Nyanyian Sendu (13)

>> Thursday, December 8, 2011

Lighten Up, Shin

SHINJI siuman keesokan harinya, saat angin hangat bertiup sepoi-sepoi melalui jendela kamar yang terbuka, dan sinar matahari mulai memerah di sebelah barat. Sudah sore, dan suasana di dalam kamarnya begitu sepi.
Tak ada siapa pun di sini selain dirinya, dan tak satu suara seorang pun terdengar dari luar kamar. Kemana Eiji, tanya Shinji dalam hati.

Pelan-pelan dia bangun, menegakkan badannya di atas kasur, dengan kedua tangan menopang. Pusing masih menderanya, penglihatannya belum awas. Pandangannya berkunang-kunang, dan sekelilingnya seolah berputar; bergerak ke kanan dan ke kiri. Tubuhnya terasa penat, piyamanya lembap oleh keringat. Rambutnya lengket; berminyak. Tak nyaman sekali.

Shinji menggeser tubuhnya hati-hati ke tepi. Menjejakkan kakinya ke lantai dengan canggung. Kemudian, perlahan dia berdiri. Baru saja hendak menggerakkan kakinya maju, ketika tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, dan seorang perempuan masuk. Mata coklatnya langsung membeliak pada Shinji yang menatapnya dengan sebelah mata menyipit. Neela langsung maju ke arahnya, tampak cemas juga senang.
“Kau sudah sadar…” katanya, merem langkahnya, tak jauh dari Shinji.
“Kenapa memangnya?” sahut Shinji ketus. Pandangannya begitu dingin, membuat ekspresi Neela yang tadi begitu bersemangat menjadi datar seketika.
“Eiji cemas…,” katanya. “kau tidak sadar dari kemarin.”
Shinji mendengus sinis. “Untuk apa cemas?” Dia menatap Neela lekat-lekat. “Tidak ada yang perlu dicemaskan,” katanya lagi. Setelah itu dia melangkah pelan, menuju pintu. Kepalanya kembali berdenyut, tapi dia tak peduli. Terus berjalan dengan langkah tertatih.
“Kau mau kemana?” tanya Neela, mengikuti Shinji. “Eiji berpesan agar kau tetap di tempat tidur.”
“Untuk apa? Aku sudah lama tidur. Tak perlu tidur lagi.”
“Tapi kau harus istirahat.”
“Kenapa kau cerewet sekali?!” bentak Shinji mendadak, membuat Neela terkesiap. “Lebih baik kau keluar—”
Kalimat Shinji terputus oleh rasa nyeri hebat yang tiba-tiba menyerangnya. Dia meremas rambutnya, memijat-mijat dahinya dengan kedua tangannya. Kakinya bergetar, tak mampu menopang tubuhnya. Dia pun jatuh, bersimpuh di kedua lututnya. Neela menghampiri. Turut berlutut. Dua tangannya terangkat, membeku di udara. Dia sepertinya ingin menyentuh Shinji, tapi mungkin takut Shinji marah, sehingga dia cuma bisa memandanginya dengan khawatir, sementara Shinji meremas-remas kepalanya.

“Kau kenapa?” tanya Neela, amat panik. “Apa yang harus kulakukan?”
“Kepalaku sakit sekali…” keluh Shinji. “Sakit sekali.”
“Aku harus apa?” Neela bertanya panik. “Tolong katakan apa yang harus kulakukan…?”
Shinji tidak menjawab. Matanya sangat berat; sakit. Dia merasa lemas. Otaknya sepertinya telah memerintahkan seluruh tubuhnya untuk berhenti berfungsi. Tangannya merosot lemah dari kepala, dan lehernya tak lagi ingin tegak. Dia menyandarkan dahinya di pundak Neela, kemudian berkata lirih, “Tak usah melakukan apa pun. Pinjamkan saja pundakmu sebentar. Itu saja cukup.”
Setelah itu dia memejamkan matanya, bersamaan dengan seluruh tubuhnya yang telah seratus persen tak berdaya, merosot lemas ke bawah.

Dua tangan hangat menyentuh wajahnya yang berkeringat. Membelai rambutnya lembut. Dan tak lama dia merasakan kepalanya terangkat, dan ditempatkan bersamaan. Shinji membuka mata, dan melihat Neela memandangnya dari atas.
“Kau… baik-baik saja sekarang?”  Suara Neela bergetar. Dia masih cemas. “Apa aku perlu telepon rumah sakit?”
“Jangan bodoh,” kata Shinji, dalam suara seperti geraman. “Lebih baik kau diam saja.” Shinji menelan ludah susah payah. Meringis menahan sakit. “Aku mohon… diamlah.”
Dia kemudian memejamkan mata. Menarik napas perlahan, dan mengembuskannya, juga dengan perlahan. Kepalanya terus berdenyut-denyut, namun nyerinya mereda. Dia juga merasa lebih tenang. Sangat. Perlahan dia tertidur; di pangkuan Neela. Tapi kemudian dia tersadar; tersentak, buru-buru membuka mata. Hasratnya ingin bangkit, namun begitu melihat mata coklat Neela yang menatapnya dari atas, dia mengurungkannya. Balas menatapnya tanpa bersuara.

Senyum kecil tersungging di bibir Neela yang sedikit membuka. Sebagian gigi depannya yang putih terlihat, dan dua bolongan kecil di antara pipinya terpampang jelas, membuatnya makin menawan. Rambutnya yang terjurai ke dada, hampir menyentuh wajah Shinji. Aromanya harum menenangkan. Dan sekarang, rona merah bersemu di kedua pipinya, membuatnya seolah bersinar.
Shinji mengibaskan kepalanya, dan sekarang benar-benar bangkit, mengangkat kepalanya dari pangkuan Neela. Dia duduk bersila, mendengus heran, menertawakan dirinya sendiri, sambil berpikir, ‘ada apa denganku?’ berulang kali, sementara Neela masih bersimpuh di belakangnya. Tampak kebingungan.

“So—sori,” ucap Shinji, beberapa detik kemudian, seraya menoleh ragu-ragu ke belakang. “Aku tak seharusnya…”
“Tak apa,” sela Neela buru-buru, menjulurkan kepalanya ke samping sedikit, untuk melihat wajah Shinji. “Kau sakit dan…”
Shinji menggelengkan kepala. “Tidak… Tidak seharusnya… Aku,” dia masih kebingungan mencari kata-kata. “Sori…” Shinji memandang Neela melewati pundaknya. “Aku mau istirahat saja,’ kata Shinji, berupaya bangun. “Kau… bisa tinggalkan aku sekarang.” Dia berdiri, memutar badannya, menunduk memandang Neela yang menengadah menatapnya. Bengong.
“Oh ya—ya,” Neela tersadar, mengangguk-angguk, dan bangun buru-buru. “Tapi… kau sudah baikan kan?” Kedua matanya mengerjap.
Mulut Shinji membuka menutup tanpa suara. Dia hilang kemampuan bicara. Kenapa aku? Sekali lagi dia membatin. “Ya… ya… Aku sudah…, oke,” jawabnya, disusul deham kecil. “J—just go,” pintanya.
Neela mengangguk sopan, kemudian berjalan melewati Shinji, tapi kemudian dia berpaling, mengatakan pada Shinji bahwa Eiji sedang keluar rumah, dan mengatakan kalau dia menunggu di luar, kalau-kalau nanti Shinji membutuhkan sesuatu. Shinji mengangguk, berkata ‘oke’ singkat, dan Neela berbalik lagi, melanjutkan berjalan.
Shinji duduk di pinggir kasur. Menopang kedua tangannya di permukaan, seraya memerhatikan Neela yang telah mencapai pintu. Tak disangka kemudian dia berhenti, setelah sebelumnya menyentuh gagang pintu, dan kembali menoleh pada Shinji. Shinji mengernyit heran, menunggunya bersuara.
“Aku akan ke Jakarta dua hari lagi,” dia memberitahu. “Aku akan diperkenalkan pada seorang produser musik. Kenneth bilang dia ingin mendengar suaraku, dan kalau cocok, dia akan mengontrakku.”
“Oh. Selamat…, kalau begitu,” ujar Shinji, tersenyum kecil. Senyum yang tulus, yang sebelumnya tak pernah ditunjukkannya pada Neela.
Thanks,” ucap Neela lagi, kembali tersenyum. “Ini semua karenamu,” katanya lagi.
“Bukan…”
“Ya,” potong Neela. “Takdir begitu baik padaku karena mempertemukanku denganmu. Dan sejak itu, seolah semua pintu terbuka lebar untukku.”
“Itu kan menurutmu,” sahut Shinji, seraya menekan-nekan dahinya. Kepalanya terasa sakit lagi. “Jangan mengait-ngaitkan apa pun denganku,” tambahnya lagi.
Neela hanya tersenyum. Memandang diam Shinji sejenak sebelum akhirnya berkata lagi. “Aku hanya ingin katakan itu… Takut kalau saat berangkat nanti, tak sempat bertemu denganmu.”
Setelah itu dia berpaling. Pergi.

Pintu kamar tertutup perlahan, dan sosok Neela menghilang di baliknya. Shinji mengangkat kepalanya, menatap pintu itu, membayangkan Neela yang beberapa waktu lalu muncul dari sana. Setelah itu dia merebahkan badannya di kasur. Menatap nyalang langit-langit kamar yang berangsur redup. Matahari mulai tenggelam, dan malam mulai naik ke permukaan. Di luar, Neela sedang menyalakan semua lampu. Sedangkan di dalam, Shinji sedang dihantui senyum kecil di bibir Neela, serta rona merah di pipinya yang dilihatnya beberapa saat lalu. Membuatnya enggan melakukan apa pun selain mengabadikannya di ingatan. Kenangan itu membuat hatinya kosong dan penuh bersamaan. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia begitu senang melihatnya.
What’s with you, Shin? Suara kecil di dalam kepalanya bertanya. Kubur perasaan itu buru-buru sebelum naik ke permukaan dan tak bisa kau pendam lagi, dia mengingatkan. Kau tidak boleh melibatkan gadis itu denganmu. Tujuanmu hanya ingin membantu, tidak lebih.

Saat Neela pergi, Shinji sengaja tidak keluar dari kamar. Selain malas bertemu Kenneth, dia juga tidak ingin kelihatan kikuk di depan Neela. Memilih untuk memelototi blognya, tanpa mengetikkan satu kata pun.

Kemudian hari berganti. Tak terasa sudah dua minggu sejak Neela pergi. Eiji mengatakan kalau Neela sedang berlatih vokal dan instrument di Jakarta, serta sibuk bertemu beberapa orang. Memberitahu Shinji, betapa senangnya Neela karena bertemu banyak orang ngetop yang tak pernah sekali pun dimimpikannya untuk bertemu.

“Dia menanyakanmu,” kata Eiji, “dan aku bilang kau sudah bisa pegang papan selancar, jadi tak usah lagi dicemaskan.”

Kata-kata itu sindiran untuk Shinji, sebagai ungkapan kekesalan Eiji yang gagal menahan Shinji untuk istirahat di rumah untuk menjaga kondisinya. Karena Shinji, setelah merasakan badannya fit kembali, langsung menyibukkan diri di luar rumah; jalan-jalan keliling Bali, berenang ke pantai, menyelam, berselancar, jalan kaki mengitari Kuta, dan hal-hal lain yang membuatnya merasa hidup. Hanya satu yang tak bisa ia hindari: obat. Obat-obatan yang harus diminumnya setiap hari, dan dikirimkan Marco dari Jakarta, lengkap dengan petunjuknya. Shinji tak pernah membacanya, tapi Eiji, amat menekuninya.

“Kau mau selancar lagi?” tanya Eiji pada Shinji yang baru saja keluar kamar, hanya mengenakan board-short. Eiji sedang duduk membungkuk di depan meja ruang tengah, sambil mengetikkan sesuatu di keyboard laptopnya.
“Ya. Atau…” Shinji menaikkan bahunya sekilas, “duduk-duduk saja di pinggir pantai,” katanya. “Kenapa? Mau ikut?”
Eiji memandang Shinji dengan tatapan ‘yang benar saja’, kemudian menggeleng kecil. “Aku lebih memilih untuk mencari info tentang obat-obat wajib minummu,” katanya. “Cukup menarik—”
“Ya, untukmu, memang,” sela Shinji. “Good luck!” katanya lagi, kemudian buru-buru pergi keluar ke beranda, meninggalkan Eiji yang tepekur di depan laptopnya.

Matahari begitu terik. Ombak begitu besar. Beberapa peselancar telah beradu kemampuan menaklukkan ombak sedari tadi, sementara Shinji memilih untuk duduk menonton di pesisir. Membiarkan papan selancarnya tergeletak di atas pasir.

Kau malas sekali.”
Shinji tersentak, spontan menoleh ke belakang, untuk menemukan si pemilik suara. Saat melihatnya, dia memutar matanya ke atas, dan kembali menghadapkan wajahnya ke depan.
“Ayo… Gabung di sana,” suruh Juna, duduk di sebelahnya, mengangguk ke arah para peselancar yang masih berlomba menantang ombak. Papan selancar yang tadi dipegangnya diletakkannya di atas pasir. “Tunjukkan kalau kau laki-laki.”
“Oh, shut up,” tukas Shinji, mendengus. “Ngapain kau ke sini?”
“Mau apa lagi? Aku ingin berselancar,” jawab Juna, memandang Shinji seakan saja Shinji sinting. Dia memang sudah siap; bertelanjang dada, memamerkan kedua tato bintangnya. “Aku sudah siap melawanmu,”—(Shinji mendengus)—“I’ve got my board, my board-short, I’m ready.
“Sebaiknya tidak usah,” tolak Shinji. “Aku malas berselancar denganmu.”
Juna berjengit. “Kenapa?”
“Nanti baru turun ke air, kau sudah panik teringat masakanmu yang gosong. Tidak seru.”
Juna terbahak.
“Ada apa?” Shinji bertanya lagi, beberapa saat kemudian. Ketika wajah Juna sudah kembali datar, dan asik memandang ombak di depan. “Aku kira kau di Jakarta.”
“Memang,” ujar Juna. “Tapi… aku ada urusan lagi di sini. Dan… aku ingin melihatmu.”
Ekspresi Shinji seakan dia baru diterpa angin kencang.
“Kenapa kau memandangku begitu?” tanya Juna. Heran.
“Kalimatmu barusan… ‘aku ingin melihatmu’…”
“Kenapa dengan itu?”
“Kedengaran seperti Kenneth. Sangat gay.”
“Ngaco,” sergah Juna, diiringi kekeh. “Aku benar-benar ingin melihatmu,” kata Juna lagi. Serius.
“Lea mengirimmu?”
“Aku bukan paket.”
Shinji tergelak, tapi hanya sesaat. Tampangnya langsung muram. Teringat Lea.
“Yah…” Juna mendesah, “dia cemas sekali.”
“Tapi aku tak ingin dia cemas,” kata Shinji. “Karena itu aku—”
“Malini sudah cerita,” potong Juna. “Semuanya.”
“Dan?”
“Dan…, aku mengerti. Jose… mengerti. Lea…?”
“Dia pasti marah.”
“Bukan marah,” ralat Juna. “Terpukul. Berita itu membuat syok. Dia tak menyangka—kami semua… tak menyangka.”
“Aku hanya tak ingin kalian semua cemas—terutama Lea,” ujar Shinji. “karena itu aku tidak memberitahukan siapa pun. Aku sendiri sulit menerima, apa lagi orang lain…”
Still…, Lea is you’re best friend,” kata Juna. “Kalian telah berteman, bahkan sebelum aku datang. Kau mencintainya dan dia juga… Kalian seperti saudara, atau mungkin kalian memang benar-benar saling mencintai—aku tak tahu,” kata Juna, mengangkat bahu. “jadi, tentunya akan sakit, kalau mengetahuinya belakangan, dan bukan dari dirimu sendiri. Lagipula… sampai kapan kau mau menyembunyikan semua itu? Pada akhirnya semua akan tahu.”
“Aku hanya…”
“Apa pun alasanmu, Shin…” Juna menyela, “aku hanya ingin memberitahumu, kalau kami selalu ada kapan pun kau butuhkan,” kata Juna.
Shinji bengong, tak dapat menanggapi apa pun. Datang dari Juna, tentunya adalah hal yang besar, karena Juna yang biasanya tak mungkin mengatakan itu pada siapa pun.
“Kami takkan menjauh,” Juna melanjutkan, “bahkan kalau kau kudisan sekali pun.”
Shinji mendengus tertawa, begitu pun Juna. Rasa haru yang tadi mampir ke dadanya, menguap seketika.
“Tapi…” Juna kembali berbicara, “jangan harapkan kedatangan Lea sekarang. Dia belum sanggup untuk bertemu denganmu.” Juna menoleh pada Shinji.
“Aku mengerti.” Shinji mengangguk.
Setelah itu keduanya diam. Mereka menonton para peselancar yang beraksi lagi, diiringi teriakan menyemangati orang-orang yang menontonnya.
Thanks, Jun,” kata Shinji, setelah beberapa detik berlalu.
“Jangan panggil aku ‘Jun’,” protes Juna segera. “Namaku Junior—Juna, bukan Jun, dari Junaedi.”
Shinji tertawa, sedangkan Juna hanya mendengus. Tidak menggerakkan matanya dari pantai sama sekali.
“Jadi, apa kau benar-benar mau berselancar?” tanya Shinji.
Juna menggeleng. “Tidak. Aku memilih duduk nyaman di sini,” jawabnya.
“Aku juga…” timpal Shinji.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Juna.
“Baik. Kau?”
“Baik…”
“Dean?”
“Sehat… Neela…?”
“Aku memilih tak menjawab…”
“Kenapa?”
Dan pembicaraan mereka terus berlanjut tanpa terasa, sampai akhirnya matahari telah menjulang tinggi, kulit keduanya memerah, dan Eiji memanggil  untuk makan siang.
(bersambung)

Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)

gambar dari sini
That's it... Just smile, Shin.

13 comments:

sarie December 8, 2011 at 6:46 PM  

serru mba' .... tapi request boleeh ngga'???
jangan bikin shinji mati ya mba'.. he.he.he.he.he

Lita December 8, 2011 at 8:38 PM  

@Sarie: Let's see, then, yaaaa... Thanks,ya, Sarie...
@Silpe: makasih, Silpe... Kamu juga ya...

Baha Andes December 8, 2011 at 11:40 PM  

komennya sekarng atau nunggu sambungannya ya :)

angga zhan December 12, 2011 at 7:06 PM  

sep sep :P
I like it. ..
please visit,and Join my Blog please,
http://gapekamania.blogspot.com/
I'm already join with your blog. . .
saya tunggu di Blog saya :)

Itik Bali December 13, 2011 at 4:59 PM  

Haaa..Shinji nya ganteng
jangan mati dong..

Hans Brownsound ツ December 15, 2011 at 8:29 PM  

lita :D
ah, jadi ga sabar nunggu wujud novelnya :D

Lita December 17, 2011 at 10:35 PM  

@Baha Andez: Terserah, deh... yang penting kamu udah baca ya... Tq, udah visit.

@Sudah ya, Angga. saya udah folbek. Salam kenal, ya... Tq.

@Itik: Halo, Non. Makasih udah mampir. Shinji ganteng? Iya, emang shinji ganteng. Hehehe.

@Hans: Tahu deh... Apa bisa dijadiin novel, ya #pesimismodeon

@GUnawan: Iya, Gun. Ngarang sendiri. Lam kenal.

Feby Oktarista Andriawan December 19, 2011 at 11:47 AM  

Makin kompleks nih ceritanya. Shin kok kalo senyum mirip gue ya, huehuehue..

Lita December 19, 2011 at 5:59 PM  

@Feby: Oh yeeeee... dari pp lo, kenapa senyum lo jadi mirip Benoe Boloe, Feb. Wkwkwkwk.

Gloria Putri December 21, 2011 at 11:33 AM  

mba maaf aku kasih kritik sedikit ya?
ada beberapa miss type juga tanda baca :) xixixi, klo org bahasa pasti ribet ma yg begituan deh..
tapi alur ceritanya bikin kesalahan2 itu termaafkan...
aq suka bagian ngobrol2bnya shin sama junaedi...hahahaha
mungkin itu kali ya yg disebut 'hikmah dibalik masalah'
krn sakitnya shin si juna juga jd melunak kan...seneng bacanya :)

Lita December 21, 2011 at 3:33 PM  

@Glo: Karena itu aku nyesel kenapa gak ambil sastra waktu kuliah dan malah ambil jurusan yang sama sekali aku gak ngerti dan malah gak kepake waktu kerja *curcol*

Thanks ya Glo, kritiknya. Aku sedang sangat belajar menyusun kata dan tanda baca. Mudah2an bisa perfect kaya miss Glo. *peluk*

Dan emang, dari pertama aku pengen Juna jadi sahabat tak terduga Shinji. Gak deket, tapi ada. Ada tapi gak deket. Jiahhh--apa seh? Thanks ya, Dek.

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP