LEA: Extra Chapter: Tekapo Lake

>> Tuesday, October 18, 2011

Foto Original dari J-Rex FP


Hello, Jane,” Lea menyapa ramah pemilik cottage. Seorang perempuan tambun berambut sewarna jerami, yang berwajah pink merona. Jane sedang membersihkan salah satu meja bundar di restorannya dengan spon besar.
Hello, Lea,” balas Jane antusias. “Do you need something?” Dia meletakkan spon, melap tangannya di apron yang melilit di pinggangnya.
I need an extra blanket,” jawab Lea. “Do you have one more? It’s cold, and I can’t stand it.” Lea nyengir. Menggosok-gosokkan tangannya yang bersarung tangan di lengan jaket tebalnya.
Yes. I have,” jawab Jane tersenyum. “I will have someone deliver it to your room right away,” ujarnya.
Okay,” Lea mengangguk. Tersenyum lega. Tangannya dimasukkannya ke saku. “I’ve gotta go. It’s cold.
Yes, of course. Last time you here, you were very sick,” beritahu Jane. “Your husband was so worry about you that time. He alone, took care of you since I can’t come. Oh... how he loves you so much,” senyum Jane. “He was so worry that he could die.
Lea mengernyit. “He said... you’re with him all that time...?
Jane menggeleng buru-buru. “No. I wasn’t. Just you and him in that room. That’s why, I told him to warm you with his body if your temperature’d got dropped.”
Warm me with... what...?
His body,” jawab Jane santai. “He’s got to skin to skin with you.” Mata Lea membeliak. “To Keep your body warm.”
But, don’t we have to strip our clothes to do that?”
Yes. You have to 
....

“Hey.” Juna memalingkan wajahnya sekilas ke arah Lea yang baru saja masuk ke dalam. Dia sedang duduk bersila di depan tas besarnya, mengeluarkan pakaiannya satu per satu dan menumpuknya di atas tempat tidur. Tapi kemudian dia menoleh lagi. Mengernyit memandang Lea yang wajahnya masam; tak bersahabat. Bersandar di depan pintu. “What’s with you?” tanyanya heran.
“Jane mengatakan padaku tentang aksi penyelamatanmu padaku tempo hari...,” kata Lea datar. “Dia bercerita bagaimana melakukan ‘pemanasan tubuh’ pada orang yang terjangkit hipotermia...?” Lea bersedekap. Menatap tajam Juna.
Mata Juna melebar dan menyipit bersamaan. Mengembuskan napas berat; meletakkan celana jins yang baru saja dikeluarkannya di atas tasnya asal saja. Membiarkannya jatuh ke lantai kayu yang berkilap.
“Kau membuka bajuku?” Lea menatap tajam Juna. Tangannya masih menyilang di dada.
“Aku...”
“Jawab ‘ya’... atau ‘tidak’”
“Lea...”
“ ‘Ya’ atau ‘tidak’?”
Juna mengempaskan napasnya. “Ya,” jawabnya. “Tapi...”
Lea tidak menggubris kata-kata Juna. Berjalan cepat-cepat ke arah tempat tidur. Menyambar gagang travel bagnya, dan menyeretnya pergi. Juna bergegas bangkit. Mengejarnya.
“Kau mau kemana?” tanyanya. Mencengkeram lengan Lea.
“Aku mau pesan kamar satu lagi.”
“Ha? Apa maksudmu?”
“Aku tidak ingin berada dalam satu kamar dengan orang cabul sepertimu.”
“Aku tidak cabul!” tukas Juna kesal. “Aku berusaha menjaga temperatur badanmu tetap stabil.”
“Dengan menelanjangiku?”
Juna mengerem kata ‘ya’ yang baru saja kan keluar dari mulutnya. “Memang begitu caranya,” katanya sejenak kemudian. “Tapi aku tidak melihat apa pun. Aku tidak membuka baju dalammu. Aku bahkan tidak lihat tato kupu-kupu di pinggulmu.”
Mata Lea melebar,  berjengit. Juna tercekat, kelepasan bicara. “Kau...” napas Lea tersengal, “jahat!” Dia melanjutkan berjalan ke arah pintu.
“Lea... Lea...” Juna menyambar lengan Lea lagi. “Kenapa kau menyebutku jahat?”
“Di rumah sakit... kau menjengukku... dan kau... kau bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi di antara kita...”
“Memang tak ada yang terjadi!”
“Kau menelanjangiku!” hardik Lea murka. “Dan kau... dengan ringannya berkata, kalau kau tidak akan bisa membiarkan orang lain mati di dekatmu. Kau menyebutku ‘orang lain’! Setelah kau melihat...” Lea celingukan memandang tubuhnya. “Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu?! Sedih sekali. Aku seperti orang yang bertepuk sebelah tangan. Merasa luar biasa bodoh, karena berpikir kau menyukaiku!”
“Lea... saat itu... saat itu...” Juna kesulitan bicara. “Lea... aku sudah katakan padamu kalau aku tidak bisa bersikap atau berkata normal pada orang yang kusukai. Kata-kata yang keluar dari mulutku, bukan kata-kata yang ingin benar-benar ingin kukatakan.”
What ever!
Lea meraih gagang pintu, namun Juna buru-buru menarik tangannya. Mengangkat tubuhnya, dan membopongnya di pundaknya.
“Juna! Turunkan aku!” Lea meronta-ronta berusaha turun. Memukul-mukul punggung Juna. “Turunkan—”
Juna melempar Lea ke tempat tidur. Wajahnya kelihatan kesal. Rahangnya mengeras. Lea hanya bisa bengong. Untuk sementara tak bisa berpikir saking kagetnya.
“Kau apa-apaan?!” teriaknya lagi saat Juna menarik lepas kausnya ke atas, dan melemparnya asal saja ke lantai. Memamerkan dadanya yang bertato. “Ngapain lepas baju?”
Juna tak menjawab. Naik ke atas tempat tidur dengan lutut lebih dulu.
Lea mundur buru-buru ke belakang. Merangkak menggunakan sikunya, menjauhi Juna. “Juna... jangan macam-macam. Kalau kau macam-macam aku akan—”
“Lapor Polisi?” sambar Juna. “Kau mau melaporkan suamimu sendiri pada Polisi dengan tuduhan ‘macam-macam’?”
Juna menarik kaki Lea, menyeretnya ke bawah tubuhnya. Mencengkeram pergelangan tangan Lea amat kuat, sehingga dia tidak bisa bergerak.
“Kau bilang aku jahat?” Juna melepas ikat pinggangnya, kembali melemparnya sembarangan. “Aku bisa jadi orang jahat.”
Dia tidak menghiraukan teriakan Lea. Merendahkan tubuhnya, menekan bibir Lea dengan bibirnya dengan paksa, membuat Lea tak bisa menghindar kemana pun. Atau mungkin, dia memang tak ingin menghindar kemana pun.
...........
Hei, Lea.”
Suara Juna terdengar begitu jauh, seolah dia berada di tempat yang jaraknya bermil-mil dari Lea.
“Lea...” dia memanggil Lea lagi. Mengusap helai rambut yang jatuh di wajahnya dengan hati-hati.
Lea menyingkap matanya dan melihat Juna di depannya. Berbaring miring menghadapnya. Pikiran Lea sama sekali belum penuh. Kepalanya sakit. Seluruh badannya sakit. Bagian bawah perutnya terasa perih. Dia meringis.
“Kau baik-baik saja?” tanya Juna lagi. Mengusap rambut Lea dengan amat lembut. “Lea...”
“Sakit sekali...” gumam Lea lemah. Bibirnya terasa lengket, susah untuk dibuka.
“Apanya?”
“Perutku...”
Juna mendengus. Kelihatan geli. “Itu normal,” dia berkata. “Nanti juga hilang.”

Mendadak mata Lea melebar. Ingatannya kembali. Pikirannya fokus. Dia tahu apa yang menyebabkan sakit di bagian perutnya.
Lea buru-buru menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut, begitu menyadari Juna tak berpakaian. Dia dan Juna tadi baru saja... Oh, dia sama sekali tak mau memikirkannya, karena selain malu, itu juga menyakitkan. Sangat.

“Lea...” Juna mencoba membuka selimut Lea. “Lea...”
Go away!” suruh Lea dengan suara teredam. Seluruh badannya terasa panas sekarang.
“Lea...” Juna tetap berusaha menarik selimut Lea. Sampai akhirnya dengan satu entakan keras, selimut yang menyelubungi kepala Lea tersingkap. Menampilkan Lea yang meringkuk di baliknya. Tak berani memandang Juna.
“Lea...” panggilnya lagi, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Lea. “Lea... lihat aku... Lea.” Dia berhasil menyingkirkan lengan Lea yang menamengi wajahnya, dan melihat betapa sembap matanya sekarang. Lea menangis tanpa suara.
Juna mengembuskan napas perlahan. Kelihatan merasa bersalah. Dengan hati-hati dia menarik Lea mendekat. Membawanya ke pelukannya, dan mendekapnya erat. Mengelus-elus rambutnya dengan sayang, membiarkannya menangis samar di dadanya. Sesekali memberikan kecupan kecil di keningnya.
I’m sorry...” gumamnya pelan, sehingga hanya Lea yang bisa mendengar. “I’m sorry I hurt you.”
Lea terisak pelan. Dia ingin mengatakan pada Juna kalau dia tidak menyakitinya, meskipun secara fisik dia merasa kesakitan. Dia sekarang hanya syok, karena telah kehilangan sesuatu. Sesuatu yang memang menjadi milik Juna, namun diambilnya dengan cara yang tak terduga. Tanpa persiapan sebelumnya. Dia tak ingin itu.
Tapi, Lea, suara kecil di kepalanya berkata, ini Juna. Suamimu. Laki-laki yang sangat kau cintai dan sangat mencintaimu. Dia bercinta denganmu karena dia memang menginginkanmu, dan kau... dari hati kecilmu yang paling dalam juga menginginkannya. Bercinta dengannya. Kau menginginkan itu.

Perlahan Lea membuka mata. Menggerakkan wajahnya sedikit ke atas, menatap Juna yang tersenyum menatapnya. Api yang berderak-derak di perapian memantul, menimbulkan bayangan hitam yang bergerak-gerak di permukaan wajah Juna yang tersenyum. Hujan di luar, dan angin menyanyikan suara lembut yang sunyi. Mengetuk-ngetuk jendela dengan teratur. Seiring napas Lea dan Juna yang saling beradu.

“Kau marah?” Juna bertanya dalam suara berbisik.
“Menurutmu?”
“Kau ingin pergi?”
“Kalau kau ingin... aku akan pergi,” kata Lea lemah, membiarkan tangan Juna menyapu pipinya.
“Aku tidak akan pernah menginginkan itu,” kata Juna. “Aku sudah bilang aku tidak bisa dijauhkan darimu lagi,” tambahnya. “Aku tidak akan mengijinkanmu menjauh sedikit pun dariku.”
“Kalau aku ingin pergi...?”
“Aku akan menyeretmu lagi, dan...”
Lea cepat-cepat menekap mulut Juna dengan tangannya. Tidak membiarkannya menyebut kata yang membuat dirinya akan merasa ‘beda’ dari semestinya. Tapi Juna dengan lembut menyingkirkan tangan Lea dari bibirnya, melanjutkan kata-katanya yang terputus. “Aku akan menyeretmu, dan aku akan bercinta denganmu sampai kau tak punya tenaga untuk meninggalkanku.”
Setelah itu Juna menciumnya. Ciuman yang sama seperti ciumannya sebelumnya, namun lebih lembut. Sangat.

Sesuatu yang menyenangkan mengalir ke seluruh tubuh Lea, membuatnya serasa mabuk. Melayang... tinggi ke atas.
Pikirannya penuh oleh Juna; bibirnya, matanya, tangannya, semua itu merasukinya. Membuat tubuhnya tak lagi mematuhinya. Bergerak  sendiri, tanpa disuruh. Lea merasa dirinya bukan lagi dirinya. Badannya panas seolah terbakar, dan sentuhan Juna membuatnya sejuk. Membuatnya bertambah menginginkannya, lebih dari sebelumnya.

Malam itu mereka kembali menyatu. Larut oleh cinta yang tiada habisnya. Menyongsong pagi keesokan harinya dengan tubuh saling merapat. Tangan yang saling tertaut, seolah tak ingin terlepas.  
...
gambar dari sini
The Dawn's breaking...
A new life's begin. 

ps.
Now, we say goodbye.
Love you all.

11 comments:

Winda,  October 18, 2011 at 9:02 AM  

*nyusut air mata*
Bye Lea... ...
Semangat nulis terus ya Mbak Lita.. bikin cerita baru lagi ^.^

ann October 18, 2011 at 2:30 PM  

Lea nya lita banget.. Haha.. Bener ngga??

Congratulation ya mba, ngga sabar nunggu tulisan mba lita yang lain.. ;)

We'll miss u juna, ...so much!! And u too "lea" of course..

Lita October 18, 2011 at 2:57 PM  

@Winda: Jadi sedih, ya...? Thanks ya, Winda. Udah ngikutin Lea. Ikutin Cerbung baruku lagi ya... Tentang Shinji... Jadi masih bisa ketemu Lea & Juna dikit...
#bener2gakrelaberakhir

@Ann: Lea-nya, Lita banget!!!
Iya... Mimpiku bersama Juna, yang cuma bisa dituangin di sebuah cerita (*_*)#mesem2

Tetep ikutin ceritaku ya, Ann. Gonna miss Lea and Juna, too

fitri October 18, 2011 at 3:52 PM  

mbakk Litaaa...it's the best endingg,..kerennn,klo boleh request bikin cerbung donk tentang royal wedding gitu...hehehehe

Lita October 18, 2011 at 4:22 PM  

@Fitri: Royal wedding gimana, nih, Fit? Royal wed-nya Lea?

rona-nauli October 18, 2011 at 8:51 PM  

asyeeekkk...shinji ya, Lit? *wink2*

Winda October 18, 2011 at 10:25 PM  

Ending yang indah Mbak Lita.. trus udah terlanjur sayang ama Lea (hahaha.. padahal pertama baca gara-gara Juna, tapi akhirnya malah suka ama Lea-nya) jadi berat hati gitu mau say goodbye.
Oke.. siapin kopi & cemilan, duduk manis nungguin ceritanya Shinji ;)

fitri October 19, 2011 at 10:42 AM  

bukan Lea mb,beda topik ne...royal wedding yg kaya princess hour gituuu...hehehe(dasar penggemar PH)

shrey September 22, 2012 at 9:23 PM  

baru nemu blog ini kemarin pas lagi iseng2 search nama juna di google..
awalnya mikir "eh ini asli ato ngarang yah?" tapi pas di liat lagi, eh ada chapternya..karena penasaran, akhirnya baca dari awal.
tanggepan awal "ok juna banget" lama2 jadi geli sendiri kepikiran gimana kalo juna bener2 seromantis itu..hehehehe
tapi ceritanya bener2 bagus, ngalir, dengan seluk beluk yang berhubungan dengan profil juna..
gw baca tiap chapter sampe ikutan deg2an tiap adegan seru, ngernyitin jidat pas adegan tegang, plus kipas2 muka tiap adegan romantis..hehehehehehe
good story sist..^^

Gabriela Lidwina April 22, 2013 at 11:13 AM  

Kak Lita, nama facebook nya apa ??? Terima kasih

Gabriela Lidwina April 22, 2013 at 11:14 AM  

Kak Lita, nama Facebook dan twitter nya apa ??? Thx

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP