LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (36)

>> Tuesday, October 4, 2011


It's Not A Farewell, isn't it?

LANDASAN tempat Juna mendaratkan pesawat bukan landasan yang sebenarnya.

Landasan tersebut adalah areal kosong di lingkungan sebuah pabrik tekstil dengan ratusan pekerja, yang sebelumnya Lea dan yang lain lalui untuk keluar dari areal tersebut.
Saat Lea bertanya pada Juna, milik siapa pabrik ini, Juna hanya menjawab singkat, “Seseorang,” tanpa ada kata-kata lagi setelahnya. Lea yakin, para Yakuza itu yang memiliki tempat ini, melihat dua pria berstelan hitam yang berjaga di pintu masuk yang tertutup. Melihat Juna, keduanya mengangguk. Salah satu dari mereka kemudian melangkah mendekati pintu, menarik gagangnya membuka.
“Mereka benar-benar menyeramkan,” Malini berbisik, setelah melewati ambang pintu. “aku sempat berpikir untuk tidak masuk saja tadi,” tambahnya lagi.

Mereka sampai lapangan kosong beraspal—luas sekali tempat ini, pikir Lea, memandang berkeliling, dan melanjutkan berjalan menyusurnya. Di seberang, terdapat satu pintu keluar lagi; lebih besar dari sebelumnya—gerbang, lebih tepatnya. Juga dijaga oleh pria berjas hitam. Empat orang. Mereka memandang tajam ke arah Lea, Juna, Shinji dan juga Malini selama beberapa detik, sebelum akhirnya membukakan pintu sedikit untuk mereka lewati, dan cepat-cepat menutupnya, begitu keempatnya telah berada di luar.

“Siapa mereka sebenarnya?” Malini kedengaran sangat penasaran. Tak satu pun dari Lea, Juna maupun Shinji yang menimpali kata-katanya. Membuatnya sebal dan hanya bisa mendengus kesal.

Di pekarangan rumput luas yang tak terurus di depan, beberapa mobil sedan hitam berkilap telah menunggu.

“Malini, untuk apa kau membawa mobil sebanyak itu?” Lea bertanya, mengerutkan kening. “Apa kau mau mengundang wartawan?”
“Aku hanya bawa satu kok,” bantah Malini, juga mengerutkan dahi. “Itu yang itu.” Dia menunjuk ke APV perak yang berada di balik pagar pekarangan. “Mobil-mobil ini tidak ada sebelumnya,” bisiknya pada Lea.
Lea mendongak memandang Juna, seakan minta penjelasan. Tapi Juna hanya menaikkan bahu sekilas, tanda tak tahu.

Pintu belakang salah satu mobil sedan itu membuka. Seorang pria berjas abu-abu turun, dan segera berjalan mendekat. Dia orang Jepang, terlihat dari mata dan bentuk alisnya yang tegas. Namun kulitnya agak kecoklatan, tidak seperti kulit orang Jepang pada umumnya. Wajahnya biasa saja, namun menarik untuk dipandang. Posturnya gagah, pas dengan tubuh jangkungnya. Dia agak... mirip Shinji.

Lea memandang Shinji melalui pundaknya. Dan Shinji hanya mengembuskan napas. Menunduk.

“Selamat sore,” sapa pria itu sopan disertai angguk hormat pada mereka berempat. Setelah itu dia menghadapkan tubuhnya pada Juna, dan membungkuk dalam. “Terima kasih, Chef Juna,” katanya sopan, setelah badannya sudah tegak lagi, “telah membantu Tuan Muda Kodame.”
“Siapa itu ‘Kodame’?” bisik Malini pada Lea penasaran, yang segera dijawab dengan gelengan kepala olehnya.
Siapa yang dimaksud pria ini dengan Tuan Muda Kodame, tanya Lea dalam hati. Sama penasarannya dengan Malini.
Juna tak menjawab. Hanya tersenyum dan menganggukkan kepala dengan sopan.

“Tuan Muda,” pria itu bicara pada seseorang di belakang Lea sekarang, membuat Lea membeliak.
Apa yang dimaksudnya Shinji? Pikir Lea. Menggeser tubuhnya ke samping agar tak menutupi Shinji dari pandangan. Begitu pun Malini, yang sekarang kelihatan sangat bingung. Mulutnya membuka-menutup tanpa suara, seolah dia lupa bagaimana cara berkata-kata.

Shinji menghela napas panjang, dan mengembuskannya perlahan. Wajahnya masam. Kelihatan tak senang. “Eiji... Ada apa?” dia bertanya dengan dagu terangkat.
“Anda harus pergi bersama kami sekarang,” jawab pria bernama Eiji itu dengan sopan.
“Tidak,” tolak Shinji mantap. “Aku tidak akan ikut kalian lagi. Tempatku bukan bersama kalian.”
Terlihat sorot mata Eiji menajam. Sepersekian detik, dia tampak ingin marah pada Shinji, namun kemudian dia menarik napas, dan berkata lagi dalam nada rendah dan tenang. “Tuan Muda. Ibu Anda yang meminta. Beliau ada di sini.”
Mulut Shinji membuka kemudian menutup lagi dengan cepat. Dia diam sejenak, sebelum akhirnya berkata, “Ibuku tahu kalau aku tidak menginginkan apa pun dari kalian,” tukas Shinji. “Jadi dia tidak mungkin—“
“Ayah Anda terkena serangan jantung tadi malam,” Eiji menyela. Kali ini suaranya terdengar amat tegas. Membuat Shinji langsung bungkam. “Sekarang Beliau ada di rumah sakit; menunggu Anda. Mereka berdua segera datang ke Jakarta mendengar Anda pergi dari rumah.”

Shinji bengong. Semuanya bengong. Lea, Juna dan Malini, tak satu pun yang bersuara. Mereka semua menunggu reaksi Shinji. Eiji menatap tajam Shinji. Lea berpikir dia bukan bawahan Shinji, meskipun dia memanggilnya dengan sebutan ‘Tuan Muda’. Dia pastilah seseorang yang lebih dari itu.

“Tidak.” Kata-kata itu terlontar dari bibir Shinji beberapa detik kemudian. “Aku tidak ingin bertemu dengannya. Bagaimana pun kondisinya.”
“Shin...” Lea angkat bicara. Mendekati Shinji, dan menggamit lengannya. “Kau harus pergi. Ayahmu...”
“Lea. Kau tidak mengerti apa pun tentang ayahku. Dia... monster. Ayahku... dan keluarganya...”
“Bagaimana pun,” tukas Lea, “dia ayahmu. Dia terkena serangan jantung. Dia ingin menemuimu, berarti dia menyayangimu. Dia bisa saja...” Lea tidak melanjutkan. Merasa suaranya tertelan lagi ke kerongkongannya. “Shin. Apa pun yang pernah dia lakukan, he’s still your Dad.”
“Oh ya?” Shinji mendengus sinis. Mendadak saja ekspresinya berubah tak menyenangkan. “Bagaimana dengan ayahmu?”
“Kenapa dengan ayahku?”
“Kau juga membenci ayahmu kan?”
Lea mengempaskan napas. Putus asa. “Shin...”
“Apa kalau dia berada di rumah sakit; sekarat, kau akan menengoknya?”
“Tentu. Kalau dia memintaku menemuinya... Dan sadar atas kesalahannya. Aku...”
“Bagaimana kalau tidak?” tukas Shinji. “Bagaimana kalau dia tidak sadar dengan kesalahannya? Bagaimana kalau dia ternyata hanya ingin menyakitimu lagi? Kau pasti menyesal menemuinya kan?”
“Setidaknya dengarkan dia dulu,” kata Lea dalam suara bergetar. “Aku memang tidak tahu... kesalahan apa yang telah ayahmu lakukan padamu. Tapi aku yakin... Sangat yakin. Kalau dia mencemaskanmu. Dia dan ibumu... Dia datang, untukmu. Karena khawatir padamu. Ayahku... tidak akan mungkin melakukan itu. Tapi... andaikan dia yang berada di rumah sakit sekarang; sekarat, dan memintaku menemuinya... apa pun tujuannya..., aku pasti akan datang.”
Air mata Lea berjatuhan ke pipi tanpa dia sadari. Matanya yang besar menatap Shinji dengan tatapan yang tak dimengerti. Shinji mengempaskan napas. Mengalihkan pandang ke arah lain. Tak berani menatap mata Lea.
“Jadi, please. Temui dia,” pinta Lea tulus. “Sebelum kau menyesal kemudian.”
“Lea benar,” Juna nimbrung. “Setidaknya... dengarkan ayahmu dulu. Selama ini..., kau tidak pernah bertemu dengannya. Mungkin... ini saatnya dia menjelaskan semuanya padamu, kan?”
Shinji menatap Juna heran. Begitu pun Lea. Namun tak ada satu pun yang mengatakan sesuatu padanya. Shinji tampak berpikir-pikir, sedang Lea menunduk.

Setelah menarik napas beberapa kali, berdecak kecil, dan mengerucutkan bibirnya berulang kali, akhirnya Shinji berkata “Oke” pada Eiji. Menaikkan pundaknya sekilas, terlihat pasrah. “Aku akan ikut. Tapi bukan karena dia,” tambahnya buru-buru, sebelum Eiji sempat membuka mulut untuk menanggapi pernyatannya, “melainkan karena ibuku.”
Eiji tersenyum simpul. Mengangguk kecil. “Saya rasa, itu saja cukup,” ujarnya. “Kalau begitu, mari,” ajaknya. Mempersilakan Shinji.
Ragu, tapi telah memantapkan hati, Shinji melangkah maju. Namun kemudian dia berbalik. Memandang Lea, Malini dan Juna—memilih berpamitan pada Malini lebih dulu.
“Aku pergi Malini. Maaf. Aku...”
Just go,” timpal Malini. “Aku memaafkanmu... meskipun kau sungguh menyebalkan.” Shinji mendengus tersenyum, begitu pun Malini. “Dan... kendati aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku tak tahu keluargamu, ayah atau ibumu... aku berharap... mereka baik-baik saja. Dan tentu saja kau,” Malini meninju bahu Shinji. “Kau harus baik-baik saja, oke?”
Shinji mengangguk, kemudian memeluk Malini hangat. “Bye,” ucapnya, setelah itu melepaskannya.
“Juna... Thanks,” kata Shinji pada Juna setelahnya. “for saving my ass.” Dia menjulurkan tangannya.
Juna terkekeh. Menjabat tangan Shinji erat. “Take care,” pesannya. “I hope your father will get better.
Shinji memilih untuk mengangguk daripada membalas ucapan Juna, setelah itu melepaskan tangannya.
“Lea...” panggil Shinji pelan.
Lea menatapnya dengan mata sembap. Menyeka sisa-sisa air mata di pipinya dan mencoba tersenyum semanis mungkin.
“Maaf... atas kata-kataku tadi. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku—”
“Tidak apa,” potong Lea buru-buru, kemudian merentangkan tangannya, memeluk Shinji. “It’s okay.” Dia memeluk Shinji erat, mengusap-usap punggungnya. “Aku mengerti. You take care, okay?” katanya.
You, too,” balas Shinji.
Lea melepaskan pelukannya. Tersenyum lebar. “Kabari aku... apa pun,” pesannya. “Dan kalau kau mengijinkan—kalau memang boleh,” tambahnya buru-buru, “aku ingin menjenguk ayahmu.”
Juna terbatuk di belakang Lea. Dia yang tahu siapa ayah Shinji dan orang-orang di sekitar Shinji, tentunya tak ingin Lea bertandang ke rumah sakit untuk menjenguknya. Bisa bahaya.
Shinji memandang Juna sesaat, paham atas reaksinya yang tiba-tiba. Tapi pada Lea dia tersenyum, dan berkata, “Aku akan kabari tentang itu,” ujarnya, mengusap pipi Lea. Memandang penuh rasa bersalah memar membiru di beberapa bagian wajahnya. “Bye, Lea,” ujarnya kemudian. Menurunkan tangannya cepat-cepat.
Bye,” balas Lea.
Dan setelah Shinji berpamitan sekali lagi pada Juna dan juga Malini, dia pergi. Berjalan mendekati Eiji yang telah menunggu.
Eiji menyempatkan diri mengangguk pada mereka bertiga, yang mereka balas dengan kikuk. Dan ketika matanya bertemu dengan mata Lea, dia tersenyum amat menenangkan, seolah mengucapkan terima kasih, baru setelah itu berpaling. Melangkah pergi.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (jangan diplagiat!)
.............................
gambar dari sini
It's just a momentarily goodbye.
I'll be seing you. Soon.
...................................................

Next chapter:
"Will you..., marry me, Lea?"

5 comments:

fitrinurainisetiyowati October 4, 2011 at 1:09 PM  

can't wait for t next chapter,...jgn lama 2 y mbak lita..LOL

Lita October 4, 2011 at 1:24 PM  

@Fitri: Mudah2an cepet ya, Fit #beruraiairmata

Dee@n,  October 6, 2011 at 10:49 AM  

mana..... lanjutannya?
Koq akhir2 ini lama ya...
kenapa mbak ?
kita masi sangat menunggu lho...

ann October 8, 2011 at 1:49 PM  

Can't hold this feeling any longer..

I hope i could read the next chapter soon, pls..

Lita October 8, 2011 at 5:47 PM  

@Dee: Tuh udah ada lanjutannya. Jangan lupa komen nanti setelah baca, ya... Tq, karena udah suka sama Lea, Dee. Jadi bikin tambah semangat nulisnya... *kecup kecup*

@Ann: sampe kaya gitu banget, Ann. *nyengir. Tuh, udah ada lanjutannya. Jangan lupa komen ya, abis baca. *cup cup ya...*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP