Nyanyian Sendu (11)

>> Wednesday, November 23, 2011


Reunion and the New Neela

SEJAK pertemuannya dengan Kenneth sebulan lalu, Neela jarang sekali menampakkan diri di depan Shinji—bahkan tak pernah. Kenneth menariknya keluar rumah untuk menjalani semacam terapi ketat, untuk menghilangkan jerawat di wajahnya serta merawat kulitnya. Tapi sebenarnya, kalau dipikir-pikir bukan Neela yang jarang menampakkan diri, melainkan Shinji, yang memang berusaha menghindarinya dengan bangun terlalu pagi setiap harinya. Meninggalkan rumah untuk lari pagi atau berenang di pantai sambil menunggu matahari terbit, dan baru pulang saat Neela sudah pergi. Dan malamnya, saat Neela pulang, Shinji sudah berada di dalam kamar, atau masih berada di luar rumah; hang-out dengan teman, atau pergi ke suatu tempat untuk menyendiri. Atau ke rumah sakit untuk check-up. Check up yang hanya dilakukannya untuk sekadar tahu berapa lama lagi dia punya waktu untuk menyelamatkan semua memorinya.

Shinji punya cara yang tepat—menurutnya, untuk menyelamatkan semua ingatannya yang menurutnya patut untuk diselamatkan. Sebelum semuanya hilang total; sebelum apa yang dikatakan dokter mengenai dirinya terjadi, sebelum dia benar-benar menjadi sesuatu yang disebut zombie, dia akan menuliskan semua kenangan, semua hal, semua kejadian dalam hidupnya dalam sebuah blog. Berpikir siapa tahu semua itu berguna di kemudian hari, untuknya maupun untuk orang lain.

Shinji tak pernah punya blog sebelumnya, tapi dulu dia sering memerhatikan Lea menulis di blog miliknya. Tampaknya asik dan menyenangkan, karena Lea memang senang menulis sementara dia tidak. Namun sekarang, dia memutuskan punya, jadi dia berusaha keras untuk memeras otak demi memuntahkan kalimat-kalimat demi mengisi blognya yang sederhana. Mendekorasi blognya dengan widget-widget yang menurutnya penting. Tapi karena Shinji benar-benar buta dengan tetek-bengek blog; html dan semacamnya, semua itu jadi amat sulit baginya. Eiji membantunya. Namun bantuannya lebih sering membuat Shinji bingung daripada membuatnya mengerti, hingga dia terpaksa menolak bantuan Eiji, dan memilih untuk mempelajarinya sendiri. Dan ternyata mempelajari ‘blog’ memang menyenangkan. Setidaknya dia punya kegiatan lain di dalam kamar, selain berselancar atau chatting, sambil menunggu Neela kembali. Dia juga jadi jarang keluar malam.
Sejauh ini dia baru memosting lima tulisan. Itu pun tak menceritakan hidupnya sama sekali. Bukan hal penting.

“Tidak menarik,” komentar Eiji tanpa belas kasihan, setelah membaca tulisan Shinji di blog. “Bukan dirimu.”
Shinji memutar matanya ke atas. Kesal. “Apa maksudmu ‘bukan diriku’?” tanyanya, memandang Eiji yang sekarang mendorong tubuhnya ke belakang, menyandarkan punggungnya di sofa.
“Tulisanmu… tidak mencerminkan dirimu sama sekali. Lebih mirip bocah yang baru belajar menulis,” jawab Eiji santai. Menyeringai. “Minum obatmu.” Dia mengangguk ke arah piring kecil berisi beberapa pil dan tablet berwarna-warni di atas meja tamu, di sebelah lap top Shinji.
“Aku memang bukan penulis.” Shinji sama sekali tidak melirik piring obatnya.
Try hard. Kalau kau ingin blogmu dibaca orang.”
“Dengan melihat namaku saja, pasti banyak orang berkunjung,” timpal Shinji cemberut. “Mereka pasti membacanya.”
“Ya. Mereka datang sebentar, kemudian pergi, dan mengabarkan pada semua orang kalau kau punya blog yang sangat payah,” sahut Eiji segera. Kembali menunjukkan seringainya.
Shinji melemparkan bantal kursi ke arah Eiji, dan hampir saja mengenai mukanya, kalau saja dia tidak buru-buru menghindar, sambil tertawa terbahak.
Shinji mendengus, kemudian menarik mendekat piring kecil berisi obat yang disiapkan Eiji. 7 sampai sembilan butir, dan harus diminum 3 kali dalam sehari, dan setiap habis meminumnya kepalanya terasa pusing, dan matanya berkunang-kunang karena kantuk. Tapi dia harus melakukannya demi memperlambat penyakitnya.

Suara bel pintu mengaum keras memenuhi seisi ruangan. Baik Eiji, maupun Shinji segera menancapkan mata ke arah jam dinding di tembok atas dapur. Baru jam 7.30, dan Neela sudah pulang?
“Tumben dia datang cepat,” gumam Eiji, bangkit dari sofa. “Lebih baik kau tetap duduk di sana,” katanya cepat-cepat, saat melihat Shinji hendak bangun. “Sesekali kau harus melihatnya, agar tahu perkembangannya.”
Setelah itu Eiji melangkah pergi menuju ruang depan untuk membuka pintu, sedangkan Shinji duduk di sofa. Menuruti saran Eiji, meskipun enggan.

Suara-suara terdengar dari depan. Suara beberapa sepatu memasuki ruang tamu. Neela sepertinya bersama beberapa orang. Mungkin Kenneth. Lalu terdengar suara tangis bayi. Suara tangis yang sangat akrab di telinga Shinji. Dia segera bangun dari duduknya.

“Shin!” Suara seorang perempuan terdengar, diiringi langkah yang tergopoh-gopoh. Dan tak lama kemudian Lea muncul di ruang tengah, memandangnya dengan raut muka yang bingung. Juna dan Dean menyusul setelahnya, bersama Eiji. Tampang Juna masam, sementara Dean, nyengir begitu melihat Shinji.

“Lea…” Shinji tersenyum, berjalan menghampirinya. Kedua tangannya terentang, siap memeluk, namun Lea malah menggamit lengannya, dan menariknya buru-buru ke beranda. Alisnya naik, dan bibirnya mengerucut.

“Kenapa dia ada di sini?” tanya Lea segera, begitu mereka berdua jauh dari jangkauan pendengaran orang-orang di ruang tengah.
“Siapa?” Shinji balik bertanya, meskipun tahu siapa yang dimaksud oleh Lea. Dia masih bingung mencari alasan mengapa Eiji ada di sini. Sama sekali tak siap dengan kemunculan Lea yang tiba-tiba.
“Siapa lagi kalau bukan laki-laki itu—aku lupa namanya,” kata Lea tak sabar. “Kenapa dia ada di sini? Kau tidak terlibat dengan—”
Shinji segera menyela. “Kalau yang kau maksud ‘mafia’, tidak.” Shinji menggeleng meyakinkan. “Eiji hanya kebetulan main ke sini. Sekadar refreshing. Hanya itu,” katanya lagi. Berbohong.
Mata besar Lea menyipit berbahaya. Sudah lama sekali rasanya, Shinji tak melihat matanya menyipit begitu. “Kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Dia bertolak pinggang.
Shinji menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan buru-buru. “Tidak,” jawabnya. “Tak ada yang kusembunyikan.”
Lea tampak belum percaya. Matanya menyorot tajam, wajahnya dimiringkan, seolah sedang memaksa Shinji mengakui kebohongannya. Tapi Shinji aktor, dia bisa menyamarkan kebohongannya dalam ekspresi wajah yang telah dilatih untuk digunakan pada situasi apa pun, sehingga Lea akhirnya menyerah. Wajahnya yang tegang mengendur, matanya menjadi sayu, dan bibirnya melengkung tersenyum. Dan tak lama kemudian, kedua tangannya telah melingkari leher Shinji, memeluknya erat.
“Apa kabarmu?” tanyanya berbisik.
“Baik. Bagaimana denganmu?” balas Shinji, berbisik di telinga Lea.
Lea melepaskan pelukannya. Tersenyum manis. “Baik.”
“Kenapa mendadak kau datang?” tanya Shinji, sekarang agak panik. Dia teringat Neela, yang mungkin akan datang sebentar lagi.
“Tidak boleh?” Lea mengerutkan kening. “Kau keberatan kami datang?”
Mulut Shinji membuka dan menutup tanpa suara, bingung harus menjawab apa. “Ti-tidak. Hanya saja, kau tidak memberitahu sebelumnya. Aku tidak menyiapkan apa pun.” Shinji nyengir, yang menurutnya lebih mirip seringai.
“Aku hanya ingin memberimu kejutan. Juna sedang ada kerjaan di sini, jadi aku dan Dean ikut, agar bisa menengokmu. Ngomong-ngomong, Dean kangen sekali padamu,” Lea memberitahu.
Shinji mendengus tersenyum. Kemudian memalingkan badannya, dan menggerakkan kakinya menyusur lantai kayu beranda, menuju pintu menuju runag tengah yang sebelumnya ditutup oleh Lea. Membukanya, dan segera melangkah masuk ke ruang tengah. Menemukan Juna sedang berbincang dengan Eiji di sofa, dan Dean duduk manis di pangkuannya. Tangan kecilnya meremas-remas boneka karet berbentuk babi yang dipegangnya.

“Hei… Juna,” sapa Shinji, ketika Juna menoleh ke arahnya. “Apa kabar?”
“Pa… pa…” Dean memanggilnya. Menjulurkan kedua tangannya ke arah Shinji. Wajahnya merengek, minta digendong.
Shinji segera mengambilnya dari Juna. Mendekapnya dengan sayang. Dean meletakkan sebelah pipinya di pundak Shinji, tangannya mencengkeram kaus Shinji dan boneka karetnya. Dia selalu begitu kapan pun Shinji menggendongnya.
“Kau yang apa kabar?” kata Juna, mengangguk ke arahnya. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.”
“Bukan urusanmu,” sahut Shinji, seraya berjalan ke salah satu sofa. Duduk sambil menepuk-nepuk punggung Dean. “Ada kerjaan apa di sini?” tanyanya.
“Aku ada konser di Bali,” jawab Juna asal, yang segera disambut dengan dengus oleh Lea yang sekarang duduk di sampingnya. “Menggantikanmu,” sambungnya lagi.
“Hahaha… lucu sekali.” Shinji membelalak. “Demo masak dimana?”
“Hotel bintang lima,” jawab Juna. “Tidak perlu kusebutkan namanya, kecuali kau mau datang.”
“Aku akan datang,” timpal Shinji. “Membawa banyak tomat, untuk kubagikan satu per satu pada penonton untuk melemparnya ke arahmu.”
“Aku tahu kau bisa melakukan itu,” kata Juna. “Tindakan anak TK seperti itu hanya bisa dilakukan olehmu.”
Shinji tergelak, begitu pun Eiji, hanya Lea yang tersenyum lebar, tanpa suara. Sedangkan Juna, ekspresinya datar saja, sama sekali tidak merasa kata-katanya barusan lucu.
“Aku lapar sekali,” kata Juna kemudian. “Apa tidak ada makanan di rumahmu?”

Saat Shinji baru membuka mulut untuk menjawab, suara bel pintu terdengar lagi. Eiji langsung memandang Shinji, kedua alisnya naik, begitu pun Shinji, yang jauh lebih bingung. Itu pasti Neela, pikirnya. Bagaimana ini?
Eiji bangun, dan berjalan kembali ke ruang tamu, sementara Lea, Juna dan Shinji menunggu di ruang tengah. Tak lama kemudian dia kembali, Malini dan Jose mengikuti di belakangnya. Shinji langsung berjengit. Begitu pun Lea dan Malini, yang tampaknya tidak tahu-menahu kedatangan masing-masing. Keduanya langsung berpelukan, membenturkan pipi mereka masing-masing satu sama lain. Jose dan Juna, saling mengangguk untuk menyapa. Begitu pun pada Shinji, Jose hanya mengangguk tersenyum, kemudian duduk di kursi di depan meja dapur, bersama Eiji.
 Bagi Shinji, Jose adalah laki-laki dengan sedikit kata. Jarang sekali mendengar dia bicara—mungkin karena mereka jarang sekali bertemu, atau berinisiatif membuka pembicaraan lebih dulu. Namun sikapnya jauh lebih menyenangkan daripada Juna.

“Kenapa mendadak kalian semua muncul di rumahku?” tanya Shinji heran. “Kalian mau reuni atau apa? Kau kan seharusnya istirahat total di rumah?” Dia berkata pada Malini.
Malini mendelik galak. “Bukankah seharusnya kau senang, dikunjungi banyak teman?” sahutnya sengit, berjalan ke arahnya dengan satu tangan memegangi perutnya yang besar. “Aku tidak apa-apa, aku kan sama Jose.” Dia kemudian merentangkan kedua tangannya pada pada Dean yang memandangnya dengan tatapan yang tidak dimengerti. “Hei, Dean… Ayo, sama Tante,” ajaknya ramah.
Dean memalingkan muka buru-buru. Menyembunyikan wajahnya dengan menyandarkan pipinya lagi di pundak Shinji, untuk mendeklarasikan penolakannya. Shinji langsung mendengus. Tersenyum lebar, sedangkan Malini mencibirkan bibir.
“Aku tidak tahu kenapa anakmu suka sekali pada Shinji, Lea,” kata Malini jengkel. Menoleh ke Lea.
Lea mengangkat bahu. “Aku juga tak tahu,” timpalnya, nyengir.
“Dia bahkan menyebutnya papa,” Juna nimbrung. “Sedangkan padaku dia hanya memanggil ‘Da’.”
“Kau sendiri yang mengajarkannya memanggilmu ‘Daddy’,” ujar Lea. “Mungkin kata itu sulit untuk diucapkan olehnya.”
“Memangnya siapa yang mengajarkannya menyebut Shinji ‘papa’?” Juna tampak kesal.
“Jangan salahkan anakmu kalau hatinya lebih kepadaku daripada kepadamu,” kata Shinji geli. “Aku tidak mengajarkan Dean memanggilku ‘papa’, itu murni dari hati kecilnya yang paling dalam.”
Sejenak sepertinya Juna hendak membalas kata-kata Shinji, namun kemudian dia mendengus, dan bangkit dari sofa. “Aku lapar,” katanya tiba-tiba pada Shinji. “Aku pinjam dapurmu. Seharusnya kau malu, didatangi banyak tamu, tapi tak sedikit pun usahamu untuk menjamu.”
Setelah itu dia berjalan ke dapur, sementara Shinji melongo, kalimat Juna begitu mengena, membuatnya jadi tak enak. Malini dan Lea terkekeh, sedangkan Eiji dan Jose cuma menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum di bibir masing-masing.
Tapi di luar kekesalannya pada Juna, Shinji tahu Juna tak bermaksud begitu, begitu pun sebaliknya, Juna pasti tahu kalau Shinji tak bermaksud dengan kata-katanya.

Masakan Juna terasa fantastis seperti biasa, meskipun sederhana, karena Eiji memang tidak memenuhi kulkas di rumah dengan berbagai macam bahan makanan, mengingat mereka selalu beli makanan di luar. Tapi mereka cukup puas dengan ayam goreng tepung, sambal saus racikan Juna, dan selada cabai hijau, yang baru diciptakan Juna di tengah krisis bahan makanan di rumah Shinji.  Dan ternyata, enak.
Mungkin karena semua orang lapar; mungkin karena suasana malam di beranda ditemani deburan ombaknya, membuat pikiran semua orang nyaman, sehingga makanan yang masuk ke mulut jadi sangat enak. Atau mungkin karena mereka semua sekarang berkumpul; mengobrol dan tertawa bersama seperti ini, sehingga makanan yang melewati kerongkongan sama sekali tak terasa di lidah.
Jujur, Shinji menyukainya. Perasaannya membumbung tinggi karena senang. Dan dia duduk bersandar di kursi beranda sambil memangku Dean yang hampir tertidur. Menyimak cerita Malini mengenai gosip selebriti terbaru yang sedang hot. Dan Juna menimpali dengan kalimat sarkastik, yang membuat semua orang tertawa, dan mengakibatkannya mendapat lemparan selada dari Malini.
Kemudian Dean menangis, keras sekali. Tak bisa ditenangkan oleh Shinji, sehingga Lea terpaksa bangkit dari duduknya untuk mengambilnya. Mengangkat Dean tinggi-tinggi ke atas, mengendus-ngendus bagian belakang celananya.
Shinji meringis jijik. “Kau jorok, Lea,” ujarnya.
Tapi Lea cuek. Segera berjalan menghampiri Juna dan menyerahkan Dean padanya. “Dia pup,” Lea memberitahu Juna. “Aku mau ambil popok dulu di ruang tamu.”
Juna bangun untuk meraih Dean, dan tepat saat itu suara seorang perempuan terdengar dari ambang pintu. Menyapa ‘selamat malam’ dengan sedikit canggung. Semua orang serempak menolehkan kepala ke arahnya, begitu pun Lea dan Juna, yang sedang dalam posisi serah terima. Sama seperti yang lain, memandang Neela dengan tatapan ‘siapa dia’ yang kentara sekali. Hanya Shinji, dan Malini yang memandang dengan terpana, sedangkan Eiji kelihatan biasa-biasa saja. Jelas. Dia kan tidak ikutan sembunyi dari Neela seperti Shinji, sehingga dia pasti melihat perubahan Neela dari hari ke hari semenjak perawatannya dimulai. Dan Neela yang sekarang memang benar-benar berubah. Drastis.

Dia cantik, pikir Shinji, mengamati dari kursinya. Jerawatnya nyaris tak ada—hanya tinggal berupa titik-titik merah kecil samar di pipinya. Rambutnya yang ikal, kini lurus dan hanya ikal di ujung bawahnya saja; tetap hitam, namun sekarang berkilap. Kulitnya yang kusam, kini bersih. Pakaian yang dikenakannya tak lagi asal. Dia kelihatan sangat manis dengan gaun terusan bunga-bunga sebatas paha, dengan bagian tangan lebar dan mengerut. Shinji menunduk untuk menyembunyikan senyumnya. Dia bangga, satu langkah untuk membantu Neela telah selesai.
Malini bergumam dalam suara takjub yang berbisik di sebelah Shinji. “Kenneth has done a great job for her,” sambil terus memandangnya.
Lea? Juna? Kalian di sini?
Kenneth tiba-tiba muncul dari belakang Neela, dan tanpa ragu-ragu langsung menghampiri Lea dan Juna. Mata Neela langsung melebar, begitu melihat mereka berdua. Bibirnya menganga lebar, karena takjub.
Shinji menatap Kenneth kesal. Apa-apaan dia? Gerutunya dalam hati. Kenapa mendadak muncul di sini?

Baru saja Shinji hendak bangkit; bermaksud menghampiri Kenneth, ketika mendadak saja terdengar suara gedebuk keras menghantam lantai. Neela sudah menghilang, dan sekarang berada di lantai. Pingsan.

Eiji dan Shinji buru-buru menghampirinya. Sementara yang lain bangkit dari duduknya, memandangnya cemas. Lea menekap mulutnya, dan Juna hanya menjulurkan kepala, seraya mendekap Dean. Sedangkan Kenneth mengeluarkan dengus tak percaya. Bengong selama sejenak, sampai akhirnya berkata dalam nada agak merasa bersalah. “Aku lupa,” dia  menengok pada Lea dan Juna, “Dia ngefans sekali pada kalian.”
Lea dan Juna segera bertukar pandang tak mengerti.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
So, this is Neela
gambar dari sini
Amrita Rao
Setelah ubek-ubek sana-sini, akhirnya pilihan saya 
jatuh pada Amrita Rao yang sweet banget.
Suka banget sama senyum dan matanya yang berbinar.

8 comments:

novia November 23, 2011 at 8:55 PM  

yak, akhirnya keluarga bahagia Juna-Dean-Lea muncul lagi ya mbak :)

Lita November 24, 2011 at 11:48 AM  

@Novia: kangen soalnya. Hehehe. Kamu kok baru muncul ini? silent reader, ya?

Majalah Masjid Kita November 26, 2011 at 10:38 PM  

ini sudah terbit dalam bentuk buku kah di toko toko buku setempat?!??!

Gloria Putri November 27, 2011 at 2:29 PM  

amrita rao itu kan gambaran setelah dipermak, yg sebelumnya gmn?
wjwkwkwkwkwk

Lita November 29, 2011 at 5:11 PM  

@MajalahMasjid: Belummmmmm... dan tak berharap. Cuma buat blog aja, sih. :)

@Glo: Bayangin muka Amrita Rao, itemin dikit, kasi jerawat kecil2. Wkwkwkwkwk...

Nonanovnov December 1, 2011 at 10:05 PM  

hahahaha, berasa ketangkep basah ni sama mbak lita..

Feby Oktarista Andriawan December 2, 2011 at 12:59 AM  

Jangan hiraukan kata Eiji, teruslah ngeblog Shinji! :D
Penasaran jg kalo Neela sebelum perawatan gimana nih? harusnya bikin gambar before after, hehe..

Lita December 3, 2011 at 7:59 PM  

@Novia: Iya nih. Kamu ketangkep basah2an di kolam renang orang... wkwkwkwkw. Thanks ya, Nov. seneng deh...

@Feby: Eh, ada Feby nimbrung. Kamu baca juga toh, Feb?
Neela sebelum perawatan, pokoknya kacau deh... Gak usah pake before after. Atau coba kamu yang bikinin #ngarep.

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP