Nyanyian Sendu (16)

>> Friday, December 30, 2011

Frienemy

TUNGGU!” Suara teredam dari balik pintu menjawab gedoran pintu di pagi buta.
Lampu di ruang depan menyala, bersamaan dengan lampu teras yang sinarnya kuning temaram, disusul kemudian suara kunci yang diputar dan gagang pintu yang ditarik membuka. Seorang laki-laki jangkung berkulit kecoklatan melongokkan kepala, dan langsung membeliakkan mata melihat tamu tak tahu diri yang mengganggu tidurnya.
“Shinji?” Jose keheranan, “dan… itu…?” Dia tampak terguncang melihat Neela yang tak sadarkan diri di gendongan Shinji. “Ada apa?”
Shinji tak menjawab, segera melangkah masuk tanpa diundang. “Malini ada?” tanyanya, seraya berjalan terseok-seok ke arah sofa panjang di ruang tamu.
“Dia… tidur.” Tampang Jose masam, jelas tak suka. Tapi Shinji tak melihatnya, dia sedang membaringkan Neela hati-hati di atas sofa. “Kenapa dia?”
Shinji menegakkan badannya dan berpaling pada Jose. “Aku mohon… bangunkan Malini,” pintanya memelas.
Keberatan namun tak bisa menolak, Jose mengangkat bahu, dan berjalan buru-buru ke dalam. Saat dia kembali beberapa menit kemudian, Malini mengikuti di belakangnya, masih mengenakan baju tidurnya. Matanya sipit dan rambutnya awut-awutan. Dahinya berlipat, heran bercampur gusar.
“Shin…” Suaranya serak. “Ada apa?”
“Aku pergi,” Jose buru-buru berkata, begitu Shinji mengerlingnya penuh arti. Dia segera berbalik dan kembali lagi ke ruang tengah yang agak tersembunyi dari ruang tamu.
Malini menghampiri Neela yang tak sadarkan diri. Berjongkok di sebelahnya, mengusap pipi dan rambutnya, kemudian mendongak pada Shinji. “Kenapa dia? Apa yang terjadi?”
Shinji mengajak Malini duduk di sofa lain, dan dengan semampunya menceritakan kejadian beberapa jam sebelumnya sejelas dan sesingkat mungkin; tentang Xanadu, tentang Kyouta dan anak buahnya, tentang Neela yang tak sadarkan diri, sementara Malini mendengarkan dengan saksama.
“Mereka mencekokinya dengan bir atau apa pun, sampai dia tak sadarkan diri begitu.” Shinji mengangguk ke arah Neela, yang terlelap di sofa. Tak terbangun sedikit pun.
Malini amat-sangat-cemas, namun dia berusaha menenangkan diri dengan bernapas panjang, dan mengembuskannya amat perlahan. “Apa… mereka akan mengejarmu lagi?” tanyanya, sedikit terbata.
“Sepertinya,” ujar Shinji. “Tapi… mereka tak mungkin mengejar Neela. Mereka hanya inginkan aku—Malini aku…” Shinji tampak ragu mengatakan sesuatu padanya. Tapi, dia harus. “aku mohon… titip Neela,” lanjutnya.
Malini menelan ludah, jelas dia akan menolak, namun kalimat yang terlontar dari bibirnya kemudian berbeda dari yang semestinya. “Ya…, tentu. Tentu.” Dia tersenyum menenangkan.
Thanks,” ucap Shinji, amat lega. Tapi kemudian dia mendesah, membungkukan badannya dan membenamkan wajahnya ke tangan. “Aku akan bunuh Kenneth,” katanya kesal.
“Kenneth…?” Malini mengernyit. “Oh, Kenneth!” dia memekik, sepertinya teringat sesuatu. “Shin… Kenneth amat khawatir pada Neela,” dia memberitahu Shinji. Matanya membulat cemas.
“Sudah seharusnya,” balas Shinji dingin.
“Dia meneleponku, bertanya apa Neela ada di sini, karena Neela sempat bilang ingin menjengukku—dengarkan dulu,” Malini buru-buru mencegah Shinji bicara, “Kenneth terlambat menjemputnya di Trans, di acara talk show, karena jalanan macet, dan begitu dia sampai, mereka mengatakan Neela sudah pulang diantar John, atau—entah siapa. Kenneth pulang ke rumah, dan ternyata Neela tidak ada. Dia panik, sangat. Menelepon Neela, dan tidak dijawab sama sekali. Dia menelepon banyak orang untuk menanyakan nomor ponsel orang yang mengantarnya pulang… dia benar-benar cemas. Terakhir dia mengatakan akan melapor ke Polisi…”
Shinji membeliakkan mata. “Dia tidak bisa!” Segera dia merogoh saku celananya, menarik keluar ponselnya. Bermaksud menelepon Kenneth, tapi Malini mencegahnya.
“Aku mengatakan untuk tidak memberitahukan apa pun dulu pada Polisi,” jelas Malini. “Pers bisa menggila nanti. Aku menyuruhnya menunggu sampai besok.
Shinji memejamkan mata, bernapas lega. Malini benar, Pers bisa menggila, selain itu, O ushi pasti akan mengincar Neela, sama seperti mereka mengincar Lea dulu. Kyouta akan memerintahkan anak buahnya menculik Neela, dan dia tidak menginginkan itu.

“Sebaiknya… kau pergi, Shin,” saran Malini. “Kau sembunyi lagi di suatu tempat, seperti dulu. Neela…, kau jangan cemaskan dia. Mereka tidak tahu kan… kalau, Neela… adalah ‘Neela’?” Mata Malini menyorot tajam pada Shinji, menunggu konfirmasi.
Shinji mengangguk. “Sepertinya mereka tidak tahu. Aku tidak yakin, tapi… sepertinya mereka tak tahu…”
“Apa… Neela tahu, kau yang…”
“Jangan sampai dia tahu. Aku… tidak ingin dia tahu. Kalau dia bertanya, bilang saja, kalau dia mabuk berat, dan seseorang mengantarnya kemari—ya terserah kau sajalah, bagaimana menjelaskannya,” kata Shinji, malas berpikir. “Sebaiknya aku pergi…”
“Kau akan kemana?”
Shinji menaikkan bahu. “Aku akan pikirkan nanti.”
“Kau tak mau melihat keponakanmu dulu?” Malini tersenyum getir, tapi penuh harap. “Dia sedang tidur, tapi… mumpung kau di sini…”
Shinji tersenyum. “Oke.”
“Tunggu.” Malini kelihatan amat bersemangat. Dia bergegas bangkit, dan berjalan ke dalam, meninggalkan Shinji di ruang tamu bersama Neela. Kembali tak lama kemudian, mendekap gumpalan selimut berwarna merah muda yang bergerak-gerak.
“Ini dia…” katanya dengan senyum amat manis, menyodorkan bayi mungil yang terbungkus selimut merah muda itu pada Shinji, “Tara, yang artinya kokoh,” sambungnya. “Dia terbangun, tepat saat aku menggendongnya.”

Hati-hati, Shinji menerima Tara dari Malini. Memerhatikan wajahnya dengan senyum kecil samar di bibirnya. Rambutnya hitam dan tebal, seperti Malini, namun keseluruhan wajahnya, mengambil dari ayahnya, Jose; hidung mancung lurusnya, kulit coklatnya, sampai mata abu-abunya. “Dia akan cantik, dan seksi sekali nanti,” komentar Shinji. “Sepertimu.” Dia nyengir pada Malini, yang langsung menyipitkan sebelah matanya.

Shinji terkekeh, dan membelai pipi Tara dengan sayang. Bayi itu mengamatinya dengan matanya yang bulat, mengejapkan bulu matanya yang panjang lentik. Tangan kecilnya mengepal, terangkat-angkat berusaha menyentuh wajah Shinji. Dan kemudian, senyum menggemaskan merekah di wajahnya.

“Kau harus punya satu,” Malini berkata tiba-tiba, begitu melihat senyum lembut tersungging di bibir Shinji. “Agar hidupmu teratur.”
“Aku ingin,” sahut Shinji, “tapi… sepertinya tak akan sempat.”
“Sempat saja,” timpal Malini, “kalau kau memang berniat. Kau tinggal menemukan seorang perempuan baik dan mencintaimu untuk kau nikahi, yang akan melahirkan anakmu. Gampang.”
Shinji mendengus. “Tidak gampang,” sahutnya. “Perempuan baik dan mencintaiku, mudah ditemukan. Namun perempuan yang dapat menyentuh hatiku, dan membuatku mencintainya kembali, itu yang sulit.” Dia kembali memandang Tara. Menggenggam jemari mungilnya yang masih menggapai-gapai. “Aku menunggu Tara dewasa saja.”
“Baguslah,” sahut Malini, tak disangka-sangka. “Jadi, kau akan berusaha untuk bertahan hidup sambil menunggunya.”
“Aku akan berumur puluhan tahun, kalau begitu. Kau setuju putri cantikmu menikah denganku?”
“Kau pria baik…” kata Malini tulus. “Why not?
Mereka berpandangan diam selama beberapa detik.
“Aku pergi dulu,” kata Shinji. Menyerahkan kembali Tara pada Malini, lalu mengusap matanya yang sedikit berkaca-kaca. “Jose mana?” tanyanya kemudian seraya berdiri.
“Dia pasti tidur,” jawab Malini. “Kelelahan—kami berdua,” tambah Malini. “Tara membuat kami terjaga semalaman; setiap hari.” Malini mendesah, sebagai ungkapan kekesalannya. “But still… worth it.” Dia memandang Tara, dengan mata berbinar.
“Oke,” kata Shinji cepat, setelah selama sepersekian detik terhanyut melihat Malini dan Tara. “Gotta go.”
Malini bangkit, mengangguk. “Take care,” pesannya. “Don’t worry about Neela.
“Telepon aku… kalau ada apa-apa,” balas Shinji, melangkah pergi.
“Shin.”
Shinji berhenti, memandang Malini, yang wajahnya kembali muram. “Ya?”
“Kau akan baik-baik saja, kan?”
Shinji mengangguk. Tersenyum. “I will.”
Setelah itu dia berbalik, melangkah menuju pintu, memutar gagangnya perlahan dan menariknya membuka. “Bye, Malini,” pamitnya, kemudian keluar, dan menutup pintu di belakangnya.
Bye, Shin,” balas Malini pelan, beberapa detik setelah Shinji menghilang. Entah kenapa, sedih.

Subuh merayap seiring Shinji mengemudikan mobilnya menyusuri jalan raya. Dia mengerling arlojinya, dan langsung mengempaskan napas  begitu tahu kalau hampir jam enam pagi. Dia harus segera sampai di Kafe Pagi di daerah Jakarta Pusat, untuk bertemu Juna, sebelum dia olah raga pagi. Pesannya, jangan terlambat.
Sudah jam enam lewat lima belas, saat Shinji memarkir Honda City-nya di samping trotoar. Berlari cepat-cepat menuju salah satu meja di luar, dimana Juna sedang duduk sambil membaca koran pagi yang terbuka di atasnya. Dia mengenakan kaus abu-abu dan celana trening selutut. Tas besar tergeletak di kaki kursi di sebelahnya.
Kafe Pagi masih sepi, sepertinya hanya akan ada Juna dan dirinya di sini.
“Pagi, Jun.” Shinji menarik kursi di depan Juna, dan duduk bersandar. Menoleh ke kanan dan ke kiri; waspada.
Juna menggerakkan bola matanya ke atas untuk melihat Shinji.  “Kau telat. Dan jangan panggil aku ‘Jun’,” katanya dingin. Dia melipat korannya. Meraih cangkir berisi kopi di atas meja, dan menyesapnya sedikit.
Shinji mengernyit. Memerhatikan Juna. Ada yang berbeda dengan penampilannya. “Sejak kapan kau berjanggut begitu?” tanyanya penuh minat. Menyeringai. “Kau terinspirasi Kapten Jack Sparrow, atau apa?”
“Bukan urusanmu bagaimana  pun penampilanku,” tandas Juna. “Ada apa?” tanya Juna segera. “Kau butuh bantuan apa dariku?”
Here we go, pikir Shinji. Dia menarik napas, dan mengembuskannya perlahan sebelum akhirnya bicara amat hati-hati. “Aku… tanpa sengaja, terlibat lagi dengan O ushi.”
Juna berjengit. Wajahnya membeku seketika, seolah ada angin sendingin es yang baru saja menerpa.
“Aku… harus karena…” Shinji mengulang kembali cerita yang baru saja dikatakannya pada Malini tadi pagi pada Juna. Dia juga mengatakan kalau telah meninggalkan Neela di rumah Malini, berharap O ushi tidak tahu atau tidak sadar kalau dia adalah Neela, penyanyi yang sedang populer belakangan ini, sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya. Mengatakan pada Juna kalau dia merasa tolol karena bertindak tolol, tanpa memikirkan efeknya pada dirinya nanti. Dan terakhir, berkata bimbang dan agak linglung, “Aku sebaiknya tidak bicara padamu—oh aku bodoh sekali. Aku sebaiknya pergi,” dan bangun dari kursi, hendak pergi.
“Shin!” panggil Juna, kedengaran seperti bentakan, membuat Shinji membeku. “Duduk.” Dia menjatuhkan kata singkat itu seperti menjatuhkan batu karang yang kokoh di atas Shinji, membuat Shinji kembali duduk tanpa protes sedikit pun.
Juna mengembuskan napas, mencondongkan badannya ke depan. “Kau ingin apa dariku? Menghubungi Dai?”
“Aku… aku tidak tahu…”

Itu jawaban jujur. Shinji memang tidak tahu, kenapa dia menghubungi Juna. Sebagian dari dirinya ingin Juna memberitahu Dai perihal kejadian di kelab malam tersebut, menjelaskan kalau pemukulan itu benar-benar ‘kecelakaan’; tidak diniatkan sama sekali, sehingga dia bisa mencegah Kyouta untuk mengerahkan anak buahnya untuk memburunya, tapi sebagian dirinya yang lain, tak setuju. Berpikir, betapa pengecutnya, kalau dia sampai meminta itu pada Juna, seperti anak kecil yang bersembunyi di ketiak ibunya, atas kesalahan yang dibuatnya sendiri.

“Shin… Kau tidak salah,” kata Juna, memandangnya penuh simpati. “Kau melakukan hal yang benar. Aku pun akan melakukan itu, kalau aku jadi kau. Aku akan menghubungi Dai. Kau… sebaiknya tidak menampakkan diri dulu, sebelum situasi aman. Aku yakin sekali, Kyouta sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencarimu.”

Shinji tidak menjawab. Dia bimbang. Tidak tahu harus senang atau bagaimana mendengar kata-kata Juna barusan. “Thanks.” Cuma itu kata yang bisa diucapkannya, tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya.
“Eiji bersamamu?”
Shinji menggeleng. “Dia di Bandung, tapi aku yakin… pagi ini pasti dia sudah diberitahu oleh anak buahnya di Jakarta. Kalau Kyouta mengerahkan anak buahnya, mereka pasti tahu dengan segera.”
“Hidupmu seperti film action,” gumam Juna, mendengus. “Cool.”
“Aku mau bertukar denganmu kalau kau memang menganggap apa yang kualami ini sesuatu yang… keren. Aku akan punya Lea dan Dean, sedangkan kau akan punya ratusan orang yang siap mengejarmu kapan pun kau menunjukkan batang hidungmu di depan mereka.”
Juna tersenyum yang tak mencapai mata. “Kau masih ingin Lea… dan anakku juga sekarang?”
“Kau tahu bagaimana perasaanku pada Lea. Dan aku sangat menyayangi Dean.”
Juna menggeleng. “Sampai kapan pun… perasaanmu itu tidak akan kesampaian,” katanya. “Bahkan bila kau nekat memohon pada iblis sekali pun, mereka tidak akan pernah jadi milikmu.”
“Aku tahu,” senyum Shinji. “Karena itu aku akan terus menginginkan itu. Karena itu satu-satunya hal yang membuatku ingin terus mempertahankan otakku agar tetap waras.”
“Kau sinting.” Juna meraih kembali cangkir kopinya, kemudian meminum kembali isinya.
Cheers to that, Jun.” Shinji tersenyum simpul, memiringkan kepalanya memandang Juna yang sekarang menggeleng pelan, membalas senyumnya. Tapi, mendadak senyum itu raib, berganti dengan ekspresi cemas, begitu suara decit kendaraan terdengar di belakang Shinji. Shinji menoleh ke belakang, dan melihat dua kendaraan hitam besar, diparkir sembarangan oleh pengemudinya. Beberapa orang pria—anehnya tidak bersetelan hitam seperti biasa, keluar dari mobil, dan langsung berjalan ke arah mereka.

Don’t worry, mereka hanya inginkan aku,” kata Shinji pada Juna yang tampak tegang. “Pergilah,” suruhnya.
“Aku tidak bisa,” sahut Juna. “Aku ingin tahu mereka mau apa.”
“Jun.” Shinji melotot pada Juna. “Go…” desisnya. Tapi Juna cuek, malah bersandar, dan menghabiskan kopi di cangkirnya, sebagai ungkapan penolakannya.
“Tuan Shinji,” seseorang menyapa sopan dari belakang.
Shinji mengernyit, memalingkan wajahnya. Seorang pria berwajah ramah, tersenyum padanya. Sama seperti yang lain, dia hanya mengenakan kaus oblong polos dan celana jins santai. Sekilas dia kelihatan biasa saja, namun melihat tato yang menyembul sebagian dari balik kerah kausnya, serta otot-otot tangannya yang mengeras, dia jelas bukan orang sembarangan. 
Pria ini masih muda, sepertinya baru berusia dua puluh dua puluh tujuh tahunan, menarik, dengan postur badan yang  sempurna. Sikapnya tenang, namun entah kenapa, ketenangannya itu terkesan menakutkan.
 “Ya?” jawab Shinji.
“Mohon ikut kami,” pinta pria itu, sopan.
“Kau siapa?” tanya Shinji.
Pria itu mengerling Juna, yang memandangnya dengan dagu terangkat. Seolah menantang. “Saya akan mengatakannya di mobil.”
“Bagaimana kalau saya tidak mau ikut?”
“Anda harus. Tuan Eiji meminta saya menjemput Anda. Tidak peduli, Anda mau atau tidak.”
Mendengar nama ‘Eiji’, ketegangan Shinji mencair. Lega. “Dimana dia? Bagaimana kalian tahu saya di sini?”
Pria itu kembali mengerling Juna. “Saya akan mengatakannya nanti, di mobil,”ujarnya. "Tuan Eiji, ada di tempat aman."
“Dia teman saya,” kata Shinji, mengangguk pada Juna. “Kau tidak perlu khawatir.”
“Maaf. Sudah prosedur.”
Juna mendengus geli. Dan pria itu langsung menancapkan tatapan tajam ke arahnya. “Ada yang lucu…, Chef Juna?” Wajah ramah pria itu berganti dengan wajah masam pada Juna.
Juna cuma tersenyum, tidak menjawab, dan pria itu kembali bicara pada Shinji, kembali dengan nada sopan. “Mari. Mobil Anda, biar kami yang mengurus.”

Shinji mengembuskan napas. Ingatannya kembali ke masa ke empat tahun lalu, saat dia terpaksa bersembunyi untuk menghindari kejaran O ushi selama beberapa waktu, sampai akhirnya mereka menculik Lea untuk memancingnya keluar. Dan sekarang sepertinya hal itu akan terulang lagi, dan kali ini Eiji akan menutup semua jalan untuknya agar tak ada peluang baginya dapat keluar kemana pun seorang diri, seperti tawanan beresiko tinggi. Shit, kutuk Shinji dalam hati.

“Katakan pada Eiji, aku bisa mengurus diriku sendiri,” ujarnya kemudian. Mendongak menatap pria tersebut, yang langsung mengerutkan kening. “Aku tidak akan ikut dengan kalian.”
“Tapi, Tuan Shinji—”
“Aku tidak akan ikut,” tegasnya. Menghadapkan wajahnya lagi pada Juna, yang dari tampangnya sepertinya tidak setuju dengan keputusannya.
“Kalau begitu, dengan segala hormat, Tuan Shinji, saya mohon maaf,” kata pria itu.
Heran mendengarnya, Shinji menoleh lagi, dan melihat pria itu sedang membungkuk sedalam-dalamnya. Memang apa yang telah dilakukannya sampai dia membungkuk begitu, pikir Shinji bingung.
Tiba-tiba, dengan gerakan cepat, dan sama sekali tidak diduga, pria itu menghujamkan ujung telunjuknya ke leher samping Shinji, membuat Shinji langsung lemas. Merosot lunglai dari kursinya. Pria itu segera menangkapnya, bersuit, ke arah empat pria yang menunggu di belakangnya.
“Bawa dia ke mobil,” perintahnya dingin, setelah empat pria itu memegangi Shinji.
Bersama-sama mereka mengangkat Shinji, dan membawanya pergi menuju mobil, sedangkan pria itu berdiri di depan Juna yang menyipit memandangnya. Tidak kelihatan gentar sama sekali.
“Maaf, atas kejadian itu,” ujarnya pada Juna. “Tapi terpaksa dilakukan. Apa Anda perlu saya totok juga? Agar... Anda lupa apa yang terjadi barusan?”
“Tidak usah cemas. Saya tidak akan mengatakan pada siapa pun. Orang-orang di dalam yang memerlukan itu.” Juna mengedikkan kepalanya ke arah kaca Kafe. “Mereka pasti melihatnya.”
Setelah itu, Juna bangkit. Membungkuk meraih tali tasnya, dan menatap pria itu lagi. “Jaga Shinji baik-baik, Arata,” pesannya, sebelum berpaling. “Katakan pada Eiji, dia berhutang padaku.”
Setelah itu dia pergi, meninggalkan Arata yang hanya tersenyum simpul, memandangnya menjauh.
(bersambung)


Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
gambar dari sini

11 comments:

Feby,  December 30, 2011 at 3:23 PM  

huaa....shinji..jd suka ma shinji ^^ , ayo mb'lit terusin lg ceritay..

Enny Law December 30, 2011 at 6:27 PM  

wahh lama gk ke sini..aku baca dari chapter awal dulu dehh

Ulfah December 31, 2011 at 9:09 AM  

Lama ga kesini, udah chap 16 aja :D Shinjiii... Saranghaeyo :*
Mbak Lita, semangat ya nulisnya ;)

namarappuccino December 31, 2011 at 10:05 AM  

Waaa it series? Sudah ke 16? Sepertinya akan menjadi novel. Ditunggu.

Menuju yang pertama dulu.

Lita January 2, 2012 at 6:49 PM  

@Feby: Makasih ya... Iya ntar lanjut, dah...

@Enny: Kemana aja, Non? T.T

@Ulfah: sarangheyo juga, Ulfah...

Lita January 2, 2012 at 6:49 PM  
This comment has been removed by the author.
Gloria Putri January 2, 2012 at 9:43 PM  

arata koq kenal sama juna?
siapa dia mba?

ayo2....semakin seruuuu

-silpe- January 3, 2012 at 12:12 PM  

semakin menarik, semakin seru, semakin penasaran

ann January 4, 2012 at 4:27 PM  

Kereeeennnnnnnn.... Like it!

biluping January 7, 2012 at 3:15 AM  

kayaknya ini kunjungan pertamaku yah, sekedar saran, kalau blog yang nulis postingan panjang kayak cerpen bagusnya kolom postingannya sedikit diperlebar biar mata pembaca tidak kewalahan bolak balik kiri kanan
#Sekedar saran

Lita January 8, 2012 at 1:00 AM  

@Biluping: Kamu bener juga. Sebenernya aku juga ngerasa kalo space postingannya kesempitan.
Thanks ya. Aku jadi ganti deh templatenya. Mudah2an udah gak bikin mata yang baca juling...

Tq udah mampir

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP