Nyanyian Sendu (8)

>> Tuesday, November 8, 2011

gambar dari sini

Neela

PEREMPUAN yang duduk di beranda itu sedang menyanyikan lagu ‘Cinta kan Membawamu’ dari Dewa 19 diiringi petikan gitarnya yang lirih mendayu. Suaranya melengking merdu, tajam dan kuat, meskipun kedengaran begitu getir; menusuk sampai ke hati. Kendati tak bisa menyanyi, Malini tidak pekak nada. Dia tahu betul mana suara tidak bagus, bagus dan sangat bagus. Dan untuk perempuan ini, dia setuju dengan Shinji; suaranya sangat bagus.

Cinta kan membawamu. Dia menyanyikan refrain—nya, dan Malini langsung merinding. Suaranya seolah membelah udara. Membuatnya tanpa sadar menutup mata untuk meresapinya.
Kembali di sini, menuai rindu, membasuh perih.
Bawa serta dirimu
Dirimu yang dulu, mencintaiku, apa adanya
...
© Dewa 19 – Cinta Kan Membawamu

Suara langkah kaki Malini yang tak beralas membuat suara perempuan itu mendadak hilang. Dengan reflek memutar kepalanya ke belakang, untuk melihat orang yang mengusiknya. Begitu mata keduanya bertubrukan, perempuan itu tampak kaget, begitu pun Malini, yang sedikit terpana…, melihat wajahnya.

“Halo...” Perempuan itu lebih dulu menyapa sementara Malini masih mengatasi keheranannya. Bangkit dari lantai kayu buru-buru sambil menenteng gitar dengan satu tangan.
Dia kurus sekali, pikir Malini, sebelum akhirnya tersenyum amat kikuk dan berkata, “Oh... Hai,” yang dipaksakan, sambil mengangkat tangannya sedikit.
Perempuan itu tidak mendekat. Dia berdiri di tempatnya, kelihatan canggung. Matanya memandang sembunyi-sembunyi Malini, kemudian menunduk lagi menatap lantai kayu di bawahnya.

“Kau...” Malini memulai, “tinggal di sini?” Dia berjalan maju, sambil mengamati penampilan perempuan itu dari atas ke bawah. Kurus sekali, gumamnya dalam hati. Wajah yang kusam dan berjerawat, tapi rambutnya... sangat hitam. Tapi tetap saja tak ada cantik-cantiknya. Apa yang membuat Shinji ingin membantunya. Hanya karena suara bagus?
Perempuan itu mengangkat wajahnya cepat-cepat. “Oh, tidak. Saya hanya... sementara...” (perempuan itu tampak kebingungan berkata) “tinggal di sini. Hanya sebentar... sampai menemukan tempat yang baru.”

Malini menatap matanya, dan baru menemukan jawabannya. Mata perempuan ini coklat. Coklat bening dan teduh, persis mata Lea. Pasti ini salah satu alasan di luar bagus tidaknya suaranya, yang membuat Shinji tergerak ingin membantu. Tapi, yang masih menjadi pertanyaan, kenapa Shinji tidak ingin perempuan ini tahu, kalau dia ingin membantunya.

“Aku Malini,” dia menjulurkan tangan dengan senyum manis di wajahnya, “manajer Shinji.”
Perempuan itu menyambut tangannya. “Saya tahu,” katanya cepat. Tapi kemudian matanya membulat, tampaknya merasa kalau ucapannya tidak sopan dan terkesan sok tahu, langsung meminta maaf buru-buru pada Malini, dan menjelaskan maksud perkataannya sebelumnya. “Maksud saya, siapa yang tidak kenal Anda, manajer Shinji dan Lea. Malini,” tambahnya buru-buru. “Semua tahu Anda. Tak ada yang tidak. Sa-saya Neela.” Dia menyebutkan namanya.
“Nila?” angguk Malini penuh tanya, masih menggenggam tangannya.
“N-e-e-l-a,” Neela mengejanya. “Dibaca Nila.”
Malini melepaskan tangan Neela perlahan. Tersenyum lepas. “Nama yang bagus. Siapa yang memberi?”
Senyum canggung lagi, dan Neela tampak enggan menyebut ‘ayah’. “Maksudnya sebenarnya adalah Nila, yang artinya biru,” dia menjelaskan, “tapi agar berbeda dan unik, dia memberinya ejaan lain yang” (Neela menaikkan bahunya sedikit) “seperti itu.”
“Kemana ayah dan ibumu sekarang?” Malini menarik satu kursi, dan mengenyakkan tubuh di atasnya. Matanya sedikit menyipit, untuk mengurangi silau sinar matahari yang menyorot dari atas.
“Oh...” Neela mengembuskan napas, menelan ludah, tidak langsung menjawab. “Mereka sudah meninggal lama sekali, waktu saya masih kecil.” Dia memeluk gitarnya dengan sayang, mengarahkan matanya ke arah senarnya, seolah sedang mengecek kelurusannya.
“Oh… I’m sorry.” Malini kelihatan tak enak hati. “Kenapa?”
“Kecelakaan lalu lintas. Waktu usia saya 6 tahun.”
Malini ber-oh pelan. “Kau asli Bali?” tanyanya lagi, kudian mengangguk ke kursi di depannya, memberi isyarat untuk Neela agar duduk di sana.
Neela menggeleng, meringis tersenyum—Setidaknya dia ramah, Malini membatin. Melangkahkan kakinya yang ramping menuju kursi, menggesernya sedikit, dan duduk. Berhadapan dengan Malini, yang mengamati wajahnya dengan saksama. “Saya lahir di Jakarta,” dia bercerita, “tapi begitu ayah dan ibu meninggal, saya langsung ikut paman—adik ayah saya ke Surabaya. Selepas SMU, saya memutuskan kembali ke Jakarta, tinggal bersama kerabat lain, dan bekerja. Tidak betah, saya merantau lagi ke Bandung, sampai akhirnya, saya ke Bali. Bekerja di sini dan...” Kalimatnya mendadak terhenti. Neela sepertinya menelan apa yang ingin dilontarkannya barusan kembali ke kerongkongannya dengan paksa.
“Dan apa?” Malini berkerenyit.
“Saya dipecat,” lanjut Neela, agak terbata. “Tidak punya pekerjaan lagi; sudah dua bulan. Beberapa hari lalu, saya juga kehilangan tempat tinggal…” Lagi-lagi dia tercekat. Merem mendadak kata-katanya. Tapi Malini berpikir, kalau Neela mungkin cuma malu dengan itu.
“Selama ini kau kos?”
Neela mengangguk. Awalnya ragu, tapi kemudian mengangguk lagi, meyakinkan. Bertukar pandang dengan Malini, selama beberapa detik, sampai akhirnya menunduk lagi  menatap gitar yang dipangkunya.
“Suaramu bagus,” puji Malini setelah terdiam beberapa saat, karena mengamati Neela. “Kau sering menyanyi? Pernah menyanyi di kafe atau semacamnya?” tanyanya antusias.
Pertanyaan Malini mengundang senyum manis di wajah Neela, dan entah kenapa Malini ingat Lea. Senyum yang begitu menyenangkan dan tampaknya selalu datang dari hati. “Saya tidak pernah menyanyi di tempat seperti itu,” geleng Neela. “Penampilan saya” (dia kelihatan malu) “ tidak cukup memadai untuk menyanyi di tempat bagus seperti kafe, klab, dan semacamnya. Saya hanya menyanyi untuk anak-anak.”
Malini mengerutkan kening. “Anak-anak?”
“Saya guru TK. TK kecil. Di suatu komplek perumahan. Guru musik dan seni. Cuma itu yang saya bisa.”
“Kau juga bisa main gitar dengan baik…, apa kau belajar sendiri?”
Neela mengangguk penuh antusias. Tampak bangga. “Ya. Kebetulan, paman saya menyekolahkan saya di sekolah khusus perempuan yang ekstra kurikulernya musik.”
“Dan kau belajar di sana?”
Anehnya Neela menggeleng. Tersenyum lemah. “Biaya ekstra kurikuler musik di sekolah saya sangat mahal, jadi saya tidak bisa ikut,” katanya. Dahi Malini berkerut. “Saya hanya bisa membaca buku-buku teman sekelas saya yang ikut ekskul tersebut. Setelah sedikit paham, saya pergi ke toko peralatan musik—mereka biasanya memberi ijin orang untuk mencoba beberapa instrument, dan saya mempraktekkan yang ada di buku itu dengan istrumen yang saya pinjam di sana.”
Malini hanya bisa membulatkan mata mendengar cerita Neela, Dia tak percaya dengan ceritanya, tapi mendengar permainan gitarnya yang sempurna tadi… “Alat musik apa yang bisa kau mainkan?” dia bertanya. Penuh minat.
“Biola…, piano,”—Mulut Malini membuka lebar, tanpa suara—“cello,”—(mata malini melotot)—“saya juga bisa flute, tapi… sedikit.” Neela nyengir lagi.

Selama sepersekian detik, Malini cuma bisa menganga memandang Neela. Berperang dengan rasa ragu dan rasa percaya yang berputar-putar di kepalanya. Melihat penampilannya yang jauh dari terawat, Malini tentu ragu akan semua perkataanya, tapi… melihat betapa tenangnya dia memetik gitarnya; belum lagi suara merdunya… Malini ingin sekali memercayai semua kata-katanya. Dan Neela tampaknya bukan tipe orang yang senang membual.

Tak lama kemudian Malini mendengus tersenyum. Memandang Neela dengan sorot mata lembut menenangkan. Kemudian, sambil menggigit bibir bawahnya, dia berkata pada Neela, mencondongkan badannya sedikit ke depan, “Kalau kau tak keberatan, maukah kau menyanyi untukku?”
Bibir Neela membuka sedikit, kelihatan heran memandang Malini. “Anda ingin saya menyanyi untuk Anda?”
Malini mengangguk, tersenyum lebar. “Ya.”
“Lagu apa?”
“Kau bisa lagu apa?”
“Banyak. R & B, Pop, Rock, Dangdut—saya suka semua musik,” aku Neela riang.
“Kau yang pilih,” kata Malini tersenyum, seraya mengelus perutnya. “Yang cocok untuk bayiku.”
Neela tampak senang sekali. Dia mengangguk penuh semangat, membenarkan posisi gitar di pangkuannya. Untuk sesaat dia diam, kelihatan sedang berpikir, menatap menerawang ke depan, sampai akhirnya tersenyum kecil, memeluk gitarnya, dan mulai menggerakkan jemarinya di atas senar. Memetiknya satu, memperdengarkan nada yang berkejaran perlahan.
Malini mengenali intronya, dan begitu Neela menyanyikannya, dia tersenyum.

Too really love a woman, to understand her,
You’ve gotta know her deep inside
Hear every thought, see every dream, and give her wings
If she wants to fly
Then when you find yourself lying helpless in her arms,
You know you really love a woman
...
© Bryan Adams-Have You Ever Really Love A Woman

Malini menopang dagu dengan satu tangan, mengamati Neela menyanyi. Suaranya benar-benar terdengar merdu, dan pelafalan bahasa Inggrisnya cukup baik. Tidak kedengaran aneh di telinga.

Sekarang Malini baru percaya bahwa Shinji berkata benar, kalau dia tidak meniduri Neela. Karena dari tampang, Neela jelas bukan seleranya. Dia juga percaya kalau Neela bukan perempuan seperti itu; memanfaatkan tubuhnya agar bisa diorbitkan menjadi penyanyi, karena tubuhnya tidak terlalu seksi untuk membuat Shinji tertarik.

Shinji, tampaknya memang berniat membantu Neela. Tapi… kenapa? Malini berpikir. Bukannya dia tidak senang dengan maksud baiknya, namun dia sangat kenal Shinji. Shinji bukan orang yang begitu saja memberikan bantuan—sekecil apa pun itu, pada orang yang tidak dia kenal sebelumnya. Shinji, bukan orang yang pergi ke tempat-tempat kumuh untuk membagikan nasi gratis pada orang-orang miskin. Dia jarang memberikan sumbangan dalam bentuk apa pun secara langsung pada seseorang. Dia baik, tapi bukan dermawan.
Lagipula, kenapa dia tidak mau Neela tahu mengenai rencananya untuknya? Kenapa harus merahasiakannya?
Sepertinya Malini harus mencari tahu alasannya lebih dulu
...

“Jadi bagaimana?” tanya Shinji tak sabar begitu Malini masuk ke dalam kamarnya. Dia buru-buru mengangkat punggungnya dari kasur. Bersandar di bingkai tempat tidur, sedangkan Eiji duduk membungkuk  di atas sofa tunggal di samping tempat tidur Shinji. Turut memandang Malini.
“Suaranya bagus kan?” tanya Shinji lagi.
Malini berdiri diam, tepat di depan tempat tidur. Menyilangkan tangannya, memandang Shinji dengan tatapan yang tak bisa dipahami.
“Malini?” Shinji memanggilnya dengan nada tanya.
Malini mengempaskan napas tajam, dan berkata, “Kalau kau mau aku membantu, jawab pertanyaanku dengan jujur, apa sebenarnya yang membuatmu mendadak mau membantu orang lain?”
Alis Shinji berjingkat. Dia tampaknya tak menduga pertanyaan tersebut. “Maksudmu?”
“Kau tahu maksudku,” timpal Malini tenang, dalam suaranya yang kokoh bagai batu. “Aku tahu kau, Shin. Kau bukan orang yang senang dalam hal ‘amal-beramal’,” dia menambahkan. “Kau… menyembunyikan sesuatu dariku kan?” tanyanya dengan pandangan menyelidik.


Shinji mendengus. “Tidak ada yang kusembunyikan,” jawabnya. “Aku benar-benar ingin membantu.”
Di sebelahnya, Eiji menegakkan tubuhnya, menopang kedua tangannya di pinggiran kursi, memandang Shinji, yang masih bicara. “Memangnya apa yang kusembunyikan? Apa yang membuatmu berpikir aku—”
“Shin,” Eiji memanggil Shinji. Menatapnya dengan pandangan yang menyuruh diam. Keduanya bertatapan selama sejenak, sampai akhirnya Eiji memulai. “Tidak ada gunanya kau berbohong pada Malini,” katanya, yang membuat Malini langsung melebarkan mata ke arahnya. “Kau mau dia menolong, dan kau tahu hanya dia satu-satunya orang bisa melakukan apa yang kau inginkan… jadi sebaiknya kau katakan padanya hal yang sebenarnya.”

Rahang Shinji mengeras. Dia sangat kesal pada Eiji; berpikir kalau dia telah berkhianat dengan mengatakan itu semua padanya. Padahal Eiji tahu, dia tidak ingin Malini, Lea atau siapa pun tahu mengenai penyakitnya. Dia tidak ingin membuat mereka bersedih atau bersikap sok perhatian, sok sedih atau apalah, bila mereka mengetahui apa yang akan terjadi padanya beberapa tahun lagi. Dan sekarang, dia malah menyarankannya untuk memberitahu Malini. Pada siapa sebenarnya Eiji berpihak? Pada siapa sebenarnya dia berjanji akan setia.

“Malini.” Eiji bangkit berdiri, memandang Malini yang keheranan. Eiji tak lagi mengenakan kata ‘nona’ di depan namanya, dan itu sedikit aneh. “Kau sebaiknya duduk,” katanya lagi, menggerakkan kakinya menjauhi sofa, seolah mempersilakan Malini menggantikan posisinya. “Shinji akan menceritakan apa yang mesti kau tahu. Dan aku yakin… akan memerlukan waktu lama baginya untuk menjelaskan, dan untuk membuatmu mengerti dan memahami keinginannya.”
Setelah itu Eiji menoleh pada Shinji, tersenyum simpul dan berkata, “Kare ga rikai suru hitsuyó ga arimasu, Shin.”—Dia pasti mengerti, Shin. “Watashi wa shinjiteimasu.”—Percayalah padaku.
Eiji kemudian pergi, meninggalkan kamar, tanpa menoleh lagi, bahkan tidak mengatakan apa pun pada Malini, yang masih memandanginya penuh tanya. Menutup pintu kamar rapat-rapat, membiarkan Shinji berdua saja bersama Malini.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
… 

7 comments:

Ulfah November 8, 2011 at 1:05 PM  

Bersambung :( Btw mbak, Lea kan mirip Jessica Alba, kalau Neela? Biar imajinasinya makin mantap nih ;)

rona-nauli November 8, 2011 at 1:17 PM  

*nahan napas, nunggu lanjutannya*

Lita November 8, 2011 at 2:09 PM  

@Ulfah: Karakter Neela belum ketemu, meskipun sekelibat ada yang mampir ke kepala.
Just wait okay, nanti pasti diposting, kalau udah ditemuin...
*Nyengirlebar*

@Rona: Madam, aku juga nahan napas. Cerita ini bikin aku kecanduan nulis soalnya. Sama kaya 'Lea'

ann November 8, 2011 at 6:49 PM  

Enjoy it, love it.. ;)

Stay 'n wait 4 next chapter!

Gloria Putri November 8, 2011 at 10:34 PM  

karakter neela nya ngebayangin aq ajaaaa
hahahhahahaa

guru TK, main gitar, nyanyiii....
wkwkwkkwkwkw

ayooo maliniiii, lihat aquuuu......orbitkan aquuu jugaaaa...hahahahhaa

Lita November 9, 2011 at 8:20 AM  

@Ann: Thank you, ya, Ann. Love you, too.

@Glo: It is you, one of the characters inside Neela, Princess.

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP