Nyanyian Sendu (17)

>> Saturday, January 7, 2012

Silent New Year's Eve


Tanggal 24 pagi, Juna menelepon Eiji, untuk menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi sehingga Shinji nekat meneleponnya pagi-pagi buta, hanya untuk memintanya bertemu tanpa mengatakan apa pun. Juna pun memintanya menemuinya jam 6 pagi, di Kafe Pagi Jakarta Pusat.
Segera setelah Juna menutup teleponnya, Eiji bergerak. Menghubungi Arata, anak buah kepercayaannya di Jakarta untuk mencari tahu apa saja yang mungkin ada hubungannya dengan Shinji malam, atau pagi itu. Segera memerintahkan Arata dan anak buahnya menjemput Shinji di Kafe Pagi, begitu Arata mengabarkan perihal pemukulan di sebuah kelab malam, dan O ushi telah mengejar Shinji lagi karena kejadian itu.

“Mereka menutupinya dari Polisi, karena mereka benar-benar akan memburumu kali ini,” kata Eiji pada Shinji, yang siuman beberapa jam kemudian, setelah Arata melepaskan totokannya—Shinji bersumpah, tidak akan mau dekat-dekat sesenti pun dengan Arata setelah ini, dan mereka telah berada di villa terpencil milik Eiji di suatu tempat di Jawa Barat. Villa yang sama yang ditempati Shinji tiga tahun lalu. “Kau harus benar-benar bersembunyi, Shin,” lanjut Eiji.
“Neela… bagaimana?” Shinji teringat Neela yang berada di rumah Malini. “Malini…”
“Neela aman. Tampaknya Kyouta dan yang lain tidak menyadari atau mungkin tidak ingat, siapa perempuan yang mereka bawa ke private room kemarin. Setidaknya begitu,” kata Eiji lagi. “Arata mengatakan Kyouta hanya fokus padamu—dan kemungkinan…” dia kelihatan ragu untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya, “Lea.”
Shinji berjengit. “Lea? Kenapa Lea?” semburnya panik.
“Sepertinya dia masih berpikir kalau Lea masih punya pengaruh kuat atasmu.”
“Tapi Lea—Oh, Tuhan.” Shinji merasa luar biasa bodoh dan juga tolol. Sekali lagi dia membahayakan Lea. Wajah ketakutan Lea tiga tahun lalu kembali membayanginya. Selain itu, Dean dan juga Juna memenuhi benaknya.
“Aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengawasi Lea,” Eiji memberitahu, seakan saja itu menyelesaikan masalah.
“Kau harus.” Shinji menghujamkan tatapannya pada Eiji. “Kau harus menjaganya—dengan intensif! Kau harus menyuruh orang berjaga di rumahnya. Ada Dean dan—Oh! Aku tak akan bisa memaafkan diriku, kalau terjadi sesuatu pada Lea, pada Dean atau Juna. Dan… karena aku.” Shinji memijat-mijat dahinya yang terasa berdenyut.
“Aku akan berusaha semampuku,” angguk Eiji. “Sekarang… kau istirahatlah.” Dia bangkit dari tepi tempat tidur. “Kau belum tidur dari kemarin. Dan kau perlu tidur.”
“Aku tak tahu… apa bisa tidur dengan masalah ini menghantuiku.” Shinji memandang sekeliling kamar.
Eiji memasukkan kedua tangannya ke saku celana, sama dengan Shinji, menjelajahi kamar di mana mereka berdua berada dengan matanya yang tampak lelah.
“Kamar ini tidak berubah,” gumam Shinji pelan, seraya menengadah menatap langit-langit di atasnya. “Kira-kira sekarang… berapa lama aku harus berada di sini?” Dia menurunkan pandangannya pada Eiji yang juga sedang menatapnya.
“Entahlah.” Eiji menggeleng, dan mengembuskan napas bersamaan. “Sampai kau aman.”
“Kapan itu?”
Eiji tak menjawab. Hanya bisa menaikkan bahunya, dan memberikan tatapan yang seolah berkata ‘aku juga tidak tahu’ kepada Shinji. Setelah itu dia berpaling, berjalan ke arah pintu kamar yang terbuka, dan menghilang di baliknya.

Neela telah membalas email yang Shinji kirimkan padanya beberapa hari lalu. Membuat Shinji bersyukur, kalau dia baik-baik saja.

Dear Nyanyian Sendu,

Terima kasih atas emailmu. Benar-benar membuatku lega dan juga merasa malu.
Dengan amat sungguh-sungguh, aku minta maaf padamu, karena telah memakai puisimu untuk laguku, dan kau dengan baik hati memberikanku puisi lain untuk kujadikan lagu. Kau benar-benar baik, aku tak tahu bagaimana membalasnya.
Kalau boleh, bisakah kita bertemu? Aku ingin sekali mengenalmu. Kurasa kita bisa menjadi sahabat baik.

Salam,
Neela


Dahi Shinji berkerut. Berpikir kalau Neela mungkin menganggapnya seorang perempuan, sama seperti dirinya. Atau mungkin, dia memang benar-benar ingin bersahabat dengan Nyanyian Sendu, apa pun jenis kelaminnya?
Shinji mendengus, tersenyum samar, kemudian menekan tuts-tuts keyboardnya. Membalas email Neela.

Neela,
Tak perlu merasa malu. Aku dengan tulus, memberikan puisi-puisi itu padamu tanpa mengharapkan apa pun darimu, jadi kau tidak perlu merasa tak enak.
Permintaanku adalah, berikan semua puisiku nada, yang kau ciptakan dari hati, sama seperti aku menuliskan mereka dari segenap pikiran dan hati.

Aku gembira atas undanganmu; akan sangat senang bertemu denganmu, namun jarak kita yang jauh sepertinya tak memungkinkan. Lagipula kau pastinya sangat sibuk, dan tak akan punya waktu, jadi  jangan memaksakan diri untuk memikirkanku. Untukku, bisa berkomunikasi denganmu melalui email saja, sudah cukup membesarkan hati.

Saat ini aku sedang berada di suatu tempat yang jauh, dan lepas dari peradaban manusia yang padat. Bagaimana denganmu, Neela? Dimana kau sekarang? Apa kau baik-baik saja?

Sahabatmu,
Nyanyian Sendu

Shinji membaca ulang kata-kata yang diketiknya beberapa kali, dan setelah dirasanya cukup, dia menekan ‘send’ dengan mouse laptopnya, menunggu email tersebut sampai terkirim sepenuhnya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang didudukinya.
Dia berharap Neela langsung membaca dan membalas emailnya, dan mudah-mudahan saja menceritakan kejadian tanggal 23 lalu dalam email balasannya.
Tapi apakah dia ingat, Shinji merasa ragu, karena Neela mabuk berat waktu itu.

“Shin.”
Shinji menoleh, memutar badannya ke belakang, dan melihat Eiji berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka. “Ada apa?”
“Kau tidak mau bergabung?” Dia meneguk minuman di gelas yang dipegangnya, mengatasi suara-suara riuh orang tertawa, suara musik serta terompet terdengar dari luar. Matanya sayu, dan wajahnya memerah; dia sudah mabuk, padahal baru jam 10 malam.
“Aku ingin sendirian saja,” jawab Shinji.
Eiji tersenyum simpul. Menaikkan bahu. “Just in case, aku lupa mengucapkan,” (dia mengangkat gelasnya ke arah Shinji) “Happy New Year,” ucapnya, kemudian berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi. Sempat menutup pintu di belakangnya, dengan badan terhuyung.
Shinji mengeluarkan dengus geli, kemudian membalas ucapan Eiji dalam suara pelan yang hanya dia sendiri yang mendengar, “Happy New Year, Eiji.”
Setelah itu kembali memutar badannya, menghadap ke arah meja, ke laptopnya yang membuka. Membulatkan mata begitu melihat ikon amplop kecil melayang-layang di monitornya. Dia menarik mouse, mengkliknya buru-buru ke ikon amplop tersebut.
Neela telah membalas emailnya.


Dear Nyanyian Sendu,

Aku baik-baik saja. Aku dan Kenneth sedang berada di rumah Chef Juna dan Lea sekarang—Shinji membeliak—untuk merayakan malam tahun baru. Dan aku merasa sangat terhormat, menjadi salah satu orang yang diundang ke acara perayaan ini, karena sepertinya, hanya orang-orang terdekat keduanya yang datang. Tapi sayangnya Chef Juna tidak masak semua makanan yang disajikan, jadi aku tidak bisa merasakan masakan buatannya. Kendati begitu, aku tetap senang, karena dia baik sekali padaku, dan Lea—oh dia cantik sekali, dan sangat ramah. Aku benar-benar mengidolakannya. Di sini, aku seolah merasa berada di rumahku sendiri; di tengah-tengah orang yang menyayangiku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan kehangatan seperti ini.
Andaikan saja… orang yang kuharapkan juga hadir, Tahun baruku ini pasti akan lebih sempurna.

Oh ya. Bisakah kita bertukar nomor telepon? Aku ingin mendengar suaramu. Kita bisa saling bercerita. Dan dimana lokasimu memangnya? Seberapa terpencilnya tempatmu berada sekarang? Apakah kau seorang dokter yang sedang bertugas di pedalaman, atau guru yang mengajar sukarela di suatu desa yang jauh, atau mungkin kau wartawan.
Maaf kalau aku terlalu antusias, entah kenapa, aku ingin tahu tentangmu.

Dan kalau boleh tahu, siapa nama aslimu? Tidak perlu dijawab kalau tak mau mengatakannya.
Balaslah segera, aku menunggu.

Neela.


Mereka semua sedang berkumpul di rumah Juna dan Lea sekarang, gumam Shinji dalam hati. Betapa menyenangkan. Wajah-wajah ceria Juna, Lea, Malini, Dean, Jose, Neela, bahkan Kenneth muncul satu per satu di benaknya. Iri, sekaligus lega, mengetahui semua orang yang dicemaskannya baik-baik saja dan sedang berkumpul bersama merayakan pergantian tahun. Andai dia berada di sana.

Shinji kembali membaca kalimat yang dituliskan Neela, dan sampai pada kata ‘Andaikan saja… orang yang kuharapkan juga hadir. Tahun baruku ini pasti akan lebih sempurna.’ Siapa orang yang dimaksudnya itu? Apa Neela telah menyukai seseorang? Shinji bertanya-tanya; mencari-cari dalam pikirannya, siapa gerangan yang disukai Neela saat ini dan diharapkannya itu, tapi kemudian dia segera menyudahinya. Merasa konyol, karena begitu memikirkan hal yang tak seharusnya menjadi urusannya. Tapi jujur, dia benar-benar ingin tahu.

Neela tidak menyinggung sama sekali kejadian yang dialaminya beberapa hari lalu. Entah dia memang tidak ingin menceritakannya, atau mungkin dia lupa, dan Shinji, tentu saja tidak bisa memaksanya untuk bercerita, karena dengan begitu, Neela pasti akan curiga.
Dia benar-benar tak ingin Neela tahu kalau dia berada di Xanadu waktu itu.


Neela,
Aku saat ini berada di daerah pedalaman di Kalimantan. Merayakan tahun baru dalam kesendirian, bersama kumpulan orang asing yang saling berteriak tak jelas di luar tenda.

Shinji memberikan waktu untuknya mendengus geli, sementara suara-suara teriakan parau dan melengking, terdengar bersahutan di luar kamar.

Aku senang mendengarmu dapat merayakan pergantian tahun bersama orang-orang yang memang kau sukai, dan berharap kau bahagia karenanya.
Dan kalau kau tahu, aku juga sangat menyukai Lea. Dia sangat baik menurutku, sama sekali tidak cocok dengan Juna yang senang bersungut-sungut dan egois—kau boleh menyampaikan itu padanya sebagai bahan lelucon.

Shinji teringat wajah Juna yang datar seolah tak menyadari apa yang sedang terjadi di Kafe Pagi waktu itu. Sungguh aktor watak dirinya itu.

Dan Neela, aku bukan siapa-siapa melainkan seorang pengelana yang gemar berkunjung ke pelosok yang tak terjamah.
Selain laptop, buku panduan dan ransel sarat isiku, tak ada teman yang menemaniku. Ponselku tak pernah kuaktifkan, kecuali saat aku berada di tengah kota. Aku hanya seorang diri, dengan dana terbatas, namun dengan hati yang begitu lapang.
Blog-ku itu adalah tempatku mencurahkan segala pikiran dan kisah yang tak bisa kubagi dengan siapa pun. Namun, ternyata bercerita tentang pengalaman dan diri sendiri lebih sulit daripada menulis puisi—atau mungkin hanya segitu kemampuanku. Aku pun mengisi blogku dengan banyak kata mendayu, yang menurutku picisan pada awalnya, sampai akhirnya kau muncul, menyanyikan puisiku bersama musikmu yang menyentuh itu. Memberikan jiwa ke dalamnya, membuatnya hidup dan lebih memiliki makna. Karenanya aku berterima kasih padamu, karena kau menyuntikkan semangat untukku menulis lebih banyak lagi di sela rutinitasku yang unik di sini.

Aku  mohon maaf padamu, kalau aku tak berkenan memberitahu namaku. Cukup Nyanyian Sendu. Seorang laki-laki tanpa sosok, selain ribuan kata dan pikiran yang bisa kau susun sendiri untuk menggambarkan diriku di benakmu.

Terima kasih, Neela.
Aku harus bergabung dengan pesta di luar tenda, sebelum ketinggalkan acara utamanya. Selamat Tahun Baru, oke?

Ps. Oh ya, siapa orang yang kau sebutkan begitu kau harapkan hadir di sana?

Sahabatmu,
Nyanyian Sendu


Kembali Shinji menekan tombol ‘send’ di monitor dengan mousenya. Email itu tersimpan di ‘outbox’ selama sepersekian detik, sampai akhirnya terkirim. Dan tak sampai lama, Neela kembali membalasnya. Dengan singkat.


Dear Nyanyian Sendu,
Wow! Kalimantan? Kau harus menceritakan apa saja rutinitas unikmu di emailmu nanti.
Selamat Tahun Baru juga, dan aku harap kau pun gembira, bagaimana pun caramu merayakannya bersama orang-orang asing tersebut.

Tak apa kalau kau tak mau memberitahu namamu, aku juga sudah cukup senang dapat bersurat-suratan denganmu seperti ini.

Oke. Aku harus pergi. Kenneth sudah memelototiku karena aku terus-terusan memelototi Black Berry-ku. Selamat tahun baru. Sampai besok.

Ps. Orang itu, Shinji Tsubaki.


Salam,
Neela


Shinji terpaku di depan monitornya. Tak mampu bersuara, bahkan berpikir sekali pun.
(Bersambung)

Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...

18 comments:

rona-nauli January 7, 2012 at 3:07 PM  

hiks hiks...aku ngiri ama neela...coba ya, kalo bisa bikin shinji speechless kaya gitu hehehe...#ngimpi

sarie January 7, 2012 at 3:29 PM  

wuiiidiiih critanya smakin mengena mba', suka deeeeeh ma shinji

Rusyda Fauzana January 7, 2012 at 9:47 PM  

Yeay...! Makin seru ceritanya.
Mba Lita, kok karakter Juna-nya keseringan dingin terus sih? Haha...kan Juna orangnya gokil. Suka Juna yang cool ya?

Btw, Lea yang di foto itu, representasi tokoh aslinya siapa mba?

Thanks Mba Lita.

I wonder how could you make these long stories in ur imagination. Cool! :)

Lita January 7, 2012 at 11:04 PM  

@Rona: Madaaaaammmmm... Aku juga iri sama Neela. huaaaa #penulisgalau

@Sarie: Kok kamu baru 'suka deh' sama Shinji... *hag hag hag*. Tq, ya Sarie... Tetep baca ya, tinggal dikit lagi...

@Rusyda: Juna emang selalu dingin kalau sama Shinji, mereka soalnya sejak di 'Lea' emang gak pernah akur. Lagipula tampang Juna dari luaran emang cool, jadi lebih baik bertahan begitu, hihi.

Untuk Lea aku ambil cute-nya Jessica Alba. Dia manis banget soalnya.

Makasih ya Rusyda, seneng punya pembaca kaya kamu. AKu jadi lebih semangat nulis.

shafarani January 8, 2012 at 9:08 PM  

nah kaaann,,apa aku bilang jd kenyataan..
cerita di awal taun yg seruuu..!!
hihihi..
lanjutin mbaaa XD

happy new year anw, hehe

Lita January 8, 2012 at 11:44 PM  

@Rani: Happy New Year juga, rani... Kamu juga ya, semangat nulis!

-silpe- January 9, 2012 at 6:46 PM  

Shinjiii...aq juga mau lhooo berbalas email denganmu....
#dikeplakmbaklita

Lita January 9, 2012 at 8:50 PM  

@Silpe: Sini. Email2an aja sama aku... #keplakdirisendiri

Gloria Putri January 10, 2012 at 9:15 AM  

mba litaaaa #goyang-goyang mba lita

buruann yg ke 18 nyaaaa
hikssssss

aq makin jatuh cinta sama shinji tsubaki :P sama kayak neela yg begitu mengharapkan shinji ada :(

Lita January 10, 2012 at 11:19 AM  

@Glo: Oke dek. Aku juga gak sabar kok nulisnya. Btw, episodenya tinggal dikit lagi. Keep reading ya...

Iya. Jadi jatuh cintrong sama Shinji.

artika maya January 11, 2012 at 11:34 AM  

ah, kamu juga keren buuuuuu...

ini nulis gak henti2, panjang2 pula. energi km banyak bener. kalau aku udah sesak napas kayaknya :D

itu tokoh2nya kok cakep2 semuaaa... gw bingung hrs milih yg mana *emangnya ada yg nawarin?*

Hans Brownsound ツ January 11, 2012 at 12:40 PM  

ga baca sih aku dari awal ceritanya. jadinya agak garuk2 kepala. hehehe :))
litaaaa, satu amin buat calon ponakan! buruan dong. nunggu apa lagi, hehehe

namarappuccino January 11, 2012 at 12:47 PM  

Lita, sudah punya Novel?
Its amazing bagaimana kamu bisa membuat berseri seperti ini. Pengeeeen. :'(

Lita January 11, 2012 at 6:55 PM  

@ choirunnangim: Iya, Neela, sweet banget...

@Maya: Aku sangat suka nulis, May... Apalagi soal cinta... niat banget deh pokonya... Sumpah May, kamu keren. Iri jadinya.

@Hans: Hihihi... Thanks ya, Hans 'amin'nya... Semoga segera calon ponakanmu. Pengen banget punya 'mainan' di rumah...

@Namara: Pengennya sih punya, tapi ada aja hambatannya, Ra. Mudah2an tahun ini bisa ngewujudin... Aku suka banget sama Juna, makanya bisa nulis kaya gini... hehehe

sanman January 13, 2012 at 2:05 PM  

ceritanya smakin mengena mbak,
suka deeeeeh ma shinji...

Lita January 13, 2012 at 3:26 PM  

@Sanman & Oen-Oen: Makasih ya, udah singgah... :)

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP