LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (35)

>> Thursday, September 29, 2011

gambar dari sini


Friends After All


LEA tercengang begitu tahu kalau rumah tempatnya disekap berada di sebuah pulau terpencil yang dikelilingi hutan luas, yang menaungi rumah besar yang ada di tengahnya. Saat dia menanyakannya pada Juna, apa para Yakuza itu yang memiliki pulau tersebut, Juna hanya menjawab, “Bukan urusanmu,” seperti sebelumnya. Membuatnya bungkam dan akhirnya hanya bisa memandanginya dengan kagum dari atas.


Tak ada yang bicara sepanjang perjalanan. Juna sibuk mengemudikan pesawat, Lea tidur—perutnya luar biasa mual jadi dia memutuskan tidur agar tidak muntah, dan Shinji termenung diam di kursinya. Ketika akhirnya pesawat merendah, senja hampir turun, dan Lea telah membuka mata. Melihat pemandangan di luar melalui jendela pesawat yang berangsur-angsur jelas. Dimana mereka berada sekarang, Lea tak tahu. Dan dia tak peduli. Yang terpenting olehnya sekarang adalah menginjak daratan yang tak ada Yakuza-nya, tanpa takut akan disakiti lagi.


Juna mendaratkan pesawatnya di sebuah landasan entah dimana. Jantung Lea berdegup kencang. Dia teramat senang, mengetahui sebentar lagi dia akan pulang ke apartemennya. Ingin mandi, menyiram tubuhnya dengan air sebanyak-banyaknya, kemudian meringkuk nyaman di kasurnya yang hangat. Juna...? Kenapa dia jadi memikirkan Juna?


Begitu Lea turun dari pesawat, yang pertama dilihatnya adalah Malini yang berlari tergopoh-gopoh ke arahnya. Lea terkejut dia berada di sini; Juna pasti telah memberitahunya, pikirnya segera.


“Lea!” Malini segera menubruknya. Memeluknya sangat erat, membuat Lea susah bernapas. “Oh, Tuhan, terima kasih.” Malini menarik tubuhnya, memandangi Lea yang masih bengong. Pipi Malini basah oleh air mata. Dia juga kelihatan sangat pucat; seperti orang sakit. Matanya tampak lelah, seakan saja dia tak tidur selama beberapa hari. “Wajahmu,” dia memandang Lea ngeri, “kenapa begini?!” Dia histeris. “Keterlaluan sekali mereka! Memuku—”
Kalimat Malini tertelan lagi ke tenggorokan begitu melihat Shinji keluar dari pesawat. Dia melongo, mengamatinya menuruni undakan, dan menjejakkan kakinya ke tanah. Malini tampaknya sangat terguncang melihat Shinji. Dia melepaskan tangannya dari Lea, dan berjalan pelan, mendekati Shinji, yang sekarang tampak gugup.


“Malini,” sapa Shinji, tersenyum kikuk. “Apa kabarmu?”
Malini memandangi Shinji beberapa saat, seolah hendak memastikan kalau memang benar Shinji yang sekarang sedang berdiri di hadapannya. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dia mengangkatnya, sejenak terlihat ingin memeluk Shinji namun kemudian—PLAKKK!—dia menamparnya. Sangat keras, dengan mata membeliak murka. Napasnya tersengal. Dia benar-benar marah.
Shinji pasrah. Menerima tamparan Malini tanpa protes, sama seperti dia menerima pukulan dari Juna beberapa jam lalu.


“Kau hilang begitu saja! Dan sekarang kau muncul lagi dengan lebam dan memar di mukamu! Kau benar-benar... benar-benar...” Malini kelihatan sulit mengucap kata. Mendengus-dengus, dan berusaha menelan sesuatu di tenggorokannya. Lea bergegas memegangnya. Berusaha menenangkannya. “Kau tahu betapa khawatirnya aku padamu?!” hardiknya keras pada Shinji yang hanya menunduk. “Semua orang mencemaskanmu—orang yang kau kecewakan! Mereka semua cemas denganmu! Kau menghancurkan karirmu sendiri! Membuat Lea seperti mayat hidup selama setengah tahun! Dan sekarang kau—” Sekali lagi kalimat Malini raib di udara. Memandang Shinji dengan amat sedih. “Kenapa kau bodoh sekali, Shin? Kenapa kau tidak bercerita apa pun padaku? Aku manajermu. Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Kau... dan juga Lea,” kata Malini lirih. “Kalau terjadi sesuatu pada kalian... aku...”
Tanpa disangka Shinji memeluk Malini. Dan mengucap, “Maaf,” pelan dengan tegas. “Aku minta maaf, Malini. Aku mohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti atau mengecewakan siapa pun. Maaf.”
Luluh, Malini berdecak. Mengembuskan napas tajam. Balas memeluk Shinji, menepuk-nepuk punggungnya. “Kau bodoh,” gumamnya. “Kau dan Lea... kalian sama bodohnya,” lanjutnya lagi.
Malini kemudian memutar kepalanya, menarik lengan Lea di belakangnya, memaksanya turut berpelukan dengan dia dan Shinji. Lea, tentu saja tak bisa menolaknya.
“Kau juga. Sini!” perintah Malini pada Juna, yang dari tadi hanya diam menonton adegan reuni ketiganya. Memberi isyarat padanya untuk ikut dalam lingkaran kecil yang dia buat dengan Lea dan Shinji. Meskipun kelihatan enggan, Juna menurut. Berdiri di belakang Lea, dan memeluk ketiganya.


Konyol sekali.


Juna yang menarik diri lebih dulu, karena Lea mengeluh tak dapat bernapas. Setelah itu satu-persatu memisahkan diri, meskipun Malini tetap menempel Shinji, menanyakan kemana saja dia selama ini? Kenapa dia, Shinji, bisa muncul bersama Juna dan Lea? Dari pertanyaan yang Malini ajukan, Lea menyimpulkan kalau Malini tidak tahu-menahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


Lea menoleh pada Juna, menggumamkan kata “apa dia tahu?” tanpa suara. Dan Juna menggeleng kecil, membuat Lea paham.


“Malini,” Juna menegurnya, “bukankah kau berjanji untuk tidak menanyakan apa pun, kalau aku dapat mengembalikan Lea padamu?” tanya Juna, mengangkat dagunya. Tampangnya mengancam. “Juga memberitahumu tempat ini?”
“Hanya Lea, bukan Shinji,” timpal Malini cepat. “Jadi aku bisa menanyai Shinji tentang...”
“Tidak. Kau tidak bisa,” sahut Juna. Menaikkan kedua alisnya.
“Kenapa tidak?” Malini ngotot. “Apa kau terlibat dengan penculikan Lea?”
“Jangan ngaco!’ Kali ini Lea yang protes. “Dia tidak terlibat apa pun.”
Malini beralih pandang pada Lea. “Lalu siapa yang terlibat? Siapa yang menculikmu?”
Bibir Lea mengatup. Matanya mencari mata Juna, yang menyorot tajam kepadanya. Tampangnya seolah mengatakan kalau dia akan memaksa Lea makan air kobokan kalau dia berani mengatakan sesuatu pada Malini.
“A-aku tak tahu...” kata Lea buru-buru. “Jangan tanya aku.”
Malini memandang Lea dengan kesal. “Apa kalian semua akan menyembunyikannya dariku?”
“Kau sudah berjanji padaku, untuk tidak menanyakan apa pun, selama aku berhasil membawa Lea kembali dengan selamat,” kata Juna bersedekap. “Dan sekarang, kau ingkar. Kau ini bagaimana?” cetus Juna kesal. “Kau orang yang tidak bisa dipercaya,” tambahnya. “Pantas saja Shinji tidak mau mengatakan padamu saat dia memutuskan pergi.”
“Aku tidak seperti itu!” bantah Malini.
“Sudahlah. Sekarang sebaiknya kita pulang. Lea dan Shinji sudah sangat lelah,” saran Juna. “Aku akan memberitahumu semuanya nanti,” ujar Juna, berjalan menghampiri Lea.
“Kapan?” tanya Malini penasaran.
“Seminggu lagi,” jawab Juna, merangkul Lea, mengajaknya berjalan pergi.
Malini menggamit tangan Shinji, mengejar Juna dan Lea. “Kenapa lama sekali?”
“Sudahlah, Malini,” Shinji berkata, menarik tangan Malini dan melingkarkan tangannya di sekeliling pundaknya. “Biarkan kami semua tenang dulu. Tidak semuanya harus diceritakan secara langsung.”
“Tapi kita harus lapor Polisi,” cecar Malini.
“Tak perlu polisi,” sahut Juna, menoleh sekilas ke belakang. “Kalau kau mau kita semua aman.”


Malini masih tak mengerti. Kentara sekali ingin bertanya, namun memaksakan diri bungkam. Bagi dirinya yang tak mengikuti cerita dari awal sampai akhir tentunya akan sangat membingungkan. Tapi bagi Lea, Juna dan juga Shinji, mereka lebih baik melupakan apa yang telah terjadi; beryukur kalau semua sudah mereka lewati. Dan yang terutama, kembali dalam keadaan hidup. Meskipun badan mereka dipenuhi bilur-bilur yang tak enak dipandang.


Biarlah.


(Bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat)
.....................................
gambar dari sini
tidak peduli dimana pun, 
asal bersama sahabatku,
aku tenang

3 comments:

fitrinurainisetiyowati September 29, 2011 at 6:46 PM  

kalo yg ini mah aku gag isa tenang mbak....penasaran kelanjutannya LOL..

rona-nauli September 29, 2011 at 9:48 PM  

shinji...shinji...*tarik-tarik baju Lita* :D

Lita October 4, 2011 at 12:55 PM  

@Fitri: Ayo, dibaca kelanjutannya...

@Rona: Ayo, madam. Silakan baca... Shinji-nya *hihih*

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP