Nyanyian Sendu (3)

>> Tuesday, October 25, 2011



Boys Will Be Boys

Meskipun uring-uringan karena Dean terus-terusan memanggil Shinji ‘papa’ ketimbang dirinya, Juna memaksa Shinji tinggal untuk makan malam, dan memasakkan makan malam lezat untuk mereka santap. Dan meskipun Shinji curiga Juna akan memasukkan racun ke dalam makanannya, melihat betapa sangar wajahnya saat menyuruhnya tinggal, Shinji mengiyakan permintaannya. Makan malam bersama keluarga kecilnya, kendati Shinji lebih banyak diam daripada bicaranya.

Bersama keluarganya, terutama pada Lea, Juna sangat berbeda. Dia terlihat santai, seperti halnya pria biasa—suami biasa, yang mengobrol banyak dengan istrinya di meja makan, bertanya aktivitas anaknya hari ini. Bahkan dia tertawa—tertawa yang tidak pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Dia tampak... menyenangkan. Raut kesal yang sore tadi ditunjukkannya pada Shinji sepertinya menghilang dengan cepat entah kemana, dan tak satu pun kata-katanya menyinggungnya seperti tadi.

“Apa sih yang sebenarnya kalian pertengkarkan?” Lea bertanya penasaran pada Shinji setelah makan malam, dan mereka kembali duduk di teras belakang menikmati teh hangat ditemani kerlap-kerlip lampu yang menerangi taman berumput di depan. Juna di dalam, menidurkan Dean. Tugasnya setiap malam.
“Kau.” Bibir Shinji membuat lengkungan jenaka, yang membuat Lea menyipitkan mata.
“Aku? Apa hubungannya denganku?”
“Itulah yang aku tanyakan, apa hubungannya denganmu?”
“Shin, jangan bercanda,” Lea memperingatkan Shinji. Merendahkan dagunya sedikit, dan matanya menatap Shinji melalui kelopaknya. “Jawablah dengan benar.”
Shinji tertawa kecil. “Apa benar kau sedih karenaku?” Suaranya merendah dan sorot matanya melembut begitu memandang Lea. “Karena si Chef sangat cemas dengan itu.”
Lea menarik napas amat pelan, seolah dia berusaha menikmati sedikit demi sedikit oksigen yang dihirupnya. Punggungnya didorongnya ke belakang, ke sandaran kursi. Menunduk sejenak, sebelum akhirnya kembali mendongak pada Shinji. “Kalau kau jadi aku..., bagaimana perasaanmu, ditolak dan tidak digubris olehku, sahabatmu?” tanyanya muram. “Padahal yang kau inginkan hanya memastikan kalau aku baik-baik saja dengan semua masalah buruk yang mendera?”
Shinji memandang Lea dengan ekspresi penuh rasa bersalah. “Sori, oke?” ucapnya. “Kalau aku membuatmu sedih..., I’m sorry. Aku hanya...” Shinji tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Dia tidak mungkin mengatakan alasannya menjauhi Lea karena cemburu. Cemburu yang tak sepatutnya.
“Hanya apa?” tuntut Lea, memandangnya menunggu.
Lea.”
Mendengar suara Juna, Lea buru-buru menengok. Mengangkat dagunya sedikit pada Juna yang bersandar santai di pintu sambil meneguk bir di botol yang dipegangnya. Satu botol bir lagi tergantung canggung di tangan kirinya.
“Dean sudah tidur?” tanya Lea penuh senyum.
“Sudah,” jawab Juna cepat, balas tersenyum. “Bisa cek dia lagi?” Juna berjalan mendekat, meletakkan botol bir yang di tangan kirinya di atas meja di depan Shinji.
Lea tak menjawab, hanya nyengir, kemudian bangkit dari kursi. Dia melempar satu cengiran lagi pada Shinji kemudian beranjak pergi. Namun, begitu mencapai pintu dia berhenti sejenak, kembali menoleh. “Pastikan agar tidak ada yang mabuk,” dia berpesan pada Juna, memberikan senyum yang tak seperti biasa; senyum mengancam, baru kemudian melanjutkan berjalan.

“Gawat, kalau dia sudah tersenyum seperti itu,” gumam Juna, lebih pada dirinya sendiri, lalu meminum birnya lagi. “Aku bisa tidur di sofa malam ini.”

Shinji mendengus, menyeret botol bir di depannya mendekat. Melepas tutupnya yang sudah setengah terbuka, kemudian meneguknya banyak-banyak. Juna duduk di kursi yang tadi diduduki Lea, meletakkan botol bir yang dipegangnya di atas meja, dan bersandar dengan leher di puncak kursi. Dia kelihatan lelah.

Hening yang canggung mengejek Shinji. Dia tidak tahu harus berkata apa pada Juna. Situasi tak mengenakkan tadi sore masih sangat memengaruhi sikapnya pada Juna.

“Mau menginap?” mendadak Juna bicara. Matanya yang ngantuk menatap Shinji, yang langsung bengong.  
Shinji berjengit. “Apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan menginap di rumahmu?”
“Tidak ada,” jawab Juna tanpa ekspresi. “Aku hanya basa-basi.”

Shinji mendengus, bibirnya melengkung naik sedikit. Dia ingin tertawa sebenarnya, tapi gengsi. Ingin melontarkan kata-kata yang lebih dingin, tapi sudah keburu mendengus, akhirnya dia hanya menggelengkan kepala, menarik botol birnya lagi, dan kembali menelan isinya.

 “Bagaimana ayahmu?” tanya Juna lagi. Mencondongkan badannya ke depan, dan mengambil botol birnya lagi.
“Mati,” jawab Shinji singkat.
Juna sedikit tersentak. “Oh ya? Kapan?”
“Enam bulan lalu,” jawab Shinji, meletakkan botol birnya di atas meja, kemudian menyandarkan punggungnya ke belakang. “Jantung juga.”
I'm sorry," ucap Juna dengan nada prihatin. "Kau sedih?" dia bertanya lagi sejenak kemudian. 
Shinji mengembuskan napas tajam, memandang Juna dengan ekspresi yang tak dimengerti selama beberapa saat, baru kemudian menjawab, “Tidak terlalu,” yang kedengaran enggan.

Juna mengangguk-angguk. Kembali menempelkan mulut botol birnya ke bibirnya, dan memiringkannya. Meneguknya perlahan. “Ibumu?” Dia bertanya lagi, yang kali ini langsung disambut Shinji dengan tatapan menghujam, dan hamburan kalimat, "Kenapa kau jadi perhatian sekali padaku? Apa kepalamu terantuk sesuatu barusan?” .
“Kalau ini membuatmu lebih baik, anggap saja pertanyaan-pertanyaanku adalah salah satu usaha basa-basiku denganmu,” jawab Juna cuek. “Jadi kau tidak perlu ge-er.”
Kalimat Juna membuat Shinji mendengus geli. Dia menundukkan kepala, menekan hidungnya seraya menggeleng. “Kau sungguh menyebalkan, kau tahu itu?” Dia mengangguk pada Juna.
“Kau pun menyebalkan,” balas Juna lagi dengan tampang serius. Namun sepersekian detik kemudian dia turut mendengus. Kembali minum.
“Ibuku baik-baik saja,” kata Shinji. “Dia tinggal di Jepang sekarang. Tak mau lagi kembali kemari. Dia...” (Shinji mengembuskan napasnya pelan) “aman.”
“Bagaimana dengan keluarga ‘Yakuza’ mu?” tanya Juna. “Mereka masih mengikutimu?”
“Si Tua Bangka itu menyuruh salah satu anak buah kepercayaannya untuk menjagaku kemana pun aku pergi sebelum dia mati,” jawab Shinji. “Jadi” (Shinji menaikkan kedua pundaknya) “ya,”—dia menengok pada Juna—“aku masih diikuti. Hanya saja, tidak terang-terangan.”
“Mereka mengijinkanmu kembali ke Indonesia...”
“Harus,” sahut Shinji cepat. “Tidak ada yang bisa kulakukan di sana. Aku tidak suka jadi gangster. Aku... tidak suka... hidup di tengah orang-orang seperti itu.”
“Kalau begitu, kenapa kau tato punggungmu?” Juna mendorong kepalanya ke belakang, melihat tato yang menyembul dari balik leher kaus Shinji.
“Ini bukan tato ‘mereka’,” jelas Shinji, menyentuh tato di lehernya sejenak. “Memang mirip, tapi bukan. Hanya tato iseng-iseng.”
“Tato iseng-iseng tidak akan mencapai punggung, Shin,” kata Juna meragukan. “Sangat sakit, dan perlu niat yang luar biasa.”
Shinji berdecak. “Tatoku urusanku,” katanya sebal, “kau urus tatomu sendiri.” Shinji mengangguk ke tato di sekujur tangan Juna.
Juna tergelak. “Sori,” ujarnya. “Just curious. Kukira kau luluh pada ayahmu. Mentato punggungmu hanya untuk membuatnya tenang sebelum dia meninggal. Karena tato itu,”—Juna menunjuk tato Shinji—“hanya untuk keluarga inti Yakuza Kodame. Dan juga sebagai jaminan ‘perlindungan’ dari Yakuza lain.”
Shinji mengernyitkan alis. Dia tak menyangka kalau Juna tahu banyak mengenai tato di punggungnya. “Kau tahu banyak ternyata...”
“Aku berteman dengan Dai Tanaka lumayan lama sebelum akhirnya aku tahu kalau dia adalah pimpinan tertinggi O ushi,” kata Juna. “Dan dia sering menunjukkan gambar-gambar tato khas masing-masing kelompok Yakuza. Salah satunya adalah tato khas keluarga besarmu.”

Shinji diam. Tak berkata-kata lagi. Dia enggan mengakui pada Juna, bahwa dia memang mentato badannya untuk membuat ayahnya tenang. Selama hampir dua tahun, ayahnya telah membuat opini buruk Shinji mengenainya pelan-pelan berubah. Si Tua itu, memang telah meluluhkan hatinya dengan segala cara yang bisa ia lakukan untuknya.
Dari dasar hati yang paling dalam dia sangat sedih atas kepergian ayahnya, namun, dia tidak biasa bersedih untuknya. Berusaha keras untuk tidak memperlihatkan, dan memilih untuk menangis dalam hati. Hal itu membuat perasaannya kebas. Seperti orang yang tak punya indera perasa.

“Habis!” seru Juna tiba-tiba, meletakkan botol birnya yang sudah kosong keras-keras ke atas meja hingga permukaannya bergetar. Dia kemudian melempar pandang pada Shinji. “Bagaimana denganmu?” Dia mengangguk ke arah botol yang masih dicengkeram Shinji.
Shinji menenggak habis birnya, kemudian meletakkan botolnya juga ke atas meja. “Finish!” katanya.
“Mau lagi?” Juna bertanya. Menunjukkan ekspresi bengal yang juga tak biasanya dilihat Shinji.
“Bukankah Lea telah berpesan padamu untuk tidak mabuk?” Shinji menyipitkan sebelah mata.
“Ini cuma Bir.” Juna bangun dari kursinya. “Aku tidak akan mabuk hanya dengan Bir. Kalau kau,” dia menaikkan pundak, memandang Shinji dengan tampang seolah meremehkan, “tidak tahu.”
Shinji menengadahkan wajah. Memperdengarkan tawa yang juga mengejek. “Ambil stok birmu kalau begitu,” tantangnya. “Kita lihat siapa yang teler duluan.”
Juna tersenyum simpul. Mendengus. “Oke,” balas Juna, berjalan mendekati pintu, hendak masuk ke dalam. “Jangan menyesal,” katanya lagi sebelum menghilang dari pandangan.
Bring it on, Chef!” seru Shinji.
...
Lea marah-marah keesokan harinya, karena Juna dan Shinji mabuk berat. Keduanya terlelap di ruang tengah—Juna di atas sofa, dan Shinji tergeletak di lantai; kakinya di wajah Juna, dengan botol bir kosong, kaleng bir kosong, dan berbagai macam bungkusan cemilan yang bisa dijarah keduanya dari dapur, bergelimpangan di sekeliling mereka, sampai akhirnya bangun dengan panik karena mendengar teriakan histeris Lea.


Yang pasti Juna benar-benar terancam tidur di sofa malam harinya, karena Lea, selain sibuk mondar-mandir membersihkan area ruang tengah, tak berkata apa pun padanya. Wajahnya memberengut, seolah memberitahu kalau dia amat murka dan tak mau mendengar penjelasan apa pun dari keduanya.

“Kalian seperti anak kecil,” omelnya jengkel, seraya membersihkan areal ruang tengah yang kacau balau. “Bisa-bisanya kalian membuat berantakan semuanya. Apa sebenarnya yang kalian lakukan sampai semuanya jadi seperti ini?”

Yang dimaksud Lea dengan ‘seperti ini’ yaitu beberapa sofa yang terbalik—baik Shinji maupun Juna tak dapat mengingat jelas bagaimana sofa-sofa tersebut bisa nungging begitu, standing lamp yang terbaring miring di lantai, yang seharusnya bertengger cantik di sudut ruang tamu, korden jendela belakang yang sekarang terikat paksa di tiang standing lamp seperti bendera, dan masih banyak lagi kerancuan yang bisa ditemukan yang melibatkan perabot ruang tengah.

Shinji dan Juna cuma bisa duduk bengong di belakang meja makan. Kepala menunduk dan tampang keduanya dipenuhi rasa bersalah, persis seperti bocah yang sedang terkena semprot ibunya, sementara Lea ngomel non-stop sambil merapikan banyak barang, dibantu pembantunya yang ngos-ngosan di belakangnya karena mengimbangi gerakannya yang cepat.
Dan setelah semuanya rapi, dia meninggalkan Shinji dan Juna begitu saja, tanpa menoleh sedikit pun. Masih tampak sangat kesal.

“Dia tidak semenakutkan itu dulu,” bisik Shinji, seolah takut Lea mendengarnya. “Mengerikan sekali.”
Juna mendengus geli. “Kau belum tahu waktu dia hamil,” katanya memberitahu. “lebih parah dari ini. Aku bahkan berhalusinasi dia punya tanduk di kepalanya.”
Shinji tertawa tertahan, disusul oleh Juna yang menyembuyikannya dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam, sehingga hanya bahunya saja yang berguncang.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats)
...

7 comments:

Gloria Putri October 25, 2011 at 10:38 PM  

xixixixi......malah jd akur tuh dua cowo :P
hohohohoho

ayo mbaaa, part 4 nya jgn lama2 yaaa :)

fitri October 26, 2011 at 1:27 PM  

Sippp,d tunggu lanjutannya y mbak Lita...Semangat!!!

Obrolan Blogger.com October 26, 2011 at 2:08 PM  

salam kenal ya Lita, gimana dengan kondisi bali saat sekarang pasca gempa ?

Lita October 26, 2011 at 2:15 PM  

@Fitri: Semangat juga, FITTT!!!

@OBC: Lam kenal juga. Bali baik2 saja sekarang. Kembali seperti biasa. Tq, telah berkunjung...

Dee@n,  October 27, 2011 at 12:44 PM  

Seneng deh.. anaknya Juna ky namaku kikikikkkkiikkk.... jgn lama2 lanjutannya ya...

Lita October 27, 2011 at 11:55 PM  

@Dee@n: cerita ini hanya fiksi semata, kesamaan nama tokoh, hanya kebetulan semata.
Wakakakakakaka...

*peace ya, diannnnn*

zee ashter January 1, 2013 at 1:18 PM  

LEA,nyanyian sendu,L3..
Br smpet baca yg ini cz q pikir gak da kaitanya dg LEA atw L3..ternyata part yg ini asli kocaaaaakkkk bget.
Mmbayangkan juna curcol sm shinji ttg lea dimasa hamil,bikin gak tahan nahan ketawa.
Good job MM..
Bsa mmbuat pembaca menangis,senyum,tertawa dan bahagia disaat yg tepat.. ;)

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP