Nyanyian Sendu (11)

>> Wednesday, November 23, 2011


Reunion and the New Neela

SEJAK pertemuannya dengan Kenneth sebulan lalu, Neela jarang sekali menampakkan diri di depan Shinji—bahkan tak pernah. Kenneth menariknya keluar rumah untuk menjalani semacam terapi ketat, untuk menghilangkan jerawat di wajahnya serta merawat kulitnya. Tapi sebenarnya, kalau dipikir-pikir bukan Neela yang jarang menampakkan diri, melainkan Shinji, yang memang berusaha menghindarinya dengan bangun terlalu pagi setiap harinya. Meninggalkan rumah untuk lari pagi atau berenang di pantai sambil menunggu matahari terbit, dan baru pulang saat Neela sudah pergi. Dan malamnya, saat Neela pulang, Shinji sudah berada di dalam kamar, atau masih berada di luar rumah; hang-out dengan teman, atau pergi ke suatu tempat untuk menyendiri. Atau ke rumah sakit untuk check-up. Check up yang hanya dilakukannya untuk sekadar tahu berapa lama lagi dia punya waktu untuk menyelamatkan semua memorinya.

Shinji punya cara yang tepat—menurutnya, untuk menyelamatkan semua ingatannya yang menurutnya patut untuk diselamatkan. Sebelum semuanya hilang total; sebelum apa yang dikatakan dokter mengenai dirinya terjadi, sebelum dia benar-benar menjadi sesuatu yang disebut zombie, dia akan menuliskan semua kenangan, semua hal, semua kejadian dalam hidupnya dalam sebuah blog. Berpikir siapa tahu semua itu berguna di kemudian hari, untuknya maupun untuk orang lain.

Shinji tak pernah punya blog sebelumnya, tapi dulu dia sering memerhatikan Lea menulis di blog miliknya. Tampaknya asik dan menyenangkan, karena Lea memang senang menulis sementara dia tidak. Namun sekarang, dia memutuskan punya, jadi dia berusaha keras untuk memeras otak demi memuntahkan kalimat-kalimat demi mengisi blognya yang sederhana. Mendekorasi blognya dengan widget-widget yang menurutnya penting. Tapi karena Shinji benar-benar buta dengan tetek-bengek blog; html dan semacamnya, semua itu jadi amat sulit baginya. Eiji membantunya. Namun bantuannya lebih sering membuat Shinji bingung daripada membuatnya mengerti, hingga dia terpaksa menolak bantuan Eiji, dan memilih untuk mempelajarinya sendiri. Dan ternyata mempelajari ‘blog’ memang menyenangkan. Setidaknya dia punya kegiatan lain di dalam kamar, selain berselancar atau chatting, sambil menunggu Neela kembali. Dia juga jadi jarang keluar malam.
Sejauh ini dia baru memosting lima tulisan. Itu pun tak menceritakan hidupnya sama sekali. Bukan hal penting.

“Tidak menarik,” komentar Eiji tanpa belas kasihan, setelah membaca tulisan Shinji di blog. “Bukan dirimu.”
Shinji memutar matanya ke atas. Kesal. “Apa maksudmu ‘bukan diriku’?” tanyanya, memandang Eiji yang sekarang mendorong tubuhnya ke belakang, menyandarkan punggungnya di sofa.
“Tulisanmu… tidak mencerminkan dirimu sama sekali. Lebih mirip bocah yang baru belajar menulis,” jawab Eiji santai. Menyeringai. “Minum obatmu.” Dia mengangguk ke arah piring kecil berisi beberapa pil dan tablet berwarna-warni di atas meja tamu, di sebelah lap top Shinji.
“Aku memang bukan penulis.” Shinji sama sekali tidak melirik piring obatnya.
Try hard. Kalau kau ingin blogmu dibaca orang.”
“Dengan melihat namaku saja, pasti banyak orang berkunjung,” timpal Shinji cemberut. “Mereka pasti membacanya.”
“Ya. Mereka datang sebentar, kemudian pergi, dan mengabarkan pada semua orang kalau kau punya blog yang sangat payah,” sahut Eiji segera. Kembali menunjukkan seringainya.
Shinji melemparkan bantal kursi ke arah Eiji, dan hampir saja mengenai mukanya, kalau saja dia tidak buru-buru menghindar, sambil tertawa terbahak.
Shinji mendengus, kemudian menarik mendekat piring kecil berisi obat yang disiapkan Eiji. 7 sampai sembilan butir, dan harus diminum 3 kali dalam sehari, dan setiap habis meminumnya kepalanya terasa pusing, dan matanya berkunang-kunang karena kantuk. Tapi dia harus melakukannya demi memperlambat penyakitnya.

Suara bel pintu mengaum keras memenuhi seisi ruangan. Baik Eiji, maupun Shinji segera menancapkan mata ke arah jam dinding di tembok atas dapur. Baru jam 7.30, dan Neela sudah pulang?
“Tumben dia datang cepat,” gumam Eiji, bangkit dari sofa. “Lebih baik kau tetap duduk di sana,” katanya cepat-cepat, saat melihat Shinji hendak bangun. “Sesekali kau harus melihatnya, agar tahu perkembangannya.”
Setelah itu Eiji melangkah pergi menuju ruang depan untuk membuka pintu, sedangkan Shinji duduk di sofa. Menuruti saran Eiji, meskipun enggan.

Suara-suara terdengar dari depan. Suara beberapa sepatu memasuki ruang tamu. Neela sepertinya bersama beberapa orang. Mungkin Kenneth. Lalu terdengar suara tangis bayi. Suara tangis yang sangat akrab di telinga Shinji. Dia segera bangun dari duduknya.

“Shin!” Suara seorang perempuan terdengar, diiringi langkah yang tergopoh-gopoh. Dan tak lama kemudian Lea muncul di ruang tengah, memandangnya dengan raut muka yang bingung. Juna dan Dean menyusul setelahnya, bersama Eiji. Tampang Juna masam, sementara Dean, nyengir begitu melihat Shinji.

“Lea…” Shinji tersenyum, berjalan menghampirinya. Kedua tangannya terentang, siap memeluk, namun Lea malah menggamit lengannya, dan menariknya buru-buru ke beranda. Alisnya naik, dan bibirnya mengerucut.

“Kenapa dia ada di sini?” tanya Lea segera, begitu mereka berdua jauh dari jangkauan pendengaran orang-orang di ruang tengah.
“Siapa?” Shinji balik bertanya, meskipun tahu siapa yang dimaksud oleh Lea. Dia masih bingung mencari alasan mengapa Eiji ada di sini. Sama sekali tak siap dengan kemunculan Lea yang tiba-tiba.
“Siapa lagi kalau bukan laki-laki itu—aku lupa namanya,” kata Lea tak sabar. “Kenapa dia ada di sini? Kau tidak terlibat dengan—”
Shinji segera menyela. “Kalau yang kau maksud ‘mafia’, tidak.” Shinji menggeleng meyakinkan. “Eiji hanya kebetulan main ke sini. Sekadar refreshing. Hanya itu,” katanya lagi. Berbohong.
Mata besar Lea menyipit berbahaya. Sudah lama sekali rasanya, Shinji tak melihat matanya menyipit begitu. “Kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Dia bertolak pinggang.
Shinji menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan buru-buru. “Tidak,” jawabnya. “Tak ada yang kusembunyikan.”
Lea tampak belum percaya. Matanya menyorot tajam, wajahnya dimiringkan, seolah sedang memaksa Shinji mengakui kebohongannya. Tapi Shinji aktor, dia bisa menyamarkan kebohongannya dalam ekspresi wajah yang telah dilatih untuk digunakan pada situasi apa pun, sehingga Lea akhirnya menyerah. Wajahnya yang tegang mengendur, matanya menjadi sayu, dan bibirnya melengkung tersenyum. Dan tak lama kemudian, kedua tangannya telah melingkari leher Shinji, memeluknya erat.
“Apa kabarmu?” tanyanya berbisik.
“Baik. Bagaimana denganmu?” balas Shinji, berbisik di telinga Lea.
Lea melepaskan pelukannya. Tersenyum manis. “Baik.”
“Kenapa mendadak kau datang?” tanya Shinji, sekarang agak panik. Dia teringat Neela, yang mungkin akan datang sebentar lagi.
“Tidak boleh?” Lea mengerutkan kening. “Kau keberatan kami datang?”
Mulut Shinji membuka dan menutup tanpa suara, bingung harus menjawab apa. “Ti-tidak. Hanya saja, kau tidak memberitahu sebelumnya. Aku tidak menyiapkan apa pun.” Shinji nyengir, yang menurutnya lebih mirip seringai.
“Aku hanya ingin memberimu kejutan. Juna sedang ada kerjaan di sini, jadi aku dan Dean ikut, agar bisa menengokmu. Ngomong-ngomong, Dean kangen sekali padamu,” Lea memberitahu.
Shinji mendengus tersenyum. Kemudian memalingkan badannya, dan menggerakkan kakinya menyusur lantai kayu beranda, menuju pintu menuju runag tengah yang sebelumnya ditutup oleh Lea. Membukanya, dan segera melangkah masuk ke ruang tengah. Menemukan Juna sedang berbincang dengan Eiji di sofa, dan Dean duduk manis di pangkuannya. Tangan kecilnya meremas-remas boneka karet berbentuk babi yang dipegangnya.

“Hei… Juna,” sapa Shinji, ketika Juna menoleh ke arahnya. “Apa kabar?”
“Pa… pa…” Dean memanggilnya. Menjulurkan kedua tangannya ke arah Shinji. Wajahnya merengek, minta digendong.
Shinji segera mengambilnya dari Juna. Mendekapnya dengan sayang. Dean meletakkan sebelah pipinya di pundak Shinji, tangannya mencengkeram kaus Shinji dan boneka karetnya. Dia selalu begitu kapan pun Shinji menggendongnya.
“Kau yang apa kabar?” kata Juna, mengangguk ke arahnya. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat.”
“Bukan urusanmu,” sahut Shinji, seraya berjalan ke salah satu sofa. Duduk sambil menepuk-nepuk punggung Dean. “Ada kerjaan apa di sini?” tanyanya.
“Aku ada konser di Bali,” jawab Juna asal, yang segera disambut dengan dengus oleh Lea yang sekarang duduk di sampingnya. “Menggantikanmu,” sambungnya lagi.
“Hahaha… lucu sekali.” Shinji membelalak. “Demo masak dimana?”
“Hotel bintang lima,” jawab Juna. “Tidak perlu kusebutkan namanya, kecuali kau mau datang.”
“Aku akan datang,” timpal Shinji. “Membawa banyak tomat, untuk kubagikan satu per satu pada penonton untuk melemparnya ke arahmu.”
“Aku tahu kau bisa melakukan itu,” kata Juna. “Tindakan anak TK seperti itu hanya bisa dilakukan olehmu.”
Shinji tergelak, begitu pun Eiji, hanya Lea yang tersenyum lebar, tanpa suara. Sedangkan Juna, ekspresinya datar saja, sama sekali tidak merasa kata-katanya barusan lucu.
“Aku lapar sekali,” kata Juna kemudian. “Apa tidak ada makanan di rumahmu?”

Saat Shinji baru membuka mulut untuk menjawab, suara bel pintu terdengar lagi. Eiji langsung memandang Shinji, kedua alisnya naik, begitu pun Shinji, yang jauh lebih bingung. Itu pasti Neela, pikirnya. Bagaimana ini?
Eiji bangun, dan berjalan kembali ke ruang tamu, sementara Lea, Juna dan Shinji menunggu di ruang tengah. Tak lama kemudian dia kembali, Malini dan Jose mengikuti di belakangnya. Shinji langsung berjengit. Begitu pun Lea dan Malini, yang tampaknya tidak tahu-menahu kedatangan masing-masing. Keduanya langsung berpelukan, membenturkan pipi mereka masing-masing satu sama lain. Jose dan Juna, saling mengangguk untuk menyapa. Begitu pun pada Shinji, Jose hanya mengangguk tersenyum, kemudian duduk di kursi di depan meja dapur, bersama Eiji.
 Bagi Shinji, Jose adalah laki-laki dengan sedikit kata. Jarang sekali mendengar dia bicara—mungkin karena mereka jarang sekali bertemu, atau berinisiatif membuka pembicaraan lebih dulu. Namun sikapnya jauh lebih menyenangkan daripada Juna.

“Kenapa mendadak kalian semua muncul di rumahku?” tanya Shinji heran. “Kalian mau reuni atau apa? Kau kan seharusnya istirahat total di rumah?” Dia berkata pada Malini.
Malini mendelik galak. “Bukankah seharusnya kau senang, dikunjungi banyak teman?” sahutnya sengit, berjalan ke arahnya dengan satu tangan memegangi perutnya yang besar. “Aku tidak apa-apa, aku kan sama Jose.” Dia kemudian merentangkan kedua tangannya pada pada Dean yang memandangnya dengan tatapan yang tidak dimengerti. “Hei, Dean… Ayo, sama Tante,” ajaknya ramah.
Dean memalingkan muka buru-buru. Menyembunyikan wajahnya dengan menyandarkan pipinya lagi di pundak Shinji, untuk mendeklarasikan penolakannya. Shinji langsung mendengus. Tersenyum lebar, sedangkan Malini mencibirkan bibir.
“Aku tidak tahu kenapa anakmu suka sekali pada Shinji, Lea,” kata Malini jengkel. Menoleh ke Lea.
Lea mengangkat bahu. “Aku juga tak tahu,” timpalnya, nyengir.
“Dia bahkan menyebutnya papa,” Juna nimbrung. “Sedangkan padaku dia hanya memanggil ‘Da’.”
“Kau sendiri yang mengajarkannya memanggilmu ‘Daddy’,” ujar Lea. “Mungkin kata itu sulit untuk diucapkan olehnya.”
“Memangnya siapa yang mengajarkannya menyebut Shinji ‘papa’?” Juna tampak kesal.
“Jangan salahkan anakmu kalau hatinya lebih kepadaku daripada kepadamu,” kata Shinji geli. “Aku tidak mengajarkan Dean memanggilku ‘papa’, itu murni dari hati kecilnya yang paling dalam.”
Sejenak sepertinya Juna hendak membalas kata-kata Shinji, namun kemudian dia mendengus, dan bangkit dari sofa. “Aku lapar,” katanya tiba-tiba pada Shinji. “Aku pinjam dapurmu. Seharusnya kau malu, didatangi banyak tamu, tapi tak sedikit pun usahamu untuk menjamu.”
Setelah itu dia berjalan ke dapur, sementara Shinji melongo, kalimat Juna begitu mengena, membuatnya jadi tak enak. Malini dan Lea terkekeh, sedangkan Eiji dan Jose cuma menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum di bibir masing-masing.
Tapi di luar kekesalannya pada Juna, Shinji tahu Juna tak bermaksud begitu, begitu pun sebaliknya, Juna pasti tahu kalau Shinji tak bermaksud dengan kata-katanya.

Masakan Juna terasa fantastis seperti biasa, meskipun sederhana, karena Eiji memang tidak memenuhi kulkas di rumah dengan berbagai macam bahan makanan, mengingat mereka selalu beli makanan di luar. Tapi mereka cukup puas dengan ayam goreng tepung, sambal saus racikan Juna, dan selada cabai hijau, yang baru diciptakan Juna di tengah krisis bahan makanan di rumah Shinji.  Dan ternyata, enak.
Mungkin karena semua orang lapar; mungkin karena suasana malam di beranda ditemani deburan ombaknya, membuat pikiran semua orang nyaman, sehingga makanan yang masuk ke mulut jadi sangat enak. Atau mungkin karena mereka semua sekarang berkumpul; mengobrol dan tertawa bersama seperti ini, sehingga makanan yang melewati kerongkongan sama sekali tak terasa di lidah.
Jujur, Shinji menyukainya. Perasaannya membumbung tinggi karena senang. Dan dia duduk bersandar di kursi beranda sambil memangku Dean yang hampir tertidur. Menyimak cerita Malini mengenai gosip selebriti terbaru yang sedang hot. Dan Juna menimpali dengan kalimat sarkastik, yang membuat semua orang tertawa, dan mengakibatkannya mendapat lemparan selada dari Malini.
Kemudian Dean menangis, keras sekali. Tak bisa ditenangkan oleh Shinji, sehingga Lea terpaksa bangkit dari duduknya untuk mengambilnya. Mengangkat Dean tinggi-tinggi ke atas, mengendus-ngendus bagian belakang celananya.
Shinji meringis jijik. “Kau jorok, Lea,” ujarnya.
Tapi Lea cuek. Segera berjalan menghampiri Juna dan menyerahkan Dean padanya. “Dia pup,” Lea memberitahu Juna. “Aku mau ambil popok dulu di ruang tamu.”
Juna bangun untuk meraih Dean, dan tepat saat itu suara seorang perempuan terdengar dari ambang pintu. Menyapa ‘selamat malam’ dengan sedikit canggung. Semua orang serempak menolehkan kepala ke arahnya, begitu pun Lea dan Juna, yang sedang dalam posisi serah terima. Sama seperti yang lain, memandang Neela dengan tatapan ‘siapa dia’ yang kentara sekali. Hanya Shinji, dan Malini yang memandang dengan terpana, sedangkan Eiji kelihatan biasa-biasa saja. Jelas. Dia kan tidak ikutan sembunyi dari Neela seperti Shinji, sehingga dia pasti melihat perubahan Neela dari hari ke hari semenjak perawatannya dimulai. Dan Neela yang sekarang memang benar-benar berubah. Drastis.

Dia cantik, pikir Shinji, mengamati dari kursinya. Jerawatnya nyaris tak ada—hanya tinggal berupa titik-titik merah kecil samar di pipinya. Rambutnya yang ikal, kini lurus dan hanya ikal di ujung bawahnya saja; tetap hitam, namun sekarang berkilap. Kulitnya yang kusam, kini bersih. Pakaian yang dikenakannya tak lagi asal. Dia kelihatan sangat manis dengan gaun terusan bunga-bunga sebatas paha, dengan bagian tangan lebar dan mengerut. Shinji menunduk untuk menyembunyikan senyumnya. Dia bangga, satu langkah untuk membantu Neela telah selesai.
Malini bergumam dalam suara takjub yang berbisik di sebelah Shinji. “Kenneth has done a great job for her,” sambil terus memandangnya.
Lea? Juna? Kalian di sini?
Kenneth tiba-tiba muncul dari belakang Neela, dan tanpa ragu-ragu langsung menghampiri Lea dan Juna. Mata Neela langsung melebar, begitu melihat mereka berdua. Bibirnya menganga lebar, karena takjub.
Shinji menatap Kenneth kesal. Apa-apaan dia? Gerutunya dalam hati. Kenapa mendadak muncul di sini?

Baru saja Shinji hendak bangkit; bermaksud menghampiri Kenneth, ketika mendadak saja terdengar suara gedebuk keras menghantam lantai. Neela sudah menghilang, dan sekarang berada di lantai. Pingsan.

Eiji dan Shinji buru-buru menghampirinya. Sementara yang lain bangkit dari duduknya, memandangnya cemas. Lea menekap mulutnya, dan Juna hanya menjulurkan kepala, seraya mendekap Dean. Sedangkan Kenneth mengeluarkan dengus tak percaya. Bengong selama sejenak, sampai akhirnya berkata dalam nada agak merasa bersalah. “Aku lupa,” dia  menengok pada Lea dan Juna, “Dia ngefans sekali pada kalian.”
Lea dan Juna segera bertukar pandang tak mengerti.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
So, this is Neela
gambar dari sini
Amrita Rao
Setelah ubek-ubek sana-sini, akhirnya pilihan saya 
jatuh pada Amrita Rao yang sweet banget.
Suka banget sama senyum dan matanya yang berbinar.

Read more...

Nyanyian Sendu (10)

>> Friday, November 18, 2011


She’s Got It!

KENNETH ingin melihat kemampuan Neela memainkan alat musik lebih dulu, sebelum dia memutuskan untuk benar-benar menjadi managernya. “Aku tidak mau beli kucing dalam karung,” katanya beralasan, waktu Shinji bertanya kenapa dia ngotot ingin membuktikannya. “Menurut orang lain bagus, belum tentu menurutku.”
Kendati kesal—Malini menolak mentah-mentah untuk membatalkan perjajian tempo hari dengan Kenneth dan menganggap Shinji hanya sensi oleh kata-kata Kenneth, tak ada jalan lain untuk Shinji selain menyanggupi permintaan Kenneth. Tapi bagaimana caranya agar Neela memainkan alat musik dan Kenneth melihatnya tanpa datang ke rumah? Shinji benar-benar tidak ingin Kenneth datang ke rumah, karena dia ingin Neela meyakini bahwa dia dan Kenneth tidak saling mengenal; belum pernah bertemu sebelumnya. Ditambah lagi, alat musik yang ada di rumah hanya gitar usang milik Shinji, yang lebih sering dimainkan oleh Neela, sementara Kenneth menuntut Neela memainkan alat musik lain selain gitar, karena menurutnya gitar sudah biasa.
Jadi…?

“Bilang pada Eiji untuk membawanya ke toko alat musik,” saran Malini via webcam, sewaktu Shinji menyampaikan kebingungannya. Malini sudah kembali ke Jakarta, dan dianjurkan untuk istirahat total di rumah oleh dokternya, karena dianggap terlalu stres.
“Toko alat musik?”
“Ya,” angguk Malini, dengan mulut penuh bubur, yang baru saja disuapkannya ke mulut. “Neela pernah bercerita padaku kalau dia sering main piano, biola dan lain-lain dengan gratis di sebuah toko alat musik waktu masih di Surabaya dulu. Coba saja ajak dia ke sana.”
“Ya, kalau dia ingin main, kalau tidak?” timpal Shinji ragu.
“Coba saja dulu,” tukas Malini tegas. “Jangan pesimis, Shin.”

“Aku lagi?” tanya Eiji begitu Shinji menyampaikan rencananya. “Kenapa tidak kau saja?”
“Kau tahu rencanaku; tidak melibatkan diriku sama sekali.”
“Tapi melibatkan dan merepotkan orang lain,” sambung Eiji, seraya berjalan ke dapur. Menyambar gelas dari rak, dan mengisinya dengan air putih di dalam jug kaca di meja dapur. “Lagipula besok aku tidak bisa.” Dia meneguk air putih di gelasnya banyak-banyak.
Shinji bertolak pinggang. “Kenapa tidak? Kau harus—”
“Kakak-kakak sepupumu datang ke Jakarta lusa,” Eiji memotong, dan Shinji langsung membeliak. “Karena kau tidak ingin mereka tahu tentang penyakitmu, jadi aku harus ke Jakarta besok dan menemani mereka untuk beberapa hari. Kalau tidak, mereka pasti akan bertanya-tanya; heran mengetahui kalau aku tinggal bersamamu di sini, sementara mereka tahu kalau kau sama sekali tidak ingin dijaga oleh siapa pun dari ‘kami’,” jelas Eiji.
Selama beberapa saat Shinji hanya tercenung memandang Eiji. Dan saat dia akhirnya bersuara, hanya kata ‘oke’ yang terucap pelan dari bibirnya.
“Sekali ini… kau yang ajak dia.” Eiji tersenyum menenangkan, sekaligus geli melihat wajah Shinji. “Mungkin rencanamu akan berjalan lebih baik kalau kau terlibat sedikit,” katanya lagi. “Atau… minta Kenneth mengundurkan hari pertemuannya sampai aku kembali nanti. Saran yang bagus kan?”

Menurut Shinji juga begitu. Tapi ternyata Kenneth menolak mentah-mentah untuk mengundurkan hari pertemuannya dengan Neela. Beralasan, kalau dia harus segera ada di Jakarta lusa, untuk menemani salah satu artisnya yang akan launching album terbaru, dia meminta Shinji tetap membawa Neela besok ke toko alat musik yang telah mereka sepakati.
“Aku punya banyak artis yang mesti kuurusi,” ujar Kenneth santai. “Jadwalku sangat padat, aku tak ada waktu untuk berlama-lama menunggu,” sambungnya.
“Kalau memang kau sibuk dengan artis-artismu, kenapa kau mau menjadi manajer Neela?” tukas Shinji gusar.
“Malini temanku, jelas aku percaya perkataannya,” balas Kenneth. “Dia tidak pernah salah menilai kemampuan seseorang. Tapi melihatmu kemarin aku jadi agak ragu,” lanjutnya, membuat Shinji ingin sekali membanting ponsel yang digenggamnya untuk melampiaskan kekesalan. “Jadi aku ingin membuktikan sendiri, kalau gadis itu memang punya talenta.”
Kenapa jadi sulit sekali menolong orang, pikir Shinji amat kesal.
“Kau tinggal bawa dia ke Tom’s* besok, dan suruh Neela memainkan alat musik yang disukainya. Aku masuk, dan menyukainya—kalau aku suka, lalu aku akan berkenalan dengannya, dan kau hanya perlu akting tidak mengenalku. Gampang kan?” katanya lagi.

*Tom’s Music Bali: salah satu toko yang menjual peralatan musik, yang berlokasi di daerah Kuta, Bali.

“Tidak segampang itu,” bantah Shinji.
“Oh, gampang saja. Apa sulitnya?” balas Kenneth dengan nada mengejek.
“Kau—”
“Kita ketemu jam 2 sore. Bring her. Sampai besok.” Klik! Kenneth menutup telepon lebih dulu.
Sial, umpat Shinji, memandangi gagang telepon yang masih dipegangnya. “Dia persis perempuan,” gerutunya kesal.

Shinji tidak mengantar Eiji ke bandara Ngurah Rai esok harinya, karena Eiji bersikeras menggunakan taksi untuk mengantarnya ke sana. Sebelum berangkat dia bertanya mengenai rencana Shinji dan Shinji hanya mengangkat bahu dan tersenyum muram, karena dia memang belum menemukan alasan yang tepat untuk membawa Neela ke Tom’s siang ini.
“Bilang padanya kalau kau ingin dia menemanimu ke sana, untuk membeli gitar atau apa pun,” saran Eiji.
“Reputasiku sebagai laki-laki galak, akan luntur kalau aku mengatakan itu,” sergah Shinji segera, membuat Eiji mendengus geli. “Lihat saja tampangnya sekarang,” Shinji mengangguk ke arah Neela yang membeku di atas sofa ruang tengah, menunggu Eiji berangkat. “dia tampak tertekan karena akan berdua saja denganku selama empat hari, dan aku yakin—sangat yakin, dia bisa gila, kalau aku mendadak dengan sopan mengajaknya pergi jalan-jalan.”
Eiji langsung terkekeh.
Neela memang sedikit muram begitu Eiji mengatakan kalau dia akan pergi ke Jakarta selama beberapa hari untuk urusan kerja. Dia sepertinya stres karena harus berdua saja dengan Shinji di rumah. Shinji yang selama ini tak sekali pun menunjukkan sikap bersahabat padanya.

“Bye, Shin!” Eiji berteriak pada Shinji yang berdiri di ambang pintu sebelum dia masuk ke dalam taksi. “Jaga Neela, oke?” Shinji membelalak, namun mengangkat tangan, dan melambaikannya sejenak pada Eiji, yang juga telah berpamitan pada Neela, yang berdiri bersedekap di depan teras, juga berpesan untuk menjaga Shinji—Neela cuma bisa meringis. Dan setelah mengucapkan ‘bye’ sekali lagi pada Neela, Eiji masuk ke dalam taksi, menutup pintu, sempat melambaikan tangannya lagi sebelum taksi bergerak pergi, meninggalkan pekarangan rumah.

Shinji buru-buru masuk ke dalam, sementara Neela, memilih untuk berlama-lama di luar, menunggu sampai taksi yang membawa Eiji menghilang dari pandangan.

Duduk sepertinya pilihan utama Shinji sekarang. Dia segera mengenyakkan badannya di atas sofa panjang. Mengerling jam dinding di tembok atas meja dapur yang menunjukkan pukul satu kurang sepuluh menit. Sebentar lagi jam dua, dan dia masih belum memikirkan alasan yang tepat untuk—
Tiba-tiba Shinji menoleh ke samping kanannya. Menemukan gitar usangnya bersandar di punggung sofa. Senarnya putus. Matanya membeliak, bukan marah, tapi karena menemukan ide.

“Neela!” dia berteriak. Berdiri dari sofa. “Neela!”
Suara langkah seperti berlari terdengar, dan Neela sampai di depan Shinji dengan wajah amat panik. “Ya?” sahutnya, menatap Shinji takut-takut. Matanya berulang kali memandang ke arah gitar di tangan Shinji. Dia tampak ngeri.
“Kau putuskan senar gitarku?” tanya Shinji dingin. Mulut Neela membuka sedikit. Ingin menjawab, tapi sepertinya terlalu takut. “Hei. Aku bertanya, kau jawab,” kata Shinji lagi. Tampangnya amat kesal.
“Se-se-senarnya memang sudah tidak bagus,” kata Neela gugup, “tapi—”
Shinji memotong dengan galak. “Aku tanya, dan kau tinggal jawab ‘ya’ atau ‘tidak’.”
“Ya,” angguk Neela. Dia meremas-remas tangannya untuk mengatasi ketegangannya.

Melihatnya Shinji sebenarnya kasihan, tapi dia harus bersikap tidak menyenangkan padanya. Untuk kebaikannya juga.

“Gitar ini…, ibuku yang membelikan.” Shinji menatap Neela tajam. “Kau seharusnya berhati-hati menggunakan barang milik orang lain, terutama karena kau hanya numpang gratis di sini.” Aku sebenarnya ngomong apa? Pikir Shinji, kaget sendiri betapa mulutnya mampu melontarkan kata sekejam itu pada seseorang. “Kau bahkan tak minta ijinku untuk menggunakannya.”
“Maaf…” ucap Neela sangat merasa bersalah. “Saya akan menggantinya.” Dia mengangkat wajahnya, menatap Shinji dengan sungguh-sungguh. Matanya berkaca-kaca—(Oh, tolong jangan menangis, kata Shinji dalam hati). “Saya sedang mencari pekerjaan. Nanti, begitu saya punya uang saya akan—”
“Tak ada waktu,” Shinji menyela. “Aku sedang butuh gitar sekarang. Ikut aku.” Shinji melangkah melewati Neela menuju lemari susun, dan menyambar kunci mobil yang diletakkan di salah satu raknya. “Kita ke toko alat musik sekarang.” Dia berbalik, memandang Neela yang bengong memandangnya. “Hei. Ayo,” ajaknya.
“Tapi… saya tidak punya uang sekarang.”
“Siapa bilang kau yang akan membayarnya?”
Mata Neela membundar, ekspresinya takjub. “Anda ingin saya pergi bersama Anda?”
Shinji tak menjawab, langsung menyambar lengan Neela dan menyeretnya pergi dengan tak sabar.

Shinji sempat mengira Neela akan bersemangat begitu melihat koleksi alat musik yang ada di Tom’s, dan seperti yang Malini bilang, akan meminta ijin untuk memainkan salah satunya dengan riang. Namun ternyata, Neela cuma bengong. Duduk di kursi tunggu, sambil memerhatikan punggung Shinji yang sedang berbicara pada sales consultant mengenai gitar yang akan dibelinya. Membuat Shinji kesal sendiri.

“Jadi, yang ini yang bagus Mas,” si Sales Consultant meletakkan salah satu gitar akustik di meja konter. Shinji tidak memerhatikan, karena sibuk memandang Neela yang termangu-mangu di kursi d belakangnya. “Yamaha Cedar Top. 6 Senar,” si Sales Consultant memamerkan wawasannya tentang gitar yang dipegangnya, “Nylon. Ringan sekali.”
Shinji hanya menyeringai suram, sambil terus menoleh ke arah Neela. “Harganya?” dia berbasa-basi.
“Tiga juta lima ratus,” jawab si Sales.
Tepat saat itu, ponsel Shinji melengking nyaring, memperdengarkan musik Techno yang mengentak. Nama si penelepon yang tertera di layarnya membuat Shinji mendesah.
“Halo,” sapanya enggan.
Aku sudah sampai. Kau dimana?” tanya Kenneth. Suaranya bercampur dengan suara kendaraan yang was wus melintas. Disusul oleh suara bantingan pintu mobil.
“Di dalam.”
Dia sudah mulai?”—maksudnya Neela.
“Dia tampaknya tak tertarik.”
Kalau begitu aku juga tak tertarik.”
“Aku tidak tahu bagaimana cara menyuruhnya untuk main musik,” desis Shinji jengkel. “Yang dia tahu aku tidak tahu apa pun mengenai kemampuannya memainkan alat musik. Aku tidak bisa begitu saja menyuruhnya. Nanti dia curiga.”
Itu masalahmu,” tukas Kenneth. “Aku di sini untuk melihatnya main musik, bukan—oh Tuhan, apa itu dia, yang duduk itu?” Kenneth kedengaran kaget.
Shinji segera berpaling, dan langsung bertemu pandang dengan Kenneth, yang baru saja masuk, dan sekarang berdiri tak jauh dari Neela yang masih duduk di kursi tunggu. Tampangnya ngeri.
Apa itu dia?” kata Kenneth lagi sedikit berbisik, sekarang berjalan pelan ke bagian dalam gedung.  Shinji memerhatikannya menghilang di balik rak display CD. “Oh Tuhan, akan banyak sekali perombakan di sana-sini.”
Shinji mengabaikan Kenneth. “Jadi bagaimana?”” timpal Shinji, kembali berpaling, meletakkan tangannya ke meja konter. “
Kau yang harus cari cara, Tuan. Dan cepat! Aku tak mau menunggu lama.Klik.
Sial, sekali lagi Shinji mengumpat, merasa kesal Kenneth memutuskan teleponnya.

“Jadi… Mau pilih gitar yang mana, Mas Shinji?” si Sales Consultant bertanya penuh harap, segera setelah Shinji memandang matanya yang agak sipit.
Tapi Shinji hanya melongo. Menatap kosong wajah si Sales Consultant yang tersenyum-senyum kikuk. Pikirannya sekarang fokus pada Neela bukan padanya. Apa yang harus aku lakukan? Dia berpikir keras.

Suara biola terdengar tiba-tiba. Berngak-ngik melengking menusuk telinga. Membuat Shinji spontan menoleh ke belakang. Di samping Neela sekarang, duduk seorang anak anak laki-laki berusia kira-kira 7 tahun atau lebih, sedang memainkan biola. Neela memandang ke arahnya.
“Hm…” bocah itu mengeluh. Ekspresinya kecewa. Dia menjauhkan dagunya dari biolanya. Menurunkan busur biola yang dipegangnya dari empat senarnya yang sedikit bergetar. Memandangnya dengan muram.
“Baru ya?” Neela bertanya.
Bocah itu mendongakkan wajahnya pada Neela kemudian mengangguk. “Tapi suaranya jelek,” katanya. “Biolanya jelek.”
Neela mendengus tersenyum. “Bukan biolanya yang jelek, tapi setelan senarnya yang tidak bagus, makanya suaranya jadi jelek,” timpal Neela lembut.
Alis anak itu berkerenyit. “Memang Tante bisa main biola?” Dia sepertinya tak percaya.
Neela menjawabnya dengan anggukan. Senyumnya mengembang ramah. “Mau Tante perbaiki senarnya?” dia menawarkan.
Tanpa banyak kata anak itu menyodorkan biola dan busur biolanya pada Neela. Kemudian duduk dengan kedua tangan bertopang di dudukan kursi. Kakinya menggantung, tak mencapai lantai.
Neela mengamati senar biola tersebut selama beberapa saat. Kemudian meletakkan dagunya di penyangga dagu dengan hati-hati, meletakkan bagian rambut busur di atas senar-senarnya, baru setelah itu menggerakkannya ke arah bawah dengan sangat perlahan.
Suara ngik parau terdengar, dan dia segera menurunkan biola tersebut. Jari-jarinya meluncur ke penyetel senar, memutar-mutarnya satu-satu, meluncur lagi ke pasak dekat kepala biola, memutar-mutarnya lagi; atas-bawah, kanan-kiri selama beberapa saat—wajahnya berkerut karena berkonsentrasi, lalu meletakkan dagunya lagi di penyangga dagu, menggesekkan busurnya kembali, dan mengulanginya lagi, bila dia merasa suaranya belum pas. Bocah laki-laki di sebelahnya bengong. Matanya mengikuti jemari Neela yang lincah. Mulutnya sedikit membuka, karena takjub. Dan saat akhirnya biolanya memperdengarkan nada amat bersih dan lirih, anak laki-laki itu menganga. Matanya berbinar-binar. Sementara Neela, dengan penuh perasaan, menggesek senarnya dengan busur biola yang dipegangnya. Memainkannya dengan senyum tersungging di bibirnya. Matanya terpejam.

Shinji terpana. Semua orang di sana…, terpana, melihat Neela bermain biola. Dia begitu menghayati. Emosinya seakan tertuang dalam nada yang diperdengarkannya. Jari-jarinya menekan kuat senar-senarnya, bergeser ke kanan-dan ke kiri, seiring ayunan lembut busurnya.
Lagu ‘The Things You Are To Me’ dari Secret Garden, adalah lagu yang sulit dibawakan, namun Neela berhasil menaklukannya. Membuat banyak orang terpukau, terbengong-bengong dan mendesah-desah karena terhanyut suara biolanya yang lirih mendayu. Shinji melihat Kenneth, berdiri tak jauh dari tempat Neela. Mulutnya menganga takjub. Sudut bibirnya membentuk senyum, yang kelihatan seperti senyum puas penuh kemenangan. Dia kemudian memalingkan wajahnya ke kanan, untuk melihat ke arah Shinji. Shinji menganggukkan kepalanya sedikit, dan Kenneth membalasnya dengan anggukan serta senyum. Anggukan dan senyum yang menandakan persetujuan total, yang membuat Shinji dapat bernapas lega.
Sejenak kemudian ponsel Shinji bergetar, dan Shinji segera menjawabnya. “Ya… Ken?”
Ingat. Fee-ku 20 persen,” ujar Kenneth segera. “Kita akan mulai minggu ini.”
Setelah itu dia menutup teleponnya.

(Bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats)

Ini lagu yang dibawain Neela
The Things You Are To Me - Secret Garden

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP