Nyanyian Sendu (7)

>> Friday, November 4, 2011


It Starts

Come to Bali. Immediately. I need u.

Hanya itu pesan singkat yang Shinji ketikkan di BBM-nya untuk dikirimkan pada Malini.  Singkat, namun pastinya cukup untuk membuat Malini memesan tiket dan berangkat ke Bali sesegera mungkin. Dan dugaannya benar, tak sampai lima detik sudah ada balasan darinya; balasan yang sama singkatnya, namun amat informatif.

I’ll be there tomorrow.

Shinji mendengus tersenyum. Dalam hati mengucapkan terima kasih pada kesetiaan Malini dan dedikasinya yang besar. Sebenarnya Shinji tak enak hati membuatnya terbang ke Bali mengingat kondisi Malini yang sedang hamil, namun… terpaksa.

Tok Tok

Shinji menoleh ke arah pintu beranda, dan melihat perempuan itu; berdiri di ambangnya dengan senyum ragu di wajahnya yang tirus. Rambutnya dikuncir kuda, dan dia mengenakan kaus abu-abu dan celana hitam selutut. Tampak kurus sekali. Kalau saja tak mendengarnya kemarin, Shinji pastinya tak percaya kalau suara merdunya keluar dari tubuhnya yang ringkih itu.

“Ada apa?” tanya Shinji dengan nada dingin dan ekspresi yang sama dinginnya.
“Saya hanya mau berterima kasih,” jawab perempuan itu, seraya berjalan pelan mendekat. Harum sabun tercium seiring langkahnya, tampaknya dia habis mandi. “saya diijinkan untuk tinggal sehari lagi di sini.” Dia tersenyum sopan, berdiri canggung dengan tangannya mengepal-ngepal di samping badannya.
“Jangan berterima kasih padaku,” tukas Shinji acuh tak acuh. “Berterimakasihlah pada Eiji. Rumah ini punya dia,” katanya lagi, berbohong. “Terserah dia untuk mengijinkan siapa pun tinggal. Bukan urusanku.”
Perempuan itu mengernyitkan wajah, sepertinya dia tak percaya. Tapi kemudian dia mengangguk kecil, menyunggingkan senyum muram, dan berkata, “Terima kasih” yang pelan. Kemudian melanjutkan dengan, “Mudah-mudahan Anda bisa memaafkan perbuatan bodoh saya kemarin. Tapi jujur, saya tidak berniat bunuh diri.”

Shinji menaikkan kedua alisnya sekilas, seolah mengatakan ‘terserahlah’ pada si perempuan, kemudian meraih Black Berry yang tadi diletakkannya di meja beranda. Pergilah, dia membatin, berharap perempuan itu segera masuk ke dalam rumah. Shinji tidak mau terbiasa dengannya, begitu pun sebaliknya, dia tak ingin perempuan itu terbiasa dengannya.
Dan perempuan itu pun memutar tubuhnya perlahan, menggerakkan kakinya pergi, membuat Shinji mengembuskan napas lega yang amat pelan. Matanya tetap terpancang ke Black Berry di tangannya, pura-pura sibuk mengetikkan sesuatu.

“Nama saya Neela,” mendadak suara perempuan itu terdengar lagi, sehingga Shinji kembali menoleh memandangnya dengan tatapan keheranan. “N-e-e-l-a,” dia mengejanya sambil tersenyum manis. Dan ternyata dia memang manis. “Dibaca ‘Nila’,” sambungnya. “Dan saya penggemar berat Anda,” tambahnya lagi.
Setelah itu dia buru-buru berpaling, kembali melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Menghilang dari pandangan dalam sekejap.

Apa-apaan dia? Shinji bertanya-tanya heran. Kenapa perempuan itu dengan penuh percaya dirinya memperkenalkan diri—bahkan mengajarkannya menyebut namanya dengan benar, seolah saja itu penting, dan mengatakan kalau dia penggemar beratnya? Ada-ada saja, geleng Shinji. Berusaha tak menggubrisnya, namun bibirnya membentuk lengkungan samar. Tersenyum.

“Kau tidak membuat masalah lagi, kan?” Itu pertanyaan pertama Malini begitu dia dan Shinji berada di dalam mobil jeep Eiji, yang dipinjam Shinji untuk menjemputnya dari airport.
Shinji tertawa, dan langsung menjawab, “Tidak, Mal… Aku tidak buat masalah.”
Dari cara Malini menatap Shinji sekarang, jelas dia tidak percaya dengan jawaban Shinji. “Kau bohong,” tuduhnya, dengan sebelah mata menyipit.
“Aku tidak bohong,” tegas Shinji, menoleh sekilas. “Swear.”
“Hm...” Malini menghadapkan kepalanya ke depan. Memandang kaca di depannya. “BBM-mu… kedengaran panik,” kata Malini lagi. “Seolah kau dikejar sesuatu.”
“Aku hanya ingin kau segera datang,” ujar Shinji.
“Untuk?”
“Bisnis.”
“Hm?” Malini berjengit. “Bisnis apa?”
“Showbiz.”
Alis Malini semakin naik saking penasarannya. “Maksudmu?”
Here we go, gumam Shinji dalam hati. “Aku… ingin kau mengorbitkan seseorang.”
“Hah?” Malini kelihatan amat terguncang.
Shinji sudah menduga reaksi itu. “Aku menemukan seseorang yang bisa kau manajeri sebagai penyanyi,” kata Shinji cepat-cepat. “Suaranya sangat bagus. Kau bisa dapat pemasukan bagus bila kau mau memanajerinya. Sebagai penggantiku...
Malini menghadapkan wajahnya kembali ke arah depan, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, Nampak sedang berpikir. Sepertinya dia berpikir kalau Shinji mungkin hilang akal.
“Dia memang tidak terlalu cantik tapi—”
“Dia perempuan?” Suara Malini kedengaran amat nyaring menanyakan itu. Dan matanya sedikit melebar, kelihatan gusar.
“Ya. Tapi—”
“Dan kau mau mengorbitkannya sebagai penyanyi? Perempuan mana lagi yang kau tiduri?” tanya Malini dengan nada semanis madu. Tersenyum manis, namun matanya yang tegas, menyorot tajam pada Shinji.
“Mal—”
“Dan bodohnya... kau dengan mudahnya mengiyakan keinginannya untuk menjadikannya artis?!” Suara Malini mendadak mengeras dan cepat. Kau kira gampang?!” semprotnya.
“Malini… Dengarkan aku dulu.”
Oh!” Malini menjambak rambutnya sendiri saking gemasnya, kemudian memandang Shinji lagi. “Aku sama sekali tak menyangka kau menyuruhku jauh-jauh kemari hanya untuk hal konyol begini?!” omelnya. “Sudah! Tolong antar aku kembali ke airport! Aku mau balik ke Jakarta. Oh, Tuhan…” Dia mengelus-ngelus perutnya yang membuncit, dan berusaha keras mengatur napasnya yang tak beraturan.
“Malini, please,” pinta Shinji memelas, menoleh sesekali ke arahnya. “Kau dengar dulu suaranya… Dan aku yakin, setelah kau mendengar suara perempuan ini, kau akan melakukan sesuatu untuknya.”—(Malini memutar bola matanya ke atas)—“Dan aku tekankan, perempuan ini… aku tidak pernah mengenalnya. Aku baru bertemu dengannya dua hari yang lalu… Dia mau bunuh diri—” (Malini berjengit) “—atau kupikir begitu…, tapi yang pasti dia selamat. Dan dia… menyanyi… Suaranya—”
“Diamlah!” hardik Malini, dengan satu tangan terbuka ke arah Shinji, membuat suara Shinji langsung tertelan lagi ke tenggorokan. “Kendarai saja mobilmu dan bawa aku segera ke… ke—kemana pun perempuan itu berada,” suruhnya gusar. Kembali menghadapkan badannya ke depan dengan tangan menyilang di dada. “Aku hanya akan melihat dan mendengarnya saja, setelah itu aku pulang,” katanya lagi dalam suara sedikit keras, kemudian memandang ke depan lagi. Diam seribu bahasa setelahnya.

Shinji sudah meminta Eiji untuk menyuruh Neela—bagaimana pun caranya, menyanyikan satu lagi dengan gitarnya begitu Malini tiba. Dan Eiji berhasil. Dari pesan teks balasan yang dikirimkannya pada Shinji beberapa detik lalu, dia mengatakan kalau dia sekarang sedang berada di beranda, bersama Neela yang sedang menyanyikan lagu ‘Owner of My Heart’-nya Sasha.

Kau dimana? Tulis Eiji.

Baru turun dari mobil. Just wait, balas Shinji cepat, kemudian menekan tombol enter untuk mengirimkannya pada Eiji, lalu memasukkan Black Berry-nya ke saku kemeja.

Malini berdiri diam di depat pintu rumah, masih memberengut. Tangannya terlipat di depan dada. Tidak memandang Shinji sama sekali.
Shinji berjalan pelan ke arahnya, menenteng tas besar milik Malini. Sama sekali tak bisa berkata apa pun untuk meredakan kekesalan Malini padanya. Tapi mau bagaimana lagi?o

“Malini...” Shinji memanggilnya dalam suara pelan yang sedikit canggung.
Malini mendelik, tak menjawab.
“Satu hal... yang aku mohon padamu...”—(wajah Malini semakin masam)—“Aku mohon, setelah kau mendengar suaranya nanti, suka atau tidak suka, tolong..., jangan berkata pada Neela—itu namanya,” Shinji menjelaskan buru-buru, “bahwa aku yang memintamu kemari.”
Bibir Malini membuka sedikit, namun tak bersuara. Sorot matanya cukup jelas mengutarakan keheranannya.
“Dia tak tahu...” kata Shinji lagi, agak tercekat. Dia merasa mengempis ditatap tajam begitu oleh Malini. “kalau aku... akan memintamu...”
Entah kenapa mendadak Shinji tak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia sulit menemukan kalimat yang hendak dikatakannya pada Malini. Dia bahkan tak ingat apa yang ingin disampaikannya pada Malini. Shinji mengangkat tangannya, menyapu rambut sampingnya dengan jari-jarinya. Dia berusaha mengingat, namun tampaknya sulit sekali. Keringat dingin mengucur dari dahi dan pelipisnya. Kepalanya berdenyut lagi.

“Kau baik-baik saja?” tanya Malini, khawatir. Shinji tak menjawab. Sekarang meremas kepalanya dengan kedua tangannya. “Kepalamu... sakit lagi?” Malini menyentuh dahi Shinji yang berkeringat, kemudian turun ke pundak Shinji, mengusap-usapnya. “Shin?”

Pintu mendadak terbuka, dan Eiji muncul dari dalam. Malini menoleh dan langsung membeliak pada Eiji. Tampak terkejut. “Kau...?” tanyanya. Bingung. “Ngapain kau ada di sini?” tanya Malini lagi, tanpa basa-basi.
“Halo... Nona Malini,” sapa Eiji, mengangguk sopan. Tapi kemudian ekspresi tenangnya raib, begitu melihat wajah Shinji yang amat pucat. “Shin?”
Eiji buru-buru menghampiri Shinji, dan memapahnya. “Ayo masuk,” ajaknya. “Kau harus istirahat.”
Dia kemudian membantu Shinji berjalan; masuk ke dalam rumah, sementara Malini bengong di depan pintu. Mengawasi bingung punggung-punggung kedua pria tersebut, yang semakin menjauh dari hadapannya.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...

4 comments:

Ulfah November 4, 2011 at 10:02 AM  

Yes, another update. Thanks ya Mbak sudah update kilat ;) *ciumMbakLita*
Juna-Leanya mana lagi nih? *sayangJuna-Lea*

shafarani November 5, 2011 at 7:51 PM  

mbak, maap ya,
karakter malini selalu membuatku membayangkan Mrs. Weasley yang memerankannya :)
hehehe

Gloria Putri November 5, 2011 at 11:00 PM  

yup...capcus
penasaran sama reaksinya malini pas tau suaranya neela :D
hehehhee

artika maya November 7, 2011 at 2:20 PM  

ternyata emang lg edisi kasiwabara ya lit, hohoho...
eniwei, bisa nulis panjang gini kurasa energi km ckp byk. saluto ^^

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP