Nyanyian Sendu (5)

>> Saturday, October 29, 2011


Annoying Girl

PIPI Shinji terasa berdenyut-denyut akibat tinju perempuan nekat yang diselamatkannya itu. Sakit dan perihnya luar biasa, sehingga dia terus menempelkan plastik berisi bongkahan es batu ke sekeliling pipi dan rahangnya untuk mengurangi rasa nyerinya.
Perempuan itu sekarang berada di dalam kamar tamu. Masih pingsan, akibat tamparan Eiji yang lumayan keras. Tak manusiawi memang, tapi lebih baik begitu, daripada dia terus nekat mau menenggelamkan diri. Eiji baru saja pergi ke depan, mengantar keluar pembantu perempuan tetangga yang mereka ‘pinjam’, untuk mengganti pakaian basah si perempuan dengan pakaian kering—kaus dan celana pendek Shinji, yang mungkin sedikit kebesaran.  Dan ketika Eiji kembali ke ruang tengah, dia sendirian. Tampangnya seolah mengatakan, “Capek deh”. Dia melempar dirinya ke sofa tunggal berlengan di depan Shinji.

“Masih sakit?” dia menanyai Shinji, yang separuh wajahnya tertutup plastik es. Shinji melepas plastik es itu dari mukanya. Balik bertanya, “Menurutmu?” dengan nada menyindir, dan menempelkannya lagi ke pipi kanannya yang memerah.
“Padahal tubuhnya tak terlalu besar,” Eiji berkata, sedikit nyengir. “tapi tinjunya lumayan.”
“Oh, diamlah,” sergah Shinji jengkel.

PRANG!

Suara benda pecah itu menyentak Shinji dan Eiji. Serempak mengarahkan kepala masing-masing ke arah pintu kamar tamu, yang persis berada di samping kanan dan kiri mereka. Keduanya langsung berdiri, cepat-cepat berlari ke arah pintu. Eiji sampai lebih dulu, memutar gagang pintu dan mendorongnya membuka. Dan langsung disambut dengan lemparan benda-benda yang melayang ke arahnya.
Beruntung, atau memang refleknya yang luar biasa, tak satu pun benda tersebut yang mengenainya, karena dia menangkis benda-benda tersebut tanpa kesulitan sama sekali.

“Hentikan!” Eiji menggeram galak pada perempuan yang berdiri tersengal di samping tempat tidur, setelah dia menangkap dengan mudah vas bunga bambu yang baru saja dilemparnya. Langsung menjatuhkannya ke lantai. 
Shinji di sebelahnya, mendengus memandang kamar tamunya yang sekarang kacau balau akibat benda-benda yang bertebaran. Serpihan barang-barang pecah berserakan di lantai, salah satunya adalah bingkai foto kaca milik mamanya. Foto mamanya tergeletak tak jauh di sebelahnya. Shinji membungkuk dan memungutnya, kembali berdiri, dan memandang marah perempuan di depannya, yang sekarang sedang berancang-ancang melemparkan patung kayu berbentuk burung garuda yang barusan diambilnyu dari atas meja kecil di samping tempat tidur. Matanya memandang liar bergantian dari Shinji ke Eiji; waspada. Dia kurus sekali; kelihatan ringkih. Rambut ikalnya berwarna hitam legam, namun entah kenapa kelihatan kusam. Jerawat-jerawat kecil memenuhi pipinya yang cekung. Namun matanya, matanya yang coklat itu..., sorot matanya, mengingatkan Shinji pada...
“Shin! Minggir!” Eiji mendorong Shinji ke samping cepat-cepat, begitu patung garuda yang tadi berada di tangan perempuan itu melayang  ke arahnya.
Shinji terhuyung, namun masih bisa menyeimbangkan tubuhnya, tetap berdiri, sementara patung itu menabrak pintu, melenting, dan jatuh ke lantai dengan suara bergedubrakan keras.

“APA KAU SUDAH GILA?!” kata-kata itu menghambur amat keras dari mulut Shinji. Matanya melotot pada si perempuan yang berdiri diam di tempat. Di tangannya sudah ada objek yang akan dilemparkan lagi; kali ini bantal besar di tempat tidur (tampaknya sudah kehabisan benda-benda keras di dekatnya).
“KAU YANG SUDAH GILA!” balas perempuan itu dalam suara nyaring menggelegar. Balas melotot. “KAU MAU BERBUAT CABUL PADAKU!” tuduhnya.
Alis Shinji langsung berjingkat. “CABUL APA?! Kau benar-benar sudah gila!”
“KALIAN LAKI-LAKI BRENGSEK! KALIAN MAU MEMPERKOSAKU KAN?”—(Shinji dan Eiji langsung bertukar pandang bingung)—“KALIAN BAHKAN MEMUKULKU SEOLAH AKU HANYA SEONGGOK SAMPAH! SEOLAH AKU PEREMPUAN TAK ADA HARGANYA! ADA APA DENGAN KALIAN—LAKI-LAKI?” Kalimat itu terucap begitu derasnya dari bibir si perempuan yang sedikit lebar. Dan dia... menangis. “SEENAKNYA SAJA MEMPERLAKUKAN PEREMPUAN DENGAN BEGITU RENDAH? APA TAK BISA KALIAN MENINGGALKANKU SEBENTAR SAJA?!”
“Hei, Nona!” Shinji mendengus, “Siapa memangnya yang mau memperkosamu?”
“Tadi... tadi—Siapa yang mengejarku ke pantai?” Perempuan itu bertanya. Suaranya agak pelan sekarang. Bantal masih tercengkeram erat di tangannya. “Kalian... mau berbuat buruk kan? Apalagi kalau bukan itu?”
“Hei! Aku mengejarmu bukan mau memperkosamu,” kata Shinji, menggelengkan kepala tak percaya. “Aku mau menyelamatkanmu karena kau mau bunuh diri.”—(“Eh?” Ganti perempuan itu yang menunjukkan raut bingung)—“Seharusnya kau berterima kasih! Kau bahkan telah menghancurkan semua benda di kamar ini! Kau tidak tahu diri!”
“Siapa yang mau bunuh diri?!” Perempuan itu tampak tersinggung. “Aku tidak sesinting itu!”
“Dari caramu berlari sambil menangis meraung-raung menuju pantai, jelas kau kelihatan sinting,” timpal Shinji.
“Aku tidak meraung-raung! Dan aku tidak mau BUNUH DIRI!” hardik si perempuan. “Kau bego! Aku hanya mau mendinginkan kakiku di air! Aku mau—”
“Sebaiknya kau segera pergi,” Shinji menukas, dan perempuan itu langsung menutup mulutnya. Ekspresinya mendadak cemas. “Kau telah membuat malamku jadi sangat menyedihkan. Tak ada satu pun dari kami, hendak berbuat buruk padamu...”
“Kau memukulku...” kata perempuan itu lirih.
“Saya yang memukul Anda,” Eiji angkat bicara dengan nada sopan. Kepalanya sedikit ditundukkan. Perempuan itu segera mengalihkan pandang ke arahnya. “Saya minta maaf. Tapi saya terpaksa, karena saya juga berpikiran Anda akan bunuh diri. Saya hanya ingin mencegah Anda melakukan tindakan ceroboh.”

Sikap Eiji dan kata-katanya yang tegas dan tertata tampaknya berhasil meyakinkan si perempuan dalam sekejap. Membuatnya menunduk, dengan napas terempas lemah, dan berdecap kecil. “Maafkan saya kalau begitu,” ucapnya lemah, mengangkat wajahnya pada Eiji. Kedengaran malu. “Saya...”
“Sebaiknya Anda istirahat  dulu,” saran Eiji, menyunggingkan senyum kecil.
Shinji membeliak pada Eiji. “Kau ini apa-apa—”
“Anda bisa pergi besok pagi.” Eiji tidak menghiraukan Shinji. “Tak baik perempuan berada di luar malam-malam begini.”
Shinji mendengus, bahunya diangkatnya sedikit, sambil berkata, “Terserahlah!”, kemudian berbalik, melangkah menuju pintu dan keluar dari kamar, meninggalkan Eiji dan perempuan itu berdua saja. Membanting menutup pintu di belakangnya, dan sekali lagi mengucapkan kata umpatan yang tak enak didengar setelah dia telah berada di ruang tengah lagi.
...

Pagi hari, dan Shinji dan Eiji sarapan roti di beranda luar ditemani suara merdu ombak yang berdebur. Matahari telah meninggi, menyebarkan sinar terik dan hawa panas menyengat yang luar biasa dari atas—padahal baru jam setengah delapan, membuat kulit keduanya yang tak dilapisi pakaian memerah dan berkeringat. Tapi tampaknya tak satu pun, Shinji maupun Eiji yang terganggu dengan hal itu.
Sambil menyantap perlahan makanan di piring di atas meja di depannya masing-masing, ditemani bacaan berupa koran dan tabloid yang membuka di depan wajah mereka, cukup mengesankan mereka menikmati ‘panas’ ini. Lagipula Bali memang panas.

“Perempuan itu belum bangun,” Shinji bergumam, tanpa memandang Eiji di depannya. Matanya terpancang ke koran yang sedang dibacanya. Shinji masih kesal pada Eiji yang sok baik menyuruh perempuan itu menginap. Menginap di rumah milik Shinji. “Kapan dia mau pergi?” tanyanya.
Bola mata Eiji bergerak naik, melihat Shinji yang menyembunyikan wajahnya di balik koran, dan langsung turun lagi, ke arah halaman tabloid, dimana foto seorang pria tampan terpampang besar-besar. Di bawah foto tersebut tertera huruf-huruf besar bertulisan: “Di Mana Shinji Tsubaki Setelah Pencekalan?”. “Kalau dia sudah bangun,” jawab Eiji santai.
“Kapan dia bangun?” Shinji melipat korannya, kali ini memandang Eiji.
“Kalau dia sudah bangun,” balas Eiji cuek, sekarang menyesap kopi di cangkirnya.
“Kalau saja kau tak bersikap sok pahlawan—”
“Sok pahlawan?” Eiji menatap Shinji. “Bukannya itu kau?”
Shinji merasa dirinya benar-benar tolol sekarang. “Maksudku menawarinya menginap.”
“Harus. Karena bagaimana pun, kita sudah membuatnya ketakutan. Kau membuat semua pakaiannya basah, dan aku membuat pipinya lebam. Kita mengganggu stabilitas emosinya tadi malam, tak ada salahnya kita memberinya waktu sejenak untuk menenangkan diri.”
“Kata-katamu memang penuh ejaan yang baku, sehingga aku bahkan tak mengerti kau ngomong apa,” timpal Shinji setelah mengatasi bengongnya.
Sudut-sudut mulut Eiji tertarik membentuk tawa hening. Dia menggeleng pelan.
“Pokoknya perempuan itu harus sudah tak ada lagi di sini saat aku kembali dari surfing,” kata Shinji. Menggeser kursi ke belakang, untuk memberinya tuang berdiri. “Entah kenapa dia selalu membuat perasaanku muram.” Shinji menyambar gelas airnya dan meneguknya banyak-banyak.
“Aku penasaran,” Eiji meletakkan tabloid yang telah ditutupnya ke atas meja. Memandang Shinji dengan seringai jahil di wajahnya. “bagaimana kalau perempuan itu... berparas cantik, bertubuh seksi, dan... menarik di matamu... apa kau juga akan mengusirnya dari sini, mengetahui tak satu pun tempat yang bisa dia tuju sekarang ini?”
Shinji mencibir. “Perempuan mana pun yang telah membuatku kesal, tak akan ada artinya lagi di mataku,” katanya. “Mau cantik kek, seksi kek,” lanjutnya lagi seraya melepas kausnya. “Aku tak peduli.”
“Dia tak punya siapa pun di sini.”
Like I care,” sahut Shinji.
“Bagaimana kalau itu Lea?”
“Jangan bawa-bawa ‘Lea’ dalam hal ini,” delik Shinji gusar. “Dia...”
“Dengarkan,” Eiji memotong. “Perempuan ini sedang bingung. Aku tak yakin dia bisa menemukan tempat yang baik untuknya. Biarkanlah untuk hari ini dia di sini. Toh, dia tidak menyusahkan—”
“Tidak menyusahkan?” Shinji kelihatan bertambah jengkel. “Dia membuat pipiku lebam.”
“Pipinya pun lebam.”
“Kau yang memukulnya.”
“Memang aku. Tapi karena aku berusaha menyelamatkannya, seperti kau ingin menyelamatkannya!” tegas Eiji dengan suara keras dan tatapan tajam.
“Kenapa kau sangat ingin membantunya?” Shinji menyipitkan mata. “Kau seharusnya berada di pihakku.”
“Menurutku kau harus membantunya...” Eiji menyandarkan punggungnya ke belakang. “Itu saja.”
“Apa alasannya? Apa kau mengenalnya?” Shinji memandang Eiji curiga.
“Tidak,” jawab Eiji segera. “Hanya intuisiku.”
Shinji mendengus. Memandang Eiji seolah Eiji telah hilang akal besar-besaran. “Kau...” Dia bahkan tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk dilontarkannya lagi pada Eiji. “Aku tidak mau tahu,” kata Shinji setelah diam beberapa detik, “perempuan itu... sudah harus pergi, sebelum aku sendiri yang mengusirnya.”
Setelah itu Shinji berjalan masuk, sementara Eiji masih duduk di kursinya dengan wajah miring menatap laut luas yang jauh di seberang. Diam tak berkata-kata.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...

Read more...

Nyanyian Sendu (4)

>> Thursday, October 27, 2011


The Decision

KEPALA Shinji terus-terusan sakit belakangan ini. Tak henti-hentinya berdenyut, dan tak hentinya pusing. Dia juga sering sekali lupa. Sulit sekali mengingat, bahkan untuk hal kecil sekali pun. Sepertinya saja memorinya mengabur. Malini bilang itu hanya migrain, dan migrain hebat seringkali membuat penderitanya tak fokus. “Kau banyak pikiran mungkin,” katanya menambahkan. Padahal Shinji merasa tidak memikirkan apa pun. Pencekalannya tidak cukup untuk membuatnya stres. Keuangannya tak mencemaskan, karena tabungannya sudah lebih dari cukup, ditambah dengan uang bulanan dari Almarhum ayahnya yang rutin mampir ke rekeningnya. Jadi tidak ada satu pun yang menjadi beban pikirannya. Terlebih lagi, sejak kedatangannya ke rumah Lea dan Juna bulan lalu, pelan-pelan hatinya yang kosong mulai penuh. Wajah mungil Dean selalu membuat hatinya ringan seketika.

Karena itu, tidak mau terus-terusan didera nyeri, Shinji memutuskan memeriksakan diri ke Dokter. Dan satu-satunya dokter yang dia tahu hanya Marco, suami dari Katty, tetangga Lea di apartemen dulu. Kebetulan dia dokter spesialis saraf.

“Sejak kapan,” Marco memulai pertanyaan khas mediknya, “kau merasakan nyeri ini?”
“Seminggu lalu,” jawab Shinji, mengarahkan bola matanya ke atas, sementara Marco menyorotkan sinar senternya ke kedua matanya. “Seperti ada batu yang besar sekali menekan kepalaku,” dia menambahkan. “Nadiku seolah tertarik-tarik.”
“Permisi.” Marco menekan-nekan kepala Shinji. Meraba-rabanya dengan wajah berkerenyit berkonsentrasi, seolah berusaha menemukan sesuatu yang ganjil. Marco juga memerhatikan Shinji sesekali, yang tampaknya tak merasakan apa pun. Tak lama kemudian dia menurunkan tangannya, dan berkata pada Shinji, “Kita harus menjalani sedikit tes kalau begitu.”
“Untuk?” Dahi Shinji mengerut. “Bukankah hanya... sedikit... migrain?”
“Kau bilang... belakangan ini kau seringkali melupakan banyak hal?” Marco menancapkan pandangan menyelidiknya ke mata Shinji.
Shinji membuka mulutnya, mengulang kalimat Malini beberapa hari lalu, “Tapi itu karena mi—”
“Aku tidak yakin ini migrain,” potong Marco, menarik lepas kacamatanya, dan menekan tulang hidungnya. Kemudian dia menatap Shinji lagi dan berkata, “Besok, tolong kemari lagi,” dengan nada tegas, yang tak dapat dibantah Shinji.
...

“Kenapa mendadak kau ingin ke Bali?” Malini bertanya dari ambang pintu kamar Shinji dengan tangan menyilang di dada. “Untuk berapa lama?”
“Entahlah,” jawab Shinji acuh tak acuh, sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam dua tas besar yang terbuka di atas kasur. “Mungkin lama.”
“Apa aku perlu ikut?” Malini melangkah pelan ke dalam, masih bersedekap. Mengamati wajah Shinji yang datar, tanpa ekspresi.
“Tidak usah,” sahut Shinji, menegakkan badannya. “Kau urus perutmu di sini,” dia mengangguk ke perut Malini yang membuncit, “Jose bisa ngamuk kalau aku ajak kau ke Bali saat sedang hamil begitu.”

Malini tak berkata-kata. Dia mengempaskan napas dengan raut muka cemas. Shinji menggerakkan kaki ke meja kerja di depan jendela kamarnya, dan mematikan laptopnya.

“Untuk apa kau ke sana sebenarnya?” Malini bertanya dalam suara ragu, seolah tidak ingin Shinji menafsirkannya dengan negatif. “Kalau sekadar refreshing, kau bisa pergi ke tempat yang dekat dengan Jakarta. Tempat yang bisa kutempuh dalam beberapa jam dengan menggunakan mobil.”
Shinji tertawa. Tangannya memasukkan laptopnya dengan cepat ke dalam tas pembungkusnya, kemudian berbalik. “I have house there, Mal,” kata Shinji berjalan ke tempat tidurnya lagi, dan meletakkan tas berisi laptop di sebelah kedua tas lain di atas kasur. “Aku ingin melihatnya. Lagipula tak ada yang bisa kukerjakan di sini selama pencekalan itu masih berlaku,” ujarnya. “Kalau di Bali aku bisa surfing; bersantai dengan tenang. Aku tidak perlu paranoid dibuntuti pers kemana pun aku pergi.”
“Kau akan melakukan hal-hal tolol lagi.”
“Aku pastikan tidak.” Shinji duduk di pinggir kasurnya dengan senyum kecil terhias di wajahnya. “Kau jangan khawatir soal itu. Aku sudah tobat.”
Malini mendengus, separo-geli separo-tak percaya. “Kenapa aku malah bertambah sangsi mendengarnya?” Malini mendekat, dan duduk di sebelah Shinji. “Kau tobat. Secepat itu?”
Ganti Shinji yang mendengus. “Mulai hari ini,” dia menyenggol bahu Malini dengan bahunya, “jangan cemas aku akan berbuat tolol lagi,” pesannya. Menolehkan kepalanya sedikit pada Malini. “Demi dirimu... aku berjanji.”

Mulut Malini menganga lebar. “Selama aku menjadi manajermu, baru kali ini kau mendengar kalimat berbobot darimu,” ujarnya takjub, yang langsung disambut kekehan Shinji. “Dan kau berjanji demi aku...?” Mata Malini mendadak sayu, menatap Shinji penuh damba. “Sepertinya kau terkena jampi-jampi salah satu cewek yang kau bodohi itu.”
Shinji tergelak, diikuti Malini yang sedikit terkikik. “Sori, oke? Atas semua tindakan cerobohku,” kata Shinji sejenak kemudian, setelah tawanya hilang. “Aku... telah mengecewakanmu dan semacamnya itu...”
Tatapan Malini melunak. Dia berdecap. Menarik napas dan mengembuskannya dengan cepat. “Kau memang amat mengecewakanku...” katanya dengan suara sedikit serak. “tapi... setidaknya... kau tetap kembali pada akhirnya.” Dia tersenyum menenangkan.
“Aku pasti merugikanmu banyak uang, ya?” Shinji menyenggol bahu Malini lagi, menolehkan wajahnya ke Malini yang memandang ke arah lemari pakaian di depannya. “Do I have to pay you?
Malini mengeluarkan suara seperti cegukan, menoleh. “Kau memang sangat merugikanku,” ujarnya. “Dan kau memang seharusnya menggantinya,” dia melebarkan matanya. “tapi... lebih baik kau pikirkan dirimu sendiri,”—(Shinji tergelak)—“di Bali nanti, aku tak ada. Aku tak bisa membereskan masalah yang akan kau timbulkan dengan cepat, dan—”
Shinji mendadak melingkarkan lengannya di sekeliling punggung Malini erat, membuat Malini bungkam, mengatakan, “Thanks,” dengan cara yang tak biasanya dia ucapkan sebelumnya. “I promise... aku tidak akan menyusahkanmu dengan masalahku lagi,” ucapnya.
“Kenapa aku merasa kau akan menghilang lagi, Shin?” Malini mengusap-ngusap lengan Shinji. Wajahnya muram. “Kenapa perasaanku jadi sedih?”
Shinji tak menjawab. Mengeratkan pelukannya pada Malini.
...

BALI. Here I am, gumam Shinji dalam hati, begitu dia membuka lebar-lebar pintu menuju beranda yang berbatasan dengan ruang tengah, yang langsung menghadap pantai.
Ombak di depan, berdebur dan bergemuruh, bergulung ke pesisir bersama angin yang menerpa. Seluruh gorden yang tergantung di jendela melambai, seolah bersorak kembali merasakan udara segar. Sudah lama rumah ini tidak dihuni.

Shinji memejamkan mata, menghela napas perlahan, dan mengembuskannya kembali dengan penuh perasaan. Dia menikmati aroma udara yang telah lama tak dihirupnya. Menikmati hawa hangat yang menyentuh kulitnya. Merasakan ketenangan yang selama beberapa tahun ini tak lagi menghampiri dirinya.
Sekali lagi dia berpikir, keputusannya benar datang kemari. Ke rumah masa kecil yang ia tinggali berdua saja dengan ibunya.

“Shinji,” suara berat menyapanya dari belakang.
Shinji menoleh, dan langsung bertemu pandang dengan Eiji yang baru saja muncul dari arah dapur.
“Semua barangmu sudah di kamar,” Eiji memberitahu, sembari berjalan  ke tengah ruangan. “Anak buahku—”
“Aku hanya perlu kau di sini,” Shinji memotong, memutar badan menghadapnya. “Anak buahmu...” Shinji menggeleng.
“Aku bukan baby sittermu.” Eiji berdiri dengan kedua tangan di saku celana hitamnya yang berkilat. “Aku perlu orang untuk menjagamu.”
“Kalau begitu kau juga pergi,” kata Shinji, menatap tajam Eiji. “Bawa anak buahmu bersamamu.”
“Kau keras kepala.”
“Ya. Memang. Bahkan terlalu keras untuk mengingat semua hal secara permanen,” sentak Shinji. Dia kemudian terdiam, menatap Eiji marah, sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya lagi ke arah jendela.
“Baiklah,” kata Eiji tak lama kemudian. “Aku akan menyuruh anak buahku pergi.”

Suara sepatu berdecit, disusul suara haknya menghantam lantai keramik di bawah. Eiji pergi, meninggalkan Shinji sendirian, menatap ke seberang laut yang membiru samar di kaki langit. Hatinya terasa berat lagi; kepalanya terasa penuh. Wajah-wajah orang yang disayanginya muncul satu persatu, berenang-renang mendekat. Wajah Lea dan Dean yang tersenyum padanya—bahkan Juna, yang selalu menunjukkan cemberut masamnya. Juga Malini. Senyum terakhirnya yang ditunjukkannya di kamar apartemennya adalah senyum yang selalu membayangi pikiran Shinji. Kemudian wajah ibunya yang amat manis, kulit pucatnya yang selalu membuatnya terlihat lemah, serta tangannya yang selalu mengusap lembut rambutnya, mengantarkan rasa damai yang tak tergantikan. Semua itu terbayang dengan jelas di matanya.
...

Malam harinya Shinji jalan-jalan ke tepian pantai. Tidak peduli gelap, karena minimnya lampu penerangan. Sambil sesekali meneguk bir untuk menghangatkan badan dia menyusur pasir kasar yang terasa hangat di kakinya, mengamati dengan menyipit buih kelabu ombak yang berkejaran dari ujung ke pantai. Shinji melangkah maju sedikit, membiarkan air merayapi kakinya yang tak beralas. Mengalirkan rasa dingin sampai sebatas betis.

Tak lama kemudian dia mendaki naik. Mengangkat kepalanya sekilas-sekilas, memandangi rumahnya yang bersinar kekuningan oleh cahaya lampu ruang tengahnya. Pintu beranda masih terbuka lebar, membiarkan angin yang bertiup mengibarkan gorden yang menggantung di atasnya. Lalu sosok Eiji muncul dengan perlahan. Bersandar di ambang pintu, seraya menenggak cairan di gelas yang dipegangnya.

Mendadak terdengar suara dengungan, cegukan, isakan serta langkah-langkah yang dipaksakan menginjak-injak pasir dari arah samping. Shinji menoleh, dan melihat sosok samar bergerak beberapa meter di sebelahnya.
Gelap, sehingga dia tidak melihat jelas orang yang terus berjalan ke arah pantai tersebut. Yang pasti dari suaranya, jelas orang itu perempuan. Kedua tangannya penuh oleh tas-tas besar yang susah payah diangkatnya menjauhi permukaan pasir.
Shinji mengernyit. Mengekori perempuan tersebut melangkah gontai sambil menangis.

Tak berapa jauh dari pinggir pantai, perempuan itu menjatuhkan semua tas yang dibawanya. Kemudian berlari cepat, menuju tepian. Ombak besar bergemuruh, bergulung, berkejaran seolah menyambut perempuan tersebut.
Orang itu mau bunuh diri! Shinji berpikir. Dia menjatuhkan botol birnya, dan buru-buru berlari menyusul.
“HEI, NONA!” dia berteriak sekencang yang dia bisa sambil terus berlari. “HEI!!!”

Perempuan itu berhenti, tepat di ujung permukaan yang tak tersentuh air. Berpaling, dan tampaknya memandang Shinji. Tak bersuara sedikit pun. Shinji tak dapat melihat wajahnya, tapi dia yakin, perempuan itu terkejut oleh teriakannya. Dia terus berlari menghampiri.
Kemudian perempuan itu berbalik dan kembali berlari menuju pantai.  Memekikkan kata “tidak” yang panik, dengan kaki menghujam air berkecipakan marah di bawahnya.

SIAL! Shinji mengumpat. Turut masuk ke air. Kenapa aku jadi repot menyelamatkan orang yang memang mau mati, dia menggerutu. Tangannya menggapai ke depan, berusaha menjangkau perempuan di depannya yang langkahnya kian berat oleh air di bawahnya.

“Lepaskan aku!” Perempuan itu berteriak ketika tangan Shinji akhirnya berhasil menarik lengannya yang kurus. "LEPASKAN AKU, BRENGSEKKKK!”
Shinji melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu. Menariknya ke daratan dengan susah payah, karena perempuan itu terus-terusan meronta-ronta dan memukul-mukul tubuh Shinji yang mana pun yang bisa dia temukan. Berteriak-teriak histeris minta dilepaskan.

“LEPASKAAAAAAAAN!” Perempuan itu kembali menjerit, sambil mengentakkan tangannya. Kemudian, entah mendapat kekuatan darimana, menyodokkan sikunya ke rusuk Shinji dengan amat keras. Membuat Shinji terhuyung ke belakang, dan dengan spontan mengendurkan pegangannya, sehingga perempuan itu dapat melepaskan diri.
Shinji terjatuh menghantam air di bawahnya, dan berusaha cepat-cepat bangkit lagi, namun pukulan amat keras mendarat di pipinya, dan dia kembali terjatuh ke air. Shinji mengerang, campuran antara kesakitan dan marah.
Sekilas, terhalang oleh air yang menusuk matanya, dia melihat perempuan itu berdiri memandangnya dengan napas terengah, hendak berbalik pergi. Namun sesosok tubuh jangkung menghadangnya, dan tanpa peringatan melayangkan tamparan ke wajahnya disertai suara ‘plak’ yang amat keras membahana.  Perempuan itu langsung lemas. Merosot lunglai, dan sosok jangkung itu segera menangkapnya.

“Hei, Shin, kau tidak apa-apa?” suara Eiji menyeruak, mengatasi kekagetan. Napasnya memburu, tampaknya dia baru berlari kencang dan jauh.
Shinji tidak langsung menjawab, berusaha keras menegakkan badannya. “Aku tidak apa-apa,” ujarnya kemudian, dengan suara parau. “Jauhkan saja dia dariku.” Shinji mengacungkan telunjuknya kesal ke arah perempuan yang lemas di tangan Eiji. “Dia membuat rahangku seolah rontok,” katanya lagi.

Setelah itu Shinji bergegas pergi. Menarik susah payah kakinya yang kebas oleh air dingin, seraya melepas gusar kausnya yang basah kuyup. Kembali mendaki menujur rumahnya di puncak bukit pasir.

“BRENGSEK!” Dia mengumpat keras, seraya memuntahkan air dan pasir di dalam mulutnya.


(Bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats!)
...

Read more...

Nyanyian Sendu (3)

>> Tuesday, October 25, 2011



Boys Will Be Boys

Meskipun uring-uringan karena Dean terus-terusan memanggil Shinji ‘papa’ ketimbang dirinya, Juna memaksa Shinji tinggal untuk makan malam, dan memasakkan makan malam lezat untuk mereka santap. Dan meskipun Shinji curiga Juna akan memasukkan racun ke dalam makanannya, melihat betapa sangar wajahnya saat menyuruhnya tinggal, Shinji mengiyakan permintaannya. Makan malam bersama keluarga kecilnya, kendati Shinji lebih banyak diam daripada bicaranya.

Bersama keluarganya, terutama pada Lea, Juna sangat berbeda. Dia terlihat santai, seperti halnya pria biasa—suami biasa, yang mengobrol banyak dengan istrinya di meja makan, bertanya aktivitas anaknya hari ini. Bahkan dia tertawa—tertawa yang tidak pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Dia tampak... menyenangkan. Raut kesal yang sore tadi ditunjukkannya pada Shinji sepertinya menghilang dengan cepat entah kemana, dan tak satu pun kata-katanya menyinggungnya seperti tadi.

“Apa sih yang sebenarnya kalian pertengkarkan?” Lea bertanya penasaran pada Shinji setelah makan malam, dan mereka kembali duduk di teras belakang menikmati teh hangat ditemani kerlap-kerlip lampu yang menerangi taman berumput di depan. Juna di dalam, menidurkan Dean. Tugasnya setiap malam.
“Kau.” Bibir Shinji membuat lengkungan jenaka, yang membuat Lea menyipitkan mata.
“Aku? Apa hubungannya denganku?”
“Itulah yang aku tanyakan, apa hubungannya denganmu?”
“Shin, jangan bercanda,” Lea memperingatkan Shinji. Merendahkan dagunya sedikit, dan matanya menatap Shinji melalui kelopaknya. “Jawablah dengan benar.”
Shinji tertawa kecil. “Apa benar kau sedih karenaku?” Suaranya merendah dan sorot matanya melembut begitu memandang Lea. “Karena si Chef sangat cemas dengan itu.”
Lea menarik napas amat pelan, seolah dia berusaha menikmati sedikit demi sedikit oksigen yang dihirupnya. Punggungnya didorongnya ke belakang, ke sandaran kursi. Menunduk sejenak, sebelum akhirnya kembali mendongak pada Shinji. “Kalau kau jadi aku..., bagaimana perasaanmu, ditolak dan tidak digubris olehku, sahabatmu?” tanyanya muram. “Padahal yang kau inginkan hanya memastikan kalau aku baik-baik saja dengan semua masalah buruk yang mendera?”
Shinji memandang Lea dengan ekspresi penuh rasa bersalah. “Sori, oke?” ucapnya. “Kalau aku membuatmu sedih..., I’m sorry. Aku hanya...” Shinji tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Dia tidak mungkin mengatakan alasannya menjauhi Lea karena cemburu. Cemburu yang tak sepatutnya.
“Hanya apa?” tuntut Lea, memandangnya menunggu.
Lea.”
Mendengar suara Juna, Lea buru-buru menengok. Mengangkat dagunya sedikit pada Juna yang bersandar santai di pintu sambil meneguk bir di botol yang dipegangnya. Satu botol bir lagi tergantung canggung di tangan kirinya.
“Dean sudah tidur?” tanya Lea penuh senyum.
“Sudah,” jawab Juna cepat, balas tersenyum. “Bisa cek dia lagi?” Juna berjalan mendekat, meletakkan botol bir yang di tangan kirinya di atas meja di depan Shinji.
Lea tak menjawab, hanya nyengir, kemudian bangkit dari kursi. Dia melempar satu cengiran lagi pada Shinji kemudian beranjak pergi. Namun, begitu mencapai pintu dia berhenti sejenak, kembali menoleh. “Pastikan agar tidak ada yang mabuk,” dia berpesan pada Juna, memberikan senyum yang tak seperti biasa; senyum mengancam, baru kemudian melanjutkan berjalan.

“Gawat, kalau dia sudah tersenyum seperti itu,” gumam Juna, lebih pada dirinya sendiri, lalu meminum birnya lagi. “Aku bisa tidur di sofa malam ini.”

Shinji mendengus, menyeret botol bir di depannya mendekat. Melepas tutupnya yang sudah setengah terbuka, kemudian meneguknya banyak-banyak. Juna duduk di kursi yang tadi diduduki Lea, meletakkan botol bir yang dipegangnya di atas meja, dan bersandar dengan leher di puncak kursi. Dia kelihatan lelah.

Hening yang canggung mengejek Shinji. Dia tidak tahu harus berkata apa pada Juna. Situasi tak mengenakkan tadi sore masih sangat memengaruhi sikapnya pada Juna.

“Mau menginap?” mendadak Juna bicara. Matanya yang ngantuk menatap Shinji, yang langsung bengong.  
Shinji berjengit. “Apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan menginap di rumahmu?”
“Tidak ada,” jawab Juna tanpa ekspresi. “Aku hanya basa-basi.”

Shinji mendengus, bibirnya melengkung naik sedikit. Dia ingin tertawa sebenarnya, tapi gengsi. Ingin melontarkan kata-kata yang lebih dingin, tapi sudah keburu mendengus, akhirnya dia hanya menggelengkan kepala, menarik botol birnya lagi, dan kembali menelan isinya.

 “Bagaimana ayahmu?” tanya Juna lagi. Mencondongkan badannya ke depan, dan mengambil botol birnya lagi.
“Mati,” jawab Shinji singkat.
Juna sedikit tersentak. “Oh ya? Kapan?”
“Enam bulan lalu,” jawab Shinji, meletakkan botol birnya di atas meja, kemudian menyandarkan punggungnya ke belakang. “Jantung juga.”
I'm sorry," ucap Juna dengan nada prihatin. "Kau sedih?" dia bertanya lagi sejenak kemudian. 
Shinji mengembuskan napas tajam, memandang Juna dengan ekspresi yang tak dimengerti selama beberapa saat, baru kemudian menjawab, “Tidak terlalu,” yang kedengaran enggan.

Juna mengangguk-angguk. Kembali menempelkan mulut botol birnya ke bibirnya, dan memiringkannya. Meneguknya perlahan. “Ibumu?” Dia bertanya lagi, yang kali ini langsung disambut Shinji dengan tatapan menghujam, dan hamburan kalimat, "Kenapa kau jadi perhatian sekali padaku? Apa kepalamu terantuk sesuatu barusan?” .
“Kalau ini membuatmu lebih baik, anggap saja pertanyaan-pertanyaanku adalah salah satu usaha basa-basiku denganmu,” jawab Juna cuek. “Jadi kau tidak perlu ge-er.”
Kalimat Juna membuat Shinji mendengus geli. Dia menundukkan kepala, menekan hidungnya seraya menggeleng. “Kau sungguh menyebalkan, kau tahu itu?” Dia mengangguk pada Juna.
“Kau pun menyebalkan,” balas Juna lagi dengan tampang serius. Namun sepersekian detik kemudian dia turut mendengus. Kembali minum.
“Ibuku baik-baik saja,” kata Shinji. “Dia tinggal di Jepang sekarang. Tak mau lagi kembali kemari. Dia...” (Shinji mengembuskan napasnya pelan) “aman.”
“Bagaimana dengan keluarga ‘Yakuza’ mu?” tanya Juna. “Mereka masih mengikutimu?”
“Si Tua Bangka itu menyuruh salah satu anak buah kepercayaannya untuk menjagaku kemana pun aku pergi sebelum dia mati,” jawab Shinji. “Jadi” (Shinji menaikkan kedua pundaknya) “ya,”—dia menengok pada Juna—“aku masih diikuti. Hanya saja, tidak terang-terangan.”
“Mereka mengijinkanmu kembali ke Indonesia...”
“Harus,” sahut Shinji cepat. “Tidak ada yang bisa kulakukan di sana. Aku tidak suka jadi gangster. Aku... tidak suka... hidup di tengah orang-orang seperti itu.”
“Kalau begitu, kenapa kau tato punggungmu?” Juna mendorong kepalanya ke belakang, melihat tato yang menyembul dari balik leher kaus Shinji.
“Ini bukan tato ‘mereka’,” jelas Shinji, menyentuh tato di lehernya sejenak. “Memang mirip, tapi bukan. Hanya tato iseng-iseng.”
“Tato iseng-iseng tidak akan mencapai punggung, Shin,” kata Juna meragukan. “Sangat sakit, dan perlu niat yang luar biasa.”
Shinji berdecak. “Tatoku urusanku,” katanya sebal, “kau urus tatomu sendiri.” Shinji mengangguk ke tato di sekujur tangan Juna.
Juna tergelak. “Sori,” ujarnya. “Just curious. Kukira kau luluh pada ayahmu. Mentato punggungmu hanya untuk membuatnya tenang sebelum dia meninggal. Karena tato itu,”—Juna menunjuk tato Shinji—“hanya untuk keluarga inti Yakuza Kodame. Dan juga sebagai jaminan ‘perlindungan’ dari Yakuza lain.”
Shinji mengernyitkan alis. Dia tak menyangka kalau Juna tahu banyak mengenai tato di punggungnya. “Kau tahu banyak ternyata...”
“Aku berteman dengan Dai Tanaka lumayan lama sebelum akhirnya aku tahu kalau dia adalah pimpinan tertinggi O ushi,” kata Juna. “Dan dia sering menunjukkan gambar-gambar tato khas masing-masing kelompok Yakuza. Salah satunya adalah tato khas keluarga besarmu.”

Shinji diam. Tak berkata-kata lagi. Dia enggan mengakui pada Juna, bahwa dia memang mentato badannya untuk membuat ayahnya tenang. Selama hampir dua tahun, ayahnya telah membuat opini buruk Shinji mengenainya pelan-pelan berubah. Si Tua itu, memang telah meluluhkan hatinya dengan segala cara yang bisa ia lakukan untuknya.
Dari dasar hati yang paling dalam dia sangat sedih atas kepergian ayahnya, namun, dia tidak biasa bersedih untuknya. Berusaha keras untuk tidak memperlihatkan, dan memilih untuk menangis dalam hati. Hal itu membuat perasaannya kebas. Seperti orang yang tak punya indera perasa.

“Habis!” seru Juna tiba-tiba, meletakkan botol birnya yang sudah kosong keras-keras ke atas meja hingga permukaannya bergetar. Dia kemudian melempar pandang pada Shinji. “Bagaimana denganmu?” Dia mengangguk ke arah botol yang masih dicengkeram Shinji.
Shinji menenggak habis birnya, kemudian meletakkan botolnya juga ke atas meja. “Finish!” katanya.
“Mau lagi?” Juna bertanya. Menunjukkan ekspresi bengal yang juga tak biasanya dilihat Shinji.
“Bukankah Lea telah berpesan padamu untuk tidak mabuk?” Shinji menyipitkan sebelah mata.
“Ini cuma Bir.” Juna bangun dari kursinya. “Aku tidak akan mabuk hanya dengan Bir. Kalau kau,” dia menaikkan pundak, memandang Shinji dengan tampang seolah meremehkan, “tidak tahu.”
Shinji menengadahkan wajah. Memperdengarkan tawa yang juga mengejek. “Ambil stok birmu kalau begitu,” tantangnya. “Kita lihat siapa yang teler duluan.”
Juna tersenyum simpul. Mendengus. “Oke,” balas Juna, berjalan mendekati pintu, hendak masuk ke dalam. “Jangan menyesal,” katanya lagi sebelum menghilang dari pandangan.
Bring it on, Chef!” seru Shinji.
...
Lea marah-marah keesokan harinya, karena Juna dan Shinji mabuk berat. Keduanya terlelap di ruang tengah—Juna di atas sofa, dan Shinji tergeletak di lantai; kakinya di wajah Juna, dengan botol bir kosong, kaleng bir kosong, dan berbagai macam bungkusan cemilan yang bisa dijarah keduanya dari dapur, bergelimpangan di sekeliling mereka, sampai akhirnya bangun dengan panik karena mendengar teriakan histeris Lea.


Yang pasti Juna benar-benar terancam tidur di sofa malam harinya, karena Lea, selain sibuk mondar-mandir membersihkan area ruang tengah, tak berkata apa pun padanya. Wajahnya memberengut, seolah memberitahu kalau dia amat murka dan tak mau mendengar penjelasan apa pun dari keduanya.

“Kalian seperti anak kecil,” omelnya jengkel, seraya membersihkan areal ruang tengah yang kacau balau. “Bisa-bisanya kalian membuat berantakan semuanya. Apa sebenarnya yang kalian lakukan sampai semuanya jadi seperti ini?”

Yang dimaksud Lea dengan ‘seperti ini’ yaitu beberapa sofa yang terbalik—baik Shinji maupun Juna tak dapat mengingat jelas bagaimana sofa-sofa tersebut bisa nungging begitu, standing lamp yang terbaring miring di lantai, yang seharusnya bertengger cantik di sudut ruang tamu, korden jendela belakang yang sekarang terikat paksa di tiang standing lamp seperti bendera, dan masih banyak lagi kerancuan yang bisa ditemukan yang melibatkan perabot ruang tengah.

Shinji dan Juna cuma bisa duduk bengong di belakang meja makan. Kepala menunduk dan tampang keduanya dipenuhi rasa bersalah, persis seperti bocah yang sedang terkena semprot ibunya, sementara Lea ngomel non-stop sambil merapikan banyak barang, dibantu pembantunya yang ngos-ngosan di belakangnya karena mengimbangi gerakannya yang cepat.
Dan setelah semuanya rapi, dia meninggalkan Shinji dan Juna begitu saja, tanpa menoleh sedikit pun. Masih tampak sangat kesal.

“Dia tidak semenakutkan itu dulu,” bisik Shinji, seolah takut Lea mendengarnya. “Mengerikan sekali.”
Juna mendengus geli. “Kau belum tahu waktu dia hamil,” katanya memberitahu. “lebih parah dari ini. Aku bahkan berhalusinasi dia punya tanduk di kepalanya.”
Shinji tertawa tertahan, disusul oleh Juna yang menyembuyikannya dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam, sehingga hanya bahunya saja yang berguncang.

(bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats)
...

Read more...

Nyanyian Sendu (2)

>> Saturday, October 22, 2011


(Still) Best Friends 

SHINJI dicekal. Dephumkam melarangnya muncul di stasiun televisi mana pun, di acara off-air mana pun, dan dia harus menyetujuinya. Dan sebagai gantinya, Dephumkam tidak akan memperkarakan kasusnya tersebut—padahal mereka memang ingin melindungi putri si pejabat tersebut—sehingga dia bisa lepas dari penahanan Polisi dan kasusnya akan di ‘peti es’-kan.

Pencekalan tersebut membuat putusnya kontrak kerjasama antara Shinji dengan perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan dirinya sebagai ikon produk. Konser keduanya batal, dikarenakan ketiadaan budget, karena pihak sponsor yang disebut akan mendanainya mundur begitu berita pencekalannya diumumkan di seluruh media.
Pihak label pun tidak ketinggalan, mereka menghukum Shinji dengan melayangkan surat penangguhkan pembuatan album keduanya sampai waktu yang tidak ditentukan. Semua itu membuat Shinji benar-benar tak bisa ‘bergerak’. Dia benar-benar seperti orang buangan sekarang; dikucilkan dari dunianya sendiri.
Tapi anehnya, Malini hanya diam. Padahal sebelumnya Shinji mengira dia akan murka padanya. Panik, dan mencoba mengusahakan sesuatu agar pencekalannya dibatalkan, namun ternyata... Malini diam. Tak berkata-kata, tak melakukan apa-apa. Membuat Shinji jadi lebih merasa bersalah daripada sebelumnya. Tidak biasa-biasanya Malini bungkam begitu.
....

SUARA-suara teredam terdengar dari balik pintu apartemen Shinji. Malini sedang berbicara entah dengan siapa di luar. Tak lama kemudian dia masuk kembali, menenteng sebuah lunch box set. Bau sedap makanan menguar dari dalamnya.

“Kau bicara dengan siapa?” tanya Shinji ingin tahu. Menutup koran yang barusan dibacanya. “Tampaknya serius sekali...” Dia meletakkan koran tersebut, dan menarik sebuah majalah di atas meja ruang tamu. Duduk menyilangkan kaki.
“Lea,” jawab Malini. Meletakkan lunch box di atas meja.
Mata Shinji menyipit beberapa detik. “Sekarang sudah pergi?” tanyanya.
“Ya. Dia sudah pergi,” angguk Malini. “Aku menyuruhnya pergi seperti yang kau perintahkan.”
Shinji mengembuskan napas. Menghelanya lagi, dan mengembuskannya lagi, kelihatan gundah. “Baguslah...” katanya kemudian, menaikkan pundaknya sedikit. Kembali membuka majalah, membacanya (atau bisa juga tidak) dengan punggung bersandar.
“Kenapa kau tidak mau ketemu dia?” tanya Malini heran. Menyilangkan tangan di dada. “Dia khawatir sekali padamu.”
“Karena aku tidak perlu menemuinya,” tegas Shinji, menatap tajam Malini. “Tidak penting,” dia kembali melihat ke majalah, “jadi untuk apa?”

Malini menggeleng samar, tampak kesal pada Shinji. Menarik napas dan mengempaskannya diiringi suara keluh putus asa.

“Lea membawakanmu makan siang,” Malini memberitahu Shinji, sambil melangkahkan kakinya mendekati salah satu sofa tunggal. “Kau makanlah... Aku harus pergi menemui Jose.”
Malini menyambar tasnya yang diletakkannya di atas salah satu sofa berlengan di depan Shinji. Bersiap pergi.
“Bawa saja.” Shinji mengangguk ke arah lunch box di atas meja. “Aku bisa beli makan nanti.”
Malini mendelik, lalu membuka tutup mulutnya. Sepertinya dia ragu Shinji baru saja melontarkan kalimat barusan. “Kau ini... Lea sudah—”
“Aku tidak mau,” Shinji buru-buru memotong. “Paling-paling Juna yang memasaknya.”
Malini berjengit. “Juna tidak pernah masak di rumah,” katanya kesal. “Dia hanya masak sewaktu Lea hamil, karena dia ingin Lea makan-makanan sehat,” jelasnya sengit. “Sekarang, setelah melahirkan, Juna tidak masak lagi... Lea yang memasak. Kau ini...” Malini menggelengkan kepalanya lagi. Tidak meneruskan bicara. “Aku tidak mengerti dirimu, Shin. Kau yang dulu... dengan kau yang sekarang... seperti dua orang yang berbeda.”
“Aku masih sama seperti dulu,” bantah Shinji, menatap Malini seolah Malini telah mengucapkan sesuatu yang lucu. “Tak ada yang berubah.”
“Shinji yang dulu... tidak akan mungkin melakukan perbuatan konyol yang membahayakan karirnya sendiri,” tukas Malini. “Shinji yang dulu bukan cowok playboy yang kelayapan tiap malam untuk mencari perempuan-perempuan tolol yang bisa ditiduri.”
Dagu Shinji terangkat, matanya menyipit, menatap tajam Malini yang berdiri di depannya dengan dada naik-turun saking marahnya.
“Shinji yang dulu,” Malini melanjutkan dengan suara bergetar, “tidak akan pernah ragu berkata ‘maaf’ bila telah mengecewakan orang lain. Kau yang sekarang... bukan ‘Shinji’ yang itu.”

Malini menyambar tali lunch box, mengangkatnya dari permukaan meja, sementara Shinji hanya diam, memandang ke arah lain dengan tampang masam.

“Satu hal lagi,” Malini kembali memandang Shinji, “kau tidak berhak cemburu pada Juna,” Malini berkata. “Lea sangat bahagia bersamanya, dan kau seharusnya turut senang. Dan kalau memang semua ulah abnormalmu ini dikarenakan cemburu buta, please...,” Malini menghentikan kata-katanya sejenak, sementara Shinji mengerutkan kening menatapnya,“stop it!” lanjutnya dengan suara hampir memekik. “Karena pada akhirnya hanya kau yang akan merasa sakit.”
Setelah itu Malini berbalik, bergegas menuju pintu, sedangkan Shinji masih bergeming di sofa. Memandang pintu, sampai akhirnya membanting menutup.
...

Rumah Lea dan Juna tidak terlalu besar, namun entah kenapa terasa luas. Rumah mereka bernuansa putih dan hitam, seolah menegaskan pribadi pemiliknya. Lea suka warna putih, Shinji jelas tahu, dan Juna suka hitam. Semua furniturenya bergaya minimalis, tidak ribet. Benda-benda seni khas Bali menempel di tembok, di lantai, dan di atas lemari atau bufet. Taman luas berumput mengapit rumah mereka mulai dari depan sampai belakang. Kolam air mancur bergemericik. Pot-pot besar bonsai berbaris di depan tembok pembatas, bersama dengan beberapa tanaman bunga warna-warni, serta beberapa pohon berdaun rindang. Shinji merasa nyaman di sini.
Dia jadi teringat rumah ayahnya di Jepang.

“Berhenti mengangkat-ngangkatnya seperti itu, Shin,” tegur Lea pada Shinji yang sedang asyik bermain-main dengan Dean (baca: Din), putra Lea dan Juna yang baru berusia satu tahun di taman belakang. Mengangkat-angkatnya tinggi-tinggi seolah hendak melemparnya ke atas. “dia bisa muntah.”

Shinji menurunkan Dean, mendudukkannya di pangkuan. Senyumnya merekah memandang wajah Dean. Dia lucu sekali. Mimik wajahnya saat tertawa dan tersenyum, sangat mirip Lea. Hanya rambutnya saja yang hitam pekat dan lurus seperti Juna. Lebih baik digundul saja, pikirnya.

Glad you here,” ujar Lea, meletakkan cangkir berisi kopi di atas meja. Kemudian duduk di sebelah Shinji. “Baru kali ini kau datang sejak aku melahirkan.”
“Aku sibuk,” balas Shinji. Tersenyum lagi pada Dean, yang meronta-ronta di pangkuannya. Menjambak kausnya dengan tangan mungilnya.
“Aku tahu,” kata Lea. “Kau sibuk dengan gadis-gadis groupy-mu.” Lea mendengus geli.
“Kau kira itu lucu?”
“Menurutmu?”
Shinji balas mendengus. Tersenyum simpul. “Kau dan si Chef membuat bayi yang lucu sekali.” Shinji kembali mengangkat Dean. Menghadapkannya ke arahnya. Dean nyengir dan Shinji langsung tergelak. “Dia mirip sekali denganmu.”
“Katanya begitu,” ujar Lea, memberi cengiran yang persis sama seperti Dean. “Juna sering menyamakan muka cemberutnya denganku. Padahal aku merasa, saat Dean cemberut, dia mirip sekali Juna.”
Setelah Lea berkata begitu, mendadak Dean merengek. Baik Shinji maupun Lea langsung mengalihkan pandang ke arahnya. Mengamatinya bersungut-sungut.
“Ya. Benar,” Shinji mengangguk, “kalau cemberut dia mirip si Chef.”
Lea menopang dagunya dengan satu tangan. “Menurutku juga begitu. Tapi Juna tak percaya.”
Keduanya terkekeh, kemudian kembali memandang Dean yang wajahnya memerah. Hendak menangis.
“Dia kenapa?” Shinji bertanya cemas.
Poop-face,” jawab Lea. “Dia mau pup.”
Shinji buru-buru menyodorkan Dean pada Lea. Ekspresinya seolah jijik. Lea menerima Dean, kemudian bangkit dari bangku dengan tawa lebar. “Kalian, laki-laki, kenapa takut sekali dengan pup bayi?”
Shinji memutar matanya ke atas, duduk bersandar ke belakang, sedangkan Lea masuk ke dalam rumah bersama Dean yang sudah mulai menangis.

Shinji memandang langit sore yang mulai menguning. Menyaksikan kumpulan awan yang bergerak lambat di atas selama beberapa saat. Setelah itu dia menurunkan wajahnya, memandang kosong kolam air mancur di depan. Menghela napasnya perlahan, lalu mengembuskannya dengan pelan sambil memejamkan mata.
Tenang rasanya, entah kenapa. Suasana rumah ini, atau keberadaan Lea di dekatnya yang membuatnya merasa ‘plong’. Tidak lagi memikirkan masalah yang menderanya. Sepertinya, keputusannya menemui Lea benar. Dia jauh merasa lebih baik daripada sebelumnya.

“Shinji?” Seseorang berseru di belakangnya. Suara berat dan dalam yang amat dikenalnya.
Mood baik Shinji langsung menguap secepat dia mengembuskan napasnya. Dia menoleh ke belakang, melihat Juna yang berdiri di ambang pintu teras rumah, masih mengenakan baju ‘chef’nya. Sama seperti Lea, tak ada yang berubah dengan penampilannya. Masih jangkung, kurus, dengan ekspresi masam yang sama seperti sebelumnya. “Hei... Chef,” sapanya enggan, mengangkat tangannya sekilas, dan berdiri dari bangkunya.
“Sudah lama?” tanya Juna, seraya menggerakkan kaki keluar teras.
“Baru saja,” Shinji menjawab. Memaksakan senyum di wajahnya. “Aku menengok Dean.” Dia berjalan menghampiri Juna.
Juna tersenyum simpul. Menurunkan tas yang disandangnya di atas meja teras dan berdiri menunggu Shinji.
“Apa kabar?” tanya Shinji, memasukkan kedua tangannya ke saku jins.
Fine,” jawab Juna datar. “Kau sendiri... kelihatan lebih baik daripada dulu,” komentar Juna. Shinji mendengus tersenyum—agak sinis sebenarnya. “Tapi lebih ceroboh dalam bertindak.”
Alis Shinji berkerenyit. “Maksudmu?”
Juna bersedekap. Mengamati Shinji seolah menilai. “Tidak ada maksud apa pun,” jawabnya menaikkan pundak sedikit. “Aku hanya berpikir kalau kau membuat karirmu sendiri berantakan dengan skandal-skandalmu. Mengecewakan Malini yang sudah susah payah mengembalikanmu ke dunia entertaiment.”
“Bukan urusanmu!” sergah Shinji gusar.
“Urusanku kalau itu melibatkan Lea.”
“Tidak ada hubungannya dengan dia. Lea baik-baik saja.”
“Dia tidak baik-baik saja,” bantah Juna. “Dia terus-terusan mengkhawatirkanmu sejak Pers memberitakan skandalmu dengan banyak perempuan. Dia kecewa ketika kau tidak datang ke rumah sakit setelah melahirkan. Dia juga muram terus karena kau terus-terusan menolak untuk ditemui. Dia sahabatmu. Dan kau tanpa perasaan—”
“Jangan bicara seolah kau tahu bagaimana perasaanku, Juna!” potong Shinji. Tangannya mengepal. Dan matanya melotot berbahaya. “Kau... siapa pun... tidak tahu bagaimana perasaanku!”
“Kau mencintai Lea, kan?” Juna menatapnya menantang. Shinji bengong, kaget dengan pertanyaan mendadak itu. “Kau jadikan itu alasan untuk melakukan tindakan tololmu. Kau bego!”

Shinji menyambar kerah leher Juna dengan beringas. “Hati-hati dengan bahasamu, Juna,” ancamnya. “Kau lupa siapa aku?”
“Siapa pun dirimu..., tak ada yang perlu kutakutkan,” sahut Juna, menyeringai. “Lagipula bukankah kau membenci ‘keluarga’mu itu? Dan apa kau lupa apa yang kau janjikan pada Dai sewaktu dia melepasmu... Sekali saja kau melibatkan ‘klan’-mu, dia akan menghabisimu.”
“Aku tidak akan melibatkan ‘klan’ku hanya untuk memberimu pelajaran,” kata Shinji, masih mencengkeram erat leher kemeja Juna. “Aku bisa melakukannya di sini.”
“Oh.” Juna mengangkat tangannya. Mencengkeram pergelangan tangan Shinji erat, kemudian melepasnya dari kerahnya. “Nantang?”
Kalau kalian mau jotos-jotosan, jangan di dalam rumah,” suara Lea terdengar dari belakang. Marah.
Shinji dan Juna berpaling buru-buru. Memandang Lea yang menatap galak keduanya. Dean di gendongannya, sudah berganti baju. Nyengir pada Shinji. Merentangkan kedua tangannya dengan badan melonjak-lonjak ke arahnya.

“Pa... pa...”--papa, dia berseru dengan suara khas bayinya yang lucu. Bukan pada Juna, tapi pada Shinji.
Juna mendelik, sedang Shinji mendengus. Ekspresinya puas penuh kemenangan. Lea memandang Dean takjub. “Dia bicara...” gumamnya, menerawang.
“Dan kata pertamanya adalah ‘Papa’...” Juna berkata dalam suara seperti melamun. Tampangnya sedih. “pada Shinji...”

Dean melonjak-lonjak, meronta-ronta dari Lea, menunjuk-nunjuk Shinji yang tersenyum lebar, minta digendong. Shinji menghampiri Lea cepat-cepat, dan mengambil Dean dari dekapannya. “Hei, Dean,” sapanya ramah, seraya mengecup pipi Dean dengan sayang. Berjalan menuju taman belakang dengan Dean di dekapannya. Sempat menyeringai pada Juna yang menatap sebal dirinya. Seolah tak rela dia membawa Dean.

Selama sepersekian detik Juna cuma bengong memandang Shinji yang berjalan pelan memutari taman belakang untuk menghibur Dean, sampai akhirnya dia mengeluh pada Lea di sebelahnya, “Bagaimana bisa anakku sendiri menyebut ‘papa’ padanya, padahal aku yang selalu tersiksa mengganti popoknya?”
Lea mendengus geli, yang segera dirubahnya menjadi deheman kecil.

(Bersambung)
Ditulis oleh Putu Indar Meilita (I hate copy cats)
...

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP