Nyanyian Sendu (19)

>> Wednesday, January 18, 2012

Juna's Missing 

HUJAN. Petir. Angin. Tiga hal itu menemani keseharian Shinji selama seminggu penuh di villa tempatnya berdiam sementara. Membuatnya tak bisa kemana-mana selain area sekitar villa, yang dibatasi oleh danau dan hutan karet yang melindungi area bangunan di tengahnya.
Bosan tentu, sama seperti yang pernah dirasakannya 3 tahun lalu, namun tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain duduk-duduk, tidur-tiduran, nonton tv atau memelototi laptopnya. Ingin keluar jalan-jalan, tapi dengan adanya Eiji dan anak buahnya yang terus mengawasinya—lebih ketat daripada dulu, Shinji enggan, karena apa pun alasan yang dia lontarkan, hanya kata ‘tidak’ yang pastinya terdengar di telinganya. Jadi untuk sementara ini, dia mencoba melatih kesabarannya. Memenuhi hati gundahnya dengan rutin berbalas email dengan Neela, yang semakin membuka diri. Menceritakan segala keluh-kesahnya semenjak memasuki dunia showbiz, dan juga perasaan terpendamnya… pada Shinji.

Dear Nyanyian Sendu,
Aku jatuh cinta padanya sore itu. Dia tampan dan sangat lembut. Aku menyentuh wajahnya, dan yang kubayangkan adalah seorang bocah yang rapuh. Sama rapuhnya denganku. Aku tidak tahu… kenapa aku jadi ingin sekali melindunginya.
Tapi…, kau tahu? Shinji sepertinya sakit serius, karena Eiji, waktu itu terus mendampinginya, dan tampak khawatir. Dan kemarin, aku tak sengaja mendengar Malini berkata pada Kenneth kalau dia mencemaskan kondisi Shinji. Dari nada bicaranya seolah Shinji menderita suatu penyakit yang tak dapat disembuhkan. Demi Tuhan, aku ingin tahu. Aku ingin… bertemu dengannya sekali saja, untuk memastikan, kalau dia baik-baik saja. Tapi kesibukanku, membuatku tak bisa bergerak kemana pun selain arah yang sudah ditentukan oleh jadwal-jadwal yang melelahkan. Ternyata menjadi seseorang yang terkurung oleh popularitas, tak seindah yang pernah kubayangkan. Namun, aku berhutang budi pada orang-orang yang telah membuatku berada di posisi ini, dan aku tak mungkin membuat mereka kecewa hanya karena rasa lelah semata. Lagipula, mungkin, melihatku menjadi lebih baik dari sebelumnya, Shinji akan tertarik untuk mengenalku. Menurutmu?

Menutup mata, tersenyum tertahan, campuran rasa senang dan bersalah, Shinji menyandarkan punggungnya di kursi. Saat dia membuka mata wajah Neela, terbayang samar. Lama tak bertemu membuatnya kesulitan menyusun rupa manisnya yang lembut. Hanya matanya yang diingatnya. Mata coklat bening yang berbinar. Persis mata Lea.

Apa kabar sahabatnya itu, pikirannya teralih. Apa dia merindukannya? Lea bahkan tak menelponnya atau mengirimkan pesan teks untuk mengucapkan tahun baru padanya. Masih marahkah dia?
Itu haknya, Shinji berkata kemudian dalam hati. Meskipun dia marah, Shinji yakin, kalau kemarahannya itu berdasarkan rasa sayang Lea padanya. Biarlah, gumamnya. Dia hanya berharap agar Lea bahagia bersama keluarganya di mana pun dia berada.

Suara derum mobil terdengar bersamaan dengan suara rumput yang tergilas roda. Shinji menolehkan kepalanya ke arah jendela kamar yang berderak diterpa butiran hujan, berpikir siapa yang datang kemari saat hujan badai begini?

Shinji bangkit, berjalan menuju jendela, dan berdiri bersedekap memandang ke arah pekarangan rumput luas. Sebuah mobil SUV hitam besar berhenti di depan teras yang sedikit menjorok ke depan, mengantarkan seorang laki-laki dengan jas hitam pekat yang keluar dari pintu belakang mobil. Arata, tergopoh-gopoh menaiki undakan menuju teras untuk menghindari hujan.

Ngapain dia ke sini?
Kerutan di dahi Shinji bertambah, bingung atas kedatangan Arata yang tiba-tiba. Bukahkah Arata sama sekali tidak diperkenankan datang kecuali untuk urusan darurat? Posisinya sebagai perantara membuatnya rentan diikuti oleh musuh atau siapa pun yang bermaksud buruk pada kelompok Yakuza Kodame, karena itu Arata sama sekali tak diperbolehkan datang terlalu sering ke Save House—begitu mereka menyebutnya, di mana petinggi Kodame tinggal.

Shinji berjalan ke arah pintu, membukanya dan langsung berhadapan dengan dua orang pria tinggi besar, Ken dan Roku, dua orang anak buah Eiji, yang berdiri kokoh seperti batu karang menghalangi jalan.

“Kalian ngapain di sini?” Shinji terheran-heran. “Aku mau keluar,” kata Shinji, berusaha menyela di antara keduanya. Tapi kedua pria itu bergeming, tak membiarkan Shinji melewati pintu. “Hei. Aku mau lewat. Minggir.”
“Maaf, Tuan Shinji, Tuan Eiji, minta Tuan Shinji tetap di dalam kamar,” Ken memberitahu.
“Kenapa?” Shinji tampak sebal. “Aku berhak kemana pun sesukaku.”
“Maaf, Tuan Shinji.” Ken dan Roku mengangguk sopan, sebagai ungkapan rasa bersalah karena tidak mengijinkannya keluar sekaligus mengatakan tanpa kata kalau mereka tetap tak bisa membiarkan Shinji pergi apa pun alasan dan situasinya. “Silakan kembali ke dalam kamar,” kata Roku.
Mau tidak mau meskipun jengkel, Shinji masuk. Membanting pintu menutup sekeras-kerasnya di depan kedua laki-laki tersebut.

“Sial!” kutuknya, sambil berjalan mondar-mandir di depan kamar.
Dia sangat penasaran atas kedatangan Arata, tapi tidak berdaya untuk mencaritahu alasan kedatangannya. Berusaha meyakinkan diri, kalau penyebab ketergesaannya tidak ada sangkut paut dengannya.

Neela.
Mata Shinji membeliak begitu teringat Neela. Segera melesat ke meja tulis dan menyambar ponselnya. Menekan-nekan tutsnya beberapa kali, dan akhirnya menempelkannya ke telinga. Menggigit bibir dan mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di permukaan meja ketika nada sambung terdengar dan langsung mencecar orang yang menyapa dari seberang. “Di mana Neela?” tanyanya tak sabar.
Shin, apa kabar?”
“Kenneth tolong, di mana Neela?” tanyanya lagi.
Neela? Dia di depanku. Gladi resik untuk acara penghargaan di salah satu stasiun televisi swasta?” kata Kenneth. “Kenapa? Kau mau bicara?”
“Tidak… Tidak,” tolak Shinji buru-buru. “Aku hanya ingin tahu di mana dia saat ini.”
Kenapa?
“Tidak kenapa-kenapa.”
Kau mau bicara padanya? Dia pasti akan senang.”
“Tidak, Kenneth,” tegas Shinji. “Kau jaga dia. Tolong—dengarkan aku dulu,” katanya cepat, sebelum Kenneth sempat melengkapi kalimat yang baru dilepasnya. “Tolong jaga dia baik-baik.”
Tapi Shin—”
Shinji mengakhiri telponnya. Lega, kalau Neela baik-baik saja. Namun kemudian dia teringat Lea. Ragu, apa dia harus mengeceknya juga.

Halo.” Suara Lea membekukan otak Shinji. Hatinya lapang mendengarnya menyapa dalam nada normal tanpa tekanan ancaman.
“Lea…” panggil Shinji.
Shin?” balasnya, kedengaran senang atau lega—entahlah. “Shinji?
“Ya. Ini aku.” Shinji tersenyum.
Maaf, aku tidak menyimpan nomor ponselmu,” kata Lea, dengan nada merasa bersalah. “Aku kehilangan ponselku dan…
“Lea,” sela Shinji. “Kau baik-baik saja?”
Ya. Aku baik. Kau bagaimana?
“Aku baik. Dean?”
Dia baik. Sedang tidur. Kau mau bicara?
“Tidak—tidak,” kata Shinji buru-buru. “Aku… hanya ingin tahu kalau kalian baik-baik saja.”
Kami semua baik,” timpal Lea riang, tapi kemudian dia berkata dalam nada tak enak hati. “Shin…, aku… minta maaf. Sikapku waktu itu…”
“Tidak apa.”
Maafkan aku.”
“Kau tidak salah.”
Aku benar-benar sedih. Dan aku kecewa karena kau tidak memberitahuku sama sekali.”
“Aku tahu. Tidak apa-apa. It’s okay,” kata Shinji.
Hening sejenak. Hanya napas mereka berdua yang terdengar.
Shin… Maaf. Aku harus pergi,” kata Lea, mendadak kedengaran cemas. “Aku… harus menelpon beberapa orang.”
“Menelpon siapa?”
Teman-teman Juna,” jawab Lea. Shinji mengernyit heran. “Juna tidak pulang semalam.” (Perut Shinji serasa mencelos) “Dia tidak menelpon, mengirimkan pesan atau apa pun. Staf restorannya mengatakan kalau dia pulang kerja seperti biasa kemarin. Aku tunggu sampai sore ini, dan dia tak datang juga. Aku…” Lea diam, tak melanjutkan. “Sori, Shin. Gotta go.”
Lea menutup telepon. Suaranya berganti dengan suara tut-tut yang berulang-ulang. Tangan Shinji langsung merosot ke sisi badannya, menggantung canggung bersama ponsel yang masih digenggamnya.
Perasaannya tidak enak—benar-benar tidak enak. Dia merasa, ada sesuatu yang terjadi pada Juna, dan sesuatu itu berkaitan dengannya. Dia harus mencari tahu dengan segera. Harus. Sebelum terlambat.

Shinji kembali mengangkat tangannya, memandang ponselnya, menekan beberapa tombol, dan mendekatkannya ke telinga.
Halo?” Seorang perempuan menyapa dalam suara kecil yang manis.
“Halo… Chiyo[1]…” balas Shinji agak gugup.
“Shinji? Hei. Apa kabar?” Chiyo kedengaran sangat riang, meskipun juga terkejut.
“Chiyo… kalau kau tak keberatan aku mohon bantuanmu,” kata Shinji segera.
“Apa yang bisa kubantu?”
“Mencari tahu sesuatu.”

Ki o tsukete kudasai,” suara Eiji terdengar, mengatakan pada Arata agar dia berhati-hati dalam perjalanan.
Hai, ki o tsukemasu,”—Baik, aku akan berhati-hati, balas Arata sopan.
Setelah itu dia berbalik, dan masuk ke dalam mobil melewati pintu yang sebelumnya telah dibuka oleh anak buahnya, dan duduk nyaman di kursi tengah. Sementara kedua anak buahnya duduk di depan. Salah satunya mengemudikan SUV tersebut.
Mobil bergerak pelan, kembali melintasi pekarangan rumput luas, menuju hutan karet di depan. Derak, kecipak air dari lubang tanah yang menganga serta suara angin bercampur hujan gerimis terdengar dari luar. Malam begitu pekat. Entah sudah jam berapa ini.

“Jadi,” salah seorang pria di depan berkata, “bagaimana dengan Juna?”
Arata tak langsung menjawab. Dia sepertinya sedang mencari kalimat yang tepat. “Eiji bilang… kita akan membantunya. Tapi bukan sekarang.”
Shinji membeliak. Dia yang sedang berjongkok di celah antar kursi langsung gemetar. Bagaimana bisa Eiji memutuskan begitu? Juna bisa mati kalau dia tak segera bertindak. Shinji tak habis pikir.
“Bagaimana kalau mereka benar-benar membunuhnya? Tuan Shinji pasti akan marah sekali,” kata anak buah Arata lagi.
“Karena itu, saat ini kita hanya bisa menyembunyikan masalah ini darinya.” Arata mengembuskan napas tajam. “Setidaknya sampai Juna, benar-benar aman.”
Tapi kapan? Shinji gemas dengan kelambanan Eiji dan anak buahnya.
“Orang dalam kita di O ushi, memastikan kalau Juna saat ini baik-baik saja,” Arata melanjutkan, “hanya… sedikit lebam dan…”

Kepala Shinji mendadak sakit. Gelap menutup matanya. Telinganya tak lagi mendengar apa yang sedang Arata katakan pada anak buahnya. Dia menunduk sejadi-jadinya, seraya menjambak rambutnya. Wajah Juna datang dan pergi di benaknya. Tampang sinis yang selalu diperlihatkan pada Shinji muncul berganti-ganti. Suaranya yang dingin dan datar menggaung di kuping Shinji. Kata-kata Juna yang paling diingat Shinji terngiang lagi. “Apa pun alasanmu, Shin…, aku hanya ingin memberitahumu, kalau kami selalu ada kapan pun kau butuhkan. Kami takkan menjauh. Bahkan kalau kau kudisan sekali pun.
Dia suami yang baik, Shin.” Kali ini suara Lea yang terdengar. “Dia baik.”
Lea bahagia bersama Juna. Kau seharusnya ikut senang. Juna sangat mencintainya, apalagi yang kau ragukan?” Wajah Malini dan kata-katanya melintas di pikirannya.
Kau mau aku menelpon Dai?” kata Juna waktu itu di Kafe Pagi. Dan karena itulah dia diculik oleh O ushi. Karena Kyouta sama sekali tak mau kakaknya mengetahui perihal kejadian di Xanadu minggu lalu, dan tak mau Juna sampai menghubunginya untuk mencegah Kyouta dan anak buahnya memburu Shinji lagi.

Kyouta merasa Juna telah ikut campur terlalu banyak,” kata Chiyo di telpon tadi. Gadis itu ternyata tahu banyak mengenai permasalahan ini. “Kyouta menyuruh anak buahnya membawanya, dengan maksud memberinya pelajaran. Tapi… kau tahu bagaimana Kyouta. Apalagi, dia juga sangat membenci Juna karena telah menyelamatkan kau dan Lea tiga tahun lalu. Dai sangat murka padanya karena kejadian itu, sampai-sampai menghukumnya dengan Yubitsume[2]. Jujur, Shin, dia sangat takut pada kakaknya itu…, juga sangat membencinya. Tak akan mau lagi menghadapi hukuman yang sama atau lebih buruk lagi karena ulahnya.
“Apa dia akan berani membunuh Juna?”
Menurutku ya. Karena Juna adalah sahabat Dai, dan menjadi sahabat Dai berarti adalah seperti saudara sekandung, yang berarti akan sangat dia lindungi. Andai Kyouta melepasnya, Juna pasti akan menghubungi Dai untuk memberitahukan apa yang telah dilakukan Kyouta padanya. Dan itu pasti akan membuat Dai semakin marah pada Kyouta. Meskipun bersaudara, dari dulu, Dai menganggap adiknya itu hanya menyusahkannya saja.

“Jadi sekarang, kita hanya menunggu?” Suara anak buah Arata terdengar lagi, seiring sakit kepala Shinji yang mereda.
“Ya.” Arata bersandar ke punggung kursi. “Kita menunggu.”
Aku sama sekali tak bisa menunggu…” gumam Shinji. Duduk di kursi belakang.
Arata dan yang lain terkejut. Serentak menoleh ke belakang, dan tampak terguncang melihat Shinji yang duduk tenang dengan tangan memegang pistol yang ditempelkan langsung ke samping kepalanya.
“Tuan Shinji, Anda…?” Tenggorokan Arata sepertinya tercekat. Dia kesulitan melanjutkan kalimat yang hendak dikatakannya. “Bagaimana Anda ada di sini?”
“Bukan urusanmu,” kata Shinji dingin. “Urusanmu adalah… mengantarku ke tempat Kyouta—DENGARKAN AKU!” Shinji berteriak ketika Arata merepet keberatan dengan permintaannya. “Kau dan anak buahmu, antar aku ke tempat Kyouta, di mana dia membawa Juna. Setelah itu kau telpon Eiji untuk minta bantuan.”
“Maaf, Tuan Shinji, saya tidak bisa. Saya harus mengembalikan Anda—”
“Kalau begitu,” potong Shinji, “aku bisa menembak kepalaku di depanmu, dan kita akan dengar apa yang akan Eiji katakan tentang itu.”
Setelah itu Shinji perlahan menarik pelatuk pistolnya. Berkata, “Satu…, dua…, ti—”
“Baik.” Arata tampak putus asa, tapi tak berdaya untuk menolak. Dia sepertinya lebih memilih Shinji menembaknya dan anak buahnya daripada dirinya. “Kami akan antarkan Anda.”
Good.” Shinji tak menurunkan pistolnya dari samping kepalanya. “Jauhkan tanganmu dariku,” angguknya ke tangan Arata yang menempel di puncak kursi. “Kalau kau berusaha menotokku lagi, demi Tuhan, aku akan meledakkan kepalaku.”
Arata menurunkan tangannya. Tak mampu berkata-kata.
“Lempar semua ponsel kalian ke kursi belakang,” suruh Shinji lagi. Untuk terakhir kali.
(Bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)


[1] Chiyo muncul di ‘Lea’; adik perempuan Eiji yang membantu Shinji melarikan diri dari pengawasan Eiji dulu
[2] Hukuman potong jari sebagai hukuman di kelompok Yakuza
------------------------------


Soundtrack untuk Nyanyian Sendu. 
Liriknya selaras banget sama perasaan terdalam Shinji untuk Lea.
(I really love this song)

Breakeven (The Script Cover)
Kurt Hugo Schneider ft. Max Schneider

I'm still alive but I'm barely breathing
Just prayed to a god that I don't believe in
Cause I got time while she got freedom
Cause when a heart breaks no it don't break even

Her best days will be some of my worst
She finally met a man that's gonna put her first
While I'm wide awake she's no trouble sleeping
Cause when a heart breaks no it don't break even, even no

What am I suppose to do when the best part of me was always you?
What am I suppose to say when I'm all choked up and your ok?
I'm falling to pieces, yeah
I'm falling to pieces

They say bad things happen for a reason
But no wise words gonna stop the bleeding
Cause she's moved on while I'm still grieving
And when a heart breaks, no it don't break even, even no

What am I gonna do when the best part of me was always you?
What am I suppose to say when I'm all choked up and your ok"
I'm falling to pieces, yeah, I'm falling to pieces, yeah
I'm falling to pieces, I'm falling to pieces

You got his heart and my heart and none of the pain
You took your suitcase, I took the blame.
Now I'm tryna make sense of what little remains no
Cause you left with no love, with no love to my name.

I'm still alive but I'm barely breathing
Just prayed to a god that I don't believe in
Cause I got time while she's got freedom
Cause when a heart breaks, no it don't break 
No it don't break, no it don't break even, no

What am I suppose to say when I'm all choked up and your ok?
I'm falling to pieces, yeah, I'm falling to pieces, yeah
No it don't break even
No it don't break even
No it don't break even

--------------------------------------------

19 comments:

putri ria,  January 18, 2012 at 8:36 PM  

juna missing ??
dy di umpetin kyouta dirumahku mba lita ..tenang aja ..hahaha
#ngigo

Lita January 18, 2012 at 8:42 PM  

@Putri Ria: Masa? Aku ke rumahmu ya, Put? Aku mau juga disekap sama Kyouta, dan nempel ma Juna #hilangakal (wkwkwkwkwkw)

putri ria,  January 18, 2012 at 8:57 PM  

ga boleh mba kata kyouta ..udah penuh kamarnya ..haha
#readersarap

Lita January 18, 2012 at 9:04 PM  

@Putri Ria: Dasar (^_^)

shafarani January 18, 2012 at 11:02 PM  

Hihi, aku juga suka n pengagum kurt-sam tsui lho mba lita..
btw ada yg salah ketik tu, seharusnya Arata tp mba lita jd ngetik Kyouta..
di bagian "urusanmu adalah mengantarku ke tempat kyouta-DENGARKAN AKU!

shafarani January 18, 2012 at 11:08 PM  

Yaaah..krn ngetik dr hape jd kburu tkirim komen aku mba..
mksdku yg mau diralat tu Kyouta yg ada di sbelum kalimat "merepet keberatan dg permintaan.."
#hos

Lita January 18, 2012 at 11:27 PM  

@Shafarani: Makasih ya, Ran. Biasa deh aku... agak mis *wkwkwkwkwk*
Udah diralat kok. Thaaaaannnnx. Mwah!

Feby Oktarista Andriawan January 19, 2012 at 11:03 AM  

Wah ini makin menegangkan aja ceritanya.. jadi rumit nih... Shinji ttp jd idola gue.. :D

Lita January 19, 2012 at 11:13 AM  

@Feby: tetep ya, Feb. Shinji memang oke.

rona-nauli January 19, 2012 at 12:44 PM  

..."Menutup mata, tersenyum tertahan, campuran rasa senang dan bersalah, Shinji menyandarkan punggungnya di kursi"...

rasanya pengen toss ama Shinji di bagian ini, pas dia abis baca email Neela. Kenapa bisa begitu ya, Lit? :D

Lita January 19, 2012 at 12:51 PM  

@Rona: Ayoooooo, kenapaaaaaa...? Madam abis baca emailnya Kang Roni ya? *asal tebak*

Cinta Madam. Buat kita bertindak aneh tanpa disadari. My God!

ra-kun January 19, 2012 at 6:17 PM  

lama saya gak BW, tau tau ada serial baru dari Lita :) asekk...

rezKY p-RA-tama January 20, 2012 at 7:25 AM  

wew,,,,
mantep mbaknya,,
breakeven,,,
dalam banget pokoknya,hehe
sekalian blogwalking ya,hehe

Lita January 20, 2012 at 9:03 AM  

@Rezky: Iya. Aku suka banget lagu itu. Tq, Rezky udah mampir. Nanti aku bw balik

Outbound Malang January 20, 2012 at 12:12 PM  

hm, walopun saya engga ngerti, saya ijin nyimak dulu mba.. hehe,
maaf ya komen dulu baru nyimak..
salam kenal, salam persahabatan..
happy blogging :)

Mine and Me January 20, 2012 at 6:51 PM  

baru pertama kali baca...
jadi pengen baca yg sebelumnya... hihihi
ketinggalan banyak ya aku?

Gloria Putri February 1, 2012 at 1:31 PM  

yaampun.....juna diapain yaaa sama kyuota......hikssss....
aq suka bagian shinji terbyang wajah juna bilang ' kami akan selalu ada bhkan saat kau kudisan swkalipun'
manis bgt

Lita February 1, 2012 at 8:18 PM  

@Glo: Juna emang sweeeeeeeeettt... kaya cotton candy. *jadi pengen permen kapasss!!!*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP