A Lot Like Love (1)

>> Saturday, January 28, 2012

Old Friends

“HEI, Shin, apa kabarmu?” kata Neela seraya mencabuti rumput liar yang tumbuh sedikit di makam Shinji. “Maaf aku terlambat. Baru hari ini bisa berangkat ke Bali, karena kemarin aku harus menghadiri acara di suatu tempat.” Dia meletakkan satu buket mawar putih di atas tanahnya, bersama dengan beberapa buket bunga lain yang telah ada di sana terlebih dulu.
“Lea sudah datang,” senyum Neela, seraya meletakkan buket bunga Lili putih di atas buket mawarnya. Lea memang selalu membawa bunga Lili kapan pun dia berkunjung ke makam Shinji. “Pasti hanya bersama Dean, kan? Karena Juna sedang berada di Amerika.” Dia nyengir.
Setelah itu Neela menoleh ke belakang, ke sebuah mobil sedan hitam yang menunggu di pekarangan di seberang komplek pemakaman, kemudian kembali memandang ke batu nisan berbentuk patung malaikat di makam Shinji.
“Kenneth… menunggu di mobil. Dia… tidak bisa bertemu denganmu. Katanya… sungkan.” Neela membelalakan matanya ke atas. “Aku… tidak mengerti dirinya,” sungut Neela. “Dia mengantarku jauh-jauh ke Bali, tapi dia tidak pernah mau bertemu denganmu.”


“Dia ngapain sih, lama sekali?” Kenneth menggerutu di dalam mobil. Menjulurkan kepalanya, memandang Neela yang duduk di sebelah makam Shinji yang rapi dan tertata dengan jengkel “Menyebalkan.” Dia berdecak.

Kenneth, entah kenapa tak pernah merasa senang dengan datangnya hari kematian Shinji. Sudah tiga tahun berlalu, dan hari kematiannya tetap membawa kemuraman tersendiri baginya. Semua media akan mengulasnya selama beberapa hari. Semua penggemar fanatiknya akan muncul di televisi untuk mengucapkan kata-kata bela sungkawa atau sekadar mengadakan kegiatan amal atas namanya, dan Neela…, sehari menjelang tanggal kematian Shinji, sampai dengan beberapa hari setelahnya akan memasang tampang muram tak bersemangat. Mengurung diri di dalam kamar, sambil memetik gitar yang diberikan Shinji untuknya, dan tidur dengan gitar itu di sampingnya. Jujur, itu semua mengganggunya. Terlalu berlebihan menurut Kenneth. Dia benar-benar tak habis pikir bagaimana Neela, dan semua orang lainnya terus-terusan meratapi kepergian Shinji. Why don’t they just… move on?

Beberapa mobil sedan berwarna hitam pekat tiba-tiba muncul memasuki pekarangan. Bergerak perlahan dalam barisan seperti halnya  konvoi, dan berhenti bersamaan, tepat di belakang mobil yang dinaiki Kenneth. Penasaran, Kenneth memandang melalui kaca spion. Mengernyit, saat beberapa pria berstelan hitam keluar dari masing-masing mobil yang ditumpanginya, dan berdiri dalam posisi siaga. Menolehkan ke kanan dan ke kiri, mengawasi sekeliling. Siapa memangnya yang datang, pikir Kenneth. Presiden? Semua pria itu berwajah oriental. Berkulit putih pucat, dan bermata agak sipit, membuat Kenneth teringat Eiji. Salah seorang pengemudi mobil yang ada di belakang mobil Kenneth turun. Mengancingkan jasnya, dan berjalan memutar, menghampiri pintu mobil belakang dan membukanya perlahan. Menundukkan kepala penuh hormat ketika seorang pria luar biasa tampan dengan tubuh jangkung dan rambut hitam kecoklatan, keluar dari dalam mobil. Tidak seperti pria-pria lain yang keluar lebih dulu, kulit pria ini agak kemerahan, dan matanya tak terlalu sipit, meskipun perawakannya tetap seperti halnya orang Asia Timur. Sama seperti yang lain, dia juga mengenakan jas hitam, hanya saja alih-alih mengenakan kemeja seperti yang lain, dia memakai kaus putih di bawahnya.

Wait here,” suruhnya dalam bahasa Inggris pada supirnya. Aksennya sangat Inggris—atau Amerika, tidak seperti aksen Inggris orang Indonesia. Supirnya langsung mengangguk, sementara pria itu berjalan maju dengan buket bunga warna-warni di tangannya, dan anehnya mendekati makam Shinji. Mata Kenneth langsung melebar. Panik.


Suara derak tanah di belakang Neela membuatnya spontan menoleh. Keningnya langsung berkerut begitu matanya bertatapan dengan seorang laki-laki tampan berlesung pipi yang sekarang sedang tersenyum padanya.
Hey,” laki-laki itu menyapa.
Neela buru-buru berdiri, tersenyum ragu dan membalas sapaannya dengan kata “Halo” pelan.
May I?” Laki-laki itu mengangkat buket bunga yang dibawanya pada Neela, dan Neela cepat-cepat mengangguk. Laki-laki itu maju, berjalan ke samping makam Shinji, berjongkok, dan meletakkan buket bunga di atas buket bunga lainnya. Setelah itu dia memejamkan mata, berdoa selama sejenak, baru kemudian membuka matanya lagi. “Nokori no, Shinji,”—Istirahatlah, Shin, gumamnya. Tersenyum muram.
Are you Japanese?” Neela bertanya.
American,” jawab pria itu. Memamerkan lesung pipinya. Manis sekali. “Orang Jepang… tapi warga negara Amerika,” tambahnya.
Neela ber-oh, menganggukan kepala sedikit. “Saudara Shinji?” tanyanya lagi.
Laki-laki itu mendengus. “Tidak,” gelengnya. “We’re just friends.”
Sekali lagi Neela mengangguk. Mukanya merah karena terlalu terpana dengan senyum menawan yang lagi-lagi muncul di wajah laki-laki di depannya.
“Namaku Dai,” sebut laki-laki itu. Menjulurkan tangannya pada Neela. “Dai Tanaka,” ucapnya lagi, begitu tangan Neela berada di genggamannya. “Dan kau?”
“Neela.”
“Neela.” Dai tersenyum simpul. “Jadi kau yang bernama Neela? You’re beautiful.” Wajah Neela langsung panas karena malu. “It’s worth to die for you.
Dagu Neela terangkat mendengar kalimat terakhirnya. Itu manis sekali, namun sepertinya ada makna di balik ucapannya. Dia memberanikan diri menatap mata hitam yang sekarang menatapnya, berharap pemiliknya akan melanjutkan kata-katanya lebih jauh. Namun dia malah tertawan lagi oleh senyum lembut yang merekah di bibir Dai. Dadanya berdebar luar biasa kencang, dan kakinya entah kenapa terasa lemas. Dan dia bisa saja jatuh sekarang, kalau saja tak ada suara yang amat dikenalnya berteriak memanggil namanya.

“Kenneth…” Neela menoleh pada Kenneth yang berjalan mendekat dengan satu tangan di jinsnya. Memandang ke arahnya dan juga Dai dengan curiga.
“Ada apa?” tanya Kenneth pada Neela, meskipun matanya terpaku pada Dai.
“Um…” Neela agak gugup. “Ini—” dia tersenyum kikuk pada Dai, “—Dai. Dai Tanaka.”
“Aku teman Shinji,” jelas Dai, sewaktu Kenneth menyipitkan mata tanda tak mengerti. “dari Amerika,” lanjutnya. “Aku… mengunjungi makamnya.”
I know.” Kenneth mengangguk, lalu menengok ke arah beberapa pria yang berdiri di pekarangan di seberang mereka. “Kau… dikawal banyak orang,” ujar Kenneth, memandang Dai lekat-lekat. “Kau pasti bukan orang sembarangan.”
Neela memandang Kenneth dengan mata mendelik, sedangkan Dai terlihat santai. Hanya tersenyum pada Kenneth.
“Aku punya banyak teman yang… menjagaku,” ujar Dai ringan.
“Terlihat” (Kenneth menggaruk rambutnya yang tak gatal) “tegang, teman-temanmu itu.”
Cengiran Dai entah kenapa terlihat tidak enak sekarang, seiring dengan matanya yang menyipit, dan dagunya yang terangkat. “Lebih baik simpan rasa ingin tahumu,” katanya tenang, tapi bernada mengancam. “Bukan posisimu… untuk tahu lebih banyak, Kenneth Altis.”

Heran, karena Dai tahu namanya, tapi enggan bertanya darimana dia tahu, Kenneth hanya mengernyitkan wajah. Bertukar pandang dengan Dai selama beberapa saat sampai akhirnya menolehkan wajah pada Neela. “Kau sudah selesai?” tanyanya. “Lebih baik kita pergi sekarang. Kau masih mau bertemu Eiji, kan?”
Neela mengangguk, tersenyum manis begitu mendengar nama Eiji disebut. “Ya, tentu,” jawabnya.
Kenneth berpaling, dan berjalan pergi tanpa merepotkan diri berpamitan pada Dai, sedangkan Neela tinggal sebentar untuk berpamitan pada Shinji, dan juga Dai. “Aku pergi dulu,” katanya pada Dai yang meresponnya dengan senyum manisnya lagi. “Maafkan manajerku. Dia… memang agak menyebalkan kadang-kadang.”
Dai terkekeh. “It’s okay,” timpalnya.
“Oke.” Neela nyengir. “Bye, kalau begitu.”
“Ya, Nona Neela.” Dai membungkuk sopan pada Neela, membuat Neela membeliak takjub. “Sampai jumpa lagi.”
“Sa-sampai jumpa,” dengus Neela, mengangguk. Dia kemudian berbalik, dan buru-buru berjalan menghampiri Kenneth yang menunggunya di bawah pohon berdaun rindang, di mana Kenneth memarkirkan mobilnya.

“Kau senang sekali berbasa-basi,” kata Kenneth sebal, setelah mereka berdua telah berada di dalam mobil.
“Aku tidak basa-basi,” tukas Neela tersinggung. “Dia ramah dan—”
“Dia tampan, karena itu kau mau tebar pesona,” sela Kenneth, sambil menghidupkan mesin mobil.
Neela memandang Kenneth dengan tatapan tak percaya, Bibirnya membuka sedikit. “Jangan bilang kau cemburu,” katanya, dengan seringai di wajahnya.
Kenneth balas memandangnya dengan tatapan yang heran bercampur ngeri. “Cemburu? Cemburu bagaimana maksudmu? Aku—”
“Kau gay, dan kau cemburu karena seorang pria tampan lebih memilih untuk berwajah manis padaku daripada denganmu?” Neela terbahak.
“Jangan ngaco!” semprot Kenneth, melotot pada Neela. “Jangan menyimpulkan hal-hal konyol begitu.”
Tapi Neela tetap tergelak. Dia bersandar ke punggung kursi dengan badan berguncang-guncang saking gelinya. “Seharusnya kau bilang kalau kau naksir dia. Aku dengan senang hati akan menyampaikan padanya.”
“Diamlah,” sahut Kenneth kesal. Memutar kemudinya, meninggalkan pekarangan komplek pemakaman.

Begitu mobil yang Neela dan Kenneth naiki berhenti di halaman rumah pantai di Canggu, Eiji segera keluar ke halaman menyambut mereka. Senyumnya mengembang ramah, dan tangannya terentang membuka, menyambut Neela yang segera turun dari mobil dan berlari ke arahnya. “Eiji.” Neela segera memeluknya penuh kerinduan.
Eiji mengecup kening lembut, dan mendekapnya erat. Dia kemudian menyentuh dagu Neela, dan mengamatinya saksama. “Kau kurusan.”
“Dia agak susah makan belakangan ini,” sahut Kenneth, sambil melepas kaca mata hitamnya, menghampiri Eiji.
Eiji mendengus, melepaskan Neela yang memberengut, dan mengulurkan tangannya pada Eiji. “Apa kabarmu?” Keduanya berjabat tangan erat.
“Baik. Kau?”
Eiji menaikkan bahu sekilas. “Oke,” jawabnya. “Ayo masuk,” dia mengajak. Membalikkan badannya, dan bersama-sama Neela dan Kenneth berjalan menuju teras, dan masuk ke dalam rumah.

“Kalian sudah ke makam Shinji?” tanya Eiji, seraya menuangkan lemon tea ke dua gelas yang baru saja diambilnya dari rak piring di dapur.
“Sudah,” jawab Neela. Dia meraih satu gelas yang telah berisi lemon tea dan meneguknya banyak-banyak, dan berjalan ke arah sofa panjang dan duduk. “Kami juga bertemu Dai di sana.”
Dahi Eiji segera saja berkerut. Dia meletakkan teko kaca yang dipegangnya di atas meja dapur. Mengambil gelas kedua yang telah berisi lemon tea, dan membawanya pada Kenneth yang duduk bersandar di sofa. Menerima lemon teanya dengan ekspresi penuh terima kasih.
“Dai?” tanyanya, duduk di sofa panjang.
“Ya. Dai.” Neela meletakkan gelasnya di atas meja. “Dia teman Shinji, kan?”
Wajah Eiji seketika masam. Dia menunduk, dan alisnya mengerut kuat, tampak sedang berpikir keras. “Mau apa dia?” tanyanya setelah dia mengangkat wajahnya kembali.
“Hanya berkunjung.” Kali ini Kenneth yang menjawab. Lemon tea-nya telah habis ditenggaknya, dan dia menaruh gelasnya yang kosong di meja. “Dia dikawal banyak orang,” tambahnya lagi. “Siapa dia sebenarnya?”
Eiji menaikkan bahu tanda tak tahu. Dia mendengus tersenyum, kemudian bersandar ke punggung sofa. “Dia hanya… teman lama Shinji,” katanya kemudian, seraya memijat-mijat dahinya. “Bukan… orang penting.”
(Bersambung)

Penulis: Putu Indar Meilita

12 comments:

Poey January 28, 2012 at 5:45 PM  

cerita baru ya mbak???
aku msh blm kesampean baca cerita mb.lita sampe selesai T.T
okeh,kali ini berhasil baca dari #1.
semoga kali ini sampe selesai :)
ini msh ada hubungannya ma yg sblm ini ya?

Feby Oktarista Andriawan January 28, 2012 at 7:24 PM  

Hah? kok mati si Shinji? Wah berarti gue gak baca sebelumnya nih. Ah, kok dibikin mati sih, ini gak adil! Dai itu siapa? kayaknya mencurigakan. Perlu detektif Ujang gak untuk nyelidikinnya? haha..

Rusyda Fauzana January 28, 2012 at 9:50 PM  

waaaa... Mba Lita suka ngoleksi cowok cakep deh... haha...

Kira-kira nanti bakal ada cinta segitiga lagi nggak ya? Sebelumnya Juna, Lea dan Shinji, akankah sekarang Kenneth, Neela dan Dai Tanaka? hehehe...

Hmm...tampaknya akan sulit bagi Neela ya karena Dai adalah kakaknya Kyouta yang membunuh Shinji.

Waiting for the next story... :)
Salam untuk Juna di Amerika ya...kapan balik? :D

sarie January 28, 2012 at 9:51 PM  

eeeh Neela kenalan ama Dai ya mba'. (kalo ada kelanjutannya kayaknya asyk tuuh, kan Dainya kerreen he.he.he.he) asaaaal ... ^_^

Lita January 28, 2012 at 10:52 PM  

@Poey: Yoi, Poey. Cerita ini masih berkesinambungan sama dua cerita sebelumnya. wkwkwkwk.

@Feby: Dasar kamu tuh yah. Ngakunya sedih kemarin. Kukirain udah baca, ternyata Shinji udah meninggal kamu gak tahu. #jedotpalaketembok

@Rusyda: Juna balik seminggu lagi kok Rus #keplak!

Hahahhaha...

Baca aja terus kelanjutannya ya, Non. Seperti biasa, karena tidak pake plot, aku agak samar2 nih cerita mau dikemanain. #penuliseror

@Sarie: Dai emang keyeeeennnnn... *centil*

rezKY p-RA-tama January 29, 2012 at 10:04 PM  

jadi pengen ketemu orang jepang berkewarganegaraan amerika,,gimana ya oragnya?

-silpe- January 30, 2012 at 12:22 PM  

cerita baru, semoga gak telat baca lagiii :)

oh ya, Neela sampaikan salam q buat Shinji juga doongg... :) salam kangen,
Uhukk...

Lita January 30, 2012 at 3:35 PM  

@Silpe: Hehehehe... Semoga Silpe suka cerita yang ini ya.

Salamnya pasti disampein ke Shinji *jadi inget shinji lagi deh* Hiks!

artika maya February 1, 2012 at 10:50 AM  

lita... ayo join kuis giveaway ku, mana tau km menang. tar aku gambarin deh :)

Gloria Putri February 1, 2012 at 5:40 PM  

mba lit....kayakny aq pernah inget nama dai di nanyian sendu....bentar aq inget2 dl...itu yg kakaknya kyouta bukan?

Lita February 1, 2012 at 8:13 PM  

@Maya: Oke deh. Nanti aku mampir ya...

@Glo: Iya. Dai itu kakaknya Kyouta, Glo.

Ulfah April 16, 2012 at 8:59 AM  

Mbak Litaaa... Aku mau laporan, aku lagi libur, soalnya kakak kelasnya lagi UN :) *lah teruuuus?*
Nah, berhubung aku lagi libur, aku pengen baca cerbung Mbak Lita yang selama ini kukangenin :3 Well, that's all. Thanks for sharing ya Mbak, keep writing :) *huggles*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP