Nyanyian Sendu (20)

>> Saturday, January 21, 2012

Is This The End?

SHINJI turun dari mobil dengan tergesa. Sebelum menutup pintu dia berkata pada Arata, “Segera hubungi Eiji. Help us, okay?
Setelah itu dia menutup pintu, melempar ponsel Arata dan anak buahnya yang sepanjang perjalanan dipegangnya melalui jendela mobil yang terbuka, juga pistolnya—yang sebenarnya adalah pemantik dari besi milik Eiji yang pernah dipinjamnya, kemudian berbalik, berlari memasuki pekarangan kosong dengan rumput tinggi tak terpangkas yang pernah dilewatinya tiga tahun lalu, saat dia, Juna dan Lea pulang dari tempat mereka disekap entah di mana. Dia tak akan pernah lupa tempat ini.

Dua pria yang berjaga di kanan-kiri pintu besi tinggi terkejut melihat Shinji. Mereka sepertinya sama sekali tak menyangka dia akan muncul tanpa undangan sama sekali.
Terengah-engah, dengan jantung yang berdegup luar biasa kencang, Shinji berkata pada mereka berdua, “Aku kemari untuk bertemu Kyouta.”

Awalnya kedua pria itu cuma bengong, tapi kemudian mereka mengangguk. Salah satunya berpaling, dan mengetuk pintu dengan ketukan bernada, sedangkan yang satu mengawasi Shinji yang sibuk meyakinkan dirinya kalau ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Juna. Demi Tuhan, dia berharap apa yang dilakukannya ini tidak sia-sia, dan tidak akan membuatnya merasa tolol karena melakukannya.

Pintu besi dibuka dari dalam. Seorang pria tinggi besar, berstelan rapi, dengan rambut berminyak yang di sisir ke belakang melongok dari baliknya. Melihat Shinji dagunya terangkat, sejenak menatapnya dari atas ke bawah, seolah memastikan kalau memang Shinji yang berada di depannya. “Masuk!” suruhnya kemudian dengan suara parau. Menggeser badannya ke belakang, memberikan tempat untuk Shinji lewat.

Lapangan luas yang sama terpampang di depan Shinji sekarang. Kali ini tidak mengantarnya keluar melainkan membawanya masuk ke tempat entah di mana dengan sesuatu entah apa yang akan dihadapinya. Shinji berjalan pelan dengan pria tinggi besar itu di sisinya, menuju sepasang pintu ganda di ujungnya—di balik pintu itu terdapat pabrik tekstil (seingat Shinji). Tapi ternyata pria di sebelahnya mengarahkan langkahnya ke kanan, ke arah sebuah pintu besi berat yang menunggu di sudut. Menjauh dari pintu ganda tersebut.

Pria besar itu mengetuk pintu tersebut sekitar lima kali, dan pintu segera ditarik membuka dari dalam. Dia kemudian mengedikkan kepalanya ke arah dalam, sebagai isyarat agar Shinji masuk lebih dulu. Shinji mematuhinya, melangkahkan kakinya ke dalam. Sendirian. Karena setelah tubuhnya sepenuhnya telah berada di dalam ruangan luas berpencahayaan terang itu, pintu menutup. Pria tinggi besar itu tinggal di luar. Berjaga.

“Tuan Kyouta sudah menunggu.” Laki-laki lain, mengenakan kemeja hitam, dengan holster pistol kulit coklat di sekeliling punggung dan dadanya, memberitahu Shinji. Raut mukanya tak bersahabat.
Di belakangnya, beberapa orang lagi sedang duduk-duduk. Sebagian duduk mengitari meja kayu di tengah—jas-jas mereka tersampir di punggung kursi, tampaknya sedang bermain kartu, sedangkan beberapa lagi, duduk di kursi-kursi lain yang berpencar di sudut-sudut lainnya. Semua memandang Shinji dengan tatapan tajam mengancam, seolah hendak melumatnya bulat-bulat.

Laki-laki berkemeja hitam di hadapan Shinji berbalik, memimpin jalan, dan Shinji mengikutinya dalam langkah pelan nan mantap. Meskipun gelisah memikirkan nasibnya semenit, dua menit, sejam lagi, dia sama sekali tak ingin memperlihatkan perasaan tersebut pada siapa pun di sini. Bagaimana pun, Shinji membatin, apa pun yang terjadi, jangan mundur sedikit pun.

Sambil berjalan, Shinji memerhatikan sedikit ruangan ini. Tanpa ventilasi udara, selain AC yang berbau pewangi aroma melon, dinding yang cat putihnya sudah mengelupas dan kotor, dan juga beraneka ragam senjata yang ditumpuk di sudut. Mengerikan, tapi Shinji berusaha tak memikirkannya, fokus menggerakkan kakinya mengikuti pria di depannya, yang membawanya menuju satu pintu lagi di seberang. Begitu sampai, laki-laki itu mendorong pintu tersebut tanpa mengetuknya lebih dulu. Memperlihatkan ruangan lain dengan pencahayaan muram yang berada di baliknya. Shinji masuk, dan bau pengap segera menyergap. Dan ketika pintu akhirnya menutup di belakangnya, ruangan ini langsung senyap tanpa suara sedikit pun.  
Di depan Shinji, terdapat sebuah meja kayu panjang yang permukaannya tak lagi rata. Beberapa pemukul baseball diletakkan di atasnya, bersama sebilah golok, belati dan pistol, membuat perutnya serasa anjlok melihatnya.
Di belakang meja, lima orang pria menatapnya. Kyouta salah satunya, hanya mengenakan kaus abu-abu yang basah oleh keringat dan noda yang sepertinya bercak darah. Tato kebesarannya menyembul dari balik kerah kaus dan lengannya. Kalung perak yang biasa dipakainya, disampirkan ke arah punggung. Matanya menatap Shinji dengan bengis.
Empat pria di belakangnya turut memandang Shinji dengan tatapan mengancam. Mereka adalah empat orang yang Shinji pukuli di Xanadu beberapa minggu lalu. Salah satunya yang masih memakai perban di kepalanya, adalah laki-laki yang Shinji pukul dengan pistolnya sendiri sampai tak sadarkan diri. Dari tampangnya, terlihat jelas betapa dendamnya dia pada Shinji.

Kelima pria itu berdiri mengelilingi seseorang yang didudukkan di atas bangku kayu. Juna, masih mengenakan baju kerjanya yang sekarang dipenuhi keringat dan bercak merah, terikat di bangku tersebut. Dia tersengal, kesulitan bernapas. Lubang hidungnya penuh darah kering, begitu pun sudut bibir dan dagunya. Sebelah matanya bengkak dan lebam, tapi masih bisa melihat. Juna Rorimpandey, Chef yang biasanya selalu rapi itu, kini babak-belur, tak bisa dikenali lagi.

Kyouta, badannya berkeringat, mukanya berkeringat, rambutnya kuyup oleh peluh, dengan langkah santai serta seringai menyebalkan mendekat, memutari meja. “Sungguh… heroik,” katanya, seraya menepuk-nepukan tangan. “Tanpa harus kupaksa, kau datang sendiri. Apa karena koki itu?” Dia berdiri di depan Shinji. Menyakukan kedua tangan di jinsnya.
“Lepaskan Juna, Kyouta,” kata Shinji, tak menghiraukan ejekannya. “Aku sudah di sini. Jadi lepaskan dia.”
Kyouta mendengus geli. Tampangnya sekarang seolah dia berpikir kalau Shinji sudah gila atau apa. “Kau benar-benar datang untuk dia?” Dia terbahak, menoleh ke arah orang-orang di belakangnya, yang segera meresponnya dengan tawa mengejek. “Apa kau gay? Kau… frustasi, karena tidak mendapatkan Lea. Dan” (dia mendengus geli) “merubah orientasi seksmu?”
Tawa anak buah Kyouta semakin keras. Shinji bergeming, tidak menyahut atau bergerak sedikit pun dari tempatnya. “Kau bisa menghinaku sepuasmu, tapi aku mohon—dengan baik-baik, lepaskan dia.”
Sebelah mata Kyouta menyipit dan berkedut-kedut. Mulutnya berkerut. “Kau,” dia berhenti sejenak, menyempatkan bibirnya membentuk senyum meremehkan, “sungguh sok pahlawan. Pahlawan kesiangan. Bodoh. Kau kira aku akan melepaskan dia begitu saja?!” Wajah Kyouta dimiringkan ke kanan. Matanya membeliak pada Shinji. “Kau tahu? Gara-gara dia, jariku jadi begini!” Kyouta mengangkat tangan kirinya. Memperlihatkan dua jarinya, jari manis dan kelingkingnya, yang tinggal setengah bagian. “Kakakku—kakakku… menyuruhku memotongnya… di depan semua orang!” Napas Kyouta tersengal-sengal, matanya melotot. “Dai Tanaka—pimpinan tertinggi O ushi lebih memilih koki itu dan juga KAU, seorang Kodame, dari pada aku, ADIKNYA SENDIRI!”
Suara Kyouta menggema di ruangan. Menggelegar murka, menakutkan sekaligus penuh rasa putus asa. “Dan dia” (dia menunjuk Juna yang masih tergeletak di lantai) “akan memberitahu kakakku tentang kejadian itu, yang bahkan bukan aku yang memulai, tapi KAU. Kau—” (tiba-tiba saja dia menyambar kerah kaus Shinji dengan kedua tangannya) “yang ikut campur dengan urusanku. Kau… seharusnya dibantai oleh keluargamu, karena sudah membuat malu, nama besar Yakuza dengan sikap lemah seperti itu. Dan sekarang, seperti perempuan, kau merengek-rengek padaku untuk melepaskan koki itu… Dimana otakmu, hah?!” Sambil berkata, Kyouta menepuk-nepuk bagian samping kepala Shinji keras-keras, kemudian menempelengnya gusar, membuat Shinji hampir saja jatuh karena hilang keseimbangan.

“Lepaskan dia, Kyouta. Aku mohon,” pinta Shinji lagi, pantang menyerah, berusaha tetap tenang, kendati emosinya memuncak. Mati-matian menekan hasrat untuk menghantam Kyouta. “Dari dulu kau hanya ingin membunuhku, dan sekarang, kau punya kesempatan. Aku di sini. Lepaskan dia. Dan kau bisa lakukan apa pun padaku. Aku pastikan…, Dai takkan tahu.”

PLAK!
Tangan Kyouta mendarat keras di pipi Shinji. Dia terjatuh ke lantai, dan sekali lagi mendapatkan pukulan keras di wajahnya.
“Aku… akan membunuhmu nanti.” Kyouta mencengkeram kerah kaus Shinji. “Tapi… aku masih ada urusan dengan koki itu.”

Kyouta melepaskan kerah kaus Shinji, dan mengempaskannya ke lantai. Setelah itu dia berjalan ke arah meja, sempat berpaling pada Shinji dan berkata, “Kau diam di sana. Aku akan senang kau menonton ini.”

Kyouta mengangguk pada anak buahnya, yang langsung dibalas oleh anggukan pula. Dia kemudian menarik salah satu pemukul baseball ke arahnya, dan mengayun-ngayunkannya dengan cengiran riang, sementara anak buahnya melepaskan ikatan Juna, dan menyeretnya ke arah meja.

“Aku… tidak akan membunuhnya, Shin… Aku masih baik hati,” ujar Kyouta seperti orang bernyanyi. “Aku hanya… akan menghancurkan tangannya.”—(Mata Shinji melebar)—“Dengan begitu… dia akan mati pelan-pelan kan? Tak bisa memasak lagi, tentunya akan membuat dia frustasi. Taruh tangannya di meja,” suruh Kyouta kemudian pada anak buahnya yang memegangi Juna.

Juna meskipun sadar, tetap tak bisa melakukan apa-apa. Mungkin dia terlalu lemah sehingga pasrah saja sewaktu kedua tangannya diletakkan paksa di atas meja panjang tersebut. Sedangkan Shinji, dia hanya bisa memandang cemas dari belakang punggung Kyouta, yang masih mengayunkan pemukul baseballnya menyapu udara.

“Aku mohon… jangan sakiti dia Kyouta,” Shinji memohon. Berlutut pasrah di belakang Kyouta, yang sudah siap memukulkan tongkat baseballnya ke tangan Juna yang terentang di atas meja di depannya. “AKU YANG KAU BENCI, JADI TOLONG…, pukul aku saja, jangan DIA.” Air mata banjir ke pipinya. “Demi Tuhan, KYOUTA!” Dia berteriak lagi, kala Kyouta tidak menggubris permohonannya. Shinji cepat-cepat meraih kaki Kyouta dan memeluknya kuat-kuat. “Tolong… Pukul aku saja. Bunuh aku…, jangan dia. Aku yang bersalah. Aku minta maaf.”
“Apa artinya koki ini untukmu, HAH?!” Kyouta menendang Shinji, sehingga dia jatuh terjerembap di lantai. “Pacarmu?! Ayahmu?! Atau apa? Sampai kau jadi hilang akal begini?!”
Shinji mengangkat tubuhnya, dan mendongak memandang Kyouta yang meremas-remas pegangan tongkatnya dengan marah. “Dia… temanku.”
Kyouta langsung cegukan. Sepertinya tak percaya Shinji mengatakan itu.
“Tidak sepertimu… aku memiliki teman… yang selalu ada kapan pun kubutuhkan. Karena itu aku disini! Untuk temanku. Dan aku minta… kau lepaskan temanku!” Dia benar-benar hilang akal.
“BRENGSEK!” umpat Kyouta, disusul dengan menghantamkan ujung tongkat baseballnya telak ke muka Shinji.

Rasa sakit segera menderanya. Shinji bahkan dapat mendengar suara erangannya sendiri, namun kemudian rasa sakit itu memudar ketika wajah Lea muncul di depan matanya. Begitu jelas, seolah dia benar-benar ada di depannya. Tersenyum manis padanya. Menyebut namanya dengan suara manjanya yang biasa didengarnya.
Tapi kemudian wajah Lea menghilang, ketika Shinji membuka matanya lagi, dan rasa sakit di kepalanya mereda.
“Shin!” Suara Juna memanggilnya cemas. “Shinji!” teriaknya panik.
Shinji tidak menghiraukannya. Dia ingin melihat Lea lagi. Dari dekat, seperti tadi. Dia menyambar tongkat baseball yang menggantung canggung di tangan Kyouta, dan sekali lagi menerima pukulan keras tepat di samping kepalanya.

Sekali lagi, Lea muncul. Kali ini berhadapan dengannya. Tangannya menyentuh pipinya. Bibirnya mengecup dahinya. Shinji merasa sedang berada di surga. Dengan segenap hati, dia memanggil nama Lea sesuka hatinya. Nama yang bahkan ragu untuk diucapkan oleh bibirnya selama ini, sekarang meluncur begitu bebas tanpa beban. Dia sekarang hanya berdua saja bersama Lea. Seperti dulu, di masa lalu.

Pukulan demi pukulan diterima tubuh Shinji bertubi-tubi, dan Lea semakin nyata di matanya. Rasa sakit yang amat sangat dirasakannya, tapi semua itu terobati oleh rasa bahagia yang meluap-luap karena Lea. Matanya membuka tak fokus sementara bayangan berkelebatan di sekitarnya. Suara-suara bergema di sekelilingnya, dan sosok-sosok manusia hilang-timbul di hadapannya. Langit-langit gelap di atasnya, namun yang dia lihat adalah dirinya dan Lea duduk di atas rumput berdampingan dengan tangan tertaut, dan senyum yang terlontar dari bibir masing-masing. Dan saat akhirnya, semuanya menghitam, Shinji membatin penuh senyum, Kematian ternyata tak seburuk yang dibayangkan.

“JUNA!” Lea segera menghambur memeluk Juna begitu melihatnya terbaring di tempat tidur di dalam kamar rumah sakit di mana dia ditempatkan. “Oh, Tuhan…” sengalnya, sambil mengusap rambut Juna dengan cemas. “Ada apa sebenarnya?” tanyanya. Mengamati wajah Juna yang babak-belur. “Kenapa kau bisa begini?”
Mendadak, tanpa disangka dan bahkan mustahil untuk terjadi, Juna meneteskan air mata. Menangis dalam diam, yang membuat Lea semakin kebingungan. Dia menunduk memandangi kain hijau polos seragam pasien yang dikenakannya. Lalu, setelah dia tenang, sambil menyedot hidungnya dia berkata pada Lea, menatapnya lekat-lekat. “Aku tak pernah mengatakan ini sebelumnya padamu.” Air mata kembali meluncur turun ke pipinya. Dia meraih tangan Lea, dan menggenggamnya erat. “Kau beruntung… memiliki sahabat yang begitu mencintaimu.”
Alis Lea berkerut. “Apa maksudmu?”
Juna terisak. Tak dapat lagi mengendalikan diri. Dia kembali menunduk, bernapas panjang, mengempaskannya dengan wajah meringis tertahan dan kembali memandang Lea lagi. “Shinji… sangat mencintaimu… Cintanya padamu lebih besar, dibandingkan cintaku padamu. Kau harus tahu itu.”
“Shinji? Kenapa… kau sebut Shinji? Apa ini ada hubungannya dengan Shinji?”
Juna tak menjawab, hanya menunduk, dan berusaha keras menghentikan air matanya yang terus mengalir ke pipinya. Dan Lea, entah kenapa, segera berlari keluar dari kamar. Pergi entah kemana, untuk mencari sesuatu yang bahkan dia sendiri tak tahu.

Lea terus berlari, dan sepertinya sudah sangat jauh sekali, dengan mata banyak orang terpaku ke arahnya, sampai akhirnya dia melihat sosok yang dikenalnya. Eiji, duduk membungkuk di bangku panjang di depan sebuah kamar berdinding kaca. Pundaknya berguncang-guncang, dan tangannya menutupi wajahnya. Dia menangis. Eiji yang biasanya terlihat begitu kokoh dan tenang, kini menangis. Tampak begitu sedih.

Lea mendekat dengan gontai. Kedua tangannya mengepal untuk mengatasi kegugupan. Eiji menurunkan tangannya, menoleh perlahan dan melihat Lea berhenti tak jauh darinya.
“Kenapa kau di sini?” Itu pertanyaan yang menghambur dari bibir Lea, saat Eiji bangkit dari bangku yang didudukinya. “Untuk apa?” Entah kenapa, air mata menetes dari matanya. “Kenapa kau begitu sedih?”
Eiji mendekat, menyedot hidungnya, dan berusaha mengembalikan sikap tenang yang sesaat tadi pergi meninggalkannya.
“Kenapa kau tidak menjawab?” Lea mundur perlahan. “Kenapa tidak kau jawab?!” Dia membeliak pada Eiji. Semua orang kini memandang ke arah mereka berdua. “Ada apa dengan Shinji?”
“Lea…” Eiji berkata menenangkan. Tangannya menggapai ke depan, berusaha meraih Lea, namun Lea terus mundur menghindarinya.
“Ada apa dengan Shinji?!” teriak Lea lagi. “Di mana dia?”
Eiji berhenti, hanya bisa menatap Lea. Bibirnya membuka sedikit, namun tak bersuara. Dia lalu memejamkan matanya sejenak, menunduk. Memasukkan satu tangannya ke saku celana hitamnya. Dia… kembali menangis. “Shinji… kita kehilangan dia. Dia… tak akan bisa kembali lagi, Lea. Aku… aku gagal menjaganya,” kata Eiji di sela tangisnya yang tertahan.

Dunia seketika luruh berjatuhan, setidaknya itu yang dirasakan Lea sekarang. Dia terduduk di bangku dengan tak berdaya, dengan mata memandang kosong ke segala arah. Titik-titik air berjatuhan ke pipi, menetes-netes ke jinsnya. Pikirannya kosong.

Lalu Eiji duduk di sebelahnya. Tampaknya telah menenangkan diri. “Shinji… mengalami kerusakan otak parah, akibat pukulan benda keras di kepalanya,” dia menjelaskan pada Lea dengan sedikit tersendat. “Dia… menolong Juna, yang diculik oleh kelompok yang sama yang pernah menculikmu tiga tahun lalu.”
Setelah itu Eiji menceritakan perihal kejadian tanggal 23 Desember; pemukulan di Xanadu…, pertemuan Shinji dengan Juna…, usaha Juna untuk menghubungi Dai Tanaka demi Shinji…, sampai terakhir, kejadian di ruang penyekapan di pabrik tekstil milik O ushi, dimana Shinji berusaha menyelamatkan Juna.
“Untungnya orang dalam kami bertindak cepat waktu itu…” sambung Eiji. “Dia masuk dan… dengan terpaksa…,” Eiji berhenti bicara. Sepertinya enggan untuk melanjutkan. “Dan kami, sampai tepat waktu untuk menyelamatkan Shinji dan Juna dari sana, dan membawa mereka ke rumah sakit. Marco, memastikan kalau takkan ada yang tahu perihal kejadian ini…”
“Dia masih hidup, kalau begitu?” Lea mengejap lemah pada Eiji.
Eiji mengangguk. “Dia masih hidup. Tapi… tak lagi bisa… merespon apa pun. Dia lumpuh total. Seperti mayat hidup.”
“Tak apa,” ujar Lea, tersenyum, membuat Eiji menatapnya heran. “Setidaknya dia hidup.”
Setelah itu Lea memalingkan wajahnya lagi. Menatap kaca di depannya. Mengamati dinding ruangan bercat hijau lembut di baliknya, di mana seseorang sedang terbaring di atas tempat tidur di tengah ruangan dengan banyak mesin bising mengelilinginya. Mata orang itu terpejam, dan ekspresi wajahnya tenang. Setenang pikirannya, yang tak lagi dipenuhi beban.
......
(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copycats!)
...

25 comments:

rezKY p-RA-tama January 21, 2012 at 8:15 AM  

tulisan trakhir mbknya
copy cat?
mksdnya apa?

Lita January 21, 2012 at 8:59 AM  

@Rezky: Copy cat itu artinya orang yang suka copas, trus ngaku2 kalau itu hasil karyanya sendiri.

Anonymous,  January 21, 2012 at 11:10 AM  

huaaaaah ,bacanya sampe menitikkan air mata mba lita .. bagus mba ,chapter yg ini menghanyutkan bgt ..
#tepuktangan
\(^o^)/

Lita January 21, 2012 at 12:36 PM  

@Anonim: (besok2 jangan anonim ya, tetap sebut nama)Aku nulisnya juga sampe nangis bombay tau. Aku cinta banget sama Shinji, soalnya--tapi lebih sayang ke Juna (tetep).
Btw, tq ya.

putri ria,  January 21, 2012 at 1:12 PM  

hehe ..aku ga niat pake anonim mba lita ..tapi maklum deh pake hape jadi ke send duluan ..hehe ..
1 chapter lagi yah ??shinji selamat atau gmna mba ??
#penasaran hehe

Lita January 21, 2012 at 1:16 PM  

@Putri: kamu toh iki. Aku kira si Iin yang lagi mudik itu, secara dia bilang sinyal di kampungnya 'sesuatu'. Hhihihihi.
Makasih ya Put, komennya.

putri ria,  January 21, 2012 at 1:32 PM  

hhe ..siip mba ..sama"
tadi bilang cinta bgt sama shinji kenapa hayo ..lgsg dipotong kata"nya ..ehehehe ..XD

Lita January 21, 2012 at 1:38 PM  

@Putri: Karena Shinji rapuh, sepertiku... wak wak wak. Nggak, karena Shinji memang baik, dan gak pernah merasa bahagia selama ini. satu2nya yang buat dia bahagia, cuma Lea. Tapi itu pun udah milik orang lain. *mewek*

-silpe- January 21, 2012 at 2:46 PM  

Ahh,,,shinjiii....
kenapa begituuu...kita kan belum saling berkirim email....
#dikeplakneeladanmbaklita

sarie January 21, 2012 at 3:01 PM  

waaaah ini mah titik puncak penasaran ku mba'.
klu baca novel buku pasti dah langsung liat bagian akhirnya.
he.he.he.he.he ^_^

putri ria,  January 21, 2012 at 4:39 PM  

hoalaaah kasian shinji mba kalo bgitu..
yaudah kalo begitu shin,sini sini datang padaku ..
aku pasti selalu ada untukmu kan kmren kita udah janjian ,inget ga yg didepan rumah mpo mumun..
*nyengir*
#ditimpuksendal
^o^

Rusyda Fauzana January 21, 2012 at 5:40 PM  

Oohhh... It's a romantic heroic story, indeed.

You played with my emotion Mba Lita (nangis tertahan...)

Tadinya aku bimbang siapa yang akan dikorbankan, Juna ataukah Shinji. Hehe...ternyata memang lebih sayang sama Juna, jadinya Shinji yang jadi korban. Aku juga berharap begitu karena Juna itu nyata sedangkan Shinji imajinasi, kasian Juna klo dilumpuhkan ntar ga bisa masak lagi hiks... :)

Aku benar2 suka cerita ini. Ces't la vie. Hidup itu memang tentang membuat pilihan-pilihan sekalipun itu menyakitkan.
Pilihan atas nama cinta dan kesadaran itu selalu heroik karena di sana ada pengorbanan yang menguras air mata dan rasa hormat. Dengan begitu hidup akan terus berjalan dan menemukan sisi indahnya. Ini mengingatkanku pada para revolusioner di dunia ini, ingat Soe Hok Gie dan Che Guevara, mereka mati berjuang karena kecintaan pada rakyat agar bisa lepas dari penjajahan. (loh...kok jadi ke sini yak ceritanya hihihi...)

Ahh...Aku jadi terhanyut begini.
Ditunggu ya mba ending-nya. Aku sih pasrah aja mau digimanain ending-nya. Chapter ini bagiku sudah merupakan resolusi yang bagus sebagai punutup cerita ini :)

Btw, what next after this project?

shafarani January 21, 2012 at 5:59 PM  

Wow aku tercekat baca komen mba Rusyda diatas, hehe,

what an amazing story mbaa lit.. konsep novelnya ky ngemut permen yg ada isi mint d dalamnya..

Lita January 21, 2012 at 8:35 PM  

@Silpe: Kirim2 email ma aku aja sini, Peh. \(^^)/

@sarie: Aku juga. wkwkwkwkwk. *ternyata sama2 pembaca yang gak sabaran*

@Rusyda: Kamu kalau komen itu selalu buat aku terharu sendiri, Rus. Bersyukur banget aku dapet pembaca kaya kamu, yang bener2 bisa nangkep makna ceritaku. Bikin aku semangat 45 ngerjain cerita selanjutnya, dan berharap kamu tetep mau jadi pembaca setia, dan gak sungkan mereviewnya. Makasih banget ya. *bercucuran air mata*

Proyek tulisanku selanjutnya belum ada judul tp plotnya udah kebayang dari kemarin. Just wait ya...

@Shafaranie: Rani, tq. Aku juga jadi pengen ngemut isi mint.
Iya, Ran... si Rus ini memang selalu komen ceritaku dengan detil. Siapa aja, pastinya tambah semangat dikasih komen kaya gitu.

Rusyda Fauzana January 21, 2012 at 9:29 PM  

@Mba Shafarani: Aku sambil merenungi hidup pas komen yg di atas... menunduk terdiam
(Eh, jadi serius begini...)

@Mba Lita: Waaahh... Aku hanya mengapresiasi karya mba Lita, jangan memujiku spt itu (malu sendiri...)
Sulit untuk menumpahkan ide menjadi sebuah karya tulis semacam fiksi seperti ini, tidak semua orang bisa, but u did it!

Tuh kan... dalam waktu singkat saja Mba Lita udah kebayang mau ngelanjutin cerita yang baru. I wonder how could u do that? #envy :)

Aku akan menunggu dan tetap menjadi menjadi pembaca setiamu Mba. Keep writing :)

Salma January 21, 2012 at 10:57 PM  

deg-degan nunggu endingnya.

oh ya, aku punya pesen nih buat tokoh dan penulisnya..

Shinji: kamu harus bertahan demi happy ending cerita ini. ok? #kedip2 mengancam *dijewer kak lita*

Kyouta: Kamu, cakep2 kok jahat sih? berubah dong...!

Kak Lita: semangat nulis ya... aku pasti selalu suka cerita2 yg kakak tulis #ngibarin bendera

Lita January 22, 2012 at 10:14 AM  

@Salma:

Kata shinji, tq ucapan semangatnya. hahahah

Makasih ya, Salma. Kata2 semangatmu, berarti sekali untukku...

*peluk Salma*

Feby Oktarista Andriawan January 22, 2012 at 4:56 PM  

Ah Shinjinya di bantai, kok dibantai sih dia, hiks...

Riyan Arrizal January 23, 2012 at 9:01 AM  

bakat nulis emg beda..

main jua ya
catatantahupetis.blogspot.com

shafarani January 23, 2012 at 11:25 PM  
This comment has been removed by the author.
shafarani January 23, 2012 at 11:29 PM  

*mendadak jadi jualan permen stroberi isi mint*
mba lita ngerti kan permen itu? permen yg dinyanyiin mbaksis ketiperi di lagunya tingkin of yu itu lo mba.. ehehe

mba rusyda : saya masih kecil mba, jgn pake "mba" juga (kalo percaya berarti saya diberkati utk awet muda,hihi). sesuatu yg detail itu penting untuk kelanjutan dan keindahan seni mbaa..termasuk seni menari diatas keyboard kaya punya mba lita ini.. jadi saya tercekatnya itu dlm rangka terkagum2 gitu,soalna saya ngrasa ga akan bisa sedetail itu menceritakan apa yg ada dikepala utk jd bbrpa paragraf.. bisa dilihat dr cara saya ngetik komen yg penuh dg singkatan, padahal ya pake keyboard nulisnya.. eheheeh

piss mba-mba ku sekalian!

NB : mba itu komenku sblmnya kehapus tidak sengaja, tp isinya sama seh

namarappuccino January 25, 2012 at 11:15 AM  

Wew. Its always amaze me bagaimana seseorang bisa menulis berkesinambungan. Ajari dunk Ta.
Pengen nulis novel juga.

Dan ajari juga berdialog dengan gambaran seperti itu. Aku jarang pakai dialog. Biasanya ke diskripsi. Dan di sini aku menemukan dialog-dialog yang bisa menggambarkan peristiwanya. Tapi hiks. imajinasiku terlalu liar, pas membayangkan dipukul kena kepala. AK! Aku langsung kebayang beneran. T_T

Lita January 25, 2012 at 1:06 PM  

@Rani: Permen mint... Katy Perry. Iya aku tahu. Hehehhehe *baru baca liriknya*

@Namara: Gampang, Ra. Baca novel banyak2 dan nonton pelem banyak2. dan sering2 nulis, jadi tahu deh mana kesalahan dan kekurangannya. Kamu padahal udah bagus banget nulisnya lho, Ra. Coba aja nulis novel, pasti bagus. Aku tunggu ya.

rezKY p-RA-tama January 25, 2012 at 1:58 PM  

berkunjung lagi mbak
sopa pipa udah berakhir mbake,wakakakak

Gloria Putri February 1, 2012 at 2:00 PM  

mbaaaaa......aq td uda mau nangis aja aq kira shinji meninggal....tp ternyata...jauh lbh mengerikan drpd meninggal.....hiksssss....

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP