Nyanyian Sendu (2)

>> Saturday, October 22, 2011


(Still) Best Friends 

SHINJI dicekal. Dephumkam melarangnya muncul di stasiun televisi mana pun, di acara off-air mana pun, dan dia harus menyetujuinya. Dan sebagai gantinya, Dephumkam tidak akan memperkarakan kasusnya tersebut—padahal mereka memang ingin melindungi putri si pejabat tersebut—sehingga dia bisa lepas dari penahanan Polisi dan kasusnya akan di ‘peti es’-kan.

Pencekalan tersebut membuat putusnya kontrak kerjasama antara Shinji dengan perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan dirinya sebagai ikon produk. Konser keduanya batal, dikarenakan ketiadaan budget, karena pihak sponsor yang disebut akan mendanainya mundur begitu berita pencekalannya diumumkan di seluruh media.
Pihak label pun tidak ketinggalan, mereka menghukum Shinji dengan melayangkan surat penangguhkan pembuatan album keduanya sampai waktu yang tidak ditentukan. Semua itu membuat Shinji benar-benar tak bisa ‘bergerak’. Dia benar-benar seperti orang buangan sekarang; dikucilkan dari dunianya sendiri.
Tapi anehnya, Malini hanya diam. Padahal sebelumnya Shinji mengira dia akan murka padanya. Panik, dan mencoba mengusahakan sesuatu agar pencekalannya dibatalkan, namun ternyata... Malini diam. Tak berkata-kata, tak melakukan apa-apa. Membuat Shinji jadi lebih merasa bersalah daripada sebelumnya. Tidak biasa-biasanya Malini bungkam begitu.
....

SUARA-suara teredam terdengar dari balik pintu apartemen Shinji. Malini sedang berbicara entah dengan siapa di luar. Tak lama kemudian dia masuk kembali, menenteng sebuah lunch box set. Bau sedap makanan menguar dari dalamnya.

“Kau bicara dengan siapa?” tanya Shinji ingin tahu. Menutup koran yang barusan dibacanya. “Tampaknya serius sekali...” Dia meletakkan koran tersebut, dan menarik sebuah majalah di atas meja ruang tamu. Duduk menyilangkan kaki.
“Lea,” jawab Malini. Meletakkan lunch box di atas meja.
Mata Shinji menyipit beberapa detik. “Sekarang sudah pergi?” tanyanya.
“Ya. Dia sudah pergi,” angguk Malini. “Aku menyuruhnya pergi seperti yang kau perintahkan.”
Shinji mengembuskan napas. Menghelanya lagi, dan mengembuskannya lagi, kelihatan gundah. “Baguslah...” katanya kemudian, menaikkan pundaknya sedikit. Kembali membuka majalah, membacanya (atau bisa juga tidak) dengan punggung bersandar.
“Kenapa kau tidak mau ketemu dia?” tanya Malini heran. Menyilangkan tangan di dada. “Dia khawatir sekali padamu.”
“Karena aku tidak perlu menemuinya,” tegas Shinji, menatap tajam Malini. “Tidak penting,” dia kembali melihat ke majalah, “jadi untuk apa?”

Malini menggeleng samar, tampak kesal pada Shinji. Menarik napas dan mengempaskannya diiringi suara keluh putus asa.

“Lea membawakanmu makan siang,” Malini memberitahu Shinji, sambil melangkahkan kakinya mendekati salah satu sofa tunggal. “Kau makanlah... Aku harus pergi menemui Jose.”
Malini menyambar tasnya yang diletakkannya di atas salah satu sofa berlengan di depan Shinji. Bersiap pergi.
“Bawa saja.” Shinji mengangguk ke arah lunch box di atas meja. “Aku bisa beli makan nanti.”
Malini mendelik, lalu membuka tutup mulutnya. Sepertinya dia ragu Shinji baru saja melontarkan kalimat barusan. “Kau ini... Lea sudah—”
“Aku tidak mau,” Shinji buru-buru memotong. “Paling-paling Juna yang memasaknya.”
Malini berjengit. “Juna tidak pernah masak di rumah,” katanya kesal. “Dia hanya masak sewaktu Lea hamil, karena dia ingin Lea makan-makanan sehat,” jelasnya sengit. “Sekarang, setelah melahirkan, Juna tidak masak lagi... Lea yang memasak. Kau ini...” Malini menggelengkan kepalanya lagi. Tidak meneruskan bicara. “Aku tidak mengerti dirimu, Shin. Kau yang dulu... dengan kau yang sekarang... seperti dua orang yang berbeda.”
“Aku masih sama seperti dulu,” bantah Shinji, menatap Malini seolah Malini telah mengucapkan sesuatu yang lucu. “Tak ada yang berubah.”
“Shinji yang dulu... tidak akan mungkin melakukan perbuatan konyol yang membahayakan karirnya sendiri,” tukas Malini. “Shinji yang dulu bukan cowok playboy yang kelayapan tiap malam untuk mencari perempuan-perempuan tolol yang bisa ditiduri.”
Dagu Shinji terangkat, matanya menyipit, menatap tajam Malini yang berdiri di depannya dengan dada naik-turun saking marahnya.
“Shinji yang dulu,” Malini melanjutkan dengan suara bergetar, “tidak akan pernah ragu berkata ‘maaf’ bila telah mengecewakan orang lain. Kau yang sekarang... bukan ‘Shinji’ yang itu.”

Malini menyambar tali lunch box, mengangkatnya dari permukaan meja, sementara Shinji hanya diam, memandang ke arah lain dengan tampang masam.

“Satu hal lagi,” Malini kembali memandang Shinji, “kau tidak berhak cemburu pada Juna,” Malini berkata. “Lea sangat bahagia bersamanya, dan kau seharusnya turut senang. Dan kalau memang semua ulah abnormalmu ini dikarenakan cemburu buta, please...,” Malini menghentikan kata-katanya sejenak, sementara Shinji mengerutkan kening menatapnya,“stop it!” lanjutnya dengan suara hampir memekik. “Karena pada akhirnya hanya kau yang akan merasa sakit.”
Setelah itu Malini berbalik, bergegas menuju pintu, sedangkan Shinji masih bergeming di sofa. Memandang pintu, sampai akhirnya membanting menutup.
...

Rumah Lea dan Juna tidak terlalu besar, namun entah kenapa terasa luas. Rumah mereka bernuansa putih dan hitam, seolah menegaskan pribadi pemiliknya. Lea suka warna putih, Shinji jelas tahu, dan Juna suka hitam. Semua furniturenya bergaya minimalis, tidak ribet. Benda-benda seni khas Bali menempel di tembok, di lantai, dan di atas lemari atau bufet. Taman luas berumput mengapit rumah mereka mulai dari depan sampai belakang. Kolam air mancur bergemericik. Pot-pot besar bonsai berbaris di depan tembok pembatas, bersama dengan beberapa tanaman bunga warna-warni, serta beberapa pohon berdaun rindang. Shinji merasa nyaman di sini.
Dia jadi teringat rumah ayahnya di Jepang.

“Berhenti mengangkat-ngangkatnya seperti itu, Shin,” tegur Lea pada Shinji yang sedang asyik bermain-main dengan Dean (baca: Din), putra Lea dan Juna yang baru berusia satu tahun di taman belakang. Mengangkat-angkatnya tinggi-tinggi seolah hendak melemparnya ke atas. “dia bisa muntah.”

Shinji menurunkan Dean, mendudukkannya di pangkuan. Senyumnya merekah memandang wajah Dean. Dia lucu sekali. Mimik wajahnya saat tertawa dan tersenyum, sangat mirip Lea. Hanya rambutnya saja yang hitam pekat dan lurus seperti Juna. Lebih baik digundul saja, pikirnya.

Glad you here,” ujar Lea, meletakkan cangkir berisi kopi di atas meja. Kemudian duduk di sebelah Shinji. “Baru kali ini kau datang sejak aku melahirkan.”
“Aku sibuk,” balas Shinji. Tersenyum lagi pada Dean, yang meronta-ronta di pangkuannya. Menjambak kausnya dengan tangan mungilnya.
“Aku tahu,” kata Lea. “Kau sibuk dengan gadis-gadis groupy-mu.” Lea mendengus geli.
“Kau kira itu lucu?”
“Menurutmu?”
Shinji balas mendengus. Tersenyum simpul. “Kau dan si Chef membuat bayi yang lucu sekali.” Shinji kembali mengangkat Dean. Menghadapkannya ke arahnya. Dean nyengir dan Shinji langsung tergelak. “Dia mirip sekali denganmu.”
“Katanya begitu,” ujar Lea, memberi cengiran yang persis sama seperti Dean. “Juna sering menyamakan muka cemberutnya denganku. Padahal aku merasa, saat Dean cemberut, dia mirip sekali Juna.”
Setelah Lea berkata begitu, mendadak Dean merengek. Baik Shinji maupun Lea langsung mengalihkan pandang ke arahnya. Mengamatinya bersungut-sungut.
“Ya. Benar,” Shinji mengangguk, “kalau cemberut dia mirip si Chef.”
Lea menopang dagunya dengan satu tangan. “Menurutku juga begitu. Tapi Juna tak percaya.”
Keduanya terkekeh, kemudian kembali memandang Dean yang wajahnya memerah. Hendak menangis.
“Dia kenapa?” Shinji bertanya cemas.
Poop-face,” jawab Lea. “Dia mau pup.”
Shinji buru-buru menyodorkan Dean pada Lea. Ekspresinya seolah jijik. Lea menerima Dean, kemudian bangkit dari bangku dengan tawa lebar. “Kalian, laki-laki, kenapa takut sekali dengan pup bayi?”
Shinji memutar matanya ke atas, duduk bersandar ke belakang, sedangkan Lea masuk ke dalam rumah bersama Dean yang sudah mulai menangis.

Shinji memandang langit sore yang mulai menguning. Menyaksikan kumpulan awan yang bergerak lambat di atas selama beberapa saat. Setelah itu dia menurunkan wajahnya, memandang kosong kolam air mancur di depan. Menghela napasnya perlahan, lalu mengembuskannya dengan pelan sambil memejamkan mata.
Tenang rasanya, entah kenapa. Suasana rumah ini, atau keberadaan Lea di dekatnya yang membuatnya merasa ‘plong’. Tidak lagi memikirkan masalah yang menderanya. Sepertinya, keputusannya menemui Lea benar. Dia jauh merasa lebih baik daripada sebelumnya.

“Shinji?” Seseorang berseru di belakangnya. Suara berat dan dalam yang amat dikenalnya.
Mood baik Shinji langsung menguap secepat dia mengembuskan napasnya. Dia menoleh ke belakang, melihat Juna yang berdiri di ambang pintu teras rumah, masih mengenakan baju ‘chef’nya. Sama seperti Lea, tak ada yang berubah dengan penampilannya. Masih jangkung, kurus, dengan ekspresi masam yang sama seperti sebelumnya. “Hei... Chef,” sapanya enggan, mengangkat tangannya sekilas, dan berdiri dari bangkunya.
“Sudah lama?” tanya Juna, seraya menggerakkan kaki keluar teras.
“Baru saja,” Shinji menjawab. Memaksakan senyum di wajahnya. “Aku menengok Dean.” Dia berjalan menghampiri Juna.
Juna tersenyum simpul. Menurunkan tas yang disandangnya di atas meja teras dan berdiri menunggu Shinji.
“Apa kabar?” tanya Shinji, memasukkan kedua tangannya ke saku jins.
Fine,” jawab Juna datar. “Kau sendiri... kelihatan lebih baik daripada dulu,” komentar Juna. Shinji mendengus tersenyum—agak sinis sebenarnya. “Tapi lebih ceroboh dalam bertindak.”
Alis Shinji berkerenyit. “Maksudmu?”
Juna bersedekap. Mengamati Shinji seolah menilai. “Tidak ada maksud apa pun,” jawabnya menaikkan pundak sedikit. “Aku hanya berpikir kalau kau membuat karirmu sendiri berantakan dengan skandal-skandalmu. Mengecewakan Malini yang sudah susah payah mengembalikanmu ke dunia entertaiment.”
“Bukan urusanmu!” sergah Shinji gusar.
“Urusanku kalau itu melibatkan Lea.”
“Tidak ada hubungannya dengan dia. Lea baik-baik saja.”
“Dia tidak baik-baik saja,” bantah Juna. “Dia terus-terusan mengkhawatirkanmu sejak Pers memberitakan skandalmu dengan banyak perempuan. Dia kecewa ketika kau tidak datang ke rumah sakit setelah melahirkan. Dia juga muram terus karena kau terus-terusan menolak untuk ditemui. Dia sahabatmu. Dan kau tanpa perasaan—”
“Jangan bicara seolah kau tahu bagaimana perasaanku, Juna!” potong Shinji. Tangannya mengepal. Dan matanya melotot berbahaya. “Kau... siapa pun... tidak tahu bagaimana perasaanku!”
“Kau mencintai Lea, kan?” Juna menatapnya menantang. Shinji bengong, kaget dengan pertanyaan mendadak itu. “Kau jadikan itu alasan untuk melakukan tindakan tololmu. Kau bego!”

Shinji menyambar kerah leher Juna dengan beringas. “Hati-hati dengan bahasamu, Juna,” ancamnya. “Kau lupa siapa aku?”
“Siapa pun dirimu..., tak ada yang perlu kutakutkan,” sahut Juna, menyeringai. “Lagipula bukankah kau membenci ‘keluarga’mu itu? Dan apa kau lupa apa yang kau janjikan pada Dai sewaktu dia melepasmu... Sekali saja kau melibatkan ‘klan’-mu, dia akan menghabisimu.”
“Aku tidak akan melibatkan ‘klan’ku hanya untuk memberimu pelajaran,” kata Shinji, masih mencengkeram erat leher kemeja Juna. “Aku bisa melakukannya di sini.”
“Oh.” Juna mengangkat tangannya. Mencengkeram pergelangan tangan Shinji erat, kemudian melepasnya dari kerahnya. “Nantang?”
Kalau kalian mau jotos-jotosan, jangan di dalam rumah,” suara Lea terdengar dari belakang. Marah.
Shinji dan Juna berpaling buru-buru. Memandang Lea yang menatap galak keduanya. Dean di gendongannya, sudah berganti baju. Nyengir pada Shinji. Merentangkan kedua tangannya dengan badan melonjak-lonjak ke arahnya.

“Pa... pa...”--papa, dia berseru dengan suara khas bayinya yang lucu. Bukan pada Juna, tapi pada Shinji.
Juna mendelik, sedang Shinji mendengus. Ekspresinya puas penuh kemenangan. Lea memandang Dean takjub. “Dia bicara...” gumamnya, menerawang.
“Dan kata pertamanya adalah ‘Papa’...” Juna berkata dalam suara seperti melamun. Tampangnya sedih. “pada Shinji...”

Dean melonjak-lonjak, meronta-ronta dari Lea, menunjuk-nunjuk Shinji yang tersenyum lebar, minta digendong. Shinji menghampiri Lea cepat-cepat, dan mengambil Dean dari dekapannya. “Hei, Dean,” sapanya ramah, seraya mengecup pipi Dean dengan sayang. Berjalan menuju taman belakang dengan Dean di dekapannya. Sempat menyeringai pada Juna yang menatap sebal dirinya. Seolah tak rela dia membawa Dean.

Selama sepersekian detik Juna cuma bengong memandang Shinji yang berjalan pelan memutari taman belakang untuk menghibur Dean, sampai akhirnya dia mengeluh pada Lea di sebelahnya, “Bagaimana bisa anakku sendiri menyebut ‘papa’ padanya, padahal aku yang selalu tersiksa mengganti popoknya?”
Lea mendengus geli, yang segera dirubahnya menjadi deheman kecil.

(Bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats)
...

7 comments:

Gloria Putri October 22, 2011 at 6:26 PM  

wkwkwk...parahhh...skalinya bs ngomong papa ke shinji ngomongnya :) wkwkwkkwkw

Winda October 22, 2011 at 11:43 PM  

Ahhh.. sedap! Abis Juna sekarang muncul si Naoki. Ayo terus lanjutin ceritanya Mbak Lita.. aku yang ngipasin... (??? ... sate kali dikipasin :D)

Lita October 22, 2011 at 11:49 PM  

@Glo: Hihihi... kasian, ya, Juna?

@Winda: kamu, Win, pake ngomong sate segala. Jadi laper #panggiltukangsate

rona-nauli October 23, 2011 at 4:42 PM  

Lita, aku shinji-nya tak persepsiin mirip Takuya Kimura gpp ya...biarpun dah tuwir :))

Lita October 25, 2011 at 9:03 AM  

@Rona: Iya, gak papa... Terserah dirimu aja, Madam. Yang penting, klik!... He3

fitri October 25, 2011 at 10:08 AM  

kerennn,mbak lita emang kerennn,btw The Devil's Eyesnya udah ada di toko buku gak? cuz lg jatuh cinta ma novelnya mbak lita yg iniii,penasaran gimana kelanjutannya n mbak kalo uda waktu lolong ditampilin donk rupa para tanu nya penasaran niii...hehehehe..

Lita October 25, 2011 at 2:23 PM  

@Fitri: Devil's Eyes udah akan diterbitin dengan cerita yang beda, Fit. Ada para Tanu di sana, juga Nali dan Abi. Tunggu, ya...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP