Nyanyian Sendu (9)

>> Friday, November 11, 2011


New Comer

“KENNETH Altis?!” Shinji langsung kaget begitu mendengar Malini menyebutkan nama itu.
“Ya. Kenneth Altis,” angguk Malini, memandang heran Shinji. “Kenapa?”
“Di-dia kan gay,” Shinji kelihatan cemas. Ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas.
“Memang kenapa kalau dia gay? Apa hubungannya denganmu? Neela yang akan berhubungan dengannya, kenapa jadi kau yang khawatir?” tanya Malini sengit.
“Apa tak ada yang lain?” kata Shinji, mengerucutkan bibir.
Malini menggeleng. Mantap. “Tidak. Kenneth adalah temanku; aku sangat percaya padanya. Dan dia adalah manager sekaligus pembuat citra yang handal. Meskipun skill musik Neela tinggi, tanpa image yang baik, akan sulit untuknya masuk ke dunia showbiz. Kenneth tahu, kapan harus memulai, dan kapan mengakhiri. Dia  tahu apa yang mesti ditambahkan dan dikurangi dari seorang calon selebriti. Dia juga kritikus fashion—meskipun tidak terlalu diekspos, senang musik, terutama musik klasik, dan yang paling utama, relasinya banyak; mencakup orang terkenal, termasuk para produser, sponsor-sponsor ngetop, dan lain-lain yang ada kaitannya dengan industri musik. Jadi… cuma Kenneth yang paling cocok untuk Neela.”
“Bagaimana dengan fee-nya?” tanya Shinji. “Pasti—”
“Kenneth bukan orang yang gila uang,” sela Malini, “dia lebih mementingkan harga diri. Lagipula dia terkenal bukan karena uang, melainkan karena semua artis yang dimanajerinya pasti ngetop hanya dalam hitungan minggu begitu mereka muncul di publik. Dan kau pastinya tahu siapa-siapa saja artis yang dimanajerinya. Kebanyakan orang-orang yang awalnya bukan selebriti, bukan keluarga selebriti atau teman si selebriti. Aku sudah bercerita tentang Neela; mengenai skill musiknya dan suaranya, dia langsung oke,” tandasnya.
“Tapi kabarnya… dia sedikit sadis.”
“Bukan sadis, tapi idealis,” ralat Malini. “Dia keras pada semua artisnya karena dia ingin menunjukkan kejamnya dunia hiburan. Agar saat mereka mengalami masalah, mereka tidak menyerah begitu saja, dan juga dapat mengontrol sikap dan kalimat mereka di depan pers dan masyarakat. Kau ingat kasus Ariel, dan perempuan yang ditidurinya itu? Kenneth dengan mudah membalikkan hujatan publik menjadi rasa iba pada keduanya.”
Shinji mengangguk-angguk meskipun raut mukanya masih ragu. “Tapi aku masih menginginkan kau yang jadi manajer Neela?” Dia menggaruk dagunya yang tak bercukur.
Malini mengembuskan napas. Berdecak kecil. “Kau yang membuatku berjanji untuk tidak memberitahu Neela apa pun mengenai campur tanganmu. Jadi aku berpikir lebih baik kalau dia juga tidak berhubungan denganku. Biarkan Kenneth yang meng-handle-nya 100 persen.”
“Aku lebih tenang kalau kau yang menghandlenya.”
“Shin,” (suara Malini terdengar membesar dan tegas) “aku ini perempuan. Kadang perasaanku berubah-ubah. Meskipun aku kuat di luar, tapi aku tetap rapuh di dalam. Suatu hari… saat Neela tahu kebenarannya… dengarkan aku dulu,” Malini buru-buru mengangkat tangan begitu bibir Shinji membuka hendak protes, “dan dia menanyakan alasannya, aku ingin agar dia tahu dari orang lain. Bukan aku. Karena akan sulit untukku memberitahu kalau…” Dia tidak melanjutkan. Hanya memandang Shinji, dengan napas yang sedikit berat. “Menjelaskan kalau…” Sekali lagi kalimatnya terhenti, dan dia langsung duduk di sofa di belakangnya. Menarik napas dalam-dalam.

Shinji mengalihkan pandang. Menyandarkan kepalanya ke belakang, menatap langit-langit ruang tengah. Dia memutuskan untuk diam, membiarkan Malini menenangkan diri. Dia tidak mau melihat air mata Malini lagi; menyaksikan wajahnya memucat dan begitu sedih seperti kemarin.
Kemarin, begitu Shinji (dengan berat hati) mengatakan alasan yang mendorongnya untuk membantu Neela; mengenai penyakitnya dan apa yang akan terjadi padanya beberapa tahun lagi sesuai diagnosa dokter, Malini langsung berurai air mata, namun tidak mengatakan apa pun. Dia bahkan pergi meninggalkan rumah entah kemana, dan baru kembali larut malam, dengan mata yang bengkak dan merah. Langsung mendatangi Shinji di kamarnya, dan mengatakan dia setuju membantu asal bukan dia yang menjadi manajer Neela. Dia juga berjanji tidak akan mengatakan apa pun pada Neela, selama Neela tidak mengetahuinya. Tapi saat Shinji memintanya untuk merahasiakan penyakitnya pada Lea, Malini menolaknya mentah-mentah.
“Lea sahabatmu. Sudah sepantasnya kau memberitahunya,” itu katanya kemarin malam. “Kalau tidak... dia akan sangat terpukul begitu mengetahui kalau kau merahasiakan penyakitmu padanya. Dia akan menyalahkan dirinya sendiri. Dan itu buruk. Kau tahu bagaimana Lea.”

“Jadi kapan Kenneth datang?” Shinji bertanya setelah Malini kelihatan agak tenang.
“Besok.”
“Secepat itu?”
“Aku yang memintanya…, karena aku ingin segera kembali ke Jakarta,” jawab Malini. “Perutku tidak enak dari kemarin. Aku ingin segera menemui dokter kandunganku. Jangan tunjukkan tampang begitu,” tegur Malini, melihat muka Shinji yang mendadak muram. “Perutku tidak ada sangkut pautnya denganmu. Dan jangan berpikir penyakitmu akan merubah segalanya.Karena aku yakin, sesakit apa pun dirimu, kau akan tetap bengal seperti biasa. Aku tidak akan mengasihanimu. Aku akan tetap ngomel padamu, biar kau tetap menjaga sikapmu,” katanya dengan dahi yang berkerut.
Shinji langsung mendengus, tersenyum terkulum. Malini buru-buru menyambar majalah di atas meja ruang tengah, meletakkan di pangkuannya, dan menunduk membacanya. Shinji tahu kalau Malini hanya ingin menyembunyikan wajahnya yang sedih; tidak ingin Shinji melihatnya. Mendadak mata Shinji terasa panas. Dia jadi ingin menangis.

Dengan alasan menemaninya berbelanja kebutuhan dapur, Eiji mengajak Neela pergi. Sengaja, agar Neela tidak bertemu Kenneth yang tiba menjelang makan siang dengan taksi yang menjemputnya langsung dari airport.

Shinji hanya pernah melihat Kenneth sekali; di televisi, jadi dia tak begitu familiar dengan wajahnya. Dan saat berhadapan dengannya sekarang yang ada di pikirannya cuma satu: sinis. Tampan memang, Shinji mengakuinya, tapi dia sangat sinis. Dahinya terus-terusan berkerut, bibirnya mengerucut, dan matanya yang abu-abu tak hentinya mengamatinya dari atas ke bawah, membuatnya tak nyaman.

“Apa kau tak akan bicara?” kata Shinji habis kesabaran pada Kenneth yang duduk di sofa di depannya. “Atau dia tak bisa bicara?” Shinji menolehkan wajahnya pada Malini yang duduk di sofa tunggal di sebelah kanannya.

Malini mendelik, memandangnya dengan tatapan ‘kau ini apa-apaan’ yang sangar sekali. Tapi Shinji tak peduli. Mendesah jengkel, dan bangkit dari sofa panjang, menyambar mug di atas meja, lalu berpaling, siap melangkah pergi.

“Feeku 20 persen dari fee artis yang kumanajeri,” Kenneth akhirnya bersuara.
Shinji memutar tubuhnya, melihat pada Kenneth yang menarik perlahan Koran pagi di atas meja di depannya. Santai sekali. “Tidak bisa ditawar, tidak  bisa dikurangi atau dilebihkan,” tambahnya lagi, seraya membuka Koran tersebut. Tidak memandang Shinji sama sekali.
“Berapa yang harus kubayar?” tanya Shinji, memasukkan satu tangannya ke saku celana jins pendeknya, sementara tangan yang satunya memegangi mug, yang isi di dalamnya masih mengepul.
Kenneth menaikkan bahu sejenak. “Tidak ada.” Matanya masih terpancang ke koran. “Aku sudah bilang tadi, aku akan mengambil 20 persen dari artisku.”
Shinji mendengus. Dahinya berkerut-kerut. “Aku mempekerjakanmu, jadi aku harus membayarmu,” katanya.
Kenneth menutup koran, kembali meletakkannya di meja, lalu mengangkat wajahnya sedikit, untuk menatap Shinji. “Satu hal, aku tidak bekerja untuk siapa pun,” tegasnya dengan senyum amat tipis di wajahnya. “Aku yang menentukan artis mana yang ingin kunaungi, bukan orang lain. Lagipula andaikan kau benar-benar ingin membayarku sekarang, kau harus membayar sekaligus. Dan itu akan mahal sekali. Dan kalau ternyata aku gagal membuat…” (dia mengerutkan kening, berpikir sejenak) “Neela—itu kan namanya, sukses, tak akan ada pengembalian.”
Ujung-ujung bibir Shinji berkedut. Sombong sekali dia? Pikirnya.
Kami setuju!” Malini berkata buru-buru sebelum Shinji sempat mengatakan sesuatu. Kenneth memalingkan muka padanya, dan Malini langsung tersenyum manis. “Kau baik sekali, mempertimbangkan itu. Trim, Ken.”

Shinji memandang Malini kesal. Dia membuka mulut, ingin protes, namun pelototan mata Malini langsung membuat bibirnya kembali menutup. Dan sebagai pelampiasan kekesalannya, Shinji berdecak. Mendesah, kembali memalingkan badannya, benar-benar ingin pergi dari ruang tengah. Namun kemudian Kenneth memanggilnya lagi, dan mengatakan sesuatu yang membuatnya sedikit terguncang. “Kau dilarang jatuh cinta pada Neela.”

Shinji membeliak dan mendengus bersamaan. Memutar badannya lagi, memandang Kenneth seolah Kenneth telah melontarkan kalimat konyol padanya. Dan menurut Shinji itu memang konyol.
“Apa katamu?”  kata Shinji, meminta konfirmasi. “Jatuh cinta pada siapa?”
Kenneth mendengus. “Malini sudah bilang padaku mengenai wajah, kulit, dan penampilan Neela,” katanya, masih dengan senyum tipisnya. “Tapi… it’s not a big deal,” dia menaikkan bahunya. “Perawatan wajah, kulit dan tubuh sudah semakin canggih, jadi akan mudah sekali membuat Neela menjadi Laila dalam hitungan hari.”
“Andaikan dia menjadi cantik,” Shinji terkekeh, “aku tidak akan mungkin jatuh cinta padanya,” tegasnya. “Kau tidak perlu cemas.”
“Sebaiknya kau pegang kata-katamu,” timpal Kenneth. “Karena kalau kau ingin Neela tidak tahu mengenai andilmu dalam semua ini, lebih baik kalau kau menutup hatimu rapat-rapat untuknya. Karena kalau tidak” (Kenneth mendengus) “dia yang akan jatuh cinta padamu. Dan itu adalah awal terbongkarnya kebohonganmu. Dan saat dia tahu kau sekarat, apa yang telah kau bangun untuknya akan luruh perlahan; menghancurkan diri dan karirnya sendiri.”
Shinji memandang tajam Kenneth. Sebelah matanya menyipit. “Kau… lakukan pekerjaanmu,” suaranya sedikit bergetar, “tidak usah mencampuri urusan orang lain. Dan kau” (Shinji menunjuk Kenneth) “bisa pegang kata-kataku. Aku tidak akan jatuh cinta padanya. Aku tidak mengenalnya, dan tidak ingin mengenalnya. Anggap saja aku menyumbang cuma-cuma. Masalah hidupnya sekarang atau nanti, bukan urusanku. Dan tidak akan pernah jadi urusanku. Kalau kau butuh sesuatu untuknya sekarang, uang atau apa pun, kau tinggal bilang pada Malini. Bukan padaku.”
Setelah itu Shinji diam, bertatapan sejenak dengan Kenneth yang ekspresinya seolah sedang menilai keseriusan kata-katanya barusan. Dan baru setelah senyum simpul mengembang di wajah Kenneth, dia berpaling. Meneguk kopi di dalam mug yang dipegangnya, dan berjalan keluar dari ruang tengah ke beranda belakang.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...

Extra:
gambar dari sini
Bipasha Basu
Malini saya bayangkan seperti ini. Cantik, seksi, Bolly-look. 
Bekerja menjadi salah satu executive manager di Red Chilies Indonesia, production house milik SRK, yang berpusat di Mumbai, India, dan khusus menangani Shinji dan Lea. 
...
gambar dari sini
Kwon Sang-woo
Ini Eiji. Cool, tenang, dan sebenarnya manis. 
Karakter Eiji di sini sangat penting untuk Shinji.
Karena dia adalah guardiannya.
...
gambar dari sini
Christian Sugiono
Kenneth Altis. Manager Neela nantinya. Ganteng, cerdas, dingin.
Kenneth sebenarnya baik, namun egonya mengalahkan semuanya.
Untuk Shinji, sama seperti Juna, 
Kenneth adalah musuh sekaligus sahabat tak terduga.
...

15 comments:

Dania Adela November 11, 2011 at 1:48 PM  

Meskipun aku kuat di luar, tapi aku tetap rapuh di dalam. >> aw aw awwww... #eaaaaaahhh *mendadak galau* hahhahahaha

2peeeps November 11, 2011 at 1:55 PM  

nice post my friend always take care your health, keep posting.

Lita November 11, 2011 at 5:25 PM  

@Dania: Kenapa kamu jadi galau, dania? Pake "aw aw aw" lagi. *ketawa gede gede*

@2peeps: Tq, peeps

Feby Oktarista Andriawan November 11, 2011 at 9:55 PM  

Wih, kayak cerita-cerita di ftv sctv deh.. :D
D tunggu lanjutannya.. Lam kenal y mbak.. :)

-silpe- November 11, 2011 at 11:47 PM  

Kwoon Sang Woo ini kok mirip sama Kang Ji-Hwan ya? hehehe hanya perasaanku saja mungkin mba lita :)
jangan lama-lama ya nulis lanjutan ceritanya...

Lita November 12, 2011 at 12:43 AM  

@Feby: Tq for visit, Feby. Aku udah berkunjung ke blogmu, dan ngakak abis2an. Sori gak komen, karena komen udah banyak banget... jadi aku memutuskan untuk jadi silent reader aja. heheheh. But I love your blog so much.

@Silpe: Kang Ji-hwan lebih manis dari Kwoon. Tapi sama2 dewasa dan cool. Hihi. Love them both, Silpe.
Keep reading ya...

sarie November 12, 2011 at 3:48 PM  

critanya bagus mba' dua-duanya aku suka lea dan shinji. kenapa nggak di terbittin ajaaa ??? ^_^

Lita November 12, 2011 at 9:03 PM  

@Sarie: Makasih ya sarie, udah suka sama Shinji dan Lea.
Diterbitinnnn??? Hi...i... *nyengir aja deh*

Gloria Putri November 12, 2011 at 11:45 PM  

ya ampun...penggambaranmu ttg tokoh2nya bikin aq syok
eiji itu aq bayangkan bertubuh gempal (paling tdk berisi) dengan wajah lucu, bukan so cute kaya foto itu
lalu malini, dibayanganku tuh cewe chinese pucat dan judes, bukan tipikal sexi
juga kenneth, yang aq bayangin adalah bos ju di sekolah, yg mukanya ganteng tp jutek abis bukan christian sugiono...

ckckckckkc

ternyata....bahasa tulisanmu bs aq mengerti lain yaaa mbaaa

bedewe, neela nya kayak apa?

lita November 13, 2011 at 3:07 PM  

@glo:Tampilan Malini&Eiji sebenernya udh duluan dideskrip di 'Lea'. Jadi bagi yg br ketemu sm mrk di NS, mungkin 'wow' jadinya.Eiji sendiri sebenernya kulitnya agak coklat, tp mukanya yg aku bayangin emang bener2 ky si Kwoon. Wkwkwk.Kalo Kenneth..., well, krn aku suka bgt sm Chris, jd aku jadiin dia 'Kenneth', sàlah satu peran penting di NS... Hehehe. Aku pencinta co cakeup soalnya. ✗ί✗ί✗ί. Maklum ya, Glo. :P

Harun Ar November 14, 2011 at 8:58 PM  

Wuaach... info menerik nie. Mksih

Nitya Krisnantari November 14, 2011 at 10:32 PM  

Hai Lita,

kabarku baik.. kuliahku juga..
marriednya jadinya taun depan hehe.

Oiya aku salut deh sama cerita kamu, sukses terus yaa :D

Annesya November 16, 2011 at 6:14 AM  

kunjungan pertama.
masih bingung... *tolah toleh*

Lita November 16, 2011 at 11:48 AM  

@Annesya: Hei, Non. Akhirnya kau berkunjung juga. Trim, ya...

lombokguide November 17, 2011 at 11:11 AM  

Hihihihiii gay mendengar istilah ini aku jadi meriangg wkwkwkkwkwkkwkkkk, Salam kenal mbak Cakeppp.

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP