Nyanyian Sendu (18)

>> Friday, January 13, 2012

I Want To Enjoy My Life

“BISAKAH kau tutup dulu laptopmu dan makan dengan serius?” Eiji tampak sekali kesal pada Shinji yang terus mengetik sesuatu di laptopnya, sementara makanan di piringnya terbengkalai, menunggu penuh harap untuk disantap. Kalau bisa dihitung, sepertinya baru dua kali Shinji menyendok makanannya dan menyuapkannya ke mulut.

Saat ini mereka sedang berada di teras belakang rumah. Makan siang dengan santai di hari kedua tahun baru, ditemani panorama danau yang berkilat-kilat jauh di depan.

Shinji menggerakkan matanya dengan cepat dari layar monitor ke Eiji, yang menatap menantang dari seberang meja. Piringnya sudah kosong, hanya terisi sendok dan garpu kotor yang menelungkup.

“Aku bukan anak kecil,” kata Shinji, menutup laptopnya dengan jengkel. “Tidak perlu diberitahu bagaimana caranya makan.” Dia menarik piringnya mendekat.
“Kalau begitu makan,” balas Eiji, tak gentar. “Dan minum obatmu.” Dia mengangguk ke botol-botol putih transparan berisi pil-pil obat di tengah meja. “Kemarin kau sama sekali tidak minum satu pun.”
Tak bisa membantah, Shinji mengambil sendok, berkata, “Sejak kapan kau jadi cerewet, Eiji?”, dan menyendokkan nasi banyak-banyak.
“Sejak kau absen minum obat,” sahut Eiji singkat, mengunci tatapan Shinji dengan tatapannya.
“Hanya satu hari.” Shinji mengunyak nasi yang baru saja disuapkan ke mulutnya.
“Kemarin satu hari, besok dua hari, tiga hari… lalu kau tidak akan minum obatmu sama sekali. Lagipula apa yang kau buat di laptopmu sampai-sampai kau tak peduli sekelilingmu?”
“Bukan urusanmu.”
“Urusanku kalau kau sampai tak minum obat.” Eiji menyandarkan punggungnya, memandang Shinji yang sekarang menyantap makanannya dengan masam.

Instrumental klasik nan lembut terdengar, Shinji mendongakkan wajah pada Eiji, yang segera menggapai ponselnya di atas meja di sebelah gelas airnya. Menatap monitornya sekilas, baru kemudian melekatkannya ke telinga. “Halo,” sapanya.
Suara samar orang berbicara sampai ke telinga Shinji. Tapi dia tak jelas menangkap apa yang dikatakannya.
“Oh. Begitu…” Eiji berkata, mendengarkan saksama. “Apa kau juga sudah menjelaskan duduk permasalahannya?” Dia diam lagi, memberikan kesempatan si penelepon berbicara. Shinji hanya mengamatinya dengan punggung bersandar ke belakang. Mulutnya bergerak-gerak mengunyah makanan di dalam mulutnya.

“Tapi Juna”—Shinji membeliak mendengar nama Juna—“ini kedua kalinya, dan sangat buruk, apa Dai akan bisa membantu? Mengingat… masalahnya…” Kata-katanya terhenti seketika, dan dia mengernyit. Mendengarkan Juna bicara dengan serius.
“Kalau Shinji mesti minta maaf,”—(“Aku tidak akan pernah minta maaf pada bajingan itu!” Shinji bersuara, tampak murka)—“maka akan kuusahakan dia minta maaf.”
“Apa-apaan kau?!” Shinji benar-benar marah. Dia membanting sendok yang dipegangnya ke atas piring. Bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekati Eiji. Menyambar ponsel yang dipegangnya, sehingga membuat Eiji tersentak. Sama sekali tak menduga Shinji akan melakukannya.
“Shin,” dia menegur, tapi Shinji tak peduli, langsung bicara pada Juna, yang masih bicara, tanpa tahu kalau ponsel telah berpindah tangan. “Aku hanya akan menjelaskan pada Dai duduk perkaranya. Dia tampaknya sama sekali tak tahu perihal kejadian tanggal 23 itu. Mereka belum memberitahunya.
“Kalau begitu jangan katakan apa pun padanya,” kata Shinji datar.
Shinji?” Juna kedengarannya kaget.
“Kalau aku mesti minta maaf pada Kyouta, sori Juna, lebih baik aku mati sekalian.”
Jangan ngaco.”
“Kau tidak perlu repot-repot membantuku,” kata Shinji lagi, yang direspon oleh Eiji dengan memutar bola matanya. “Jangan libatkan dirimu. Pikirkan Lea dan Dean.”
Aku hanya berusaha meluruskan masalahmu dengan O ushi,” sahut Juna, agak dingin. “Agar kau tidak perlu sembunyi lagi. Dai—
“Aku tahu Dai teman baikmu, tapi aku tidak perlu kau merengek padanya agar adik sialannya itu tidak memburuku; membuatnya berpikir aku bersembunyi di balik punggungmu seperti pengecut.”
Shin…
“Sekali lagi aku katakan, Juna…, jangan ikut campur!” Shinji menekan tombol off dengan cepat, dan meletakkan ponsel Eiji di atas meja dengan suara tak! keras. “Jangan hubungi dia lagi. Jangan libatkan Juna. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya dan keluarganya. Jangan libatkan siapa-siapa!”
Setelah itu Shinji pergi. Berjalan dengan gusar di belakang kursi yang Eiji duduki. Eiji cuma bisa menghela napas, tidak mengatakan apa-apa. Hanya memandang dingin ponselnya, yang bergeming di atas meja di depannya.

Shinji kesakitan malam harinya. Kepalanya seakan mau meledak. Pandangannya nanar dan gelap, seolah saja matanya buta. Terus-terusan dia mengerang, menelungkup di kasurnya dengan kepala terbenam bantal. Tak mau menyentuh obatnya; melemparnya ke lantai, hingga sebagian berhamburan. Eiji yang bingung, terpaksa melakukan tindakan ekstrim, menjejalkan beberapa obat penenang ke mulut Shinji, sementara anak buahnya memegangi Shinji yang seperti kesurupan, sampai dia menelannya; membuatnya rileks, dan jatuh tertidur.
Esoknya, Marco datang. Dengan terpaksa Eiji memanggilnya—menyuruh anak buahnya menjemputnya, karena cemas akan kondisi Shinji. Untungnya Marco tak bertanya, mengapa dia harus merahasiakan keberadaan Shinji dan dirinya. Hanya berkata ‘ya’ dan menambahkan, “Aku kemari untuk melihat pasien yang sakit. Urusan kalian di luar itu, aku tak mau tahu.” Untuk pengertiannya itu, Eiji sangat berterima kasih padanya.

“Shin…” Marco duduk di tepi tempat tidur, sementara Shinji tersenyum simpul memandangnya. Wajahnya pucat. “Bagaimana keadaanmu?”
Feeling beat up,”—seperti habis kena pukul. Dia nyengir lemah.

Marco membalas cengirannya dengan senyum, kemudian mengatakan pada Shinji kalau dia perlu memeriksanya. Shinji mengiyakan, dan membiarkan Marco menempelkan stetoskopnya ke beberapa titik di tubuhnya dan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan khas medis yang diajukannya seperti apa ada bagian tubuhnya yang sakit…, bagaimana sakit di kepalanya kemarin…, apa yang dia makan…, dan lain-lain.

“Jangan terlalu banyak berpikir.” Marco melepas gagang stetoskop dari telinganya. Membiarkannya menggantung di lehernya.
Shinji mendengus, dan menundukkan wajah. “Aku… tidak bisa tidak berpikir, Marco,” ujarnya pelan. “Banyak… yang aku pikirkan saat ini.” Dia memijit kelopak matanya yang mengatup.
“Stres…, hanya akan mempercepat penurunan daya ingatmu. Demensia…”
“Bagaimana kalau aku ingin dipercepat?” Shinji mengangkat wajahnya tiba-tiba. Menatap Marco dengan tatapan tajam.
“Maksudmu?” Marco menyipitkan sebelah matanya.
“Demensia ini…, bagaimana kalau… aku ingin agar… secepatnya berefek padaku?”
Ganti Marco yang mendengus. Dia jelas menganggap Shinji sudah gila. “Jangan ngomong yang tidak-tidak.”
“Aku serius.”
“Shin… Banyak orang yang menderita Demensia…, ingin agar mereka tetap bisa hidup normal seperti biasa. Berdoa kalau mereka bisa sembuh, meskipun mereka tahu itu mustahil. Banyak orang melakukan banyak cara untuk menghambatnya, dan kau… kau malah ingin mempercepatnya. Kau ingin agar kau tidak mengingat apa pun? Tidak bisa menggerakkan badanmu dan—”
“Lebih baik begitu, daripada tersiksa memikirkannya terus menerus,” potong Shinji. “Setiap sakit mendera, bertanya-tanya, apakah ini akhir hidupku, dan saat reda, aku ketakutan kalau sakit itu kembali menyerang. Lebih baik otakku rusak total, agar saat maut menjemput, aku tidak bisa merasakan apa pun sama sekali.”
“Kau gila.”
“Aku memang sudah gila.”

Tak satu pun yang bicara selama beberapa saat.

“Kau minum obatmu,” Marco mengangguk. Dia melepas gagang stetoskop yang masih menggantung di lehernya, kemudian bangkit berdiri. “Aku akan menuliskan resep baru untukmu, dan meminta Eiji untuk membelikan obat-obat itu. Minum dengan rutin, sesuai dengan petunjuk—aku akan tuliskan nanti sekalian, dan tolong… tenangkan diri. Hindari stres. Dua hari lagi, kontrol ke rumah sakit. Kau akan menjalani serangkaian tes lagi.”
Dia memutar badannya, dan beranjak pergi menuju pintu.
“Marco,” Shinji memanggil, membuat Marco menghentikan langkah mendadak, dan berpaling. “Ya?” tanyanya.
Can I ask you a favor?
Marco kembali mendekat, berhenti di sebelah tempat tidur dengan satu tangan di saku celana jinsnya. “Bantuan apa?”
“Aku ingin menikmati hidup.”
Kerutan di dahi Marco bertambah. Dia tak mengerti maksud Shinji.
“Aku tidak ingin tes-tesan lagi. Aku ingin… menjalani hidupku apa adanya sekarang.”
“Kalau kau tidak menjalankan tes, kita tidak akan tahu seberapa parah—”
“Tes tidak menjamin kalau aku akan sembuh kan?” potong Shinji cepat. “Bagaimana pun… aku tidak akan bisa sembuh kan?” ulangnya lagi, minta konfirmasi.
“Shin…”
“Jadi buat apa?”
“Tentu saja untuk mencocokkan obat yang bisa—”
“Hanya memperlambat, tidak menyembuhkan, sama saja kan?”
“Shin... Aku akan membantumu semampuku.”
“Aku tahu,” dengus Shinji, “Tapi… aku lebih memerlukanmu menjadi teman daripada dokterku.”
“Aku temanmu. Kau tidak perlu ragukan itu. Dan kebetulan aku juga dokter, seharusnya kau merasa beruntung.”
“Aku sangat merasa beruntung,” balas Shinji. “Tapi… jangan sia-siakan energimu untukku. Masih banyak orang yang lebih butuh dirimu daripada diriku.”
“Oh, God.” Marco mendesah putus asa.
“Aku serius,” dengus Shinji, geli. “Aku hanya ingin hidup senormal-normalnya tanpa terbebani apa yang membebaniku. Aku tidak ingin tergantung pada obat, tes atau pun dokter—jangan tersinggung,” katanya buru-buru begitu melihat Marco mengernyitkan alis. “Aku ingin… enjoy…, sebelum aku benar-benar kehilangan hidup. Sebelum aku lupa pada semua  hal. Pada wajahmu, pada wajah Eiji, ibuku…” Dia memejamkan mata sejenak. “Aku tak mau menghabiskan waktu di rumah sakit atau di tempat tidur. Aku harap kau mengerti itu.”
Marco mengembuskan napas seraya mengangguk. “Aku akan berusaha mengerti, tapi tidak sekarang.” Dari tampangnya, Marco jelas belum bisa menerima keinginan Shinji. “Sebagai dokter, aku jelas tidak setuju. But… aku tidak bisa memaksa, atau… mendesakmu melakukan sesuatu yang tidak ingin kau lakukan.”
Thanks,” ucap Shinji. Tersenyum lega.
“Kau harus tetap minum obatmu.”
“Tidak masalah. Eiji akan memastikan itu.” Shinji mendengus.
“Jangan banyak berpikir.”
Shinji diam. Dalam hati bergumam, apakah dia bisa melakukannya? Dengan permasalahan yang sedang mendera, serta kecemasan atas keselamatan orang-orang yang disayanginya? “Oke,” katanya kemudian. “Akan kucoba.”
Marco pun tersenyum, meskipun ragu.
“Jangan katakan pada Eiji,” pinta Shinji. “Dia… tak akan mengerti.”
“Orang-orang yang menyayangimu, pasti tak akan mengerti kemauanmu ini,” timpal Marco. “Bukan hanya Eiji saja, tapi Lea, Malini…”
So don’t tell them, too.
I’ll try.

Malamnya, Shinji menyambangi kamar Eiji. Bermaksud minta maaf atas sikap tak enaknya kemarin. Sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan t-shirt polos dan celana trening panjang; kelihatan lebih rapi daripada sebelumnya.

“Ada apa?” tanya Eiji, saat melihat Shinji bersandar di kosen pintu kamar yang terbuka. Kedua alisnya naik. Dia sedang duduk bersandar di tempat tidurnya, membaca buku.
Shinji menelan ludah sebelum bicara, mengulum senyum. “Sori. Kemarin aku emosi.”
Eiji mengerutkan bibir. “No big deal,” ujarnya. “Kau kan memang emosian sejak dulu. Aku sudah biasa.” Dia kembali menunduk ke buku di pangkuannya.
“Eiji… Aku benar-benar minta maaf.” Shinji menyilangkan tangan di dada. Masih bersandar miring di kosen. “Sori, oke?”
Eiji bengong, menatap kosong bukunya, mengembuskan napas dan mengangkat wajahnya. “Shin… aku tidak ambil pusing soal sikapmu. Jadi tidak usah merasa menyesal.”
“Kendati begitu…”
“Aku maafkan.” Eiji buru-buru menyela. Menatap Shinji dengan tatapan meyakinkan. “jadi, kembali ke kamarmu dan istirahat. Obatmu sudah di atas meja, kau tinggal minum saja.”
Shinji mendengus tersenyum, sementara Eiji menggeleng sambil menyeringai.
“Kalau nanti…” Shinji berkata setelah lewat beberapa waktu, “aku tidak sempat mengucapkan,” dia berhenti sejenak, “aku hanya ingin kau tahu, kalau aku sayang padamu. Dan aku… berterima kasih karena bersedia menemaniku sampai saat ini.”
Eiji menatap Shinji dengan tampang terguncang. “Apa kepalamu sakit lagi?”
Shinji mengerutkan wajah, tampak tersinggung. “Pokoknya aku sudah bilang padamu,” ujar Shinji lagi, dengan wajah merah. Dia mengangkat pundaknya dari kosen dan berdiri tegak di ambang pintu. “Jadi… jangan pernah bertanya-tanya tentang itu.” 
Setelah itu dia berpaling, berjalan pergi dengan tangan di saku celana treningnya. Meninggalkan Eiji yang melongo. 
(Bersambung)

Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)

NEXT:


"Aku mohon jangan sakiti dia, Kyouta," Shinji memohon. Berlutut pasrah di depan Kyouta, yang sudah siap memukulkan tongkat baseballnya ke tangan Juna yang terentang di atas meja di depannya. "Aku yang kau benci, jadi tolong, pukul aku saja, jangan dia." Air mata banjir ke pipinya. "Demi Tuhan, KYOUTA!" Dia berteriak lagi, kala Kyouta tidak menggubris permohonannya. 
Shinji cepat-cepat meraih kaki Kyouta dan memeluknya kuat-kuat. "Tolong... Pukul aku saja. Bunuh aku... jangan dia. Aku yang bersalah. Aku minta maaf."
"Apa artinya koki ini untukmu, hah?!" Kyouta menendang Shinji, sehingga dia terjerembab ke lantai. 
...

Tetap baca, ya. Cuma tinggal beberapa Chapter aja.  

8 comments:

Rusyda Fauzana January 13, 2012 at 4:29 PM  

Waaahh... Makin sendu saja.

Shinji dan Juna, persahabatan mereka disatukan atas nama cinta pada seorang perempuan--Lea. Cinta memang butuh pengorbanan, berkorban demi kebahagiaan orang yang dicintai. Juna dan Shinji mereka melakukannya untuk Lea. Aku menangkap cerita ini begitu.
Mba Lita kok bisa ya bikin konsep cinta kayak gini? Hebat! Sukaaaa...

Lalu bagaimanakah nasib Neela dan Shinji nanti Mba Lita? Apakah sad ending?

What ever it is, I know u'll make it amazing in the end.

I'll keep observing your blog, anyway :)

Lita January 13, 2012 at 9:15 PM  

@Rusyda: Aduh, seneng banget, tahu kamu nangkep maksud ceritaku. Persahabatan dan cinta emang selalu menarik untuk disimak, ya... Makasih ya, reviewnya, Rusyda. Aku bisa buat cerita ini demi si Chef Juna, tuh Rus... tuh orang emang inspirasional banget Heheheh...

Tentang Shinji dan Lea, kita liat aja nanti ya...

Keep reading Rus... More thanks...

Rusyda Fauzana January 13, 2012 at 10:55 PM  

Iya sama-sama Mba Lita. Aku memang suka baca fiksi. Ini sekilas review dari ku hasil pembacaan antara hubungan tokoh2 utama di cerita ini. Mungkin efek dulu aku kuliah di Sastra jadi spontan aja bikin analisis pendek cerita ini. Tapi lulusan sastra belum tentu menjamin bisa bikin karya fiksi, contohnya aku. Hobiku cuma membaca, mengkritik,mengapresiasi, menganalisis dan menafsirkan hehehe...
Salute untuk Mba Lita :)

Chef Juna memang inspiratif, mungkin dia tidak pernah menyangka akan seperti ini respon orang terhadap dirinya. It's his problem, but this is 'something' for us :D

Ok, I'll keep reading this :)

sarie January 14, 2012 at 4:24 PM  

Foto Kyouta = hyun bin yah mba'
waaah Kyouta manis ya mba' boleh juga tuuh .... ^_^

Lita January 14, 2012 at 11:24 PM  

@Rusyda: sekali lagi, terima kasih. Aku seneng ada orang yang mau baca, dan mengapresiasinya. Sangat. Kalau mau kritik, silakan. Kalau mau saran, silakan. Aku seneng aja, selama untuk kebaikanku sendiri. *kisshug*

@Sarie: Dasar kamu tuh, Rie. Suka bad boy ya...???

Lia January 15, 2012 at 10:15 AM  

Whuaaaa makin penasaran aja ceritanya
DItunggu lanjutannya ya
Oh ya mampir di blogku donk, yg di postingan Cooking Show with Chef Juna
disana Chef kasih komentar lho wehehe so happy :)

Kampung Karya January 16, 2012 at 7:55 AM  

belom selesai bacanya, keburu ujian.. :)

berkawan dengan saya ya, jangan lupa kunjungi dan follow blog saya http://kampungkaryakita.blogspot.com/. Saya sudah memfollow blog ini.. Sukses :)

Gloria Putri February 1, 2012 at 1:19 PM  

buka blog tau2 uda selesai aja ceritanya...hrs ngebut niii

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP