Nyanyian Sendu (16)

>> Friday, December 30, 2011

Frienemy

TUNGGU!” Suara teredam dari balik pintu menjawab gedoran pintu di pagi buta.
Lampu di ruang depan menyala, bersamaan dengan lampu teras yang sinarnya kuning temaram, disusul kemudian suara kunci yang diputar dan gagang pintu yang ditarik membuka. Seorang laki-laki jangkung berkulit kecoklatan melongokkan kepala, dan langsung membeliakkan mata melihat tamu tak tahu diri yang mengganggu tidurnya.
“Shinji?” Jose keheranan, “dan… itu…?” Dia tampak terguncang melihat Neela yang tak sadarkan diri di gendongan Shinji. “Ada apa?”
Shinji tak menjawab, segera melangkah masuk tanpa diundang. “Malini ada?” tanyanya, seraya berjalan terseok-seok ke arah sofa panjang di ruang tamu.
“Dia… tidur.” Tampang Jose masam, jelas tak suka. Tapi Shinji tak melihatnya, dia sedang membaringkan Neela hati-hati di atas sofa. “Kenapa dia?”
Shinji menegakkan badannya dan berpaling pada Jose. “Aku mohon… bangunkan Malini,” pintanya memelas.
Keberatan namun tak bisa menolak, Jose mengangkat bahu, dan berjalan buru-buru ke dalam. Saat dia kembali beberapa menit kemudian, Malini mengikuti di belakangnya, masih mengenakan baju tidurnya. Matanya sipit dan rambutnya awut-awutan. Dahinya berlipat, heran bercampur gusar.
“Shin…” Suaranya serak. “Ada apa?”
“Aku pergi,” Jose buru-buru berkata, begitu Shinji mengerlingnya penuh arti. Dia segera berbalik dan kembali lagi ke ruang tengah yang agak tersembunyi dari ruang tamu.
Malini menghampiri Neela yang tak sadarkan diri. Berjongkok di sebelahnya, mengusap pipi dan rambutnya, kemudian mendongak pada Shinji. “Kenapa dia? Apa yang terjadi?”
Shinji mengajak Malini duduk di sofa lain, dan dengan semampunya menceritakan kejadian beberapa jam sebelumnya sejelas dan sesingkat mungkin; tentang Xanadu, tentang Kyouta dan anak buahnya, tentang Neela yang tak sadarkan diri, sementara Malini mendengarkan dengan saksama.
“Mereka mencekokinya dengan bir atau apa pun, sampai dia tak sadarkan diri begitu.” Shinji mengangguk ke arah Neela, yang terlelap di sofa. Tak terbangun sedikit pun.
Malini amat-sangat-cemas, namun dia berusaha menenangkan diri dengan bernapas panjang, dan mengembuskannya amat perlahan. “Apa… mereka akan mengejarmu lagi?” tanyanya, sedikit terbata.
“Sepertinya,” ujar Shinji. “Tapi… mereka tak mungkin mengejar Neela. Mereka hanya inginkan aku—Malini aku…” Shinji tampak ragu mengatakan sesuatu padanya. Tapi, dia harus. “aku mohon… titip Neela,” lanjutnya.
Malini menelan ludah, jelas dia akan menolak, namun kalimat yang terlontar dari bibirnya kemudian berbeda dari yang semestinya. “Ya…, tentu. Tentu.” Dia tersenyum menenangkan.
Thanks,” ucap Shinji, amat lega. Tapi kemudian dia mendesah, membungkukan badannya dan membenamkan wajahnya ke tangan. “Aku akan bunuh Kenneth,” katanya kesal.
“Kenneth…?” Malini mengernyit. “Oh, Kenneth!” dia memekik, sepertinya teringat sesuatu. “Shin… Kenneth amat khawatir pada Neela,” dia memberitahu Shinji. Matanya membulat cemas.
“Sudah seharusnya,” balas Shinji dingin.
“Dia meneleponku, bertanya apa Neela ada di sini, karena Neela sempat bilang ingin menjengukku—dengarkan dulu,” Malini buru-buru mencegah Shinji bicara, “Kenneth terlambat menjemputnya di Trans, di acara talk show, karena jalanan macet, dan begitu dia sampai, mereka mengatakan Neela sudah pulang diantar John, atau—entah siapa. Kenneth pulang ke rumah, dan ternyata Neela tidak ada. Dia panik, sangat. Menelepon Neela, dan tidak dijawab sama sekali. Dia menelepon banyak orang untuk menanyakan nomor ponsel orang yang mengantarnya pulang… dia benar-benar cemas. Terakhir dia mengatakan akan melapor ke Polisi…”
Shinji membeliakkan mata. “Dia tidak bisa!” Segera dia merogoh saku celananya, menarik keluar ponselnya. Bermaksud menelepon Kenneth, tapi Malini mencegahnya.
“Aku mengatakan untuk tidak memberitahukan apa pun dulu pada Polisi,” jelas Malini. “Pers bisa menggila nanti. Aku menyuruhnya menunggu sampai besok.
Shinji memejamkan mata, bernapas lega. Malini benar, Pers bisa menggila, selain itu, O ushi pasti akan mengincar Neela, sama seperti mereka mengincar Lea dulu. Kyouta akan memerintahkan anak buahnya menculik Neela, dan dia tidak menginginkan itu.

“Sebaiknya… kau pergi, Shin,” saran Malini. “Kau sembunyi lagi di suatu tempat, seperti dulu. Neela…, kau jangan cemaskan dia. Mereka tidak tahu kan… kalau, Neela… adalah ‘Neela’?” Mata Malini menyorot tajam pada Shinji, menunggu konfirmasi.
Shinji mengangguk. “Sepertinya mereka tidak tahu. Aku tidak yakin, tapi… sepertinya mereka tak tahu…”
“Apa… Neela tahu, kau yang…”
“Jangan sampai dia tahu. Aku… tidak ingin dia tahu. Kalau dia bertanya, bilang saja, kalau dia mabuk berat, dan seseorang mengantarnya kemari—ya terserah kau sajalah, bagaimana menjelaskannya,” kata Shinji, malas berpikir. “Sebaiknya aku pergi…”
“Kau akan kemana?”
Shinji menaikkan bahu. “Aku akan pikirkan nanti.”
“Kau tak mau melihat keponakanmu dulu?” Malini tersenyum getir, tapi penuh harap. “Dia sedang tidur, tapi… mumpung kau di sini…”
Shinji tersenyum. “Oke.”
“Tunggu.” Malini kelihatan amat bersemangat. Dia bergegas bangkit, dan berjalan ke dalam, meninggalkan Shinji di ruang tamu bersama Neela. Kembali tak lama kemudian, mendekap gumpalan selimut berwarna merah muda yang bergerak-gerak.
“Ini dia…” katanya dengan senyum amat manis, menyodorkan bayi mungil yang terbungkus selimut merah muda itu pada Shinji, “Tara, yang artinya kokoh,” sambungnya. “Dia terbangun, tepat saat aku menggendongnya.”

Hati-hati, Shinji menerima Tara dari Malini. Memerhatikan wajahnya dengan senyum kecil samar di bibirnya. Rambutnya hitam dan tebal, seperti Malini, namun keseluruhan wajahnya, mengambil dari ayahnya, Jose; hidung mancung lurusnya, kulit coklatnya, sampai mata abu-abunya. “Dia akan cantik, dan seksi sekali nanti,” komentar Shinji. “Sepertimu.” Dia nyengir pada Malini, yang langsung menyipitkan sebelah matanya.

Shinji terkekeh, dan membelai pipi Tara dengan sayang. Bayi itu mengamatinya dengan matanya yang bulat, mengejapkan bulu matanya yang panjang lentik. Tangan kecilnya mengepal, terangkat-angkat berusaha menyentuh wajah Shinji. Dan kemudian, senyum menggemaskan merekah di wajahnya.

“Kau harus punya satu,” Malini berkata tiba-tiba, begitu melihat senyum lembut tersungging di bibir Shinji. “Agar hidupmu teratur.”
“Aku ingin,” sahut Shinji, “tapi… sepertinya tak akan sempat.”
“Sempat saja,” timpal Malini, “kalau kau memang berniat. Kau tinggal menemukan seorang perempuan baik dan mencintaimu untuk kau nikahi, yang akan melahirkan anakmu. Gampang.”
Shinji mendengus. “Tidak gampang,” sahutnya. “Perempuan baik dan mencintaiku, mudah ditemukan. Namun perempuan yang dapat menyentuh hatiku, dan membuatku mencintainya kembali, itu yang sulit.” Dia kembali memandang Tara. Menggenggam jemari mungilnya yang masih menggapai-gapai. “Aku menunggu Tara dewasa saja.”
“Baguslah,” sahut Malini, tak disangka-sangka. “Jadi, kau akan berusaha untuk bertahan hidup sambil menunggunya.”
“Aku akan berumur puluhan tahun, kalau begitu. Kau setuju putri cantikmu menikah denganku?”
“Kau pria baik…” kata Malini tulus. “Why not?
Mereka berpandangan diam selama beberapa detik.
“Aku pergi dulu,” kata Shinji. Menyerahkan kembali Tara pada Malini, lalu mengusap matanya yang sedikit berkaca-kaca. “Jose mana?” tanyanya kemudian seraya berdiri.
“Dia pasti tidur,” jawab Malini. “Kelelahan—kami berdua,” tambah Malini. “Tara membuat kami terjaga semalaman; setiap hari.” Malini mendesah, sebagai ungkapan kekesalannya. “But still… worth it.” Dia memandang Tara, dengan mata berbinar.
“Oke,” kata Shinji cepat, setelah selama sepersekian detik terhanyut melihat Malini dan Tara. “Gotta go.”
Malini bangkit, mengangguk. “Take care,” pesannya. “Don’t worry about Neela.
“Telepon aku… kalau ada apa-apa,” balas Shinji, melangkah pergi.
“Shin.”
Shinji berhenti, memandang Malini, yang wajahnya kembali muram. “Ya?”
“Kau akan baik-baik saja, kan?”
Shinji mengangguk. Tersenyum. “I will.”
Setelah itu dia berbalik, melangkah menuju pintu, memutar gagangnya perlahan dan menariknya membuka. “Bye, Malini,” pamitnya, kemudian keluar, dan menutup pintu di belakangnya.
Bye, Shin,” balas Malini pelan, beberapa detik setelah Shinji menghilang. Entah kenapa, sedih.

Subuh merayap seiring Shinji mengemudikan mobilnya menyusuri jalan raya. Dia mengerling arlojinya, dan langsung mengempaskan napas  begitu tahu kalau hampir jam enam pagi. Dia harus segera sampai di Kafe Pagi di daerah Jakarta Pusat, untuk bertemu Juna, sebelum dia olah raga pagi. Pesannya, jangan terlambat.
Sudah jam enam lewat lima belas, saat Shinji memarkir Honda City-nya di samping trotoar. Berlari cepat-cepat menuju salah satu meja di luar, dimana Juna sedang duduk sambil membaca koran pagi yang terbuka di atasnya. Dia mengenakan kaus abu-abu dan celana trening selutut. Tas besar tergeletak di kaki kursi di sebelahnya.
Kafe Pagi masih sepi, sepertinya hanya akan ada Juna dan dirinya di sini.
“Pagi, Jun.” Shinji menarik kursi di depan Juna, dan duduk bersandar. Menoleh ke kanan dan ke kiri; waspada.
Juna menggerakkan bola matanya ke atas untuk melihat Shinji.  “Kau telat. Dan jangan panggil aku ‘Jun’,” katanya dingin. Dia melipat korannya. Meraih cangkir berisi kopi di atas meja, dan menyesapnya sedikit.
Shinji mengernyit. Memerhatikan Juna. Ada yang berbeda dengan penampilannya. “Sejak kapan kau berjanggut begitu?” tanyanya penuh minat. Menyeringai. “Kau terinspirasi Kapten Jack Sparrow, atau apa?”
“Bukan urusanmu bagaimana  pun penampilanku,” tandas Juna. “Ada apa?” tanya Juna segera. “Kau butuh bantuan apa dariku?”
Here we go, pikir Shinji. Dia menarik napas, dan mengembuskannya perlahan sebelum akhirnya bicara amat hati-hati. “Aku… tanpa sengaja, terlibat lagi dengan O ushi.”
Juna berjengit. Wajahnya membeku seketika, seolah ada angin sendingin es yang baru saja menerpa.
“Aku… harus karena…” Shinji mengulang kembali cerita yang baru saja dikatakannya pada Malini tadi pagi pada Juna. Dia juga mengatakan kalau telah meninggalkan Neela di rumah Malini, berharap O ushi tidak tahu atau tidak sadar kalau dia adalah Neela, penyanyi yang sedang populer belakangan ini, sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya. Mengatakan pada Juna kalau dia merasa tolol karena bertindak tolol, tanpa memikirkan efeknya pada dirinya nanti. Dan terakhir, berkata bimbang dan agak linglung, “Aku sebaiknya tidak bicara padamu—oh aku bodoh sekali. Aku sebaiknya pergi,” dan bangun dari kursi, hendak pergi.
“Shin!” panggil Juna, kedengaran seperti bentakan, membuat Shinji membeku. “Duduk.” Dia menjatuhkan kata singkat itu seperti menjatuhkan batu karang yang kokoh di atas Shinji, membuat Shinji kembali duduk tanpa protes sedikit pun.
Juna mengembuskan napas, mencondongkan badannya ke depan. “Kau ingin apa dariku? Menghubungi Dai?”
“Aku… aku tidak tahu…”

Itu jawaban jujur. Shinji memang tidak tahu, kenapa dia menghubungi Juna. Sebagian dari dirinya ingin Juna memberitahu Dai perihal kejadian di kelab malam tersebut, menjelaskan kalau pemukulan itu benar-benar ‘kecelakaan’; tidak diniatkan sama sekali, sehingga dia bisa mencegah Kyouta untuk mengerahkan anak buahnya untuk memburunya, tapi sebagian dirinya yang lain, tak setuju. Berpikir, betapa pengecutnya, kalau dia sampai meminta itu pada Juna, seperti anak kecil yang bersembunyi di ketiak ibunya, atas kesalahan yang dibuatnya sendiri.

“Shin… Kau tidak salah,” kata Juna, memandangnya penuh simpati. “Kau melakukan hal yang benar. Aku pun akan melakukan itu, kalau aku jadi kau. Aku akan menghubungi Dai. Kau… sebaiknya tidak menampakkan diri dulu, sebelum situasi aman. Aku yakin sekali, Kyouta sudah memerintahkan anak buahnya untuk mencarimu.”

Shinji tidak menjawab. Dia bimbang. Tidak tahu harus senang atau bagaimana mendengar kata-kata Juna barusan. “Thanks.” Cuma itu kata yang bisa diucapkannya, tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya.
“Eiji bersamamu?”
Shinji menggeleng. “Dia di Bandung, tapi aku yakin… pagi ini pasti dia sudah diberitahu oleh anak buahnya di Jakarta. Kalau Kyouta mengerahkan anak buahnya, mereka pasti tahu dengan segera.”
“Hidupmu seperti film action,” gumam Juna, mendengus. “Cool.”
“Aku mau bertukar denganmu kalau kau memang menganggap apa yang kualami ini sesuatu yang… keren. Aku akan punya Lea dan Dean, sedangkan kau akan punya ratusan orang yang siap mengejarmu kapan pun kau menunjukkan batang hidungmu di depan mereka.”
Juna tersenyum yang tak mencapai mata. “Kau masih ingin Lea… dan anakku juga sekarang?”
“Kau tahu bagaimana perasaanku pada Lea. Dan aku sangat menyayangi Dean.”
Juna menggeleng. “Sampai kapan pun… perasaanmu itu tidak akan kesampaian,” katanya. “Bahkan bila kau nekat memohon pada iblis sekali pun, mereka tidak akan pernah jadi milikmu.”
“Aku tahu,” senyum Shinji. “Karena itu aku akan terus menginginkan itu. Karena itu satu-satunya hal yang membuatku ingin terus mempertahankan otakku agar tetap waras.”
“Kau sinting.” Juna meraih kembali cangkir kopinya, kemudian meminum kembali isinya.
Cheers to that, Jun.” Shinji tersenyum simpul, memiringkan kepalanya memandang Juna yang sekarang menggeleng pelan, membalas senyumnya. Tapi, mendadak senyum itu raib, berganti dengan ekspresi cemas, begitu suara decit kendaraan terdengar di belakang Shinji. Shinji menoleh ke belakang, dan melihat dua kendaraan hitam besar, diparkir sembarangan oleh pengemudinya. Beberapa orang pria—anehnya tidak bersetelan hitam seperti biasa, keluar dari mobil, dan langsung berjalan ke arah mereka.

Don’t worry, mereka hanya inginkan aku,” kata Shinji pada Juna yang tampak tegang. “Pergilah,” suruhnya.
“Aku tidak bisa,” sahut Juna. “Aku ingin tahu mereka mau apa.”
“Jun.” Shinji melotot pada Juna. “Go…” desisnya. Tapi Juna cuek, malah bersandar, dan menghabiskan kopi di cangkirnya, sebagai ungkapan penolakannya.
“Tuan Shinji,” seseorang menyapa sopan dari belakang.
Shinji mengernyit, memalingkan wajahnya. Seorang pria berwajah ramah, tersenyum padanya. Sama seperti yang lain, dia hanya mengenakan kaus oblong polos dan celana jins santai. Sekilas dia kelihatan biasa saja, namun melihat tato yang menyembul sebagian dari balik kerah kausnya, serta otot-otot tangannya yang mengeras, dia jelas bukan orang sembarangan. 
Pria ini masih muda, sepertinya baru berusia dua puluh dua puluh tujuh tahunan, menarik, dengan postur badan yang  sempurna. Sikapnya tenang, namun entah kenapa, ketenangannya itu terkesan menakutkan.
 “Ya?” jawab Shinji.
“Mohon ikut kami,” pinta pria itu, sopan.
“Kau siapa?” tanya Shinji.
Pria itu mengerling Juna, yang memandangnya dengan dagu terangkat. Seolah menantang. “Saya akan mengatakannya di mobil.”
“Bagaimana kalau saya tidak mau ikut?”
“Anda harus. Tuan Eiji meminta saya menjemput Anda. Tidak peduli, Anda mau atau tidak.”
Mendengar nama ‘Eiji’, ketegangan Shinji mencair. Lega. “Dimana dia? Bagaimana kalian tahu saya di sini?”
Pria itu kembali mengerling Juna. “Saya akan mengatakannya nanti, di mobil,”ujarnya. "Tuan Eiji, ada di tempat aman."
“Dia teman saya,” kata Shinji, mengangguk pada Juna. “Kau tidak perlu khawatir.”
“Maaf. Sudah prosedur.”
Juna mendengus geli. Dan pria itu langsung menancapkan tatapan tajam ke arahnya. “Ada yang lucu…, Chef Juna?” Wajah ramah pria itu berganti dengan wajah masam pada Juna.
Juna cuma tersenyum, tidak menjawab, dan pria itu kembali bicara pada Shinji, kembali dengan nada sopan. “Mari. Mobil Anda, biar kami yang mengurus.”

Shinji mengembuskan napas. Ingatannya kembali ke masa ke empat tahun lalu, saat dia terpaksa bersembunyi untuk menghindari kejaran O ushi selama beberapa waktu, sampai akhirnya mereka menculik Lea untuk memancingnya keluar. Dan sekarang sepertinya hal itu akan terulang lagi, dan kali ini Eiji akan menutup semua jalan untuknya agar tak ada peluang baginya dapat keluar kemana pun seorang diri, seperti tawanan beresiko tinggi. Shit, kutuk Shinji dalam hati.

“Katakan pada Eiji, aku bisa mengurus diriku sendiri,” ujarnya kemudian. Mendongak menatap pria tersebut, yang langsung mengerutkan kening. “Aku tidak akan ikut dengan kalian.”
“Tapi, Tuan Shinji—”
“Aku tidak akan ikut,” tegasnya. Menghadapkan wajahnya lagi pada Juna, yang dari tampangnya sepertinya tidak setuju dengan keputusannya.
“Kalau begitu, dengan segala hormat, Tuan Shinji, saya mohon maaf,” kata pria itu.
Heran mendengarnya, Shinji menoleh lagi, dan melihat pria itu sedang membungkuk sedalam-dalamnya. Memang apa yang telah dilakukannya sampai dia membungkuk begitu, pikir Shinji bingung.
Tiba-tiba, dengan gerakan cepat, dan sama sekali tidak diduga, pria itu menghujamkan ujung telunjuknya ke leher samping Shinji, membuat Shinji langsung lemas. Merosot lunglai dari kursinya. Pria itu segera menangkapnya, bersuit, ke arah empat pria yang menunggu di belakangnya.
“Bawa dia ke mobil,” perintahnya dingin, setelah empat pria itu memegangi Shinji.
Bersama-sama mereka mengangkat Shinji, dan membawanya pergi menuju mobil, sedangkan pria itu berdiri di depan Juna yang menyipit memandangnya. Tidak kelihatan gentar sama sekali.
“Maaf, atas kejadian itu,” ujarnya pada Juna. “Tapi terpaksa dilakukan. Apa Anda perlu saya totok juga? Agar... Anda lupa apa yang terjadi barusan?”
“Tidak usah cemas. Saya tidak akan mengatakan pada siapa pun. Orang-orang di dalam yang memerlukan itu.” Juna mengedikkan kepalanya ke arah kaca Kafe. “Mereka pasti melihatnya.”
Setelah itu, Juna bangkit. Membungkuk meraih tali tasnya, dan menatap pria itu lagi. “Jaga Shinji baik-baik, Arata,” pesannya, sebelum berpaling. “Katakan pada Eiji, dia berhutang padaku.”
Setelah itu dia pergi, meninggalkan Arata yang hanya tersenyum simpul, memandangnya menjauh.
(bersambung)


Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
gambar dari sini

Read more...

Nyanyian Sendu (15)

>> Friday, December 23, 2011

Unpredictable

SHINJI sedang berada di Jakarta. Dia hendak menjenguk Malini, yang dua hari lalu melahirkan putri pertamanya.
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia enggan untuk bertandang ke Jakarta, namun dia merasa tak enak kalau tidak melihat langsung bayi mungil sahabatnya itu. Jadi, dengan terpaksa dia meninggalkan Bali yang nyaman, dan kembali ke Jakarta yang bising ini.

Eiji ikut, tentu saja. Tapi dia akan ke Bandung lebih dulu untuk… mengurus sesuatu (anggap saja begitu), dan akan kembali besok sore untuk menemani Shinji bertemu Marco, si Dokter, untuk memeriksakan kondisi kepalanya.

Sekarang, Shinji berada di dalam apartemen lamanya. Mengenyakkan diri di sofa hitam empuk, dengan kedua kaki diselonjorkan, sambil menatap televisi di depannya yang sedang menayangkan entah apa. Kepalanya luar biasa pusing sejak tadi siang; sejak dia turun dari pesawat, sehingga dia memilih tidur untuk meredakannya. Ketika akhirnya dia bangun, kamarnya sudah gelap, dan jam digital ponselnya menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh menit. Ditambah lagi hujan deras. Jadi dia memutuskan untuk menengok Malini besok siang. Malas keluar hujan-hujan begini. Lagipula sudah malam, dan dia berpikir  bukan waktu yang tepat untuk menjenguk.

Ponselnya berbunyi mendadak. Memperdengarkan denting kecil yang dikenalinya sebagai nada SMS. Shinji segera menggapai ponselnya di atas meja kecil di sebelahnya, kemudian membaca pesan teks yang terbuka di layarnya.

YOU ARE INVITED TO XANADU’s SOFT OPENING PARTY.
TONIGHT, 23 DECEMBER, 11PM ONWARDS.
COME, AND EXPERIENCE LOTS OF EXOTIC ENTERTAINMENT WITH US!
SAY ‘FRIEND’ TO OUR RECEPTIONIST AND ENTER FOR FREE
SALUTE!
XANADU’s TEAM

Shinji mengernyitkan alis. Siapa yang mengundangnya ke kelab itu? Lagipula bagaimana mereka tahu nomor ponselnya?
Dia mengembuskan napas, seraya meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Sama sekali tidak berpikir untuk pergi ke pesta tersebut, dan memilih untuk menghabiskan waktu di apartemennya saja. Untuk apa? Dia berpikir. Buang-buang waktu saja.

Password?” Laki-laki berambut pirang menyala bertanya. Tangannya yang memegang pulpen membeku di atas kertas yang terjepit di clipboard yang didekapnya.
“ ‘FRIEND’” jawab Shinji pelan.
Si resepsionis menunduk, mencari-cari, dan ketika menemukan apa yang dicarinya, segera menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut. Mengangkat wajah, dan menyunggingkan senyum amat lebar sambil berkata, “Welcome to Xanadu, Mr. Shinji.”
Shinji cuma tersenyum samar, merasa yakin si repsionis tidak melihatnya karena tudung jumpernya yang menutupi separuh wajahnya.
Si resepsionis membuka kait tali bulat merah yang ada di depan gerbang masuk kelab tersebut, dan mempersilakan Shinji masuk.

Dentum musik amat keras segera terdengar di telinga begitu Shinji menyusuri koridor yang seluruh dindingnya dilapisi kaca ungu yang berkerlap-kerlip. Suaranya semakin jelas, ketika dia sampai di ujung koridor, langsung menghadap ke balkon berisi barisan meja dan kursi tinggi yang diletakkan di sisi pagar pembatas atau di sebelah dinding di sisi lain yang tak terkena cahaya lampu yang temaram. Sinar laser melontar ke segala arah, bola-bola lampu yang berputar di langit-langit memancarkan sinar warna-warni yang berganti. Di bawahnya, orang-orang berkumpul, memenuhi lantai dansanya yang bercahaya, menyorotkan warna hijau metalik. Orang-orang itu berdansa heboh, berlompatan atau sekadar bergoyang pelan mengikuti hentakan musik dari lagu yang dibawakan oleh band di atas panggung. Vokalisnya, seorang perempuan cantik, tampaknya orang asing, mengenakan gaun hitam terusan yang amat seksi, menyanyikan refrain lagu ‘We Found Love’ milik Rihanna dengan penuh semangat. Suaranya besar dan sedikit serak. Tubuhnya yang sintal meliuk-liuk, membuat semua laki-laki yang berdiri di bawah panggung di depannya menganga—mungkin berliur, seraya mengacung-ngacungkan minuman yang mereka pegang ke arahnya.

Kelab ini lumayan, Shinji membatin, menyunggingkan senyum simpul.
Dia berdiri di depan pagar pembatas, yang permukaan atasnya agak lebar, sehingga dia bisa bersandar dengan bertopang pada kedua sikunya.

Banyak selebriti datang ke sini. Tak jauh di depannya, Rafi Ahmad, Olga Syahputra dan beberapa temannya, duduk mengelilingi meja. Lalu Luna Maya juga bersama temannya, berdiri di depan bar di bawah, seperti biasa tampak cantik dengan apa pun pakaian yang dikenakannya. Terlihat juga beberapa  pengacara ngetop, politikus muda yang sedang naik daun, dan tak ketinggalan para sosialita yang duduk di kursi-kursi VIP yang mengitari lantai dansa; agak tersembunyi oleh atap balkon. Tampaknya semua orang terkenal Jakarta berada di sini malam ini—semua orang-orang yang berkecimpung di industri hiburan. Andaikan Malini tidak berisitirahat di rumah pasca melahirkan, dia juga pasti ada di sini sekarang.

Shinji menurunkan bagian depan tudung jumpernya. Semakin ke bawah semakin baik, karena akan menyulitkan orang lain melihat wajahnya; tidak menginginkan seorang pun mengenalinya. Tujuannya kemari hanya sekadar ingin tahu wujud kelab malam baru ini dan suasana di dalamnya, bukan untuk bersilaturahmi dengan siapa pun.

Tepuk tangan amat riuh membahana memenuhi ruangan, bercampur suara pekik dan jerit riang dari semua orang yang terhibur oleh lagu yang dibawakan band di atas panggung. Kemudian lagu berganti. Shinji mengenali intro lagu dari Mike Posner terbaru, Looks Like Sex. Seorang pria hitam berbadan tinggi besar maju ke sebelah vokalis wanita sebelumnya. Kepalanya botak, kemejanya berwarna kuning terang dipadukan celana jins gelap. Sepatu bot membalut kakinya mulai dari betis. Nyentrik.

Awalnya Shinji menyangka suara laki-laki itu akan berat se’berat’ penampilannya, tapi ternyata suaranya nyaring melengking, persis suara Mike Posner, membuatnya mendengus tersenyum Orang-orang bertepuk tangan, dan kembali menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri.
Shinji mengerling arlojinya yang menunjukkan pukul satu, dan berpikir untuk turun ke Bar di bawah, membeli minuman, meneguknya sampai habis, baru setelah itu pulang. Sudah cukup banyak yang dilihatnya, dan dia mengakui kelab ini oke, jadi lebih baik tak berlama-lama di sini.  
Dia pun berpaling, hendak pergi, tapi sesuatu di bawah sana, membuatnya kembali berpaling. Alisnya berjingkat, dan matanya menyorot tajam ke arah seorang perempuan berkaus putih di tengah lantai dansa. Sendirian, menggoyangkan badannya dengan mata terpejam menikmati musik, meskipun caranya bergoyang tidak seirama dengan musik sama sekali.

Perempuan itu sepertinya mabuk. Dia sama sekali tidak memedulikan sekelilingnya; tidak peduli orang-orang menyenggol badannya. Tidak peduli kalau mereka semua memerhatikannya dengan pandangan seolah dia gila.

Neela benar-benar mabuk, Shinji yakin itu. Wajahnya memerah, dan berkeringat. Shinji menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari sosok Kenneth, tapi sepertinya dia tidak terlihat dimana pun. Dengan buru-buru dia merogoh saku jinsnya, mencari ponselnya untuk menelpon Kenneth, namun ponselnya tidak ada. Pasti tertinggal di mobil, dia membatin. Dia ingat telah meletakkannya di laci dasbor.

Dua orang pria berstelan hitam, berkulit putih, jangkung, dengan tampang oriental yang tadinya berdiri diam di bawah panggung, menyeruak keramaian mendekati Neela. Mereka berdansa mengapitnya; menyentuhkan tangan-tangan mereka ke tubuhnya. Neela mendorong mereka, dan berbalik pergi dengan sempoyongan. Tapi salah satu pria tersebut dengan cepat menyambar tangannya dan menariknya paksa. Neela kembali mendorongnya, tapi pria itu dengan cepat melingkarkan tangannya ke sekeliling pundaknya kuat-kuat. Sekali lagi dia berontak, tapi karena terlalu lemah bahkan untuk berdiri, dengan mudah pria itu menyeretnya pergi. Pria yang satu nyengir penuh kemenangan dan mengikuti di belakang mereka.
Lalu seorang pria lain berkemeja hitam, yang Shinji kenali sebagai presenter sebuah acara di salah satu stasiun televisi swasta, menghadang mereka. Bicara dengan tampang gusar, sambil menunjuk-nunjuk ke arah Neela yang cuma bengong entah sadar entah tidak dengan apa yang terjadi. Namun, begitu salah satu pria itu mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinganya, tiba-tiba si Presenter mundur. Bergeser ke pinggir, memberikan jalan untuk mereka. Menatap pasrah punggung ketiganya yang berjalan menjauh dan menghilang dari pandangan.

Tak seorang pun di lantai dansa yang menyadari kejadian itu.

“Sial!” Shinji mengumpat, seraya berlari menuruni tangga menuju lantai dansa.
Membelah keramaian, menyenggol, mendorong, bahkan menyikut beberapa orang yang menghalangi jalannya. Sempat tergoda untuk meninju wajah presenter pengecut yang sekarang berbicara panik pada beberapa orang mengenai Neela yang dibawa dua laki-laki tidak dikenal dengan tampang hampir menangis, tapi segera mengurungkannya karena berpikir tak ada waktu untuk itu.

Shinji berlari melewati koridor kecil berpencahayaan redup dengan pintu-pintu kedap suara berbaris di masing-masing dindingnya. Di atasnya, terdapat plang kecil bertulisan VIP room, yang membuat perut Shinji serasa anjlok.
Kamar-kamar itu pastilah kamar-kamar privat yang disewa para pengunjung untuk melakukan sesuatu yang tak perlu dijelaskannya lagi.
 Kamar yang mana kalau begitu, dia bertanya-tanya, berdiri di tengah koridor, menengok ke arah pintu di kanan dan kirinya. Cuma satu cara untuk membuktikannya.

Kamar pertama yang dimasukinya berisi sekumpulan pemuda-pemudi yang sedang teler, yang bahkan tak sadar kalau dia telah masuk ke dalamnya. Kamar kedua, tak jauh beda, penuh dengan pria dan wanita setengah telanjang, yang berteriak-teriak dan berjoget-joget tak jelas, dan malah mengundangnya bergabung sambil mengacungkan minuman yang mereka pegang. Kemudian kamar ketiga, keempat, kelima dan keenam—di kamar keenam, dia sempat dilempari gelas, yang pasti mengenainya kalau dia tak buru-buru menutup pintunya, dan Neela masih tak ditemukannya.
Jantung Shinji berdegup semakin kencang, dan kepalanya berdenyut-denyut, Kecemasan dan ketakutan, dia terus berlari dan memasuki kamar-kamar selanjutnya seperti orang gila. Mengumpat sambil membanting pintu, ketika tak menemukan Neela di dalamnya. Hampir saja dia menyerah, berdiri terengah-engah, di tengah koridor dalam, ketika akhirnya seorang pelayan perempuan keluar dari salah satu kamar lainnya, dengan muka yang muram dan cemas. Kepada rekannya, yang menunggu di luar dia berkata, “Sepertinya Neela di dalam,” dengan suara gemetaran. “Mabuk berat,” tambahnya.

Tanpa berpikir apa pun lagi Shinji melesat ke kamar tersebut, tak peduli teriakan pelayan perempuan itu yang tak sengaja terdorong olehnya. Dia membuka pintunya dengan gusar, dan menemukan lima pria, duduk di sofa merah melingkar; Neela duduk di tengah, (syukurnya) masih berpakaian lengkap, namun basah kuyup oleh minuman yang sengaja dituangkan dari botol ke badannya oleh salah seorang pria yang duduk di sampingnya. Shinji mengenali pria itu. Pria yang beberapa tahun lalu pernah menyekapnya bersama Lea. Kyouta Tanaka. Bajingan itu, kutuknya dalam hati. Dia menurunkan tudung jumpernya.

Melihatnya Kyouta langsung tercengang. Berdiri, dan berjalan mendekati Shinji yang napasnya tak beraturan. Seringai yang menyebalkan muncul di wajah culasnya.
“Lihat siapa ini,” dia berkata pada pria-pria lainnya, yang menyambutnya dengan tawa keras. “Yang amat tampan, Shinji Tsubaki—atau kau lebih memilih Shinji Kodame?”
Shinji merentangkan tangannya ke depan, mendorong bahu Kyouta, mencegahnya mendekat. “Aku… tidak ada urusan denganmu,” katanya, agak terputus-putus, karena napasnya masih tersengal. “Aku hanya ingin membawa Neela.”

Neela mengejapkan mata. Dia sadar namun sama sekali tak mengenali situasi mengancam di sekelilingnya. Dari mulutnya hanya keluar suara keluh, seperti suara isak.

Kyouta mendengus. “Perempuan itu?” Dia menunjuk Neela, wajahnya mengernyit. “Apa hubunganmu dengannya? Kenapa kau tidak cari perempuan lain saja? Banyak sekali di luar. Oh, aku tahu… apa dia pacar barumu? Pengganti Lea? Kau pasti sedih ditinggal kawin olehnya.”

Shinji tidak menggubris perkataan Kyouta. Dengan cuek berjalan maju ke depan, dan langsung menghantamkan tinjunya ke muka Kyouta ketika Kyouta menarik lengan jumpernya untuk mencegahnya. Kyouta langsung jatuh tersungkur di lantai, sambil memegangi hidungnya yang sepertinya patah; berdarah banyak sekali.
Melihat bosnya jatuh, keempat pria yang lain segera bangkit berdiri. Salah seorang yang berada paling dekat dengan Shinji mengayunkan tangannya yang mengepal ke arah wajahnya, namun Shinji, yang sudah membekali dirinya dengan bela diri Kendo selama dua tahun di Jepang—ditambah beberapa malam latihan bersama Eiji saat mereka di Bali, dengan cepat menangkisnya, menarik tangan pria itu, dan menyodokkan sikunya ke rusuknya. Pria itu langsung merosot, dan mengerang kesakitan. Tiga yang lain mengeluarkan senjata. Pistol yang lebih dulu diatasi Shinji. Dengan mudah dia menyambarnya, dan menghantamkan bagian pelatuknya ke pelipis si empunya dengan keras, hingga jatuh dan tak sadarkan diri. Setelah itu dia mengacungkannya ke dua pria yang tersisa, yang masing-masing memegang belati meliuk yang ujungnya berkilat-kilat mengancam. Kedua pria ini adalah dua pria yang tadi menarik Neela dari lantai dansa. Melihat pistol tersebut, mereka langsung menjatuhkan senjata masing-masing, dan mengangkat kedua tangan mereka ke atas.

“Berbalik,” suruh Shinji pada keduanya, yang langsung dituruti oleh keduanya tanpa protes.
Dan begitu keduanya membelakanginya Shinji segera memukul kepala mereka berdua dengan pucuk pistol yang dipegangnya sekeras yang ia mampu, sehingga mereka berdua langsung jatuh, bertumpukan di lantai. Pingsan. Dia bahkan tak peduli kalau mereka mati. Shinji benar-benar sudah tak peduli lagi.

Shinji memindahtangankan pistol ke tangan salah seorang pria yang pingsan, untuk menghilangkan sidik jarinya, kalau-kalau Polisi menyelidiki insiden ini. Setelah itu dia menghampiri Neela yang setengah sadar, menggendongnya cepat-cepat, tak lupa menaikkan kembali tudung jumpernya, baru kemudian berjalan menuju pintu.

Dua pelayan yang tadi ada di luar kamar masih membeku di tempat, ketika Shinji melangkahkan kakinya keluar. Mereka memandang Shinji dengan ekspresi cemas dan ketakutan.
“Ada pintu keluar lain dari sini?” Shinji bertanya.
Pelayan wanita mengangguk. “Ada. Ikuti saya.” Dia berpaling ke arah kanan, dan memimpin jalan. Shinji mengikuti di belakangnya.

Mereka melewati koridor sepi, berpapasan dengan beberapa pelayan lain yang baru saja selesai mengantarkan pesanan. Koridor itu terasa panjang sekali untuk Shinji, terlebih lagi dia harus membawa Neela, yang semakin lama semakin berat di gendongannya. Sampai akhirnya, pelayan itu mengatakan, “itu pintu keluarnya” sambil menunjuk ke arah pintu ganda di ujung, tangan Shinji sudah mati rasa, dan sepertinya Neela sudah merosot sampai ke lututnya.

“Saya cuma bisa antar sampai sini,” kata si pelayan agak merasa bersalah. Tapi ucapan terima kasih Shinji yang tulus, langsung membuatnya tersenyum amat manis. Pelayan itu membuka salah satu pintu, agar Shinji bisa lewat.
“Siapa namamu?” tanya Shinji sebelum dia berlalu dari hadapannya.
“Ashika,” sebut pelayan itu.
Shinji mengangguk, kemudian berbalik, meninggalkan pintu ganda itu tanpa menoleh lagi. Dia berada di belakang gedung sekarang. Beruntung sekali, karena mobilnya terparkir tak jauh dari sana.

Sekuat tenaga Shinji berlari. Bernapas lega begitu mencapai mobilnya. Dia terpaksa menurunkan Neela ke atas aspal, untuk mencari kunci di saku celananya, membiarkannya terbaring lunglai. Dia menekan tombol, dan kunci otomatis membuka. Dibukanya pintu belakang, mengangkat Neela, membaringkannya hati-hati di kursi belakang, dan menutup pintu cepat-cepat. Setelah itu dia sendiri masuk ke mobil, duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan segera pergi meninggalkan tempat parkir.

“Brengsek!” Dia menghantamkan tangannya ke kemudi. Baru menyadari apa yang beberapa waktu lalu dilakukannya. Dia telah menyulut pertikaian lagi dengan Mafia O ushi; dengan orang yang sama yang sepertinya akan semakin membencinya setelah malam ini.
Sebagian dari dirinya merasa luar biasa tolol, namun sebagian lagi merasa bangga, karena mampu menjatuhkan lima orang sekaligus tanpa luka berarti, demi menyelamatkan seorang perempuan yang tak berdaya. Bisa dibilang dia adalah pahlawan. Namun memikirkan efek tindakannya nanti, rasa bangga itu segera menguap, berganti dengan rasa khawatir yang membuncah.

Shinji segera membuka laci dasbor, mengambil ponselnya dan menekan salah satu tombol, sebelum menempelkannya di telinga.

Halo,” suara seorang pria menyapa dari jauh.
“Juna… Aku butuh bantuanmu.”
(bersambung)

Ditulis oleh: Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...

gambar dari sini

Read more...

Nyanyian Sendu (14)

>> Monday, December 19, 2011

Nyanyian Sendu to Neela

TAK perlu lama bagi Neela merebut hati pencinta musik tanah air. Single perdananya langsung lompat ke chart teratas stasiun-stasiun radio, hanya dalam waktu seminggu setelah diperdengarkan. Orang-orang bilang, lagunya enak, para kritikus musik mengatakan ‘berbobot’, sedangkan pencinta musik klasik menyatakan takjub atas permainan biolanya yang luar biasa indah—Neela memang memainkan biola sendiri di lagu pertamanya ini. Intinya, semua orang menyukai lagunya; baik musik, suara, maupun liriknya. Lirik yang amat dikenal oleh Shinji.

“Apa kau mau menuntutnya?” tanya Eiji, dari belakang Shinji yang sedang memelototi laptopnya. Membaca berulang-ulang puisi yang beberapa bulan lalu pernah ditulisnya di blognya. Dan tidak sadar ditulisnya.
Shinji mendengus. “Untuk apa?” tanyanya, tanpa menoleh Eiji.
“Sepertinya kau gusar.”
Shinji mengggeleng. “Tidak.”
“Dia menggunakan puisimu sebagai lirik lagu, dan kau tidak keberatan dengan itu?”
Sekali lagi Shinji menggeleng.
“Kau yakin?”
“Ya.”
“Oke, kalau begitu,” kata Eiji. “Tampaknya kau ingin menyimpan apa pun yang ada di dalam hatimu sendiri, jadi aku tidak akan menyinggungnya lagi.”
Good,” sahut Shinji.
Dan Eiji tidak mengatakan apa pun lagi setelah itu. Meninggalkan kamar, membiarkan Shinji sendirian di depan laptopnya. Tercenung memandang blognya yang bernuansa merah hati dan hitam.

Shinji meraih mouse di samping laptop, menggerakkannya, menekan salah satu tombol, mengetikkan sesuatu di menggunakan keyboardnya, meraih mousenya lagi, kemudian meng’klik’nya. Meng-klik-nya lagi, sampai akhirnya muncul sebuah kotak berwarna putih; kotak yang selalu diisinya dengan barisan huruf yang disusunnya untuk membentuk sebuah cerita atau puisi.
Dan hari ini, dia sangat bersemangat untuk mengisinya lagi.

Kutuangkan perasaanku padamu
Tentang kesedihan dan kebimbangan hatiku
Tentang cinta dan kasih sayang yang tak disadari
Tentang kekaguman dan keinginanku atasmu

Ingatanku akan memudar
Namun cintaku akan tetap bertahan
Seiring degup jantung dan nadiku
Bersama dengan napas yang kulepaskan
Kau akan tetap bersamaku

Saat kupergi, jangan menangis, kumohon padamu
Saat kuhilang, biarkan, jangan dicari
Saat ku lepas, tetaplah tegar, jangan menyerah
Ingatlah betapa aku mencintaimu

Andai kau tahu betapa aku mendambakanmu,
ingin kurengkuh dirimu, dan kubisikkan kata cinta tak berujung
Andai kau tahu betapa tersiksanya diriku karena rindu,
Ingin kupeluk dirimu selamanya, tak kubiarkan pergi
Andai waktu banyak tersisa untukku, takkan kusia-siakan untuk hidup bersamamu

-Ditulis oleh Nyanyian Sendu-

Ps.
Dear Neela, kau bisa menggunakan puisiku untuk lagu-lagumu, karena mereka terasa lebih berarti dengan musikmu.

Don’t worry. Aku tidak akan marah,

Salam,

Nyanyian Sendu


Neela termenung membaca email dari seseorang dengan nama Nyanyian Sendu yang sekarang sedang dibukanya. Membaca puisi baru yang ditulisnya kemarin, juga pesan di bawahnya.
Apa ini sindiran? Neela berpikir. Apa ini wujud protes ‘Nyanyian Sendu’ karena dia telah menggunakan puisinya sebagai lirik lagu pertamanya? Atau memang benar apa yang dipikirkannya, kalau Nyanyian Sendu mengijinkannya untuk menggunakan puisi-puisi yang ditulisnya untuk lagunya?
Kalau ya, baik sekali dia, gumam Neela dalam hati dengan senyum merekah.

Sejujurnya dia amat takut kalau-kalau Nyanyian Sendu, yang juga adalah pemilik blog bertitel sama, marah dan menuntutnya karena telah mempergunakan salah satu puisinya yang berjudul ‘Ini Aku’ sebagai lirik lagu. Tapi dia memang salah, mengutip puisi orang lain, untuk diakuinya sebagai ciptaannya, tak peduli apa pun alasannya.

“Lebih baik kalau kau sendiri yang menciptakan lagu-lagumu,” Neela teringat saran Kenneth beberapa waktu lalu ketika mereka baru saja sampai di Jakarta, dan hendak memperdengarkan lagu demo pertama ke perusahaan rekaman. Saat itu Neela belum punya lagu sama sekali.
“Tapi aku tak bisa,” katanya jujur.
“Harus. Agar kau punya nilai lebih untuk mereka,” Kenneth bersikeras.
Dengan terpaksa Neela menyanggupinya, kendati sebenarnya dia tak yakin kalau dia bisa menciptakan sebuah lirik lagu yang bagus hanya dalam waktu dua hari. Karena itu dia mencoba mencari inspirasi dari internet; dari situs-situs yang memuat kalimat-kalimat bijak, blog-blog yang memuat puisi-puisi cinta, dan akhirnya suatu sore yang basah oleh hujan, dia sampai di sebuah blog bernuasa merah hati, hitam serta putih, dan terpikat pada salah satu tulisannya yang berjudul: Ini Aku

Ini Aku

Ini aku wahai kekasih yang tak tampak
Memanggilmu lirih agar kau segera tiba
Penantianku terlalu panjang dan kuingin kau disini
Menatapku, menenggelamkanku dalam binar matamu

Ini aku, wahai teman yang tak kenal
Bersedia menerima kekuranganmu demi mengisi hati yang kosong
Kurengkuh erat dirimu dan kunyanyikan lagu merdu
Menyanyi bersama hingga lupa waktu

Ini aku wahai dunia
Lahir dan besar di  permukaanmu yang menakjubkan
Menunggu waktu terakhirku denganmu
Bersama waktu yang semakin menua

Ditulis oleh: Nyanyian Sendu


Ini adalah puisi, itu yang Neela pikir. Namun, dia merasa kata-kata itu amat cocok untuk sebuah lirik lagu. Jadi sore itu, sampai menjelang malam, Neela berusaha menemukan nada untuknya. Mencoba menciptakan musik untuk mengiringinya dengan gitar milik Shinji yang dibelinya beberapa bulan lalu—tak disangka dia mengijinkannya untuk membawa gitar itu bersamanya. Dan hasilnya, Kenneth, pendengar pertamanya, di pagi buta, dan baru saja bangun tidur, sangat menyukainya. Langsung menyukainya. Tidak melontarkan kritik atau komentar-komentar pahit yang biasa diperdengarkannya. Dan bukan hanya Kenneth, pihak recording pun menyukainya, dan mencoba merekamnya di studio, ditambah dengan musik dari biola yang Neela mainkan sendiri. Dan mereka semakin menyukainya. Mencintainya, kalau bisa dibilang.
Roda keberuntungan berputar drastis hari itu. Dan terus bertahan di atas, sampai hari ini, saat Neela menerima email dari Nyanyian Sendu, berisi puisi baru yang ditulisnya, dan juga telah di postingnya ke blognya kemarin.

Oh Tuhan. Betapa Kau menyayangiku begitu besar, gumam Neela, sambil memaku matanya kembali ke barisan huruf yang ditulis oleh Nyanyian Sendu.

Wajah Shinji membayang di matanya kemudian, membuatnya rindu. Laki-laki angkuh itu, tanpa dia sendiri menyadarinya, telah membukakan jalan-jalan lebar bagi Neela untuk melangkah. Dan Neela berjanji, apa pun yang terjadi, sekeras apapun penyangkalan Shinji atas andilnya pada nasibnya yang berubah, dia akan membalas semua kebaikan yang telah diberikan Shinji padanya.

Laki-laki itu…, datang di waktu-waktu termuram dalam hidupnya. Memberikannya tempat untuk tinggal—meskipun Shinji tak mengakui kalau rumah itu adalah miliknya, melainkan Eiji (entah kenapa). Memberikannya makanan dan minuman, tanpa meminta bayaran. Tidak pernah memaksanya melakukan ini-itu sebagai imbalan, dan kendati kelihatannya Shinji membencinya; sering melontarkan kalimat-kalimat yang membuat panas telinga, di dalam hati, Neela yakin kalau dia sesungguhnya baik. Shinji adalah sahabat Lea, idolanya, dan Lea selalu berkata kalau Shinji adalah pria yang baik dan penyayang, dan Lea tak mungkin bohong, karena Shinji memang kelihatan sangat menyayangi Lea. Menyayangi siapa pun yang dekat dengannya.

Dan sore itu, ketika hanya ada dia dan Shinji saja di dalam kamarnya; saat Shinji sakit dan tak sadarkan diri selama dua hari, Neela merasa, kalau dia telah menemukan Shinji yang sebenarnya. Matanya yang menatapnya begitu teduh. Wajah tampannya yang terdiam terlihat begitu tenang, mendamaikan hati. Itu Shinji Tsubaki yang asli, yang akhirnya dapat dilihatnya secara langsung.

Tuhan… lindungi Shinji Tsubaki, Neela berdoa dalam hati. Jangan biarkan dia sakit lagi. Dia sangat baik.

Doanya terhenti, ketika mendadak saja dia bertanya-tanya, sedang apa Shinji sekarang? Apa dia sedang bersam Eiji? Sejenak kemudian Neela mendengus tersenyum. Memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Dan kembali berdoa.

Tuhan… ini memang berlebihan. Tapi kalau boleh, bisakah dia melihatku sedikit saja? Menyadari kalau aku yang sekarang telah patut untuk dipandang? Aku tahu aku tak secantik Lea, namun aku bisa mencintai dengan tulus. Dan Shinji adalah orang yang patut dicintai dengan tulus. Maafkan atas kesombonganku, tapi itulah yang kurasakan padanya sekarang ini. Aku jatuh cinta padanya, meskipun aku tahu kalau dia tak mungkin jatuh cinta padaku. Tapi kalau kau mengijinkannya—Neela nyengir, itu bisa terjadi kan?
Setelah itu dia membuka mata, dan mengembuskan napasnya perlahan. Senyum manis yang lega merekah di wajah cantiknya.
(Bersambung)

Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...
gambar dari sini

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP