Nyanyian Sendu (1)

>> Thursday, October 20, 2011

The Incredible Return

SHINJI kembali ke Indonesia dua tahun setelah dia memutuskan pergi ke Jepang demi ayahnya. Tak ada perubahan pada penampilannya; tetap tampan seperti dulu. Hanya saja sekarang dia terlihat lebih dewasa. Lebih ‘laki-laki’. Tubuhnya semakin bugar, dan entah kenapa kelihatan lebih tinggi. Rambutnya yang hitam pekat sedikit panjang, dan janggut tipis dibiarkan tumbuh di sekeliling rahang dan dagunya. Dan dia, juga lebih pendiam.

Setidaknya itu yang dikatakan Lea, sahabatnya dan juga perempuan yang pernah amat dicintainya—sekarang pun masih, ketika mereka akhirnya bertemu di salah satu kafe di Jakarta.

“Kau... beda,” komentar Lea lagi, masih mengamati Shinji. “You look... cool.”

Shinji hanya tersenyum kecil, tak membalas. Matanya kembali terpancang ke perut Lea yang membuncit, yang terus-terusan diusapnya dengan sayang. Rasa cemburu menggelegak di kepalanya sejak tadi, membuat badannya kaku dan lidahnya serasa kelu. Dia kesal melihat perut Lea. Membuatnya membayangkan Juna sedang bersamanya. Menanamkan benih di tubuhnya.
Shinji segera menepis ilusi tersebut. Menggeleng sedikit, kemudian memandang Lea yang duduk di depannya.

“Dimana... suamimu?” tanya Shinji. Enggan menyebut nama Juna.
“Bekerja...” jawab Lea, meneguk air putih di gelasnya. “Dia kerja setiap pagi, dan pulang malam hari. He’s so busy...
“Dia seharusnya lebih sering bersamamu daripada bekerja. Kau sedang hamil—”
“Dia selalu bersamaku,” sela Lea. Memandang Shinji seolah dia memperingatkannya untuk tidak berpikiran buruk tentang Juna. “Meskipun sibuk... dia tetap menjaga komunikasi denganku,” katanya lagi. “Dia memasakkan makanan sehat untukku. Sibuk mencari informasi di internet mengenai kehamilan; bertanya ke sana ke sini, sementara aku...” (Lea mendengus, menertawai diri sendiri) “amat tidak peduli. Dia... suami yang baik, Shin. Don’t worry, okay?

Shinji menarik napas dan mengembuskannya bersamaan. Kecewa. Sakit hati. Merasa bodoh.
Dia tak suka mendengar kata-kata Lea. Tak suka melihat gurat kebahagiaan yang diberikan Juna kepadanya. Andai saja dulu dia tak menyangkal perasaannya pada Lea. Andai saja dia memberanikan diri mengatakan pada Lea cinta terpendamnya. Andai saja dia tidak bersembunyi dan menjauh darinya; memberikan kesempatan Juna mengisi kekosongan itu, mungkin sekarang dialah yang menikahi Lea. Hidup bersamanya, dan menjadi ayah dari anak yang dikandungnya. Bukan Juna.

“Kau... akan kembali ke showbiz, aku dengar...,” kata Lea. Mencairkan suasana. “Malini bilang..., kau akan menyanyi?” Lea nyengir.
“Kenapa kau menyeringai begitu?” Shinji menyipitkan sebelah matanya. “Kau meragukan suaraku?”
“Aku tidak tahu kau bisa nyanyi.”
“Kau akan tahu sebentar lagi.” Shinji tersenyum manis.
Lea menaikkan sebelah alisnya. Mengamati Shinji lama seakan menilai. “Kau sudah siap... menghadapi wartawan?”
“Sudah ada yang mengaturnya,” kata Shinji, memandang Lea. “Don’t worry.”
“Malini... masih jadi manajermu kan?”
“Tentu saja,” jawab Shinji. Menaikkan pundaknya. “Dia perfect. Tak ada lagi manajer yang perfect seperti dia. Aku tidak akan bisa bekerja sama dengan orang lain lagi.”
Lea tersenyum meskipun sedikit muram. Dia menunduk, meneguk jus di gelasnya. Shinji memerhatikannya.

Hamil tidak membuat Lea berubah sedikit pun. Dia malah semakin cantik dengan baju hamil merah muda yang dikenakannya sekarang. Dada Shinji seolah kosong tiba-tiba, ada yang telah melepas sumbat di dadanya.

“Lea...” Suara Shinji terdengar lirih.
“Ya?”
“Apakah...” Shinji menelan ludah, tampak sulit menemukan kata. Lea memerhatikannya,  “sekali pun...” Shinji merasa kesulitan melontarkan kata. Tenggorokannya seperti kering. “kau pernah mencintaiku?”
Mata besar Lea melebar. Dia tampak terguncang mendapat pertanyaan tersebut dari Shinji. “Tentu saja aku mencintaimu, Shin,” jawabnya buru-buru. “Kau sahabat—”
“Bukan sebagai sahabat,” Shinji memotong. “Tapi sebagai perempuan yang mencintai laki-laki...”
Tak ada kata yang keluar dari bibir Lea. Dia hanya menatap Shinji dengan ekspresi yang bimbang. Tampaknya bingung untuk menjawab.
Long pause... no answer...” gumam Shinji, menirukan kalimat Rebecca Bloomwood, di film Confessions of a Shopaholic. “Tak usah repot menjawab. Aku sudah tahu jawabannya.”
Setelah itu dia bangkit. Meraih tali ranselnya, dan menyandangnya di pundak. Menyambar topinya di atas meja, kemudian mengenakannya. Lea menengadahkan wajah memandang Shinji. Kelihatan panik.
“Kau mau kemana?”
“Aku harus ketemu Malini,” jawab Shinji. “Aku ingin secepatnya mendapatkan ‘nama’ku lagi. Jadi aku tak mau buang waktu.”
Dia segera pergi. Tak mengindahkan panggilan Lea. Berjalan lurus, tanpa menoleh, meninggalkan ruang kafe tersebut. Matanya berkaca-kaca dan hampir saja meleleh ke pipinya, kalau saja dia tak cepat menyapunya dengan ibu jarinya.
...

Shinji Tsubaki, sekali lagi menggegerkan dunia hiburan tanah air. Belum lepas dari kasus perselingkuhannya dengan istri pengusaha Jusuf Irawan, Kutari, yang juga selebriti papan atas, kali ini video mesumnya bersama putri dari salah satu pejabat tinggi Negara menyebar luas di dunia maya. Kasus ini mengesahkan dirinya sebagai playboy kelas satu saat ini…
Saya belum bisa berkomentar. Saya belum bertemu Shinji sejak kemarin…”
Malini, Manajer Shinji menolak untuk berkomentar atas kasus skandal artisnya itu…
Penyanyi rock papan atas, Shinji Tsubaki, yang dulu sempat tenar dengan tarian hip-hopnya yang selalu memukau, menghilang sehari setelah video pornonya itu tersebar…”

TIT

“Kenapa dimatikan?”
Malini—yang wajah cantiknya sekarang luar biasa tak bersahabat—melempar gusar remote yang dipegangnya ke arah sofa. Remote itu mendarat persis di sebelah Shinji duduk. Hampir saja menghantam pahanya, kalau saja Shinji tidak buru-buru bergeser.
“Kau ini kenapa?” Shinji membeliak pada Malini, yang memandangnya dengan mata menyipit berbahaya. “Baru datang sudah main lempar—”
“Kau yang kenapa?!” sembur Malini, membuat Shinji tersentak. “Kau ini mau apa sebenarnya? Dalam waktu setahun kau sudah main gila dengan banyak perempuan. Bahkan merekamnya! Kau mau seperti Ariel?!” Malini melotot. “Dan kau... duduk santai di sini, sementara di luar sana orang sedang ribut karena ulah gilamu! Kau tahu... berapa banyak pertanyaan menjengkelkan yang harus kujawab?"
Shinji memutar matanya ke atas.
“Belum selesai skandalmu dengan Kutari, sekarang kau buat masalah—” (“Hei, bukan aku yang menyebarkannya.”) “—lagi. Untuk apa kau—” (“Aku tidak tahu menahu.”) “—merekam aktivitas tempat tidurmu sendiri dan akhirnya membuat masalah besar begini?!”
Suara Shinji dan Malini tumpang tindih. Keduanya saling teriak di ruang tamu apartemen Shinji yang lumayan luas. Suara mereka bergaung kemana-mana.
“Itu koleksi pribadi,” Shinji membela diri, mengatasi suara Malini yang masih mengomelinya. “Aku merekamnya untukku sendiri. Flash Disk-ku hilang—”
Malini memotong kalimatnya dengan suara tak kalah keras, “Aku tidak peduli dengan Flash Disk-mu yang hilang. Aku hanya ingin tahu… kenapa kau sinting, merekam perbuatan seperti itu?!”
“Aku bilang… itu untuk koleksi pribadi,” tukas Shinji.
For God sake, Shinji, kau—sudah—GILA!” Malini hilang kesabaran, berteriak luar biasa keras saking murkanya. Dia memandang Shinji yang langsung bungkam dengan napas memburu. “Kau tahu, kan… siapa perempuan yang kau…” Malini tidak mampu menemukan kata pengganti yang lebih sopan dari “tiduri”, sehingga dia memilih untuk tidak mengatakannya saja sekalian. “Kau tahu siapa dia itu, kan?”
Shinji mendengus, menyilangkan tangannya di dada. “Siapa sih yang tidak kenal Marlena? Anak Wakil Presiden Negara kita yang hiper-sex itu.”
“Oh, Tuhan! Oh, Tuhan,” racau Malini. Dia merasa pening seketika mendengar jawaban Shinji. Terhuyung ke belakang sambil memegang sisi kepalanya yang berdenyut-denyut. Napasnya terengah seperti habis berlari ratusan kilometer. “Oh, Tuhan… Tolong… Tolong aku…”
Malini mengenyakan tubuhnya di atas salah satu sofa tunggal berlengan, sambil terus berkata, “Oh, Tuhan. Oh, Tuhan,” dengan Shinji menatapnya bengong.
“Malini... Kau baik-baik saja?” Shinji bertanya dengan tampang menyelidik. Membungkuk sedikit.
“APA KAU MESTI TANYA LAGI?” semprot Malini histeris. Melototi jengkel Shinji.
Shinji menegakkan tubuhnya buru-buru dengan kedua tangan terangkat seperti orang yang menyerah. Tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya melihat kemarahan Malini. Sebaliknya dia malah tersenyum simpul.
“Santai saja,” sarannya, dengan nada cuek. “Semua akan berlalu, tanpa kau sadari. Gosip ini seperti… flu. Hanya berlangsung selama dua-tiga hari.”
Malini menegakkan tubuhnya, masih membeliakkan matanya. “Bukan gosip kalau buktinya autentik! Ini fakta. Kenyataan. Masalah. Masalah besar!”
“Ayolah—”
“Kau tahu? Semua pihak sponsor yang akan mendukung konser keduamu mengundurkan diri hari ini,” potong Malini. “Pihak label memanggilku; mereka akan menunda pembuatan album keduamu.”
“Apa?!”
“Dan ketika kau bersembunyi di apartemen rahasiamu ini, aku harus berurusan dengan petugas Departemen Hukum dan Keamanan, yang bertanya dimana kau berada saat ini—” (Shinji berjengit) “—dan mengantarkan surat resmi pemanggilanmu…”
Malini mengangkat tubuhnya dari sofa, berjalan ke sofa lain untuk mengambil tasnya. “Ini,” dia menyodorkan amplop putih dengan logo resmi Dephumkam pada Shinji, setelah sebelumnya merogoh panik tas jinjingnya. “Kau baca sendiri,” suruhnya, menjejalkan amplop surat yang segelnya sudah terbuka tersebut dengan tak sabar ke tangan Shinji yang kelihatan sekali enggan menerimanya.
Shinji membuka amplop tersebut, menarik keluar secarik kertas dari dalamnya dan membuka lipatannya pelan-pelan. Dengan wajah masam dia membaca isi surat tersebut, ditemani ocehan jengkel Malini.
“Terserah kau melakukan apa dengan siapa pun—aku tidak peduli,” kata Malini, mondar-mandir di hadapan Shinji. “Tapi seharusnya kau jangan merekamnya. Oh, God!
 Bola mata coklat Shinji bergerak-gerak mengikuti barisan huruf-huruf yang terketik rapi di kertas putih yang dipegangnya. Setiap kata, kalimat resmi, yang dieja secara sempurna di depan matanya membuat keningnya semakin berkerut. Dalam hati dia ingin tertawa, betapa ‘tingkah nakal’-nya kali ini telah membuat pemerintah Negara terlibat.
“Oke,” katanya santai. Tampangnya benar-benar biasa, tak kelihatan gentar sedikit pun. “Aku akan—” dia melipat surat itu kembali dan memasukkannya ke dalam amplop, “—datang ke Dephumkam besok.”
Dia melempar amplop surat itu ke atas meja. Bersedekap, menundukkan kepalanya, dan mengembuskan napas. Malini mengamatinya dengan alis dikernyitkan.
“Apa mereka akan menjemputku dengan Volvo hitam yang biasa dipakai Presiden itu?”
Malini mengertakkan gigi. Berusaha keras menelan amarahnya.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...
gambar dari sini (Takashi Kashiwabara)
Hey, Ladies. I'm back.
Prepare.

Catatan Lita:
Karakter utama di Nyanyian Sendu ini sebenarnya memang Shinji dan juga Lea. Namun dikarenakan tokoh Lea telah diambil untuk cerbung "Lea: A Dedication to Junior Rorimpandey", saya terpaksa merombak cerita ini dari awal, dengan tokoh wanita baru untuk mendampingi Shinji. 

It's fun, though, karena dengan begini, Lea dan Juna masih bisa dimasukkan sesekali sebagai 'tamu', tanpa merusak cerita 'Shinji' nya sendiri.
So, this is it. Cerita saya selanjutnya untuk mengisi Lita's Stories, Nyanyian Sendu. Saya harap, para blogger pals, masih ingin membaca dan berkomentar mengenainya.
Love you all.


18 comments:

Dee@n,  October 20, 2011 at 12:35 PM  

Asiiikkkkkk.... tapi Lea dan Juna walopun cuma "tamu", harus rajin berkunjung yaa... masi gak rela kehilangan mereka berdua, mbak lita!!!

artika maya October 20, 2011 at 1:02 PM  

astaga... km pake masukin potonya si Takashi Kashiwabara lagi, bikin ane slurp slurpp....

buset dah, hahaha...

Lita October 20, 2011 at 2:00 PM  

@Dee@n: jelas kudu. Aku kangen Juna... tapi tetep fokusnya ke Shinji... *senyum manis*

@Maya: Waduh, its an honour banget dikunjungin Jeng Maya. *joged2 geal-geol*

Iya, aku juga slurp-slurp... Wkwkwkwkwwkwk...

ulfah October 20, 2011 at 2:57 PM  

Yes! Another story :3 Shinji-nya cakep banget. Tapi saya masih tetep teamJunaLea :D

rezkaocta October 20, 2011 at 3:09 PM  

mb, cerita nya baguuusss.
kunjungan peradan nih, salam kenal yaakk
aku baru baca LEA sampe no 7 niih, msh banyak yg belomny...hhihihi

Enno October 20, 2011 at 3:10 PM  

nah ini nih selera gue... besok desember bawa yak! :P

Lita October 20, 2011 at 3:17 PM  

@Ulfah: aku juga tetep tim Juna... *gak ada yang ngalahin dehhhh*

@Rezka: Makasih Rezka, udah baca... Senang sekali, diriku ini...

@Enno: AKHIRNYAAAAAA!!! Mbakku ini mampir... setelah berbulan2, bertahun-tahun, berjaman2, tidak menghampiri #berlinanganirmataharu.

Inggit Inggit Semut October 20, 2011 at 3:50 PM  

SUKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!

hayo shinji gaboleh ngayal yang jorok jorok yah huehehehehehe

Lita October 20, 2011 at 4:21 PM  

@Inggit: Shinji bilang, "nggak banyak2 kok, ngayalnya. Dikiiiiiiiiiitttt ajahhh." Trus dia ngedip deh...

Wkwkwkwkwkwwk

ann October 20, 2011 at 6:46 PM  

Haha.. Hampir aja patah hati, malezz nengok blog ini lagi gara2 juna 'n lea the end..

Kali ini penulisnya pasti bisa lebih out of the box, lebih liar *baca : nakal*, lebih explore lagi..

Yang penting masih ketemu juna ama lea deh.. *joged-joged* tq mba litaa.. *kiss-kiss*

fitri October 20, 2011 at 6:46 PM  

it's really nice story,mbak lita itu si takashi kashiwabara yg maen di itazurana kiss bukan??, last but not least buat mbak Lita yg cantikk terus berkarya y...semangattt.

Gloria Putri October 20, 2011 at 7:56 PM  

bagus mba :)
ayo lanjutannya :)

heheheeee

Lita October 20, 2011 at 8:42 PM  

@Ann: Wah, gitu deh, si Ann. Gak mau mampir sini lagi *berurai air mata*...
Untung aku posting 'Shinji' ya... jadinya Ann mampir deh *melet*. Ikutin terus ya, Ann...

@Fitri: Iya, Fit. Dia yang main Itazurana Kiss as Naoki... Btw thanks ya... Fit #melelehdibilangcantik

@Glo: Ih, tumben, si Poni nongol... Minta lanjutan lagi... Kayanya pembacaku tambak 1 nih *joged2*... Trim, ya Dek... *mwah!*

Poey October 21, 2011 at 9:00 AM  

ini postingan perdana kan???
jd ga ada cerita yg kulewatin kan?
kan aku mo ikutin dr awal...
setelah yg lea dan juna udh kelewatan tll jauh.

Lita October 21, 2011 at 11:31 AM  

@Poey: Iya, Poey... Ini yang perdana. Baca, yah...

Enno October 22, 2011 at 3:07 PM  

lha? kan critanya eike lagi menggalau.. jd ga komen2...
gimana mau komen.. ceritanya romantis bikin ngiri, sementara aku lg sakit hati...

hiks hiks...

Lita October 22, 2011 at 11:11 PM  

@Enno: Aduh... Iya ya... Dirimu sedang galau banget... Aku jadi ikutan sedih. But you're back (thankfully), jadi ayo komen lagi, Mbak. *peluk*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP