LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (34)

>> Tuesday, September 27, 2011


Home 

“DIA memukulmu...” kata Juna, mengacu pada Kyouta, seraya menotolkan kapas berisi cairan antiseptik ke sudut bibir Lea yang terluka. Juna berlutut, sedangkan Lea duduk di atas salah satu sofa berlengan yang ada di tengah ruangan. Mereka sedang berada di sebuah ruangan besar dengan banyak lemari berisi buku didesakkan ke sekeliling temboknya. Perpustakaan pribadi kelihatannya. “Bastard...” umpatnya dengan raut wajah amat kesal.
“Bagaimana kau sampai di sini?” tanya Lea, memandang Juna. “Pria yang datang bersamamu itu—”
“Lebih baik kau tidak usah tahu,” Juna memotong. “Bukan urusanmu.”
“Yakuza juga?”
Juna menatap Lea. Berhenti mengusapkan obat ke lukanya. Tampaknya dia heran Lea mengetahui jati diri Kyouta dan kroni-kroninya. “Kau tahu? Tahu banyak?” tambahnya cepat-cepat, saat Lea baru saja membuka mulut untuk menjawab. “Kyouta mengatakan kalau dia...?” Juna tidak melanjutkan pertanyaannya. ‘Yakuza’, sepertinya tiga suku kata yang berat untuk diucapkan.
“Dia sempat mengatakan Shinji... Yakuza...?” kata Lea kemudian. “Jadi aku pikir...”
Juna mengembuskan napas tajam, kemudian berkata, “Lebih baik pura-pura tidak tahu, oke?” Juna tersenyum, namun terlihat muram. Tangannya mengusap sebelah pipi Lea lembut. Tapi kemudian dia mengempaskan bahunya, meletakkan kapas yang dipegangnya ke atas meja di belakangnya. “Maaf, Lea...” katanya kemudian, penuh rasa bersalah. “Aku bukannya ingin menyembunyikan sesuatu darimu,” Juna menggeleng sedikit. Raut wajahnya seolah bersalah, “tapi—“
“Juna,” potong Lea buru-buru. Menyentuh wajah Juna dengan satu tangan. Mencoba menenangkannya. “It’s okay. Kalau kau memang ingin aku tak tahu, maka aku tidak akan memaksa. Kau tidak perlu bercerita apa pun. Lagipula... itu karena kau ingin melindungiku kan?”

Selama beberapa detik Juna hanya menatap Lea. Tidak mengatakan apa pun untuk menjawab pertanyaannya barusan. Dan saat akhirnya dia membuka mulutnya, suaranya terdengar amat dalam dan lirih. “Ya,” angguknya. “Aku ingin melindungimu.”
Mata Lea berkaca-kaca mendengar kalimat tersebut. Mendengus tersenyum, dan mengalungkan tangannya ke leher Juna. Memeluknya erat. “Thank you, Juna,” ucapnya pelan di telinganya. “Aku sangat senang kau di sini. Aku takut sekali. Aku kira aku akan mati.” Lea menahan tangisnya semampu yang dia bisa. Membenamkan hidung dan mulutnya di pundak Juna. “Aku tidak akan bertemu denganmu lagi.”
Juna mengeratkan tangannya di punggung Lea. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Lea.” Juna meregangkan pelukannya, mencengkeram lembut kedua pundak Lea. Menatap Lea dengan pandangan yang tak biasa. Kelihatan ragu tapi juga tampak yakin. “Lea... Aku...”

Pintu ruangan mendadak terbuka. Dua pria bersetelan hitam; rapi, masuk untuk mendorong masing-masing pintu ganda membuka. Mempersilakan beberapa orang masuk ke ruangan. Pria tampan berlesung pipi yang tadi, berjalan paling depan. Shinji di sebelahnya.

Melihat Lea Shinji tersenyum lega. Bergegas maju menghampirinya. Lea berlari, kemudian memeluknya. Kakinya terangkat beberapa inci dari lantai, karena Shinji memeluknya begitu erat.
Are you okay?” tanya Shinji kemudian, mengusap wajah Lea. Lea mengangguk, meringis tersenyum. “Kau baik-baik saja?” tanyanya lagi, kemudian kembali memeluk Lea selama beberapa saat, sampai akhirnya melepaskannya dan bertukar senyum gembira dengan Lea.

Shinji mengangkat wajahnya, dan bertemu pandang dengan Juna yang berdiri tak jauh di belakang Lea. Dia melepaskan Lea, tersenyum penuh terima kasih, berkata gugup, “Juna, aku—“
Mata Lea melebar kaget, begitu Juna melayangkan pukulan ke rahang Shinji dengan amat keras. Membuat Shinji terhuyung ke belakang, memegangi sebelah wajahnya.
“Juna!” bentak Lea keras. Juna berdiri kaku di tempatnya dengan napas membburu dan tangan yang masih mengepal. “Kau ken—”
“Lea,” Shinji memanggilnya. Meraih lengan Lea. “Sudah... It’s okay. Aku patut mendapatkannya,” kata Shinji buru-buru, saat Lea membuka mulutnya untuk protes. “Aku pasti akan melakukan hal yang sama bila aku berada di posisinya.”
Kening Lea berkerut, sedangkan Juna mendengus, memandang ke arah lain.
“Aku telah membahayakanmu,” lanjut Shinji. “Dan aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau sampai terjadi sesuatu padamu.”

Tak ada kata yang bisa Lea ucapkan untuk membalas kalimat Shinji. Dia juga merasa bimbang. Sangat. Masih bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan Shinji dan orang-orang tersebut. Kenapa mereka sampai menculiknya hanya karena Shinji? Apa karena dia Yakuza atau apa? Dia ingin menanyakannya, namun teringat kata Juna beberapa waktu lalu, kalau dia sebaiknya tidak tahu apa pun.

“Juna.” Shinji memanggil Juna lagi. “Aku... minta maaf atas apa yang terjadi padamu dan juga Lea,” katanya tulus. “Andai waktu bisa diputar... aku...” Suara Shinji tercekat di tenggorokan. Dia mengangkat kedua pundaknya sesaat, kelihatan malu. “Thanks, okay?” ujarnya lagi. Menatap Juna.
“Sebaiknya kalian segera pergi,” saran pria di belakang Shinji. “Lebih cepat kalian kembali ke ‘peradaban’, lebih cepat aku membereskan kekacauan yang kalian timbulkan.” Pria itu tersenyum simpul. Memunculkan lesung pipinya lagi.
“Dai,” Shinji berbalik menghadapnya, “aku mohon lepaskan Lea dan Juna. Dan jangan ganggu mereka lagi. Aku akan melakukan apa pun untukmu. Aku akan membayar apa yang seharusnya kubayar. Tapi mohon...”
“Tidak ada yang bisa kau lakukan untukku, Shinji,” sela Dai sinis. “Orang yang mengingkari keluarganya sendiri, tidak akan berguna untukku. Lagipula kau terlalu pengecut. Tidak cocok menjadi salah satu dari kami. Yang aku butuhkan pria-pria yang bisa kuandalkan untuk mempertahankan apa yang kami punya. Perlu otak, perlu tenaga, namun tak perlu hati. Kau bukan orang yang seperti itu.”

Kalimat Dai kedengarannya meremehkan, namun Shinji membenarkannya. Dai benar menyebutnya pengecut. Pengingkar keluarga. Dan dia tak akan tega menyakiti orang lain hanya untuk unjuk kuasa.

“Pergilah cepat,“ suruh Dai. Mengedikkan kepalanya ke belakang, memberi isyarat pada Juna, Shinji dan juga Lea untuk segera beranjak dari sana. “Namun ingat, Shin,”—dagu Dai terangkat. Ekpresinya dingin mengancam—“sekali saja kudengar kau terlibat dengan kegiatan keluargamu, aku sendiri yang akan memburumu,” ancam Dai, menyipitkan mata. Wajah tampannya berubah seketika menjadi bengis.
“Kau tidak perlu khawatir dengan itu,” kata Shinji. “Aku takkan pernah melakukan apa yang tidak ingin kulakukan.”

Selama sepersekian detik Dai dan Shinji bertukar pandang, sampai akhirnya Shinji kembali bicara, “Hanya saja, aku mohon padamu untuk memastikan tidak ada seorang pun lagi dari keluarga atau anak buahmu yang berani memandang atau menyentuh Lea.”
Dai mendengus. “Kau tidak perlu meminta itu, karena itu sudah kujanjikan pada orang lain. Bukan kau.” Dia menekankan kata kau, seolah saja ingin memberitahu kalau Shinji bukan orang yang penting untuknya.
“Terima kasih kalau begitu,” angguk Shinji, kemudian menolehkan kepalanya pada Juna dan Lea yang berdiri di belakangnya. Menatap keduanya seakan mengajak mereka pergi.
“Kau pergilah dulu dengan Shinji,” kata Juna pada Lea. “Aku... harus...” Juna tak melanjutkan bicara. Dia benar-benar berusaha kerasa menyembunyikan apa pun mengenai orang-orang ini pada Lea.
“Oke,” angguk Lea paham. Kemudian berpaling, dan berjalan mendekati Shinji. Ketika dia sampai di sebelah Dai, Lea berkata, “Terima kasih banyak,” sambil tersenyum.
Dai membalas senyumnya ramah. “Maaf atas apa yang terjadi padamu.”
Lea teringat Kyouta; apa yang dia lakukan padanya sebelumnya, namun Lea segera menepis ingatan itu. Berusaha keras menghilangkannya dari benaknya. “Selamat tinggal,” kata Lea. Setelah itu kembali melangkahkan kaki meninggalkan ruangan bersama Shinji.

Saat keduanya telah pergi dari ruangan, Juna berjalan pelan mendekati Dai. Menatapnya penuh senyum. Senyum yang mengungkapkan rasa terima kasih yang amat sangat.
“Domo Arigato, Dai-san,”—terima kasih banyak, Dai, kata Juna sungguh-sungguh. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tak ada.”
“Dóitashimashite, Juna-kun,”—terimakasih kembali, Juna, balas Dai, “masih mengingatku setelah sekian lama.” Dai menganggukkan kepalanya sedikit dengan hormat pada Juna. “Anggap ini sebagai balas hutang budiku padamu, karena telah menyelamatkan nyawaku waktu itu.”
“Tak ada hutang budi lagi,” geleng Juna. “Hanya persahabatan.”
Dai mengangguk. Tersenyum. “Ya. Hanya persahabatan.” Dia menjulurkan tangan kanannya pada Juna, yang segera menjabatnya erat. Tersenyum simpul.
About the Police...,” Juna mengangkat dua bahunya. Kelihatan bingung.
Dont worry,” sahut Dai santai. “Aku akan mengurusnya. I have friends. Tapi memang lebih mudah, kalau tak ada satu pun dari kalian bercerita mengenai kami.”
“Kau bisa percaya padaku soal itu,” balas Juna. “Mohon, jangan sampai Kyouta mendekati kami atau Lea lagi.”
“Aku akan pastikan itu,” tegas Dai. “Semua akan kembali normal.”
Juna mengangguk tersenyum. “Oke,” ujarnya. “Bye, then.”
Bye, Juna,” kata Dai. “Orangku akan mengantar kalian.”
Juna pergi dari ruangan tersebut, setelah sebelumnya berjabat tangan dengan Dai sekali lagi. Perasaannya lega dan tenang sekarang.
Dalam hati ia bersyukur, karena beberapa tahun lalu, di Amerika, dia membuat keputusan yang tepat; menyelamatkan nyawa seorang pemuda sok jago yang hampir mati karena dikeroyok oleh beberapa anak jalanan yang ditantangnya. Dai Tanaka saat itu, jelas bukan Dai Tanaka yang sekarang.
.........................................

“Terima kasih telah menyelamatkan Lea,” ujar Shinji pelan pada Juna yang duduk di sebelahnya di dalam mobil SUV hitam yang membawa mereka. Lea duduk di belakang. Termenung sendiri seraya memandang pepohonan besar yang mereka lalui sepanjang perjalanan. Sibuk dengan pikirannya.
“Dan juga menyelamatkan pantatmu,” sahut Juna sinis. Dia masih merasa jengkel pada Shinji.
“Ya... Untuk itu juga,” kata Shinji mendengus tersenyum. “Aku... sudah berusaha untuk tidak melibatkan Lea.”
“Dengan bersembunyi?” Juna menatap tajam Shinji. “Kemudian muncul, dan membuatnya diculik?”
“Aku memang ceroboh,” kata Shinji. “Dan aku merasa sangat bodoh. Tapi aku berusaha keras menyelamatkannya. Aku...”
Shinji menunduk. Tampangnya masam dan diliputi rasa bersalah. “Aku terpaksa menghilang, karena takut ibuku dalam bahaya, juga Lea,” ujarnya. “Ayahku berusaha menarikku ke Jepang. Tapi aku...” (Shinji mengangkat wajahnya menatap Juna) “aku tidak tertarik. Aku tidak ingin melibatkan diri dengan keluargaku. Tidak bangga dengan predikat ‘Yakuza’ yang mereka sandang. Dan yang lebih buruk, sebutan ‘keturunan dari pendiri Yakuza’,” tambahnya lagi. “Aku tidak bangga dengan itu.”
Juna diam saja. Memandang ke depan; ke arah kepala pengemudi di depannya. “Kau menyembunyikan jati dirimu dengan sangat rapi,” gumamnya.
“Karena itu bukan jati diriku,” sahut Shinji. “Aku tidak merasa menjadi anak salah satu dari mereka. Aku adalah Shinji. Shinji Tsubaki, bukan Shinji Kodame. Aku anak ibuku.”
“Dai benar. Kau tidak cocok menjadi Yakuza. Terlalu melankolis,” komentar Juna, dan Shinji langsung terkekeh.
“Aku juga tidak sangka kau kenal Dai Tanaka. Bagaimana dia bisa di sini? Kudengar dia berada di Amerika?”

Juna tak menjawab, hanya mengangkat pundaknya sekilas. Membiarkan Shinji mengernyit memandangnya. “Aku hanya... beruntung...” kata Juna setelah beberapa waktu. “Lebih baik kau tak tahu.”

Mobil yang membawa mereka sampai di padang rumput luas beberapa meter dari pantai, dan berhenti tak lama kemudian. Mereka turun, dan langsung diterpa angin yang berembus kencang ke arah mereka. Lea kelihatan bingung.
“Kita ada dimana sebenarnya?” tanyanya pada Juna, lalu memandang sekeliling. Sebuah pesawat kecil berada tak jauh dari tempat mereka berada. “Kita akan naik pesawat itu? Sebenarnya dimana kita?”
Juna hanya tersenyum, memberikan tangannya pada Lea, yang segera menerimanya tanpa berpikir. Saat ini, tangan itu; genggamannya, sentuhannya, lebih berharga daripada apapun yang dia punya.
“Pesawat itu... tak ada pilotnya,” kata Lea heran. “Apa orang itu juga yang akan mengantar kita?” Lea mengedikkan kepala pada pria yang tadi mengemudikan mobil, yang sekarang berdiri di samping mobil, mengawasi mereka bertiga. “Tapi dia diam saja, tuh?”
“Kau cerewet sekali,” kekeh Juna.
Lea cemberut. Ber’hm’ pelan. Berjalan dalam diam, mendekati pesawat tersebut. Shinji di belakang mereka. Tak bersuara.
“Kau dan Shinji duduk di belakang. Aku di depan,” ujar Juna, melepas tangan Lea dan membuka pintu pesawat. Mempersilakan Lea dan Shinji berjalan lebih dulu. Lea menoleh pada Shinji yang tampaknya tidak peduli, langsung masuk ke dalam, menaiki tangga kecil di ambang pintu. “Ayo, Lea.” Juna mengedikkan kepala ke arah pintu.
“Kau... Pilotnya... bagaimana?”
“Kau mengatakan padaku kalau kau baca semua artikel tentangku, tapi kenapa kau tak tahu aku ini pilot?” kata Juna, menyipitkan sebelah mata.
Mata Lea melebar. Dia lupa, tak ingat atau tidak tahu sama sekali, dia benar-benar bingung. “A-aku...”
Juna tertawa kecil. “Sudahlah. Nanti saja. Sekarang masuk dulu. Lebih cepat kita pergi lebih baik,” ujarnya.

Lea mengangguk, kemudian menaiki tangga, masuk ke dalam pesawat. Duduk di depan Shinji, yang duduk bersandar dengan kepala menghadap ke atas. Wajahnya, sama dengan Lea, penuh lebam membiru—tapi lebam di wajah Lea tidak sebanyak di wajahnya, membuat Lea teringat Kyouta yang memukulinya kemarin.
Lea segera menarik napas panjang, kembali membuang ingatan itu jauh-jauh.

Juna masuk tak lama kemudian dan menutup pintu pesawat. Setelah itu dia berjalan membungkuk ke depan, dan duduk di kursi Pilot. Mengenakan sabuk pengamannya, sempat mengomel pada Lea dan Shinji, untuk memakai sabuk pengaman masing-masing. Mengenakan headphone, menekan dan menarik beberapa tombol, mendorongnya sampai akhirnya terdengar suara mesin mendengung. Pesawatnya hidup—entah kenapa Lea tampak takjub sekali, seakan saja dia belum pernah naik pesawat sebelumnya.

Lea mendengar Shinji terbatuk, dan dia segera menoleh, melongokkan kepala dari sisi kursinya. “Kau baik-baik saja?” tanyanya pada Shinji.
Shinji memiringkan kepalanya, memandang Lea, “Aku baik-baik saja.” Dia tersenyum. Pesawat sudah mulai bergerak.
Lea tersenyum, kembali berkata, “Aku senang melihatmu lagi”
“Aku juga,” ujar Shinji.
Setelah itu Lea kembali menghadap ke depan. Memandang keluar jendela. Pesawat telah terangkat ke atas sekarang, dan Lea segera berpegangan kuat ke lengan kursinya. Rautnya cemas, dan bibirnya berkomat-kamit. Dia memang bukan orang yang santai kalau naik pesawat. Selalu tegang, karena takut jatuh. Mudah-mudahan Juna sudah sangat ahli mengemudikan pesawat, sehingga dia tidak perlu khawatir tentang itu.

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! (Jangan diplagiat!)
...............................................
gambar dari sini
Aneh..., betapa kata sederhana seperti 'pulang',
terdengar begitu menyenangkan di telingaku sekarang.

6 comments:

yuli' she,  September 27, 2011 at 5:35 PM  

akhirnya,,,,
lanjutannya datang juga,,
Tq mba Lita.

dinar September 27, 2011 at 8:46 PM  

miss juna soooo much....hehehehehe....kalo Juna yang jadi pilotnya...aku gak takut terbang lagimbak!hehehehehe......

Febby,  September 28, 2011 at 1:58 PM  

Aq mau jg penumpang tetapy klo chef juna yg jd piloty,hehehehe...jd tmbah pnasaran ne akhiry gmn y?

l i t a September 28, 2011 at 4:11 PM  

@Yuly: Makasi juga Yuli...

@Dinar: sama, DIn. Aku juga kangen Juna. Kalau aku sih mau Juna atau Rob Patz yang jd pilot, tetep aja teler

@Febby: Sebentar lagi, Feb. Mudah2an aku gak keserang penyakit 'males'

l i t a September 29, 2011 at 4:57 PM  

@Fitri: sama-sama Fitri-san...

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP