia diam. Matanya bergerak dari atas ke bawah, mengamati Eiji. Menjelajahi mantel wol abu-abu yang dikenakannya, sarung tangan kulit hitam yang membalut kedua tangannya, serta scarf berwarna senada yang melingkari lehernya. Secara keseluruhan, penampilan Eiji, benar-benar sempurna.
“Kenapa?” Eiji berjengit. Tampak bingung dengan cara Neela memandangnya.
Neela meringis. “Kau… tidak pernah kelihatan setampan ini,” ujarnya. “Kau ganteng sekali.”
Eiji memutar bola matanya ke atas. Menggeleng, sambil mengulum senyum. “Sejak kapan kau jadi centil begini?”
Neela terkekeh. “Aku hanya mau bilang begitu,” katanya geli. “Apa salah kalau aku memujimu?”
“Aku bukan pria yang pantas mendapatkan pujian itu darimu,” balas Eiji.
Neela memberengut. “Maksudmu?”
“Yah…” Tangan Eiji meraih tudung jaket Neela yang merosot. Menaikkannya ke atas untuk menutupi kepalanya. “Lebih baik kalau pujianmu itu kau berikan pada laki-laki yang jadi pacarmu kan?” Eiji memamerkan deretan giginya yang rata.
Bibir Neela mengerucut. “Kau merusak moodku,” ujarnya kesal,  sementara Eiji cekikikan. Tapi setelah itu dia ikut terkekeh.
“Hanya itu,” Eiji mengangguk ke travel bag besar ungu gelap berlogo ‘Polo’ yang teronggok di belakang Neela. “barangmu?”
“Dan tas… Juga—” Neela mengangkat bahunya dimana tali violin case-nya tersandang. Menepuk-nepuknya pelan. “—biola ini.”
Eiji mengangguk. “Oke. Kita berangkat sekarang… ke Tokyo.” Eiji menggapai gagang travel bag Neela, dan memutar tubuhnya. Siap berangkat.
Neela tersenyum. Mengeratkan tali tas besarnya, menurunkan violin case-nya dari bahu satunya, dan menentengnya, sambil berjalan merendengi Eiji menuju ujung lobi terminal.

Sebuah mobil Mercedez Bens hitam telah menunggu. Pintu belakangnya telah dibuka, begitu pun bagasinya. Seorang laki-laki berstelan hitam rapi—sepertinya supir mobil tersebut, yang sebelumnya berdiri di belakang mobil, di sebelah bagasi, segera mendekat, mangambil alih gagang travel bag dari Eiji. Mendorongnya masuk, dan menjinjingnya sampai ke mobil, menempatkannya di bagasi.

“Tas biolamu, mau diletakkan di bagasi juga?” tanya Eiji pada Neela, sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Neela menggeleng mantap, berkata, “Aku bawa sendiri saja,” dengan manis. Eiji mengangguk paham, kemudian mempersilakan Neela masuk ke mobil lebih dulu. Menyusulnya sejenak kemudian, dan duduk di sebelahnya. Si supir segera menutup pintu belakang, dan secepatnya berjalan memutari mobil, masuk ke dalamnya.

Tak lama kemudian, mobil melaju. Neela menyandarkan punggungnya ke belakang dengan nyaman. Kepalanya berpaling ke arah jendela yang bening dan bersih tanpa debu, mengamati kendaraan; bus dan mobil yang berpapasan masuk ke areal bandara. Udara dingin membuat semuanya tampak redup dan abu-abu; menandakan betapa rendahnya suhu di luar sana. Tadi saat masih berada di lobi Neela sempat merasa kedinginan. Jaket yang dikenakannya sepertinya tidak cukup menghalau angin dingin yang menusuk. Tapi sekarang hangat. Pemanas di dalam mobil, telah dinyalakan.

“Kau harus selalu mengenakan jaket dan mantel tebal kapan pun kau ada di luar, Neela,” Eiji memberitahu. “Kalau tidak kau akan terkena hipotermia.”
Neela menoleh. Memandang Eiji yang sedang membaca kertas-kertas bertulisan entah apa di permukaannya—semuanya ditulis dengan huruf Kanji—dengan tampang serius.
“Cuaca di Jepang sangat jauh berbeda dengan cuaca di Indonesia,” katanya lagi, masih tak memandang Neela. “Aku tidak mau kondisimu drop selama berada di sini. Malini bisa ngamuk nanti.”

Dengus geli Neela membuat Eiji menoleh. “Kenapa?” tanyanya heran. “Benar kan?”
“Malini memang membuat takut semua orang,” kekeh Neela. “Bahkan kau saja takut.”
“Bukan takut,” sangkal Eiji. “Malas…., dengar omelannya. Beberapa kali dia menelpon, mengirimiku pesan teks, baik sms mau pun bbm,”—Neela tergelak—“menyerangku dengan email yang berisi ancaman kalau dia akan menghajarku bila aku terlambat menjemputmu di Bandara. Walaupun aku tahu dia tak mungkin melakukan itu…, membacanya membuatku pusing sendiri. Dan suaranya…oh,” Eiji mengibaskan kepala, “tidak bisa diterima baik oleh telingaku. Membuat migrainku kambuh.”

Bahu Neela berguncang-guncang mendengar cerita Eiji. Untuk pertama kalinya setelah pertengkarannya dengan Kenneth, yang sepertinya sudah lama sekali, dia bisa tertawa lepas.

Eiji memandangi Neela dengan senyum yang penuh arti. Menggeleng, kemudian kembali menekuni kertas-kertas di pangkuannya. “Sudah lama aku tidak melihatmu begitu riang,” ujarnya. Menyisipkan senyum samar di ujung bibirnya. “Sepertinya lepas dari Kenneth membuatmu lebih bebas.”

Neela hanya bisa nyengir muram. Menarik napas dan mengembuskannya amat perlahan. Menghadapkan wajahnya ke depan selama beberapa saat, dan berpaling ke arah jendela di sampingnya. Memandang kosong suasana di luar yang masih sama redupnya seperti sebelumnya.

Lepas dari Kenneth membuatmu lebih bebas…”
Tidak juga, Neela membatin. Tanpa Kenneth, dia malah merasa resah. Resah, yang tak mungkin ditunjukkannya pada orang lain. Terutama Eiji.

Neela menyandarkan kepalanya di puncak jok. Membiarkan dirinya rileks. Musik klasik lembut yang tadi terdengar sayup-sayup, kini semakin jelas, mengantarkan suasana tenang nan semu di pikirannya yang mengawang. Dia memejamkan mata, dan melihat wajah Shinji yang tersenyum menenangkan di depannya. Dan setelah beberapa saat, sosoknya semakin jelas, seolah saja dia benar-benar bersamanya. Meminjamkan pundaknya pada Neela untuk bersandar. “Tidurlah, Neela,” dia berbisik lembut. “Aku di sini.”
Dan Neela terlelap. Bermimpi indah dan menenangkan seperti biasa.

The Prince Restaurant, Tokyo. VIP room.


Dai-san, pesawat Nona Neela telah mendarat sore tadi. Eiji Kodame yang menjemputnya.”
“Di mana dia menginap?”
Shangrila Hotel.”
“Seperti yang sudah kuduga.”
Arata Noh… ditugaskan untuk menemaninya selama di Tokyo, Dai-san.”
“Lalu kenapa? Kau takut?”
Bukan begitu…”
“Lalu? Kenapa kau kedengaran cemas?”
Saya akan bekerja sebaik yang saya bisa.”
“Bekerjalah kalau begitu. Bukankah untuk itu aku membayarmu?”

Pintu ruangan digeser dengan amat hati-hati. Seorang perempuan muda dengan sanggul sasak ala Jepang dan kimono motif bunga merah muda cerah, bersimpuh dengan wajah yang tertunduk. Ekspresinya lembut dan penuh senyum, menunjukkan kefemininan sejati seorang perempuan Jepang. Dia menunggu di balik pintu geser, mengangguk sopan pada seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan ambang pintu tersebut, dan mempersilakannya masuk ke dalam ruangan.

“Ibuku datang,” Dai memberitahu anak buahnya. “Kau lakukan tugasmu.”

Dai segera mematikan ponselnya. Meletakkannya di atas meja, dan buru-buru berdiri. Mempersiapkan senyum semanis mungkin untuk menyambut ibunya, Wina Tanaka. Seorang wanita Indonesia asli, yang selalu terlihat anggun di setiap kesempatan. Memiliki kharisma unik, yang membuatnya kelihatan menarik di mata orang lain. Dan tampaknya itu menurun pada putra sulungnya, Dai.

Hey, Mom,” sapa Dai. Kedua tangannya dalam posisi siap memeluk ibunya, namun perempuan cantik itu tidak menggubrisnya. Langsung duduk bersimpuh di atas bantal duduk yang telah disiapkan di depan meja; diam seribu bahasa.

Dai mendesah. Menempati bantal duduknya lagi. Tidak bicara apa pun selama sejenak, sampai pintu ruangan bergeser menutup.

“Oke,” Dai mengembuskan napas perlahan. “Apa lagi masalahnya sekarang?” Dia memandang wajah ibunya lekat-lekat. Menemukan banyak gurat halus di bawah mata dan bibirnya.

Wina tidak segera menjawab. Berlama-lama memandang Dai dengan mata hitamnya yang berkilat. Mata hitam yang sama dengan mata anak laki-lakinya itu. “Ibu ingin kau pulang ke Indonesia,” katanya dalam suara tegas dan dalam. “Segera. Jangan ditunda lagi.”
“Ibu jauh-jauh ke Jepang hanya untuk mengatakan itu padaku?”

Untuk beberapa saat ibu dan anak itu saling bertukar pandang. Wina, kelihatan amat putus asa, sedangkan Dai tampaknya berusaha menantang ibunya untuk bicara lagi.

“Kami khawatir tentang keadaanmu di sini,” kata Wina, meletakkan tas kecil di pangkuannya di atas tatami. Pandangannya sekilas teralih dari Dai, yang masih menunggunya bicara. “Sudah hampir satu bulan kau berada Tokyo, dan itu berbahaya,” lanjutnya kemudian, menatap Dai.
“Aku baik-baik saja Ibu. Apa sebenarnya yang Ibu dan ayah cemaskan? Ini Jepang. Tempat leluhur kita. Kita punya rumah dan bisnis di sini. Dan aku…, aku hanya ingin menelusuri… silsilah keluarga.”
“Ibu tidak percaya kalau itu yang sedang kau lakukan, Dai.” Mata Wina menatap sayu. “Kau sedang membangun sesuatu di sini, dan itu… tidak seharusnya kau lakukan. Berbahaya untukmu… mengingat insiden empat tahun lalu yang melibatkan adikmu.”
“Ibu kira aku sedang mengumpulkan pengikut?”
Wina menelan ludah, kemudian berkata, “Bukankah memang begitu?”
Dai mendengus sinis. “Apa salah kalau aku melakukan itu?”
“Salah.” Wina sama sekali tidak berbasa-basi. “Kau membuat dirimu dalam keadaan riskan.””
“Riskan? Oleh siapa?”
“Kau tahu siapa.”

Dan selama beberapa saat mereka diam lagi. Cuma mata mereka yang bicara, mengungkapkan isi hati masing-masing.

“Keluarga Kodame… telah terusik dengan ulah adikmu,” Wina berkata dengan wajah yang menghadap ke pangkuannya. “Shinji Kodame meninggal…, dan Kyouta,” Wina mendongak, matanya berkaca-kaca. Namun, dia berusaha keras mengendalikan dirinya, “terbunuh karena itu. Ibu tidak mau… kalau mereka juga menyentuhmu… dan mengambilmu dari Ibu. Sungguh Ibu tidak sanggup menerima itu, Dai.”

Dai memejamkan mata. Wajahnya masam, karena berusaha memfokuskan kepalanya untuk tetap dingin.

“Sekali lagi…, Ibu mohon, pulanglah. Atau kembali ke Amerika. Kau lebih aman di sana. Ayahmu telah setuju untuk mundur dari O ushi. Dengan begitu… kau tidak akan terikat lagi dengan—”
“Aku…” Dai menyela. Menatap ibunya dengan tajam. “tidak akan mundur dari O ushi. Apa pun situasinya. Tidak sekarang. Tidak! Sebelum aku bisa membalaskan kematian Kyouta pada Kodame sialan itu!” Suaranya menggeram bagai pecahan batu karang yang luruh dari tebing tinggi yang curam.

Wina mengempaskan bahunya dengan pasrah. Wajahnya murung, dan kesedihannya tergurat jelas di wajahnya sekarang. “Sampai kapan ini akan berlangsung?” Dia meratap. “Semua hal tentang kekerasan ini…, bunuh-membunuh ini… Aku tidak pernah menginginkannya terjadi pada keluargaku. Ini semua… terlalu sulit dan mustahil untuk kuhadapi. Demi Tuhan,” Wina memandang Dai dengan tatapan memelas, ”kau… anak yang baik, Dai. Kau bukan orang yang seperti itu. Kau… tidak seperti itu.”

Mata Dai mengejap beberapa kali, sementara ibunya terisak di hadapannya. Tangannya yang berada di sini tubuhnya gemetar, dan dia mengepalnya keras-keras.
“Tidak, Ibu…” katanya kemudian, dengan ujung-ujung bibir yang bergetar. “Kau salah… Aku orang yang seperti itu.” Ujung-ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum yang tak mengenakkan. “Sudah banyak… yang kuperbuat. Sudah banyak yang menderita karenaku… karena itu…, tak ada gunanya aku mundur sekarang atau kapan pun itu. Jadi kau tak perlu pikirkan aku lagi. Tak perlu cemaskan aku. Aku sudah siap mati dengan cara apa pun. Neraka… bukan sesuatu yang menakutkan untukku.”

Tak ada kata yang terucap dari bibir Wina, selain isak dan suara cegukan. Wajahnya sudah dibanjiri air mata yang tak henti-hentinya mengalir dan menetes-netes dari ujung dagunya. Dan dia sama sekali tak berusaha menyekanya.

“Tak ada lagi yang bisa Ibu katakan kalau begitu,” kata Wina, menyedot hidungnya beberapa kali. “Kau… sudah dewasa. Sangat dewasa. Dan Ibu… tidak berhak lagi menasihatimu.”
Setelah itu Wina bangkit, berdiri dan berbalik tanpa memandang Dai lagi. Dia berjalan ke pintu, menggesernya perlahan, dan keluar dari ruangan. Menggeser pintu tersebut menutup lagi.

Dai mengembuskan napas. Melempar pandang kosong dinding di seberangnya. Hatinya hancur, karena telah berkata lancang pada ibunya, namun pikirannya sudah tak bisa digoyahkan lagi. Bagaimana pun dia telah memutuskan, dan dia tak bisa berhenti di tengah jalan hanya karena alasan tersebut.
Bagaimana pun dia harus membalaskan kematian Kyouta. Harus. 

(bersambung)
...
gambar dari sini
Happy Return, Eiji.
I miss you so much.

Read more...

A Lot Like Love (9)

>> Thursday, February 23, 2012



Farewell


KENNETH melipat kakinya. Membalik halaman buku yang sedang ditekuninya. Ekspresinya serius, matanya menyipit, bibirnya mengatup rapat. Kelihatannya dia benar-benar menyimak isi buku tersebut.

Beberapa pengunjung kafe, kebanyakan pengunjung perempuan, memandang penasaran ke arahnya. Saling berbisik pada teman semejanya—sebenarnya sih tidak berbisik, karena mereka sama sekali tidak repot memelankan suara mereka saat berbicara, tentang Kenneth. 
“Ganteng baget ternyata aslinya…”
“Sayangnya, gak suka perempuan…”
“Kira-kira, dia ‘cowok’-nya apa ‘cewek’-nya…”
“Lihat cara duduknya…, persis perempuan…”
“Rambutnya. Hitam banget dan tebal. Kaya rambut bintang iklan shampoo…”
“Kok, gak sama… Neela?”

Konsentrasi Kenneth buyar sudah. Nama itu pemicunya. Penyebab utama kegelisahannya; membuatnya sulit sekali fokus pada sesuatu kapan pun nama itu terdengar oleh telinganya. Dia bisa saja tidak menggubris kalimat-kalimat lainnya, tapi yang satu itu…

Mata Kenneth mendelik naik, dan perempuan-perempuan yang sedang sibuk berkasak-kusuk dan terkikik genit di depannya itu langsung bungkam. Mengembalikan kepala masing-masing ke posisi yang sebenarnya, setelah sebelumnya berputar 90 derajat, bahkan 180 derajat, hanya untuk mengamatinya.

“Dasar cewek,” gerutu Kenneth pelan, sehingga cuma dia sendiri yang mendengar. Menutup bukunya dengan kesal, sehingga menimbulkan suara ‘plak’ keras. Tak ada hasrat lagi untuknya membaca. ‘Neela’ telah mengkontaminasi benaknya. Dan butuh waktu baginya, untuk mengusir sosoknya dari kepalanya.

Jam berapa….? Kenneth mengguncang lengannya, mengerling arloji logam di pergelangan tangannya. Sudah jam lima, dan orang yang dinantinya sejak sejam lalu, belum menampakkan diri sama sekali.
Jam karet. Dia cemberut. “Bad habit.”

Bel di atas pintu kafe, mendentangkan nada lembut sebagai tanda datangnya pengunjung baru. Salah seorang pramusaji segera menghampiri pelanggan tersebut, mengucapkan ‘selamat datang’ dengan riang, dan ‘ada yang bisa saya bantu?’ dengan nada suara yang sudah sangat familier di telinga siapa pun yang ada di kafe ini.

“Kenneth Altis?”—Kenneth segera menoleh, mendengar namanya disebut oleh si pramusaji—“Mari saya antar. Sebelah sini.”

Kenneth mendesah. Dia jengkel, namun tak berdaya untuk menunjukkan kejengkelannya. Orang yang akan ditemuinya ini calon kliennya, dan dia membutuhkannya—membutuhkan uangnya, tentunya. Jadi, dia tak bisa bersikap sekenanya. Meskipun begitu dia tak bersusah payah mengenakan jasnya yang tersampir di lengan sofa. Atau mengencangkan dasinya yang sebelumnya telah dilonggarkan dari kerahnya. Apa adanya saja, pikir Kenneth. Berdiri, untuk menyambut orang tersebut.

Si pramusaji mengantarkan seorang pria tambun berusia kira-kira 50 tahunan, yang ditemani dua orang—laki-laki dan perempuan, yang berpenampilan amat rapi. Saking rapinya, sampai-sampai Kenneth jadi malu dengan penampilannya, tapi teratasi melihat pria tambun tersebut, yang hanya mengenakan kaus di bawah jas hitamnya yang kelihatan kekecilan untuk badan besarnya.

“Tuan Kenneth?” Pria tambun itu menyapanya. Bibirnya sedikit mengerucut saat dia bersuara.
“Tuan Harlan?” Kenneth menjulurkan tangan kanannya, yang segera disambut erat pria itu.
Kenneth mempersilakan Harlan dan dua orang lainnya duduk. Sempat menawarkan minum atau makan, tapi segera ditolak dengan gelengan kepala yang mantap dari Harlan.
“Saya sibuk sekali,” katanya dengan suara sedikit parau. “Saya cepat-cepat.”
Kenneth mengangguk. Paham. “Kalau begitu, bisa Anda mengatakan pada saya, alasan Anda ingin bertemu saya?”
“Saya punya anak gadis. Anak bungsu.” Harlan tidak berbasa-basi sama sekali. Mungkin bukan sifatnya. “Dia ingin jadi penyanyi. Pemusik terkenal. Dan saat ini… Anda yang terbaik… sebagai manajer. Anda juga homoseksual—saya tidak bermaksud menyinggung tentunya,” kata Harlan buru-buru, tak enak hati. “saya hanya merasa, putri saya akan aman bila Anda yang menjadi manajernya.”

Kenneth tak tahu harus berkata apa.

“Berapa pun bayaran Anda, saya akan bayar. Permintaan Anda, akan saya penuhi,” lanjut Harlan. Matanya yang agak merah karena lelah, mengejap. Ekspresinya tak main-main. “Yang penting, Anda bisa mengorbitkan putri saya menjadi penyanyi yang baik. Dan seperti keinginannya: terkenal. Seperti Neela,” dia menambahkan.
“Dengan segala hormat, Tuan Harlan,” Kenneth berusaha sopan, “Neela… memiliki talenta musik yang luar biasa. Dan tidak diragukan lagi. Tapi… putri Anda…”
“Nona Marin mampu memainkan biola dengan baik.” Perempuan berkacamata, yang duduk di sebelah kanan Harlan menyela. “Dia juga bisa main piano dan beberapa alat musik lainnya. Sama seperti Nona Neela.”

Kenneth menoleh dengan perlahan pada perempuan tersebut. Mengamatinya selama sejenak, sebelum berkata, “Bukan hanya bisa atau dapat memainkan alat musik saja, tapi juga harus menguasai teknik permainannya dengan cermat. Serta… melakukannya dengan hati. Neela juga memiliki wajah yang… komersil,”—Kenneth sebenarnya membenci kata ‘komersil’ itu—“dia juga fotogenik. Penampilannya pun menarik.”
“Nona Marin…, punya semua itu,” balas perempuan berkaca mata itu, dengan dagu terangkat. “Dia cantik, dan fotogenik. Tubuhnya… lebih tinggi dari pada Nona Neela.”
“Anda begitu yakin.” Kenneth memiringkan kepalanya, memandangnya dengan mata disipitkan. Kesal, karena perempuan itu berkata menyebalkan. “Anda pasti dekat dengan Nona Marin?” Kenneth tersenyum. Sinis.
“Nona Ambar ini guru home schooling-nya,” Harlan memberitahu. “Dan dia tahu banyak tentang Marin. Karenanya, dia sedikit over-protective.” Harlan terbahak.
“Anda bisa mengujinya sendiri, kalau Anda tidak percaya,” Ambar berkata lagi. Serius. “Saya tahu, Anda tidak akan sembarangan memilih orang yang akan Anda manajeri. Karena itu, berikan Nona Marin kesempatan untuk membuktikan, kalau dia bisa seperti Nona Neela.”
“Berapa usianya… Nona Marin?” kata Kenneth, setelah dia memutuskan kontak mata dari Ambar.
“Dia sembilan belas tahun tahun ini,” jawab Harlan. “Masih muda… dan sangat ambisius.”
“Kapan saya bisa bertemu?”
“Besok,” Ambar menjawab, dan sekali lagi, Kenneth bertemu pandang dengannya. “Di studio musik milik Tuan Harlan.”
“Baiklah kalau begitu.” Kenneth mengangguk. “Besok. Tapi,” dia memandang Harlan lagi, “saya mohon maaf, bila saya tidak akan menerima tawaran Anda nanti, apabila, apa yang dikatakan Nona Ambar mengenai kemampuan Nona Marin tidak sesuai dengan harapan saya.”

Wajah Harlan menegang. Dia jelas tidak menyukai pemilihan kalimat Kenneth. Namun, dengan anggukan berat dia bicara dengan suara paraunya yang meninggi, “Baik. Tapi saya yakin, putri saya mampu menunjukkan yang terbaik pada Anda.”

Kenneth mendengus tersenyum. Balas mengangguk, dan berkata, “Kita lihat besok.”

Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Dua minggu kemudian.

“Ingat. Segera keluar begitu kau mendapatkan semua barangmu. Jangan kemana-mana.” Malini menatap tegas Neela, yang cuma bisa nyengir lemah mendengarnya. Dia merasa seperti anak kecil yang baru pertama pergi sekolah. “Eiji akan menjemputmu. Kalau dia belum datang—yang pastinya itu tidak akan terjadi, karena aku akan membunuhnya kalau dia berani terlambat menjemputmu,”—mata Malini melotot dan menyipit pada Neela saat mengatakannya—“kau tunggu. Jangan coba-coba naik taksi. Orang Jepang jarang yang bisa bahasa Inggris. Jadi, jangan berkeliaran sendiri, atau kau akan tersesat, dan baru ditemukan satu tahun lagi entah dimana.”
Neela dan Lea mendengus bersamaan, sedangkan Malini mengempaskan bahunya. Menunjukkan tampang jengkel. “Ya, ya… Tertawa saja kalian berdua. Aku senang bisa menghibur kalian.”
“Ayolah, Malini. Ini kali pertama Neela ke luar negeri, jangan menakut-nakutinya,” kekeh Lea. “Lagipula, aku percaya Eiji tidak akan terlambat.” Dia menghadapkan wajah cantiknya pada Neela. “Kau tidak usah cemas, ya,” katanya.
“Oke.” Neela tersenyum riang. “Tapi… aku tetap saja tegang.”
“Pertama kali memang begitu,” Juna nimbrung. Suaranya terdengar aneh, hilang dan timbul bersamaan. “Tapi lama-lama juga terbiasa.” Dia mengedipkan satu matanya dari belakang Lea.
“Oh, kau bisa bersuara,” Malini menyindirnya. “Aku lupa kau dari tadi berdiri di sana. Habis kau diam saja.”
“Aku sedang batuk, Malini,” Juna memandang Malini putus asa. “ Suaraku… hilang.”

Dan suara Juna memang hilang. Lea tampaknya menganggap itu lucu, tapi tidak mau Juna tahu, sehingga dia berusaha keras menyembunyikan kegeliannya dengan meringis seperti orang yang kesakitan. Tapi Neela tak bisa, dia mengikik, dan hampir saja tercekik karena berusaha keras menghentikannya. Lucu sekali mendengar suara Juna yang biasanya berat dan tegas menjadi suara semacam cicit tupai.

Juna memandang sekeliling, sambil menggeleng. Bibirnya mengatup erat, menunjukkan kekesalannya.

“Maaf, Chef Juna,”—Neela masih belum terbiasa memanggil Juna, dengan ‘Juna’ saja—“tapi… suaramu benar-benar lucu.”
“Membuat ke’cool’-anmu turun sebanyak 80 persen,” tambah Malini. Tergelak. “Bagaimana kalau fans-fans abg-mu itu tahu?”
“Fan page fesbuknya pasti akan penuh ucapan simpati.” Lea mengikik. “Mereka akan—”
Juna menekap bibir Lea cepat-cepat, mencegahnya bersuara. “Neela. Semoga pertemuanmu dengan Kotaro Fukuma berjalan lancar,” katanya kemudian, sepenuh hati. Suaranya agak stabil sekarang, dan bisa didengar Neela dengan jelas. “Dan konser kolaborasi kalian nanti berlangsung dengan sangat baik.”
“Terima kasih, Chef Juna.” Neela tersenyum. Terharu.
Lea menarik tangan Juna turun dari mulutnya, dan membiarkannya melingkari pundaknya. “Ya, Neela. Aku doakan konsermu nanti sukses.”

Neela mengucapkan terima kasih tanpa suara untuk merespon ucapan Lea. Matanya berkaca-kaca. “Aku berharap kalian berdua bisa datang,” katanya, gemetaran.

“Jangan menangis. Ingat umurmu.” Malini sewot.
“Aku akan pergi ke Jepang, Malini,” ujar Neela, mengejap-ngejapkan matanya, untuk mencegah air matanya jatuh. “Itu sesuatu untukku. Dan aku juga meninggalkan Indonesia untuk pertama kali.”
“Hanya satu bulan. Tidak lama,” sahut Malini. “Waktu berjalan amat cepat. Dan tanpa kau sadari kau akan berada di Indonesia lagi.”
“Bagaimana kalau pesawatku nanti jatuh?”
“Jangan ngaco!” hardik Malini, Lea dan Juna—yang suaranya melengking aneh—bersamaan. “Pesawatmu tidak akan jatuh. Jangan berpikir yang tidak-tidak.” Malini membeliak pada Neela.

Keempatnya melanjutkan berbincang selama beberapa waktu sampai waktu keberangkatan Neela tiba. Saat akhirnya berpisah, bergantian, Malini, Lea dan Juna memeluk hangat Neela untuk memberikannya suntikan semangat dan ketenangan, sekaligus menyisipkan kata ‘hati-hati’ dan ‘jaga dirimu’ di telinganya.

Tak ada rasa sedih di wajah masing-masing saat melihat Neela berjalan pergi dengan menyeret travel bag yang meluncur di belakangnya. Tak ada firasat buruk sama sekali yang melintasi pikiran mereka, kala mengikuti punggung Neela yang semakin menjauh. Tak satupun dari ketiganya, yang iseng berpikir kalau hari itu mungkin adalah hari terakhir mereka melihat Neela. 

(Bersambung)
Ditulis oleh: Putu Indar Meilita
...
gambar dari sini
Saya selalu pengen ke Tokyo--gak tahu deh kapan bisa kesampaian ke sana. Nah, karena gak tahu kapan terwujudnya, jadi saya utus Neela, Dai, Eiji dan Kenneth ke sana duluan. Mau bagaimana ceritanya di sana, saya juga belum tahu. Yang pasti, romantisnya kota Tokyo akan sangat mendukung cerita selanjutnya. So, stay tune, Guys.

Read more...

A Lot Like Love (8)

>> Tuesday, February 21, 2012

A Lot Like Love (7)


It's Getting Hot


NEELA memandangi sebuah foto dengan dua anak laki-laki kembar beserta seorang pria asing dan wanita pribumi berdiri di belakangnya. Wajah mereka ceria. Tampak bahagia.
Pria asing ini, Neela mengamati, ayah Kenneth dan Bas?

“Itu ayah dan ibu kami.” Suara Bas menyentak, membuat Neela buru-buru menegakkan tubuh dan berpaling ke belakang. Bastian baru saja meletakkan dua kaleng minuman ringan di atas meja di depan tempat tidur besar yang terselubung bed cover perak mengkilap. “Aku hanya punya soft drink biasa,” katanya, pada Neela yang berjalan menghampirinya. “Kau tidak ‘minum’ kan?”
“Kadang-kadang saja,” jawab Neela, duduk di salah satu kursi di dekat meja. “Saat acara-acara tertentu.”
“Kenneth bilang padaku,” ujar Bas lagi. “kalau kau tidak ‘minum’. It’s better that way. Aku…? Tiap malam.” Bas terkekeh, turut duduk di kursi di seberang Neela.
“Ayahmu…, orang asing?” tanya Neela beberapa saat setelah Bas selesai bicara. Melempar pandang kosong sekilas ke arah foto tadi.
Bas tidak langsung menjawab, menyesap soft drinknya sedikit. “Yap,” jawabnya. “Orang Swedia.”
“Dimana mereka sekarang…, orang tuamu?”
Ujung-ujung bibir Bas tertarik, membuat senyum simpul. “Ayahku di Swedia, ibuku…,” dia mengedikkan bahu, “di suatu tempat di Kalimantan. Bersama keluarganya.”
Bibir Neela membuka sedikit. Tampak bingung. “Dia menikah lagi? Mereka bercerai?”
“Orang tua kami menikah atas dasar kontrak, Neela,” jelas Bas kemudian. “Hanya berlangsung sepuluh tahun saja, sampai akhirnya ayahku kembali ke negara asalnya. Setahun setelah dia pergi, ibuku menikah lagi.”
“Kau dan Kenneth?”
“Nasib Kenneth lebih beruntung.” Bas kembali meneguk soft drinknya. “Dia diambil oleh kerabat ayahku yang tinggal di Jakarta. Sedangkan aku, tetap di Kalimantan bersama ibuku. Kami kembar, tapi beda jalan hidup.”
Wajah Bas berubah suram. Dia diam selama beberapa detik, termenung. “Kenneth, tinggal di keluarga yang baik,” katanya lagi, memutar-mutar kaleng sof drinknya. “Di lingkungan yang baik, dan mendapatkan pendidikan yang baik. Sedangkan aku…, untuk makan saja sulit, apalagi untuk sekolah dan kuliah. Belum lagi… aku punya… ‘kelainan’. Kau tahu kan?”
Neela mengernyit, meraih kaleng soft drinknya di atas meja. “ ‘Kelainan’ apa?” Dia meneguknya.
Bas meletakkan kaleng soft drinknya di atas meja, kemudian menatap Neela lekat-lekat, mencondongkan badannya sedikit ke depan. “Apa kau tidak melihat ada yang lain dariku? Perhatikan baik-baik.”
Neela menelengkan kepala. Mengamati wajah Bas dari atas ke bawah. “Tidak ada,” dia menggeleng, masih mencermatinya. “Kau… biasa saja—maksudku,” dia buru-buru meralat, “kau tampan sekali.”
Rona cerah menghiasi wajah Bas. “Kau menyanjungku.” Dia menunduk malu. “Kenneth lebih menarik menurutku.”
Entah kenapa Neela merasa sikap Bas aneh. Dia menyeringai suram, sebelum akhirnya berkata, “Kalian berdua tampan.”
Bas tersenyum muram, separo-malu, separo-tak enak. “Kau yakin, kau tidak bisa menemukan kelainanku?” dia mengulang pertanyaannya lagi.
Neela mengibaskan kepalanya. Menaruh kaleng soft drinknya di atas meja.
Bas mengembuskan napas. Tampak sekali putus asa. “Well…, I’m gay,” katanya.
Neela kelihatan syok. Matanya mengejap lemah. “Bagaimana bisa orang-orang setampan kau dan Kenneth bisa menjadi gay?” katanya sedih setelah beberapa waktu. “Apa yang tersisa untuk perempuan-perempuan sepertiku?” Itu berlebihan tentu saja, tapi dia sangat bersungguh-sungguh mengatakannya.
Bas tergelak. “Aku gay, tapi Kenneth tidak—Ups!” Bas menekap mulutnya. Matanya membeliak menatap Neela yang wajahnya langsung kosong.
“Kenneth bukan gay? Dia bukan gay?” tanya Neela, dengan tampang ngeri.
“Aku…” Bas menggaruk-garuk dagunya, “aku seharusnya tak mengatakan itu. Tapi…”
“Dia bukan gay?” Neela mengulang pertanyaannya, lebih cepat dan lebih keras dari sebelumnya. “Bas, please, jawab ‘ya’ atau ‘tidak’.”
“Oh, Neela.” Bas menatap Neela dengan sorot mata yang dipenuhi rasa bersalah. “Oh, Tuhan. Maaf, kau harus tahu dariku, tapi… ya. Kenneth…. normal.”

Neela segera menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Menelungkup di atas kedua tangannya yang melipat di permukannya. meja. Kepalanya mendadak pusing. Matanya panas, dan perutnya bergolak.

“Neela… kau baik-baik saja?” Bas menyentuh pundak Neela hati-hati. “Hei… Kau—”
Neela mengangkat kepalanya dengan mendadak. Memperlihatkan matanya yang basah oleh air mata, membuat Bas berjengit. “Teganya dia berbohong padaku…” semburnya kesal. “Keterlaluan sekali dia.”
“Kenapa memangnya?—Oh, Tuhan, apa kalian sudah tidur bersama?” Bas kembali menekap mulutnya.
“Jangan ngaco!” hardik Neela cepat. “Bukan begitu.”
“Lalu apa? Dia tidak pernah menyentuhmu kan?”

Neela ingin mengatakan pada Bas kalau Kenneth telah menyentuhnya. Mencium bibirnya, pipinya, keningnya, matanya, semuanya. Tangannya telah mendekapnya; erat dan hangat. Dan dia masih bisa merasakannya sampai sekarang. Dan bodohnya, merindukan sentuhannya lagi.

“Sudah dua minggu ini dia tidak kemari,” Bas memberitahu. “Apa ada kaitannya denganmu?”

Menatap mata Bas, sama seperti menatap mata Kenneth. Mata yang sama abu-abunya, sama berkilapnya, dan sama tajamnya saat memandang. Neela mengempaskan punggungnya ke belakang, bertukar pandang diam dengan Bas. “Kami bertengkar… dua minggu lalu,” kata Neela pelan. “cukup… hebat. Dan sekarang…, dia tidak lagi jadi manajerku.”
“Aku tahu itu.” Bas melempar cengiran muram. “Dia datang ke kelab malam itu… untuk mabuk.”
Neela mendesah, menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Dia tidak pernah begitu sebelumnya…” lanjut Bas. “Kalau dia ada masalah, biasanya dia tidur. Di kamar ini; di tempat tidur itu.” Bas mengangguk ke arah tempat tidur dengan bed cover perak metalik tersebut. “Tapi malam itu… dia benar-benar minum. Ngoceh sekenanya, dan membuatku terpaksa harus mengusirnya dari kelab,” katanya lagi. “Tampaknya dia benar-benar terpukul atas apa yang telah kau katakan padanya.”
Neela menatap Bas sayu. “Aku tidak bermaksud—”
“Aku tahu,” potong Bas, tersenyum menenangkan. “Kau tidak mungkin serius mengatakan hal itu pada Kenneth. Tapi…” Bas menaikkan bahu, “bagi Kenneth, itu mungkin sangat menyakitkan.”

Pastinya, Neela membatin. Semua kata-katanya waktu itu, memang sangat menyakitkan. Dia telah mengatakan Kenneth tak tahu diri, menghujatnya sebagai orang tak tahu terima kasih, dan juga… “Demi Tuhan, kau itu GAY, Kenneth! Kau tak selaki-laki dirinya untuk melakukan apa yang dia telah lakukan untukku!
Kalau bisa, Neela ingin sekali kembali ke hari itu. Kalau bisa dia akan memarahi dirinya sendiri karena telah melontarkan kata-kata seperti itu. Kau benar-benar tak tahu diri, Neela.

He loves you, you know?
Neela mendongak. Bertukar pandang dengan Bas yang tersenyum samar padanya. “He loves you so much.”
“Da-darimana kau tahu?”
Bas mendengus. “Kalau Kenneth, mudah sekali menebaknya,” katanya, nyengir. “Selama ini, Kenneth tak pernah peduli pada siapa pun… kecuali keluarganya. Itu pun, kalau dekat sekali; seperti aku dan keluarga angkatnya, contohnya. Sedangkan untuk lawan jenis…, bisa dibilang…, Kenneth agak malas berhubungan dengan perempuan. Apalagi lingkup pergaulannya selama ini hanya berkisar dunia showbiz yang glamor dan borju, membuatnya ragu untuk menjalin hubungan dengan siapa pun. Jadi gampang sekali menebaknya kalau sedang naksir seseorang.” Bas tertawa geli.
“Apa karena itu dia mengaku gay?”
“Kalau itu, lebih karena aku…” Bas menyeringai. “Dia tak pernah mengatakan kalau dia itu gay—dia bahkan tak pernah bicara sama sekali mengenai dirinya pada siapa pun. Kau tahu itu.” Bas mengangguk pada Neela. “Wartawan yang menyebarluaskan, atas dasar omongan beberapa orang yang pernah bertemu Kenneth di kelab ini beberapa kali. Rumor pun berkembang, sampai akhirnya, semua menganggapnya gay. Aku sudah menyuruhnya meluruskan gosip itu, tapi dia tak peduli. Dia bilang lebih baik mereka berpikir dia gay, daripada nantinya wartawan atau siapa pun itu malah mengusikku. Menggangguku. Jadi… aku diam. Bagaimana pun, dia yang memutuskan. Lagipula… Kenneth sulit ditentang.”
“Ya,” timpal Neela, tersenyum lemah, “dia sulit ditentang.”
“Tapi dia sangat baik,” kata Bas lagi. “Adikku keras, namun dia tulus atas perasaannya. Karena itu… aku tahu betapa dia sangat menyayangimu. Senyumnya berbeda, kapan pun dia menyebut namamu. Tatapannya melunak, kapan pun dia melihatmu di layar televisi. Dan dia amat cemas, ketika kau terserang sakit atau terluka. Menurutku, dia sudah takluk padamu. Kaulah satu-satunya perempuan yang bisa membuat Kenneth begitu, Neela.”

Neela tak tahu harus merasa apa mendengar kata-kata Bas. Apa dia mesti senang, girang, atau sedih? Dia sungguh tak tahu. Yang pasti sekarang, pikirannya dipenuhi Kenneth. Semua kenangan bersama Kenneth berkelebatan di depan matanya bagai film yang diputar cepat. Lalu suaranya kembali—“Aku sayang padamu. Apa kau tak menyadari itu?”—terngiang-ngiang di telinganya. Menimbulkan rasa rindu yang besar di dirinya. Lebih besar dari sebelumnya.



3593,14 mil jauhnya dari Jakarta. Tokyo, Jepang.


Whose picture is that? Very pretty. Kawaii.”
“Neela.”
Is she one of your girlfriends, Tanaka-kun?
No. She’s someone whom I want to get rid of.”
Why? What has she done?
Laki-laki bernama belakang Tanaka itu menoleh pada perempuan cantik yang duduk di sebelahnya. Menatapnya tajam, dan berkata, “None of your business,” dengan nada dingin dan kelam.
Si perempuan menelan ludah. Menunduk buru-buru. Tangannya yang mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya yang setengah telanjang, gemetaran. “Gomennasai, Tanaka-kun.”
You can go now,” kata laki-laki itu. Meletakkan foto yang dipegangnya di atas meja di samping tempat tidurnya, dan bangkit dari tempat tidur, setelah sebelumnya menyingkirkan selimut dari badannya.

Perempuan cantik itu bergeming, memandang punggung si laki-laki yang dipenuhi tato naga dan harimau hitam yang sedang bergulat, dengan ekspresi yang kentara sekali kecewa.

 “I have brunch with my parents in an hour,” kata laki-laki itu santai, mengenakan celana treningnya yang tadi disampirkannya di punggung kursi. “You know the door.” Dia mengedikkan kepalanya ke arah pintu kamar yang sedikit membuka, kemudian, tanpa menoleh lagi, berjalan pergi, menuju jendela besar, darimana matahari menjatuhkan sinarnya ke dalam kamar luas tersebut. Menyambar ponselnya dari atas rak televisi, dan menghidupkannya.

Satu pesan di terimanya. Pesan penting, dari anak buah kepercayaannya di Jakarta.

Neela akan berada di Tokyo dua minggu lagi, Dai-san, bacanya. Dia sendirian, tidak akan didampingi manajernya. Kemungkinan, Eiji Kodame yang akan bersamanya. Saya sudah memastikan dan berita itu benar.

Dai menurunkan tangannya. Mencengkeram erat ponselnya. Satu tangannya di saku, dan matanya memandang nyalang keluar jendela kamar apartemennya yang berada jauh di atas permukaan tanah. Senyumnya merekah. Langit tampak begitu biru pagi ini.

Kau akan berada di Tokyo dua minggu lagi, Dai membatin. Dan seperti biasa, Eiji akan melindungimu. Dai mendengus.

Akan sangat menyenangkan, kalau dapat menyakiti orang yang sangat disayangi Eiji di depan hidungnya sendiri, pikir Dai. Melihatnya terbenam dalam rasa penyesalan yang amat sangat setelahnya, sama seperti apa yang aku rasakan saat kehilangan Kyouta.

“Neela…” Dai bergumam pelan. “Apa yang sebaiknya kulakukan padamu nanti?” Dia tertawa. Sinis. 


(Bersambung)
Ditulis oleh: Putu Indar Meilita
...
gambar dari sini
Welcome back, Dai. Next is your turn.

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP