Nyanyian Sendu (12)

>> Saturday, December 3, 2011

Numb 

EIJI mengangkat Neela, dan membawanya ke kamar. Shinji mengikuti di belakangnya, meninggalkan teman-temannya di beranda. Sebenarnya dia enggan, namun, dia berusaha menghindari pertanyaan seputar Neela yang pastinya akan diajukan oleh Lea. Dia tidak sanggup membohonginya. Dia takut, kalau dia salah ucap dan semua yang dirahasiakannya terbongkar. Dia belum siap memberitahukan apa pun pada Lea.

“Dia agak mirip Lea,” dengus Eiji, berdiri di samping tempat tidur, memandang Neela yang terbaring di atas kasur. “Ya kan?” Dia menolehkan wajahnya pada Shinji yang sedang bersandar di kusen pintu.
“Dalam hal apa?” tanyanya.
“Dia pingsan saat melihat Juna—juga Lea,” tambah Eiji buru-buru. “Lea juga begitu kan, waktu pertama melihat Juna? Tampaknya mereka tidak tahan tidak pingsan begitu melihat orang yang mereka idolakan.”
“Itu saja tidak bisa disebut mirip.” Shinji menegakkan badannya, bersedekap. “Lagipula dia sama sekali tidak mirip dengan Lea.”
“Matanya?” Alis Eiji berjingkat, bibirnya mengembang tipis. “Tidak mirip?”
“Aku tidak mau membahas hal-hal aneh begitu denganmu.” Shinji menggelengkan kepala tak percaya, kemudian menggerakkan kakinya memutar. Hendak pergi.
“Dia mengingatkanmu pada Lea, sedikit banyaknya,” kata Eiji lagi dalam suara ringan, membuat langkah Shinji terhenti. “Rapuh, sekaligus kuat. Kelihatan bodoh kadang, namun memiliki banyak kelebihan di dalam dirinya. Tipe perempuan yang ingin kau lindungi sebisanya. Seperti Lea… Ya kan, Shin?”
Shinji memalingkan badannya sedikit. Melihat pada Eiji yang memandangnya dari samping tempat tidur. “Kau tidak tahu Lea, Eiji,” ujar Shinji, “jangan berkata-kata mengenai dirinya seolah saja kau sangat mengenalnya.”
Eiji mendengus. Kembali menghadapkan wajahnya kepada Neela. “Dia gadis baik, kau tahu?” angguknya ke arah Neela. “Aku hanya berpikir… kalau dia bisa saja menggantikan posisi Lea di hatimu suatu hari nanti.”

Kali ini Shinji yang mendengus. Kembali menggeleng mendengar kalimat Eiji barusan yang menurutnya konyol. Dia memutar badannya, kemudian berjalan pergi meninggalkan kamar.

Ruang tengah terasa amat kosong, karena semua orang masih berkumpul di beranda. Suara Kenneth terdengar sedang berbicara entah apa, karena tidak terdengar jelas. Shinji menyempatkan diri mampir ke dapur kecilnya yang menjadi satu dengan ruang tengah, untuk menyambar sebotol Pulpy Orange dari dalam kulkas, baru kemudian kembali ke beranda untuk bergabung bersama teman-temannya.

Saat dia sampai di ambang pintu menuju beranda, suara Kenneth terdengar berkata, “Jadi begitulah…, aku di sini untuk alasan itu. Membantu Shinji yang beberapa tahun setelah ini akan…” dia berhenti sejenak, “hilang ingatannya. Dan Neela sama sekali tidak tahu, kalau Shinji yang melakukan semua itu untuknya.”

Mata Shinji seketika melebar. Dia buru-buru menyibak tirai yang melambai menggantung di atas pintu beranda. Melangkahkan kakinya buru-buru keluar, dan mendapati semua orang langsung menghujamkan tatapan masing-masing kepadanya; tatapan muram yang tidak dimengerti. Hanya Malini yang tidak memandangnya. Menunduk ke perutnya yang membuncit. Tampak merasa bersalah.
Lea, matanya sudah merah, dan tampangnya tampak sangat terguncang, menatap Shinji lekat-lekat. Juna segera mengarahkan matanya ke arah lain. Tangannya mengusap-ngusap punggung Dean yang tertidur di pelukannya. Berbalik buru-buru, menghadap ke arah pantai yang gelap di depan. Jose pelan-pelan menundukkan kepalanya, menatap ujung meja di depannya, menyesap air di gelas yang digenggamnya.
Sedangkan Kenneth; dia memandang Shinji dengan tampang yang tak menunjukkan penyesalan sama sekali. Senyum simpulnya kelihatan amat menyebalkan, membuat Shinji ingin sekali meninjunya. Dia berdeham, dan menghadapkan wajahnya ke depan, meraih gelas di atas meja di depannya, dan meneguknya sedikit, kemudian meletakkannya lagi. Tidak bersuara lagi.

Lea bangkit mendadak dari kursinya. Mata besarnya memandang Shinji tajam dan menusuk. Sorotnya menyiratkan kesedihan—kekecewaan yang mendalam. Sebutir air mata turun ke pipinya tanpa dia sadari, dan itu membuat Shinji seketika gamang. Kakinya seakan tak lagi berpijak di permukaan, melainkan di udara kosong. Kepalanya berdenyut.

“Teganya kau, Shin,” kata Lea dalam suara serak, menahan tangis. “Kau menyembunyikan hal sebesar itu padaku…”
Mulut Shinji membuka sedikit hendak bicara, namun kemudian kembali menutup. Dia tak tahu harus berkata apa.
“Kita bersahabat. Bahkan lebih dekat dari persahabatanmu dengan Malini atau Kenneth—kau bahkan baru kenal Kenneth!” Suara Lea memekik saking kesalnya, dan dadanya naik-turun karena masih berusaha keras untuk tidak menangis. Meskipun begitu air mata sudah mulai membanjiri pipinya yang berkilap oleh sinar lampu beranda. “Dan Eiji… padahal sebelumnya kau bilang kalau kau tidak mau berurusan dengan satu pun dari mereka—keluarga mafiamu itu, tapi nyatanya… kau malah memercayai orang itu daripada aku.  Apa aku… tidak bisa dipercaya atau—”
“Bukan begitu—”
“—kau memang menganggapku bukan siapa-siapa?” Lea tidak memedulikan kata protes Shinji. “Apa aku tukang gosip?”
“Lea…” Shinji mengempaskan pundaknya. Menatap Lea putus asa.
“Apa kau takut aku akan mengatakan pada semua orang tentang… dirimu?” Lea tetap bicara. Tak peduli sama sekali.

Hening di sekitar mereka. Tak satu pun berani bersuara. Juna diam, Malini diam, Jose diam. Dan Kenneth, sama sekali tak berkata apa pun, hanya mengerut-erutkan bibirnya sambil memutar-mutar gelas kosong yang sedang dipegangnya di atas meja.

Lea membenamkan wajahnya di tangannya, kemudian menyapukannya ke atas, melewati dahi lalu ke rambutnya. Terdiam sejenak, untuk mengendalikan emosinya, baru kemudian mengibaskan kepalanya cepat-cepat. Serentak memalingkan badannya, dan berjalan mendekati Juna. Meraih Dean tanpa peringatan, sehingga Juna sedikit tersentak. Dean terbangun, dan langsung menangis. “Aku tunggu di mobil,” katanya lemah pada Juna, yang hanya bisa mengernyit memandangnya.
Setelah itu dia memutar tubuhnya lagi, berjalan menuju pintu; sempat menepis gusar tangan Shinji yang hendak menyentuh lengannya, kemudian menghilang di balik tirai.
Juna menyusulnya tak lama kemudian. Pergi begitu saja tanpa berpamitan lebih dulu pada Shinji. Memandangnya saja tidak. Dan tak sampai sepuluh menit setelah kepergiannya, terdengar derum mesin kendaraan meraung di luar rumah, disusul derak roda yang bergerak pergi.

Shinji masih berdiri di tempat yang sama. Kedua tangannya di pinggang. Matanya sangat panas. Kepalanya lebih-lebih. Ujung-ujung bibirnya gemetar. Dia sangat sedih.

“Shin…” Malini bangun dari kursi. “Aku sudah berusaha untuk mencegah Kenneth bica—”
“Sudahlah, Malini,” potong Shinji, tak menolehkan wajahnya sama sekali. “Kau pulanglah… Biarkan aku sendiri,” pinta Shinji dalam suara pelan. Satu tangannya meremas rambutnya. “Kalian… pergilah.”
“Kau tidak apa-apa, Shin?” tanya Jose, kedengaran prihatin.
Shinji tak suka mendengarnya. Jangan mengasihaniku, katanya marah dalam hati. Dia memalingkan kepalanya buru-buru, namun tetap menghindar bertemu mata dengan orang-orang di belakangnya. “Just—just go, okay?!” sentaknya. Tangan kanannya membuka, mengisyaratkan mereka semua untuk pergi. “Just… leave me alone…
Shinji melangkah mendekati pagar beranda. Menatap ke depan, darimana suara ombak bergemuruh berlarian ke pesisir.
“Sori, kalau aku membuat Lea jadi marah,” kali ini suara Kenneth, diiringi suara kursi bergeser dan suara alas sepatu yang menggesek lantai, “tapi aku pikir dia harus tahu secepatnya.”

Shinji berbalik. Perlahan, namun tetap memperlihatkan kegeraman yang sekarang menguasai dirinya. “Simpan pikiranmu untuk dirimu sendiri,” ujar Shinji. Suaranya bergetar.  “karena aku sama sekali tidak membutuhkannya. Kau di sini, bukan untuk mengurusku melainkan orang lain. Thanks to you… Kenneth… Malam yang tadinya kurasakan menyenangkan berganti amat muram” (Shjinji menjentikkan jarinya) “dalam sekejap.”

Kenneth bengong menatap Shinji. Bengong yang menyiratkan kekesalan. Mulutnya membuka, siap membalas, namun Jose segera merangkul pundaknya, dan menyeretnya pergi dari beranda cepat-cepat.  Tinggal Malini yang ada di sana, memandang Shinji dengan ekspresi dipenuhi rasa bersalah.
“Maaf, Shin…”
Shinji tidak mau mendengar. Langsung memutar tubuhnya lagi. Terdengar suara langkah lagi; menjauh, bersama suara desir tirai yang menyibak dan berkeretekan di gantungannya. Sunyi setelah itu. Tak ada siapa pun lagi bersamanya.

Eiji datang, beberapa detik kemudian, dan langsung bertanya ‘ada apa?’ pada Shinji yang berdiri membelakanginya. “Kenapa semua orang pergi?” tambahnya heran. Dan saat Shinji tak menjawab, dia memanggil Shinji dengan nada penuh tanya, “Shin?”
“Pergilah, Eiji,” pinta Shinji. “Untuk kali ini… biarkan aku sendiri.”
“Ada apa sebenarnya?” Eiji tidak menggubrisnya, malah berjalan mendekat.
“Tolong… pergilah…”
Eiji mendengus. “Tapi ada apa—”
Watashi wa iku to iu to, basutádo!”—Aku bilang pergi, Brengsek!—hardiknya marah, tersengal-sengal. Memegang dadanya yang langsung berdebar kencang.
Eiji terpaku di tempatnya berdiri. Tak menyangka akan reaksi Shinji. Tangannya gemetar, dan dia segera mengepalnya kuat-kuat. Kakinya kemudian memutar, menghadap arah berlawanan. Sempat mendengus yang terdengar tak enak, sebelum melangkah pergi meninggalkan beranda.

Shinji mengamati tulisan di kaus hitam yang Eiji kenakan. Membaca ‘GRATEFUL FOR YOURLIFE’ yang tertera di permukaannya. Kepalanya luar biasa sakit; luar biasa nyeri. Otaknya seakan diremas di bawah tempurung kepalanya. Matanya perih, turut berdenyut. Wajah Lea terbayang di benaknya. Senyumnya menyakitkan untuk dilihat. Matanya yang berbinar begitu menyilaukan. Kedua tangannya yang menyentuhnya menghantarkan hawa panas yang tak sanggup dirasakannya. Semua tentang Lea, akan memudar seiring waktu. Dan itu membuatnya begitu menderita.
Tanpa disadari Shinji, tubuhnya merosot ke lantai. Tangannya berpegangan pada pagar; pasrah. Kepalanya bertambah sakit, matanya bertambah perih. Tak sampai beberapa detik, kepalanya menghantam tanah. Matanya terpejam.
(Bersambung)

Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)



Take a rest for a while, Shin...

10 comments:

Lia December 3, 2011 at 8:21 PM  

Cerita yang menarik
ga sabar buat baca lanjutannya :)

Lita December 3, 2011 at 8:31 PM  

@Lia: Halo, Lia. Apa kabar? Trima kasih, ya, Lia...

Nonanovnov December 3, 2011 at 10:39 PM  

Mbak, sembuhin Shinji dong. ga tega liat shin kesakitan :(

Feby Oktarista Andriawan December 3, 2011 at 11:54 PM  

Asek, kyaknya shnji ini tokoh central ya, kenapa gak di jadiin buku aja nih mbak? Kl mau d jdiin buku nama tokohnya hrus lebih unik lagi tapi. he.. lanjut!

Lia December 4, 2011 at 3:27 PM  

@ Lita.. kabar baik, Lita apa kabar? Keep writing ya, sayang Shinji harus ilang ingatan jadi tragis banget kayanya :(

artika maya December 5, 2011 at 10:52 AM  

dan energimu layak diacungi jempol!
keep writing lita ^^

-silpe- December 5, 2011 at 11:07 AM  

ini kenapa si Keneth diciptakan jadi banyak bicara ya? #mendadakgemes
semoga shinji cepat sembuh ya mba lita, biar bisa menciptakan lagu buat Neela #eh

Lita December 8, 2011 at 8:44 PM  

@Nov: Kamu minta aku nyembuhin Shinji, kaya aku ini dokter aja, deh *nyengirlebar*... Kita lihat aja nanti ya...

@Feby: Aduh, kamu bener2 baca, ya, Feb... makasih banyak ya. Kirain kamu cuma suka komik Doraemon aja *wkwkwk*. Kalau mau dibikin buku beneran, aku gak pede deh... Biarin deh, buat blog dulu. yang penting ada yang baca dengan setia.

@Lia: Makasih, ya, kata2 semangatnya. Iya tuh, Shinji kehilangan memorinya nanti... :(

@Maya: Thanks ya, Maya... Kamu juga... Patut diacungin jempooolll pol!

@Silpe: Kenneth emang gitu. Cerewet dan rada nyebelin. Tapi dia baik kok... Thanks ya, Silpe... Mwahhh!

Gloria Putri December 21, 2011 at 11:19 AM  

bagian ini rasanya bikin aq pengen peluk shinji...kasihan dia...
aq suka kata2 bagian ini mba :
"..... Semua tentang Lea, akan memudar seiring waktu. Dan itu membuatnya begitu menderita."

haduhhhhh...mba dibikin novel gih sana

Lita December 21, 2011 at 3:37 PM  

@Glo: Maunya sih dibikin novel, tapi kemampuanku menciptakan imajinasi dan bercerita kayanya agak terbatas... heheheh...

Ya. Mudah2an ada pihak penerbit ikutan baca dan... berminat. *mupeng*

Thanks, Glo

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP