LEA: A dedication for Junior Rorimpandey (33)

>> Monday, September 19, 2011


The Knights

Badan Lea sangat penat ketika terbangun keesokan harinya. Tulangnya serasa remuk, membuatnya lemas dan matanya begitu berat membuka. Lea membiarkan tubuhnya tetap berbaring di kasur. Membiarkan selimut melindunginya dari hawa dingin yang dihantarkan oleh angin yang masuk melalui celah kecil di atas jendela.
Jam berapa ini? Lea bertanya-tanya. Hujan rintik-rintik di luar, dan suasana terasa begitu muram.

Lea menyentuh pipinya yang sakit; bengkak sepertinya, serta bibirnya yang perih. Dia teringat pria bernama Kyouta itu menamparnya hingga jatuh. Keras sekali, sampai-sampai dia berpikir kalau dia akan mati. Dia juga teringat Shinji, yang perutnya terkena pukulan olehnya—Shinji? Dimana dia?

Panik, Lea mengangkat punggungnya buru-buru. Lega begitu melihat Shinji duduk bersandar di bingkai tempat tidur. Tertidur. Sisi bibirnya memar, darah mengering di selanya. Bercak merah menodai kausnya.

Baru sekarang Lea melihatnya jelas. Kemarin dia tak sempat mengamati betapa berbedanya Shinji sekarang. Dagunya yang biasanya bersih sekarang ditumbuhi janggut tipis. Rambutnya yang biasanya pendek, sedikit lebih panjang dan awut-awutan. Dia sangat berbeda dari Shinji yang dulu, namun entah kenapa terlihat lebih dewasa.

Lea bersyukur dapat melihatnya lagi. Meskipun dalam situasi begini. Situasi yang sampai sekarang tak bisa dia mengerti seratus persen.
Shinji adalah Yakuza? Atau dia terlibat sesuatu dengan anggota Yakuza? Tapi... dia tidak mungkin Yakuza. Sikap dan sifatnya berbeda dengan mereka. Dia kadang galak, tapi tidak sampai membahayakan. Tidak seperti orang-orang yang menyekap dia dan Shinji sekarang. Lagipula kalau Shinji salah satu dari mereka, kenapa dia dipukuli dan disekap bersamanya?
Membingungkan.

Suara keras dari pintu kamar, membuat mata Shinji tersingkap. Tegak seketika. “Ada apa?” dia bertanya pada Lea. Wajahnya cemas.
Belum sempat Lea menjawab, pintu didorong membuka. Kyouta, dan anak buahnya, lebih banyak dari kemarin masuk ke dalam kamar.
Lea dan Shinji hanya bisa diam. Kaku di tempat.

“Bawa dia,” Kyouta memerintahkan anak buahnya. Mengangguk ke arah Shinji.
Anak buahnya segera maju, menyeret Shinji turun dari tempat tidur. Kyouta melangkah mendekati tempat tidur. Menatap tajam Lea, seraya membuka kancing kemejanya satu per satu.
“K-kau mau apa?!” hardik Lea panik.
“Apa yang biasa dilakukan pria pada wanita,” sahut Kyouta, mendengus sinis, melepas kemejanya. Menampilkan sekujur badannya yang dipenuhi tato bergambar binatang yang bercampur warna merah, hijau dan hitam. Mengerikan.
Kyouta melempar kemejanya asal saja ke lantai.

“KYOUTA!!!” Shinji berteriak marah. “Jangan kau sentuh dia!”
Kyouta diam saja, cuma tertawa sinis, tidak memedulikan teriakan Shinji. Tetap mendekati Lea, yang terus menggeser tubuhnya menjauh.
“Bawa dia!” suruh Kyouta lagi pada dua pria yang memegangi Shinji. “Tinggalkan kami berdua!”
Dia kemudian merangkak ke atas tempat tidur. Menangkap pinggang Lea yang hendak lari cepat-cepat, dan membantingnya rebah di kasur. Lea berteriak sekuat tenaga. Badannya gemetaran saking takutnya. Air matanya mengalir lagi. Begitu deras tanpa ia merasa. Kyouta di atasnya, satu tangannya mencengkeram tangannya, dan yang satu lagi menarik gaun atasnya hingga sobek.
“LEA!” Shinji meronta. Berusaha keras melepaskan diri. Tapi dua pria yang memeganginya lebih kuat dari dirinya. “AWAS KAU KYOUTA!”

Shinji terus berteriak, dan terus berteriak meskipun anak buah Kyouta telah menyeretnya keluar dari kamar dan menutup pintunya. Air matanya menyembur tanpa ia sadari, begitu mendengar jeritan Lea dari balik pintu tersebut.

Ingin sekali ia mencabik dirinya sendiri; melakukan apa pun meskipun harus lepas dari tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam kamar itu. Rela menjual jiwanya pada Iblis, asalkan dia bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Lea.
Tapi dia tak berdaya. Iblis tak ada. Dan Tuhan... Shinji sudah tidak tahu, apa Dia masih ada. Dia tidak perlu Tuhan menyelamatkan dirinya. Dia perlu Tuhan menyelamatkan Lea.
Dan untuk pertama kalinya; sejak belasan tahun tak memanggil namaNya, Shinji tunduk pasrah, dan menyebutNya dalam hati. Tuhan..., tolong.
....................

“Aku mohon... jangan...” isak Lea pada Kyouta. Menutupi tubuhnya dengan selimut, karena gaunnya telah koyak. “Sebaiknya kau bunuh aku saja...”
“Tenang saja,” kata Kyouta dingin. Senyumnya terlihat begitu bengis. “setelah aku selesai, aku akan mengabulkan permintaanmu. Bersama-sama Shinji, tentu.”

Sekali hentak, selimut yang menutupi badan Lea lepas. Mengekspos kulitnya yang kuning mulus, yang sekarang berusaha ditutupinya dengan bantal. Kyouta mendekatinya, menarik bantal yang didekapnya. Lea berteriak, berbalik, sekuat tenaga mempertahankan bantal tersebut. Tidak memedulikan rasa sakit yang ditimbulkan oleh tangan Kyouta yang mencengkeram pundaknya.

Kesal, Kyouta menjambak rambut Lea. Membuat kepalanya tertarik ke belakang, dan mengaduh kesakitan. Kyouta menarik pinggang Lea, memaksanya telentang di kasur, dan saat dia kembali meronta, tangannya melayang menamparnya lagi.
Lea langsung lemas, namun masih sadar, hanya saja sudah tak bisa berontak. Seluruh badannya terasa sakit. Tak berdaya.

Dia merasakan tangan Kyouta menyentuh kakinya. Menyentuh pundaknya, melepas turun tali gaunnya yang koyak. Dia dapat merasakan panas napasnya berembus ke wajahnya. Air matanya terus jatuh, membasahi apa pun yang disentuhnya.
Dan saat itu, Lea teringat Juna. Wajah Juna..., senyum Juna..., ciumannya..., sentuhan tangannya di rambutnya..., dekapan hangatnya..., dan—“I love you, Lea,” kata-kata itu. Di malam ulang tahunnya. Hadiah terindah yang pernah diterimanya.

Juna...” Lea bergumam lirih. Kemudian memejamkan matanya.

BRAKK!
Suara keras itu membuat mata Lea kembali membuka. Kyouta mengangkat badannya, melihat ke arah pintu yang terbuka lebar. Membeliak melihat Juna berdiri dengan napas tersengal di ambangnya.
Wajahnya luar biasa murka.

Dan tanpa berkata apa pun, dia melesat ke tempat tidur. Mengumpat Kyouta dengan kata-kata amat tak senonoh, seraya melayangkan tinjunya dengan sangat keras ke wajah Kyouta yang masih memar akibat pukulan Shinji kemarin.

“Aku sudah bilang, aku akan mencarimu kemana pun!” kata Juna geram, kemudian menghantam wajah Kyouta lagi. “Aku akan memburumu!” Pukulannya kini mengarah ke mulut Kyouta. Keras sekali, sampai dia batuk darah. “Kau menyentuhnya! Aku benar-benar akan membunuhmu!”

Lea buru-buru menarik selimut, menutupi badannya, dan mundur ke bingkai tempat tidur. Dia syok sekaligus gembira. Sangat. Tak menyangka Juna datang. Berada di sini. Menyelamatkannya.

Kyouta terbatuk. Wajahnya babak belur sekarang. Matanya tak bisa lagi membuka normal. Darah menyembur dari mulutnya, menodai seprai. Sekali lagi, Juna melayangkan tinju ke wajahnya, namun langsung terhenti begitu mendengar suara seorang laki-laki berkata keras dari arah pintu, “Hei, Juna! Meskipun kau marah, tapi jangan lupa kalau dia adikku.”

Mata Lea membulat melihat pria yang baru saja masuk ke dalam kamar.

“Lagipula, jangan mengotori tanganmu,” kata pria itu lagi, memasukkan satu tangannya ke saku celana kargo hitam sebetisnya. Lea mengernyit melihat kakinya yang beralaskan sandal jepit. “Dia tidak seberharga itu,” dia mengangguk ke arah Kyouta yang tak sadarkan diri di atas tempat tidur.

Pria yang baru datang ini amat tampan. Sangat. Tubuhnya jangkung sempurna. Rambutnya ikal kecoklatan, kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya yang tajam mengerling Lea, dan bibirnya menyunggingkan senyum. Lesung pipi muncul di sela pipinya.
Dia Yakuza juga? Lea tak percaya. Terlalu santai, menutur Lea.

Juna menegakkan tubuhnya. Bertumpu pada lutut sambil mengatur napasnya yang terengah. Lebam membiru memenuhi wajahnya, dan dia kelihatan kacau. Saat akhirnya dia menolehkan wajahnya pada Lea, bibirnya melengkungkan senyum lega. Segera menghampiri Lea, dan menariknya ke pelukannya.

“Kau... tidak apa-apa?” tanyanya dalam suara bergetar. Masih mendekap Lea.
“Tidak. Aku tak apa,” jawab Lea lemah. Dia ingin menangis, tapi dia berpikir untuk apa? Dia sudah selamat. Dia tak seharusnya menangis. “Kau mencariku,” gumamnya pelan di telinga Juna. “Benar-benar mencariku.” Lea mengeratkan pelukannya.
“Aku sudah berjanji kan?” kata Juna, sama pelannya. Balas memeluk Lea erat. “Aku akan mencarimu.”
“Terima kasih, Juna,” kata Lea susah payah. Berusaha keras membendung tangisnya yang sudah di ujung lidah.
“Menangislah, kalau kau memang ingin menangis,” ujar Juna, mengusap lembut rambutnya. “Aku di sini. Dan semuanya sudah berlalu.”
Lea memejamkan mata. Membiarkan air matanya kembali meluncur ke pipi. Bukan lagi air mata ketakutan, melainkan lega; terharu. Dia menangis, setelah itu. Sangat keras, seolah saja belum pernah menangis sebelumnya. Meremas kaus Juna, membasahinya, melampiaskan semua emosi yang tak bisa dikeluarkannya dua hari ini.

Juna tak berusaha menghentikan tangis Lea. Mendekapnya begitu erat seraya mengelus rambutnya. Membiarkan tangan Lea melilit erat tubuhnya. Merasakan hangat kulitnya menyentuhnya. Lagi.
Juna bersyukur, dia datang tepat pada waktunya. 

(bersambung)
Asli: Lita yang tulis! Jangan diplagiat!
...............................
gambar dari sini

18 comments:

dinar September 20, 2011 at 6:59 AM  

jiaaaaaaaaaaa...apa2an ini!kirain Junanya udah boleh buat aku mbak!hehehe...tau gak jadi deg2an bayangin Juna meluk Lea erat!hehehehehe....tersipu malu sendiri mbak aku

Henny Yarica September 20, 2011 at 7:07 AM  

aaaaa,,lea serakah ih! masa' juna sama shinji mo diambil semua? aku kan ga kebagian?? *huehehe,ngarep*

l i t a September 20, 2011 at 9:38 AM  

@Dinar: Hahahaha... makanya Dinar, Sayang. Jangan berspekulasi sebelum ceritanya bener2 end. *sebenernya aku gak rela Juna sama kamu LOL*.

Becanda Din. Pokoknya ikutin terus ceritanya ya...

@Henny: Aku gak bisa komen deh, Hen. Hihihi...

rona-nauli September 20, 2011 at 9:53 AM  

Lit, shinji-nya jangan diapa2in ya....sini biar ama aku aja :D

fitri,  September 20, 2011 at 10:19 AM  

kalo kakanya Kyouta ....buat aku aja yah mbak lita..wkwkwk

l i t a September 20, 2011 at 11:46 AM  

@Rona: Iya, Madam. Nanti Shinji-nya aku kemas dulu, dan aku paketin via FedEx *LOL.
Kayanya Madam kesemsem Shinji nih...

@Fitri: Aduh, Fit... Kamu itu ternyata lemah sama laki-laki tampan ya... Kemaren mau Juna... sekarang pindah ke lain hati ke kakaknya Kyouta...
*wkwkwkkwkwkw*

fitri,  September 20, 2011 at 3:06 PM  

biar gak banyak saingannya mbak,...kalo Junama shinji kan saingannya banyak.....sapa tau kakaknya kyouta juga jago masak kaya juna...hahahahaha...

l i t a September 20, 2011 at 3:12 PM  

@Fitri: Oh gitu toh alasannya? *ngakak* Karena kalah saingan? Wkwkwkwkwkwkw.
Thank u Fit, telah menyukai Dai. Berarti tampang gantengnya, kebayang di mata Fitri.

*joged2*

yuli' she,  September 20, 2011 at 4:04 PM  

tambah seru mba,,,,,,
lanjut lagi donk...jngn lama2 yah lanjutannya,,,
(heu ngarep sekaligus maksa)

ann September 20, 2011 at 4:09 PM  

sukses mba lita mempermainkan perasaan orang yaaa....

kalau semua mau ambil yang ganteng-ganteng, aku pilih Lea aja biar dapet Juna juga dapet shinji, haha.. *kedip2*

tag this episode as favorite ***

Dee@n,  September 22, 2011 at 9:38 AM  

Mana mana mana mana mana lanjutannya...

Lia September 23, 2011 at 8:45 PM  

wah, ceritanya menarik banget. Sayang saya ga baca dari awal. Saya juga suka nulis cerpen tapi cuma sedikit y di publish di blog. Btw Lita punya akun FB atau twitter ga?

l i t a September 25, 2011 at 10:18 AM  

@Deean: Bentar lagi lanjut kok.

@Tirta: Lam kenal juga dari Bali, Tirta.

@Lia: Akun FB dan Twitter sudah ada di blog, Lia. Dengan senang hati berteman denganmu... *senyum lebar*

katils September 25, 2011 at 10:09 PM  

di bikin novel aj sus keren koq

l i t a September 26, 2011 at 10:35 AM  

@Katils: Thanks support-nya ya. Salam kenal...

Diana September 26, 2011 at 8:11 PM  

thanks yah,,pengalaman yh!!
keren.,,

Yoshi September 27, 2011 at 4:00 PM  

Heeeeeeemmmm cakeepp bangettt
kereeenn kereenn kereennn

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP