Nyanyian Sendu (4)

>> Thursday, October 27, 2011


The Decision

KEPALA Shinji terus-terusan sakit belakangan ini. Tak henti-hentinya berdenyut, dan tak hentinya pusing. Dia juga sering sekali lupa. Sulit sekali mengingat, bahkan untuk hal kecil sekali pun. Sepertinya saja memorinya mengabur. Malini bilang itu hanya migrain, dan migrain hebat seringkali membuat penderitanya tak fokus. “Kau banyak pikiran mungkin,” katanya menambahkan. Padahal Shinji merasa tidak memikirkan apa pun. Pencekalannya tidak cukup untuk membuatnya stres. Keuangannya tak mencemaskan, karena tabungannya sudah lebih dari cukup, ditambah dengan uang bulanan dari Almarhum ayahnya yang rutin mampir ke rekeningnya. Jadi tidak ada satu pun yang menjadi beban pikirannya. Terlebih lagi, sejak kedatangannya ke rumah Lea dan Juna bulan lalu, pelan-pelan hatinya yang kosong mulai penuh. Wajah mungil Dean selalu membuat hatinya ringan seketika.

Karena itu, tidak mau terus-terusan didera nyeri, Shinji memutuskan memeriksakan diri ke Dokter. Dan satu-satunya dokter yang dia tahu hanya Marco, suami dari Katty, tetangga Lea di apartemen dulu. Kebetulan dia dokter spesialis saraf.

“Sejak kapan,” Marco memulai pertanyaan khas mediknya, “kau merasakan nyeri ini?”
“Seminggu lalu,” jawab Shinji, mengarahkan bola matanya ke atas, sementara Marco menyorotkan sinar senternya ke kedua matanya. “Seperti ada batu yang besar sekali menekan kepalaku,” dia menambahkan. “Nadiku seolah tertarik-tarik.”
“Permisi.” Marco menekan-nekan kepala Shinji. Meraba-rabanya dengan wajah berkerenyit berkonsentrasi, seolah berusaha menemukan sesuatu yang ganjil. Marco juga memerhatikan Shinji sesekali, yang tampaknya tak merasakan apa pun. Tak lama kemudian dia menurunkan tangannya, dan berkata pada Shinji, “Kita harus menjalani sedikit tes kalau begitu.”
“Untuk?” Dahi Shinji mengerut. “Bukankah hanya... sedikit... migrain?”
“Kau bilang... belakangan ini kau seringkali melupakan banyak hal?” Marco menancapkan pandangan menyelidiknya ke mata Shinji.
Shinji membuka mulutnya, mengulang kalimat Malini beberapa hari lalu, “Tapi itu karena mi—”
“Aku tidak yakin ini migrain,” potong Marco, menarik lepas kacamatanya, dan menekan tulang hidungnya. Kemudian dia menatap Shinji lagi dan berkata, “Besok, tolong kemari lagi,” dengan nada tegas, yang tak dapat dibantah Shinji.
...

“Kenapa mendadak kau ingin ke Bali?” Malini bertanya dari ambang pintu kamar Shinji dengan tangan menyilang di dada. “Untuk berapa lama?”
“Entahlah,” jawab Shinji acuh tak acuh, sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam dua tas besar yang terbuka di atas kasur. “Mungkin lama.”
“Apa aku perlu ikut?” Malini melangkah pelan ke dalam, masih bersedekap. Mengamati wajah Shinji yang datar, tanpa ekspresi.
“Tidak usah,” sahut Shinji, menegakkan badannya. “Kau urus perutmu di sini,” dia mengangguk ke perut Malini yang membuncit, “Jose bisa ngamuk kalau aku ajak kau ke Bali saat sedang hamil begitu.”

Malini tak berkata-kata. Dia mengempaskan napas dengan raut muka cemas. Shinji menggerakkan kaki ke meja kerja di depan jendela kamarnya, dan mematikan laptopnya.

“Untuk apa kau ke sana sebenarnya?” Malini bertanya dalam suara ragu, seolah tidak ingin Shinji menafsirkannya dengan negatif. “Kalau sekadar refreshing, kau bisa pergi ke tempat yang dekat dengan Jakarta. Tempat yang bisa kutempuh dalam beberapa jam dengan menggunakan mobil.”
Shinji tertawa. Tangannya memasukkan laptopnya dengan cepat ke dalam tas pembungkusnya, kemudian berbalik. “I have house there, Mal,” kata Shinji berjalan ke tempat tidurnya lagi, dan meletakkan tas berisi laptop di sebelah kedua tas lain di atas kasur. “Aku ingin melihatnya. Lagipula tak ada yang bisa kukerjakan di sini selama pencekalan itu masih berlaku,” ujarnya. “Kalau di Bali aku bisa surfing; bersantai dengan tenang. Aku tidak perlu paranoid dibuntuti pers kemana pun aku pergi.”
“Kau akan melakukan hal-hal tolol lagi.”
“Aku pastikan tidak.” Shinji duduk di pinggir kasurnya dengan senyum kecil terhias di wajahnya. “Kau jangan khawatir soal itu. Aku sudah tobat.”
Malini mendengus, separo-geli separo-tak percaya. “Kenapa aku malah bertambah sangsi mendengarnya?” Malini mendekat, dan duduk di sebelah Shinji. “Kau tobat. Secepat itu?”
Ganti Shinji yang mendengus. “Mulai hari ini,” dia menyenggol bahu Malini dengan bahunya, “jangan cemas aku akan berbuat tolol lagi,” pesannya. Menolehkan kepalanya sedikit pada Malini. “Demi dirimu... aku berjanji.”

Mulut Malini menganga lebar. “Selama aku menjadi manajermu, baru kali ini kau mendengar kalimat berbobot darimu,” ujarnya takjub, yang langsung disambut kekehan Shinji. “Dan kau berjanji demi aku...?” Mata Malini mendadak sayu, menatap Shinji penuh damba. “Sepertinya kau terkena jampi-jampi salah satu cewek yang kau bodohi itu.”
Shinji tergelak, diikuti Malini yang sedikit terkikik. “Sori, oke? Atas semua tindakan cerobohku,” kata Shinji sejenak kemudian, setelah tawanya hilang. “Aku... telah mengecewakanmu dan semacamnya itu...”
Tatapan Malini melunak. Dia berdecap. Menarik napas dan mengembuskannya dengan cepat. “Kau memang amat mengecewakanku...” katanya dengan suara sedikit serak. “tapi... setidaknya... kau tetap kembali pada akhirnya.” Dia tersenyum menenangkan.
“Aku pasti merugikanmu banyak uang, ya?” Shinji menyenggol bahu Malini lagi, menolehkan wajahnya ke Malini yang memandang ke arah lemari pakaian di depannya. “Do I have to pay you?
Malini mengeluarkan suara seperti cegukan, menoleh. “Kau memang sangat merugikanku,” ujarnya. “Dan kau memang seharusnya menggantinya,” dia melebarkan matanya. “tapi... lebih baik kau pikirkan dirimu sendiri,”—(Shinji tergelak)—“di Bali nanti, aku tak ada. Aku tak bisa membereskan masalah yang akan kau timbulkan dengan cepat, dan—”
Shinji mendadak melingkarkan lengannya di sekeliling punggung Malini erat, membuat Malini bungkam, mengatakan, “Thanks,” dengan cara yang tak biasanya dia ucapkan sebelumnya. “I promise... aku tidak akan menyusahkanmu dengan masalahku lagi,” ucapnya.
“Kenapa aku merasa kau akan menghilang lagi, Shin?” Malini mengusap-ngusap lengan Shinji. Wajahnya muram. “Kenapa perasaanku jadi sedih?”
Shinji tak menjawab. Mengeratkan pelukannya pada Malini.
...

BALI. Here I am, gumam Shinji dalam hati, begitu dia membuka lebar-lebar pintu menuju beranda yang berbatasan dengan ruang tengah, yang langsung menghadap pantai.
Ombak di depan, berdebur dan bergemuruh, bergulung ke pesisir bersama angin yang menerpa. Seluruh gorden yang tergantung di jendela melambai, seolah bersorak kembali merasakan udara segar. Sudah lama rumah ini tidak dihuni.

Shinji memejamkan mata, menghela napas perlahan, dan mengembuskannya kembali dengan penuh perasaan. Dia menikmati aroma udara yang telah lama tak dihirupnya. Menikmati hawa hangat yang menyentuh kulitnya. Merasakan ketenangan yang selama beberapa tahun ini tak lagi menghampiri dirinya.
Sekali lagi dia berpikir, keputusannya benar datang kemari. Ke rumah masa kecil yang ia tinggali berdua saja dengan ibunya.

“Shinji,” suara berat menyapanya dari belakang.
Shinji menoleh, dan langsung bertemu pandang dengan Eiji yang baru saja muncul dari arah dapur.
“Semua barangmu sudah di kamar,” Eiji memberitahu, sembari berjalan  ke tengah ruangan. “Anak buahku—”
“Aku hanya perlu kau di sini,” Shinji memotong, memutar badan menghadapnya. “Anak buahmu...” Shinji menggeleng.
“Aku bukan baby sittermu.” Eiji berdiri dengan kedua tangan di saku celana hitamnya yang berkilat. “Aku perlu orang untuk menjagamu.”
“Kalau begitu kau juga pergi,” kata Shinji, menatap tajam Eiji. “Bawa anak buahmu bersamamu.”
“Kau keras kepala.”
“Ya. Memang. Bahkan terlalu keras untuk mengingat semua hal secara permanen,” sentak Shinji. Dia kemudian terdiam, menatap Eiji marah, sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya lagi ke arah jendela.
“Baiklah,” kata Eiji tak lama kemudian. “Aku akan menyuruh anak buahku pergi.”

Suara sepatu berdecit, disusul suara haknya menghantam lantai keramik di bawah. Eiji pergi, meninggalkan Shinji sendirian, menatap ke seberang laut yang membiru samar di kaki langit. Hatinya terasa berat lagi; kepalanya terasa penuh. Wajah-wajah orang yang disayanginya muncul satu persatu, berenang-renang mendekat. Wajah Lea dan Dean yang tersenyum padanya—bahkan Juna, yang selalu menunjukkan cemberut masamnya. Juga Malini. Senyum terakhirnya yang ditunjukkannya di kamar apartemennya adalah senyum yang selalu membayangi pikiran Shinji. Kemudian wajah ibunya yang amat manis, kulit pucatnya yang selalu membuatnya terlihat lemah, serta tangannya yang selalu mengusap lembut rambutnya, mengantarkan rasa damai yang tak tergantikan. Semua itu terbayang dengan jelas di matanya.
...

Malam harinya Shinji jalan-jalan ke tepian pantai. Tidak peduli gelap, karena minimnya lampu penerangan. Sambil sesekali meneguk bir untuk menghangatkan badan dia menyusur pasir kasar yang terasa hangat di kakinya, mengamati dengan menyipit buih kelabu ombak yang berkejaran dari ujung ke pantai. Shinji melangkah maju sedikit, membiarkan air merayapi kakinya yang tak beralas. Mengalirkan rasa dingin sampai sebatas betis.

Tak lama kemudian dia mendaki naik. Mengangkat kepalanya sekilas-sekilas, memandangi rumahnya yang bersinar kekuningan oleh cahaya lampu ruang tengahnya. Pintu beranda masih terbuka lebar, membiarkan angin yang bertiup mengibarkan gorden yang menggantung di atasnya. Lalu sosok Eiji muncul dengan perlahan. Bersandar di ambang pintu, seraya menenggak cairan di gelas yang dipegangnya.

Mendadak terdengar suara dengungan, cegukan, isakan serta langkah-langkah yang dipaksakan menginjak-injak pasir dari arah samping. Shinji menoleh, dan melihat sosok samar bergerak beberapa meter di sebelahnya.
Gelap, sehingga dia tidak melihat jelas orang yang terus berjalan ke arah pantai tersebut. Yang pasti dari suaranya, jelas orang itu perempuan. Kedua tangannya penuh oleh tas-tas besar yang susah payah diangkatnya menjauhi permukaan pasir.
Shinji mengernyit. Mengekori perempuan tersebut melangkah gontai sambil menangis.

Tak berapa jauh dari pinggir pantai, perempuan itu menjatuhkan semua tas yang dibawanya. Kemudian berlari cepat, menuju tepian. Ombak besar bergemuruh, bergulung, berkejaran seolah menyambut perempuan tersebut.
Orang itu mau bunuh diri! Shinji berpikir. Dia menjatuhkan botol birnya, dan buru-buru berlari menyusul.
“HEI, NONA!” dia berteriak sekencang yang dia bisa sambil terus berlari. “HEI!!!”

Perempuan itu berhenti, tepat di ujung permukaan yang tak tersentuh air. Berpaling, dan tampaknya memandang Shinji. Tak bersuara sedikit pun. Shinji tak dapat melihat wajahnya, tapi dia yakin, perempuan itu terkejut oleh teriakannya. Dia terus berlari menghampiri.
Kemudian perempuan itu berbalik dan kembali berlari menuju pantai.  Memekikkan kata “tidak” yang panik, dengan kaki menghujam air berkecipakan marah di bawahnya.

SIAL! Shinji mengumpat. Turut masuk ke air. Kenapa aku jadi repot menyelamatkan orang yang memang mau mati, dia menggerutu. Tangannya menggapai ke depan, berusaha menjangkau perempuan di depannya yang langkahnya kian berat oleh air di bawahnya.

“Lepaskan aku!” Perempuan itu berteriak ketika tangan Shinji akhirnya berhasil menarik lengannya yang kurus. "LEPASKAN AKU, BRENGSEKKKK!”
Shinji melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu. Menariknya ke daratan dengan susah payah, karena perempuan itu terus-terusan meronta-ronta dan memukul-mukul tubuh Shinji yang mana pun yang bisa dia temukan. Berteriak-teriak histeris minta dilepaskan.

“LEPASKAAAAAAAAN!” Perempuan itu kembali menjerit, sambil mengentakkan tangannya. Kemudian, entah mendapat kekuatan darimana, menyodokkan sikunya ke rusuk Shinji dengan amat keras. Membuat Shinji terhuyung ke belakang, dan dengan spontan mengendurkan pegangannya, sehingga perempuan itu dapat melepaskan diri.
Shinji terjatuh menghantam air di bawahnya, dan berusaha cepat-cepat bangkit lagi, namun pukulan amat keras mendarat di pipinya, dan dia kembali terjatuh ke air. Shinji mengerang, campuran antara kesakitan dan marah.
Sekilas, terhalang oleh air yang menusuk matanya, dia melihat perempuan itu berdiri memandangnya dengan napas terengah, hendak berbalik pergi. Namun sesosok tubuh jangkung menghadangnya, dan tanpa peringatan melayangkan tamparan ke wajahnya disertai suara ‘plak’ yang amat keras membahana.  Perempuan itu langsung lemas. Merosot lunglai, dan sosok jangkung itu segera menangkapnya.

“Hei, Shin, kau tidak apa-apa?” suara Eiji menyeruak, mengatasi kekagetan. Napasnya memburu, tampaknya dia baru berlari kencang dan jauh.
Shinji tidak langsung menjawab, berusaha keras menegakkan badannya. “Aku tidak apa-apa,” ujarnya kemudian, dengan suara parau. “Jauhkan saja dia dariku.” Shinji mengacungkan telunjuknya kesal ke arah perempuan yang lemas di tangan Eiji. “Dia membuat rahangku seolah rontok,” katanya lagi.

Setelah itu Shinji bergegas pergi. Menarik susah payah kakinya yang kebas oleh air dingin, seraya melepas gusar kausnya yang basah kuyup. Kembali mendaki menujur rumahnya di puncak bukit pasir.

“BRENGSEK!” Dia mengumpat keras, seraya memuntahkan air dan pasir di dalam mulutnya.


(Bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...

7 comments:

Obrolan Blogger.com October 27, 2011 at 2:58 PM  

ini rangkaian dari Novel mu dari yang sebelumnya (nyanyian sendu) ?

udah mulai cetak buku ?

Lita October 27, 2011 at 3:08 PM  

@OBC: Ini tidak dibukukan. Hanya untuk blog aja, OBC. Mudah2an segera ya... bisa cetak buku...

rona-nauli October 27, 2011 at 7:49 PM  

diliat lama2, si takashi ganteng juga ya...*telat nyadar :p

Lita October 27, 2011 at 11:56 PM  

@Rona: Lah iya, Madam. Emang ganteng. Misterius euy!

fitri October 28, 2011 at 8:57 AM  

dr.Marco,...hmmm jadi inget ma si marco simoncelli lagi mbak....sedihhhhh euyyy

Gloria Putri October 28, 2011 at 10:37 PM  

adu duhhhh
fotonya yg diatas itu bikin ngilerrrrrr....ngecesssssss
hohohohohohohoho
shinji lari dr dr. marco ya itu ke Bali?
ckckckk
ayo mba buruan posting lanjutannya

Lita October 29, 2011 at 2:56 PM  

@Fitri: aku jg jadi sedih, nih. Kangen rambut kribonya.

@Glo: Hei, Glo. Ngiler aja kerjanya kaya batita. Tuh, aku udah posting yang ke-5. Baca ya.

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP