A Lot Like Love (1)

>> Saturday, January 28, 2012

Old Friends

“HEI, Shin, apa kabarmu?” kata Neela seraya mencabuti rumput liar yang tumbuh sedikit di makam Shinji. “Maaf aku terlambat. Baru hari ini bisa berangkat ke Bali, karena kemarin aku harus menghadiri acara di suatu tempat.” Dia meletakkan satu buket mawar putih di atas tanahnya, bersama dengan beberapa buket bunga lain yang telah ada di sana terlebih dulu.
“Lea sudah datang,” senyum Neela, seraya meletakkan buket bunga Lili putih di atas buket mawarnya. Lea memang selalu membawa bunga Lili kapan pun dia berkunjung ke makam Shinji. “Pasti hanya bersama Dean, kan? Karena Juna sedang berada di Amerika.” Dia nyengir.
Setelah itu Neela menoleh ke belakang, ke sebuah mobil sedan hitam yang menunggu di pekarangan di seberang komplek pemakaman, kemudian kembali memandang ke batu nisan berbentuk patung malaikat di makam Shinji.
“Kenneth… menunggu di mobil. Dia… tidak bisa bertemu denganmu. Katanya… sungkan.” Neela membelalakan matanya ke atas. “Aku… tidak mengerti dirinya,” sungut Neela. “Dia mengantarku jauh-jauh ke Bali, tapi dia tidak pernah mau bertemu denganmu.”


“Dia ngapain sih, lama sekali?” Kenneth menggerutu di dalam mobil. Menjulurkan kepalanya, memandang Neela yang duduk di sebelah makam Shinji yang rapi dan tertata dengan jengkel “Menyebalkan.” Dia berdecak.

Kenneth, entah kenapa tak pernah merasa senang dengan datangnya hari kematian Shinji. Sudah tiga tahun berlalu, dan hari kematiannya tetap membawa kemuraman tersendiri baginya. Semua media akan mengulasnya selama beberapa hari. Semua penggemar fanatiknya akan muncul di televisi untuk mengucapkan kata-kata bela sungkawa atau sekadar mengadakan kegiatan amal atas namanya, dan Neela…, sehari menjelang tanggal kematian Shinji, sampai dengan beberapa hari setelahnya akan memasang tampang muram tak bersemangat. Mengurung diri di dalam kamar, sambil memetik gitar yang diberikan Shinji untuknya, dan tidur dengan gitar itu di sampingnya. Jujur, itu semua mengganggunya. Terlalu berlebihan menurut Kenneth. Dia benar-benar tak habis pikir bagaimana Neela, dan semua orang lainnya terus-terusan meratapi kepergian Shinji. Why don’t they just… move on?

Beberapa mobil sedan berwarna hitam pekat tiba-tiba muncul memasuki pekarangan. Bergerak perlahan dalam barisan seperti halnya  konvoi, dan berhenti bersamaan, tepat di belakang mobil yang dinaiki Kenneth. Penasaran, Kenneth memandang melalui kaca spion. Mengernyit, saat beberapa pria berstelan hitam keluar dari masing-masing mobil yang ditumpanginya, dan berdiri dalam posisi siaga. Menolehkan ke kanan dan ke kiri, mengawasi sekeliling. Siapa memangnya yang datang, pikir Kenneth. Presiden? Semua pria itu berwajah oriental. Berkulit putih pucat, dan bermata agak sipit, membuat Kenneth teringat Eiji. Salah seorang pengemudi mobil yang ada di belakang mobil Kenneth turun. Mengancingkan jasnya, dan berjalan memutar, menghampiri pintu mobil belakang dan membukanya perlahan. Menundukkan kepala penuh hormat ketika seorang pria luar biasa tampan dengan tubuh jangkung dan rambut hitam kecoklatan, keluar dari dalam mobil. Tidak seperti pria-pria lain yang keluar lebih dulu, kulit pria ini agak kemerahan, dan matanya tak terlalu sipit, meskipun perawakannya tetap seperti halnya orang Asia Timur. Sama seperti yang lain, dia juga mengenakan jas hitam, hanya saja alih-alih mengenakan kemeja seperti yang lain, dia memakai kaus putih di bawahnya.

Wait here,” suruhnya dalam bahasa Inggris pada supirnya. Aksennya sangat Inggris—atau Amerika, tidak seperti aksen Inggris orang Indonesia. Supirnya langsung mengangguk, sementara pria itu berjalan maju dengan buket bunga warna-warni di tangannya, dan anehnya mendekati makam Shinji. Mata Kenneth langsung melebar. Panik.


Suara derak tanah di belakang Neela membuatnya spontan menoleh. Keningnya langsung berkerut begitu matanya bertatapan dengan seorang laki-laki tampan berlesung pipi yang sekarang sedang tersenyum padanya.
Hey,” laki-laki itu menyapa.
Neela buru-buru berdiri, tersenyum ragu dan membalas sapaannya dengan kata “Halo” pelan.
May I?” Laki-laki itu mengangkat buket bunga yang dibawanya pada Neela, dan Neela cepat-cepat mengangguk. Laki-laki itu maju, berjalan ke samping makam Shinji, berjongkok, dan meletakkan buket bunga di atas buket bunga lainnya. Setelah itu dia memejamkan mata, berdoa selama sejenak, baru kemudian membuka matanya lagi. “Nokori no, Shinji,”—Istirahatlah, Shin, gumamnya. Tersenyum muram.
Are you Japanese?” Neela bertanya.
American,” jawab pria itu. Memamerkan lesung pipinya. Manis sekali. “Orang Jepang… tapi warga negara Amerika,” tambahnya.
Neela ber-oh, menganggukan kepala sedikit. “Saudara Shinji?” tanyanya lagi.
Laki-laki itu mendengus. “Tidak,” gelengnya. “We’re just friends.”
Sekali lagi Neela mengangguk. Mukanya merah karena terlalu terpana dengan senyum menawan yang lagi-lagi muncul di wajah laki-laki di depannya.
“Namaku Dai,” sebut laki-laki itu. Menjulurkan tangannya pada Neela. “Dai Tanaka,” ucapnya lagi, begitu tangan Neela berada di genggamannya. “Dan kau?”
“Neela.”
“Neela.” Dai tersenyum simpul. “Jadi kau yang bernama Neela? You’re beautiful.” Wajah Neela langsung panas karena malu. “It’s worth to die for you.
Dagu Neela terangkat mendengar kalimat terakhirnya. Itu manis sekali, namun sepertinya ada makna di balik ucapannya. Dia memberanikan diri menatap mata hitam yang sekarang menatapnya, berharap pemiliknya akan melanjutkan kata-katanya lebih jauh. Namun dia malah tertawan lagi oleh senyum lembut yang merekah di bibir Dai. Dadanya berdebar luar biasa kencang, dan kakinya entah kenapa terasa lemas. Dan dia bisa saja jatuh sekarang, kalau saja tak ada suara yang amat dikenalnya berteriak memanggil namanya.

“Kenneth…” Neela menoleh pada Kenneth yang berjalan mendekat dengan satu tangan di jinsnya. Memandang ke arahnya dan juga Dai dengan curiga.
“Ada apa?” tanya Kenneth pada Neela, meskipun matanya terpaku pada Dai.
“Um…” Neela agak gugup. “Ini—” dia tersenyum kikuk pada Dai, “—Dai. Dai Tanaka.”
“Aku teman Shinji,” jelas Dai, sewaktu Kenneth menyipitkan mata tanda tak mengerti. “dari Amerika,” lanjutnya. “Aku… mengunjungi makamnya.”
I know.” Kenneth mengangguk, lalu menengok ke arah beberapa pria yang berdiri di pekarangan di seberang mereka. “Kau… dikawal banyak orang,” ujar Kenneth, memandang Dai lekat-lekat. “Kau pasti bukan orang sembarangan.”
Neela memandang Kenneth dengan mata mendelik, sedangkan Dai terlihat santai. Hanya tersenyum pada Kenneth.
“Aku punya banyak teman yang… menjagaku,” ujar Dai ringan.
“Terlihat” (Kenneth menggaruk rambutnya yang tak gatal) “tegang, teman-temanmu itu.”
Cengiran Dai entah kenapa terlihat tidak enak sekarang, seiring dengan matanya yang menyipit, dan dagunya yang terangkat. “Lebih baik simpan rasa ingin tahumu,” katanya tenang, tapi bernada mengancam. “Bukan posisimu… untuk tahu lebih banyak, Kenneth Altis.”

Heran, karena Dai tahu namanya, tapi enggan bertanya darimana dia tahu, Kenneth hanya mengernyitkan wajah. Bertukar pandang dengan Dai selama beberapa saat sampai akhirnya menolehkan wajah pada Neela. “Kau sudah selesai?” tanyanya. “Lebih baik kita pergi sekarang. Kau masih mau bertemu Eiji, kan?”
Neela mengangguk, tersenyum manis begitu mendengar nama Eiji disebut. “Ya, tentu,” jawabnya.
Kenneth berpaling, dan berjalan pergi tanpa merepotkan diri berpamitan pada Dai, sedangkan Neela tinggal sebentar untuk berpamitan pada Shinji, dan juga Dai. “Aku pergi dulu,” katanya pada Dai yang meresponnya dengan senyum manisnya lagi. “Maafkan manajerku. Dia… memang agak menyebalkan kadang-kadang.”
Dai terkekeh. “It’s okay,” timpalnya.
“Oke.” Neela nyengir. “Bye, kalau begitu.”
“Ya, Nona Neela.” Dai membungkuk sopan pada Neela, membuat Neela membeliak takjub. “Sampai jumpa lagi.”
“Sa-sampai jumpa,” dengus Neela, mengangguk. Dia kemudian berbalik, dan buru-buru berjalan menghampiri Kenneth yang menunggunya di bawah pohon berdaun rindang, di mana Kenneth memarkirkan mobilnya.

“Kau senang sekali berbasa-basi,” kata Kenneth sebal, setelah mereka berdua telah berada di dalam mobil.
“Aku tidak basa-basi,” tukas Neela tersinggung. “Dia ramah dan—”
“Dia tampan, karena itu kau mau tebar pesona,” sela Kenneth, sambil menghidupkan mesin mobil.
Neela memandang Kenneth dengan tatapan tak percaya, Bibirnya membuka sedikit. “Jangan bilang kau cemburu,” katanya, dengan seringai di wajahnya.
Kenneth balas memandangnya dengan tatapan yang heran bercampur ngeri. “Cemburu? Cemburu bagaimana maksudmu? Aku—”
“Kau gay, dan kau cemburu karena seorang pria tampan lebih memilih untuk berwajah manis padaku daripada denganmu?” Neela terbahak.
“Jangan ngaco!” semprot Kenneth, melotot pada Neela. “Jangan menyimpulkan hal-hal konyol begitu.”
Tapi Neela tetap tergelak. Dia bersandar ke punggung kursi dengan badan berguncang-guncang saking gelinya. “Seharusnya kau bilang kalau kau naksir dia. Aku dengan senang hati akan menyampaikan padanya.”
“Diamlah,” sahut Kenneth kesal. Memutar kemudinya, meninggalkan pekarangan komplek pemakaman.

Begitu mobil yang Neela dan Kenneth naiki berhenti di halaman rumah pantai di Canggu, Eiji segera keluar ke halaman menyambut mereka. Senyumnya mengembang ramah, dan tangannya terentang membuka, menyambut Neela yang segera turun dari mobil dan berlari ke arahnya. “Eiji.” Neela segera memeluknya penuh kerinduan.
Eiji mengecup kening lembut, dan mendekapnya erat. Dia kemudian menyentuh dagu Neela, dan mengamatinya saksama. “Kau kurusan.”
“Dia agak susah makan belakangan ini,” sahut Kenneth, sambil melepas kaca mata hitamnya, menghampiri Eiji.
Eiji mendengus, melepaskan Neela yang memberengut, dan mengulurkan tangannya pada Eiji. “Apa kabarmu?” Keduanya berjabat tangan erat.
“Baik. Kau?”
Eiji menaikkan bahu sekilas. “Oke,” jawabnya. “Ayo masuk,” dia mengajak. Membalikkan badannya, dan bersama-sama Neela dan Kenneth berjalan menuju teras, dan masuk ke dalam rumah.

“Kalian sudah ke makam Shinji?” tanya Eiji, seraya menuangkan lemon tea ke dua gelas yang baru saja diambilnya dari rak piring di dapur.
“Sudah,” jawab Neela. Dia meraih satu gelas yang telah berisi lemon tea dan meneguknya banyak-banyak, dan berjalan ke arah sofa panjang dan duduk. “Kami juga bertemu Dai di sana.”
Dahi Eiji segera saja berkerut. Dia meletakkan teko kaca yang dipegangnya di atas meja dapur. Mengambil gelas kedua yang telah berisi lemon tea, dan membawanya pada Kenneth yang duduk bersandar di sofa. Menerima lemon teanya dengan ekspresi penuh terima kasih.
“Dai?” tanyanya, duduk di sofa panjang.
“Ya. Dai.” Neela meletakkan gelasnya di atas meja. “Dia teman Shinji, kan?”
Wajah Eiji seketika masam. Dia menunduk, dan alisnya mengerut kuat, tampak sedang berpikir keras. “Mau apa dia?” tanyanya setelah dia mengangkat wajahnya kembali.
“Hanya berkunjung.” Kali ini Kenneth yang menjawab. Lemon tea-nya telah habis ditenggaknya, dan dia menaruh gelasnya yang kosong di meja. “Dia dikawal banyak orang,” tambahnya lagi. “Siapa dia sebenarnya?”
Eiji menaikkan bahu tanda tak tahu. Dia mendengus tersenyum, kemudian bersandar ke punggung sofa. “Dia hanya… teman lama Shinji,” katanya kemudian, seraya memijat-mijat dahinya. “Bukan… orang penting.”
(Bersambung)

Penulis: Putu Indar Meilita

Read more...

Nyanyian Sendu (21)

>> Wednesday, January 25, 2012


The Very End

DEAR Nyanyian Sendu,
Bagaimana kabarmu hari ini? Aku harap kau baik-baik saja di mana pun kau berada sekarang. Kalau aku, aku sedang dalam masa rehat—mulai hari ini, karena kemarin, selepas pertunjukkan, aku ambruk di belakang panggung. Dokter yang memeriksaku mengatakan aku kelelahan, dan sangat butuh istirahat cukup. Jadi Kenneth, memberikanku libur satu minggu untuk beristirahat total di rumah. Rasanya nyaman sekali. Sudah lama sekali aku tidak bisa tidur senyenyak itu.

Oh ya, aku sudah mengirimkan musik yang baru saja kubuat untuk puisi terakhir yang kau kirimkan padaku kemarin via email. Aku harap kau sudah menerimanya. Tolong dengarkan, dan berikan komentarmu padaku segera, agar aku bisa cepat memperbaikinya bila ada nada-nada yang tak kau suka.

Dan, aku juga mau memberitahumu… Dua hari lagi, Shinji ulang tahun. Dan aku, benar-benar ingin memberikan sesuatu padanya. Ulang tahunnya tahun lalu terlewat karena aku terlalu sibuk dengan ini-itu, dan sekarang… sepertinya sangat tepat bagiku memberikan hadiah, sekaligus untuk mengungkapkan rasa terima kasihku padanya.
Sudah lama sekali kami tidak bertemu. Beberapa kali aku meminta Kenneth untuk mengijinkanku mengunjungi rumah Shinji di Bali, namun, Kenneth selalu menolak, dan mengatakan kalau jadwal kerjaku sudah diatur sedemikian rupa sesuai kontrak, dan dia tak bisa lagi merubahnya. Kalau aku memaksa, dia pasti akan marah-marah.
Aku benar-benar rindu pada Shinji, dan juga Eiji. Aku ingin tahu keadaan mereka. Aku mencoba menghubungi Eiji, tapi sepertinya, ponselnya tak lagi aktif. Dan aku sama sekali tidak tahu, apakah ada telpon di rumah di Bali. Rasa rindu ini semakin berat, sama seperti rasa yang kupendam untuknya. Seiring waktu, bukannya memudar, wajah Shinji malah kian jelas di mataku.

Kau, kapan kau berada di tengah peradaban? Jangan lupa hubungi aku. Aku sangat ingin bertemu denganmu.

Sahabatmu,
Neela.

Neela menekan tombol ‘send’ dengan mouse notebook-nya. Menunggu beberapa detik sampai surel itu terkirim kepada Nyanyian Sendu. Dan tak sampai 10 menit, balasan dari Nyanyian Sendu diterimanya.

Neela,
Aku baik-baik saja sekarang. Aku sedang berada di negara lain, menjelajah daerah pedalaman lain yang luar biasa pemandangannya. Karena itu, aku masih tak bisa menemuimu dalam waktu dekat ini. Maaf. Tolong, jangan kecewa.
Musikmu sudah kuterima, dan itu sangat indah seperti biasa, jadi tak ada lagi yang mesti kau perbaiki, karena itu sudah sempurna.

Dan Neela, aku hanya merasa penasaran, sampai kapan kau akan mengharapkan Shinji? Saranku, sebagai sahabat dan juga seorang laki-laki, sebaiknya kau lupakan dia. Sudah setahun lebih berlalu, dan dia tak pernah berusaha datang untuk menemuimu atau pun menanyakan keadaanmu. Tidak bermaksud kasar, tapi menurutku, dia sama sekali tak memiliki perasaan tertentu padamu. Jadi, tolong, hentikan perasaan itu, sebelum terlanjur menguasaimu dan menyakitimu. Kau berhak bahagia bersama seseorang yang membalas perasaanmu dengan tulus, dan aku yakin banyak laki-laki di luar sana, yang bersedia melakukan itu untukmu. Ini saranku; saran dari seorang sahabat yang peduli dengan hatimu. Mohon, jangan marah, bila saranku ini membuatmu tersinggung atau gundah.

Salam,
Nyanyian Sendu

Neela kecewa karena Nyanyian Sendu masih tak bisa bertemu dengannya, namun dia lebih kecewa lagi atas nasihatnya untuk menepiskan perasaannya terhadap Shinji. Bagaimana bisa dia memintanya untuk melakukan itu, setelah mengetahui rasa cintanya yang begitu besar pada Shinji? Lagi pula andaikan Neela berniat untuk menepisnya, dia tak yakin mampu melupakan Shinji begitu saja. Laki-laki itu terlalu berarti untuknya, tanpa dia sendiri menyadarinya.
  
“Tidak,” tolak Kenneth tegas, ketika Neela meminta ijin untuk pergi ke Bali mengunjungi rumah Shinji. “Kau harus istirahat.”
“Aku bisa istirahat di sana,” timpal Neela. “Eiji pasti menjagaku.”
“Kalau aku bilang ‘tidak’ ya, tidak.” Kenneth menatap tajam Neela dari balik koran pagi yang sedang dibacanya. “Lagipula” (dia membuka lebar lain koran tersebut) “kau tidak akan bisa bertemu mereka di sana,”—mata Neela langsung membulat—“karena mereka saat ini sedang berada di Jepang.”
“Untuk?” tanya Neela penuh minat.
Kenneth kembali membuka korannya, berbicara tanpa memandang Neela sama sekali, “Menjenguk ibu Shinji yang sakit.”
Setelah itu dia tak berkata-kata lagi. Meletakkan koran di atas meja, mencondongkan badannya ke depan untuk membacanya.
“Aku… ingin melihat rumah itu,” kata Neela sejenak kemudian. “Aku kangen—”
Mendadak Kenneth menyambar korannya gusar, meremasnya, dan melemparnya ke sisi. Neela terperanjat, kaget akan reaksinya yang entah dari mana datangnya. Kemudian, dalam suara yang geram dia berkata pada Neela, “Apa kau tidak dengar kataku barusan?!” Napasnya tak beraturan karena marah. “Kalau aku bilang ‘tidak’, ya ‘TIDAK’!”
Kenneth kemudian bangkit dari sofa, dan berjalan tergesa ke teras belakang. Melewati Neela yang syok tanpa menoleh atau mengerlingnya sedikit pun.

“Kenneth benar melarangmu ke Bali, Neela,” kata Malini, ketika Neela berkeluh-kesah padanya perihal kemarahan Kenneth kemarin malam. Malini datang untuk menjenguknya; membawa Tara, putrinya bersamanya. “kau harus istirahat. Tak perlu bepergian jauh dulu.”
“Naik pesawat hanya satu setengah jam,” gumam Neela, sambil menepuk-nepuk punggung Tara yang sedang di gendongnya. “Lagipula apa salahnya? Andaikan Shinji dan Eiji tak ada, apa tak boleh aku melihat rumah itu saja? Atau… aku bisa tidur nyaman di hotel selama beberapa hari. Aku yakin, aku tak akan apa-apa. Kenneth terlalu tegang.”
“Dia tegang, karena dia manajermu. Aku pun akan melakukan hal yang sama dengan orang yang kumanajeri. Bukan untuk keuntungan kami semata, Neela, tapi juga untuk menjagamu dan juga artis yang mempercayai kami sebagai manajer dari hal-hal buruk yang dapat mencelakai dan merugikan diri kalian sendiri.”
“Aku curiga.” Neela menatap kosong vas bunga kosong di atas meja tamu, sepertinya sama sekali tak menyimak kalimat Malini barusan. “kalau Kenneth menyembunyikan sesuatu dariku.”
“Eh? Menyembunyikan apa maksudmu?”
“Dia selalu menolak mentah-mentah kapan pun aku ingin menelpon atau menghubungi Eiji. Tidak menerima kontrak yang melibatkan Bali sebagai daerah pementasannya,”—(Malini mendadak terbatuk)—“seakan saja, dia memang tak ingin aku pergi ke sana.”
“Jangan berpikir yang macam-macam,” timpal Malini, meraih Tara dari Neela buru-buru. “Untuk apa Kenneth melakukan itu? Jangan menyimpulkan sesuatu dulu. Lagi pula Neela, Shinji dan Eiji memang sedang berada di Jepang sekarang. Percuma kau ke Bali kalau tidak ada siapa pun untuk kau temui. Masalah hadiah ulang tahunnya, kau bisa tunggu sampai mereka datang.”
“Kapan?” tanya Neela muram.
“Entahlah,” jawab Malini, menaikkan pundaknya. Tak pasti.

Neela tertidur tanpa sengaja sore harinya ketika ia sedang asyik menonton sebuah acara reality show di tv di dalam kamarnya. Saat ia terbangun, hari sudah gelap, dan jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Apa Kenneth sudah pulang, dia bertanya-tanya, mengingat Kenneth pergi dari pagi untuk mengurus sesuatu.
Neela turun dari tempat tidur. Terseok-seok menuju pintu kamar, karena pandangannya masih sedikit buram, membuka pintu perlahan, dan keluar menuju ruang tengah. Dia haus, dan hendak ke dapur untuk minum sedikit, dan mungkin mengisi perutnya dengan camilan yang ada di kulkas.

Suara-suara samar terdengar dari ruang tamu. Suara orang berbicara. Neela menjulurkan kepalanya ke samping untuk melihat sedikit ke arah ruang tamu sebelum dia menuju dapur yang bersebelahan dengan ruang tengah, dan melihat Kenneth sedang duduk di salah satu kursi ukir yang membelakanginya. Tampaknya sedang menelpon seseorang. Bicara sesuatu yang awalnya tak terlalu dihiraukan oleh Neela, sampai akhirnya dia menyebut nama ‘Shinji’ dalam pembicaraannya.
“Bagaimana keadaannya?” Kenneth bertanya pada seseorang yang diajaknya bicara di telpon tersebut.
Neela buru-buru berjingkat ke arah dinding yang membatasi ruang tengah dan ruang tamu, bersembunyi di baliknya.
“Tidak. Aku hanya ingin tahu keadaannya. Hanya saja… kemarin Neela ngotot untuk pergi ke Bali—tidak, tentu tidak. Aku mencegahnya, dan mengatakan padanya, kalau kau dan Shinji sedang berada di Jepang.”

Itu Eiji? Neela membeliak. Kenneth sedang bicara dengan Eiji? Berarti dia sedang berada di Bali sekarang? Kenapa Kenneth membohonginya? Kalau begitu…, Malini juga?

“Aku hanya bimbang, Eiji,” lanjut Kenneth lagi. “sampai kapan kita harus merahasiakan ini dari Neela? Lambat laun, dia pasti akan tahu kebenarannya—ya, ya, aku mengerti…, tapi…, perasaannya pada Shinji. Aku tidak ingin dia terus-terusan mengharapkan Shinji, sementara kita semua tahu, bagaimana Shinji sekarang.”

Neela berjengit. Bagaimana Kenneth tahu perasaannya pada Shinji? Dia sama sekali tak pernah mengatakan apa pun mengenai perasaan terpendamnya terhadap Shinji pada Kenneth sebelumnya. Dan apa yang sebenarnya terjadi?
Neela tak lagi dapat menyimak pembicaraan Kenneth dengan Eiji selanjutnya. Pikirannya segera saja penuh dengan dugaan-dugaan buruk yang berkaitan dengan Shinji. Ingatan saat Malini berkata, kalau dia cemas dengan kondisi tubuh Shinji tahun kemarin, serta hal-hal lain yang berhubungan dengan Shinji kini kembali. Campur-aduk di kepalanya.
Resah menderanya, dan keinginannya untuk bertemu Shinji semakin mendesak-desak dada. Dia juga ingin tahu kenapa Kenneth, Malini serta Eiji mesti berdusta padanya mengenai keberadaan Shinji. Demi Tuhan, dia harus cari tahu. Secepatnya. Dan dia tak bisa menunggu lagi.

Bali tetap panas seperti biasa. Udara menyengat segera menyergap, begitu Neela melewati ambang pintu kedatangan domestik. Keringat mulai mengalir dari ubun-ubun kepalanya, menetes ke lehernya. Sambil membetulkan tali tas di bahunya, Neela menjulurkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari.

“Pak Wayan?” dia bertanya pada seorang laki-laki berbadan gempal yang memegang kertas bertulisan ‘Nila’ di dada—itu jelas ejaan yang salah. Laki-laki itu memandang Neela takjub, dan balas bertanya, “Mbak Neela?” dengan aksen khas Balinya.
Neela mengangguk, dan mereka berdua bertukar senyum.
“Barang Mbak yang lain di mana?”
“Tidak ada,” geleng Neela. “Cuma tas ini” (dia memegang tali tasnya) “yang saya bawa.”
Wayan mengangguk. “Kalau begitu, mari,” ajaknya sopan.
Neela tersenyum, kemudian mengikutinya berjalan menyusuri koridor terbuka yang membawa mereka keluar dari bangunan airport. Langsung menyeberang, dan sampai di areal parkir luas di mana Wayan memarkir mobilnya.

“Maaf, kalau terlalu mendadak,” kata Neela, sambil memasang sabuk pengamannya, ketika dia dan Wayan telah berada di dalam mobil. “Dan” (dia memandang Wayan dengan tatapan penuh terima kasih) “terima kasih telah bersedia menjemput saya dalam waktu sesingkat ini.”
Wayan nyengir. “Tidak apa, Mbak. Kebetulan Ibu Nana kenal baik dengan saya, jadi sewaktu Beliau bilang ada temannya yang butuh jasa saya, saya langsung oke. Rejeki, pantang ditolak,” ujarnya. Dia telah menghidupkan mesin, mengatur perseneling, dan setelah menunggu beberapa waktu, menginjak pedal gas.

“Saya mesti antar kemana?” Wayan bertanya lagi, saat mobil sudah melewati loket pembayaran tiket. “Hotel Mbak di mana?”
“Saya tidak booking hotel. Saya cuma minta diantar ke suatu tempat di daerah Canggu. Saya tidak tahu pasti alamatnya, tapi saya ingat jalannya,” kata Neela.
“Kalau begitu, tolong Mbak tunjukkan arahnya pada saya.” Wayan tersenyum sopan, yang hanya dibalas Neela dengan anggukan lemah.

Rumah pinggir pantai itu kosong. Tak ada siapa pun di dalamnya, selain perabot yang seluruhnya tertutup kain linen putih. Tak ada siapa pun yang keluar, berapa kali pun dan sekeras apa pun Neela mengetuk pintunya. Matanya panas, karena menahan air mata yang hendak jatuh sedari di pesawat. Tanpa sepengetahuan Kenneth, dia nekat pergi dari rumah pagi-pagi buta, memesan tiket pesawat paling pertama di airport, yang berangkat ke Bali sekitar jam 7 pagi. Saat ini Kenneth pasti sudah tahu mengenai kepergiannya, dan pasti sudah sibuk mencarinya.

Tidak ada orang di dalam, Mbak.
Neela spontan menoleh ke belakang, dan bertemu pandang dengan seorang perempuan gemuk yang mengenakan kebaya lengkap, sepertinya baru saja pulang dari Pura. Satu tangannya memegang keben[1] tertutup di atas kepalanya.
“Pemiliknya sudah pindah setahun lalu,” sambung perempuan itu lagi. “Kemana?” tanya Neela, berjalan mendekat. “Apa Mbak tahu?”
Perempuan itu menggeleng. “Mbak tanya saja sama Mover-nya.”
Mata Neela membeliak. “Apa nama jasa mover-nya?”
“Kayanya, kalau tidak salah, Fin Logistic.”

Awalnya Fin Logistic sama sekali tidak mau memberitahukan alamat pasti yang terdaftar atas nama Eiji pada Neela. Mereka berkeras itu rahasia. Tapi untungnya, Manajer Operasionalnya ngefans pada Neela, sehingga dengan senang hati dia menyuruh customer servicenya untuk mencarikan alamat Eiji dan memberikannya padanya. Tentu saja dengan syarat Neela harus membubuhkan tanda tangan di salah satu lembar agendanya, plus berfoto bersama dengannya.

Bersama Wayan, Neela menuju Karang Asem; ke daerah Pantai Tulamben yang terkenal itu, di mana Eiji dan Shinji bertempat tinggal saat ini. Selama perjalanan, tak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya, karena dia terlalu tegang memikirkan bagaimana reaksi Eiji dan Shinji begitu melihatnya muncul di hadapan mereka nanti. Dia juga tak sabar melihat Shinji, berharap kalau dia dalam keadaan sehat tak kurang suatu apa pun.

Hampir tiga jam mereka berkendara, dan selama itu pula Neela cuma bengong memandang keluar jendela mobil tanpa menyadari apa pun di sekelilingnya. Jadi, ketika Wayan menghentikan mobil dan memberitahunya kalau mereka sudah sampai di tempat tujuan, Neela terkejut. Dia sama sekali lupa waktu, karena benaknya melayang-layang, terkenang masa-masa dia bersama Shinji dan Eiji di rumah pinggir pantai itu.

Neela turun buru-buru, dan ditemani Wayan dia berjalan menyusuri rumah-rumah bermodel villa yang berbaris di suatu komplek yang terdapat di pinggir pantai. Mereka terus berjalan, sambil melongok nomor-nomor yang tertera di tembok pagar di depannya, sampai akhirnya sampai di ujung jalan.

“Sepertinya yang ini, Mbak.” Wayan menunjuk ke sebuah gerbang kayu dengan ukiran candi bentar di atasnya. Angka 15 timbul tertempel di tengah dindingnya. “Ini nomor 15.”

Tanpa banyak pikir, Neela mendorong pagar gerbang tersebut, dan menyelinap masuk ke baliknya.
Sebuah pekarangan kecil nan asri menyambutnya, diiringi suara gemerecik air dari air terjun buatan di kolam teratai yang ada di bawah jembatan kayu yang sekarang dilaluinya. Rasa sejuk dan menenangkan meliputinya saat ini, meringankan sebagian beban yang menggantunginya sejak tadi.

Wayan mengikuti di belakangnya, dan duduk di salah satu bangku batu yang ada di sudut. “Saya tunggu di sini, Mbak,” katanya.
Neela mengangguk, dan segera berpaling, berjalan masuk ke teras, yang tersembunyi oleh alang-alang hijau tinggi yang berbaris di petak-petak depannya.

Dia menggedor pintu kayunya beberapa kali, dan tak membuahkan hasil. Putus asa kembali menghantuinya, berpikir kalau mungki Shinji dan Eiji sudah tak ada lagi di sini. Dia mundur ke belakang, berdiri bengong memandangi pintu, seolah berharap pintu itu bicara, dan tak lama kemudian berjalan ke arah samping, menemukan sebuah lorong yang beratap sulur tanaman rambat, yang segera dilaluinya tanpa ragu.
Lorong itu agak panjang, dan membawanya ke hamparan pasir luas dengan pantai yang berdebur tak jauh di depan. Di sebelahnya, sekarang terdapat sebuah pergolla beratap kayu yang dilapisi atap transparan, yang menaungi meja dan kursi beranda di bawahnya, serta beberapa sofa empuk banyak bantal dan alas warna-warni yang diletakkan di salah satu sudut. Neela berjalan gontai, menghadapkan kepalanya ke arah bangunan di bagian dalamnya, yang terdiri dari kaca dan dinding kayu mengkilap.
Beberapa orang, berupa bayangan-bayangan samar terlihat bergerak di dalamnya, disertai suara-suara riang orang berbicara dan tertawa.

Mendadak pintu kaca digeser membuka oleh seseorang dari dalam, dan Neela buru-buru kembali ke lorong yang barusan dilaluinya. Dia tidak seharusnya melakukan itu, namun entah kenapa, dia ingin bersembunyi sebelum menunjukkan diri pada orang-orang tersebut.
Terdengar suara perempuan berbicara penuh semangat, juga teriakan nyaring anak kecil. Si anak kecil berlari ke arah meja, dan Neela tertegun. Itu Dean, Neela membatin. Kenapa Dean di sini? Kalau dia di sini berarti…
Lea muncul kemudian, mengejar Dean sambil tertawa dan menggendongnya. Juna berjalan di belakangnya sambil membawa baki berisi makanan. Eiji muncul kemudian, datang bersama seorang perempuan paruh baya, yang dirangkulnya erat dan dengan hati-hati membantunya duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja kayu panjang tersebut. Dan akhirnya, seorang pria berseragam putih yang tak dikenal Neela menyusul, mendorong sebuah kursi roda dengan perlahan. Seseorang duduk di atasnya, mengenakan sweater tebal, dan selimut kotak-kotak yang menyelimuti bagian bawah badannya. Orang itu lunglai, dan wajahnya tanpa ekspresi. Matanya memandang kosong, dan sama sekali tak bereaksi ketika Lea menyapanya dengan ramah. Tak menjawab, kala dia mengatakan, “Shin, kita makan dulu sekarang. Juna masak enak untuk ulang tahunmu. Kau pasti suka.”

Air mata Neela menetes tanpa dia menyadarinya. Dan kakinya, bergerak maju tanpa ia suruh. Suara sepatunya berderak menghantam lantai paving merah di bawah. Semua orang, spontan menoleh ke arahnya, dan menampakkan tampang terkejut yang amat sangat. Tiga orang yang mengenalnya tentunya tak menduga akan kemunculannya yang tiba-tiba, sedangkan dua yang lain—perempuan paruh baya dan perawat pria yang berdiri di belakang kursi roda Shinji, cuma bisa bengong tak mengerti.

“Neela…” Lea bergumam. Wajahnya pucat. “Kau… di sini?”
Neela tak menjawab. Dia maju terus menghampiri Shinji.
“Shin…” panggilnya. Berjongkok di sebelah kursi rodanya.
Shinji bergeming. Dia tak bersuara, atau pun menyadari keberadaan Neela di sisinya.
“Shin…” Neela menyentuh tangannya yang ada di lengan kursi, dan kaget, sewatu tangan itu terjatuh ke bawah tanpa daya.

Neela menekap mulutnya buru-buru untuk mencegahnya memekik. Tangisnya pecah, matanya memuntahkan air bening yang merembes ke pipinya yang memerah. Setelah itu dia berbalik, dan berlari ke arah lorong, melewatinya sambil meraung, tidak mengindahkan panggilan di belakangnya dan segera menyeberangi jembatan yang membawanya keluar dari gerbang, diikuti Wayan yang tergopoh-gopoh menyusulnya.

Saat mereka berdua sudah berada di mobil lagi, Eiji dan Lea sudah setengah jalan menyusul. Neela berteriak pada Wayan untuk segera pergi, dan Wayan menuruti, cepat-cepat menggerakkan mobilnya meninggalkan tempat itu. Tak memedulikan, gedoran keras yang menghantam bagian samping dan belakang mobilnya. Membiarkan Lea dan Eiji berdiri tersengal-sengal di belakang, dan semakin jauh di belakang, seiring mobil yang melaju semakin cepat.

Neela menangis sesenggukan di dalam mobil. Melipat kedua lututnya ke atas jok kursi, dan membenamkan wajahnya ke dadanya. Tangisnya begitu kencang, dan Wayan, yang mengemudi di sebelahnya hanya bisa menoleh sekilas ke arahnya, tanpa berani bertanya apa pun padanya.
Setelah lewat tiga puluh menit dan mereka entah sudah berada di mana, baru Neela berkata untuk mengantarkannya kembali ke bandara. “Saya mau pulang ke Jakarta,” tambahnya lagi, dan tak berkata apa-apa lagi setelahnya.

“Kenapa kau tidak bilang?!” Eiji sangat murka pada Kenneth. Dia langsung menelponnya begitu kembali ke rumah. “Dia muncul mendadak di sini tanpa kami duga sama sekali. Dan kau sama sekali tidak bilang apa pun padaku!”
Aku ingin memberitahu, tapi..” Kenneth menghentikan kalimatnya.
“Tapi apa?!”
Mungkin sudah saatnya Neela tahu.”
“Dia tidak perlu tahu andai saja kau tidak ceroboh!”
“Eiji…” Suara Lea terdengar di belakangnya. Eiji menoleh, menatap Lea yang berdiri di ambang pintu kamar dengan tangan menggenggam ponsel yang terangkat sebatas dadanya. “Sudah saatnya kita memberitahunya,” kata Lea kemudian.

Tunggu aku. Aku akan menjumpaimu sebentar lagi. Tunggu aku di Solaria. Jangan kemana-mana

Sahabatmu

Itu adalah email dari Nyanyian Sendu yang Neela terima beberapa waktu lalu, saat dia masih berada di mobil Wayan yang mengantarnya kembali ke Bandara. Setelah dia mengirimkan email berisi semua hal yang dia alami hari ini; tentang pembicaraan Kenneth dan Eiji via telpon kemarin, tentang kedatangannya ke Bali dan perjalanannya ke Karang Asem hari ini yang berujung kesedihan yang sampai sekarang menyelimutinya.

Aku akan mundur dari musik, tulis Neela. Tak ada lagi semangatku untuk melanjutkannya. Tak ada lagi tujuanku untuk menjadi yang terbaik. Tidak, dengan tak adanya Shinji yang kuharapkan lagi.

Dan Nyanyian Sendu langsung membalasnya dengan segera. Dia bilang, dia sedang ada di luar negeri sekarang. Tapi kenapa dia sekarang mau menemuiku, pikir Neela heran.
Tapi setidaknya sebentar lagi dia bisa bertemu dengan sahabat mayanya itu. Akhirnya setelah sekian lama mereka dapat bertatap muka.

Hujan di luar, dan Neela baru menyadarinya. Cuaca benar-benar mewakili perasaannya yang muram dan membiru saat ini. Dia memandanginya melalui kaca Solaria yang buram, menembus malam yang pekat, sambil duduk di meja paling sudut yang tersembunyi dari pandangan. Bayangan Shinji yang lunglai tak berdaya kembali datang di benaknya. Dan sekali lagi, air mata meluncur turun ke salah satu pipinya.

“Neela.”
“Ya,” jawab Neela, buru-buru menyeka air mata dan memalingkan wajah kepada orang yang memanggilnya. Matanya membeliak begitu melihat Lea berdiri di hadapannya. Tersenyum ragu yang lemah.
“Boleh aku duduk?” tanya Lea.
Neela menggigit bibirnya, sambil memalingkan wajah dia berkata, “Aku sedang menunggu teman.”
“Nyanyian Sendu kan?”
Dahi Neela berkerut. Dia memandang ke arah Lea lagi. “Kau tahu dia?”
Lea duduk di depannya. Meletakkan tasnya di kursi kosong di sebelahnya, dan meregangkan syal yang membalut lehernya. Dia begitu cantik, bahkan dengan rambut yang digelung asal seperti sekarang. Senyumnya begitu menenangkan dan anggun. Neela selalu suka padanya, walaupun saat ini, dia tak punya keinginan untuk bicara padanya.
“Bagaimana kalau aku bilang… aku adalah Nyanyian Sendu?” katanya, memandang Neela lekat-lekat. Dan sebelum Neela menjawab, dia sudah berkata lagi, “Dan bagaimana kalau aku bilang, Eiji juga adalah Nyanyian Sendu?”
Neela semakin tak mengerti. Dahinya berkerut semakin kuat.
“Dan… juga Juna, serta Malini.”
“Aku tak mengerti.”
“Aku hanya mau mengatakan padamu,” Lea menarik napas sejenak, “kalau sampai kau mengundurkan diri dari musik, aku sendiri yang akan membunuhmu.” Tak disangka air mata menetes dari mata besar Lea. Suaranya yang terdengar kemudian bergetar, karena dia berusaha menahan tangis yang sepertinya telah sampai di ujung bibirnya. “karena berarti kau sama sekali tidak menghargai apa yang telah Shinji lakukan untuk membuatmu seperti ini,” lanjutnya.
“Shi-Shinji…?” Neela kelihatan terguncang. “Memang apa…”
“Dia adalah Nyanyian Sendu, Neela.”—mata Neela langsung membulat—“Dia juga adalah orang di balik kesuksesanmu sekarang.”
“Apa—”
“Dia yang mengatur pertemuanmu dengan Kenneth, dia yang membiayai perawatan wajahmu, kursus-kursusmu, pakaian dan lain-lain. Semua hal… yang terjadi padamu, itu karena dirinya. Dan mendadak, kau dengan entengnya hendak mundur dari semua yang telah dia usahakan datang padamu. Semua popularitas, kehidupan yang lebih baik, kesempatan untuk menunjukkan bakatmu pada dunia.”

Tangis Neela langsung kembali mendengar kata-kata Lea. Dia tak mengerti, tapi dia merasa mengerti kemana arah kalimat Lea.

Lea mengembuskan napas tajam, memejamkan mata sejenak, dan memberikan waktu bagi dirinya untuk menenangkan diri. “Shinji sakit sejak dia pertama kali bertemu denganmu,” kata Lea, seiring kelopak matanya membuka. Suaranya kedengaran lebih tenang dari sebelumnya. “Dia mengidap Demensia. Semacam kerusakan otak parah, yang membuat pengidapnya akan hilang ingatan secara total dengan… perlahan, sampai akhirnya lumpuh dan tak merespon, seperti yang kau lihat tadi.”
Lea kembali mengambil napas. “Shinji ingin melakukan sesuatu yang baik, sebelum sakitnya semakin parah dan akhirnya menggerogoti badannya secara total,” lanjutnya. “Dan kau datang…, dengan segala ketakberuntungan yang menyertaimu, serta bakatmu musikmu yang luar biasa. Dia pun memutuskan untuk membantumu.” Neela kembali terisak, menundukkan kepalanya ke arah tepi meja di bawahnya. Bahunya berguncang-guncang. “Dia membantumu sepenuhnya, mulai dari perawatan wajah, tubuh, dan lain-lain yang dia pikir akan membantu mendukung karirmu nanti. Dia mempertemukanmu dengan Kenneth tanpa kau tahu sebelumnya, dan meminta semua yang tahu akan rencananya itu, untuk merahasiakan darimu.”

Neela mengangkat wajahnya. Dan selama beberapa saat bertatapan mata dengan Lea tanpa kata.

“Kami semua membaca emailmu.” Lea melanjutkan sambil menyedot hidungnya. “Kami tahu bagaimana perasaanmu terhadap Shinji. Kekagumanmu pada Nyanyian Sendu, yang tak lain adalah dirinya sendiri. Puisi-puisi itu…, ia buat khusus untukmu, Neela. Dia curahkan rasa sayangnya padamu lewat barisan kata tersebut.” Tangis Lea kembali pecah, begitu pun Neela. “Bukan hanya satu, tapi ratusan, karena dia berpikir, dia takkan bisa lagi membuatnya saat sakitnya semakin parah nanti. Setelah dia lumpuh, aku, Eiji, Juna dan Malini, bergantian membalas emailmu, dan melampirkan satu demi satu puisinya padamu. Mungkin kau berpikir kami lancang, tapi itu semua kami lakukan untuk Shinji, karena kami yakin, kalau dia tetap ingin kau berkomunikasi dengan Nyanyian Sendu, agar puisi-puisi yang dibuatnya tetap terkirim rutin padamu.”
“Aku tak pernah menyangka kalau dia… dia melakukan semua itu untukku…” kata Neela parau. “Dia… aku… aku tak menyangka…”
“Shinji banyak melakukan hal yang tak kita sangka akan dia lakukan, Neela,” timpal Lea, tersenyum. “Aku pun sahabatnya tak pernah mengerti jalan pikirannya. Tapi dia memang orang baik. Laki-laki yang baik.”
“Aku…” Air mata Neela menghambur lagi keluar, tanpa dia berusaha mencegahnya sama sekali. “Aku… tak salah kalau begitu mencintainya, kan Lea?” Tangisnya pecah. Dan Lea, cepat-cepat berdiri dan pindah duduk ke sebelahnya. Memeluk Neela erat, untuk menenangkannya. Lea sendiri menangis. Air matanya berjatuhan ke rambut Neela yang berada di bawah dagunya.
“Aku… sangat mencintainya,” isak Neela lagi. “Aku mencintainya tanpa firasat apa pun… Tanpa tahu bagaimana awalnya, dan tak tahu apakah akan ada akhirnya. Bagaimana mungkin dia bisa begitu baik padaku? Aku tak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikannya. Aku bahkan tak dapat bicara padanya lagi. Tak dapat mencintainya dengan semestinya.”
“Kau dapat membalas semuanya dengan terus menjalani hidup yang telah dia berikan untukmu,” timpal Lea segera, mengusap rambut Neela lembut. “Just do your best. Jangan patah semangat, hanya karena tak adanya Shinji untuk kau harapkan lagi. Kalau kau benar-benar mencintainya, Neela, kau harus kuat. Dan hidup dengan baik atas namanya.”

Neela menarik tubuhnya, dan menghapus pipinya yang sembap oleh air mata. “Setidaknya aku tahu sekarang, kalau dia sayang padaku,” katanya tersenyum. “Hatiku… merasa lebih baik mengetahui kenyataan yang terjadi.”
Lea mengangguk. “Ya. Aku harap juga begitu.”
“Lea, dia sahabatmu,” kata Neela kemudian. “Bagaimana perasaanmu dengan kondisinya yang seperti sekarang?”
Lea tersenyum. “Hancur.”
Neela ternganga.
“Aku hancur berkeping-keping. Dan sekarang aku sedang berusaha mengumpulkan kepingan itu lagi. Pelan-pelan. Sampai aku kembali utuh dan siap melepasnya pergi suatu hari.” Lea segera menempelkan jari-jarinya di atas matanya untuk mencegah air matanya kembali tumpah. Setelah itu, dia menurunkan tangannya dan kembali memandang Neela. “Kau berhak untuk bahagia. Syukuri hidupmu, dan temukan cinta yang baru. Aku yakin… itu yang diinginkan Shinji. Jangan pernah berpikir lagi untuk menyerah.”
Neela menggeleng. Menyedot hidungnya keras-keras. “Tidak akan,” tegasnya. “Demi Tuhan, tidak akan. Kau boleh membunuhku kalau sampai aku melakukan itu.”

Mereka berdua bertukar senyum.

“Kembalilah ke Jakarta,” kata Lea. “dan temui Kenneth. Dia cemas… karena kau menghilang. Dia berusaha menghubungimu, namun entah kenapa, dia berpikir untuk tidak melakukannya. Dia tahu kau akan kemari… Dia ingin kau tahu kebenarannya.”
Neela mengangguk membenarkan. “Ya. Aku memang ingin tahu yang sebenarnya.”
“Eiji sangat marah padanya.” Lea mendengus geli.
Neela berdecak. “Katakan pada Eiji, kalau aku akan baik-baik saja. Dia tidak perlu menyalahkan Kenneth.”
“Eiji tahu kau pasti akan baik-baik saja,” kata Lea, mendengus tersenyum. “Eiji hanya tidak menyangka, kalau kau harus tahu kebenarannya secepat ini.”
Better too soon, than too late, kan?” balas Neela.
“Ya,” angguk Lea. “Lebih cepat, lebih baik.”

Lea mengantar Neela sampai pintu gerbang keberangkatan. Memeluk Neela erat sebelum dia pergi menuju pintu pemeriksaan tiket. Setelah petugas mengijinkannya masuk, dan sebelum dia melangkah melewatinya, Neela kembali berpaling, dan berkata pada Lea, “Aku akan kembali bersama Kenneth untuk menengok Shinji,” dengan penuh senyum. “Aku ingin melihatnya lagi, dan memberikan kado ulang tahun untuknya.”

Lea mendengus tersenyum, dan mengangguk. Neela membalas senyumnya dengan riang, baru setelah itu memutar tubuhnya dan berjalan pergi, dengan hati luar biasa lapang yang berbeda dari biasanya.

Sudah waktunya.

Mata Shinji membuka, dan dia menghela napas perlahan. Matanya mengejap menatap langit-langit kamarnya. Perlahan, dia mengangkat punggungnya, dan duduk sejenak di kasur. Memandang berkeliling seisi kamar.

Kita akan pindah untuk sementara, Shin,” dia teringat kata-kata Eiji setahun lalu, sebelum mereka pindah dari rumah pantai di Canggu “Ke tempat yang lebih tenang dari sini.

Dan Eiji menyewa rumah ini. Tetap berlokasi di pinggir pantai, namun di tempat yang benar-benar terpencil. Indah, dan lebih lapang. Ditambah lagi, Lea di sini, juga Dean dan Juna. Lalu ibunya datang dari Jepang, turut meramaikan rumah ini. Rasanya lengkap sudah. Setidaknya Shinji tidak merasa kesepian lagi. Karena mereka semua selalu berusaha menghiburnya, dan memperlakukannya dengan normal seperti biasa, tak peduli akan kondisinya yang tak lagi sama seperti dulu; seperti mayat hidup. Mereka semua bergantian merawatnya, dibantu oleh perawat yang dipekerjakan Eiji.

Neela juga sering datang, ditemani Kenneth untuk menginap dan menghabiskan akhir pekan, sampai kemudian berangkat lagi ke Jakarta. Dan kalau Neela sedang berada di sini, tak pernah sekali pun dia meninggalkan Shinji sendirian. Dia akan mengajak Shinji jalan-jalan di pesisir pantai, mendorong kursi rodanya dengan kencang, dan memercikinya dengan air seakan saja dia akan bereaksi atas semua itu. Sama dengan yang lain.

Kau harus sehat lagi, Shin,” bisik Neela, setiap dia akan pamit pulang ke Jakarta. “Agar kau bisa tertawa bersamaku suatu hari. Aku mencintaimu.”
Dan dia akan mengecup pipi Shinji setelahnya, dan saat itu jantungnya akan berdegup lebih kencang dari biasa. Namun, tak ada satu pun yang menyadarinya tentu saja.

Shinji menurunkan kakinya satu per satu ke lantai. Kemudian berdiri tegak, dan berjalan pelan ke arah pintu kamar yang terbuka.
TV ruang tengah masih menyala, dan lima orang laki-laki—Eiji, Juna, Kenneth, Riko, perawatnya, dan Leo, adik Lea, yang datang Kamis kemarin, tidur bergelimpangan di atas karpet empuk yang menghampar di depannya.

Mereka pasti habis nonton bola, pikir Shinji, sambil menggelengkan kepalanya. Dia berjalan mendekat, berdiri di sebelah Eiji, yang tidur bersisian dengan Juna, dan mendengus tersenyum, melihat wajah mereka berdua.
Dua orang ini; dua orang yang paling tak disukai Shinji, selalu menemaninya selama setahun belakangan ini. Menghiburnya dengan cara apa pun yang mereka tahu. Membacakan berbagai macam bacaan—Juna, mungkin hanya untuk membuatnya kesal, membacakan resep masakan untuknya, mengajaknya mengobrol—seolah saja dia akan menimpali semua kata-kata mereka seperti biasa, atau mengajaknya menonton acara sepak bola di TV sambil berteriak-teriak heboh. Dan beberapa malam yang muram, salah satu dari mereka akan mendatangi kamarnya, duduk memandanginya, dan menangis tanpa suara.

Dua orang ini sahabatku, gumam Shinji dalam hati. Juga orang-orang paling bodoh yang pernah kutahu. Dia mendengus geli.

Shinji diam selama beberapa waktu di ruang tengah, memandangi lima orang tersebut, sampai akhirnya bangkit dan kembali berjalan ke arah salah satu kamar, dan masuk ke dalamnya. Di tempat tidur di tengah ruangan, ibunya sedang tertidur menelentang, dengan selimut menutupi sebagian badannya. Neela tertidur di sampingnya.

Tak ada kata yang bisa ia pikirkan selain kata, aku sayang kalian berdua yang terlontar di bibirnya. Dia mengecup kening ibunya, dan merapatkan selimut Neela. Tangannya mengusap lembut pipi dan dagu Neela yang memerah.
“Be happy, Neela,” katanya, tersenyum, setelah itu melangkah lagi ke arah pintu. Keluar ke ruang tengah, dan masuk lagi ke kamar lain yang
pintunya setengah menutup. Berjalan santai mendekati tempat tidur, di mana Lea dan Dean berbaring miring di tengah kasur.
Hati-hati, Shinji naik ke atas tempat tidur, duduk di samping Lea yang memunggunginya.

Dia meletakkan satu sikunya di bingkai tempat tidur, menyandarkan punggungnya ke belakang, dan memandangi Lea.
“Aku selalu suka memerhatikanmu tidur, kau tahu?” katanya pelan. “Saat kau tidur, itulah wajahmu yang paling tenang. Seakan masalah yang kau alami tak pernah ada.”
Shinji menyentuh rambut Lea yang terjurai di atas kasur, menelusurinya dengan jari-jarinya, dan berkata lagi, “Aku akan selalu mencintaimu, Lea. Always have… and always will. Berbahagialah, jangan khawatirkan aku lagi. Aku akan selalu baik-baik saja.”
Lea mendadak menyunggingkan senyum, seolah merespon kata-kata Shinji barusan. Shinji balas tersenyum, kemudian membaringkan badannya di atas kasur, meletakkan satu tangannya di pinggang Lea, dan menutup matanya.

Di luar, matahari telah terbit. Cahayanya yang keemasan masuk melalui celah jendela yang tak tertutup tirai. Sinarnya menyapu seisi kamar dan berangsur menghilang seiring dia meninggi dan meninggi. Pagi yang baru datang, kehidupan baru tiba, dan kehidupan lain berakhir.

Juna masuk ke dalam kamar tak lama kemudian dengan langkah pelan. Dia duduk di tepi tempat tidur, termenung sejenak, sebelum mengguncang tubuh Lea, untuk membangunkannya. Lea terjaga, membuka matanya susah payah, dan mengangkat punggungnya perlahan. Matanya mengejap-ngejap berusaha memfokuskan pandangannya. Ekspresinya penuh tanya. Selama beberapa saat Juna hanya bisa memandangnya, sampai akhirnya berkata dalam suara lemah, “Shinji… meninggal.”
Lea langsung terpaku. Bibirnya membuka tanpa suara. Butiran air satu per satu jatuh ke pipinya tanpa terasa. Juna segera meraih tubuhnya, menariknya mendekat, dan memeluknya erat. Membiarkan Lea menangis tertahan di bahunya.

Hujan turun rintik-rintik mengiringi matahari, membentuk sinar pelangi yang gemilang di pantai, mewakili kesedihan yang ada di masing-masing hati yang terpukul oleh kepergian Shinji. Neela duduk di lantai di samping tempat tidur Shinji, menangis tanpa suara. Eiji bersandar di dinding, bersusah-payah menahan tangis, Kenneth hanya diam, duduk di kursi di samping tempat tidur Shinji, dan Leo berdiri di ambang pintu, menenangkan Malini yang histeris di telpon, sementara Riko, perawat Shinji, menemani ibu Shinji yang syok, di kamar sebelah.

Muram menggantung di setiap sudut. Semuanya terasa gelap, dan seolah mendung, kusam tanpa pelita. Sayup-sayup terdengar lagu baru Neela dari salah satu puisi Shinji yang terakhir, yang diperdengarkan di radio, dengan nada lirih menyentuh mendayu.

Sudah waktunya berpisah, Sahabatku.
Aku pergi dengan tenang berbekal cinta yang kalian limpahkan padaku.
Tak ada rasa sedih atau takut menyertaiku, hanya rasa tenang dan damai di dada.
Kematian tak seburuk yang kita semua bayangkan, karena kematian, hanyalah kehidupan baru yang menunggu di depan.
Aku mencintai kalian dua kali lipat dari cinta yang kalian berikan menjelang akhir hidupku. Dan aku akan terus mencintai kalian berapa kali pun hidup ini berulang.
Nyanyian Sendu ini untukmu. Ingatlah akan diriku.
©Putu Indar Meilita

..
END


[1] Wadah dari anyaman bambu yang biasa dipakai orang Bali untuk menempatkan sesajian untuk upacara

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP