LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (37)

>> Saturday, October 8, 2011


I Do

KARENA Malini memohon dengan sangat, ditambah dengan janji untuk tak mengatakan apa pun pada siapa pun; rela disambar petir di siang bolong kalau dia melanggarnya, Juna terpaksa mengatakan padanya dengan detil apa yang sebenarnya terjadi pada Lea. Kenapa dia sampai diculik, kaitannya dengan Shinji, dan mengapa dia, Juna, bisa menyelamatkan keduanya dengan cepat.
Baik Lea maupun Malini tak henti-hentinya ber-oh-uh atau ber-wow dengan mata membeliak, tak percaya mendengarnya.

“Okelah kalau kita bisa menghindar untuk melaporkannya pada Polisi,” Malini bicara seraya mengemudikan mobil, “tapi..., bagaimana cara menghindari wartawan? Mereka pasti akan terus menyelidiki kasus ini sampai tuntas,” katanya cemas. “Sekarang saja infotainment masih memberitakan mengenai hilangnya dirimu dari rumah sakit tempo hari,” tambahnya lagi. Menoleh sekilas pada Juna yang duduk di sebelahnya. “Belum lagi... kalau mereka melihat lebam di wajah Lea sekarang.”
“Lea tidak perlu muncul dulu di depan mereka,” kata Juna segera. “Tunggu sampai memar-memarnya hilang. Dan tunggu sampai mereka tidak lagi memberitakan perihal kasus ini dengan intens.”
“Berarti aku harus bersembunyi selama beberapa hari di dalam apartemen?” Lea bertanya. “Kau juga Juna?”
“Wartawan nongkrong terus di depan gedung apartemenmu,” beritahu Malini. “Juga di depan rumahmu,” katanya pada Juna. “Kalian tidak mungkin pulang sekarang.”
I know a save place,” kata Juna datar. “Lea bisa tinggal bersamaku untuk sementara.”
Lea terbatuk, sedangkan Malini membeliak; melengkungkan bibirnya. Tersenyum.
“Ide bagus.”
“Tidak sama sekali,” tukas Lea melotot. “Jangan ngaco, Malini. Aku tidak mau merepotkan Juna. Lagipu—”
“Kau sudah merepotkanku lebih dari cukup,” Juna menyela, bersandar santai di kursinya. “Aku tidak keberatan direpotkan olehmu beberapa hari lagi.”
“Tapi—”
Deal!” Malini mengangguk senang. Mengabaikan keberatan Lea. Nyengir pada Juna yang juga balas nyengir. “Kau jaga Lea selama beberapa hari, dan aku... Aku akan memikirkan dan mengurus beberapa hal agar kalian bisa kembali ke depan publik tanpa banyak pertanyaan mengenai penculikan,” katanya mantap.
“Oke. Deal,” balas Juna. Tersenyum.
“Hei, apa aku tidak berhak menolak tentang kesepakatan konyol yang kalian buat?” protes Lea.
“Tidak,” Juna dan Malini menjawab bersamaan.
..........

Tempat aman yang dikatakan Juna, adalah sebuah gedung ruko lima lantai di tengah kota Jakarta. Gedung tua, di tepi jalan raya kumuh yang ramai dan padat. Lantai satunya dipergunakan untuk usaha percetakan dan fotokopi oleh si pemilik gedung, lantai duanya difungsikan sebagai tempat tinggal, lantai tiga juga tempat tinggal, hanya saja diperuntukkan bagi orang tua si pemilik gedung. Lantai empat, adalah gudang, dan lantai lima adalah tempat tinggal Juna. Flat sempit dadakan yang hanya digunakannya apabila dia sedang ingin menyendiri. Tidak ingin ditemukan siapa pun. Itu katanya.

“Apa pemilik gedung tahu siapa kau?” Lea menanyai Juna, ketika mereka sudah berada di dalam flat, dan Lea sedang melihat-lihat isinya.
“Entahlah,” sahut Juna, setelah menutup pintu. Menguncinya dan melempar kunci asal saja ke atas meja kecil di sebelah pintu, kemudian berjalan mendekati Lea. “Dia sepertinya tidak akan peduli, selama aku membayar uang sewa tepat waktu dan sesuai keinginannya,” lanjut Juna. “Dan dia tampaknya cukup senang, karena aku bukan tipe penyewa cerewet. Menuntutnya untuk menambahkan ini-itu di sini.”
Lea memutar badan, tersenyum pada Juna yang berdiri di depannya. “It’s simple,” komentar Lea meringis. Kembali melihat sekeliling. “Dan...” (Lea menoleh ke arah dapur) “sangat dirimu.”

Khas Juna, dapur di flat ini. Seolah saja dia ingin menegaskan pada dirinya sendiri, kalau dia tetap Chef meskipun tinggal di flat kecil berfunitur seadanya; melengkapi dapurnya dengan kitchen set mewah yang sebenarnya tak cocok untuk berada di ruangan ini, karena akan menimbulkan kesenjangan sosial antara si dapur dengan  si ruang tengah yang hanya dilengkapi satu sofa panjang lapuk, meja panjang pendek, dan dan satu televisi non-flat screen ukuran 19 inci.

“Memang agak berlebihan,” aku Juna, “tapi... seringkali ide membuat menu baru timbul di sini,” ujarnya memasukkan kedua tangan ke saku jins.

Lea tersenyum lebar, mengangguk-angguk. Dia tentunya tidak peduli dengan apa pun yang ada di tempat ini, selama Juna berada di sini bersamanya. Juna, yang sekarang berdiri di depannya; nyata, hidup, dan bernapas. Dan berstatus pacarnya sejak dua hari lalu. Dia bahkan belum bisa memercayai itu sampai sekarang.

“Kau sebaiknya mandi dulu,” saran Juna. “Kamar mandi ada di dalam kamar.” Dia menganggukkan kepalanya ke arah satu pintu kayu yang ada di belakang televisi. “Handuk bersih sudah ada di dalam lemari. Dan kau bisa memakai bajuku dulu untuk mengganti gaunmu itu,” sambungnya lagi. “Aku akan meminta Malini untuk membawakanmu baju besok.”
Lea tersenyum kecil penuh terimakasih. “Ya... Aku benar-benar ingin mandi sekarang,” katanya. “Thanks.”
Juna tersenyum simpul, kemudian menaikkan bahunya. “Oke... Take a shower then. Aku akan... masak sedikit untuk makan malam.”
Lea balas tersenyum. Kembali mengangguk. Pelan. Kemudian berpaling, berjalan ke arah pintu kamar, menjauh dari Juna. Jantungnya entah kenapa mendadak berdegup sangat kencang. Dia cepat-cepat meraih gagang pintu. Mendorongnya membuka dan masuk ke dalam cepat-cepat.
..........
Lea memilih kaus dan celana pendek kebesaran untuk dikenakannya, karena memang tidak ada pakaian lain yang pas di badannya di lemari Juna. Lagipula ini lebih baik, daripada gaunnya  yang penuh keringat, berbercak darah, dan terasa lembap di kulitnya. Ditambah lagi dengan memori mengenai Kyouta yang sepertinya menempel di tiap serat kainnya. Jadi lebih baik dilepas saja. Lea bahkan membuangnya segera ke tempat sampah di dalam kamar. Dia benar-benar ingin menyingkirkan apa pun yang terjadi selama dua hari kemarin. Terlalu menakutkan, menurutnya.

Saat Lea keluar dari kamar, Juna tak berada dimana pun. Hanya bau masakan yang tercium di hidungnya, membuatnya lapar. Tapi dimana Juna?
Dari sebelah kiri, angin berembus meniup wajah dan rambutnya. Lea menoleh dan menemukan pintu ganda geser bersekat ala Jepang yang tak tertutup rapat. Sejak kapan pintu tersebut ada di sana? Pikirnya. Dia tak melihatnya sebelumnya.
Lea menggeser satu pintu dan langsung terpana.

“Hei,” Juna menyapa, seraya meletakkan piring berisi makanan di atas meja kayu di depannya. “Sudah selesai mandi?”
Lea tak menjawab. Memandang sekeliling; mengagumi atap gedung yang telah disulap menjadi  tempat santai nyaman dikelilingi lampu-lampu kecil berpencahayaan redup.
Di satu sudut atap, terdapat sebuah ayunan kayu yang dikumpulkan menjadi satu dengan sofa empuk dilengkapi bantal-bantal kecil yang nyaman. Di sudut lainnya,  dipan kayu rendah dengan kasur berlinen putih bertengger cantik di atas lantai kayu yang berkilap. Pot-pot besar tanaman berdaun hijau rimbun, diletakkan di empat penjuru, membuat pemandangan di luar bertambah indah.
Lea melihat ke atas, melihat atap kayu dengan celah kaca di tengahnya untuk melihat langit di atas. “Indah sekali,” gumamnya tak sadar, seraya duduk di salah satu bangku panjang yang ditempatkan di kanan-kiri meja makan.
“Sebenarnya aku tak ingin menambahkan atap,” kata Juna. “Tapi... kalau hujan... semua ini akan basah.”
“Ini bagus sekali, Juna,” kata Lea dengan mata melebar. “Feels so... romantic.” Dia memandang ke arah lain, seraya mengempaskan bahunya. Bibirnya membentuk senyum. Dan saat angin bertiup menerpa wajahnya, dia menutup kedua matanya. Merasakan embusannya menyentuh kulitnya. Rambutnya.
“Kau sangat cantik,” Juna berkata, membuat mata Lea tersingkap. Segera menghadapkan wajahnya ke arah Juna yang sekarang duduk di depannya. Menatapnya tersenyum. “Bahkan saat wajahmu penuh lebam seperti sekarang. Aku... sampai kapanpun takkan bisa melepas pandanganku darimu, Lea.”

Jantung Lea kembali berpacu. Mengentak-ngentak dadanya. Tangannya berkeringat dan gemetar. Dia mengepalnya; berusaha menyingkirkan kegugupan.
Dia berusaha menatap Juna. Menatap matanya yang berkilat karena pantulan lampu, tapi tak bisa. Wajahnya panas. Sangat malu. Dan tampaknya Juna menyadari itu, karena kemudian dia berkata sambil tertawa, “Sampai kapan kau selalu kikuk begitu di depanku?” Dia memiringkan kepalanya memandang Lea. “Kenapa... kau tidak bisa santai setiap bersamaku? Seperti... halnya kau dengan Shinji?”
“Shinji... temanku,” kata Lea agak bergetar. “Tentu aku santai bersikap di depannya.”
“Aku pacarmu,” sahut Juna. Melengkungkan senyum khasnya. “Kau seharusnya lebih rileks bersamaku kan?”
“Sampai sekarang aku belum percaya kau pacarku,” dengus Lea. “Aku... merasa... mimpi.”
But it’s not a dream. I’m here.”
Yes you are.”
So?
Lea menggeleng. “Still... can’t believe it.” Dia tersenyum.
“Apa yang harus kulakukan kalau begitu, agar kau percaya?”
Lea menaikkan kedua bahunya sejenak. Kemudian meletakkan kepalanya di atas meja. Menempelkan satu pipinya ke permukaannya. Memandang piring-piring makanan yang berjajar rapi di atasnya.
“Kau... Chef Juna,” gumam Lea pelan. “Kau membuat makanan seakan kau adalah Dewa Masak,”—Juna terkekeh. “Kau sangat tampan, sepertinya saja kau memang seorang Dewa. Wanita mana pun akan jatuh di kakimu.” Lea menggerakkan telunjuknya menyusur permukaan meja. “Kau bisa mendapatkan wanita yang kau mau. Cantik, pintar, kaya, seksi... Kau takkan mungkin menyukai perempuan biasa sepertiku.”
“Aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu di acara Choki,” kata Juna pelan. Menyentuhkan tangannya ke rambut Lea yang terjurai di atas meja. Alis Lea seketika mengernyit. Heran. “Aku menyukaimu..., dan semakin menyukaimu setelah itu,” tambahnya lagi, mengusap rambut Lea lembut. “Tak ada wanita lain yang lebih kuinginkan selain dirimu, Lea.”
Lea mengangkat kepalanya perlahan. Menengadahkan wajahnya sedikit menatap Juna.
“Aku tidak tahu kapan dan bagaimana tepatnya.. aku jatuh cinta padamu,” lanjut Juna. “It just happens, and I’m in love with you. Saat kau berdiri di  hadapanku di kantorku di Jack Rabbit waktu itu, saat kau menari tarian Bollywoodmu...” Juna mengeluarkan suara seperti cegukan yang disusul oleh senyumnya yang menenangkan. “Saat kau tersenyum. Saat matamu yang besar itu menatapku..., I feel... wow. Going crazy all of sudden. Tanganku... selalu ingin meraihmu. Menyentuhmu.” Juna mengangkat tangannya, menyentuh pipi Lea lembut. “Dan jantungku...,” dia menurunkan tangannya. Menyentuh dada kirinya, “berdegup dengan cara yang berbeda bahkan sebelum kau muncul di hadapanku. Seolah saja dia radar yang bisa mendeteksi keberadaanmu di dekatku.”

Haru meliputi seluruh tubuh Lea. Emosinya campur aduk, dan warna-warni semu menyelubungi matanya yang berkaca-kaca. Kata-kata Juna bagai suara simfoni yang merdu, yang ingin direkamnya agar abadi di ingatannya. Begitu indah, dan dia tak ingin melupakannya sama sekali.

“Aku tahu sikapku... tidak selalu menyenangkan di depanmu,” kata Juna lagi. “Tapi... sulit untukku bersikap normal di depan seseorang yang kusukai... yang...”—(Juna tampak kesulitan untuk bicara)—“tak kuketahui, bagaimana perasaannya padaku. Aku sempat mengira kau membenciku—”
“Aku tidak pernah membencimu,” bantah Lea buru-buru. “Meskipun kau memang selalu terlihat tak menyukaiku,” tambahnya lagi dengan suara pelan seraya menunduk. “Meskipun... kata-katamu kedengaran tak enak di telinga.”
“Aku malu, karena itu aku begitu,”—Lea langsung mendengus geli. “Aku menyesal setiap melontarkan kata-kata yang tak enak padamu atau... melakukan sesuatu yang membuat wajahmu seketika masam. Tapi... jujur, aku tak bermaksud menyakitimu.”
“Aku tahu,” senyum Lea. “Saat itu aku memang tak mengerti dirimu, tapi aku tahu kau tak bermaksud begitu.”
Juna dan Lea bertukar senyum. Mengangkat bahu masing-masing kemudian tertawa.
“Kalau kau sudah tahu... jangan bersikap canggung lagi padaku mulai sekarang,” kata Juna. “Aku tak suka itu. Jangan jaim, just... be you. Seperti waktu di Dufan kemarin. Aku suka dirimu yang seperti itu.”
Tak tahu harus membalas bagaimana, Lea memilih untuk tersenyum. Mengangguk sedikit, dan mengucapkan ‘thanks’ pelan pada Juna.

“Aku mandi dulu.” Juna bangkit berdiri seraya meregangkan badannya. “Tulang-tulangku serasa remuk,” keluhnya. “Kalau kau lapar, kau makan saja duluan,” katanya pada Lea. Setelah itu memalingkan tubuhnya, berjalan menuju pintu seraya menarik lepas kausnya melalui kepala.
Lea bengong. Tercengang memandangnya. Mengamati punggung Juna yang telanjang dengan mulut membuka, dan baru mengibaskan kepalanya setelah sosoknya menghilang di balik pintu.

He’s so sexy, gumamnya amat pelan, dengan muka yang memanas.
.......

Mereka berdua makan malam sambil ngobrol. Dan meskipun menu makan malamnya cukup sederhana; nasi putih yang kurang matang, omlet gulung dan salad  mayones, dengan bumbu racikan Juna, cukup mengenyangkan perut mereka. Mungkin karena mereka sangat menikmati obrolan makan malam kali ini, membicarakan tentang diri masing-masing, keluarga, pekerjaan serta kenangan-kenangan buruk dan lucu yang paling mereka ingat.

“Aku ingin tidur di sini, ah.” Lea bangkit dari bangkunya, kemudian berjalan menuju dipan kayu berkasur empuk di sudut.
“Jangan. Nanti kau kedinginan,” larang Juna, seraya merapikan piring kotor. Menumpuknya jadi satu, kemudian membawanya masuk ke dalam.
Lea duduk di atas kasur, menekan-nekan permukaannya dengan kedua tangannya. Empuk. Dia merebahkan badannya di atasnya, memejamkan kedua matanya. Nyaman sekali.
Juna kembali beberapa menit kemudian, dengan cangkir kecil di tangannya. Meneguk isinya sesekali.
“Kopi?” dia menawarkan pada Lea, sebelum kembali meneguknya.
Lea menggeleng. Mengamatinya meminum kopinya. “Nanti aku tak bisa tidur,” ujarnya.
“Kau sudah ngantuk?” tanya Juna, meletakkan cangkir di lantai, kemudian duduk di tepi dipan yang tak tertutup kasur.
“Sepertinya...” Lea menguap. Buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya. “Rasanya sudah lama sekali aku tidak tidur,” ujarnya. Memiringkan kepalanya di atas bantal, memandang Juna. “Kau tidak ngantuk?”
Juna tersenyum. “Sepertinya aku tidak akan bisa tidur,” jawabnya.
“Kenapa?” kernyit Lea.
“Aku ingin melihatmu tidur.”
Wajah Lea kembali panas. “Jangan ngaco,” sungutnya buru-buru, menghadapkan badannya ke samping. Menyembunyikan mukanya yang sudah kembali panas dari Juna.
“Siapa yang ngaco?”
Lea memalingkan wajahnya cepat-cepat. “Kau yang—” kata-katanya terhenti begitu Juna turut naik ke kasur. Berbaring di sebelahnya. Mata Lea membundar kaget. Mengangkat punggungnya, bertumpu di sikunya, memerhatikan Juna.
“ ‘Kau yang’ apa?” tanya Juna cuek. “Geser sedikit,” suruhnya. Mendorong Lea ke samping dengan badannya. Kemudian merentangkan tangan kirinya. “Sini. Tidur bersamaku.” Dia menyeringai.
“Kau ini apa-apaan?!” tanya Lea dengan dahi berkerut. “Ayo bangun. Jangan tidur di sini. Tidur di kamarmu.” Lea mendorong Juna ke pinggir.
“Kau yang apa-apaan?” balasnya. “Aku sudah berjanji pada Malini untuk menjagamu, jadi aku akan tidur bersamamu di sini.”
“Aku tidak perlu dijaga saat tidur. Aku bukan anak kecil.”
“Di sini dingin. Aku akan memberikan pelukan hangat agar kau tidak kedinginan.” Juna merentangkan tangannya, menarik lengan Lea. Mendekapnya erat.
“Juna!” Lea meronta. Berusaha melepaskan diri. Dan setelah berhasil, dia segera menarik satu bantal kecil, dan memukul-mukulkannya pada Juna. “Ayo bangun.”
Tapi Juna bergeming, membiarkan Lea memukulnya. Malah memiringkan tubuhnya. Tidur.
Lea berdecak kesal, melempar bantal asal saja ke atas kasur. “Kalau kau tidak mau bangun aku yang—Aww!”
Lea rebah di sebelah Juna. Tangan Juna yang besar memeluknya erat. Tidak bergeser sedikit pun sekeras apa pun usaha Lea melepaskannya.
“Juna, lepaskan aku,” pintanya, meronta. “Sakit. Aku tidak bisa bernapas.”
“Lea dengarkan aku...” kata Juna dalam suara berbisik. Bibirnya menempel di telinga Lea.
“Juna—”
“Aku mohon, dengarkan aku dulu,” pintanya, masih dalam suara pelan. Lea diam, tangannya yang tadi berusaha menepis tangan Juna juga diam. Beku di atas tangan besarnya.
“Aku... bukan pria baik,” kata Juna setelah lewat beberapa detik. Suaranya pelan, dan sepertinya cuma Lea yang bisa mendengarnya. “Aku... melakukan banyak hal yang tak baik dulu dan mungkin juga sekarang,” lanjutnya.
Lea tak mengerti kenapa Juna mengatakan ini padanya, tapi mendengar suaranya yang berat dalam, serta merasakan embusan napasnya di telinganya, Lea memilih untuk diam. Terhipnotis.
“Aku tahu kalau mungkin ada keraguan di hatimu tentangku. Mungkin aku bukan laki-laki yang kau inginkan untuk mendampingimu menjalani hidup.”
Bibir Lea membuka sedikit. Keningnya berkerut. Sebenarnya Juna mau ngomong apa sih, tanyanya penasaran dalam hati.
“Tapi... kukatakan padamu sekarang,” bisik Juna lagi, “perasaanku padamu bukan main-main. Aku mencintaimu tulus, tanpa maksud apa pun di baliknya. Aku... ingin melindungimu. Tidak ingin kau dijauhkan dariku lagi.”
“Juna...”
“Lea, aku mohon biarkan aku menyelesaikan kata-kataku, karena sangat sulit bagiku mengatakan semua ini,” potong Juna cepat.
Lea ingin tertawa, namun ketika dia menolehkan wajahnya, dia melihat wajah Juna yang berkerut-kerut. Matanya terpejam. Kentara sekali ingin menyembunyikan ekspresinya sekarang dari siapa pun. Lea pun mengurungkannya. Kembali menghadapkan wajahnya ke depan. Memandang atap kayu di atasnya.
Will you... marry me, Lea?” kata Juna kemudian.
“Eh?” Lea terperanjat, serentak mengangkat punggungnya dari kasur.
Juna membuka mata, kaget dengan respon langsung Lea. Turut mengangkat punggungnya. Duduk tegak di atas kasur. “Kenapa?”
“Kau bilang apa tadi?”
Juna membuka tutup mulutnya tanpa suara, seolah lupa caranya bicara. Dia kelihatan bingung. “Aku... mengatakan... ‘itu’ tadi,” ujarnya gugup.
“ ‘Itu’ apa?” cecar Lea. “Telingaku yang salah dengar atau memang kau bertanya padaku untuk menikah denganmu?”
“Aku memang bertanya” (Juna berdeham gugup) “begitu,” jawab Juna. Kemudia mengempaskan napas susah payah.
Mulut Lea menganga. Dari wajahnya jelas dia tak percaya apa yang barusan terjadi. Juna melamarnya, dan bukannya senang, dia sekarang malah kebingungan. Tidak tahu kenapa.
“Kau... tidak suka?”
“Bu-bukan begitu,” sanggah Lea cepat. Memandang Juna yang sekarang menatapnya penuh tanya. “Aku hanya... Hanya tidak percaya kalau...”
“Kau meragukanku?”
No,” Lea menggeleng cepat-cepat. “Not at all. It’s just...” Lea tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menyambung kalimatnya barusan. Dia sekarang hanya memandang Juna dengan ekspresi yang membuat Juna mengernyitkan alisnya. Dan sewaktu air mata meleleh ke pipinya, mata Juna langsung membeliak ngeri.
“Kenapa kau menangis? Lea...” Suara Juna tercekat. Tampangnya dipenuhi rasa bersalah. “Lea... I’m sorry okay. Maaf, kalau aku menyinggungmu. Aku...”
“Papaku... meninggalkan mamaku karena perempuan lain,” Lea menyela cepat-cepat. Napasnya tersengal. “Dia menyakiti mama... sangat. Membuatnya sakit dan akhirnya depresi berat, sehingga kami terpaksa memasukkannya ke rumah sakit jiwa.”
Ganti Juna yang menganga memandang Lea.
“Sejak itu... aku...” Lea mendengus. Suaranya bergetar menahan tangis. “Aku berpikir untuk... tidak menikah. Tidak ingin merasakan sakit seperti ibuku. Takut... kalau aku akan membuat anak-anakku terlantar karena depresi seperti mamaku.” Dia terisak, tak mampu lagi membendungnya.
Juna segera menariknya ke pelukannya. Membiarkan Lea menangis di pundaknya. Membelai rambutnya, mengecupnya lembut. Mengusap punggungnya dengan sayang.
“Lea...” panggil Juna, setelah isak Lea sedikit memudar. “Aku mencintaimu. Sekarang... hanya itu yang aku tahu.” Dia berhenti sejenak. Mengambil napas. “Aku... memang tidak tahu... bagaimana kita beberapa tahun mendatang. Aku tidak tahu... kemana takdir akan membawa kita setelah ini. Tapi... yang kutahu, saat ini... aku ingin menghabiskan hidupku bersamamu.” Lea kembali terisak. “Aku... ingin tua bersamamu.” Juna mendengus tertawa, begitu pun Lea, yang segera mengangkat kepalanya dari pundak Juna. Menatap Juna dengan matanya yang basah. “Karena kupikir akan lucu sekali melihat rambutmu menjadi putih dan wajahmu penuh keriput,” sambung Juna terkekeh.
Lea tertawa di sela isaknya. Menyeka air matanya yang membekas di pipinya.
“Aku membayangkan... dirimu dengan perut membesar. Anakku di dalamnya,” kata Juna lagi dengan mata berkaca-kaca. “Sudah lama bayangan itu hadir di  pikiran kosongku. Dan aku semakin ingin mewujudkannya, sejak kau diculik. Sejak aku merasa putus asa, takut kehilangan dirimu. Takut tak dapat melihatmu lagi, tanpa sempat... mengatakan apa yang ingin kukatakan padamu. Aku tak tahu... kalau kata-kataku ini cukup untuk meyakinkanmu... tapi... aku menjanjikan cinta untukmu. Aku menjanjikan pikiranku..., tubuh, dan juga jiwaku untukmu. Sampai kapan pun... kau bisa memilikinya. Please, marry me,” pinta Juna. “Will you accept me?

Lea memandang Juna dengan air mata yang terus mengalir ke pipinya. Haru membuatnya sesak. Cinta membuat seluruh tubuhnya seakan membengkak karena rasa bahagia yang meluap.
“Juna...” panggil Lea tak lama kemudian.
“Ya?”
“Bisakah kau menutup matamu sebentar?” pinta Lea, dengan suara serak.
“Untuk apa?”
I want to kiss you.
Senyum Juna mengembang di wajah tampannya. Tanpa berkata lagi, memejamkan matanya. Menunggu. Lea mendekatkan wajahnya, kemudian menyentuhkan bibirnya di bibir Juna. Mengecupnya lembut. Setelah itu dia memeluk Juna erat. Menempelkan bibirnya di telinganya, dan berbisik, “No trace of sadness, always with gladness... I do,”—Tak ada jejak kesedihan, hanya dengan kebahagiaan, ‘aku menerimamu’.

Lea meregangkan pelukannya, bertukar pandang dengan Juna yang menatapnya dengan senyum yang tak pernah Lea lihat sebelumnya. Senyum yang menenangkan, yang tak pernah akan puas untuk dipandang berapa kali. Senyum yang mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus, dan takkan tergantikan oleh apa pun.

Perlahan Juna mendekatkan wajahnya. Matanya pelan-pelan menutup. Lea tersenyum. Turut memejamkan mata begitu bibir Juna menyentuh bibirnya. Extacy, begitu Lea memberanikan diri membuka bibirnya sedikit, mengijinkan bibir Juna mengisi celah kosong tersebut. Surga, ketika kulit mereka bersentuhan; ketika tangan Juna menyentuh pipi, leher dan tubuh Lea. Melayang, ketika bibir Juna, menelusuri lehernya. Memberinya rasa hangat yang sangat nyaman; mengalir ke seluruh tubuhnya. Mencemari otaknya dengan perasaan yang amat ‘berbeda’. Seperti asap candu yang merasuki jiwanya.
“Lea. Hei, Lea.” Suara Juna membuat Lea tersadar. Matanya fokus. Juna di atasnya, nyengir, sementara dia berbaring di kasur—Sejak kapan? Pikirnya ngeri. Satu tangannya di leher Juna. Lea buru-buru melepaskan tangannya. Wajahnya merah padam.
Juna tergelak. “Wow... you’re so ‘hot’,” katanya menggoda Lea. “Kita harus cepat-cepat menikah kalau begitu.”
Bantal mendarat tiba-tiba di wajah Juna, membuat tawanya seketika terhenti. “Siapa yang mau menikah denganmu?” kata Lea, dengan mata menyipit. “Nikah saja sendiri!”
Setelah itu dia merangkak ke pinggir dipan, turun, dan berjalan tergopoh-gopoh ke arah pintu masuk. Tak memedulikan panggilan Juna di belakangnya.
“Lea. Come on! Aku cuma bercanda,” teriak Juna, masih dengan seringai di wajahnya. Duduk di atas kasur dengan tangan terbuka.
BLARR!
Suara pintu geser menutup keras, dan Lea menghilang di baliknya. Juna mendengus geli, menunduk seraya menggelengkan kepala. Setelah itu, selama beberapa saat dia merenung. Menatap kosong tembok di seberangnya. Sampai akhirnya mengempaskan tubuhnya di atas kasur. Menatap atap kayu di atas, dengan bibir tersenyum.
“Dasar Nenek,” gumamnya geli, teringat pada Lea.
..........................
gambar dari sini
i want to have a big, happy family with you.
Just say yes, and I will hold you til the end

.......................
PS.
Karena ternyata 1 chapter tidak cukup untuk endingnya, stay tune, for the 38th: The Wedding 
Setelah itu, baru kita menangis, melambaikan tangan pada Juna dan Lea. For good.
See you, Guys. Love you.

13 comments:

Henny Yarica October 8, 2011 at 4:10 PM  

ini udah cukup pas kok mbak..like i want,,happy ending. jangan dipanjang-panjangin lagi kayak sinetron ya :)

terus berkarya mbak lita, ditunggu cerita-cerita berikutnya ^^

Lita October 8, 2011 at 5:50 PM  

@Henny: Makasi banyak, Hen, apresiasinya. Tentu, tak akan kupanjangkan kaya sinetron. NO WAY! Jadi kacau balau nanti 'Lea'ku. Bakalan weird banget deh nanti, kalau sampe kaya gitu.
Tq so much, ya.

ann October 8, 2011 at 9:41 PM  

can't hold my tears fallen from my eyes, so sweet just like first fall'n in love, like the first kiss that would never been forgotten, so sweet like jack rabbit's strawberry cheese cake.. feel'n so real..

Lita October 8, 2011 at 10:03 PM  

@Ann: Aku kenapa jadi berkaca-kaca baca komenmu... Hiks! Patutkah aku jadi seorang penulis sekarang? #airmataberlinangan. Tq,Ann. Meaningful banget.

rona-nauli October 9, 2011 at 12:11 AM  

ampir abis ya, Lit. ntar ada cerita lain kan ya? tentang shinji mungkin? hehehe

itu lho, caramu meracik adegan romantis bikin aku suka nahan napas. berharap eh berasa ngalamin sendiri :p *ngarep*

Lita October 9, 2011 at 6:06 PM  

@Rona: Iya, Madam *serotingus, hampir abis. Dan untuk cerita lain, tentu ada...!!! Tapi masih milih nih... Hehehe...

Btw, thank u, komennya. aku jadi bener2 pengen jadi romance writer banget! Mwah2!

Dee@n,  October 10, 2011 at 12:34 PM  

Tag this chapter as favorit.. !!!!!

Lita October 10, 2011 at 1:45 PM  

@Dee@n: aku cuma bisa nyengir... *hiii...

Winda,  October 14, 2011 at 9:09 PM  

Mbak Litaaaaa........
Selama ini aku anteng-anteng aja jadi silent reader, tapiii.. untuk chapter yang ini aku gatelll pengen komen!!!
Gemez.. gemez.. gemeeezzz bacanya...
Dan bikin gak bisa tidur!
Senyum-senyum sendiri semaleman abis baca ini.

Lita October 15, 2011 at 4:35 PM  

@WInda: Senyum2 sendirian? Aduh... awas, ntar kesambet. Btw, thank u Winda. Senang ada yang apresiasi tulisanku...

Aku juga gemes kok... tapi juga sedih, karena setelah ini... aku akan sangat merindukan Lea dan Juna.

Sekali lagi thanks winda, atas komennya. *Peluk erat Winda*

ulfah October 15, 2011 at 4:41 PM  

Hai Mbak Lita, saya ulfah. Saya silent reader paling setia dari blog ini. Sebenernya sih udah dari dulu pingin komen, tapi belum punya blog :D Btw, salam kenal ya mbak. I adore you so much!
Keep writing. Ditunggu chapter 38nya :))

Lia October 22, 2011 at 10:13 PM  

Aku bacanya sambil ngebayangin adegannya kalo dibikin film kayanya seruuuu...
bacanya sambil senyum2 sendiri juga hehe... ooh saya tidak gila, saya masih waras, saya cuma sedang terkena Juna Fever dan belum ada penangkalnya ;)

DEE's SHOPPER CORNER November 10, 2013 at 11:04 AM  

Gw baru nemu blog ini waktu iseng searching foto Juna, naahh ada cerbungnya... *secara lumayan seneng jg baca fiksi hihihii
kyknya sukses deh gambarin Junanya, romantis pun tetap gokil xixixixiii...
Keep writing deh, dear.. I'm the one of your biggest fans *kayaknya siihh hehehee..

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP