Nyanyian Sendu (6)

>> Tuesday, November 1, 2011


Helping Hand

Shinji memandang pemandangan di bawah air. Menahan napas, dan menjaga tubuhnya tetap mengapung. Tangannya menggapai barisan ikan kecil yang berenang melewatinya, yang langsung buyar ketakutan; menjauh dari dirinya.

Tiga tahun dari sekarang... kau akan kesulitan mengingat. Sampai akhirnya kau tidak bisa mengingat apa pun lagi.”  

Shinji berusaha menepis wajah Marco saat menjelaskan diagnosa penyakitnya satu minggu lalu, sebelum dia memutuskan ke Bali; menyepi. Berkonsentrasi penuh pada biru transparan air yang mengelilinginya. Pada ikan-ikan warna-warni yang berpusar di sekitarnya.
Saraf motorikmu—” Shinji menendang air sekeras-kerasnya, mendorong badannya ke atas secepat yang dia bisa. Tidak mau mendengar kata-kata Marco. Dengan panik mengayuh tangannya, berenang ke permukaan—“—akan melemah dan kau...

Suara Marco menghilang begitu kepala Shinji meninju udara di atas air laut yang tenang. Napasnya tersengal karena kelelahan. Mulutnya menyemburkan air bercampur liur, dan dia terbatuk keras.
Susah payah Shinji berenang ke papan selancarnya yang mengapung tak jauh darinya. Menggapai, dan memeluknya erat-erat, menempelkan sebelah pipinya, dengan napas masih memburu.

Aku sakit. Dan aku butuh dirimu...” Ingatannya kembali pada saat dia memberitahu Eiji perihal penyakitnya, dua hari sebelum keberangkatannya ke Bali. “Aku akan sangat sakit, dan aku ingin kau menjagaku, seperti janjimu pada almarhum ayahku...”
Tidak masalah,” sahut Eiji kala itu. “Tapi ibumu... Ibumu harus diberitahu,” lanjutnya.
Dia tidak perlu tahu...”
Dia HARUS tahu!” tegas Eiji garang. “Kau harus memberitahu orang-orang terdekatmu... segera, sebelum kondisimu memburuk.”
...

Sudah hampir senja ketika Shinji menapakkan kakinya menaiki tangga kecil menuju beranda. Menyandarkan papan selancarnya di sudut pagar pembatas, menurunkan risleting baju selancarnya sebatas perut, dan seraya berjalan masuk ke dalam rumah, melepasnya. Air berjatuhan dari rambut dan bajunya, memerciki lantai, dan dia menggerakan kakinya cepat-cepat ke arah kamar mandi. Namun langkahnya terhenti begitu dia melewati kamar tamu, dimana perempuan kemarin tidur.

Sebuah suara kecil lirih terdengar samar-samar dari celah pintu yang terbuka. Sialan, Shinji mengumpat, Eiji belum menyuruhnya pergi.  Dia berdecak kesal, dan hendak menyentuhkan tangannya ke pintu, bermaksud mendorongnya, namun kemudian dia mengurungkannya begitu dia mendengar suara senandung dari dalam, dan suara petikan gitar.


Kau adalah cinta dalam hidupku
Hanya kau. Tak ada yang lain.
Bayanganmu mengisi malam-malam sunyiku
Sampai kapan pun, hanya kau yang bisa melakukan itu
Hanya kau. Tak ada yang lain.
Hei, Sayangku, betapa aku menginginkanmu

Itu laguku. Shinji mengerutkan keningnya. Beku di tempatnya. Tak bergerak.

Betapa aku menyayangimu
Kumohon pandanglah aku sekali saja
Jangan palingkan wajahmu
Renungi perasaanku, jangan kau tepiskan dulu
Belajarlah mencintaiku

Suara perempuan itu begitu merdu, sampai-sampai Shinji terpaku. Tak pernah sekali pun dia mendengar suara yang begitu lembut sekaligus begitu kuat seperti suaranya. Petikan gitarnya amat tajam, dan tak ada cacatnya, seolah saja dia maestro yang seringkali memainkannya. Memunculkan musik-musik indah melalui senarnya.

Lagu itu adalah ciptaan Shinji sendiri, dan dia tak pernah merasa nyaman menyanyikannya. Tapi kenapa, perempuan itu bisa membawakannya begitu syahdu seperti itu. Seolah lagu itu memang diciptakan khusus untuknya.

Kau sedang apa?”
Shinji hampir terlonjak mendengar suara Eiji dari belakang. Dia buru-buru berbalik, dan menghadap Eiji yang sedang mengunyah roti isi dengan cuek, menatap Shinji dengan kedua alis berjingkat.
“Kau darimana saja?” desis Shinji, dengan tampang agak kikuk.
“Aku dari tadi di ruang tamu. Baca koran sore.” Eiji kembali mengigit roti isi di tangan kanannya. “Kau darimana saja?” dia balik bertanya. Memandang dada Shinji yang telanjang dan basah. “Selancar?”
“Aku baru saja berkebun,” sahut Shinji asal. Kesal karena Eiji menanyakan hal yang menurutnya tak perlu lagi ditanyakan. “Kau belum menyuruh perempuan itu per—”

Suara pintu berderit dari belakang, dan Shinji langsung bungkam.
“Hai, La,” Eiji melambai sekilas pada seseorang di belakang Shinji. “Kau sudah bangun?”
Shinji berdecak. ‘La’, Eiji menyebutnya. Mereka sudah saling berkenalan rupanya? Shinji memutar badannya, ingin bertanya kenapa dia, perempuan yang namanya terdiri dari satu suku kata itu, belum juga beranjak dari rumahnya. Tapi sebelum dia sempat mengatakannya, perempuan itu sudah keburu bicara, “Saya mau pamit,” dengan wajah mendongak ke arah Shinji, yang harus sedikit menunduk karena badannya yang tak terlalu tinggi.

“Maaf, saya salah paham dan akhirnya membuat repot Anda dan Eiji,” katanya lagi dengan sopan. “Saya... tak seharusnya memukul Anda, padahal Anda bermaksud baik.”
Luluh mendengar kalimatnya yang sama tertatanya seperti Eiji, namun sudah terlanjur menunjukkan tampang jutek di depan si perempuan, Shinji cuma berdeham. Terbatuk kemudian. Menelan ludah, dan terbatuk lagi, sementara si perempuan memandangnya dengan wajah penuh tanya. Matanya mengejap-ngejap bingung, mengawasi Shinji berlalu dari hadapannya, berjalan ke arah kamar mandi, dan masuk ke dalam. Menutup rapat-rapat pintunya.
...

“Kau mau... apa?” Eiji memandang Shinji seolah Shinji baru saja mengucapkan kata-kata konyol padanya. “Kau yakin?”
“Kau yang bilang sendiri, dia tak punya siapa pun,” ujar Shinji. “Dan kau juga mengatakan kalau dia benar-benar butuh bantuan sekarang. Dia tak punya tempat tinggal, tak punya pekerjaan, dan aku” (Shinji menelan ludah) “ingin membantunya.”
“Tapi Shin...” Eiji mendengus geli beberapa saat, “bukan itu maksudku. Aku berpikir kau bisa mempekerjakannya di sini. Bersih-bersih rumah atau masak kek, bukan menjadikannya penyanyi. Lagipula... yang benar saja. Kau lihat wajahnya? Badannya?”
“Kalau masalah jerawat..., itu bisa diobati. Aku kenal dokter kulit yang bagus di sini. Badannya... dia lumayan tinggi, dan dia hanya perlu makan cukup dan olahraga untuk membentuk badannya.”

Eiji bengong. Tampaknya dia berpikir Shinji benar-benar sudah sinting. Selama sepersekian detik dia cuma megap-megap dan mengejap-ngejap, tak bergerak sedikit pun dari sofa panjang yang didudukinya. Sedangkan Shinji berdiri di depannya, bertolak pinggang menatapnya penuh tanya, menunggu persetujuan.

“Jadi kau mau membayar semua biaya dari... semua yang kau bilang itu?” tanya Eiji dengan wajah mengernyit.
Shinji menaikkan bahunya. “Ya.”
“Dan kau... benar-benar mau menjadikannya penyanyi?” Eiji sekarang mendorong badannya ke depan, kedua sikunya di pangkuannya.  
“Dengan suara seperti itu...? Ya.” Shinji mengangguk pelan. Matanya berkilat, mencerminkan antusiasnya. “Suaranya...” Shinji kembali menaikkan bahunyanya lagi, “bagus.”
“Tidak hanya sekadar ‘suara bagus’, Shin,” tukas Eiji. “Dia perlu mental yang sekeras batu, dan sikap yang patut untuk itu semua,” tambahnya lagi. “Kalau tidak dia bisa depresi, juga tidak terkontrol—”
“Kita cari guru untuknya. Untuk membentuk kepribadiannya, mentalnya, sikapnya...”
“Apa-apaan kau ini? Guru kepribadian sangat mahal.”
“Aku akan membayarnya,” sahut Shinji tak peduli.
“Kau bahkan tak tahu siapa dia.”
“Kenapa sekarang malah kau yang jadi tokoh antagonisnya?” balas Shinji, memasukkan satu tangan ke saku celana cargonya. “Pagi tadi kau sepertinya amat bersemangat memintaku membantunya.”
“Aku memang ingin kau membantu tapi—”
“Karena wajahnya tidak cantik, badannya tidak seksi—” Shinji mengutip kalimat Eiji tadi pagi. “—dan dia tidak menarik?”
Eiji membelalak. “Bukan itu.”
“Lalu apa?”
“Menurutku kau terlalu buru-buru.”
“Intuisimu pagi tadi mengatakan kalau aku harus menolongnya kan? Jadi aku menolongnya. Intuisimu benar. Habis perkara.”
“Shin. Dengarkan aku dulu—”
“Waktuku tak banyak lagi untuk mendengar apa pun, Eiji!” gelegar Shinji mendadak Membuat Eiji terkejut, dan tersentak di tempatnya. “Sekali dalam hidupku aku ingin melakukan sesuatu yang baik... Yang benar..., untuk orang lain! Sebelum...”—napasnya kini tersengal, dan dia kesulitan bicara—“sebelum... aku tidak bisa lagi melakukan apa-apa lagi.” Shinji sepertinya berusaha keras menahan dirinya untuk tidak menangis. “Sebelum aku jadi mayat hidup yang tak berguna.” Dia menelan isaknya buru-buru, namun air matanya mengalir begitu deras ke pipinya yang mulai memerah. Shinji segera menyapunya dengan tangannya. Membenamkan wajahnya kemudian ke kedua tangan, berusaha menenangkan diri.

Pundak Eiji terempas pasrah. Memandang Shinji di depannya yang masih menutupi wajahnya, dengan rasa iba. Berulang kali dia menghela dan membuang napasnya. Bermaksud mengatakan sesuatu yang meringankan hati Shinji, namun tak mampu menemukan satu kalimat pun untuk dikatakan. Jadi dia hanya diam, sampai Shinji akhirnya menurunkan tangannya, menunjukkan mukanya yang muram, dan matanya yang sedikit merah.

“Please, Eiji,” katanya dalam suara serak. “Work with me. Tolong.”
“Baiklah,” jawab Eiji setelah dia mengembuskan napas pelan. “Lagipula pada akhirnya aku harus mengiyakan apa pun maumu kan?”
Shinji tersenyum simpul, mendenguskan kata ‘thanks’ pada Eiji, yang balas tersenyum.
“Kita butuh Malini kalau begitu, kan?” tanya Eiji.
Shinji berdecap, kembali memasukkan tangannya ke saku. “Ya,” dia mengangguk. “Kita butuh dia,” katanya, dengan wajah masam.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...

7 comments:

rona-nauli November 1, 2011 at 8:36 PM  

ngiri ama 'La'...eh, tapi aku ga bisa nyanyi ding. ga jadi ngiri deh hehehe

Gloria Putri November 1, 2011 at 11:17 PM  

aq mau dong ketemu shinki...biar dijadiin artis :D hehehhee
uda gt dibikin langsing+cantik pula....wkwkwkkwkwkw

shinji suruh liat video ku aja mba #ngarep_shinji_ada_betulan :P

Lita November 2, 2011 at 9:36 AM  

@ROna: Bukannya Madam bisa? Yang nyanyi 'kemana... kemana' tuh siapa? Bukannya Ronayu Ting Ting*maksa banget ye?*

@Glo: Iya. Nanti mbk suruh Shinji liat yutub kamu... Siapa tahu dia suka lagu kamu yang The Only Exception tuh... *menyeringai*

shafarani November 3, 2011 at 8:03 AM  

mbak lita,salam kenal,aku pembaca setia cerita Lea-Juna-Shinji dr dulu,cuma slalu bingung mau komen apa. baru sekali ini beraniin nulis komen hehehe.. eh dulu pernah ding,tp ga penting :D

huwaa.. trus si-La mau diikutin kontes mbak? ato gimana? ga sabar pengen baca lanjutannya :))
ayo ayo semangat!
*pake pom pom*

Lita November 3, 2011 at 8:25 AM  

@Shafarani: Makasih ya. Seneng banget ketambahan pembaca setia LeaJuna-Shinji satu lagi.
Jangan pernah bilang komenmu gak penting, ya, Rani, soalnya sekecil apa pun berarti banget buat ku. *hug*

Btw, tunggu cerita lanjutannya, ya... moga2 hari ini bisa publish.

Tq, ya...

Ulfah November 3, 2011 at 11:30 AM  

Baru baca udah chapter ke-6 aja.
Yahh, ga rela si cakep Shinji sakit gitu :'
Kapan-kapan, Dean unyu muncul lagi dong ;)

Lita November 3, 2011 at 12:36 PM  

@Ulfah: tentu Dean akan muncul. sabar aja ya... kalau terlalu ngikutin keinginan pembaca nanti jadinya kaya sinetron stripping deh; kacau balau ceritanya. Hehehe...

Tq, ulfah. Mwah! Mwah!

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP