LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (38) - END

>> Sunday, October 16, 2011



At Last

KARENA telah bersedia bekerja sama untuk mengaburkan fakta kasus penculikan Lea dan siapa pun yang terlibat di dalamnya (termasuk Shinji), dengan mengatakan bahwa semua itu rekayasa untuk teaser film terbaru kepada Pers, Hanung menuntut Juna untuk berperan di filmnya, yang juga bercerita tentang Yakuza (terinspirasi dari pengalaman Lea dan Juna). “Sayang kan, kalau kisah heroik dan fenomenal semacam itu tidak diangkat ke film?” kata Hanung menyeringai, saat Juna menyipit tajam ke arahnya. “Lagipula Pers akan lebih percaya kalau kau benar-benar berakting di filmku kan,” tambahnya lagi.
Dan Juna, meskipun pasti lebih memilih untuk minum air kobokan, sebagai rasa terimakasih pada Hanung, terpaksa mengiyakannya.  

Awalnya semua meragukan penjelasan Hanung. Tidak percaya begitu saja. Pers terutama, berusaha menyudutkan Hanung dengan melampirkan bukti-bukti dari rumah sakit yang merawat Juna, bahwa luka-luka lebam di wajah Juna adalah asli, bukan buatan. Namun kemudian, entah bagaimana, pihak rumah sakit membantahnya. Bahkan Kepala rumah sakitnya sendiri menyatakan bahwa mereka turut membantu rekayasa tersebut, dan siap memberikan penjelasan kepada pihak-pihak berwenang kalau memang dibutuhkan. Namun ternyata pihak berwenang pun kelihatan tak peduli. Polisi cuek-cuek saja. Mengatakan pada Pers, tak ada yang perlu diselidiki lagi, kalau Lea dan Juna telah kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun. Membuat kasus itu akhirnya redup sendiri. Raib hanya dalam waktu seminggu, sejak Lea dan Juna kembali ke muka publik, dan mengumumkan pertunangan mereka.
...
Tak banyak yang diundang ke pemberkatan pernikahan Lea dan Juna. Hanya sekitar tujuh puluh lima orang; terdiri dari kerabat dekat, sahabat, dan relasi dekat kedua mempelai saja. Pers tidak diperkenankan meliput, karena Juna bersikeras tidak mau melihat satu kamera pun--kecuali kamera digital Leo—ada di ruangan saat dia menikah. Dia mengatakan pada semua orang bahwa pers hanya akan mengurangi kesakralan pernikahannya, dan dia tidak mau itu terjadi.
Menghormati keinginannya, pihak Wedding Organizer dan Malini yang tadinya ngotot mengundang beberapa stasiun televisi terpaksa menyetujuinya.

Pemberkatan pernikahan dan acara resepsi semuanya diadakan di Bali. Di daerah Ubud, Gianyar, di sebuah Villa di atas bukit yang dipilih oleh WO atas permintaan Juna, yang menginginkan lokasi yang jauh dari keramaian kota.
Sederhana namun elegan, itu tema yang diinginkannya, karena menurut Juna Lea pastinya lebih nyaman dengan itu. Dia juga meminta semua bunga untuk dekorasi adalah bunga Lili putih. Bunga kesukaan Lea.
Hasilnya saat hari ‘H’, villa tersebut kelihatan sangat indah. Harum Lili menyegarkan udara beku yang menggantung di pagi hari. Putih dimana-mana, menyejukkan mata. Menenangkan. Suasana yang baik untuk melangsungkan pernikahan, semua orang berkomentar.

Lea berdiri di depan cermin. Memerhatikan sosoknya dengan gaun pengantin putih yang melekat di tubuhnya. Malini yang memilihnya, karena Lea, menjelang acara pernikahannya sudah tidak bisa lagi berkonsentrasi. Dia seperti zombie, lebih banyak bengong daripada bicaranya—Pre-wedding syndrom—Sindrom Sebelum Nikah, itu kata Malini, sehingga orang-orang di sekitarnya yang lebih berinisiatif bergerak.

Sebentar lagi, Lea berpikir. Dia akan menjadi istri Juna. Dan hidupnya akan sangat berbeda setelahnya. Dia masih bimbang, apakah dia bisa menjadi seorang istri yang baik dari pria yang dicintainya? Apakah dia bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak. Dia takut dia tidak bisa. Dan itu mengganggu pikirannya sejak Juna melamarnya, sampai dengan hari ini.
“Wow..., Kak.”
Lea memutar badannya, menghadap Leo yang berdiri dengan ekspresi terpana. Entah kapan dia masuk ke dalam kamar, Lea sama sekali tak sadar.
Tampan adiknya ini. Sudah rapi dengan tuksedonya. Lea nyengir, meskipun lebih kelihatan seperti ringisan. “Jelek?”
“Sangat,” sahut Leo. Jelas bercanda, karena kemudian, dia balas nyengir, dan berkata, “No. You’re very beautiful.”
Lea mendesah dan tersenyum bersamaan. “Is it time?
“Sudah waktunya. Staff WO memintaku untuk menjemputmu. Come on...” Leo menambahkan cepat-cepat, ketika Lea mendesah lagi. Muram. “Apa lagi yang membuat Kakak bingung?” Leo mendekati Lea, berdiri di depannya. “Juna cinta Kakak, dan Kakak juga begitu. You’re love each other, and love is a good thing to start a marriage.

Meskipun tidak sepenuhnya, mendengar kata-kata Leo membuat beban di kepala Lea sedikit terangkat. Setidaknya dia benar, bahwa dia dan Juna saling mencintai satu sama lain. Mereka telah melewati banyak hal, dari yang mustahil, konyol, bahkan yang menyedihkan, sampai akhirnya mereka sampai di tahap ini; pernikahan. Sudah takdir kalau mereka akan saling jatuh cinta. Dan sudah takdir, kalau mereka akan menikah. Dan takdir itu, Tuhan sendiri yang membuatnya. Jadi, untuk apa dia harus takut.

“Okay. I’m ready,” ujar Lea kemudian. Mendongak pada Leo. Menatapnya penuh keyakinan. “Aku akan menikah. Dengan Chef Juna.” Dia terkekeh.
“Fansnya menggila di mana-mana. Mengancam akan menganiayamu kalau kau berani menikahinya,” Leo tergelak. “Habis pernikahan kalian tertutup sekali sih? Mereka jadi merasa tidak dianggap.”
“Mau bagaimana lagi?” Lea bangkit dari sofa, “Itu kan keinginan Juna. Lagipula... aku mengerti, pernikahan ini dilangsungkan lebih cepat dari semestinya.”
“Mungkin dia kangen pisah sama kakak selama syuting film kemarin. Lumayan... hampir lima bulan kalian tidak ketemu.”
“Lho... aku kan ikut syuting bersamanya.”
“Ya. Tapi cuma sebentar. Karaktermu kan mati di awal film.”
Lea tergelak.
...
Apa yang membuat Juna begitu menawan? Tuksedonya? Rambutnya? Atau... Ah, dia memang tampan, pikir Lea dengan wajah panas, seraya berjalan menyusur karpet putih yang membawanya pada Juna, yang menunggunya di ujung sana.
Lea sama sekali tak bisa melepas pandang darinya, terkesima oleh sosoknya yang begitu memesona. Seolah bercahaya. Saat ini hanya Juna yang dilihatnya. Pria yang sebentar lagi akan menikahinya.

Suara biola mengalun merdu, seiring piano yang mendentingkan nada lembut, mengiringi langkah pelan Lea dan Leo yang semakin dekat ke tujuan. Orang-orang yang duduk di kanan-kiri mereka memandang penuh senyum. Haru dan bahagia di ekspresi tiap wajah. Menular, membuat syahdu suasana di taman berumput luas di belakang Villa, tempat dilangsungkannya pemberkatan pernikahan. Wangi Lili begitu menenangkan, membuat ketegangan Lea berangsur-angsur mencair. Dia sangat bahagia.

Di antara tamu undangan Lea melihat wajah-wajah yang ia kenal. Hanung, yang datang bersama istri dan anaknya, duduk di baris kedua dari depan. Choki Sitohang, juga bersama istri dan anaknya. Aline Adita, yang tampak cantik dengan gaun putih dan topi mungil di rambutnya, kemudian teman-teman Juna sesama Chef; Marinka, Chef Vindex. Shah Rukh Khan juga datang, bersama manajernya, duduk di bangku paling depan. Dia menyempatkan diri untuk hadir di sela syuting film terbarunya di Malaysia, dan untuk itu Lea benar-benar berterima kasih padanya.

Senyum lebar menghiasi wajah Leo, ketika dia membuka tudung pengantin Lea. Mengecup pipi Lea sekali, baru setelah itu menyerahkan Lea pada Juna yang telah menunggu. Tersenyum, dan berkata, “Take care of her,” pelan pada Juna dengan ekspresi wajah sedikit sendu.
Juna mengangguk tersenyum, kemudian menuntun Lea melangkah ke depan, sementara Leo pergi ke tempat duduknya. Di baris paling depan, di sebelah Malini dan suaminya.

Pemberkatan berlangsung lancar. Meskipun saat pembacaan janji nikah, Lea sempat sesenggukan begitu menyebut nama lengkap Juna—Junior Rorimpandey, menyatakan kalau dia menerimanya sebagai suaminya dalam susah mau pun senang, dan terisak begitu dia mengulang kata dari si pendeta, “sampai maut memisahkan”.
Lea begitu terharu, sama sekali tak bisa menghentikan air matanya yang jatuh ke pipinya. Dan semakin tak bisa mengontrolnya ketika Pendeta di depannya dan Juna mengatakan bahwa mereka telah resmi menjadi suami istri dan dia mempersilakan Juna untuk menciumnya.
Tubuh Lea gemetaran ketika Juna menyentuhkan bibirnya ke bibirnya, hingga Juna dengan terpaksa memeluknya begitu erat untuk menenangkannya. Membisikkan kata, “Lea... Sayangku...” setelahnya seraya mengusap lembut pipi Lea, membuatnya kembali terisak dan memeluk Juna lagi dengan erat.
Semua orang bertepuk tangan. Banyak yang berurai air mata, dan banyak bibir-bibir yang merekahkan senyum. Suasana haru mengakhiri pemberkatan pernikahan keduanya. Membuatnya bertambah sakral dan memberikan keindahan tersendiri.

Lea teringat Shinji.

“Dia mengatakan tidak bisa hadir hari ini,” Malini memberitahu saat acara resepsi. “Ayahnya sangat sakit, dan dia tak bisa meninggalkannya. Mereka sudah berada di Jepang sekarang,” tambahnya.
“Dia sudah baikan dengan ayahnya kalau begitu,” gumam Lea, tersenyum lega. “But I miss him. Aku akan lebih senang kalau dia ada di sini.”
“Ya. Tentu saja...” timpal Malini. “We’re all miss him. Dia juga berpesan, agar kau bahagia,”—Lea mendengus—“karena kalau tidak, dia bisa mengirimkan anak buah ayahnya untuk menculikmu dari Juna,” lanjut Malini tertawa. “Itu bercanda. Jangan diambil serius.”
Lea terkekeh. Kembali meneguk minuman di gelasnya, dan menunduk. Memandang rumput di bawah sepatunya.
“Lebih baik kau bersiap-siap,” Malini menyambar gelas Lea, dan meletakkannya di meja bundar di sebelahnya. “Kalian harus segera berangkat ke airport kan?”
Lea membeliak. “Oh... ya,” katanya panik, berbalik dan bergegas menuju pintu masuk. Diikuti Malini yang berjalan di belakangnya.

Lea dan Juna akan berangkat ke Christchurch, New Zealand sore ini untuk berbulan madu. Tekapo Lake, ke sana mereka akan pergi. Juna mengatakan dia suka tempat itu. Tetap ngotot ke sana meskipun Lea keberatan dengan alasan jetlag yang akan membuatnya tidur seharian begitu kakinya menginjak Christchurch. Tapi setelah Juna mengatakan kalau Tekapo Lake selalu mengingatkannya pada Lea, dengan terpaksa Lea mengalah. Setuju berangkat ke sana. Apalagi tiket sudah dipesan dan tidak bisa dikembalikan. Mau apa lagi?
...
Tangis haru mengiringi kepergian Lea dan Juna. Semua orang tampaknya ingin sekali memeluk keduanya. Mendoakan mereka agar selamat di jalan, dan kembali ke Indonesia juga dengan selamat.
Lea bertukar tangis dengan Malini, dan hampir tak bisa melepaskan pelukannya dari Leo, kalau saja Leo tak berinisiatif melepaskan pelukannya lebih dulu.
“Aku akan menunjukkan ‘ini’ pada mama,” janjinya pada Lea. Yang dimaksudnya ‘ini’ adalah video camera yang dipegangnya sejak awal proses pemberkatan, untuk mengabadikan pernikahan Lea dan Juna. Mamanya tak bisa datang, tentu saja, tapi Lea ingin sekali mama menyaksikan pernikahannya meskipun dia tak mengerti.
Aline meneriakkan kata terima kasih sambil mengacungkan bunga pengantin yang sebelum pergi sempat dilemparkan Lea ke arah kerumunan perempuan-perempuan brutal yang berusaha merebutnya. Aline bahkan tidak ikutan. Dia hanya berdiri sambil ngobrol dengan tamu lain, ketika entah bagaimana bunga pengantin itu sampai padanya.
Setelah memastikan semua kebagian pelukan, Lea dan Juna masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke Bandara Ngurah Rai. Melambaikan tangan pada semua, begitu mobil bergerak dengan semyum lebar di wajah keduanya.
Mereka meninggalkan Villa di atas bukit. Meninggalkan Ubud. Meninggalkan Bali.  Meninggalkan kerabat dan sahabat mereka untuk sementara, ke suatu tempat dimana mereka akan menghabiskan waktu berdua.

Juna merangkul pundak Lea erat. Mengecup rambutnya lama ketika Lea menyandarkan kepalanya di bahunya. Membisikkan kata “I love u” dengan penuh perasaan saat Lea mendongak menatapnya dengan mata besarnya. Dan pastinya hendak mencium bibirnya kalau saja Lea tidak buru-buru menutup mulut Juna dengan tangannya.
I’m your husband now,” Juna protes.
“Ada supir di depan.”
“Memang kenapa?”
“Dia bisa lihat lewat kaca spion.”
“Biar saja.” Juna mendekatkan wajahnya lagi, namun Lea mendorong mukanya ke belakang dengan tangannya. Menggeleng mantap.
“Kita pengantin baru, dia pasti mengerti.”
Juna mendekatkan wajahnya lagi, dan menarik Lea mendekat. Tapi lagi-lagi Lea mendorongnya ke belakang. Mengancam Juna dengan matanya yang melotot berbahaya. Juna mengangkat kedua tangannya ke atas. Menyerah. Kemudian mengenyakkan badannya di kursinya. Bersedekap. Tak bicara lagi. Mendesah, seperti minta dikasihani.
Lea jadi merasa bersalah melihatnya. Dia menarik napas, dan mengembuskannya tajam, kemudian berkata, “Oke...” katanya, membuat Juna menoleh—masih dengan tatapan memelas, “tapi sekali saja,” tegasnya dengan mata menyipit tajam.
“Sini.” Juna merentangkan tangannya, mengangguk, menyuruh Lea mendekat.
“Kau yang ke sini,” tolak Lea dengan wajah merah padam. Keterlaluan sekali Juna, menyuruh dirinya yang mendekat. Meskipun sudah menikah, Lea masih belum bisa mengontrol rasa malunya sama sekali.
“Ya sudah.”
Juna kembali menyandarkan punggungnya di kursi. Kembali bersedekap. Membuat Lea jengkel. Mulutnya megap-megap saking kesalnya. Dia memandang Juna dengan ekspresi masam.
“Kalau kau ingin menciumku,” Juna berkata dengan senyum simpul tersungging di bibirnya, “cium saja. Tidak usah sungkan.”
“Siapa yang—”
“Aku suamimu, Lea,” lanjut Juna cepat, membuat Lea hilang kata. “Aku juga ingin kau menciumku tanpa ragu.” Tatapannya begitu lembut. Menenangkan.

Napas Lea terasa berat. Matanya perih, karena menatap Juna yang begitu menawan di depannya, terus menatapnya dengan mata hitamnya yang pekat.
Juna benar, dia seharusnya tak perlu lagi malu, mengingat dia sudah menjadi milik Lea, dan Lea sudah menjadi miliknya. Sudah ditentukan dan dipastikan. Bukan oleh Lea maupun Juna, atau siapa pun, melainkan oleh Tuhan.
Dia tak bisa lagi bersikap formal. Tak bisa lagi sungkan atau malu, karena sekarang Juna yang akan terus di sisinya. Dia yang akan melindunginya. Dan padanya dia akan menyerahkan semuanya. Memberikan hidupnya.

Can I kiss you?” Lea memandang Juna dengan tatapan memohon.
Yes. Please...” Juna tersenyum. Kelihatan lega.
Lea nyengir, kemudian mendekatkan wajahnya. Menyentuhkan tangannya ke pipi Juna, menatapnya sebentar dan berkata, “Aku sangat mencintaimu Juna,” sebelum akhirnya menciumnya.


~ END ~

 Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
....


Akhirnya... selesai juga.
Terima kasih ya, teman-teman yang membaca. Terima kasih juga Chef Juna, yang sudah ada di dunia, dan menginspirasi banyak orang; seperti saya. Terima kasih untuk J-Rex atas foto-foto Juna yang keren2 banget, Junalicious, dan penggemar Juna yang lain yang menyempatkan mampir ke blog saya untuk baca. Dan 
Karena kalian, saya jadi sangat bersemangat menulis cerita ini sampai akhir.
Tq so much. Love you all. Tetap baca cerita-cerita saya yang lain ya.

Ups! Saya tulis extra chapter-nya lho. Tentang honeymoon-nya. Jadi... stay tune ya.
#penulisyangmasihbelumrelaceritanyahabis.

6 comments:

ann October 16, 2011 at 11:13 AM  

Huhuhuhu... You are so right mom..

It really needs extra sugar and garnish on top of it..

Klow engga garinnnggg...hehe...

Iya ngga chef?? *penasaran banget ama komen sang chef master setelah baca fiksi ini*

katils October 16, 2011 at 11:57 AM  

full story bkin cerpen aj bgus twuh

fitri October 16, 2011 at 6:25 PM  

choky sitohangnya gag mau ketinggalan y mb,..hehehe btw kayaknya aq liat darius sinatriya ma istri dan anaknya tuch duduk di deretan belakang pas pemberkatan pernikahan Lea-Juna..LOL

ra-kun October 17, 2011 at 12:21 AM  

wah~~
endingnya sweet :)

kapan-kapan tulis fanfic buat pegulat, mau gak lita? Heheheh :P

ulfah October 17, 2011 at 2:55 PM  

Dear Mbak Lita
saya silent reader setianya Mbak :) Bukan karena ga mau komen, tapi saya ga mau jadi anonim kalo komen :D
Saya sukaaa banget sama semua cerita Mbak Lita.
Sayang banget Lea ini udah habis. Tapi endingnya sweet banget. Keep writing ya Mbak. Kalo sempat, blog walking ke tempat saya ya Mbak :)

Lita October 17, 2011 at 3:31 PM  

@Ann: Iya... Nanti Garing, kalau gak ada yang crispy2nya... hehehhe

@Katils: Udah cerbung--ngapain cerpen, Tils?

@Fitri: Choki kan muncul di chap 1, jadi kudu jadi tamu undangan juga *nyengir*

@Rakun: ogah ah. Gak suka gulat.

@Ulfah: Terima kasih, Ulfah. Tq. I appreciate it so much...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP