Nyanyian Sendu (14)

>> Monday, December 19, 2011

Nyanyian Sendu to Neela

TAK perlu lama bagi Neela merebut hati pencinta musik tanah air. Single perdananya langsung lompat ke chart teratas stasiun-stasiun radio, hanya dalam waktu seminggu setelah diperdengarkan. Orang-orang bilang, lagunya enak, para kritikus musik mengatakan ‘berbobot’, sedangkan pencinta musik klasik menyatakan takjub atas permainan biolanya yang luar biasa indah—Neela memang memainkan biola sendiri di lagu pertamanya ini. Intinya, semua orang menyukai lagunya; baik musik, suara, maupun liriknya. Lirik yang amat dikenal oleh Shinji.

“Apa kau mau menuntutnya?” tanya Eiji, dari belakang Shinji yang sedang memelototi laptopnya. Membaca berulang-ulang puisi yang beberapa bulan lalu pernah ditulisnya di blognya. Dan tidak sadar ditulisnya.
Shinji mendengus. “Untuk apa?” tanyanya, tanpa menoleh Eiji.
“Sepertinya kau gusar.”
Shinji mengggeleng. “Tidak.”
“Dia menggunakan puisimu sebagai lirik lagu, dan kau tidak keberatan dengan itu?”
Sekali lagi Shinji menggeleng.
“Kau yakin?”
“Ya.”
“Oke, kalau begitu,” kata Eiji. “Tampaknya kau ingin menyimpan apa pun yang ada di dalam hatimu sendiri, jadi aku tidak akan menyinggungnya lagi.”
Good,” sahut Shinji.
Dan Eiji tidak mengatakan apa pun lagi setelah itu. Meninggalkan kamar, membiarkan Shinji sendirian di depan laptopnya. Tercenung memandang blognya yang bernuansa merah hati dan hitam.

Shinji meraih mouse di samping laptop, menggerakkannya, menekan salah satu tombol, mengetikkan sesuatu di menggunakan keyboardnya, meraih mousenya lagi, kemudian meng’klik’nya. Meng-klik-nya lagi, sampai akhirnya muncul sebuah kotak berwarna putih; kotak yang selalu diisinya dengan barisan huruf yang disusunnya untuk membentuk sebuah cerita atau puisi.
Dan hari ini, dia sangat bersemangat untuk mengisinya lagi.

Kutuangkan perasaanku padamu
Tentang kesedihan dan kebimbangan hatiku
Tentang cinta dan kasih sayang yang tak disadari
Tentang kekaguman dan keinginanku atasmu

Ingatanku akan memudar
Namun cintaku akan tetap bertahan
Seiring degup jantung dan nadiku
Bersama dengan napas yang kulepaskan
Kau akan tetap bersamaku

Saat kupergi, jangan menangis, kumohon padamu
Saat kuhilang, biarkan, jangan dicari
Saat ku lepas, tetaplah tegar, jangan menyerah
Ingatlah betapa aku mencintaimu

Andai kau tahu betapa aku mendambakanmu,
ingin kurengkuh dirimu, dan kubisikkan kata cinta tak berujung
Andai kau tahu betapa tersiksanya diriku karena rindu,
Ingin kupeluk dirimu selamanya, tak kubiarkan pergi
Andai waktu banyak tersisa untukku, takkan kusia-siakan untuk hidup bersamamu

-Ditulis oleh Nyanyian Sendu-

Ps.
Dear Neela, kau bisa menggunakan puisiku untuk lagu-lagumu, karena mereka terasa lebih berarti dengan musikmu.

Don’t worry. Aku tidak akan marah,

Salam,

Nyanyian Sendu


Neela termenung membaca email dari seseorang dengan nama Nyanyian Sendu yang sekarang sedang dibukanya. Membaca puisi baru yang ditulisnya kemarin, juga pesan di bawahnya.
Apa ini sindiran? Neela berpikir. Apa ini wujud protes ‘Nyanyian Sendu’ karena dia telah menggunakan puisinya sebagai lirik lagu pertamanya? Atau memang benar apa yang dipikirkannya, kalau Nyanyian Sendu mengijinkannya untuk menggunakan puisi-puisi yang ditulisnya untuk lagunya?
Kalau ya, baik sekali dia, gumam Neela dalam hati dengan senyum merekah.

Sejujurnya dia amat takut kalau-kalau Nyanyian Sendu, yang juga adalah pemilik blog bertitel sama, marah dan menuntutnya karena telah mempergunakan salah satu puisinya yang berjudul ‘Ini Aku’ sebagai lirik lagu. Tapi dia memang salah, mengutip puisi orang lain, untuk diakuinya sebagai ciptaannya, tak peduli apa pun alasannya.

“Lebih baik kalau kau sendiri yang menciptakan lagu-lagumu,” Neela teringat saran Kenneth beberapa waktu lalu ketika mereka baru saja sampai di Jakarta, dan hendak memperdengarkan lagu demo pertama ke perusahaan rekaman. Saat itu Neela belum punya lagu sama sekali.
“Tapi aku tak bisa,” katanya jujur.
“Harus. Agar kau punya nilai lebih untuk mereka,” Kenneth bersikeras.
Dengan terpaksa Neela menyanggupinya, kendati sebenarnya dia tak yakin kalau dia bisa menciptakan sebuah lirik lagu yang bagus hanya dalam waktu dua hari. Karena itu dia mencoba mencari inspirasi dari internet; dari situs-situs yang memuat kalimat-kalimat bijak, blog-blog yang memuat puisi-puisi cinta, dan akhirnya suatu sore yang basah oleh hujan, dia sampai di sebuah blog bernuasa merah hati, hitam serta putih, dan terpikat pada salah satu tulisannya yang berjudul: Ini Aku

Ini Aku

Ini aku wahai kekasih yang tak tampak
Memanggilmu lirih agar kau segera tiba
Penantianku terlalu panjang dan kuingin kau disini
Menatapku, menenggelamkanku dalam binar matamu

Ini aku, wahai teman yang tak kenal
Bersedia menerima kekuranganmu demi mengisi hati yang kosong
Kurengkuh erat dirimu dan kunyanyikan lagu merdu
Menyanyi bersama hingga lupa waktu

Ini aku wahai dunia
Lahir dan besar di  permukaanmu yang menakjubkan
Menunggu waktu terakhirku denganmu
Bersama waktu yang semakin menua

Ditulis oleh: Nyanyian Sendu


Ini adalah puisi, itu yang Neela pikir. Namun, dia merasa kata-kata itu amat cocok untuk sebuah lirik lagu. Jadi sore itu, sampai menjelang malam, Neela berusaha menemukan nada untuknya. Mencoba menciptakan musik untuk mengiringinya dengan gitar milik Shinji yang dibelinya beberapa bulan lalu—tak disangka dia mengijinkannya untuk membawa gitar itu bersamanya. Dan hasilnya, Kenneth, pendengar pertamanya, di pagi buta, dan baru saja bangun tidur, sangat menyukainya. Langsung menyukainya. Tidak melontarkan kritik atau komentar-komentar pahit yang biasa diperdengarkannya. Dan bukan hanya Kenneth, pihak recording pun menyukainya, dan mencoba merekamnya di studio, ditambah dengan musik dari biola yang Neela mainkan sendiri. Dan mereka semakin menyukainya. Mencintainya, kalau bisa dibilang.
Roda keberuntungan berputar drastis hari itu. Dan terus bertahan di atas, sampai hari ini, saat Neela menerima email dari Nyanyian Sendu, berisi puisi baru yang ditulisnya, dan juga telah di postingnya ke blognya kemarin.

Oh Tuhan. Betapa Kau menyayangiku begitu besar, gumam Neela, sambil memaku matanya kembali ke barisan huruf yang ditulis oleh Nyanyian Sendu.

Wajah Shinji membayang di matanya kemudian, membuatnya rindu. Laki-laki angkuh itu, tanpa dia sendiri menyadarinya, telah membukakan jalan-jalan lebar bagi Neela untuk melangkah. Dan Neela berjanji, apa pun yang terjadi, sekeras apapun penyangkalan Shinji atas andilnya pada nasibnya yang berubah, dia akan membalas semua kebaikan yang telah diberikan Shinji padanya.

Laki-laki itu…, datang di waktu-waktu termuram dalam hidupnya. Memberikannya tempat untuk tinggal—meskipun Shinji tak mengakui kalau rumah itu adalah miliknya, melainkan Eiji (entah kenapa). Memberikannya makanan dan minuman, tanpa meminta bayaran. Tidak pernah memaksanya melakukan ini-itu sebagai imbalan, dan kendati kelihatannya Shinji membencinya; sering melontarkan kalimat-kalimat yang membuat panas telinga, di dalam hati, Neela yakin kalau dia sesungguhnya baik. Shinji adalah sahabat Lea, idolanya, dan Lea selalu berkata kalau Shinji adalah pria yang baik dan penyayang, dan Lea tak mungkin bohong, karena Shinji memang kelihatan sangat menyayangi Lea. Menyayangi siapa pun yang dekat dengannya.

Dan sore itu, ketika hanya ada dia dan Shinji saja di dalam kamarnya; saat Shinji sakit dan tak sadarkan diri selama dua hari, Neela merasa, kalau dia telah menemukan Shinji yang sebenarnya. Matanya yang menatapnya begitu teduh. Wajah tampannya yang terdiam terlihat begitu tenang, mendamaikan hati. Itu Shinji Tsubaki yang asli, yang akhirnya dapat dilihatnya secara langsung.

Tuhan… lindungi Shinji Tsubaki, Neela berdoa dalam hati. Jangan biarkan dia sakit lagi. Dia sangat baik.

Doanya terhenti, ketika mendadak saja dia bertanya-tanya, sedang apa Shinji sekarang? Apa dia sedang bersam Eiji? Sejenak kemudian Neela mendengus tersenyum. Memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Dan kembali berdoa.

Tuhan… ini memang berlebihan. Tapi kalau boleh, bisakah dia melihatku sedikit saja? Menyadari kalau aku yang sekarang telah patut untuk dipandang? Aku tahu aku tak secantik Lea, namun aku bisa mencintai dengan tulus. Dan Shinji adalah orang yang patut dicintai dengan tulus. Maafkan atas kesombonganku, tapi itulah yang kurasakan padanya sekarang ini. Aku jatuh cinta padanya, meskipun aku tahu kalau dia tak mungkin jatuh cinta padaku. Tapi kalau kau mengijinkannya—Neela nyengir, itu bisa terjadi kan?
Setelah itu dia membuka mata, dan mengembuskan napasnya perlahan. Senyum manis yang lega merekah di wajah cantiknya.
(Bersambung)

Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...
gambar dari sini

6 comments:

shafarani December 19, 2011 at 9:19 PM  

huwaaa mbak litaaaa :D/
lanjutkaann,, saya suka!
hehehe

Lita December 20, 2011 at 12:00 AM  

@shafarani: Thank u, Non. Maree, lanjutkan. Semangaaaattt!!!

-silpe- December 20, 2011 at 11:13 AM  

sweet mba lita...
suka sama puisi nya :)
Lanjutkan mba!! #bukankampanyeparpol

Lita December 20, 2011 at 1:27 PM  

@silpe: Makasih, Silpe...
Puisinya padahal aku bikin dengan mata segaris lho, alias ngantuk. Hehehhe... Sukurlah, kamu suka.
Trim lagi.

Gloria Putri December 21, 2011 at 11:45 AM  

mba, aq baca ini senyam senyum sendiri :)
jadi neela belum sadar ya kalo nyanyian sendu itu shinnji?
gosh...dia pasti langsung +jatuh cinta.....
dan shinji....aduhhh...kamu manis bgt sih shin.......mau dong dibikinin puisi :P
wkwkwkwkkw

keep it up mba Lit, jangan lama2 lanjutannya yaaaa :)

Lita December 21, 2011 at 3:34 PM  

@Glo: Thank u, Dek. Senang kamu suka. jadi semangat buat lanjutannya...

Semangat juga, Glo!

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP