Nyanyian Sendu (15)

>> Friday, December 23, 2011

Unpredictable

SHINJI sedang berada di Jakarta. Dia hendak menjenguk Malini, yang dua hari lalu melahirkan putri pertamanya.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia enggan untuk bertandang ke Jakarta, namun dia merasa tak enak kalau tidak melihat langsung bayi mungil sahabatnya itu. Jadi, dengan terpaksa dia meninggalkan Bali yang nyaman, dan kembali ke Jakarta yang bising ini.

Eiji ikut, tentu saja. Tapi dia akan ke Bandung lebih dulu untuk… mengurus sesuatu (anggap saja begitu), dan akan kembali besok sore untuk menemani Shinji bertemu Marco, si Dokter, untuk memeriksakan kondisi kepalanya.

Sekarang, Shinji berada di dalam apartemen lamanya. Mengenyakkan diri di sofa hitam empuk, dengan kedua kaki diselonjorkan, sambil menatap televisi di depannya yang sedang menayangkan entah apa. Kepalanya luar biasa pusing sejak tadi siang; sejak dia turun dari pesawat, sehingga dia memilih tidur untuk meredakannya. Ketika akhirnya dia bangun, kamarnya sudah gelap, dan jam digital ponselnya menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh menit. Ditambah lagi hujan deras. Jadi dia memutuskan untuk menengok Malini besok siang. Malas keluar hujan-hujan begini. Lagipula sudah malam, dan dia berpikir  bukan waktu yang tepat untuk menjenguk.

Ponselnya berbunyi mendadak. Memperdengarkan denting kecil yang dikenalinya sebagai nada SMS. Shinji segera menggapai ponselnya di atas meja kecil di sebelahnya, kemudian membaca pesan teks yang terbuka di layarnya.

YOU ARE INVITED TO XANADU’s SOFT OPENING PARTY.
TONIGHT, 23 DECEMBER, 11PM ONWARDS.
COME, AND EXPERIENCE LOTS OF EXOTIC ENTERTAINMENT WITH US!
SAY ‘FRIEND’ TO OUR RECEPTIONIST AND ENTER FOR FREE
SALUTE!
XANADU’s TEAM

Shinji mengernyitkan alis. Siapa yang mengundangnya ke kelab itu? Lagipula bagaimana mereka tahu nomor ponselnya?
Dia mengembuskan napas, seraya meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Sama sekali tidak berpikir untuk pergi ke pesta tersebut, dan memilih untuk menghabiskan waktu di apartemennya saja. Untuk apa? Dia berpikir. Buang-buang waktu saja.

Password?” Laki-laki berambut pirang menyala bertanya. Tangannya yang memegang pulpen membeku di atas kertas yang terjepit di clipboard yang didekapnya.
“ ‘FRIEND’” jawab Shinji pelan.
Si resepsionis menunduk, mencari-cari, dan ketika menemukan apa yang dicarinya, segera menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut. Mengangkat wajah, dan menyunggingkan senyum amat lebar sambil berkata, “Welcome to Xanadu, Mr. Shinji.”
Shinji cuma tersenyum samar, merasa yakin si repsionis tidak melihatnya karena tudung jumpernya yang menutupi separuh wajahnya.
Si resepsionis membuka kait tali bulat merah yang ada di depan gerbang masuk kelab tersebut, dan mempersilakan Shinji masuk.

Dentum musik amat keras segera terdengar di telinga begitu Shinji menyusuri koridor yang seluruh dindingnya dilapisi kaca ungu yang berkerlap-kerlip. Suaranya semakin jelas, ketika dia sampai di ujung koridor, langsung menghadap ke balkon berisi barisan meja dan kursi tinggi yang diletakkan di sisi pagar pembatas atau di sebelah dinding di sisi lain yang tak terkena cahaya lampu yang temaram. Sinar laser melontar ke segala arah, bola-bola lampu yang berputar di langit-langit memancarkan sinar warna-warni yang berganti. Di bawahnya, orang-orang berkumpul, memenuhi lantai dansanya yang bercahaya, menyorotkan warna hijau metalik. Orang-orang itu berdansa heboh, berlompatan atau sekadar bergoyang pelan mengikuti hentakan musik dari lagu yang dibawakan oleh band di atas panggung. Vokalisnya, seorang perempuan cantik, tampaknya orang asing, mengenakan gaun hitam terusan yang amat seksi, menyanyikan refrain lagu ‘We Found Love’ milik Rihanna dengan penuh semangat. Suaranya besar dan sedikit serak. Tubuhnya yang sintal meliuk-liuk, membuat semua laki-laki yang berdiri di bawah panggung di depannya menganga—mungkin berliur, seraya mengacung-ngacungkan minuman yang mereka pegang ke arahnya.

Kelab ini lumayan, Shinji membatin, menyunggingkan senyum simpul.
Dia berdiri di depan pagar pembatas, yang permukaan atasnya agak lebar, sehingga dia bisa bersandar dengan bertopang pada kedua sikunya.

Banyak selebriti datang ke sini. Tak jauh di depannya, Rafi Ahmad, Olga Syahputra dan beberapa temannya, duduk mengelilingi meja. Lalu Luna Maya juga bersama temannya, berdiri di depan bar di bawah, seperti biasa tampak cantik dengan apa pun pakaian yang dikenakannya. Terlihat juga beberapa  pengacara ngetop, politikus muda yang sedang naik daun, dan tak ketinggalan para sosialita yang duduk di kursi-kursi VIP yang mengitari lantai dansa; agak tersembunyi oleh atap balkon. Tampaknya semua orang terkenal Jakarta berada di sini malam ini—semua orang-orang yang berkecimpung di industri hiburan. Andaikan Malini tidak berisitirahat di rumah pasca melahirkan, dia juga pasti ada di sini sekarang.

Shinji menurunkan bagian depan tudung jumpernya. Semakin ke bawah semakin baik, karena akan menyulitkan orang lain melihat wajahnya; tidak menginginkan seorang pun mengenalinya. Tujuannya kemari hanya sekadar ingin tahu wujud kelab malam baru ini dan suasana di dalamnya, bukan untuk bersilaturahmi dengan siapa pun.

Tepuk tangan amat riuh membahana memenuhi ruangan, bercampur suara pekik dan jerit riang dari semua orang yang terhibur oleh lagu yang dibawakan band di atas panggung. Kemudian lagu berganti. Shinji mengenali intro lagu dari Mike Posner terbaru, Looks Like Sex. Seorang pria hitam berbadan tinggi besar maju ke sebelah vokalis wanita sebelumnya. Kepalanya botak, kemejanya berwarna kuning terang dipadukan celana jins gelap. Sepatu bot membalut kakinya mulai dari betis. Nyentrik.

Awalnya Shinji menyangka suara laki-laki itu akan berat se’berat’ penampilannya, tapi ternyata suaranya nyaring melengking, persis suara Mike Posner, membuatnya mendengus tersenyum Orang-orang bertepuk tangan, dan kembali menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri.
Shinji mengerling arlojinya yang menunjukkan pukul satu, dan berpikir untuk turun ke Bar di bawah, membeli minuman, meneguknya sampai habis, baru setelah itu pulang. Sudah cukup banyak yang dilihatnya, dan dia mengakui kelab ini oke, jadi lebih baik tak berlama-lama di sini.  
Dia pun berpaling, hendak pergi, tapi sesuatu di bawah sana, membuatnya kembali berpaling. Alisnya berjingkat, dan matanya menyorot tajam ke arah seorang perempuan berkaus putih di tengah lantai dansa. Sendirian, menggoyangkan badannya dengan mata terpejam menikmati musik, meskipun caranya bergoyang tidak seirama dengan musik sama sekali.

Perempuan itu sepertinya mabuk. Dia sama sekali tidak memedulikan sekelilingnya; tidak peduli orang-orang menyenggol badannya. Tidak peduli kalau mereka semua memerhatikannya dengan pandangan seolah dia gila.

Neela benar-benar mabuk, Shinji yakin itu. Wajahnya memerah, dan berkeringat. Shinji menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari sosok Kenneth, tapi sepertinya dia tidak terlihat dimana pun. Dengan buru-buru dia merogoh saku jinsnya, mencari ponselnya untuk menelpon Kenneth, namun ponselnya tidak ada. Pasti tertinggal di mobil, dia membatin. Dia ingat telah meletakkannya di laci dasbor.

Dua orang pria berstelan hitam, berkulit putih, jangkung, dengan tampang oriental yang tadinya berdiri diam di bawah panggung, menyeruak keramaian mendekati Neela. Mereka berdansa mengapitnya; menyentuhkan tangan-tangan mereka ke tubuhnya. Neela mendorong mereka, dan berbalik pergi dengan sempoyongan. Tapi salah satu pria tersebut dengan cepat menyambar tangannya dan menariknya paksa. Neela kembali mendorongnya, tapi pria itu dengan cepat melingkarkan tangannya ke sekeliling pundaknya kuat-kuat. Sekali lagi dia berontak, tapi karena terlalu lemah bahkan untuk berdiri, dengan mudah pria itu menyeretnya pergi. Pria yang satu nyengir penuh kemenangan dan mengikuti di belakang mereka.
Lalu seorang pria lain berkemeja hitam, yang Shinji kenali sebagai presenter sebuah acara di salah satu stasiun televisi swasta, menghadang mereka. Bicara dengan tampang gusar, sambil menunjuk-nunjuk ke arah Neela yang cuma bengong entah sadar entah tidak dengan apa yang terjadi. Namun, begitu salah satu pria itu mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinganya, tiba-tiba si Presenter mundur. Bergeser ke pinggir, memberikan jalan untuk mereka. Menatap pasrah punggung ketiganya yang berjalan menjauh dan menghilang dari pandangan.

Tak seorang pun di lantai dansa yang menyadari kejadian itu.

“Sial!” Shinji mengumpat, seraya berlari menuruni tangga menuju lantai dansa.
Membelah keramaian, menyenggol, mendorong, bahkan menyikut beberapa orang yang menghalangi jalannya. Sempat tergoda untuk meninju wajah presenter pengecut yang sekarang berbicara panik pada beberapa orang mengenai Neela yang dibawa dua laki-laki tidak dikenal dengan tampang hampir menangis, tapi segera mengurungkannya karena berpikir tak ada waktu untuk itu.

Shinji berlari melewati koridor kecil berpencahayaan redup dengan pintu-pintu kedap suara berbaris di masing-masing dindingnya. Di atasnya, terdapat plang kecil bertulisan VIP room, yang membuat perut Shinji serasa anjlok.
Kamar-kamar itu pastilah kamar-kamar privat yang disewa para pengunjung untuk melakukan sesuatu yang tak perlu dijelaskannya lagi.
 Kamar yang mana kalau begitu, dia bertanya-tanya, berdiri di tengah koridor, menengok ke arah pintu di kanan dan kirinya. Cuma satu cara untuk membuktikannya.

Kamar pertama yang dimasukinya berisi sekumpulan pemuda-pemudi yang sedang teler, yang bahkan tak sadar kalau dia telah masuk ke dalamnya. Kamar kedua, tak jauh beda, penuh dengan pria dan wanita setengah telanjang, yang berteriak-teriak dan berjoget-joget tak jelas, dan malah mengundangnya bergabung sambil mengacungkan minuman yang mereka pegang. Kemudian kamar ketiga, keempat, kelima dan keenam—di kamar keenam, dia sempat dilempari gelas, yang pasti mengenainya kalau dia tak buru-buru menutup pintunya, dan Neela masih tak ditemukannya.
Jantung Shinji berdegup semakin kencang, dan kepalanya berdenyut-denyut, Kecemasan dan ketakutan, dia terus berlari dan memasuki kamar-kamar selanjutnya seperti orang gila. Mengumpat sambil membanting pintu, ketika tak menemukan Neela di dalamnya. Hampir saja dia menyerah, berdiri terengah-engah, di tengah koridor dalam, ketika akhirnya seorang pelayan perempuan keluar dari salah satu kamar lainnya, dengan muka yang muram dan cemas. Kepada rekannya, yang menunggu di luar dia berkata, “Sepertinya Neela di dalam,” dengan suara gemetaran. “Mabuk berat,” tambahnya.

Tanpa berpikir apa pun lagi Shinji melesat ke kamar tersebut, tak peduli teriakan pelayan perempuan itu yang tak sengaja terdorong olehnya. Dia membuka pintunya dengan gusar, dan menemukan lima pria, duduk di sofa merah melingkar; Neela duduk di tengah, (syukurnya) masih berpakaian lengkap, namun basah kuyup oleh minuman yang sengaja dituangkan dari botol ke badannya oleh salah seorang pria yang duduk di sampingnya. Shinji mengenali pria itu. Pria yang beberapa tahun lalu pernah menyekapnya bersama Lea. Kyouta Tanaka. Bajingan itu, kutuknya dalam hati. Dia menurunkan tudung jumpernya.

Melihatnya Kyouta langsung tercengang. Berdiri, dan berjalan mendekati Shinji yang napasnya tak beraturan. Seringai yang menyebalkan muncul di wajah culasnya.
“Lihat siapa ini,” dia berkata pada pria-pria lainnya, yang menyambutnya dengan tawa keras. “Yang amat tampan, Shinji Tsubaki—atau kau lebih memilih Shinji Kodame?”
Shinji merentangkan tangannya ke depan, mendorong bahu Kyouta, mencegahnya mendekat. “Aku… tidak ada urusan denganmu,” katanya, agak terputus-putus, karena napasnya masih tersengal. “Aku hanya ingin membawa Neela.”

Neela mengejapkan mata. Dia sadar namun sama sekali tak mengenali situasi mengancam di sekelilingnya. Dari mulutnya hanya keluar suara keluh, seperti suara isak.

Kyouta mendengus. “Perempuan itu?” Dia menunjuk Neela, wajahnya mengernyit. “Apa hubunganmu dengannya? Kenapa kau tidak cari perempuan lain saja? Banyak sekali di luar. Oh, aku tahu… apa dia pacar barumu? Pengganti Lea? Kau pasti sedih ditinggal kawin olehnya.”

Shinji tidak menggubris perkataan Kyouta. Dengan cuek berjalan maju ke depan, dan langsung menghantamkan tinjunya ke muka Kyouta ketika Kyouta menarik lengan jumpernya untuk mencegahnya. Kyouta langsung jatuh tersungkur di lantai, sambil memegangi hidungnya yang sepertinya patah; berdarah banyak sekali.
Melihat bosnya jatuh, keempat pria yang lain segera bangkit berdiri. Salah seorang yang berada paling dekat dengan Shinji mengayunkan tangannya yang mengepal ke arah wajahnya, namun Shinji, yang sudah membekali dirinya dengan bela diri Kendo selama dua tahun di Jepang—ditambah beberapa malam latihan bersama Eiji saat mereka di Bali, dengan cepat menangkisnya, menarik tangan pria itu, dan menyodokkan sikunya ke rusuknya. Pria itu langsung merosot, dan mengerang kesakitan. Tiga yang lain mengeluarkan senjata. Pistol yang lebih dulu diatasi Shinji. Dengan mudah dia menyambarnya, dan menghantamkan bagian pelatuknya ke pelipis si empunya dengan keras, hingga jatuh dan tak sadarkan diri. Setelah itu dia mengacungkannya ke dua pria yang tersisa, yang masing-masing memegang belati meliuk yang ujungnya berkilat-kilat mengancam. Kedua pria ini adalah dua pria yang tadi menarik Neela dari lantai dansa. Melihat pistol tersebut, mereka langsung menjatuhkan senjata masing-masing, dan mengangkat kedua tangan mereka ke atas.

“Berbalik,” suruh Shinji pada keduanya, yang langsung dituruti oleh keduanya tanpa protes.
Dan begitu keduanya membelakanginya Shinji segera memukul kepala mereka berdua dengan pucuk pistol yang dipegangnya sekeras yang ia mampu, sehingga mereka berdua langsung jatuh, bertumpukan di lantai. Pingsan. Dia bahkan tak peduli kalau mereka mati. Shinji benar-benar sudah tak peduli lagi.

Shinji memindahtangankan pistol ke tangan salah seorang pria yang pingsan, untuk menghilangkan sidik jarinya, kalau-kalau Polisi menyelidiki insiden ini. Setelah itu dia menghampiri Neela yang setengah sadar, menggendongnya cepat-cepat, tak lupa menaikkan kembali tudung jumpernya, baru kemudian berjalan menuju pintu.

Dua pelayan yang tadi ada di luar kamar masih membeku di tempat, ketika Shinji melangkahkan kakinya keluar. Mereka memandang Shinji dengan ekspresi cemas dan ketakutan.
“Ada pintu keluar lain dari sini?” Shinji bertanya.
Pelayan wanita mengangguk. “Ada. Ikuti saya.” Dia berpaling ke arah kanan, dan memimpin jalan. Shinji mengikuti di belakangnya.

Mereka melewati koridor sepi, berpapasan dengan beberapa pelayan lain yang baru saja selesai mengantarkan pesanan. Koridor itu terasa panjang sekali untuk Shinji, terlebih lagi dia harus membawa Neela, yang semakin lama semakin berat di gendongannya. Sampai akhirnya, pelayan itu mengatakan, “itu pintu keluarnya” sambil menunjuk ke arah pintu ganda di ujung, tangan Shinji sudah mati rasa, dan sepertinya Neela sudah merosot sampai ke lututnya.

“Saya cuma bisa antar sampai sini,” kata si pelayan agak merasa bersalah. Tapi ucapan terima kasih Shinji yang tulus, langsung membuatnya tersenyum amat manis. Pelayan itu membuka salah satu pintu, agar Shinji bisa lewat.
“Siapa namamu?” tanya Shinji sebelum dia berlalu dari hadapannya.
“Ashika,” sebut pelayan itu.
Shinji mengangguk, kemudian berbalik, meninggalkan pintu ganda itu tanpa menoleh lagi. Dia berada di belakang gedung sekarang. Beruntung sekali, karena mobilnya terparkir tak jauh dari sana.

Sekuat tenaga Shinji berlari. Bernapas lega begitu mencapai mobilnya. Dia terpaksa menurunkan Neela ke atas aspal, untuk mencari kunci di saku celananya, membiarkannya terbaring lunglai. Dia menekan tombol, dan kunci otomatis membuka. Dibukanya pintu belakang, mengangkat Neela, membaringkannya hati-hati di kursi belakang, dan menutup pintu cepat-cepat. Setelah itu dia sendiri masuk ke mobil, duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan segera pergi meninggalkan tempat parkir.

“Brengsek!” Dia menghantamkan tangannya ke kemudi. Baru menyadari apa yang beberapa waktu lalu dilakukannya. Dia telah menyulut pertikaian lagi dengan Mafia O ushi; dengan orang yang sama yang sepertinya akan semakin membencinya setelah malam ini.
Sebagian dari dirinya merasa luar biasa tolol, namun sebagian lagi merasa bangga, karena mampu menjatuhkan lima orang sekaligus tanpa luka berarti, demi menyelamatkan seorang perempuan yang tak berdaya. Bisa dibilang dia adalah pahlawan. Namun memikirkan efek tindakannya nanti, rasa bangga itu segera menguap, berganti dengan rasa khawatir yang membuncah.

Shinji segera membuka laci dasbor, mengambil ponselnya dan menekan salah satu tombol, sebelum menempelkannya di telinga.

Halo,” suara seorang pria menyapa dari jauh.
“Juna… Aku butuh bantuanmu.”
(bersambung)

Ditulis oleh: Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...

gambar dari sini

11 comments:

sarie December 23, 2011 at 8:59 PM  

yaaaaaaaah bersambung .....

Rusyda Fauzana December 23, 2011 at 9:49 PM  

waaahh... Akan ada Juna.
Waiting for the next part ^_^
*saya suka baca ceritanya Mba Lita, I'm secret reader :D

Gloria Putri December 23, 2011 at 10:37 PM  

mba kasih gambaran kyouta donggg...
trus nanti ada flash back nya kasus dia dl sama lea pas 'dikerjain' kyouta itu ga?
asik bgt mba bacanya :)
shinji keren abisssss....

oya, aq nemu miss type lg, dan sptnya agak fatal ya...sayang nya aq ga bs copas tulisannya kesini biar cepet...jd aq tulis ulang dikit aja:
"kedua pria ini adalah dua pria yang tadi menarik Lea dari lantai dansa"

Lea nya kan harusnya Neela to mba?

okeee, panjang benr deh komenku...
soalnya kayaknya ini mulai masuk ke tahap2 seru dehhh....nomer 16 nya jangan lama2 ya mbaaa

ann December 23, 2011 at 11:00 PM  

Qiqiqi, Lea, Neela atau Lita...??? Ayoo mba lita semangatttt!!

Miss Juna so much!

Lita December 24, 2011 at 1:58 PM  

@Sarie: Iya bersambung. mau bagaimana lagi, cuma sampe segitu imajinasiku... Hehehe

@Ruzyda: Ketahuan ya, jadi silent reader. Tapi gak papa, yang penting kamu mau baca ceritaku ya, Ruzyda. Thanks, ya...

@Glo: Oke, Glo, nanti aku gambarin deh kaya apa tampangnya Kyouta. Kalau flash back, liat aja nanti, mudah2an aku bisa masukin juga ke next chap.

Makasih ya, Dek, kritiknya. Aku jadi tahu deh salah ketikku dimana (hehhehehehehehe)

Keep reading ya. Mwah!

@Ann: Oi, Non. Kemene eje? Baru nongol setelah dipancing 'Juna'...
Btw, thanks tetep mampir sini. Kangen, baca komenmu yang semanis strawberry cake-nya Jack Rabbit :P

rona-nauli December 26, 2011 at 10:46 AM  

Lita, Lita...*tarik2 baju lita*...tahun baru shinji kemana? :D

Lita December 26, 2011 at 11:53 AM  

@ROna: Eheheheheh, madam, Tahun Baru Shinji di Bali... sama akyuuuu *cekikikan ngeselin

-silpe- December 26, 2011 at 12:49 PM  

alur ceritanya mengejutkan ya mba', tiba tiba ada juna lagi... :D
siippp
tak sabar menunggu yg berikutnya :)

Lita December 26, 2011 at 7:53 PM  

@Silpe: Trim ya, Silpe. Keep reading... *nyengir*

shafarani December 29, 2011 at 1:23 AM  

ngihihihi.. suka deh kalo uda pacu jantung gini,, bisa ketawa2 ga jelas dan kaget sendiri depan laptop :p
bagian selanjutnya pasti bagian seru untuk mengakhiri tahun 2011 atau memulai 2012 yap.. he he he

jaiyou mba lit!!
*pake pom pom mencak mencak*

Lita December 29, 2011 at 6:01 PM  

@Shafarani: Makasih ya, Rani... Mwah! Met taun baru ya... just in case, lupa ngucapin nanti. Hihihiihihihi...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP