Nyanyian Sendu (5)

>> Saturday, October 29, 2011


Annoying Girl

PIPI Shinji terasa berdenyut-denyut akibat tinju perempuan nekat yang diselamatkannya itu. Sakit dan perihnya luar biasa, sehingga dia terus menempelkan plastik berisi bongkahan es batu ke sekeliling pipi dan rahangnya untuk mengurangi rasa nyerinya.
Perempuan itu sekarang berada di dalam kamar tamu. Masih pingsan, akibat tamparan Eiji yang lumayan keras. Tak manusiawi memang, tapi lebih baik begitu, daripada dia terus nekat mau menenggelamkan diri. Eiji baru saja pergi ke depan, mengantar keluar pembantu perempuan tetangga yang mereka ‘pinjam’, untuk mengganti pakaian basah si perempuan dengan pakaian kering—kaus dan celana pendek Shinji, yang mungkin sedikit kebesaran.  Dan ketika Eiji kembali ke ruang tengah, dia sendirian. Tampangnya seolah mengatakan, “Capek deh”. Dia melempar dirinya ke sofa tunggal berlengan di depan Shinji.

“Masih sakit?” dia menanyai Shinji, yang separuh wajahnya tertutup plastik es. Shinji melepas plastik es itu dari mukanya. Balik bertanya, “Menurutmu?” dengan nada menyindir, dan menempelkannya lagi ke pipi kanannya yang memerah.
“Padahal tubuhnya tak terlalu besar,” Eiji berkata, sedikit nyengir. “tapi tinjunya lumayan.”
“Oh, diamlah,” sergah Shinji jengkel.

PRANG!

Suara benda pecah itu menyentak Shinji dan Eiji. Serempak mengarahkan kepala masing-masing ke arah pintu kamar tamu, yang persis berada di samping kanan dan kiri mereka. Keduanya langsung berdiri, cepat-cepat berlari ke arah pintu. Eiji sampai lebih dulu, memutar gagang pintu dan mendorongnya membuka. Dan langsung disambut dengan lemparan benda-benda yang melayang ke arahnya.
Beruntung, atau memang refleknya yang luar biasa, tak satu pun benda tersebut yang mengenainya, karena dia menangkis benda-benda tersebut tanpa kesulitan sama sekali.

“Hentikan!” Eiji menggeram galak pada perempuan yang berdiri tersengal di samping tempat tidur, setelah dia menangkap dengan mudah vas bunga bambu yang baru saja dilemparnya. Langsung menjatuhkannya ke lantai. 
Shinji di sebelahnya, mendengus memandang kamar tamunya yang sekarang kacau balau akibat benda-benda yang bertebaran. Serpihan barang-barang pecah berserakan di lantai, salah satunya adalah bingkai foto kaca milik mamanya. Foto mamanya tergeletak tak jauh di sebelahnya. Shinji membungkuk dan memungutnya, kembali berdiri, dan memandang marah perempuan di depannya, yang sekarang sedang berancang-ancang melemparkan patung kayu berbentuk burung garuda yang barusan diambilnyu dari atas meja kecil di samping tempat tidur. Matanya memandang liar bergantian dari Shinji ke Eiji; waspada. Dia kurus sekali; kelihatan ringkih. Rambut ikalnya berwarna hitam legam, namun entah kenapa kelihatan kusam. Jerawat-jerawat kecil memenuhi pipinya yang cekung. Namun matanya, matanya yang coklat itu..., sorot matanya, mengingatkan Shinji pada...
“Shin! Minggir!” Eiji mendorong Shinji ke samping cepat-cepat, begitu patung garuda yang tadi berada di tangan perempuan itu melayang  ke arahnya.
Shinji terhuyung, namun masih bisa menyeimbangkan tubuhnya, tetap berdiri, sementara patung itu menabrak pintu, melenting, dan jatuh ke lantai dengan suara bergedubrakan keras.

“APA KAU SUDAH GILA?!” kata-kata itu menghambur amat keras dari mulut Shinji. Matanya melotot pada si perempuan yang berdiri diam di tempat. Di tangannya sudah ada objek yang akan dilemparkan lagi; kali ini bantal besar di tempat tidur (tampaknya sudah kehabisan benda-benda keras di dekatnya).
“KAU YANG SUDAH GILA!” balas perempuan itu dalam suara nyaring menggelegar. Balas melotot. “KAU MAU BERBUAT CABUL PADAKU!” tuduhnya.
Alis Shinji langsung berjingkat. “CABUL APA?! Kau benar-benar sudah gila!”
“KALIAN LAKI-LAKI BRENGSEK! KALIAN MAU MEMPERKOSAKU KAN?”—(Shinji dan Eiji langsung bertukar pandang bingung)—“KALIAN BAHKAN MEMUKULKU SEOLAH AKU HANYA SEONGGOK SAMPAH! SEOLAH AKU PEREMPUAN TAK ADA HARGANYA! ADA APA DENGAN KALIAN—LAKI-LAKI?” Kalimat itu terucap begitu derasnya dari bibir si perempuan yang sedikit lebar. Dan dia... menangis. “SEENAKNYA SAJA MEMPERLAKUKAN PEREMPUAN DENGAN BEGITU RENDAH? APA TAK BISA KALIAN MENINGGALKANKU SEBENTAR SAJA?!”
“Hei, Nona!” Shinji mendengus, “Siapa memangnya yang mau memperkosamu?”
“Tadi... tadi—Siapa yang mengejarku ke pantai?” Perempuan itu bertanya. Suaranya agak pelan sekarang. Bantal masih tercengkeram erat di tangannya. “Kalian... mau berbuat buruk kan? Apalagi kalau bukan itu?”
“Hei! Aku mengejarmu bukan mau memperkosamu,” kata Shinji, menggelengkan kepala tak percaya. “Aku mau menyelamatkanmu karena kau mau bunuh diri.”—(“Eh?” Ganti perempuan itu yang menunjukkan raut bingung)—“Seharusnya kau berterima kasih! Kau bahkan telah menghancurkan semua benda di kamar ini! Kau tidak tahu diri!”
“Siapa yang mau bunuh diri?!” Perempuan itu tampak tersinggung. “Aku tidak sesinting itu!”
“Dari caramu berlari sambil menangis meraung-raung menuju pantai, jelas kau kelihatan sinting,” timpal Shinji.
“Aku tidak meraung-raung! Dan aku tidak mau BUNUH DIRI!” hardik si perempuan. “Kau bego! Aku hanya mau mendinginkan kakiku di air! Aku mau—”
“Sebaiknya kau segera pergi,” Shinji menukas, dan perempuan itu langsung menutup mulutnya. Ekspresinya mendadak cemas. “Kau telah membuat malamku jadi sangat menyedihkan. Tak ada satu pun dari kami, hendak berbuat buruk padamu...”
“Kau memukulku...” kata perempuan itu lirih.
“Saya yang memukul Anda,” Eiji angkat bicara dengan nada sopan. Kepalanya sedikit ditundukkan. Perempuan itu segera mengalihkan pandang ke arahnya. “Saya minta maaf. Tapi saya terpaksa, karena saya juga berpikiran Anda akan bunuh diri. Saya hanya ingin mencegah Anda melakukan tindakan ceroboh.”

Sikap Eiji dan kata-katanya yang tegas dan tertata tampaknya berhasil meyakinkan si perempuan dalam sekejap. Membuatnya menunduk, dengan napas terempas lemah, dan berdecap kecil. “Maafkan saya kalau begitu,” ucapnya lemah, mengangkat wajahnya pada Eiji. Kedengaran malu. “Saya...”
“Sebaiknya Anda istirahat  dulu,” saran Eiji, menyunggingkan senyum kecil.
Shinji membeliak pada Eiji. “Kau ini apa-apa—”
“Anda bisa pergi besok pagi.” Eiji tidak menghiraukan Shinji. “Tak baik perempuan berada di luar malam-malam begini.”
Shinji mendengus, bahunya diangkatnya sedikit, sambil berkata, “Terserahlah!”, kemudian berbalik, melangkah menuju pintu dan keluar dari kamar, meninggalkan Eiji dan perempuan itu berdua saja. Membanting menutup pintu di belakangnya, dan sekali lagi mengucapkan kata umpatan yang tak enak didengar setelah dia telah berada di ruang tengah lagi.
...

Pagi hari, dan Shinji dan Eiji sarapan roti di beranda luar ditemani suara merdu ombak yang berdebur. Matahari telah meninggi, menyebarkan sinar terik dan hawa panas menyengat yang luar biasa dari atas—padahal baru jam setengah delapan, membuat kulit keduanya yang tak dilapisi pakaian memerah dan berkeringat. Tapi tampaknya tak satu pun, Shinji maupun Eiji yang terganggu dengan hal itu.
Sambil menyantap perlahan makanan di piring di atas meja di depannya masing-masing, ditemani bacaan berupa koran dan tabloid yang membuka di depan wajah mereka, cukup mengesankan mereka menikmati ‘panas’ ini. Lagipula Bali memang panas.

“Perempuan itu belum bangun,” Shinji bergumam, tanpa memandang Eiji di depannya. Matanya terpancang ke koran yang sedang dibacanya. Shinji masih kesal pada Eiji yang sok baik menyuruh perempuan itu menginap. Menginap di rumah milik Shinji. “Kapan dia mau pergi?” tanyanya.
Bola mata Eiji bergerak naik, melihat Shinji yang menyembunyikan wajahnya di balik koran, dan langsung turun lagi, ke arah halaman tabloid, dimana foto seorang pria tampan terpampang besar-besar. Di bawah foto tersebut tertera huruf-huruf besar bertulisan: “Di Mana Shinji Tsubaki Setelah Pencekalan?”. “Kalau dia sudah bangun,” jawab Eiji santai.
“Kapan dia bangun?” Shinji melipat korannya, kali ini memandang Eiji.
“Kalau dia sudah bangun,” balas Eiji cuek, sekarang menyesap kopi di cangkirnya.
“Kalau saja kau tak bersikap sok pahlawan—”
“Sok pahlawan?” Eiji menatap Shinji. “Bukannya itu kau?”
Shinji merasa dirinya benar-benar tolol sekarang. “Maksudku menawarinya menginap.”
“Harus. Karena bagaimana pun, kita sudah membuatnya ketakutan. Kau membuat semua pakaiannya basah, dan aku membuat pipinya lebam. Kita mengganggu stabilitas emosinya tadi malam, tak ada salahnya kita memberinya waktu sejenak untuk menenangkan diri.”
“Kata-katamu memang penuh ejaan yang baku, sehingga aku bahkan tak mengerti kau ngomong apa,” timpal Shinji setelah mengatasi bengongnya.
Sudut-sudut mulut Eiji tertarik membentuk tawa hening. Dia menggeleng pelan.
“Pokoknya perempuan itu harus sudah tak ada lagi di sini saat aku kembali dari surfing,” kata Shinji. Menggeser kursi ke belakang, untuk memberinya tuang berdiri. “Entah kenapa dia selalu membuat perasaanku muram.” Shinji menyambar gelas airnya dan meneguknya banyak-banyak.
“Aku penasaran,” Eiji meletakkan tabloid yang telah ditutupnya ke atas meja. Memandang Shinji dengan seringai jahil di wajahnya. “bagaimana kalau perempuan itu... berparas cantik, bertubuh seksi, dan... menarik di matamu... apa kau juga akan mengusirnya dari sini, mengetahui tak satu pun tempat yang bisa dia tuju sekarang ini?”
Shinji mencibir. “Perempuan mana pun yang telah membuatku kesal, tak akan ada artinya lagi di mataku,” katanya. “Mau cantik kek, seksi kek,” lanjutnya lagi seraya melepas kausnya. “Aku tak peduli.”
“Dia tak punya siapa pun di sini.”
Like I care,” sahut Shinji.
“Bagaimana kalau itu Lea?”
“Jangan bawa-bawa ‘Lea’ dalam hal ini,” delik Shinji gusar. “Dia...”
“Dengarkan,” Eiji memotong. “Perempuan ini sedang bingung. Aku tak yakin dia bisa menemukan tempat yang baik untuknya. Biarkanlah untuk hari ini dia di sini. Toh, dia tidak menyusahkan—”
“Tidak menyusahkan?” Shinji kelihatan bertambah jengkel. “Dia membuat pipiku lebam.”
“Pipinya pun lebam.”
“Kau yang memukulnya.”
“Memang aku. Tapi karena aku berusaha menyelamatkannya, seperti kau ingin menyelamatkannya!” tegas Eiji dengan suara keras dan tatapan tajam.
“Kenapa kau sangat ingin membantunya?” Shinji menyipitkan mata. “Kau seharusnya berada di pihakku.”
“Menurutku kau harus membantunya...” Eiji menyandarkan punggungnya ke belakang. “Itu saja.”
“Apa alasannya? Apa kau mengenalnya?” Shinji memandang Eiji curiga.
“Tidak,” jawab Eiji segera. “Hanya intuisiku.”
Shinji mendengus. Memandang Eiji seolah Eiji telah hilang akal besar-besaran. “Kau...” Dia bahkan tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk dilontarkannya lagi pada Eiji. “Aku tidak mau tahu,” kata Shinji setelah diam beberapa detik, “perempuan itu... sudah harus pergi, sebelum aku sendiri yang mengusirnya.”
Setelah itu Shinji berjalan masuk, sementara Eiji masih duduk di kursinya dengan wajah miring menatap laut luas yang jauh di seberang. Diam tak berkata-kata.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...

5 comments:

artika maya October 29, 2011 at 1:16 PM  

busyet dah, kasiwabara lagi. eniwei, lg garap novel kan? ditunggu terbitnya. have a nice weekend ^^

Lita October 29, 2011 at 1:25 PM  

@Maya: Iya. Kassy lagi. Tq ya, Maya. have a nice weekend, too.

Gloria Putri October 30, 2011 at 4:31 PM  

penasaran sama alasan 'intuisi' nya eiji....xixixixi

Obrolan Blogger.com October 31, 2011 at 8:50 AM  

Weiii makin seru dan mengerucut ceritanya, ck ck ck, hebat

Lita November 1, 2011 at 4:56 PM  

@Glo: Glooooo... ayo baca lagi ya... butuh komen penyemangattt!

@OBC: *mukaku memerah* thank u... *joged2gealgeol

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP