Nyanyian Sendu (10)

>> Friday, November 18, 2011


She’s Got It!

KENNETH ingin melihat kemampuan Neela memainkan alat musik lebih dulu, sebelum dia memutuskan untuk benar-benar menjadi managernya. “Aku tidak mau beli kucing dalam karung,” katanya beralasan, waktu Shinji bertanya kenapa dia ngotot ingin membuktikannya. “Menurut orang lain bagus, belum tentu menurutku.”
Kendati kesal—Malini menolak mentah-mentah untuk membatalkan perjajian tempo hari dengan Kenneth dan menganggap Shinji hanya sensi oleh kata-kata Kenneth, tak ada jalan lain untuk Shinji selain menyanggupi permintaan Kenneth. Tapi bagaimana caranya agar Neela memainkan alat musik dan Kenneth melihatnya tanpa datang ke rumah? Shinji benar-benar tidak ingin Kenneth datang ke rumah, karena dia ingin Neela meyakini bahwa dia dan Kenneth tidak saling mengenal; belum pernah bertemu sebelumnya. Ditambah lagi, alat musik yang ada di rumah hanya gitar usang milik Shinji, yang lebih sering dimainkan oleh Neela, sementara Kenneth menuntut Neela memainkan alat musik lain selain gitar, karena menurutnya gitar sudah biasa.
Jadi…?

“Bilang pada Eiji untuk membawanya ke toko alat musik,” saran Malini via webcam, sewaktu Shinji menyampaikan kebingungannya. Malini sudah kembali ke Jakarta, dan dianjurkan untuk istirahat total di rumah oleh dokternya, karena dianggap terlalu stres.
“Toko alat musik?”
“Ya,” angguk Malini, dengan mulut penuh bubur, yang baru saja disuapkannya ke mulut. “Neela pernah bercerita padaku kalau dia sering main piano, biola dan lain-lain dengan gratis di sebuah toko alat musik waktu masih di Surabaya dulu. Coba saja ajak dia ke sana.”
“Ya, kalau dia ingin main, kalau tidak?” timpal Shinji ragu.
“Coba saja dulu,” tukas Malini tegas. “Jangan pesimis, Shin.”

“Aku lagi?” tanya Eiji begitu Shinji menyampaikan rencananya. “Kenapa tidak kau saja?”
“Kau tahu rencanaku; tidak melibatkan diriku sama sekali.”
“Tapi melibatkan dan merepotkan orang lain,” sambung Eiji, seraya berjalan ke dapur. Menyambar gelas dari rak, dan mengisinya dengan air putih di dalam jug kaca di meja dapur. “Lagipula besok aku tidak bisa.” Dia meneguk air putih di gelasnya banyak-banyak.
Shinji bertolak pinggang. “Kenapa tidak? Kau harus—”
“Kakak-kakak sepupumu datang ke Jakarta lusa,” Eiji memotong, dan Shinji langsung membeliak. “Karena kau tidak ingin mereka tahu tentang penyakitmu, jadi aku harus ke Jakarta besok dan menemani mereka untuk beberapa hari. Kalau tidak, mereka pasti akan bertanya-tanya; heran mengetahui kalau aku tinggal bersamamu di sini, sementara mereka tahu kalau kau sama sekali tidak ingin dijaga oleh siapa pun dari ‘kami’,” jelas Eiji.
Selama beberapa saat Shinji hanya tercenung memandang Eiji. Dan saat dia akhirnya bersuara, hanya kata ‘oke’ yang terucap pelan dari bibirnya.
“Sekali ini… kau yang ajak dia.” Eiji tersenyum menenangkan, sekaligus geli melihat wajah Shinji. “Mungkin rencanamu akan berjalan lebih baik kalau kau terlibat sedikit,” katanya lagi. “Atau… minta Kenneth mengundurkan hari pertemuannya sampai aku kembali nanti. Saran yang bagus kan?”

Menurut Shinji juga begitu. Tapi ternyata Kenneth menolak mentah-mentah untuk mengundurkan hari pertemuannya dengan Neela. Beralasan, kalau dia harus segera ada di Jakarta lusa, untuk menemani salah satu artisnya yang akan launching album terbaru, dia meminta Shinji tetap membawa Neela besok ke toko alat musik yang telah mereka sepakati.
“Aku punya banyak artis yang mesti kuurusi,” ujar Kenneth santai. “Jadwalku sangat padat, aku tak ada waktu untuk berlama-lama menunggu,” sambungnya.
“Kalau memang kau sibuk dengan artis-artismu, kenapa kau mau menjadi manajer Neela?” tukas Shinji gusar.
“Malini temanku, jelas aku percaya perkataannya,” balas Kenneth. “Dia tidak pernah salah menilai kemampuan seseorang. Tapi melihatmu kemarin aku jadi agak ragu,” lanjutnya, membuat Shinji ingin sekali membanting ponsel yang digenggamnya untuk melampiaskan kekesalan. “Jadi aku ingin membuktikan sendiri, kalau gadis itu memang punya talenta.”
Kenapa jadi sulit sekali menolong orang, pikir Shinji amat kesal.
“Kau tinggal bawa dia ke Tom’s* besok, dan suruh Neela memainkan alat musik yang disukainya. Aku masuk, dan menyukainya—kalau aku suka, lalu aku akan berkenalan dengannya, dan kau hanya perlu akting tidak mengenalku. Gampang kan?” katanya lagi.

*Tom’s Music Bali: salah satu toko yang menjual peralatan musik, yang berlokasi di daerah Kuta, Bali.

“Tidak segampang itu,” bantah Shinji.
“Oh, gampang saja. Apa sulitnya?” balas Kenneth dengan nada mengejek.
“Kau—”
“Kita ketemu jam 2 sore. Bring her. Sampai besok.” Klik! Kenneth menutup telepon lebih dulu.
Sial, umpat Shinji, memandangi gagang telepon yang masih dipegangnya. “Dia persis perempuan,” gerutunya kesal.

Shinji tidak mengantar Eiji ke bandara Ngurah Rai esok harinya, karena Eiji bersikeras menggunakan taksi untuk mengantarnya ke sana. Sebelum berangkat dia bertanya mengenai rencana Shinji dan Shinji hanya mengangkat bahu dan tersenyum muram, karena dia memang belum menemukan alasan yang tepat untuk membawa Neela ke Tom’s siang ini.
“Bilang padanya kalau kau ingin dia menemanimu ke sana, untuk membeli gitar atau apa pun,” saran Eiji.
“Reputasiku sebagai laki-laki galak, akan luntur kalau aku mengatakan itu,” sergah Shinji segera, membuat Eiji mendengus geli. “Lihat saja tampangnya sekarang,” Shinji mengangguk ke arah Neela yang membeku di atas sofa ruang tengah, menunggu Eiji berangkat. “dia tampak tertekan karena akan berdua saja denganku selama empat hari, dan aku yakin—sangat yakin, dia bisa gila, kalau aku mendadak dengan sopan mengajaknya pergi jalan-jalan.”
Eiji langsung terkekeh.
Neela memang sedikit muram begitu Eiji mengatakan kalau dia akan pergi ke Jakarta selama beberapa hari untuk urusan kerja. Dia sepertinya stres karena harus berdua saja dengan Shinji di rumah. Shinji yang selama ini tak sekali pun menunjukkan sikap bersahabat padanya.

“Bye, Shin!” Eiji berteriak pada Shinji yang berdiri di ambang pintu sebelum dia masuk ke dalam taksi. “Jaga Neela, oke?” Shinji membelalak, namun mengangkat tangan, dan melambaikannya sejenak pada Eiji, yang juga telah berpamitan pada Neela, yang berdiri bersedekap di depan teras, juga berpesan untuk menjaga Shinji—Neela cuma bisa meringis. Dan setelah mengucapkan ‘bye’ sekali lagi pada Neela, Eiji masuk ke dalam taksi, menutup pintu, sempat melambaikan tangannya lagi sebelum taksi bergerak pergi, meninggalkan pekarangan rumah.

Shinji buru-buru masuk ke dalam, sementara Neela, memilih untuk berlama-lama di luar, menunggu sampai taksi yang membawa Eiji menghilang dari pandangan.

Duduk sepertinya pilihan utama Shinji sekarang. Dia segera mengenyakkan badannya di atas sofa panjang. Mengerling jam dinding di tembok atas meja dapur yang menunjukkan pukul satu kurang sepuluh menit. Sebentar lagi jam dua, dan dia masih belum memikirkan alasan yang tepat untuk—
Tiba-tiba Shinji menoleh ke samping kanannya. Menemukan gitar usangnya bersandar di punggung sofa. Senarnya putus. Matanya membeliak, bukan marah, tapi karena menemukan ide.

“Neela!” dia berteriak. Berdiri dari sofa. “Neela!”
Suara langkah seperti berlari terdengar, dan Neela sampai di depan Shinji dengan wajah amat panik. “Ya?” sahutnya, menatap Shinji takut-takut. Matanya berulang kali memandang ke arah gitar di tangan Shinji. Dia tampak ngeri.
“Kau putuskan senar gitarku?” tanya Shinji dingin. Mulut Neela membuka sedikit. Ingin menjawab, tapi sepertinya terlalu takut. “Hei. Aku bertanya, kau jawab,” kata Shinji lagi. Tampangnya amat kesal.
“Se-se-senarnya memang sudah tidak bagus,” kata Neela gugup, “tapi—”
Shinji memotong dengan galak. “Aku tanya, dan kau tinggal jawab ‘ya’ atau ‘tidak’.”
“Ya,” angguk Neela. Dia meremas-remas tangannya untuk mengatasi ketegangannya.

Melihatnya Shinji sebenarnya kasihan, tapi dia harus bersikap tidak menyenangkan padanya. Untuk kebaikannya juga.

“Gitar ini…, ibuku yang membelikan.” Shinji menatap Neela tajam. “Kau seharusnya berhati-hati menggunakan barang milik orang lain, terutama karena kau hanya numpang gratis di sini.” Aku sebenarnya ngomong apa? Pikir Shinji, kaget sendiri betapa mulutnya mampu melontarkan kata sekejam itu pada seseorang. “Kau bahkan tak minta ijinku untuk menggunakannya.”
“Maaf…” ucap Neela sangat merasa bersalah. “Saya akan menggantinya.” Dia mengangkat wajahnya, menatap Shinji dengan sungguh-sungguh. Matanya berkaca-kaca—(Oh, tolong jangan menangis, kata Shinji dalam hati). “Saya sedang mencari pekerjaan. Nanti, begitu saya punya uang saya akan—”
“Tak ada waktu,” Shinji menyela. “Aku sedang butuh gitar sekarang. Ikut aku.” Shinji melangkah melewati Neela menuju lemari susun, dan menyambar kunci mobil yang diletakkan di salah satu raknya. “Kita ke toko alat musik sekarang.” Dia berbalik, memandang Neela yang bengong memandangnya. “Hei. Ayo,” ajaknya.
“Tapi… saya tidak punya uang sekarang.”
“Siapa bilang kau yang akan membayarnya?”
Mata Neela membundar, ekspresinya takjub. “Anda ingin saya pergi bersama Anda?”
Shinji tak menjawab, langsung menyambar lengan Neela dan menyeretnya pergi dengan tak sabar.

Shinji sempat mengira Neela akan bersemangat begitu melihat koleksi alat musik yang ada di Tom’s, dan seperti yang Malini bilang, akan meminta ijin untuk memainkan salah satunya dengan riang. Namun ternyata, Neela cuma bengong. Duduk di kursi tunggu, sambil memerhatikan punggung Shinji yang sedang berbicara pada sales consultant mengenai gitar yang akan dibelinya. Membuat Shinji kesal sendiri.

“Jadi, yang ini yang bagus Mas,” si Sales Consultant meletakkan salah satu gitar akustik di meja konter. Shinji tidak memerhatikan, karena sibuk memandang Neela yang termangu-mangu di kursi d belakangnya. “Yamaha Cedar Top. 6 Senar,” si Sales Consultant memamerkan wawasannya tentang gitar yang dipegangnya, “Nylon. Ringan sekali.”
Shinji hanya menyeringai suram, sambil terus menoleh ke arah Neela. “Harganya?” dia berbasa-basi.
“Tiga juta lima ratus,” jawab si Sales.
Tepat saat itu, ponsel Shinji melengking nyaring, memperdengarkan musik Techno yang mengentak. Nama si penelepon yang tertera di layarnya membuat Shinji mendesah.
“Halo,” sapanya enggan.
Aku sudah sampai. Kau dimana?” tanya Kenneth. Suaranya bercampur dengan suara kendaraan yang was wus melintas. Disusul oleh suara bantingan pintu mobil.
“Di dalam.”
Dia sudah mulai?”—maksudnya Neela.
“Dia tampaknya tak tertarik.”
Kalau begitu aku juga tak tertarik.”
“Aku tidak tahu bagaimana cara menyuruhnya untuk main musik,” desis Shinji jengkel. “Yang dia tahu aku tidak tahu apa pun mengenai kemampuannya memainkan alat musik. Aku tidak bisa begitu saja menyuruhnya. Nanti dia curiga.”
Itu masalahmu,” tukas Kenneth. “Aku di sini untuk melihatnya main musik, bukan—oh Tuhan, apa itu dia, yang duduk itu?” Kenneth kedengaran kaget.
Shinji segera berpaling, dan langsung bertemu pandang dengan Kenneth, yang baru saja masuk, dan sekarang berdiri tak jauh dari Neela yang masih duduk di kursi tunggu. Tampangnya ngeri.
Apa itu dia?” kata Kenneth lagi sedikit berbisik, sekarang berjalan pelan ke bagian dalam gedung.  Shinji memerhatikannya menghilang di balik rak display CD. “Oh Tuhan, akan banyak sekali perombakan di sana-sini.”
Shinji mengabaikan Kenneth. “Jadi bagaimana?”” timpal Shinji, kembali berpaling, meletakkan tangannya ke meja konter. “
Kau yang harus cari cara, Tuan. Dan cepat! Aku tak mau menunggu lama.Klik.
Sial, sekali lagi Shinji mengumpat, merasa kesal Kenneth memutuskan teleponnya.

“Jadi… Mau pilih gitar yang mana, Mas Shinji?” si Sales Consultant bertanya penuh harap, segera setelah Shinji memandang matanya yang agak sipit.
Tapi Shinji hanya melongo. Menatap kosong wajah si Sales Consultant yang tersenyum-senyum kikuk. Pikirannya sekarang fokus pada Neela bukan padanya. Apa yang harus aku lakukan? Dia berpikir keras.

Suara biola terdengar tiba-tiba. Berngak-ngik melengking menusuk telinga. Membuat Shinji spontan menoleh ke belakang. Di samping Neela sekarang, duduk seorang anak anak laki-laki berusia kira-kira 7 tahun atau lebih, sedang memainkan biola. Neela memandang ke arahnya.
“Hm…” bocah itu mengeluh. Ekspresinya kecewa. Dia menjauhkan dagunya dari biolanya. Menurunkan busur biola yang dipegangnya dari empat senarnya yang sedikit bergetar. Memandangnya dengan muram.
“Baru ya?” Neela bertanya.
Bocah itu mendongakkan wajahnya pada Neela kemudian mengangguk. “Tapi suaranya jelek,” katanya. “Biolanya jelek.”
Neela mendengus tersenyum. “Bukan biolanya yang jelek, tapi setelan senarnya yang tidak bagus, makanya suaranya jadi jelek,” timpal Neela lembut.
Alis anak itu berkerenyit. “Memang Tante bisa main biola?” Dia sepertinya tak percaya.
Neela menjawabnya dengan anggukan. Senyumnya mengembang ramah. “Mau Tante perbaiki senarnya?” dia menawarkan.
Tanpa banyak kata anak itu menyodorkan biola dan busur biolanya pada Neela. Kemudian duduk dengan kedua tangan bertopang di dudukan kursi. Kakinya menggantung, tak mencapai lantai.
Neela mengamati senar biola tersebut selama beberapa saat. Kemudian meletakkan dagunya di penyangga dagu dengan hati-hati, meletakkan bagian rambut busur di atas senar-senarnya, baru setelah itu menggerakkannya ke arah bawah dengan sangat perlahan.
Suara ngik parau terdengar, dan dia segera menurunkan biola tersebut. Jari-jarinya meluncur ke penyetel senar, memutar-mutarnya satu-satu, meluncur lagi ke pasak dekat kepala biola, memutar-mutarnya lagi; atas-bawah, kanan-kiri selama beberapa saat—wajahnya berkerut karena berkonsentrasi, lalu meletakkan dagunya lagi di penyangga dagu, menggesekkan busurnya kembali, dan mengulanginya lagi, bila dia merasa suaranya belum pas. Bocah laki-laki di sebelahnya bengong. Matanya mengikuti jemari Neela yang lincah. Mulutnya sedikit membuka, karena takjub. Dan saat akhirnya biolanya memperdengarkan nada amat bersih dan lirih, anak laki-laki itu menganga. Matanya berbinar-binar. Sementara Neela, dengan penuh perasaan, menggesek senarnya dengan busur biola yang dipegangnya. Memainkannya dengan senyum tersungging di bibirnya. Matanya terpejam.

Shinji terpana. Semua orang di sana…, terpana, melihat Neela bermain biola. Dia begitu menghayati. Emosinya seakan tertuang dalam nada yang diperdengarkannya. Jari-jarinya menekan kuat senar-senarnya, bergeser ke kanan-dan ke kiri, seiring ayunan lembut busurnya.
Lagu ‘The Things You Are To Me’ dari Secret Garden, adalah lagu yang sulit dibawakan, namun Neela berhasil menaklukannya. Membuat banyak orang terpukau, terbengong-bengong dan mendesah-desah karena terhanyut suara biolanya yang lirih mendayu. Shinji melihat Kenneth, berdiri tak jauh dari tempat Neela. Mulutnya menganga takjub. Sudut bibirnya membentuk senyum, yang kelihatan seperti senyum puas penuh kemenangan. Dia kemudian memalingkan wajahnya ke kanan, untuk melihat ke arah Shinji. Shinji menganggukkan kepalanya sedikit, dan Kenneth membalasnya dengan anggukan serta senyum. Anggukan dan senyum yang menandakan persetujuan total, yang membuat Shinji dapat bernapas lega.
Sejenak kemudian ponsel Shinji bergetar, dan Shinji segera menjawabnya. “Ya… Ken?”
Ingat. Fee-ku 20 persen,” ujar Kenneth segera. “Kita akan mulai minggu ini.”
Setelah itu dia menutup teleponnya.

(Bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats)

Ini lagu yang dibawain Neela
The Things You Are To Me - Secret Garden

6 comments:

rona-nauli November 18, 2011 at 5:31 PM  

kenapa ya...kenapa aku ngerasa cerita Shinji ini kelanjutannya bakal jadi salah satu cerita paling romantis yg pernah kubaca. sedih, tapi romantis manis :)

#peluk lita erat2

-silpe- November 18, 2011 at 6:38 PM  

Akhirnyaaaa....
setelah ditunggu keluar juga cerita shinji dan neela
Ah, kenapa shinji masi jaim siii....??

Lita November 18, 2011 at 9:01 PM  

@Rona: *Bales peluk Madam* Empuk yeeee??? Hag hag hag...
Bedewe, sepertinya ceritanya akan sedih selama penulisnya yaitu akyu masih dalam keadaan galauuu gini. Aku juga bingung kemana cerita tersayangku ini akan berujung. *mewek*

@Silpe: Hey, Silpe... iiiihhhh kamu baca ya... *nyengirseneng* Malu aku jadinya... Anyway, Shinji jaim kan ada tujuannya...

chiekebvo November 19, 2011 at 9:15 AM  

kyaaa...ada cerbung!! aku udah lama banget ga baca cerita kaya gini..
*save as bookmark blognya* :D
terusin mbak... :D

Lita November 19, 2011 at 2:11 PM  

@Chie: Kyaaa!!! Ada Kebo eh Kevbo *melet*... Baca ya. Tq udah visit balik...

Gloria Putri November 19, 2011 at 7:52 PM  

wahh.....aq juga pengen bs main biola :(

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP